"Tuhan, aku kangen!"

Aku menatap keluar jendela kantorku dengan resah. Langit diselaputi awan gelap. Sepertinya hujan akan turun deras sore ini. Aku mengarahkan mataku ke langit dan mengira-ngira keberadaan Tuhan. Lebih tepatnya lagi mencoba cari tahu apa yang sedang dikerjakan Tuhan di jam-jam seperti sekarang ini.

Aku melirik jam dinding di tembok kantorku. Jam 12.40 WIB. Aku mengalihkan perhatianku kepada kertas-kertas yang berserakan di mejaku dan komputer yang masih menyala. Kepalaku penuh, tidak bisa diisi oleh apapun! Kepalaku seperti gudang yang penuh dengan barang dan aku berusaha terus menjejalinya dengan barang baru. Hh! Aku letih. Sudah dua hari ini aku berusaha menata ulang gudang ingatan di kepalaku. Aku membongkar semua file-file yang ku simpan rapi di kepalaku, dari bulan Januari hingga bulan Oktober tahun 2005.

Aku mulai mengingat-ingat kebaikan Tuhan dan sesamaku yang aku terima tahun ini. Semua ingatan tentang kebaikan itu aku letakkan di satu file. Ingatan tentang kekuatan dan pertolongan dari Tuhan aku taruh di satu file bertanda khusus. Aku pikir sewaktu-waktu aku pasti membutuhkannya. Jadi harus diberi tanda khusus supaya tidak bercampur dengan file lainnya. Kemudian aku mengurutkan semua kejadian, entah itu kejadian baik atau buruk. Untuk peristiwa-peristiwa yang menguatkan iman aku pisahkan dengan peristiwa yang melemahkan iman. Tetapi aku tidak mau membuang semua file tentang peristiwa "terburuk" di hidupku sepanjang tahun ini. Baik atau tidak kenangan itu tetap pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Lalu, aku mulai mencoba menemukan kebaikan Tuhan saat aku mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Sepanjang tahun ini ada dua peristiwa yang tidak menyenangkan di dalam hidupku, tetapi justru aku melihat Tangan Tuhan banyak bekerja di sana. Aku merasakan tanganNya menata hari-hariku. Ia merenovasi pikiranku dan hatiku. Belum sempurna memang. Masih setengah jadi! Tetapi aku tidak pernah melihat Tuhan putus asa. Itu yang membuat aku merasa perlu bersyukur sekalipun hari-hariku terasa berat.

Dua peristiwa terberat di hidupku itu terjadi ketika aku kehilangan adikku 11 Maret dan saat aku berada di Jakarta bulan Mei lalu. Ketika adikku masuk UGD karena sesak nafas hingga ketika ia divonis dokter menderita Leukemia akut Liphoblastik, aku meletakkan semua pengharapan dan imanku kepada Tuhan. Setiap kali orang bertanya bagaimana keadaannya aku pasti menjawab dengan optimis, "Dia baik-baik saja!"

Bahkan ketika kakak tertuaku memintaku untuk mengundang Ko Philip ke rumah sakit, supaya ia didoakan secara khusus pada FKA-3 hari kedua (9 Maret 2005), aku bersikukuh menolaknya. Jadi, bisa dipastikan 'akulah' orang yang paling terpukul atas kematiannya. Apalagi kematiannya terjadi satu hari setelah FKA-3 usai. Sejak saat itu semua temperamen burukku seperti kembali dan menguasai hatiku. Aku marah kepada Tuhan.

Sulit bagiku untuk mengucap syukur dan berpikir bahwa di balik penderitaan itu Tuhan hendak mengajariku sebuah pelajaran tentang hidup. Aku merasa tuli karena aku tidak bisa mendengar suara Tuhan. Aku cuma bisa mendengar suara sesamaku yang melemahkanku. Aku merasa buta karena aku tidak bisa melihat kebaikan Tuhan di peristiwa tersebut. Aku merasa bisu karena aku malas berkata-kata yang baik tentang Tuhan.

Puncaknya ketika aku berada di Jakarta satu bulan. Aku berusaha melupakan kejadian pahit itu dan berusaha mencari Tuhan. Tetapi kekuatanku kecil. Aku cuma bisa duduk bersimpuh di lantai sambil menangis. Aku kehabisan kata-kata. Apa yang mau ku ucapkan? Sebuah doa atau sederet keluhan? Sebuah pujian atau makian yang keluar dari rasa tidak puas? Sebaris kalimat indah yang bernada pengagungan kepada Tuhan atau sepotong kalimat yang dilontarkan dengan penuh kemarahan? Aku tidak tahu! Aku takut Tuhan marah karena aku marah kepadaNya, jadi aku cuma menangis.

Yang paling parah adalah ketika aku diberitahu bahwa seorang anak kecil berusia 14 tahun, di kamar ICU, memegang erat-erat buku "Before 30". Ia ingin berjumpa Ko Philip dan ingin didoakan olehnya. Dan keinginannya itu dikabulkan! Ko Philip datang ke rumah sakit dan mendoakannya. Keesokan harinya semua selang di tubuhnya dilepas dan dokter yang merawatnya menyatakan bahwa kondisinya jauh lebih baik. Ketika aku membaca sms itu aku sedang berada dalam perjalanan pulang dari Mal Taman Anggrek.

Hujan deras semakin menambah suasana kelabu di hatiku. Aku menangis di taksi. Sesampainya di tempat menginap aku sesenggukan di sofa. Semalaman aku berteriak kepada Tuhan, melampiaskan semua kemarahanku kepadaNya dan berharap Ia tidak mendengar. Jujur, aku takut Tuhan sakit hati. Pikiran manusiaku yang terbatas masih menganggap Tuhan seperti sebuah Pribadi yang sama seperti manusia kebanyakan. Aku tertidur karena kelelahan yang amat sangat.

Paginya aku bangun dan membuka pintu geser di apartemen yang kutinggali. Aku mencari wajah Tuhan di langit Jakarta sambil berharap ia berbicara. Sayangnya aku tidak mendengar apapun, kecuali suara kereta api lewat dan hiruk pikuk arus lalu lintas Jakarta di pagi hari. Aku merasa bersalah dan bodoh sekali tidak mengundang Ko Philip ke rumah sakit waktu itu. Aku terus mengeluh dan menghindari Tuhan.

Sampai aku kembali ke Surabaya dan tenggelam dalam berbagai pekerjaan, aku lupa kalau rasa marah dan kecewaku kepada sesamaku kulimpahkan kepada Tuhan. Aku tetap pelayanan dan bekerja seperti biasa. Tidak ada yang berubah di dalam hidupku. Aku tetap berdoa dan melakukan kegiatan rohani lainnya. Kesibukan membuat aku tidak menyadari kalau Iblis bukan cuma mengetuk pintu hatiku, tetapi sudah memasukinya.

Kesadaran yang terlambat! Aku terjebak di dalam perangkapnya! Aku berusaha sekuat tenaga untuk keluar, tetapi sulit untuk keluar dari sana. Sampai akhirnya aku benar-benar pasrah kepada Tuhan dan menanggalkan kekuatanku sendiri. Aku menyerahkan hidupku kepada Tuhan dan membiarkanNya menata ulang paradigmaku. Hari-hariku setelah itu tidak berubah. Aku tetap berhadapan dengan orang-orang yang membuatku lelah. Aku masih harus mengendalikan kemarahanku dan membiarkan orang lain menilai aku dari kacamata mereka, yang menurut mereka benar. Aku harus tetap menjaga hatiku supaya aku layak dan berkenan sekalipun sesamaku melukai perasaanku.

Sekalipun kadangkala aku dibuat babak belur oleh Iblis, aku tetap berusaha kembali ke medan peperangan dan mengangkat senjata melawan kekuatannya. Aku berharap ketika aku membiarkan Roh kudus menjaga pintu hatiku, Iblis tidak akan pernah memasuki ruang hatiku lagi. Aku ingin datang kepada Tuhan seperti dulu lagi. Datang bukan dengan beban di pundak atau karena dipaksa, tetapi datang karena mencintaiNya. Aku ingin bercerita kepadaNya segala hal yang terjadi hari ini. Aku ingin ia tahu kalau aku mencintaiNya.

Sore itu, aku menatap langit yang gelap dengan galau. Aku tidak tahu dengan pasti di mana Tuhan berada dan apa yang sedang Ia kerjakan sore itu. Aku cuma mengira-ngira bahwa Ia sedang memikirkanku. Perasaan bahwa Ia memperhatikan aku membuat aku melambung ke udara. Tanpa aku sadari aku menitikkan air mata. Dengan haru aku menatap langit dan berkata, "Tuhan, aku kangen." Ya, aku kangen!

Ditulis waktu hujan gerimis di sore hari
Senin, 24 Oktober 2005

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Orionight
Orionight at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 27 weeks ago)

isi yang bagus, aku suka kata-katanya tapi menurutku terlalu banyak kalimat yang dimulai dengan kata 'Aku'.

Oke, ini memang sudut pandang satu yang otomatis dominan dengan kata 'aku' tapi menurutku itu bisa di improvisasi lagi.

Writer gugahgelana
gugahgelana at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)
100

Weleh2, yah terserah orang dong mau tulis apa, peace ^^, hehe

Writer thequeenofwords
thequeenofwords at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)

BETUL!! Aku SETUJU dengan kamu!! Ayo, kita BERTEPUK-TANGAN!! Yah, hitung-hitung memberi applaus dan pujian kepada diri sendiri...hehehehe....Aku suka orang yang punya PEMIKIRAN SEDERHANA seperti kamu. :) TULIS apa yang mau KAMU TULIS. Dengarkan kisah-kisah hidup yang dari orang-orang YANG TERPINGGIRKAN, terbuang, identitasnya DISEMBUNYIKAN....apa adanya. Seperti YANG KAMU MAU. Itu namanya TULISAN yang JUJUR kepada pembacanya. Aku MENGABAIKAN hal-hal tak penting (tanda baca, tata bahasa, salah ketik, dll) demi mengetahui ISI KEPALAMU. Ayo, sana nulis lagi! Aku ingin baca tulisanmu. :)

Writer kets_kitamura
kets_kitamura at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)
60

aku menyukai metaforamu, tentang gudang ingatan..
dinamika narasi psikologis si narator juga bagus, hanya alasan konflik (tegangan)antara si narator dan Tuhan, bagiku kurang kuat.. kau tampak lebih mengeksplor hubungan antara si narator dengan Tuhan.. ibarat tangga, kau membikin tangga kedua dengan baik tapi sedikit melupakan tangga pertama..
namun, terlepas dari itu aku menyukainya.. Yoss!!
mungkin kau pernah baca silence-nya susaku Endo atau the end of affair-nya graham Green. kupikir bisa sedikit memberi perbandingan, karena temanya sedikit bersinggungan dengan ceritamu..

Writer thequeenofwords
thequeenofwords at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)

PENULIS itu kalau bikin komen hebat-hebat yah...sampe' aku nggak ngerti maksudnya! :) ASLI, ini curhat doang. Kalau kamu BENAR-BENAR mau baca TULISANKU (artikelku), kamu pasti BERTERIAK lagi: "Serius amat sih?!" hehehehe...Aku TIDAK PERNAH MENULIS CERPEN lagi. Alasan pertama, MALAS berandai-andai. Alasan kedua, aku TIDAK DIBAYAR untuk itu. :) Hehehe...SIAPA ITU susaku ENDO dan GRAHAM GREEN? AKU TAK PERNAH BACA tulisan mereka. :) Aku suka baca novel yang kisahnya mengalir, konfliknya ada tetapi TIDAK DATAR dan pasti BUKAN PERCINTAAN, tetapi novel yang sarat pemikiran-pemikiran penulisnya. :) Tetapi itu pun JARANG kubaca. Aku dikejar oleh deadline pendek. Aku PENULIS BAYARAN. :) Tidak sempat baca-baca lagi sekarang. :(

Writer kets_kitamura
kets_kitamura at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 27 weeks ago)

humm.. repot kalo begitu , ya. komenku jd salah alamat, donk:) tp untung saja ada orang yg bilang: ketika sebuah teks telah dilepas ( dipublish) penulisnya, maka makna teks tersebut bukan lagi milik penulisnya, melainkan menjadi milik sepenuhnya si pembaca (maafkan teori lagi:>). jd kuanggap saja ceritamu di atas sbg cerpen, meski sprti katamu:ASLI, ini curhat doang.
btw, bila itu selera novelmu, maka silence 'n the end of affair masuk dalam kategorimu... salah alamat lagi g yah komenku? :)

Writer thequeenofwords
thequeenofwords at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 27 weeks ago)

Synopsis

The novel focuses on Maurice Bendrix, a rising writer during World War II in London, and Sarah Miles, the wife of an important civil servant. Bendrix is loosely based on Greene himself, and he reflects often on the act of writing a novel. Sarah is based loosely on Greene's mistress at the time, Catherine Walston, to whom the book is dedicated.

Bendrix and Sarah fall in love quickly, but he soon realizes that the affair will end as quickly as it began. The relationship suffers from his overt and admitted jealousy. He is frustrated by her refusal to divorce Henry, her amiable but boring husband. When a bomb blasts Bendrix's flat as he is with Sarah, he is nearly killed. After this, Sarah breaks off the affair with no apparent explanation.

Two years later, Bendrix is still wracked with jealousy when he sees Henry crossing the Common that separates their flats. Henry has finally started to suspect something, and Bendrix decides to go to a private detective to discover Sarah's new lover. Through her diary, he learns that, when she thought he was dead after the bombing, she made a promise to God not to see Bendrix again if God allowed him to live again. Greene describes Sarah's struggles with Catholicism. After her sudden death from pneumonia, several almost-miraculous events occur, advocating for some kind of meaningfulness to Sarah's faith. By the last page of the novel, Bendrix may have come to believe in a God as well, though not to love him.

The End of the Affair is the fourth and last of Greene's explicitly Catholic novels.

Kuambil dari WIKIPEDIA....hehehehe....Apa ini maksudmu?

Writer thequeenofwords
thequeenofwords at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 27 weeks ago)

Jujur yah (asli, nggak dibuat-buat! hehehehe....), aku tak punya selera baca seperti yang lainnya. Aku agak 'angin-anginan" alias moody banget! hehehehehe....Kalau pas ingin ke toko buku dan beli buku....yah, pergi aja. Bawa uang secukupnya supaya tidak terjebak keinginan untuk membeli semua buku yang di sana. hehehehe....Aku baca yang aku ingin baca. Tidak punya alasan khusus. :) Aku beli Nocturnes di bandara HK bukan karena tahu bukunya bagus. Tetapi karena pacarku orang Italy. hahaha...kalau kubaca juga dan ternyata memang bagus...itu kebetulan yang membahagiakan!! hahaha...Hari ini aku dapat kado novel dari seorang ibu yang baru datang dari Singapura. Ia membelikanku novel yang direferensi anaknya yang kuliah di sana. Judulnya "My sister keeper" karya Judi Picoult. Bagus atau tidak aku nggak tahu! Namanya juga diberi orang. hehehe...Kamu nggak salah alamat lha! 'Kan memang tertuju dan ditujukan ke aku,...dan sudah kuterima dengan baik. :)

Writer d757439
d757439 at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)
2550

Aku telah mengalami semua ini 3 tahun lalu...
Tapi namanya manusia pasti punya salah, tak ada yg sempurna
Ada beberapa salah ketik tuh di atas,bagian ....ku simpan rapi.....
...Aku simpan rapi... Atau kusimpan rapi
Atau aku yg salah menafsirkan, maaf

Writer thequeenofwords
thequeenofwords at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)

Memangnya ada KATA KERJA "KUSIMPAN"??? Yang benar menurut J.S Badudu adalah ku simpan, ku baca, ku terka, ku duga, dll. karena asal katanya adalah AKU simpan, AKU baca, AKU terka, AKU duga, dll. hehehehe...itu bahasa melayu yang dipakai sebagai bahasa Indonesia. Sama seperti TAK yang asal katanya TIDAK, TELAH yang disingkat jadi T'lah, SEBAB disingkat jadi S'bab. hehehehe...

Writer thequeenofwords
thequeenofwords at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)

SEHARUSNYA KAMU PROTES jika ada kata begini: DIMANA, DISANA, KEMANAPUN, dan sejenisnya. Karena yang BENAR adalah DI MANA, DI SANA, KEMANA PUN (karena PUN berarti JUGA atau JUA (dalam bahasa indonesia lama). Banyak juga yang RANCU dengan kata sambung "dan" (orang meletakkan "dan" setelah koma). TERLALU BANYAK KOMA pun seharusnya tidak dianjurkan, tetapi banyak YANG MELANGGAR. :) Kalau ada kalimat majemuk bertingkat, lebih baik kamu pakai: koma, titik koma, titik. ITU TATA BAHASA YANG BENAR. :)

Writer thequeenofwords
thequeenofwords at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)

ASLI! kalau aku baca karya tulis orang lain, AKU MENGABAIKAN TATA BAHASANYA karena tujuanku membaca adalah REFRESHING buat JIWAKU yang lelah. Aku menghabiskan ratusan jam untuk merangkai kata, berpikir mana yang perlu dipertahankan dan dibuang, menulis ulang kalimat yang kepanjangan, dll. Buku "GUNUNG JIWA" karya Gao itu versi Indonesianya AMPUN DEH, buruk banget bahasanya! Tiga temanku tidak menyukainya dengan alasan BERTELE-TELE (mungkin karena banyak kalimat majemuk bertingkat) dan membosankan. hehehehe...'Toh aku BELI JUGA! Karena aku ingin baca apa saja, kecuali KORAN dan MAJALAH populer. :)

Writer nansee.disini.
nansee.disini. at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)
60

Gud enough..jadi seolah berkaca..hehehe..

Writer makmun
makmun at "Tuhan, aku kangen!" (4 years 28 weeks ago)
100

Sebuah santapan rokhani sdrhana yg cerdas. Excellent.