Read more (1712 words)
Pada suatu malam di musim panas, aku terbangun dari tidurku dengan perasaan tidak biasa. Hari ini adalah tanggal 20, dan artinya, liburan musim panas sudah dimulai. Itu berarti pula, Kouji akan datang menonton street performance-ku seperti yang pernah ia janjikan tempo hari! Aku sudah menanti-nantikan hari ini, dan bahkan aku memberikan tanda khusus di kalender yang tergantung di lantai satu. Dengan gembira, aku berjalan ke depan stasiun tempat aku biasa bermain sembari menenteng kotak gitarku (yang entah kenapa jadi terasa ringan). Namun, ketika aku menjejakkan kakiku di sana....
“Thank you , Kamakura! Terima kasih telah mendukungku! Aku Dynamite Yamazaki, dan tolong dengarkan dua laguku ini! Nama lagunya adalah ‘Ore no Namae wa Global Standard—Namaku Global Standard’ . 1, 2, 3, 4...!”
Seorang lelaki yang menamakan dirinya Dynamite Yamazaki (atau apa pun itu, aku tak peduli) sudah berada di sana terlebih dahulu. Ia mengenakan topi pet, kaos hitam bertuliskan Speedway di dadanya, dan—ini yang lebih buruk lagi—di tangannya terdapat gitar listrik bising yang membuat telingaku merana. Lebih-lebih ketika ia mulai memainkan lagunya (Global Standard ? Kukira namanya Dynamite Yamazaki?), aku lebih baik disuruh mencuci piring di restoran milik Otousan selama seminggu penuh daripada harus mendengarkan lagu berantakan itu. Maksudku, selain lagunya yang memang amat sangat hancur, caranya menggunakan gitar listrik itu, loh... benar-benar payah dan tanpa selera sama sekali! Sayangnya, karena tempat yang dipakainya itu merupakan satu-satunya tempatku tampil, maka aku mau tak mau harus menunggu sampai si Dinamit resek ini selesai dengan penampilannya. Mana katanya dia punya dua lagu, lagi. Benar-benar menyebalkan, rasanya dia ingin kubunuh!
“Hei!”
Aku tengah duduk termangu (dengan hati yang kesal) sambil menyaksikan penampilan Dinamit itu ketika aku mendengar seseorang memanggilku. Kouji! Dia ternyata benar-benar datang seperti janjinya kemarin! Yah, setidaknya kedatangan Kouji dapat membuat hatiku sedikit terhibur. Meskipun begitu, tetap saja ada yang mengganjal. Bukankah dia datang untuk melihat street performance -ku?
“Ada apa?” tanya Kouji.
“Dia mengambil tempatku.”
Kouji menoleh sejenak untuk melihat yang kumaksud dengan dia (tentu saja, ‘dia’). “Kamu selalu tampil di sini?” ia kembali bertanya sebelum akhirnya mengambil tempat duduk di sampingku. Aku lantas menggeser tubuhku sedikit menjauhinya dengan dua alasan. Pertama, memberikan ruang lebih agar Kouji bisa duduk dengan lebih nyaman. Kedua, menurunkan rasa gugup yang tiba-tiba melandaku. Selama beberapa saat, kami berdua lalu memperhatikan penampilan Dynamite Yamazaki saat menyanyikan lagu Global Standard (yang rusak) itu.
“Dia benar-benar jelek,” kata Kouji tiba-tiba. Tuh, kan! Ternyata bukan aku saja yang berpikiran kalau lagu itu merupakan sebuah produk gagal. Bukankah akan lebih baik kalau aku yang tampil di sana saja seperti biasanya? Meskipun begitu, alih-alih membalas, aku tetap diam sambil terus memandang ke arah Dynamte Yamazaki. Aku terlalu malu untuk menjawab komentar Kouji atau bahkan menoleh ke arahnya!
Melihatku tidak mengucapkan apa pun, Kouji lantas kembali berbicara, “Kamu mau menunggu sampai dia selesai?”
“Mau bagaimana lagi?” jawabku. Sedikit demi sedikit, rasa kesalku mulai berubah menjadi rasa kecewa. Kalau begini caranya, Kouji tidak akan bisa melihat penampilanku, dan aku juga tidak bisa bernyanyi di depannya. “Meskipun aku sangat menanti-nantikan hari ini...,” aku kembali berbicara setelah menghembuskan nafas panjang.
Mendengar kekesalanku, Kouji lantas membisu. Ia tidak menjawab, tidak pula menanggapi. Namun, tak lama kemudian, ia mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku. “Tentang penampilanmu...,” ujarnya, “memangnya kamu tidak bisa tampil di tempat lain?”
“Eh?”
Kouji lalu berdiri dari tempat duduknya dan lalu menyuruhku untuk mengikutinya. Meskipun bertanya-tanya dalam hati, aku tetap mengambil kotak gitarku dan melakukan apa yang dia katakan. Ia ternyata menuntunku ke sebuah tempat parkir di mana ia memarkir skuternya. Setelah mengeluarkan skuter itu, Kouji kemudian menyodorkan sebuah helm kepadaku seraya berkata, “Nih.”
Dengan segera, aku mengambil helm dari tangan Kouji dan lalu memasangkannya di kepalaku. Apa ini berarti aku akan naik skuter berdua dengan Kouji? Wah, pasti menyenangkan! “Ini pertama kalinya aku naik motor,” ujarku sambil berusaha mengaitkan helm Kouji (omong-omong, apa dia selalu membawa dua helm, ya?). Selama ini, memang tak pernah ada yang memboncengiku. Otousan tidak punya motor, lebih-lebih Misaki. Dia bahkan tidak punya SIM untuk mengendarai motor. Namun, sekarang aku berkesempatan untuk naik motor, hanya berdua dengan cowok yang kusenangi!
“Benarkah?” tanya Kouji heran. Betul juga. Jarang sekali ada cewek seusiaku yang sampai sekarang belum pernah naik motor. Itulah sebabnya aku juga mengalami kesulitan saat mengaitkan helm Kouji; aku belum pernah mengenakan benda itu sebelumnya! Melihatku berkali-kali gagal untuk memasang hem dengan benar, Kouji lantas mengulurkan tangannya untuk membantuku mengaitkan helm. “Menggelikan,” ujarnya berkomentar. Bagi Kouji, perbuatannya mengaitkan helm itu mungkin sederhana, tapi tidak demikian bagiku. Jarak mukanya yang hanya beberapa senti dari mukaku lebih dari cukup untuk membuat jantungku berdetak dua kali lenih cepat. Aku terpana sejenak melihat muka Kouji yang begitu dekat, dan baru tersadar kembali saat Kouji menepuk kepalaku setelah berhasil memasang helm dengan sempurna. Aku terpekik kecil ketika Kouji melakukan hal itu. “Ayo pergi!” kata Kouji seraya menaiki skuternya.
Dengan perlahan, aku lantas menaiki boncengan motor Kouji. Aku memang harus sedikit berhai-hati, karena kalau tidak, kakiku akan menyenggol kotak gitarku yang terpasang di motor Kouji dan berakibat menjatuhkannya. “Kita mau ke mana?” tanyaku.
“Ke suatu tempat yang asyik. Ayo!” jawab Kouji. Ia menghidupkan mesin skuternya, dan tak lama kemudian, kami berdua sudah meluncur ke suatu tempat yang masih menjadi tanda tanya bagiku.
***
Setelah selama perjalanan aku merasakan angin berhembus menerpa wajahku (jadi ini rasanya naik motor?) plus debaran jantung yang tak karuan, akhirnya motor Kouji berhenti juga. Ini...kota? Aku melihat sekeliling ke tempat yang baru ini, dan baru kusadari kalau ini adalah Yokohama. Itu berarti, untuk pertama kalinya, aku berada di luar Kamakura!
Dibandingkan dengan Kamakura, Yokohama terlihat sangat berbeda. Tempat ini jauh lebih ramai, lebih meriah, dan lebih benderang. Di sini, terdapat bianglala raksasa berhiaskan lampu warna-warni yang indah. Begitu pula gedung-gedung tinggi yang mengeluarkan cahaya dari jendela-jendela mereka. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan! Semua ini berkat Kouji. Karena dialah aku kini bisa melihat suatu tempat yang baru, tidak hanya di depan stasiun seperti biasanya. Kurasa aku juga harus berterima kasih kepada Dynamite Yamazaki itu. Kalau saja ia tidak mengambil tempatku sejak awal, Kouji tentu tidak akan membawaku ke Yokohama. “Hey,” seruku kepada Kouji yang tengah berdiri di samping motornya, “mumpung kita berada di kota, kenapa kita tidak berjalan-jalan saja?”
Kemudian, dimulailah “petualangan kecil malam hari” kami di Yokohama. Karena aku baru pertama kali ke sini, ada banyak sekali yang ingin kulakukan. Untungnya, Kouji dengan sabar mau menemaniku. Ia mengantarkanku menelusuri jalan-jalan Yokohama yang gemerlap dan dipenuhi berbagai macam toko yang menjual barang-barang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kouji juga membelikan bakpau panas untuk kami makan berdua, memanduku melihat-lihat kapal di pelabuhan, dan juga mengajakku untuk bermain air hockey . Aku sempat tertinggal satu angka dalam permainan itu, tapi kemudian, aku dapat menyamakan skor setelah Kouji gagal menahan mallet yang kupukul dengan pluck -nya. Rasanya memyenangkan sekali! Aku banyak memperoleh berbagai pengalaman baru malam ini, dan aku melakukannya bersama dengan seorang cowok yang kusukai! Kurasa, kalau Kouji tak keberatan, aku akan menganggap ini sebagai kencan pertamaku.
Kami lantas kembali berjalan, dan ketika melewati sekelompok musisi jalanan yang tengah memainkan sebuah musik, aku jadi teringat street performance -ku. Bukankah Kouji mengajakku ke sini supaya aku bisa tampil? Kami berada di sini karena tempatku biasa bermain di depan stasiun sudah diambil, dan ia membawaku ke sini supaya bisa melihatku memainkan lagu buatanku, kan? Ah, bodohnya aku. Berada bersama cowok itu memang benar-benar menyenangkan sampai-sampai aku melupakan tujuan awalku kemari. Kalau saja aku tidak melihat para musisi jalanan itu, aku pastilah hanya akan membawa gitarku berkeliling Yokohama dan bukannya memainkannya!
Dengan setengah berlari, aku kemudian melangkahkan kakiku menuju sebuah plaza yang terletak tak jauh dari situ. Kuedarkan pandanganku untuk mencari tempat yang bisa kugunakan untuk melakukan street performance. Ketemu! Tempat di depan sebuah billboard berlukiskan bunga matahari sepertinya sempurna. Aku lantas berjalan ke sana, membuka kotak gitarku, dan lalu mulai mengambil nafas untuk bernyanyi.
♪ Chotto dake kangae sugichau mitai
Nemure nai heya no naka
Issomou yoru wo tobi dashite mitai
Madobe ni tameiki ga ochiru
Tsuki akari wo nukete tooku made
Habataite mitai no ni
Doushitara ii no darou?
I want to fly well
I want to fly well
Tobi kata wo shira nai dake...
I want to fly well, I want to fly well
Dareka oshiete kuretara
Ii no ni
Chansu wo machi kire nai
Onaji asa wo kurikaeshite
Ikutsu kazoeta darou
Egaite yuku skyline
Tobi kata wa shira nai yo
Toberu kamo wakara nai yo
I want to fly well, I want to fly well
Dakedo yuku yo
I want to fly well, I want to fly well
Tobi kata wo shiru tame ni wa...
I want to fly well, I want to fly well
Sora ni denakucha ike nai
To skyline
(Kurasa aku berpikir terlalu banyak
Di tengah-tengah kamar di mana aku tak dapat tidur
Aku hanya ingin kabur dari malam hari
Di samping jendela, keluhanku terjatuh
Aku ingin pergi ke suatu tempat yang jauh sekali
Hingga melintasi cahaya rembulan
Apa yang harus kulakukan?
Aku ingin terbang dengan baik, aku ingin terbang dengan baik
Hanya saja aku tidak bisa
Aku ingin terbang dengan baik, aku ingin terbang dengan baik
Kalau saja ada seseorang yang mengajariku
Aku tidak akan menunggu kesempatan
Pagi yang sama yang terus terulang lagi dan lagi
Aku berpikir, sudah berapa banyak aku menghitungnya?
Sampai-sampai tergambar sebuah pencakar langit.
Aku ingin terbang dengan baik, aku ingin terbang dengan baik
Aku tidak tahu bagaimana caranya terbang
Aku bahkan tidak tahu kalau-kalau aku bisa terbang
Aku ingin terbang dengan baik, aku ingin terbang dengan baik
Tetapi, aku akan tetap melakukannya.
Aku ingin terbang dengan baik, aku ingin terbang dengan baik
Supaya aku dapat terbang,
Aku ingin terbang dengan baik
Kau harus pergi ke langit, ke pencakar langit.) ♪
Begitu aku selesai dengan lagu pertamaku, aku langsung mendengar suara tepuk tangan dan sorak sorai puluhan orang yang kini tengah mengerumuni kami. Ini...luar biasa! Penampilanku belum pernah disaksikan orang hingga sebanyak ini sebelumnya! Jika aku tampil di depan stasiun, yang menontonku paling hanyalah Misaki atau satu dua orang lainnya, tapi di sini? Aku serasa menjadi musisi jalanan profesional!
Bersambung ke Taiyou no Uta~Sebuah Lagu untuk Matahari: Bab 4 (Bag 2)....
Ada satu hal yang kulakukan setelah membaca ini. Mengubah nama Kouji menjadi nama Bowo dan nama-nama lain yang tidak Jepang. Kau tahu apa yang terjadi? Entah kenapa, meski begitu, feel-nya masih di Jepang. Oh demi Tuhan.
Artinya apa? Batinku pada diri sendiri.
Hm, lalu kupikir sebentar. Yah. Narasinya. Narasi yang dengan kalimat bertempo pelan dan sederhana dan seolah terbata-bata. Membuatku selalu membayangkan wajah seorang gadis Jepang berkarakter lemah lembut dengan pipinya yang bersemu merah.
Omong-omong, omong-omong, aku tunggu novelmu dengan ide aslimu terbit, ya. Kalau adaptasi begini, aku jadi tidak tahu selera menulismu seperti apa. Maksudku, tema seperti apa yang kau sukai untuk kau tulis dan bagaimana gaya menulismu terlepas dari pengaruh-pengaruh Jepang (karena kuanggap tema yang kauangkat untuk novel debutmu bukan bertema Pop Jepang). Serius, ditunggu novelnya! :)
kan? kan? sister arrow juga suka ..XDDD *disambit kasih nama seenaknya*
BTW, aku baru nyadar ini fanfic ya? Fanfic dari cerita apa?
Iya, iyaaaa, sukaaa!
Juno emang berbakat nulis cerita, Sis, kulihat :)
Dari ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Taiyou_no_uta
Thamks buat komentarnya, sangat membantu sekali dan berguna sekali. Oke, aku udah masukin ke penerbit dan sekarang tinggal tunggu keputusannya. Doakan saja, ya!
Kya, suka cara bertuturnya. Nuansa jepangnya juga dapet dan kalimat serta dialognya hidup. Berasa kayak nonton dorama jepang. Lanjut bab 2 dulu...