Sand and Ocean <Pagi yang Menarik> Bagian 6

Sinar matahari pagi menyengat wajah cantiknya di pembaringan.

Matanya memilih dengan berat untuk membuka, kepalanya masih agak sakit entah karena apa, mimpi buruk yang dialaminya benar-benar seperti nyata, ia berada di sebuah pulau yang aneh dan bertemu dengan seorang pemuda tampan namun kemudian berakhir mengerikan dengan bertemu dengan seorang anak yang kerasukan. Beranjak dengan enggan dari tidurnya, mengangkat kedua tangannya dan meregangkan tubuhnya yang lemas. Ia masih tidak percaya dengan mimpi buruk yang didapatkannya.

Setelah lebih dari separuh nyawa berhasil kembali ia kumpulkan, matanya yang mulai melihat dengan jelas serta berpikir jernih, tidak mengenal kondisi tempat ia bangun dari tidurnya. Bukan kamar asrama sekolah perawatnya, apalagi kamarnya sendiri di rumah orang tuanya. Yang dihadapannya adalah sebuah kamar, atau lebih tepatnya rumah tak berkamar yang dibangun dari kayu-kayu gelondong kasar. Dahinya mengerenyit heran dan kembali bertanya-tanya, ia melihat ke belakang ke arah cahaya matahari masuk ke dalam kamar, menyilaukan namun masih nampak terlihat apa yang di luar jendela, langit biru dan hamparan pasir putih yang luas yang bertemu dengan pantai yang juga biru menghempas-hempas dengan lembut tepian pantai tersebut, terdengar juga suara angin dan debur ombak yang bergulung-gulung kecil.

“Apakah ia benar-benar berada di pulau aneh tersebut?” Tanyanya dalam kepala.

“Tok...tok..tok” Suara ketukan dari pintu rumah mengalihkan pikirannya, enggan ia sebenarnya untuk beranjak dari tempat tidurnya, namun ketukan pintu itu tak berhenti dan terus mengusiknya, ia pun bergerak menuju ke arah pintu rumah tersebut.

Begitu membuka pintu dan melihat siapa yang dari tadi mengetuk pintu dan menggangunya, Marina tercekat, hampir menjerit, lalu kembali menutup pintu dengan keras.

Jantungnya berdegup amat kencang, nafasnya berantakan, ia terengah-engah karena ketakutan. Anak kecil yang di dalam mimpi tadi ada di hadapannya. Meski tidak seseram yang ia mimpikan, tetap saja melihatnya kembali bukanlah yang Marina inginkan.

“Jadi yang terjadi tadi malam bukan lah mimpi!” pekiknya dalam hati.

“Kak Marina, saya membawa sarapan, saya memohon maaf, atas apa yang terjadi tadi malam” Suara anak kecil di balik pintu itu terdengar wajar dan tulus, bukan suara erangan yang Marina dengar tadi malam.

“Tidak!..Pergi!...” Balas Marina masih dengan nada ketakutan, ia tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

“Baik Kak...saya taruh sarapannya di depan pintu kalau begitu, Badai mohon maaf sekali lagi, Badai pamit”

“Pergi saja..!” Pekik Marina sekali lagi.

Suara kaki melangkah menjauh terdengar di deritan lantai kayu dari teras rumah, di balik pintu dimana Marina masih terduduk takut, ragu, apakah anak tersebut benar-benar pergi. Ia tidak mau begitu ia membuka pintu, anak itu menyerang seperti apa yang dilakukannya tadi malam, Marina memilih untuk mengintip dulu dari sela-sela pintu yang terbuat dari susunan batang kayu yang tidak terlalu rapat itu.

Nampaknya anak itu benar-benar tidak ada lagi.

Dalam ketakutan tersebut, sempat-sempatnya perut Marina bernyanyi keroncongan, Mengelus-elus perutnya sendiri, Marina menyadari, sejak dari seberang pulau ia memang belum mengisi lauk ke dalam perutnya.

Bimbang anak itu akan kembali lagi dan menyergapnya ia pun mengintip sekali lagi dari sela-sela pintu. Setelah mengira aman, Marina pun pelan-pelan membuka pintu rumah itu kembali, menengok kanan kiri siapa tahu kiranya anak itu bersembunyi di dinding sebelah pintu menunggu untuk mengejutkannya.

Ternyata tidak, tidak ada siapa pun lagi, Marina menghela nafasnya dengan lega. Secepatnya ia meraih Pincuk yang penuh dengan nasi dan lauk pauk yang diletakkan anak itu di atas lantai, secepatnya pula menjejalkan bulir-bulir nasi ke dalam mulutnya,

“Hei, pelan-pelan non..” tegur suara seseorang yang berada di hadapannya.

Sayangnya tidak ada seseorang pun yang dihadapannya, Marina menghentikan kunyahan, memasang telinga lebih seksama, ia yakin mendengar seseorang sedang berbicara dengannya, dekat.
Ia menengok kanan kiri, tidak ada siapa-siapa, ia mulai kembali mengira-ngira yang tidak-tidak.

“Kau seharusnya tidak boleh melakukan hal itu, ia sudah jauh-jauh membawa sarapan khusus untuk mu, namun kau hela begitu saja dia dan tidak memberinya kesempatan untuk meminta maaf”

Marina seperti kehilangan akal dan kehilangan tenaga mendengar suara tak berujud barusan. Pincuk penuh lauk ditangan Marina terlepas begitu saja, nasi dan lauk di dalam mulutnya terhambur keluar ke arah siapa pun yang dihadapannya sekarang, yang baru saja berbicara dengannya dan sekarang memaki-maki karena kena semprotan nasi dari mulut Marina.

Siapa pun yang berbicara dan di hadapan Marina sekarang, sayangnya wujudnya sama sekali tidak ada, tidak kelihatan, tidak nampak sedikit rupa pun untuk disaksikan. Reaksi apalagi yang diharapkan dari Marina selain segera kembali memasang wajah ketakutan, seketika menjerit dan berteriak lalu mencoba menghambur berlari secepatnya.

“Bruk!”

Sebelum sempat kemana-kemana, ia justru menabrak wujud yang tidak kelihatan tersebut, mementalkannya hingga terjengkang ke lantai, Wujud yang tidak kelihatan itu pun kembali memaki-maki setelah ditabrak Marina tadi.

Belum selesai sosok itu memaki-maki, Marina kembali bangkit dan melompat, mencoba lagi menghambur berlari dengan mulai berteriak sekuat-kuatnya karena ketakutan.

Marina terus berlari, menjauh dari rumah aneh di pulau yang aneh ini sambil terus memejamkan mata, tidak berani untuk membuka.

“Brukk!!” Akibatnya, Marina sekali lagi menabrak hingga terpental kembali. Tetap tidak berani membuka mata, tetapi kali ini Marina sudah terlalu lemas karena ketakutan untuk bangkit lagi.

“Rine? Ada apa ini?!”

Suara yang dikenal Marina, membuat ia membuka matanya sedikit untuk memastikan. Ternyata benar, yang ditabraknya kali ini di balik teriknya cahaya matahari, berwujud yang ia kenal, yakni Sam, pemuda yang anehnya tidak dianggapnya menjadi bagian dari keanehan pulau ini.

Marina pun langsung menghambur dan memeluk Sam yang kebingungan. Pemuda itu merasa canggung karena tiba-tiba dipeluk oleh seorang perempuan.

“Rine, Apa yang terjadi? Tenang kan diri mu…” Ujar Sam sambil berusaha melepaskan pelukan Marina.

Tapi perempuan yang ketakutan itu tidak mau melepaskan pelukannya, semakin Sam berusaha melepaskannya, semakin kuat Marina memeluk, hingga hampir membuat Sam tak bernafas.

“Ada limun! Hantu!! Di rumah itu Sam..aku takut!!” Marina menjelaskan dengan berteriak dan merengek seperti anak kecil.

“Hantu? Oh…” Sam mulai mengerti apa yang dimaksudkan oleh Marina tersebut.

Tiba-tiba suara tertawa mengerikan muncul di antara mereka, membuat Marina berteriak histeris sejadi-jadinya dan mengencangkan pelukannya sehingga Membuat Sam benar-benar kehabisan nafas.

“Yo! Hentikan! Itu tidak lucu sama sekali!” Hardik Sam kepada entah siapa, tidak ada selain mereka berdua yang ada di sana.
“Rine..jangan takut, biar aku perkenalkan...” Belum Samudera menyelesaikan kalimatnya, ia melihat Marina telah tidak sadarkan diri lagi.

“Sekarang lihat apa yang telah kau lakukan Yo” Tegur Sam kepada entah siapa tersebut.

“Apa? Aku tidak melakukan apa pun” Elak si pemilik suara tertawa mengerikan tadi yang sekarang suaranya hanya terdengar seperti suara anak laki-laki biasa.

Sam hanya menggeleng-geleng kan kepala tidak habis pikir dibuatnya.

Sam mengangkat tubuh lemah Marina dan membawanya kembali ke dalam rumah.

Read previous post:  
0
points
(983 words) posted by Redo Rizaldi 9 years 28 weeks ago
Tags: Cerita | non fiksi | badai | Buana | Cinta | Lautan | Samudera
Read next post:  
Writer Corey Taylor
Corey Taylor at Sand and Ocean Bagian 6 (9 years 27 weeks ago)
70

numpang nambah point ya hehehee

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at Sand and Ocean Bagian 6 (9 years 27 weeks ago)

silah kan ha ha