Tanpa Judul

Aku

Angin berlarian melintas melalui ventilasi ruang sempit nan gelap ini, mengelus – elus tubuhku yang membatu sejak aku kehilangan semangat hidupku. Dari jutaan kata yang mengambang dalam pemikiran ini tak ada satupun hal yang menuntunku menuju pintu keluar dari semua kebuntuan ini. Kucoba untuk menguasai diriku lagi namun sayang tubuh ini sepertinya sudah diambil alih oleh sebuah tenaga kasat mata yang sangat kuat. Keraguan mulai benar – benar melapisi seluruh tubuhku bagai lembaran – lembaran kain yang kupakai saat ini. Aku hanya ingin melempar semua beban yang hinggap di pundakku. Melayang tinggalkan semua kesakitan. Tiba - tiba sebuah bisikan yang datang entah dari mana menggelitik di telingaku. “Apa gunamu bagi dunia ini?”
Kucoba melihat laci – laci di ruang memoriku guna mencari sebuah bukti untuk menguatkan pleidoiku. Ku buka semua dokumentasi yang bisa aku temui, ku cermati semua yang mungkin bisa memenangkanku dalam perdebatan ini. Tapi apa yang kutemukan? Kau tahu? Nol besar!!! Tak ada satupun yang bisa menyelamatkanku dari kekalahan akan pertanyaan itu. Kudengar dia tertawa saat aku jawab pertanyaannya dengan bisu. Aku benci suara tawa itu. Sejujurnya aku ingin melawan ketidakberdayaan ini hanya saja aku tak kuasa untuk melawan perasaan ini.
Ku alirkan cairan dari gelas kaca berwarna hijau kedalam tenggorokanku melalui mulutku. Terasa hangat saat gerombolan liquid itu berlarian di tenggorokan menuju lambung. Mereka pun mulai mengangkat diriku ke udara. Gambar – gambar yang diterima oleh mataku mulai kabur. Ku biarkan saja diriku dibawa oleh mereka. Aku tak peduli akan dibawa kemana diriku ini. Bawalah aku sejauh yang kalian bisa. Aku pikir mereka tak begitu pintar dalam menyelesaikan masalahku. Mereka menjatuhkan aku tiba – tiba saat ku kira aku sudah dibawanya pergi. Semuanya terlihat kembali tajam lagi, cahaya redup yang berjalan melalui ventilasi kembali terlalu terang untuk aku hadapi, semuanya kembali terlihat menggugat lagi. Aku ingin pergi lebih jauh lagi.
Kupandang sekitar, bertanya dalam hati apakah masih ada hal yang mungkin bisa menyelamatkanku dari kegilaan dunia ini. Tertangkap oleh mataku sesosok jarum yang melambai menggoda iman. “Tidak” kubilang dalam hati. “Hentikan, aku ingin berhenti dan menghapus hitam dalam hidup ini, Aku bisa... Aku biasa... bisa... Aku tak bisa...”. Aku terbang kembali seketika usai dia menyalurkan sari – sarinya kedalam nadi ku. Kali ini dalam taraf terbang yang lebih tinggi. Ku melayang dengan nyaman dan tenang sekali. Bahkan terlalu tenang sampai – sampai semua hal terlihat begitu terang dan mempesona. Baiklah, akhirnya aku sampai pada sebuah kesimpulan...

Dia

Kamar itu gelap karena kaca – kaca kecil yang bertugas untuk mengatarkan cahaya pada penghuni kamar telah ditutupi gorden – gorden berwarna hitam. Satu – satunya sumber cahaya bagi penghuni kamar hanyalah seberkas cahaya yang datang dari ventilasi udara. Di dalam kamar berantakan yang sempit itu dia terduduk memeluk lututnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan yang pasti dia dikelilingi oleh baju – baju kotor yang belum dicuci, gelas kaca berwarna hijau, botol kaca berwarna hijau, puntung – puntung rokok yang telah habis dihisap, pistol, lembaran – lembaran kertas yang telah disobek, dan jarum suntik yang menempel di tangannya.
Kini, jari – jarinya merayap diatas lantai yang berantakan, melewati tumpukan baju kotor dan sobekan – sobekan kertas, meraih sebuah pistol yang tergeletak. Ditatapnya pistol itu, “Tuntun aku menuju kebebasan” pintanya. Dia buka mulutnya lebar – lebar kemudian masuklah pistol itu kedalamnya. Dengan raut muka yang tak peduli dia pandangi sekitar. Dia tersenyum tipis memandangi dunia yang fana. Bahagia sebab sebentar lagi tibalah waktu baginya untuk segera pergi. Pelatuk pistol mulai bergeser perlahan akibat gerakan jarinya, begitu perlahan. Dan...

Konklusi

Darah beterbangan tanpa arah
Daging mengering

Raga itu
kini tak berkepala
tak bernyawa

Membawa kesedihan di angannya
penyesalan selamanya

Tinggalkan dunia tanpa keberanian
Tinggalkan kepecundangan dalam badan

Andai mata tak buta
Tak perlu ini menjadi nyata
Andai hati tak mati
Tak akan semua ini terjadi

Tapi apa daya?
Semua yang terlewati tak akan bisa kembali...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer mizz_poe
mizz_poe at Tanpa Judul (7 years 15 weeks ago)
20

Muhammad Al Mukhlisiddin. pulanglah ke alam kau Nak. kau ditunggu oleh BAPAKmu. ayooo. pulang. lekaslah. jangan bergentayangan keluar ALAM KUBUR begitu. ayooo. PULANG...!
#np Alam - Mbah Dukun: PERGILAH KAU SYAITOOON...!

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Tanpa Judul (9 years 14 weeks ago)
70

Semua hal itu, paralelisme...

Writer mizz_poe
mizz_poe at Tanpa Judul (7 years 15 weeks ago)

ecieeee ada Neneng Cynthia... ichikitiiiiw!