Harus kuhentikan gerimis yang berguguran itu
Pada sebuah waktu
atau kebisuan arti, pun hingga kini
masih terukir di batang pohon walau telah
kutenggelamkan dalam-dalam
Bersama mata emasmu dan hujan yang kau kirim
Amat manis waktu yang kau sisihkan,
duhai Juli.
Hingga berlembar-lembar sunyi hangus terbakar
angin. Meski bahasamu deras mengalir
dalam sejuta bungkam yang tak diam,
Tapi di pusat jantungku kau berdenyut
tanpa sedikitpun kata
Jadi biarkan hujan menabur
benih ceritanya sendiri. Aku tak mau jadi hanyut
Karena mencarimu di antara awan belukar
Saat jarak hanya berkata mata,
Tiada yang mengerti apa itu kelabu.
Bogor, 15 November 2009
Rating
Comments: 5
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
kelabu yang manis.
berlembar-lembar sunyi hangus terbakar
metafora yang aduhai, manteb nech !
Wuih.. indah dah.. :D Sip dek!
kelabu...sedih yg menggelayuti langit hati dan menitikkan hujan di pelupuk mata dan membasuh wajah rona kelabu..:)
keep writing
kawakan dalam menulis, kembali mampir lewat