------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Read more (1342 words)
Sudah nyaris dua puluh empat jam sejak mereka meninggalkan kota itu. Udara mobil yang pengap terasa sangat nyaman bagi Louis, lebih terasa hangat daripada pengap, menyenangkan.
Tak butuh waktu lama bagi Louis untuk segera terlelap. Ia sedikit menurunkan sandaran kursinya sehingga posisinya setengah tiduran, kepalanya tersandar lemah pada dinding mobil, sebagian rambut emasnya menutupi wajahnya yang cantik. Baru kali ini Reo benar-benar memperhatikan wajah Louis.
Dua puluh jam, dan Louis belum terbangun sedikitpun dari tidurnya.
Reo mendesah, ia belum berhenti menginjak pedal gas itu sekalipun sejak mereka berangkat, setidaknya berhenti untuk sekedar beristirahat. Oh… itu bukan masalah besar, perutnya sangat tahan lima hari tidak makan apapun, ia sudah terlatih untuk itu, bahkan mengendara tujuh puluh dua jam penuh tanpa berhenti.
Tapi kali ini Reo berhenti, setidaknya manusia di sampingnya ini butuh makan, mumpung mereka berada di kota.
Reo mengulurkan tangannya, hendak menggoncang-goncangkan tubuh Louis, lebih cepat selesai, lebih baik. Tapi tangan pucat itu berhenti, tepat satu senti dari tubuh Louis yang bergerak naik turun lembut dan teratur, dipandanginya wajah itu sesaat.
“Louis?” Panggilnya pelan, masih hembusan nafas teratur yang terdengar.
Ia kembali mendesah, keluar dari pintu perlahan dan berjalan ke samping jendela samping Louis.
TOK! Suara ketukan keras di kaca jendela mengagetkan Louis hingga ia meloncat dari tidurnya, kepalanya terantuk atap mobil, wajahnya pucat. Reo terkekeh singkat, tersenyum sekilas lalu berbalik, “Ayo makan,” ucapnya datar berjalan tanpa memedulikan Louis.
--||--
Gulungan spagheti yang di siram saus tomat membangkitkan selera makan Louis ia juga memesan satu porsi hamburger. Tanpa menunggu banyak waktu ia langsung melahap spagheti itu hingga mulutnya menggembung karena terisi terlalu banyak makanan, pipinya juga penuh oleh bercak-bercak merah saus.
Reo hanya duduk diam di depan Louis. Matanya dengan tenang mengamati satu persatu orang yang berada di dalam restauran ini. Tak ada satupun dari mereka yang sadar, bahkan hawa kehadiran Reo saja nyaris tak terasa, jika ia tiba-tiba muncul dibelakangmu dan memenggal kepalamu dengan sekali gerakan, kau tidak akan sadar sama sekali.
Louis menghentikkan makannya, ia baru sadar jika Reo tidak memesan makanan apapun,
“Tidak makan?” tanyanya polos.
Reo menggeleng.
Louis mendesah, lalu mengambil hamburgernya yang belum dimakan sedikitpun, “Ayo makan.”
Reo memalingkan kepalanya, menoleh menatap Louis lekat-lekat, matanya sedikit menyipit. Dipandanginya Louis sejenak. Ia heran, bagaimana bisa ada orang sepeduli Louis, atau memang dia yang kurang terasa, “Makan saja.”
Bibir Louis mengerucut, “Tidak, kakak harus makan!”
Sebelah alis Reo mengernyit, apa-apaan sih nih anak? Batinnya dalam hati. Menyusahkan sekali, mungkin lebih baik jika ia membunuhnya saja sehabis ini. Tidak! Badannya sedikit bergidik mengingatnya, kenapa? Kenapa ia tidak bisa membunuhnya.
“Makan sajalah!”
Louis kembali melanjutkan makannya, nafsunya lenyap seketika, ia menghabiskan spaghetinya sekali suap kali ini, hingga pipinya menggelembung sangat besar dan tampak seperti nyaris meletus. Grahamnya mengunyah cepat spagheti itu dan menelannya cepat, kebiasaan buruk kalau nafsu makannya lenyap, makan secepat mungkin.
Reo memperhatikan cara makan Louis dengan pandangan setengah jijik. Ia memejamkan matanya sejenak, “Hmm… aku ke toilet dulu,” ucapnya sembari beranjak dari kursinya. Sekali lagi ia matanya berputar cepat mengelilingi setiap senti tempat itu, sekilas mata onyxnya berubah merah darah.
Kepala Louis mengangguk singkat, ia menoleh sedikit lalu kembali fokus ke makanannya. Reo berjalan dengan langkah tenang namun cepat, melewati meja-meja kosong sebelum menghilang di balik pintu.
“Uhuk!” suara tersedak keluar dari sela-sela gigi Louis yang masih mengatup rapat. Wajahnya pucat pasi, tangannya menggapai-gapai mencari minuman. Tangannya menggapai botol soda, kosong.… bodoh! Batinnya, ia sudah menghabiskan minumannya tadi.
“Butuh minum?” sebuah suara tenor terdengar dekat dengannya, Louis menoleh, mendapat sesosok pria di depannya, rambut bagian depannya panjang hingga sepunggung, tergerai indah dengan warna perak yang mendominasi dan biru laut menghiasi beberapa helai rambutnya. Wajahnya tegas, santai, dan bersahabat, matanya hitam pudar, kelabu.
Pria itu menyodorkan kaleng minuman ke Louis. Louis tersenyum tipis dan menyambut kaleng minuman yang sudah terbuka itu. Glek… glek… glek, suara air yang melewati kerongkongan terdengar samar.
Pria rambut silver itu duduk di depan Louis. Ia tersenyum lucu, matanya menyipit, ia menopang dagunya dengan punggung tangannya yang disatukan. Louis yang menyandarkan badannya ke sandaran kursi, ia sangat kekenyangan.
Tiba-tiba Louis menegakkan badannya, mata birunya menatap pemuda yang duduk di depannya lekat-lekat, matanya membesar, seperti mata bayi, “Terimakasih untuk minumannya, namaku Louis, kakak?”
Ia tersenyum, mata abu-abunya terliha bersahabat, “Crysh.”
“Ah… salam kenal!” Louis tersenyum bersahabat, tangannya terulur.
Crysh menyambut uluran tangan itu, tangannya hangat, tidak dingin seperti tangan Reo. Perasaan tenang yang sudah lama sekali tidak ia rasakan mulai merembes melalui celah-celah pori-pori tangannya. Tatapan Crysh hangat, tenang, tak ada mata darah itu.
“Kau sendirian disini?”
“Hmm… tidak juga,” jawab Louis sedikit ragu, bibirnya mencoba tersenyum, senyum ragu.
“Oh… begitu, aku juga datang bersama kakakku, kami berkeliling dunia,” ucap Crysh dengan nada bersemanga, mata Louis kembali membelalak lebar, antusias.
“Keliling dunia?!”
“Ya, kau tahu banyak tempat yang menarik.” Cryhs mendekatkan wajahnya ke arah Louis, bibirnya tersungging, melihat bocah bermata biru ini takjub.
“Betul sekali! Aku dulu musisi kapal, dan waw! Dunia itu indah sekali ternyata,” Louis mengingat-ingat kembali masa-masa di kapal, walau ia sering di ‘bully’ ia tidak pernah kapok. Dan sekarang semuanya lenyap begitu saja, akibat si mata darah itu, mengingatnya membuat Louis kesal luar biasa.
“Benarkah?! Jika begitu aku yakin kau pasti mengunjungi banyak tempat, apa kau pernah ke Maldives Island?”
Crysh juga tampak sangat antusias, mereka berdua tengggelam dalam topik yang sama.
“huah,” gumam Louis kecil, mengantuk, padahal ia sudah tidur lama sekali di mobil, pasti karena kekenyangan. Dibiarkannya dagunya menempel ke meja, matanya masih berbinar antusias.
“Maldives? Belum, aku ingin seklai ketempat itu, katanya lautnya indah sekali…”
“Well , aku sudah pernah ke sana, kau benar! Lautnya indah sekali!”
Louis sedikit menegakkan padanya, “Sungguh? Ceritakan padaku!” serunya semakin antusias.
Crysh menegakkan posisinya, meregangkan punggungnya lalu kembali ke posisi yang sama, “Aku ke Malidives Island baru saja kok, sekitar enam bulan yang lalu, tapi tempat ini memang menakjubkan!” Ia menarik napasas panjang, “ Lautnya sangat bening, kau bisa melihat terumbu-terumbu karang menakjubkan dari, bening seperti kaca. Pasirnya putih sekali, sangat putih! Seperti butir-butir berlian yang ditabur. Pasirnya terlihat dari atas, menembus air yang biru tenang, indah sekali! Menakjubkan!”
Louis menutup matanya, membayangkan, suara goyangan ombak yang tenang, pasir-pasir putih, ikan-ikan kecil yang berenang di permukaan, dan bau laut. Kesadarannya mulai termakan oleh bayangan-bayangan itu, seakan ia berada di atas kapal, seakan bau laut itu benar-benar ada.
“Terumbu karangnya melambai-lambai gemulai, membentuk lukisan abstrak di atas berlian-berlian kecil itu, indah…” suara Cryhs semakin lembut, Ia berdiri dan berjalan hingga berada di samping Louis, matanya memandang cepat sekilas ke seluruh restauran, sepi.
Ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, berbentuk tabung, tabung aluminium. Pelan-pelan tangan Cryhs membuka kancing atas Louis satu persatu, bibirnya terus membisikkan kata-kata indah itu, menambahkan bayangan-bayangan Maldives, bayangan hipnotis. Tanpa melihat tangannya meraba di sekitar bagian dada Louis lalu berhenti di satu tempat. Dug… Dug…. Dug … detak jantung yang teratur terasa di ujung-ujung kulit jari Cryhs, bibirnya tersenyum samar, tangannya mengambil tabung itu dan memutar ujungnya dengan jempol dan telunjuknya.
Dan DUK! Crysh menekan ujung tabung itu dengan sebuah gerakan cepat. Badan Louis sedikit mengejang dan terdorong kebelakang, erangan kecil terdengar, tapi Cryhs segera kembali membisikkan kalimat-kalimat menenangkan ditelinganya.
Tangannya dengan cepat kembali memasang kancing-kancing itu, bibirnya menggumamkan kata-kata itu ketika nafas Louis kembali normal dan tenang. Ia berdiri tegak, mata ramahnya berubah dingin dan was-was, sekali lagi ia mengawasi setiap sudut restauran. Ia mengambil kaleng minuman itu, mengambil saputangan dari sakunya dan membersihkan sisa-sisa minuman yang mengandung obat tidur yang masih tertinggal di bibir Louis, lalu saputangannya membersihkan bekas-bekas jejaknya yang tersisa.
Sempurna, bisiknya dalam hati, puas.
Dengan langkah tenang ia berjalan keluar restauran. Sudut-sudut rahangnya tertarik hingga membuat senyuman puas nan licik, ia menoleh sesaat, dan menatap Louis yang tertidur di mejanya, “You will be mine, baby, wait for me .”
--||--
Still Continue, oke... mulai masuk konflik.
Jumirdan : thx, silahkan dibaca lanjutannya
mba' onik : *blushing* thx banget mbak..
gak kok, saya masih jauh dibawah mbak onik..
oke.. menuju ke tkp dah..
@ hinata_shou : thx.. thx banget
lanjut kk. ceritanya enak dan nyambung
perkembanganmu sangat pesat... bahkan sekarang jauh di atasku, salut! ;)
cerbungku tentang devon udah muncul, silakan simak dan kritik ya... thx :)
ringam mengalun... tp next pasti ada gebrakan. lanjutkan!
wew, muncul chara penting yg ketiga kayanya. penasaran soal tabung aluminium itu dan soal Crysh menekan ujung tabung itu dengan sebuah gerakan cepat. Badan Louis sedikit mengejang dan terdorong kebelakang, erangan kecil terdengar
sebenernya louis diapain si? ga kebayang ni... tapi overall dari yang bab2 dulu, kemajuannya byk bgt. hehehe
hmm.... gimana ya???
jadi si Cryhs itu mendorong ujung tabung itu ke dada Louis, kaya orang dadanya di stempel gitu lah...
baby, wait FOR me--yg bener. hehehehehe
chie suka alurnya. bener2 bikin deg2an n chie sangat2 penasaran menunggu kejelasan tentang konflik utamanya. :)
n chie cuma bisa bilang buat ukuran BL, ceritamu ini termasuk bener2 romantis. wkwkwkwkwk
ditunggu sambungannya
ps: request gambar karakternya dong. kenapa gak jadi dipasang sih? malah maldives gitu yg dipajang... =="
maklum sensei...
this is my first bl story...
dan aku gak pernah baca manga bl kecuali god save our king (itu nonton di animax sih) hahahahaha
baru kemaren aja dikasih tau kakak angel, ahahahaha...
kesadisannya akan segera muncul kok, cp 6 *devil mode on*