Nelayan legam pernah berkata,
Bahkan rawi garang urung bangga
Tertunduk bersahaja
Di bawah pekat malam pun, wanita lacur itu tersipu
Bersemuka dengan rembulan dan bumantara
Mereka tak suah menepuk dada
Maka,
Wahai engkau yang melatai bumi
Tak pantas seonggok tembikar meranggi nyawa pada Raja
Berlari pergi dari cahaya datang benerang
Lalu menari gila mengetanahkan, seakan lebih tinggi dari bintang
Dengarlah makhluk durjana
Jemawa adalah selendang Raja
Dan kemuliaan jadi pakaian-Nya
Jikalau tanganmu berani merenggut lepas
Persenggamaan bara, nyala serta siksa,
Jadi akhir ceritera nyata tembikar pongah
Baka dalam kenestapaan
Pontianak, 29 Desember 2009
Rating
Comments: 3
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
kayak bukan puisi..
Waow.. Keren!
aku suka pemilihan kata-kata dan rasa yang kuat di puisimu..