“Sisa hidup Sira...?” Aku tersengat. Serta-merta tubuhku membeku. “Tinggal besok...?” Entah bagaimana, aku melejit menjauhi daun pintu.
Apa yang mereka bicarakan? Jantung Sira hanya bertahan hingga besok? Itu semua pasti bohong! Sira sendiri yang berbicara padaku. Baterai jantungnya bisa diisi ulang.
Read more (1106 words)
“Nah, Ivana ternyata ada di sini, ya?” Suara pelan seorang wanita membalikkanku. Anak kecil yang kujumpai di depan pintu kamar Sira turut menoleh. “Kan, sudah Kakak bilang kalau Ivana tidak boleh ke mana-mana. Kakak cuma ambil resep, Ivana malah keluyuran. Ayo, kita balik ke kamar.”
“Ivana nggak mau balik ke kamar. Suntuk!” gadis kecil itu menyahut.
“Kalau nggak mau balik, nanti disuntik lagi, lho.”
Kulihat wajah kecilnya cemberut. Lalu lekas saja ia membalas, “Iya, deh. Ivana balik ke kamar.”
“Nah, begitu, dong. Ayo.”
Gadis kecil itu bernama Ivana. Dengan langkah diseret, ia mendekati wanita itu.
“Maaf, ya, Mbak. Kalau Ivana bikin repot.”
“Ah!” Aku cepat-cepat menggeleng. “Tidak, kok.”
Mereka saling bergenggaman tangan. Sebelum meninggalkanku, sempat-sempatnya Ivana bertanya, “Kakak teman Kak Sira, ya?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu, sampaikan salam Ivana, ya?”
Lagi-lagi, aku mengangguk. Ia dan kakaknya segera beranjak.
Sepeninggalnya mereka, pintu kamar Sira terbuka. Dokter Gita melangkah keluar.
***
“Maaf, aku hanya tidak ingin orang-orang menatapku dengan prihatin. Terlebih, kau. Kau sungguh perhatian padaku. Aku tidak ingin membuatmu terlalu khawatir.”
Sira telah meninggalkan tempat tidur saat aku masuk. Ia berdiri di dekat jendela, memperhatikan langit yang terbentang luas. Tanpa permisi, aku langsung melabrak. Ia berbalik dan tampak kaget. Tapi pada akhirnya, ia membalas pertanyaanku dengan senyum.
Aku memang kesal. Tapi aku lebih tidak bisa membendung air mataku.
“Tapi, aku sahabatmu...!” Serta-merta, kutubruk tubuhnya. Kupeluk erat, seakan tidak ingin melepas orang yang selama ini kuanggap sebagai sahabat sejati, kuanggap kakak sekaligus adik, orang yang bisa menasehatiku dan orang yang ingin sekali kujaga. Tangisku pun menggema di dadanya.
“Firi....” Sayup-sayup, aku dengar ia memanggil namaku. “Tidak kukatakan saja, kau sudah begitu ketat melindungiku. Apa lagi jika kukatakan. Aku sangat berterima kasih atas semua perhatian yang telah kau berikan selama ini. Kau adalah sahabat paling baik yang pernah aku miliki....”
Apa maksudnya menyanjungku demikian? Tangisku jadi sulit untuk berhenti.
“Kau adalah sahabat pertamaku yang berani berbohong...,” aku membalas meski terisak.
“Itu karena aku adalah satu-satunya sahabatmu, kan? Hei, dari pada kau menangis seperti ini, lebih baik kau temani aku mengisi sisa waktu yang ada.”
Aku merangkul Sira semakin erat. “Aku tidak mau! Kau pasti masih bisa selamat!”
Sira tidak berkata-kata lagi. Ia membiarkanku menangis, seraya membalas rangkulanku. Setelah beberapa saat, tiba-tiba ia seperti mengingat sesuatu. Ia menarik rangkulannya dan sedikit mendorong pundakku.
“Setahuku, hari ini adalah Selasa. Kau bolos? Lihat, kau masih pakai seragam.”
Untunglah, tangisku sudah mulai mereda. Kuseka air mataku yang meluber ke mana-mana dengan telapak dan punggung tangan.
“Oh, tidak. Gara-gara aku, kau bolos. Ayo, segera bereskan wajahmu lalu kembali ke sekolah. Setelah jam pelajaran usai, baru kita bertemu lagi. Aku baru bisa ke sekolah besok. Hari ini ada banyak hal yang harus kuselesaikan.”
Aku tentu saja menggeleng. “Tidak. Stela dan teman-temannya terlalu banyak makan cabe. Kita bersama-sama saja ke sekolah besok. Hari ini, aku akan menemanimu menghabiskan waktu.”
“Loh, katanya tidak mau?”
“Siapa pun boleh berubah pikiran, kan?”
“Oke, oke.” Untuk pertama kalinya hari ini, Sira tersenyum dan aku balas tersenyum. Ia tertawa kecil dan aku tertawa kecil, tidak jelas apa yang kami tertawakan. Hingga pada akhirnya, aku teringat gadis cilik di depan pintu.
“Hei, kau mengenal anak kecil yang bernama Ivana? Tadi, kami sama-sama menguping di depan pintu. Dia titip salam.”
“Oh.... Jadi, dia juga sudah mendengarnya?”
Aku mengangguk. “Tapi kupikir, dia tidak banyak mengerti. Kau kenal?”
“Ya, aku kenal. Kami sering bertemu, karena akhir-akhir ini aku sering ke rumah sakit untuk periksa kesehatan. Dia adik Stela. Sepertinya sangat kesepian, meski kadang-kadang ditemani kakak sepupunya.”
***
Enam tahun yang lalu, Sira sekeluarga mengalami kecelakaan mobil. Kedua orang tuanya meninggal. Sira sendiri mengalami luka parah, sehingga jantungnya nyaris berhenti.
“Kata Kakek, jantungku rusak. Karena tidak ada donor jantung, Kakek terpaksa menggunakan jantung buatan yang pada saat itu masih ia teliti.” Aku dan Sira kini berada di taman rumah sakit. Ditemani es krim, ia mulai bercerita tentang sesuatu yang selama ini ia tutupi.
“Jantung ini....” Sira menyentuh dada kirinya. “Meskipun masih dalam riset, sudah cukup untuk menopang hidupku. Perlahan tapi pasti, jantung buatan ini mulai menjadi bagian tubuhku. Setiap otot, setiap pembuluh darah, berhasil ditiru. Dulunya bukan organ hidup. Tapi kini, telah melebur di tiap selnya. Hanya tertinggal satu masalah. Syaraf.”
Paparan Sira terus bergulir. Organel syaraf yang belum terbentuk, menyebabkan jantung Sira masih memerlukan baterai. Sebuah baterai memiliki daya tahan dua tahun. Itu artinya, dua tahun sekali, Sira harus dioperasi untuk mengganti baterai. Dan ini adalah baterai yang ketiga, baterai yang terakhir. Seandainya masih ada satu baterai lagi, situasinya akan berbeda. Hanya perlu satu setengah tahun lagi, maka jaringan syaraf di jantung Sira akan sempurna.
“Sayang, dalam kejadian itu, Kakek hanya mampu menyelamatkan dua baterai. Yang lainnya terbakar bersama data-data penelitian. Hasil riset dua puluh tahun ludes begitu saja. Kakek terpukul. Tak lama setelah itu, ia meninggal.”
Aku tak lepas dari wajah Sira. Sampai-sampai, aku membiarkan es krim milikku meluberi tangan. Terkaget karena dingin, buru-buru aku jilat.
“Kakekmu pasti sangat menyayangimu, sehingga beliau sangat terpukul.” Aku berkomentar sedikit.
“Dua tahun terakhir aku baru mengerti mengapa Kakek sangat terpukul. Bibi Gita yang menceritakannya. Ini ada kaitannya dengan masa muda Kakek.”
Nama kakek Sira adalah Dokter Arya. Mahasiswa yang ugal-ugalan, namun mampu memperoleh gelar dokter, karena hasil karya orang lain. Orang lain itu ialah Hendrik, yang karena kecewa segera menghilang.
Seorang wanita akhirnya membuka hati Dokter Arya. Singkat cerita, mereka menikah dan memiliki dua putri. Belum keduanya beranjak remaja, sang ibu meninggal akibat gagal jantung. Dokter Arya telah berusaha mencari donor jantung, bahkan nyaris melanggar kode etik dunia kedokteran untuk memperoleh jantung bagi istrinya.
Meninggalnya sang istri, membuat Dokter Arya terpacu untuk membuat jantung buatan. Jantung sintetis yang mampu menjadi bagian tubuh seutuhnya. Tidak perlu donor, tidak perlu khawatir penolakan tubuh resipien. Harapan untuk mengurangi penjualan organ tubuh.
“Namun, insiden itu akhirnya terjadi.”
“Insiden?” Aku terjengit.
“Seseorang menyabotase riset Kakek, hingga terjadi kebakaran besar. Menghanguskan semua yang dibangun oleh Kakek dan rekan-rekannya.”
Sabotase?
“Kau tahu siapa?” Sira tiba-tiba bertanya padaku. Aku hanya dapat menggeleng. “Hendrik. Ia yang melakukan sabotase. Ia balas dendam. Karena ulah Kakek, laki-laki itu tidak bisa memperoleh gelar dokter, dan beasiswanya dicabut. Padahal, itu adalah satu-satunya harapan bagi Hendrik untuk bisa berkuliah dan meneruskan cita-citanya. Kakek terus menyalahkan dirinya hingga wafat.”
Kudekati Sira, kurangkul ia dengan hangat, berharap ini hanya mimpi. Kalaupun bukan, semoga hari besok tidak kunjung datang.
Bersambung....
Untuk alur masih tetap terjaga suasananya... (sedih-sedih gimana gitu) Betewe, siapa Ivana? Kok munculnya ma'bedunduk (tiba2). Terus hubungannya sama aku dan Sira apa? Terus kalau dia adik Stela memang kenapa? Di sini, kayaknya peran karakter Ivana jadi terputus, deh. Oke, makasih.
Uhuhuhu. X_X
Aku jadi malu sendiri. Jadi itu bukan analogi tentang batere? Hahahaha. Siaaaaal. Mestinya, setelah beberapa lama kenal dirimu, aku tahu kalau ide ceritamu engga akan biasa-biasa aja. Dan kalau kamu naruh pistol di awal cerita, di akhir cerita pistol itu ngga cuma akan jadi pajangan saja.
Benar kata yang lain. Ide plotnya cerdas :)
Saling berkait gitu, ya? Hendrik, Dokter Arya, istri Dokter Arya, Sira sebagai cucu, Gita sebagai bibi. Uh. Banyak sekali karakter yang kau gunakan dan semuanya 'kuat' juga memiliki jalinannya. Aku suka.
Aku hanya mikir, yang salah dari cerita ini mungkin hanya karena kurangnya penjelasan mengenai 'jantung buatan' itu, ya? Tapi kayaknya kita sebagai penulis emang engga usah terlalu berlebihan untuk memiliki niat membuat teori di luar bidang keilmuan kita. (Jeuh, ngoceh apa aku ini!)
wah..seru nih....
samperin cerita saya juga ya..
Hmm..
Maaf, tak ada yang bisa ku koreksi..
Ini BAGUS banget!!!
Tapi kalo memaksa untuk minta dikoreksi, cuma ini aja dech ;
[Aku tentu saja menggeleng. “Tidak. Stela dan teman-temannya terlalu banyak makan cabe. Kita bersama-sasma saja ke sekolah besok. Hari ini, aku akan menemanimu menghabiskan waktu.”] ---> koreksi satu huruf 's' pada kata 'bersama-sasma'.
(*hehehe)
Terima kasih.
Sekarang, sudah diperbaiki^^
saya tunggu lanjutannya... baru kasih komentar yang berbobot (itupun kalau masih ada yang bisa dikomentari)
ide plotnya cerdas
:)
keren ah pokoknya