Hamparan salju terlihat sejauh mata memandang. Kedua bola mata hitam pekat Reo terus memandang lurus ke depan, tak ada ekspresi apapun yang dapat dibaca darinya. Lalu ia menghela nafas panjang.
Sudah cukup lama sejak mereka meninggalkan restoran itu dan Louis belum juga bangun. Hal itu membuatnya cemas, sungguh, tapi Reo tak akan pernah membiarkan rasa cemas mengalihkan konsentrasinya yang sedang terpusat penuh.
Read more (1851 words)
Ada yang membuntuti, ada yang melacak. Reo dapat merasakan aura sang pelacak itu dengan sangat jelas. Lembut dan samar, cukup untuk mengetahui bahwa pelacak itu berada di sekitarnya, tapi tak cukup kuat untuk mengetahui dimana keberadaannya. Musuh yang hebat, dapat memanipulasi auranya dengan cukup sempurna.
Sekali lagi ia menghela nafas panjang. Hal itu juga membuatnya cemas. Tentu saja Reo tidak mencemaskan dirinya atas sang pelacak. Louis lah alasan kecemasan itu, intuisinya mengatakan bahwa Louislah target pelacak itu.
Lalu kenapa? Bukankah Louis hanya seorang tak dikenal yang tak sengaja menjadi saksi hidup atas pembunhan masal yang dia lakukan? Kewajiban Reo adalah membunuhnya, jelas, tapi kenapa hingga saat ini ia belum melakukannya? Lagian kalau memang pelacak itu mau membunuh Louis… semuanya akan tetap baik-baik saja kan? Benarkah ia tak tega? Mungkin. Tapi Reo tak pernah berpikir hingga sejauh itu. Urusan kemanusiaan bukan insting dasarnya dan itu membuat segalanya jauh lebih sulit.
Sekilas pandangannya teralih ke peta yang terbentang lebar di dashboard mobil, memastikan posisi mereka saat ini. Dalam beberapa detik ia sudah dapat menentukan perkiraan posisi.
Mungkin harus menginap , batinnya dalam hati sambil melihat peta lagi. Kali ini bukan untuk memastikan posisi melainkan mencari kota terdekat yang dapat mereka singgahi. Pandangannya jatuh di satu bulatan merah kecil.
--||--
Tanda-tanda peradaban mulai terlihat ketika mereka memasuki kota. Bangunan-bangunan yang terlihat lebih moderen daripada kota sebelumnya berjejer di sepanjang jalan. Reo memandang bergantian dari satu bangunan ke bangunan lain, mencari-cari penginapan yang pas untuk malam ini.
Akhirnya Reo memarkirkan mobilnya di gang buntu antar toko-toko yang berderet panjang. Terdapat penginapan sederhana di sampingnya, tidak terlihat mencolok namun terletak di tengah kota, tempat yang dia inginkan. Sempurna.
Reo membuka pintu mobil dan segera keluar dari mobil yang serasa pengap baginya. Hembusan angina dingin masuk ke dalam mobil ketika Reo membuka pintu, membuat Louis menggeliat dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Cepat bangun,” perintah Reo dingin, matanya menatap Louis yang masih mengumpulkan kesadarannya dengan tatapan tak berminat.
Louis segera beranjak dari posisinya lalu membuka pintu di sampingnya. Dingin yang menyeruak membuatnya ingin sekali tinggal di dalam mobil. Tapi toh Louis tak ingin kena damprat lagi, segera ia keluar dari mobil dan menutup pintunya.
Bola mata birunya membesar melihat peradaban yang lebih maju di kota ini. Inikah tujuan mereka? Atau hanya sekedar permberhentian? Mata Louis terpaku melihat pengamen jalanan yang bermain gitar akustik di pinggir jalan, ah… lama sekali rasanya sejak ia terakhir kali menyentuh benda bersenar itu, tangannya serasa gatal.
“Hei! Ayo!” Suara kasar itu kembali memanggilnya—atau lebih tepatnya membentak—betapa menyedihkan hidupnya, piker Louis. Dalam hati ia menyesali keputusannya mencari angin segar dengan keluar kapal malam itu, kini hidupnya hancur berantakan di tangan pembunuh bayaran tak bernama itu.
Tapi apa yang bisa dilakukannya? Tak ada. Tampaknya menuruti apa yang dikatakan pembunuh kejam itu adalah hal terbaik yang dapat dilakukan, lagian hingga saat ini belum ada hal yang lebih buruk terjadi padanya kecuali hidupnya yang menjadi hancur berantakan ini. Memangnya semua ini dapat bertambah buruk lagi?
Louis mengikuti Reo yang berjalan cepat memasuki penginapan. Kaki-kaki jenjang itu melangkah ringan menaiki anak tangga, dua undakan di setiap pijakannya, membuat Louis lagi-lagi harus mengejar ketertinggalannya. Cukup tinggi juga penginapan ini rupanya, tadi Louis tak sempat memperhatikan berapa lantai penginapan ini, tapi kelihatannya Reo memilih kamar yang terletak di lantai paling atas.
Dalam Hati Louis menghitung di lantai berapakah mereka sekarang, Lantai 5, ya… lantai 5 dan menaiki tangga, mungkin hanya kelihatannya saja kota ini lebih moderen. Bagaimanapun Louis telah mencicipi dari penginapan kelas murah hingga yang berbintang. Permainan Louis bukanlah sembarang permainan musik biasa, ia sering mendapatkan panggilan-panggilan berbayaran tinggi karena bermain dari kapal ke kapal, Louis cukup terkenal di kalangan bangsawan-bangsawan yang pernah menaiki kapal yang ditumpanginya.
Reo membuka pintu kamar tanpa suara. Wajahnya tergulung masam, aura itu kini terasa lebih jelas dan dekat, tapi tetap ia tak bisa melacak pasti posisi pelacak itu, membuatnya frustasi. Tapi ada sisi lain yang bangkit seiring rasa frustasi dan cemas itu, hasrat yang kuat untuk bertarung dengan siapapun pelacak itu. Sudah lama ia tidak menemui musuh tangguh seperti yang satu ini. Kelihatannya kali ini pun harus dia yang memancing rupanya…
“Kau cari makan dulu saja di bawah, aku ada urusan.” Reo melemparkan beberapa lembar uang dolar ke atas kasur. Louis hanya mengangguk diam. Reo membuka jendela kamar, melihat ke kanan dan kiri dengan cepat, bersiap untuk loncat ke atas sebelum suara Louis yang memanggil menghentikannya.
“Hn… Reo mau juga?” Tanya Louis ragu, takut salah berkata-kata.
Reo menghela nafas panjang, hanya itu yang mau dikatakan? Kenapa tidak dari tadi! Ingin rasanya Reo mencercar bocah di depannya itu. Tapi nurani yang selama ini tak pernah muncul kembali membuat Reo mengurungkan niatnya. “Ya, terserah kau saja..” Dan sebuah senyum tipis tanpa Reo sadari terbentuk di wajahnya, sebelum akhirnya ia menghilang dari pandangan.
--||--
Dugaannya tepat, pelacak itu pasti seorang yang tangguh. Kedua bola mata hitam pekat itu telah berubah sewarna darah, menatap dingin sosok di depannya, sebagian hatinya merasa puas telah mengetahui siapa sang pelacak itu, tapi sebagian lagi terasa kecewa karena ini tidak menjadi seseru yang ia inginkan.
“Tidak mengejutkan bukan?” Suara tenor yang sangat Reo kenal, senyum tipis ramah terkembang sempurna di wajah sang pemilik suara.
Reo diam, menatap dingin laki-laki di depannya.
“Kenapa kau hanya diam, Reo? Tidakkah kau kangen padaku? Kita telah lama berpisah.” Rambut silvernya berkibar terkena angina kencang, senyum itu tak memudar sedikitpun, justru semakin mengembang.
“Apa maumu?” dingin, singkat, tanpa basa-basi.
Pemuda cantik itu menghela nafas panjang, senyumnya berubah menjadi senyum menyayangkan, “Kau tidak berubah sedikitpun…”
Reo mendengus kesal, kini wajahnya tampak kesal, kedua tangannya masih tersimpan aman dibalik saku jaket hitamnya, “Apa maumu, Cryhs?”
Cryhs tertawa riang, tampak senang dengan pertanyaan Reo barusan, “Ternyata kau masih ingat namaku ya… baguslah.”
“Yang kuinginkan? Tidakkah kau sudah dapat menebaknya? Bocah itu, bocah pirang yang bersamamu, dia yang ku inginkan.”
“Tidak bisa, dia miliku, dia tawananku.”
Kedua wajah itu kini sama-sama serius, dingin.
“Aku harus memastikannya mati, itu tugasku.” Suara ramah Cryhs telah menguap entah kemana, digantikan nada dingin yang tajam seperti Reo.
“Aku yang akan membunuhnya, kau tidak usah ikut campur.”
Cryhs memejamkan mata sejenak, menarik nafas dalam, “Tapi sampai sekarang kau belum membunuhnya kan? Dia saksi hidup, tidak boleh dibiarkan hidup.”
Reo memandang tajam Cryhs yang telah membuka matanya yang kini berubah abu-abu terang, entah kenapa dirinya merasa marah, tidak… Cryhs tidak boleh ikut campur.
“Tapi tenang saja,” ujar Cryhs lagi, “Bagaimanapun ia akan mati kan pada akhirnya? Aku hanya mempercepatnya saja… semuanya sudah terlambat, keputusan dewa sudah tak dapat diubah, aku yang akan memastikan kematiannya!” Mata kelabu yang memancarkan rasa tenang itu berubah tajam, senyum sinis terkembang di wajahnya, menampakkan wujud asli sang pelacak.
--||--
Bodoh! Bodoh! Bodoh! Mengapa sejak awal ia tidak menyadari bahwa pembicaraan itu hanya menuju ke satu hal? Cryhs telah bertindak, semuanya sudah terlambat.
Cryhs, sahabat Reo dulu saat mereka sama-sama berada di pelatihan. Reo tetap mengikuti Mr. James sedangkan Cryhs memutuskan untuk menjadi pembunuh bayaran tak tetap. Cryhs lah yang selama ini selalu ditakutkannya, otaknya yang jenius telah membuat peledak mematikan yang membunuh dari dalam, bom organ, peledak khas miliknya.
Kaki Reo meloncat dari satu atap ke atap lain dengan kecepatan tak terkira. Hatinya gelisah, berdoa semoga Cryhs tidak benar-benar menanamkan bomnya di tubuh Louis, tapi jika ternyata itu benar.. ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Lalu pertanyaan-pertanyaan yang tak pada tempatnya kembali muncul membayanginya, kenapa ia harus peduli? Benar kata Cryhs… pada akhirnya Louis akan mati.
Tapi lagi-lagi ia tak bisa menemukan jawabannya, instingnya untuk melindungi bertindak jauh diluar kuasanya. Kalut, sungguh, semua perasaan yang tak pernah muncul sebelumnya bercampur aduk menjadi satu. Penginapan semakin dekat, dan Reo dapat mendengar suara jerit tertahan Louis yang menggema.
Louis ada disana, terkapar dengan tubuh bermandikan peluh di lantai kamar yang bewarna coklat, rasa sakit yang sangat terbaca jelas di wajahnya, nafasnya memburu kencang. Reo terpaku sejenak, Cryhs telah menanamnya! Tangan mungil Louis mencengkrang erat dada kirinya, sakit… sakit amat sakit. Tubuhnya bergemetar hebat menahan sakit, jantungnya seakan ditusuk bertubi-tubi.
“Re..Reo..argh..sa..sakit.” Sakit, kesakitan terdengar jelas dalam nada suaranya. Reo menghampiri cepat tubuh Louis yang terkapar, kedua tangan pucatnya berusaha menopang tubuh Louis, [i]apa yang harus aku lakukan?! Apa yang harus aku lakukan?![i]
Reo menggigit bibirnya dalam-dalam, nafas Louis mulai terputus-putus seiring dengan rasa sakit yang semakin bertambah saja. Otaknya seakan membeku di dalam, tak dapat berpikir dengan jernih. Lalu suara bip samar tertangkap oleh telinganya, sudah mencapai batasnya, bomnya sebentar lagi akan meledak!
Dan kini perasaan kalap dan putus asa lah yang mengendalikan tubuh Reo sepenuhnya. Tangannya merogoh cepat tas ranselnya, mengambil pisau tajam berkilat panjang, matanya berkelabat panic menelusuri ruangan, sebelum akhirnya tertuju ke kotak P3K yang terletak di atas lemari. Segera Reo sambar kotak P3K itu dan mengobrak-abrik isinya mencari botol alcohol. Tangannya dengan cekatan menuang alcohol ke pisau tajamnya dan membersihkannya dengan gerakan yang sangat cepat.
“Argh!” suara jeritan menyayat itu kembali terlontar dari bibir Louis yang bergemetar hebat, kelabakan mencari nafas. Reo mendorong tubuh Louis cepat sehingga Louis bersandar pada dinding, tangannya mencengkram erat pisau itu, dan dengan nafas tertahan Reo menyayat kulit putih Louis.
“ARGH!!!” Darah mengucur deras dari sayatan sepanjang jari telunjuk itu. Tangan kiri Reo membekap mulut Louis, meredam suara jeritannya, sedangkan tangan kanannya bersiap menyusup ke dalam luka menganga itu.
Air mata bersimbah dari mata biru redup Louis, matanya setengah terpejam, nyaris kehilangan kesadaran akibat rasa sakit yang menghujam tubuhnya. Reo menyusupkan tangannya dengan cepat ke dalam luka itu, membuat Louis kembali menjerit tertahan, tubuhnya telah berlumuran darah, saat ini tak ada yang diinginkannya selain mati agar rasa sakit itu hilang.
Semuanya terasa semakin gelap dan kabur, seakan ia tertarik ke dalam lubang besar yang gelap. Oksigen yang masuk ke paru-parunya semakin menepis, [i]Aku mohon siapa saja… hentikan rasa sakit ini[i].
Perubahan itu sangat terlihat, tubuh Louis yang bergemetar mulai berhenti bergemetar, tubuhnya lemas, matanya terpejam. Tapi ini bukan perubahan yang bagus, ini salah! Bomnya masih ada di dalam. Reo menatap panik Louis yang nyaris kehilangan kesadaran, kehilangan nyawa, dan kehilangan darahnya.
“Bertahanlan, Louis, tatap aku!” Suara itu penuh keputusasaan, tangannya bergerak semakin cepat, tonjolan kecil kasar terasa di bawah jarinya, jarinya bergerak memutar, berusaha mengambil bom kecil itu tanpa merusak organ di dekatnya.
Reo segera mengeluarkan tangannya dari tubuh Louis, bom kecil bewarna perak itu bergetar semakin kencang di tangannya. Reo mengatupkan tangannya, merentangkan tangannya jauh-jauh, ia tidak mungkin melempar bom itu keluar, tapi ia masih dapat menahan ledakannya dengan kekuatannya.
BUM!
Bom kecil itu meledak di tangannya, daya ledaknya memang telah berkurang setengahnya, tapi masih cukup untuk menciptakan luka bakar parah. Tapi Reo tak peduli dengan tangannya, darah bersimbah dari luka menganga itu. Tangannya menarik seprai kasur dengan kasar, menekan lukanya agar darahnya berhenti, pecuma.
“Bertahanlah Louis! Bertahanlan Louis!” Terlambat, kesadarannya telah menghilang sepenuhnya bersama detak jantung yang semakin lambat.
------------------------------------------------------------------------------------------
Maaf jika banyak saltik, kata ngelantur, EYD ngaco dan segala macamnya. Maaph atas kemalasan saya mengupdate, mohon maklum wkwkwkwk
lagii, penasaraaan
wow... deg2an sampe akhir XDDDDD kereeeen!! 2 jempol buat nita!
wah, nuansa BLnya makin kerasa ya? *tertegun membaca adegan paling akhir* =u=
hyahyahyahya xDDD
ckckck, ternyata nanam bom toh. yah, seperti biasa, chie menantikan lanjutannya nita-san ^^
ceritanya bagus, hanya saja untuk nama carakternya terlalu sulit di ingat...!
Owo begitu ya?