Tentang Hati yang Tercuri

'Pernahkah berpikir, bagaimana rasanya masuk menjelajah relung hati seseorang, dan orang itu ternyata mencintaimu...?'
______
Di suatu tempat yang jauh, tersebutlah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Hati…

Bertahun-tahun lamanya penduduk Kerajaan Hati tinggal dalam kekejaman musim dingin yang beku dan gelap, tanpa merasakan hadirnya sang surya maupun hangatnya angin musim semi bertiup. Konon, sebabnya adalah permata “jantung hati” milik Sang Putri, penguasa dari Kerajaan Hati yang agung, telah dicuri.

Segenap isi Kerajaan Hati telah dititahkan untuk mencari, lalu menangkap Sang Pencuri hidup-hidup. Namun hingga kini tak ada hasilnya.

Dan “jantung hati” Sang Putri tak pernah kembali…

Pada suatu hari, seorang pemuda tiba di Kerajaan Hati setelah berkelana dari tempat yang jauh. Ia terkejut bukan kepalang mendapati matahari tidak bersinar atas tempat ini, dan penduduknya tampak miskin juga menderita; kurus kering nelangsa di balik pakaian mereka yang kian menipis terkikis hembus angin musim dingin yang tak kunjung usai. Wajah-wajah cekung mereka muram, seolah meratap tanpa kata pada permukaan tanah yang lesu kerontang.

Sang pemuda berjalan menyusuri kota dengan simpatik dan iba. Dipandangnya kejauhan, pada kastil Kerajaan Hati yang berdiri di puncak bukit, tampak kelam di balik kabut dengan puncaknya tertutup awan kehitaman. Betapa menyedihkannya! Ada apakah gerangan dengan kerajaan ini…? Begitu ia membatin pada dirinya sendiri.

Sang pemuda yang tenggelam dalam pikirannya tak sengaja menabrak seorang pejalan kaki.

“Maaf,” kata pria yang menubruknya. “Apakah aku pernah melihatmu di suatu tempat, Tuan?”

“Kurasa tidak,” si pemuda menjawab sopan. “Ini adalah pertama kalinya aku berkunjung ke sini.”

“Tapi aku juga merasa seperti pernah melihatnya!” seru penduduk lain yang ikut mengawasi kejadian kecil ini.

Sang pemuda berdiri dengan bingung, sementara datang lebih banyak sahutan serta gumam persetujuan dari arah sekelilingnya.

“Oh!” seseorang berteriak sebagai puncaknya. “Ini dia! Dia—si Pencuri! Dia si Pencuri!! Tangkap dia!”

Seruan kaget serta dengung tak bersahabat mewarnai kerumunan begitu mereka semua berbalik untuk menghadapi si pemuda. Sang pemuda mencoba berkelit, meneriakkan pembelaan, tapi kemudian tak ada suara keluar dari mulutnya karena pada saat bersamaan dia menyadari sesuatu: bahwa hampir seluruh permukaan tembok-tembok rumah kayu yang lusuh tertutup oleh selebaran pamflet dengan tulisan besar di atasnya, ‘DICARI’. Dan di bawahnya, tak lain tak bukan adalah gambar wajah yang sangat mirip—terlalu mirip dengan wajahnya sendiri!

“Tunggu…! Ini pasti kesalahan…” tukas si pemuda tersengal, berusaha membela diri si tengah kerumunan yang sibuk menyeret-nyeret dan mendorongnya.

“Ha! Ucapkan pembelaanmu di hadapan Sang Putri!” Seorang pria yang berada paling dekat dengannya menanggapi dengan kasar.
_____

Sang pemuda terus berusaha meronta dan berteriak, namun akhirnya ia dibawa ke muka takhta Sang Putri tanpa perlawanan berarti.

Sang Putri adalah seorang gadis muda berambut panjang, ikal keemasan memantulkan kilau-kilau permata kandelir. Tubuhnya kurus dan kecil. Wajahnya manis dengan rona pipi kemerahan dan senyuman anggun, namun kedua bola matanya yang bundar terus memandang pada kosong. Seolah-olah lebih dari separuh jiwanya telah pergi meninggalkan raganya.

Ia pun bangkit berdiri ketika para penjaga melemparkan tubuh si pemuda ke bawah kursi takhtanya.

“Wahai pemuda, angkatlah kepalamu!” titahnya dengan suaranya yang keras namun halus. “Beritahu aku, apakah benar kaulah orang yang telah mencuri jantung hatiku…?”

Sang pemuda mendongak sebagaimana ia diperintahkan, dan Sang Putri terperanjat menahan napasnya.

“Bukan aku!” bantah si pemuda lelah. “Kalian pasti salah paham!”

“Tidak…” kata Sang Putri lambat-lambat. Selama sekejap, pada warna matanya yang kelabu tergurat sedikit kesedihan. “Aku tahu aku mengenalimu.”

“Kalau begitu kau pasti salah mengenaliku!” kata si pemuda lagi, putus asa. “Aku bersumpah aku tidak pernah mencuri apapun…! Dan malah sebetulnya aku tidak pernah kemari sebelum—akhh!” Pembelaannya terputus begitu saja oleh sebuah hantaman keras pada punggungnya. Salah seorang penjaga yang berada di dekatnya berdiri mengancam sambil mengayunkan sebilah tongkat panjang.

“Jaga bicaramu, Pencuri! Kau berhadapan dengan Sang Putri!”

Sang pemuda menelan ludahnya. Terengah, babak belur oleh segala perwujudan fitnah yang ditujukan kepadanya semenjak ia salah dikenali. “…sungguh, bukan aku…” katanya, mengerang pelan. Tak sanggup lagi untuk meneriakkan pembelaan manapun.

Sang Putri menyaksikan perubahan ini dengan dingin. Tatapannya tertuju pada si pemuda tanpa menyiratkan belas kasihan sedikitpun.

“Jadi kau takkan mengakui dimana kau menyembunyikan jantung hatiku, bukankah begitu?” tanyanya pahit. “Baiklah, kalau begitu... Penjaga, lemparkan dia ke bui!”

Tanpa perlawanan, para penjaga menyeret dan menjebloskan si pemuda ke dalam bui. Sang pemuda, kesakitan, juga kelelahan, hanya bisa menyesali keputusannya untuk singgah di kerajaan ini. Tepat ketika ia memutuskan untuk berpasrah menerima nasibnya, sebuah suara tawa kecil terdengar dari arah salah satu pojok bui yang gelap.

“Siapa itu?!”

Tawa yang disangkanya halusinasi itu menjadi nyata dengan munculnya sesosok anak perempuan kecil dari balik kegelapan. Rambutnya panjang hitam, dengan tubuh terbalut gaun renda pendek, dan keberadaannya seakan menyedot seluruh kegelapan yang mengisi penjuru sel. Karena entah bagaimana, sekujur tubuh anak perempuan ini diselimuti oleh pendar-pendar cahaya keemasan yang menakjubkan.

“Namaku Cyel, pemuda,” begitu si anak perempuan mengenalkan dirinya. “Jangan menyerah. Aku akan membawamu keluar.”

Bersamaan dengan selesainya kata-kata itu, sebuah letupan cahaya menyemburat dari arah pintu sel yang terkunci rapat. Kemudian menjeblak terbuka dengan suara berdentum.

“Apa itu??”

“Ke arah sana! Cepat periksa selnya!”

Langkah puluhan penjaga serta merta memenuhi tempat yang masih berbau asap itu. Si pemuda masih membeku dalam keterkejutan, hingga si anak perempuan harus menarik tangannya untuk membuatnya sadar.

“Apa yang kau tunggu? Lari!”

Sang pemuda pun tahu dia tak punya pilihan lain selain mengikutinya berlari kabur.
_____

Entah berapa lama setelahnya—tak dapat diketahui sebab warna langit yang tak kunjung berubah, sang pemuda dan gadis bernama Cyel itu tiba di tengah hutan. Terengah, si pemuda nyaris putus napas, lelah berkejaran dengan para penjaga juga penduduk yang mendengar kabar pelariannya. Lutut serta lengannya berdarah-darah. Saat itu sungguh tak ada yang lebih diinginkannya selain pulang. Tapi anak perempuan di sebelahnya tetap pada pembawaannya yang cerah dan riang, seolah berlari selama beberapa jam penuh sama sekali bukan masalah baginya.

“Sebenarnya siapa kau…?” tanya si pemuda setelah beberapa saat terpekur mengembalikan napasnya.

Cyel yang sedang bersenandung, tersenyum menjawab pertanyaannya. “Aku? Aku Peri Pelindung Kerajaan ini, Cyel,” katanya sambil sekali lagi menyebutkan namanya.

Sang pemuda membelalak takjub. “Kalau begitu… tentunya kau tahu apa yang terjadi pada Kerajaan ini?” tanyanya kemudian.

Cyel menelengkan kepalanya seakan mengingat-ingat. “Ya, aku tahu. Sudah bertahun-tahun lamanya permata Jantung Hati dicuri dari Sang Putri. Dan sejak itulah, segalanya berubah jadi seperti ini,” ujarnya, memandang muram pada wajah langit yang dirundung kelam. Lalu pandangannya beralih pada si pemuda. “Apa yang ingin kauketahui, pemuda?”

Sang pemuda tertunduk diam. “Aku tidak mencuri permatanya,” katanya kemudian.

“Itu bukan pertanyaan,” sahut Cyel terkekeh.

“Tapi sungguh, bukan aku pencurinya!” kata si pemuda lagi, bersungguh-sungguh.

“Mengenai itu… aku tidak tahu. Sayang sekali,” tukas Cyel, tersenyum masam. “Kau mungkin saja tidak menyadarinya, sementara Sang Putri tidak mungkin salah mengenali orang yang mencuri Jantung Hatinya.”

Pada raut wajah sang pemuda telah nampak sedikit pengertian. “Maksudmu, aku mencurinya begitu saja tanpa sadar aku mencurinya, begitu…?” tanyanya lagi.

“Mungkin,” jawab peri Cyel pendek, mengangkat bahu.

“Tapi bagaimana bisa aku melakukannya…? Aku bahkan tak pernah melihat benda itu dengan mata kepalaku sendiri!”

Kali ini Cyel tidak menjawab, dia hanya tersenyum.

“Kau tahu, pemuda, kau bisa saja kabur,” tukasnya beberapa detik kemudian. “Jika kau terus berjalan menyusuri hutan ini, terus ke arah utara, kau akan mendapati dirimu sendiri berada di luar Kerajaan Hati.”

Sang pemuda menolehkan kepala mengikuti arah yang ditunjukkannya, kemudian tatapannya berhenti pada ekspresi wajah peri Cyel yang tengah mengawasinya sambil menyeringai misterius. Berpikir. Seakan menilai. Si pemuda pun jadi bimbang.

“Bagaimana kalau aku memilih pergi?” tanya sang pemuda, merasa tergerak oleh firasatnya.

Peri Cyel mendesah panjang dramatis. “Yah, kau punya pilihan,” sahutnya. “Yang pertama, pergi kabur dan jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di tempat ini. Tentunya kau akan selamat, tapi jika benar adanya kau adalah Sang Pencuri Jantung, maka akhirnya kerajaan ini akan sungguh-sungguh binasa tanpa kehadiran Jantungnya.”

Sang pemuda menelan ludahnya dengan susah payah. Dia masih tidak percaya bahwa dirinya sendiri adalah Sang Pencuri. Tapi membayangkan tempat ini harus binasa hanya karena seorang dirinya… Entahlah. Dia merasa dirinya tak sampai hati.

“Lalu… pilihan kedua?”

“Pilihan kedua… terserah padamu,” jawab Cyel tak disangka-sangka, mengulum senyumnya. “Kau bisa melakukan apa saja yang kauinginkan dengan Jantung itu… juga pemiliknya. Tapi kau harus tinggal.”

Sang pemuda pun kembali terdiam. Sebagian besar dari dirinya menyuruhnya segera pergi menjauh sejauh-jauhnya dari tempat terkutuk ini, namun yang sebagian lagi—bagian yang sangat kecil—merasa terusik. Terusik, bukan sekedar oleh langit yang kelam ataupun bentangan lahan kerontang, melainkan oleh sinar mata Sang Putri yang terus terbayang dalam benaknya. Tatapan itu kosong seperti rongga tertutup kabut. Dan entah bagaimana… mengingatkannya akan--

“Apa yang harus kulakukan jika aku memilih tinggal?” Pertanyaan itu meluncur keluar dari mulutnya bahkan sebelum dia sempat berpikir lagi. “Aku masih yakin aku tak pernah mencuri apapun. Tapi tempat ini… aku memilih untuk tidak meninggalkannya binasa jika aku bisa melakukan sesuatu.”

Tanpa diduga, Cyel terkikik mendengar jawabannya. “Oh aku sungguh tak akan heran jika kau memang benar-benar Sang Pencuri,” kekehnya.

“Maaf?”

“Bukan apa-apa, maaf,” kata Cyel lagi, mengusap ujung matanya yang berair. “Jalannya ke arah sana, pemuda.” Dia mengarahkan jari telunjuknya pada arah yang berlawanan, tepatnya ke arah darimana mereka melarikan diri. “Apa kau yakin kau tidak akan menyesal? Kali ini aku tak dapat menolongmu. Segalanya akan tergantung pada pilihan dan tindakkanmu sendiri.”
______

Sang pemuda yang memutuskan untuk tinggal membulatkan hatinya untuk kembali ke kastil. Hiruk pikuk yang sempat mewarnai pelariannya nampak telah mereda, digantikan oleh kesunyian tak wajar melingkupi sekujur tubuh kastil, berujung pada gemuruh awan hitam yang menyembunyikan puncaknya.

Sebenarnya, sang pemuda masih menyangsikan keputusannya sendiri. Tapi batinnya berulangkali memperingatkannya bahwa apabila dia berlari kabur, membiarkan negri ini perlahan hancur oleh hal yang mungkin saja karena dirinya, maka selamanya dia akan dihantui oleh bayang-bayang rasa bersalah, baik dalam wujud rasa penasaran ataupun ingatan akan tatapan berkabut milik si Pemilik Jantung—yang entah bagaimana terasa menghakiminya dengan membentuk ikatan tertentu…

Satu-satunya cara adalah dengan memastikannya sendiri.

Namun begitu, kastil itu nampak kosong dan bahkan, ditinggalkan. Tak ada penerangan. Tak ada penjaga. Sang pemuda bisa mendengar gema langkah kakinya sendiri mengisi kekosongan sementara dirinya berjalan menembus kegelapan. Pada satu titik dimana sang pemuda merasa dia sudah dekat dengan apa yang dia tuju, lusinan gerak bersamaan menyentak di sekelilingnya, menandakan kehadiran orang-orang yang tak dapat dilihatnya. Si pemuda menyetop langkahnya meski tetap diam. Dia sudah menduga.

Penerangan dinyalakan dan si pemuda mengangkat kepalanya; sekali lagi, dia berhadapan dengan si Pemilik Jantung yang telah menjebloskannya ke bui—Sang Putri. Kali ini, tak ada senyuman dingin atau bahkan luka tergurat pada wajahnya. Meski masih saja… kabut menggantung pada kedua matanya layaknya kesedihan ketika dia memandang si pemuda dari atas ketinggian panggung takhta.

“Jadi kau kembali,” tukasnya keras. Dan sekalipun kata-kata itu diucapkan dengan nada tinggi, sensasi yang ditimbulkannya justru sedingin es. “Aku tak mengerti apakah itu kebodohan, yang membuatmu melakukannya, atau alasan lain. Namun pastinya kau tahu, kali ini aku takkan melepaskanmu sebelum kau mengakui segalanya. Jadi, sudahkah kau mempersiapkan jawabannya…wahai Pencuri?”

Sang pemuda mendengar sambil menatap lurus pada kedua matanya, mencari apa yang dicarinya tanpa memedulikan deretan prajurit yang mengelilinginya dengan tongkat teracung pada tulang rusuknya.

“Putri,” katanya tenang, “Apakah kau sungguh yakin akulah orang yang mencuri Jantung Hatimu?”

Sang Putri mengangkat wajahnya dengan angkuh. “Kau mempertanyakanku, pemuda…?”

“Tapi aku tak pernah tahu,” balas si pemuda, mengerutkan dahi. “Aku tak pernah memilikinya bersama diriku!”

“Bohong!” seru Sang Putri. Sekejap saja, dinding keanggunannya pecah. Dia terlihat seolah akan menangis, dan ada permohonan tersirat dalam suaranya yang bergetar. “Tidak mungkin…! Kau pasti mencurinya dan menyembunyikannya dariku! Penjaga!! Pukuli dia! Jangan berhenti hingga dia mengatakan kebenarannya!”

Berpasang-pasang tangan menarik dan melemparkan si pemuda ke muka lantai. Dan hal terakhir yang dilihatnya sebelum hantaman demi hantaman bertubi-tubi menyerangnya adalah masih, sepasang mata berkabut milik Sang Putri. Dan sang pemuda terus membatin sementara membiarkan tubuhnya dianiaya oleh rasa sakit beruntun, mencoba meraih apa yang disiratkan oleh pandangan itu… kemudian dia tahu dia menemukannya.

: Itu nanar.

Sang pemuda menggigit bibirnya, mencoba bertahan sekuat tenaga. Sementara benaknya berkelana, jauh… jauh menembus semak belukar mimpi maupun dinding Kerajaan Hati. Ke sebuah tempat dimana eksistensi disebut sebagai kenyataan. Dia hadir disana, tertawa di sisi orang yang dulu dikasihinya dan kemudian meninggalkannya. Dan kemudian hadir sepasang mata itu, basah dan berkabut, kosong oleh nanar. Sebuah keberadaan yang hampir disadarinya. Dan keberadaan itu terus mengawasinya, bahkan hingga sosok yang dikasihinya itu pergi meninggalkannya. Keberadaan itu utuh, namun dia tak pernah tahu!

Dan sekarang dia memahaminya, sepenuhnya.

Dengan sisa-sisa tenaganya, sang pemuda menyingkirkan lengan-lengan yang menghalanginya, kemudian ia terhuyung—setengah beringsut, kemudian berhenti tepat di hadapan Sang Putri. Bersimpuh di bawah raut wajahnya yang sama sekali terkejut.

“Tuan Putri,” dia berkata, tersenyum, sementara terengah, lebam, juga tergores dan berdarah. “Jantung Hati yang kucuri darimu, kurasa sampai kapanpun aku tak mampu mengembalikannya. Tapi kau tak bisa hidup tanpanya, bukankah begitu? Dan maka itu…”

Sang pemuda meraih tangan Sang Putri yang tengah menahan napasnya, kemudian meletakkannya di dadanya. “Ambillah milikku sebagai gantinya,” dia berkata.

Seketika itu, seberkas cahaya menyusup melalui pori-pori jendela kastil yang berdebu. Dan semua orang tertegun menunggu kepastian akan apa yang mereka pikir sedang terjadi, tidak dapat percaya. Suara rintik-rintik kecil hujan terdengar pelan tapi pasti menjatuhi tanah gersang, lalu sebentar kemudian, dari sudut yang disembunyikan awan, tampak matahari mengintip dengan malu-malu.

Dari daratan di luar gerbang kastil, dapat terdengar sorak serta teriakkan gembira berjuta manusia.

Tapi tatapan sang pemuda tercurah sepenuhnya pada sang pemilik tangan yang kini berada dalam genggamannya. Tangan itu gemetar. Beberapa tetes air mata jatuh ke atasnya, berasal dari sepasang mata Sang Putri yang tak lagi kosong dan berkabut. Sebaliknya, sepasang mata itu berkilauan oleh air mata yang menggenang di atasnya. Namun itu sudah cukup.

“Jantung Hatimu yang ada padaku ini, akan kujaga baik-baik. Aku takkan membiarkannya terluka, dan aku berjanji akan melindunginya dengan hidupku,” ujar sang pemuda lagi. “Apakah itu sudah cukup bagimu, Putri?”

“Aku… aku…”

“Maukah kau menerimanya?”

Bibir Sang Putri bergetar, tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Namun tak lama kemudian ia ikut tersenyum, tangannya yang bergetar menggenggam tangan si pemuda dengan erat.

“Y-ya… Ya…! Aku menerimanya!” begitu ucapnya sementara sisa-sisa air mata mengalir deras di pipinya. “Terima kasih…”

Kehidupan telah kembali pada Kerajaan Hati bersamaan dengan ditemukannya Jantung Hati Sang Putri. Tidak ada lagi gelap maupun dingin. Musim semi akhirnya datang menggantikan musim dingin yang telah berakhir. Penduduk Kerajaan Hati melewatkan harinya dengan penuh sukacita…

Dan Sang Putri hidup berbahagia selama-lamanya bersama Sang Pencuri Hati, yang mulai kini hingga seterusnya adalah Pangerannya.

_The End_

credits @ akina buat semua editan n sarannya (meski gak semua kepake =="), dan buat semua yg udah chie libatkan (repotkan) dalam pembuatannya dengan pertanyaan: "menurut situ kalimat ini bagus gak?"
hahaha ^^
semoga bisa dinikmati meskipun panjang

Read previous post:  
Read next post:  
Writer dansou
dansou at Tentang Hati yang Tercuri (5 years 1 week ago)
100

Luar biasa sekali Ratu huhuhuhu ini bagus sekali ;___;

(Btw, ini komen pertama saya di kekom setelah 43 minggu vakum). Welcome home, Dandi~

Writer bat08
bat08 at Tentang Hati yang Tercuri (7 years 7 weeks ago)

keren

Writer blackhole
blackhole at Tentang Hati yang Tercuri (7 years 9 weeks ago)
100

cerita fantasi yang keren...>.<
ampe terharuu.....tapi, sayang knp ya gw kurang suka ma endingnya?? hehe...gw pikir setelah ngambil hati si pencuri. pencurinya bakal mati...
tp overall keren banget (^,^)b
*mau dunkz...berguru untuk nulis cerita fiksi yg keren....^^ hehe

Writer just_hammam
just_hammam at Tentang Hati yang Tercuri (7 years 31 weeks ago)
70

Cerita ini recomended by anggra_t http://www.kners.com/showpost.php?p=22604&postcount=10
Menurutku terlalu banyak kekerasan pada cerita ini... hiks... kejam sekali putrinya ini...
Selamat Chie_chan... cerita yang indah.

Writer matadewa
matadewa at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 9 weeks ago)
100

masih belum ngerti tu pemuda bener yang nyuri trus ilang ingatan apa gimana. . .
btw ceritanya bener" so sweet

Writer rainvyza
rainvyza at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 24 weeks ago)
90

Seperti membaca dongeng, sungguh manis cerita yang disuguhkan :)

Writer tikamutz
tikamutz at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 29 weeks ago)
100

aduh , bagus banget sech ceritanya ajarin bikin cerita seperti ini jadi ngiri nech sama yang bikin kok bisa banget bikin cerita seperti ini bagusnya... tolong mampir ke tempat aku dan mohon komentarnya... sekalian komentarnya dikasih lada biar lbh pedas

Writer stezsen
stezsen at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 31 weeks ago)
90

huwaaa kereeeeennn
baru baca ini sekarang chie
sekarang daku punya satu permintaan lagi (yg dari dulu kau tolak2 mulu):
jadilah guruku (hormat)

Writer smith61
smith61 at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 33 weeks ago)
80

ahahahahaaa saya ngerti ngerti

bagus deh, sweet! tambahin garam dikit aja..biar gurih

Writer had.ez
had.ez at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 33 weeks ago)
100

suka dengan ini..

Writer Orangenium
Orangenium at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 40 weeks ago)
70

Benar-benar dongeng yang manis... Idenya sendiri bener2 unik... 4 thumbs up deh! (jempol kaki juga diangkat.lol..)

Writer anggra_t
anggra_t at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 49 weeks ago)
100

saya baca lagi... ga bosen2
rating lg ahh

Writer anggra_t
anggra_t at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 49 weeks ago)

ga bs ya??

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 49 weeks ago)

hehehe. kayaknya sihh nggak kak. trims ya atas apresiasinya. chie sendiri jua paling menyukai ini dibandingkan karya-karya chie yg lainnya. :)

Writer anggra_t
anggra_t at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 49 weeks ago)

ini:

Quote:
“Tuan Putri,” dia berkata, tersenyum, sementara terengah, lebam, juga tergores dan berdarah. “Jantung Hati yang kucuri darimu, kurasa sampai kapanpun aku tak mampu mengembalikannya. Tapi kau tak bisa hidup tanpanya, bukankah begitu? Dan maka itu…”
Sang pemuda meraih tangan Sang Putri yang tengah menahan napasnya, kemudian meletakkannya di dadanya. “Ambillah milikku sebagai gantinya,” dia berkata.

dan ini:

Quote:
“Jantung Hatimu yang ada padaku ini, akan kujaga baik-baik. Aku takkan membiarkannya terluka, dan aku berjanji akan melindunginya dengan hidupku,” ujar sang pemuda lagi. “Apakah itu sudah cukup bagimu, Putri?”

pasti luluh deh kalo ada cowok yang bilang begitu sama aku..

(ato malah eneg?? hahahaha...)

dari seluruh cerita di kkom paling suka ceritamu ini

Writer dewisun
dewisun at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 51 weeks ago)
90

dongeng yang manis....
jadi ingin menangis.....
two tumbs up for you cinta

Writer anggra_t
anggra_t at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 51 weeks ago)
90

mantep, chie! emangnya kapan si pemuda nyuri jantung hatinya itu ya?

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 51 weeks ago)

hihihi... ada dehhhh. ini settingnya bukan di dunia nyata kak. si pemuda itu "masuk" ke dalam hatinya si putri. :)

Writer anggra_t
anggra_t at Tentang Hati yang Tercuri (8 years 51 weeks ago)

mantep. nulis cerpen lagi dong, chie. ^^

Writer vaniamathilda
vaniamathilda at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 4 weeks ago)
100

wow! aku tersindir!!!
sesorang juga mencuri hatiku dan ku menghukumnya, dan juga menahannya agar tak pergi.....

baguuuuuuuuuuusssssssss!!!

Writer elzahrah
elzahrah at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 7 weeks ago)
70

Happy ending...Seru..terus berkarya.

Writer rey_khazama
rey_khazama at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 9 weeks ago)
80

nah yang ini aku suka. good. good. good.

Writer nadia_exe
nadia_exe at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 9 weeks ago)
80

ceritanya ringan tapi berbobot..:D
mantap v^o^v

Writer panah hujan
panah hujan at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 10 weeks ago)
90

Ini menarik perhatianku. Juga.

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 10 weeks ago)

Wah kak panah hujan, tak chie sangka bakal menemukan komenmu disini.. Huehehe xDD
tengkyu.. tengkyu..

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 10 weeks ago)

lalala

Writer Ancient
Ancient at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 10 weeks ago)
80

bagus kok...........

Writer Chandradyani
Chandradyani at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 11 weeks ago)
80

Bagus, tapi sayang kalimat awalnya saja yang bagus kebelakangnya agak terkesan buru2

Writer akina
akina at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 11 weeks ago)
90

*menyeringai senang* well.... euhuuumm,, keren :D

Writer timbuktu
timbuktu at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 11 weeks ago)
80

hohoho...wajah yang mirip...hmm...hmmm...ah...orang yang sama rupanya :D

aaahhh...bertukar hati...sweet

sebuah dongeng yang menuntut pembaca berfikir...menarik

Writer Alfare
Alfare at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)
90

Ini menarik perhatianku.

Writer iin_blue_girlz
iin_blue_girlz at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)
100

dongeng yang indah..bagus

Writer heinz
heinz at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)
70

Bagus. Agak mellow.
Tapi ada sebagian logikaku yang gag bisa nyambung.
Kenapa si pemuda itu berwajah mirip?
Jadi siapa si pencuri hati itu yang sebenarnya?
Maksudnya ada secret admirer?
Terus jantung hati si puteri ilang selamanya kah?
Blur banget nih ama karakter si puteri.
Harusnya cerita sederhana tapi kok keterima sebegitu rumitnya di kepalaku.

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)

Ah. Chie memang udah menunggu2 kapan pertanyaan2 ini keluar.. ^^
yg pertama, si pemuda berwajah mirip dgn si pencuri karena memang DIALAH si pencuri hati. Dia tak pernah tahu kenapa dia bisa mencuri jantung hatinya, karena sang putri ini, seperti katamu, mencintainya sbg seorang secret admirer. Jantung hati disini bentuknya abstrak, yaitu berupa hati yg tak sengaja tercuri o/ sang pemuda. Tentunya si jantung sndiri tak punya wujud, tp tak diragukan lg bahwa ia berada di tangan sang pemuda. Dan akhirnya, sang putri bertukar 'hati' dgn sang pemuda, yg merupakan lambang dr saling bertukarnya dua cinta. Sang putri sendiri pun hanya gambaran dari seorang gadis biasa yg tentunya memiliki kuasa dalam 'kerajaan' hatinya sendiri. Sepanjang itu, bisa dimengerti? ^^

Writer eva_chan
eva_chan at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 10 weeks ago)

Oooh gtu toh, hohoho aq ngerti, mklum otak q agk knslet jdi aq prtma'a gk ngerti tpi pas lia kment chie ni aq jdi ngerti, good writing

jgn lupa yah knjungi crita q^_^

Writer heinz
heinz at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)

Hm, secret admirer ya? I see.
Sebenernya ada satu skenario lagi sih yang berseliwer di kepalaku. Tuh cowok amnesia ato alzheimer. Hehe.
Ya, jantung itu memang kiasan.
Tapi secret admirer-nya galak banget....

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)

wew. kan dibilang thu cowok ga tau apa2 soal si cewek yg suka ma dia ini. dia ga lupa apa2 kok. wkwkwkwk xDDD
secret admirernya bukannya galak, tp terluka... tp gatau jg deh kalo kesannya jd gitu. :D

Writer heinz
heinz at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 11 weeks ago)

Abis tatapan dingin mulu.
Mana si pangeran ampe dijeblosin ke penjara lagi.
Sampe dikasi jantung, baru deh...
Wew, secret admirer yang serem.
Tapi tetep bagus.

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 11 weeks ago)

yah, untuk nyembunyiin bagian yg rapuh, orang bisa berkulit duri bos... *ketawa*

Writer heinz
heinz at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 11 weeks ago)

Hehehe, kulit duri ya? AKA Landak.

Writer Aussey
Aussey at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)
80

ney critanya tentang cewek yang jatuh cinta ya? Jadi c Pencuri Hati membalas cintanya dunX... heheheh.... kereeeeeennnnnnnnn critanya, kayak dongeng ^^

Writer GothicNfood
GothicNfood at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)
80

Hei, chi...
Gw baru baca, bagus nih...
Awalnya gw ngira ceritanya terlalu naif, tapi trus sadar kalo ini dongeng.
Gw kasih nilai delapan aja yah, kenapa delapan? ceritanya bagus, bagus bgt... Tapi sebenernya masih bisa disempurnain(menurut gw sih).
Ok ciao

Writer Ga4bloo
Ga4bloo at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)
100

huhuhuhu..mngharukan sekaleeeeeee..
kata2nya puitis..
bikin prekuelnya dong..ttg pertemuan awal mrka br2..
ms agak blur soalny..wkwk..
panjang tp ya,jd binun..
sayang,cyel malah kupikir karakter yg penting bgt..trnyt sampingan..

Writer pieris rapae
pieris rapae at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 12 weeks ago)
30

dongeng yang sangat singkat

Writer monmon_dede
monmon_dede at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 13 weeks ago)
90

two thumbs up 4 u !!

Writer mid.cool
mid.cool at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 13 weeks ago)
100

Good.good,,,^
Kmu emang berbakat Chie,,,
Two thumbs up for you,,,
d(^.^)b

Writer Vee_Violet
Vee_Violet at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 13 weeks ago)
80

Ah, seandainya ini bisa dikembangkan lagi pasti akan lebih ciamik. Karakter-karakternya belum cukup kuat di cerita ini.
Keep writing ^^

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 13 weeks ago)

trims komennya ^^

alcyon at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 13 weeks ago)
100

romantisna....

Writer samalona
samalona at Tentang Hati yang Tercuri (9 years 13 weeks ago)
80

Saya melihatnya dari sudut pandang lain.
Mungkin ini dongeng. Tapi, apa yang dikatakan Si Peri sungguh filosofis, "kau punya pilihan". Dan akhir cerita ditentukan oleh bagaimana Si Pemuda menjalani pilihannya. Kalaupun cerita berakhir bahagia, itu hanya bonus. Hadiah yang sebenarnya adalah ketenangan hati Si Pemuda karena telah membulatkan tekad, menentukan pilihan, dan menjalaninya dengan sepenuh hati.
Melihat dari sudut pandang ini, 2360 kata justru kurang, karena diperlukan pengenalan dan pengembangan karakter.
Maju terus Chie-chan! Jangan takut tua, jangan takut dewasa, karena kedua hal itu tidak berhubungan. (hehe. ah, jadi ngelantur)