Teringat pada cerita bunda semasa kecil, di depan rumah, pada suatu purnama, bulan ditunggui seorang bidadari yang sedang duduk dan menggendong kucingnya. Coyopun disuruh memandangi purnama itu berlama-lama. Sepenuh hati, Coyopun mempercainya kemudian, Karena memang bayangan sebentuk itu yang ada disana.
Sekarang, Coyo ingin menemui bidadari itu. Melalui dimensi alam mimpi.
Read more (720 words)
Siti tak mengatakan apapun, ketika Coyo memberitahu. Siti mengira Coyo main-main saja, karena mengira Coyo pasti sudah tau, bulan tak memiliki bidadari. Sama dengan pendapat Najwa.
"Aku yakin, kamu sudah tau, tak ada bidadari di bulan. Kamu hanya ingin memancing kecemburuanku, selanjutnya kebencianku, lalu kemarahanku, dan semua itu untuk mempermudah jalanmu memenjarakan mas Sukaji, karena melakukan tabrak lari."
"Aku bisa saja memenjarakan beliau, meski tanpa kemarahanmu, bu Najwa," tukas Coyo.
"Tentu, tentu, Coyo. Namun tanpa simpati dari semua teman-temanmu, dan kamu tak suka itu," tetap dengan senyuman Najwa bertutur kata.
"Aku akan menemui bupati," ucap Coyo dongkol.
"Temui beliau."
"Ya!"
"Tapi kamu jangan marah ke beliau, ya."
"Aku cuma sopir, bu Najwa. Mana mungkin aku berani marah kepada bupati?!"
"Mas Sukaji datang sendiri menemui beliau. Aku yang menyuruhnya, kok."
Tujuannya, ternyata, memintakan ijin Coyo untuk tidak masuk kerja.
"Artinya, kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Coyo," tutur beliau di ruang kerjanya. Beberapa saat lagi jam kerja habis. "Oke?!" sambungnya.
"Aku ingin menemui bidadari yang berada di bulan, bu," ujar Coyo, entah kenapa tak takut lagi dia menatap bupati.
Bupati hanya tersenyum kecil. "Tadi bu Najwa mengirim sms seperti itu," tuturnya. Lalu beliau bangkit dari tempat duduknya, mendekati Coyo sambil memberikan tas besar, "Tolong bawakan tasku, dan sertai aku berjalan pulang ke rumah dinas."
Coyo menuruti keinginan beliau. Malahan disuruh berjalan di sebelah kanan beliau. Beberapa pegawai yang berpapasan mengangguk hormat. Meski ada beberapa dari petinggi kabupaten yang menganggap Coyo tidak ada.
Biasa. Bupatipun juga manusia biasa. Terutama setelah beliau berganti pakaian. "Selama di rumah-sakit, aku meminta data-datamu. Usia kita tak berbeda jauh, tu!? Malahan aku lebih muda setahun. Bagaimana itu? Padahal orang-tuamu... menengah ke atas, kan? Boleh kan, aku tau?"
"Selepas SMP, saya tak mau sekolah. Dua tahun. Setamat SMA, lagi-lagi tak mau sekolah. Dua tahun lagi. Demikian pula di sekolah dasar. Saya bersedia masuk sekolah pada usia delapan tahun, bu."
"Tidak apa-apa juga. Yang penting, selesaikan secepatnya kuliahmu."
Coyo tersenyum kecil. "Saya lebih suka menemui bidadari itu, bu," ucapnya ringan.
"Siapa sih yang sebenarnya kau maksud dengan bidadari?" bupati mulai gusar.
"Saya akan menjawab di luar jam kerja dan di luar lingkup kabupaten ini. Maaf, saya permisi, bu," ucap Coyo, dan langsung bangkit dari tempat duduknya. Tanpa menoleh, dia segera mengambil sepedamotor di tempat parkir. Disinilah Coyo menerima sms dari bupati yang meminta, malam nanti pukul tujuh, tepat, jemput aku di jembatan hijau. Menggunakan sepedamotor. Sekalian minta bawakan helm.
Malam nanti malam minggu. Malam minggu. Tidak takutkah beliau. Sedemikian percayakah.
Jembatan hijau terletak di tengah kawasan persawahan, lereng, dan jurang. Tak jauh dari rumah pribadi orang nomor satu itu. Sebuah tempat yang jarang dikunjungi orang di malam hari. Melewatinyapun hampir tak ada yang berani. Konon, jembatan hijau akan berobah menjadi dua pada malam hari. Satu ke arah jalan seperti biasanya, satu lagi menuju ke jurang.
Purnama semakin tinggi. Angin berhembus pelan. Senyap. Dingin.
Beberapa saat, orang nomor satu itu memandangi jalanan yang membelok turun setelah jembatan hijau, membelok lagi disana, menyerupai huruf S. Disinilah korban berjatuhan. Ke jurang.
Beliau tersenyum, manakala mendengar sepedamotor berhenti. Pasti Coyo.
"Selamat malam, bu Prabandari," ujar Coyo tanpa turun dari sepedamotor. Sekarang Coyo tak mau lagi memanggil beliau dengan sebutan bupati.
"Selamat malam," jawab Prabandari. "Turunlah, lihatlah purnama itu. Masih ingin bertemu dengan bidadari?"
"Ya. Sekarang aku sudah bertemu dengannya, dengan bidadari," Coyo cengar-cengir.
"Maksud kamu... aku?"
"Siapa lagi."
"Aku bukan bidadari, Coyo. Juga tak suka jadi bidadari dan tak suka bidadari," ujar Prabandari sambil mendongak memandang purnama.
"Tapi nama lengkap anda Prabandari Hapsar, kan?" tukas Coyo. "Suka atau tidak, prabandari diartikan sebagai bidadari supraba isteri Arjuna dalam pewayangan. Lalu hapsari jelas sama dengan bidadari."
Prabandari terbungkam. Dia merasa kalah. Gemas dan geregetan serta hari-harinya yang semakin mengering, membawanya lupa sebagai kepala daerah. Dia mencubit paha Coyo dengan sangat keras. Memang Coyo tak mengaduh, meski sakit bukan kepalang.
Banyak sekali maunya. Prabandaripun memintanya dibonceng melewati tikungan jembatan hijau yang licin dan telah banyak memakan korban. Dia tak takut mati. Kematian sama saja dengan kehidupan. Hanya sebuah perjalanan. Dia ingin agar perjalanannya indah senantiasa. Dia juga ingin, Coyo memasang lensa pada bagian depan sepedamotornya untuk mengabadikan lintasan yang segera akan dilewatinya.
Prabandaripun kini berada di boncengan Coyo. Helmpun dikenakan. Mesin sepeda motor mulai menyala. Meraung, lalu melesatlah sepedamotor itu, dalam dekapan erat Prabandari ke pinggang Coyo.
hmmm ...
bagus ceritanya ...
Dari yg kecil saja, meski bukan yg paling kecil, aku ingin memberitau seorang bupati, selanjutnya, betapa banyak penyimpangan trjadi. Akan kuberitau dia, tanpa menyakitinya. Trims atas sanjunganmu. Salam.
ah...lupa pointnya.. maaf.. Iyah, habis baca lagi, ternyata memang cerita bersambung. pantesan saya bingung.
Makasih.
Salam sayang untuk semua siswa-siswimu. Katakan kepada mereka, bu Yoshi hanya memiliki kesederhanaan, ketulusan, dan seadanya. Makasih.
Agak bingung sama plotnya, agak terganggu dengan tipos dan eyd-nya, tapi entah kenapa suka dengan cara berceritanya.
Sbnrnya mang cerita bersambung, dg posting pertama "KUTANAM BUNGA DENGAN PEMBANTUKU".
Untuk yg Persimpangan Abadi, ini puisi. Mengenai eyd, prabandari ada dua. Yg hrf besar, Prabandari, ini nama orang. Lainnya, adalah kata. Hal lain tlog dsbtk scr rinci. Tlg. Tapi kalo yg u maksud es-em-pe dan es-em-a, maka dah kurevisi jd SMP dan SMA. Makasih. Salam.