Alkisah dua insan sedang berdua-duaan di pinggir jalan. Menyaksikan sepeda mereka tergeletak karena tidak berjagang. Dua orang muda mudi tersebut tampak ceria, tersenyum bahagia. Mereka baru saja melakukan sesuatu yang pasti diinginkan, pernikahan.
Namun, mereka tidak tampak menggunakan jas dan gaun pernikahan. Mereka hanya bercelana panjang dan memakai kaos oblong dengan beberapa tambalan. Sungguh sebuah pemandangan. Mereka adalah Juno dan Janjan.
Read more (615 words)
Juno aki-aki, eh bukan, laki-laki hampir lulus sekolahan. Bukan sebarang sekolahan, dia hampir lulus STM Pembangunan. Pun jangan salah tentang STM Pembangunan ini, karena sekolah ini merupakan jawara pendidikan keterampilan. Sayangnya Juno hampir lulus, begini kisahnya:
Ujian akhir nasional sudah dekat waktu itu. Juno pun telah mempersiapkan segala kemampuan otaknya dengan maksimal. Termasuk melatih Bahasa Indonesianya yang masih belepotan. Juno orang pedalaman, dimana orang-orang tidak mengenal ejaan yang disempurnakan. Sehingga dia harus mati-matian agar dapat bicara dengan benar.
Juno jenuh juga belajar sehingga dia memutuskan jalan-jalan. Di perjalanan dia melihat ada pertunjukan sirkus kelilingan, Juno pun menonton. Dia duduk paling depan. Juno tidak sadar apa yang akan dipertunjukkan ketika seorang badut membawa caca-cola ke tengah pertunjukan. Pun masih terus serius menyaksikan ketika beberapa butir paku dimasukkan dalam botol tersebut. Hingga badut tersebut mengatakan kalau dia akan menemukan kartu yang telah dipilih oleh seorang pengunjung dengan bantuan botol tersebut.
Badut tersebut memasukkan sebutir permen montos kemudian lari ke belakang panggung. Juno melihat caca-cola tersebut berbusa, berbusa banyak dan meledak. Penonton bertepuk tangan saat badut menunjukkan sebuah kartu tertancap paku, sesuai dengan yang telah dipilih pengunjung sebelumnya.
Sayangnya Juno justru merintih kesakitan. Matanya menghitam perlahan-lahan. Bengkak karena tutup botol tepat mengenai matanya. Akhirnya Juno tidak dapat ikut ujian nasional karena konsentrasi susah dilakukan dengan mata lebam.
Ia menunggu tahun berikutnya untuk dapat ujian. Namun sayangnya, ia keduluan bertemu dengan Janjan, yang mengambil hatinya buat tak karuan. Jadilah Juno hampir lulus STM Pembangunan.
Janjan bukan nama sebenarnya. Hanya panggilan sayang karena ia suka sekali hujan-hujan. Nama indahnya Michellia tidak lagi digunakan. Janjan bukan gadis sembarangan. Ia tidak makan sekolahan, namun dia rajin belajar. Jadilah dia memiliki beberapa keterampilan. salah satunya menjadi badut.
Janjan sebenarnya tidak pernah kepikiran kawin muda. Apalagi dengan seseorang yang hampir lulus doang. Tapi hidup membawanya pada perubahan. Semua karena Janjan suka hujan-hujan.
Hari itu hujan turun dengan derasnya. Seperti biasa Janjan pun riang gembira hujan-hujanan. Sambil hujan-hujanan Janjan belajar ketrampilan baru, panahan. Janjan ingin bisa berburu, untuk itu dia harus belajar panahan, panah hujan.
Sebuah target yang dipakukan ke pohon awalnya menjadi sasaran panah Janjan. Tapi dia cepat bosan. Dia mulai memanah ke sebarang arah.
"Aku memanah hujan tahu. Plis deh...masak memanah ke sebarang arah :(," kata Janjan pada pengarang.
Pengarang terus saja melanjutkan karangannya tidak peduli dengan protes Janjan.
Pada saat Janjan memanah ke atas dengan sudut elevasi 25 derajat, tiba-tiba saja terdengar teriakan.
"Wadaw...," kira-kira seperti itu teriakannya.
Ternyata ibu Janjan yang baru pulang dari pasar terkena panah nyasar Janjan. Untung yang kena hanya keranjang belanjaan. Janjan pun meneruskan kagiatan panahannya. Hingga hujan reda.
Janjan sedang mengumpulkan kembali panah-panahnya saat seseorang datang, dialah Juno. Janjan memandang dengan heran. Melongo, agak memalukan. Juno salah tingkah dipandangi seorang yang basah kuyub hujan-hujan. Mereka pun setengah jam hanya pandang-pandangan. Juno kemudian pulang.
Bodohnya Juno yang datang naik sepeda, pulang dengan berlari. Sepedanya digeletakkan begitu saja karena memang tidak berjagang. Janjan yang sadar, keheranan, semakin penasaran dengan cowok tidak jelas barusan.
Janjan pun pulang, tidak peduli dengan sepeda Juno yang tergeletak.
Esoknya Juno datang, ketok-ketok rumah, mau ambil sepeda katanya. Janjan masih saja terheran-heran dengan manusia ajaib di depannya. Dia pun bilang, "Silakan". Padahal sepeda tidak dia pedulikan.
Begitu seterusnya selama seminggu. Juno datang dengan naik sepeda, pulang jalan kaki agar boleh datang esok harinya. Janjan semakin senang, begitu juga Juno, mereka mau melangsungkan pernikahan (dalam cerita ini tidak ada pacaran).
Juno dan Janjan duduk di pinggir jalan. Mereka memandang sepeda mereka tergeletak karena memang tidak berjagang. Tersenyum senang karena mereka merasa sungguh tertantang. Mereka baru saja kabur dari pesta pernikahan, tepat setelah akad nikah dilangsungkan.
Be the first person to continue this post
rate aja
Walaupun aslinya orangnya serius, Just Hammam, kalo buat cerpen gokil abizzz hahaha
ahahahahaha..
keterlaluan bikin orang sakit perut!!!!
ini kisah nyata atau bukan?
mohon konfirmasi..hihihihihi..
(pegang perut)
kyakakakaka... kocakk benerrr. =))
Sambil hujan-hujanan Janjan belajar ketrampilan baru, panahan. << beneran ngakak pas baca ini, teringat pengakuan si kakak panah di kners mengenai asal muasal nicknamenya.
okelahh kalo begitu. keren keren keren. jempol buat kak hammam. :D
menarik! saya bener2 tenggelam dengan dunianya hammam ^^
tapi.. OOT nih, kenapa michella bisa jadi janjan?
weqz, hahaha! Apa maksudnya nih? Mau buat gosip baru, yah?
Betewe, saya tersanjung karena sebagai member baru sudah dapat menginspirasi cerpen abang hammam. Tapi kenapa disandinginnya harus sama panah_hujan? 6(-_-)'
Bersyukurlah disandingkan dengan Panah Hujan, dari pada disandingkan dengan Panah Lentar (alias petir dalam bahasa daerahku)^^
menarik :))
Trims... semoga menghibur...
Ckckck
Hehehe
Ckckck
=____________=
Royalti nama, sini kemarikan.
Ntar lah kalo dah dapat pemasukan, masih minus nie...belom untung...
Dan ini BUKAN Chekhov's Gun. Ini jelas-jelas Flashforward.
Iya deh percaya, ini aku bikinkan tritnya...
http://www.kners.com/showthread.php?p=7061#post7061
Gaya ceritanya lugu namun sekaligus menggelitik. Nggak bisa komen banyak, karena keburu sakit perut^^
Walah...sakit perut...