Iring-iring malaikat berjubah cahaya
Menghantar cinta ke pembaringan terakhirnya
Disanding lara yang menuai duka
Dari jiwa-jiwa tertinggal di sekitarnya
Lirih aku menampik rasa
Tak ada sedikit pun perih, aku kata
Namun mata ini punya suara
Jauh di dalam ia hancur, katanya
Ku bangun benteng batu berliku
Agar bintang pun takkan tahu
Bahwa sakit itu tak juga menyemu
Malah semakin dalam ia menelanku
Tapi di depanmu hatiku tak membatu
Kamu luluhkan potongannya yang membeku
Satriaku penakluk malam yang setia menunggu
Sampai air di pelupuk mata kering bersama ragu
Rating
Comments: 5
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Kania..... bravo gw suka banget nih puisi..... ciri khas lo 4 kalimat tiap bait, makan tambah maknyoos aja...!!!
wah, mbak udah lama ngga muncul, muncul juga.. mampir juga ya mbak.. ^^
Penataan kata menjadi sebuah kalimat sdh cukup indah.. hanya kurang kejutan.. Terus menulis.. Mampir jg di lapakku..
hai, salam kenal..
aku ga terlalu tau soal puisi ya, tapi untuk pilihan kata pengganti pihak kedua biasanya menggunakan kata kau. tapi ga tau juga siy.hee....
wah wah wah....pasti ntuh satria-nya gak pake gitar yah....
he he he....