The Girl and a Balloon

balon

Aku tidak pernah menyukai balon.

Aku benci suara berdecit yang dikeluarkannya, benci bau karet yang menguar kuat darinya, benci melihat serat-seratnya tertarik kuat ketika ditiup, benci suaranya ketika meletus. Semua hal tentang balon bisa membuat bulu kudukku berdiri.

Sejarah kebencianku dengan balon sudah berlangsung lama. Aku bahkan tidak ingat sejak kapan aku mulai membencinya. Ingatan paling lama adalah pesta ulang tahunku yang entah keberapa. Pokoknya aku masih setinggi 110 senti, memakai gaun mungil bergaris-garis merah putih dengan korsase bunga poppies tersemat di dada kanan dan menguncir dua rambutku dengan ikat rambut pompom berwarna merah (sesuatu yang TIDAK akan pernah kulakukan lagi. Tidak, selama aku masih hidup dan sadar).

Saat itu aku diminta ibuku meniup sebuah balon berwarna biru terang yang nampaknya bertuliskan “Aku senang kau datang ke pestaku” atau semacam itu, dan sepertinya ibuku berharap setelah aku selesai meniup balonku, para orangtua akan mendesah gemas melihat seorang gadis mungil berpipi tembam dengan gaun mengembang, memegang balon ucapan terima kasih dan memberikannya pada orang yang (kadonya) paling ia sukai.

Tapi ternyata, balon sialan itu meledak, tepat di depan wajahku. Suaranya begitu keras memekakkan telinga, dan sobekan karetnya terurai kemana-mana. Saat itu aku langsung menangis sekeras-kerasnya, dan belum cukup rasa traumaku, aku tergelincir ke belakang , menduduki sebuah balon yang kemudian pecah begitu pantat kuda nil-ku menggencetnya. Tangisku semakin keras, dan gaunku tersibak, memperlihatkan celana dalam Barbieku yang mulai basah karena aku mengompol. Salah satu pesta ulang tahun yang tak akan pernah kulupakan.

Dan yang semakin membuatku muak dengan benda itu, adalah ketika seminggu yang lalu ibuku meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Seorang anak kecil mendadak menyebrang karena mengejar balonnya yang terbang. Ibuku mengerem dan membanting setir, menabrakkan sedan tua hitamnya ke mobil lain yang melaju kencang dari belakang. Sedan itu terbalik, dan ibuku meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Terdengar konyol, aku tahu aku tak berhak menyalahkan benda mati ringan yang bisa terbang itu. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh anak umur 14 tahun yang baru akan ikut ujian SMU, tanpa orangtuanya? Jangan tanya soal ayahku, aku bahkan tak pernah bertemu dengannya. Ibuku membesarkanku seorang diri sejauh aku bisa mengingat. Ia juga sangat memanjakanku, dalam artian memasak untukku, mencuci, membeli segala keperluan bulanan. Kadang ia menyewa pembantu, usaha toko kue ibu cukup maju untuk membayarnya. Pokoknya ibu tidak mau hidupku kesusahan, hanya karena punya satu orang tua.

Yang, konsekuensinya adalah, ketika sekarang persediaan sabun, pasta gigi, dan makanan sudah mulai habis, aku tidak tahu harus membeli apa. Maksudku, tentu saja aku mengerti aku harus membeli sabun mandi di swalayan, aku tidak sebodoh itu. Tapi, apa harganya betul, atau sebenarnya aku bisa dapat lebih murah? Apa beli sabun cair lebih hemat? Berapa potong tahu yang kubeli kalau aku ingin membuat sup tahu?

Belum lagi masalah yang lebih besar. Bagaimana hak asuhku, siapa yang mengurus rumah, pajak-pajak, pembayaran tagihan, jadwal buang sampah, iuran warga, harta ibu yang ditinggalkan, barang-barang dan rumah yang harus kebersihkan. Rasanya kepalaku bisa meledak setiap saat. Seperti balon yang sangat kubenci itu.

Jadi, dengan mengetahui betapa bencinya aku pada benda plastik sialan itu, kau pasti akan bertanya-tanya, apa yang aku lakukan sekarang, berdiri di pinggir jalan, memegang tak kurang dari 10 balon berwarna cerah dengan tampang ingin membunuh orang.

Dimulai dari sepuluh menit yang lalu, ketika aku memutuskan untuk datang saja ke swalayan dan membeli apapun yang kurasa perlu, seorang laki-laki yang kurasa umurnya tak jauh beda denganku, menyorongkan kerumunan balonnya padaku. Ia memintaku untuk memegangnya karena ia benar-benar harus ke toilet, dan tidak mungkin membawa balon-balon itu masuk. Sebelum aku sempat protes, ia sudah meyorongkan tali-tali balon itu padaku dan berlari cepat ke arah toilet.

Itu dia, keluar dari toilet dengan wajah lega, jelas lebih ceria dari raut wajahnya sepuluh menit yang lalu. Untung dia keluar cepat. Lebih lama satu menit lagi, kurasa sudah kuletakkan balon-balon ini di tanah terhimpit batu, atau kubiarkan saja terbang, apa peduliku?

“Ah…maaf, maaf…tadi pasti kamu kaget ya?”serunya pelan sambil tersenyum malu.

Siapa yang tidak kaget kalau ada orang mendadak lewat dan menyerahkan sepuluh balon besar sekaligus?

Aku tidak menjawab kata-katanya. Kuserahkan tali-tali balon itu dan segera bergegas pergi. Perasaanku tidak enak kalau harus lebih lama lagi bersama orang ini dalam radius kurang dari 3 meter.

“Eh, tunggu, tunggu! Aku belum mengucapkan terima kasih, atau membalasmu kan?” laki-laki itu menggamit lenganku dengan tangannya yang bebas.

Dengan kesal kuhentakkan lenganku dan berkata sedikit keras padanya, “Jangan pegang pegang! Pergi saja sana cepat! Pergi dan bawa benda terbang itu jauh dariku, itu sudah kuanggap rasa terima kasihmu”

“Benda terbang? Maksudmu balon-balon ini?”tanyanya dengan kening berkerut.

“Memangnya kepalamu bisa terbang?”tanyaku balik, dengan nada ketus.

Reaksinya agak di luar dugaan, dia tertawa dengan mulut terbuka lebar.

“Tinggal bilang balon kok repot amat. Ba-lon. Cuma dua suku kata lho. Daripada capek-capek bilang benda terbang?” serunya di sela tawanya yang berderai.

Urusan ini makin menjengkelkan dan makin tidak penting untuk dibahas. Aku pun malas meladeni orang seperti dia. Maka, kubalikkan badanku dan mengambil ancang-ancang untuk lari. Tapi laki-laki itu kembali menggamit lenganku, menahanku dengan kekuatan yang lembut.

“Maaf, maaf. Kau tersinggung ya? Maaf deh, aku memang begini orangnya, suka bicara tanpa berpikir. Nih, sebagai permintaan maafnya, ambil ini satu”. Dia menyerahkan sebuah balon berwarna putih yang sisi kanannya berkilau tertimpa cahaya matahari, sementara sisi kanannya terlindung bayang-bayang dahan pohon.

“Tidak perlu. Aku membenci benda itu, sampai muak melihatnya. Tidak perlu minta maaf atau berterima kasih. Biarkan saja aku pergi.”

“Eh? Kau tidak suka balon? Aneh sekali” lagi lagi ia mengerutkan kening sambil memiringkan kepalanya.

“Memangnya manusia harus suka semua hal?”tanya ku dengan nada meninggi

“Tidak sih, tapi aneh juga kalau ada orang yang sebegitu bencinya dengan balon..Memang balonnya salah apa?”

“Bukan urusanmu”. Astaga, apa orang ini boleh kulempari batu?

“Memangnya balon-balon itu membuat nilaimu jelek? Atau membuatmu putus dengan pacarmu? Atau membunuh ibumu?”

Aku tersentak mendengar ucapannya yang terakhir, dan berbalik marah padanya.

“Iya! Aku membenci benda itu sejak dulu! Hidupku berantakan gara-gara benda itu. Ibuku MATI karena benda itu! Ibuku satu-satunya!”teriakku kesal. Aduh, ini memalukan sekali. Aku berteriak-teriak seperti anak kecil di taman umum. Berteriak-teriak soal balon pula. Dengan air mata mengalir pula. Bagus,

Laki-laki itu – lagi-lagi beraksi di luar dugaan – tersenyum sambil menghampiriku dan mengusap-usap kepalaku. “Apa kau tahu, balon juga bisa menjadi pengantar pesan? Sini, biar aku ajarkan” serunya lembut.

Anehnya, aku merasa nyaman dengan genggaman tangan laki-laki itu, dan aku mengikutinya ke pinggir sungai tanpa protes seperti sebelumnya. Laki-laki itu kemudian mengeluarkan sebuah spidol merah besar dari sakunya, dan memberikannya padaku.

“Tulis pesan untuk ibumu di balon ini. Setelah itu, genggam balonnya erat, jangan terlalu erat kalau kau tidak mau kejadian pesta ulang tahunmu terulang kembali…”. Dia mengedipkan sebelah matanya jenaka saat aku menoleh kaget padanya. Bagaimana dia tahu soal peristiwa itu?

“…sambil pikirkan tentang ibumu, dan lepaslah balon itu ke langit. Voila! Pesanmu akan sampai, aku jamin” lanjutnya, kini sambil tersenyum riang.

Ia berjongkok di depanku sambil memegangi balon putih yang tadi hendak ia berikan dan mempersilahkanku untuk menulis pesanku. Aku agak sedikit ragu-ragu, tapi akhirnya kutulis apa yang sangat ingin kusampaikan dari tadi. Aku menulisnya dengan mantap, sambil sesekali menyeka air mata yang mengalir di pipi. Tapi, dari tiap huruf yang kutulis, kurasakan senyumku makin mengembang. Bisa mengirim pesan pada ibuku ternyata bisa membuat perasaanku lebih baik.

Setelah selesai, kukembalikan spidol itu, dan laki-laki itu mendengus sambil menahan tawa begitu melihat tulisanku. Wajahku langsung memerah, dan langsung ku rebut balon itu dari tangannya.

Kudekap erat balon itu, sambil menyimpan daguku di atasnya. Sedikit ku longgarkan dekapanku, seperti saran si laki-laki balon. Aku tidak mau kalau sampai harus terjungkal kaget di depannya. Akhirnya, ku lepas balon itu terbang, melewati sungai di depan kami, dan melayang tinggi di udara. Kami berdua menatap balon itu terbang semakin tinggi, dan tinggi, dan tinggi…dan pecah di udara.

Kami terdiam.

“Kau yakin pesannya sampai?” tanyaku ragu, memecah keheningan yang kami ciptakan sendiri.

“Yakin. Apa kau tidak tahu kalau arwah balon itu tetap pergi ke atas sana membawa pesan?” jawabnya santai sambil menyeringai lebar.

Kemudian, ia kembali berjongkok dan mengusap-usap kepalaku.

“Nah, sekarang setelah pesanmu sampai, giliran dirimu untuk pergi” serunya lembut dan pelan, nyaris berupa bisikan.

Ah, rasa hangat kini mengaliri tubuhku. Seiring dengan air mata yang perlahan kembali menetes, ingatanku kembali ke seminggu yang lalu. Ibuku yang melihat anak kecil yang mendadak menyebrang, mengerem dengan cepat, membanting setir ke arah kiri dan membuat mobil yang melaju kencang menabrak sedan tua kami dengan keras. Membuat mobil kami terbalik. Membuatku yang duduk di kursi depan tanpa sabuk pengaman, terpelanting ke belakang mobil dan terhimpit besi berat itu. Rasa sesaknya masih terasa. Darah hangat yang mengalir di kepala masih terasa. Suara rintihan ibu yang memanggil namaku pun rasanya masih dapat ku dengar.

Aku meninggal sebelum berhasil keluar dari tumpukan besi itu.

Si laki-laki balon masih mengusap-usap kepalaku, dan aku tidak tahan untuk tidak memeluknya.

“Terima kasih” seruku pelan, memeluk bahunya yang terasa nyaman. Lalu aku merasa ringan ketika perlahan tubuhku berubah menjadi serpihan cahaya.

***

Noam berdiri tegak, dan menepuk-nepuk jeansnya yang belepotan rumput dengan sebelah tangan. Ia mengerling pada seorang gadis berkulit cokelat yang ia tahu sudah memerhatikannya dari balik pohon sedari tadi, dan kini menghampirinya.

“Anak itu tidak sadar kalau dia sudah mati?” tanya gadis itu sambil berusaha membantu Noam membawa balon-balonnya.

“Ya. Tanpa sadar ia sudah menghilangkan ingatannya sendiri tentang kecelakaan itu karena ia terlalu syok.” Jawab Noam sambil membagi dua kerumunan balonnya dan memberikan setengahnya pada gadis itu.

“Omong-omong, metode balon ini selalu bekerja nampaknya. Kau tidak pernah kesulitan menemukan arwah yang belum kembali dan menggiringnya pulang. Metodeku kadang-kadang tidak terlalu bagus presentase keberhasilannya.”

Noam menyeringai lebar. “Ku bilang juga apa Asha, jangan terlalu sering memakai kekerasan.”

Asha memutar bola matanya. “Terserah deh. Omong-omong, aku penasaran dengan apa yang ditulis anak tadi. Kok kau sampai nyaris tertawa?”

Kini Noam benar-benar mengeluarkan tawanya, “Habis, ku pikir dia akan menulis sesuatu yang lebih dramatis. Agak sedikit puitis atau pesan yang bisa membuat seseorang merasa terharu. Pesan yang ditulisnya benar-benar polos dan apa adanya. Dia benar-benar menulis apa yang ia ingin tulis.”

“Sialan kau Noam, kau membuatku penasaran! Jadi apa pesannya?” seru Asha tak sabar.

Noam kembali menyeringai, lalu membentuk jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda kutip “Ibu, deterjen apa yang paling bagus untuk mencuci baju seragamku?”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Tikacaraca
Tikacaraca at The Girl and a Balloon (6 years 32 weeks ago)

endingnya keren abis XD

Writer Tikacaraca
Tikacaraca at The Girl and a Balloon (6 years 32 weeks ago)

endingnya keren abis XD

Writer Dedalu
Dedalu at The Girl and a Balloon (7 years 23 weeks ago)
100

huaaaaaa, saia hampir terharu setelah "Aku"nya mati T_T, tapi endingnya benar benar berbeda :D, *standingapplause :D

Vangel at The Girl and a Balloon (7 years 26 weeks ago)
100

Ck..ck...ck..., sumpah diluar dugaan banget. kereeeennnnn

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (7 years 25 weeks ago)

hehe,,makasih banyak udah mau baca >w<

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at The Girl and a Balloon (7 years 26 weeks ago)
100

Poin penuuuuuuuuuuuuuuuh~!
.
Ini tulisan kedua anda yang saya baca setelah The 6th Station...dan bagi anda ini gaje?
.
Entah mengapa saya sudah mengira dari awal kalau ini akhirannya bukan tearjerker, hehehe

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (7 years 25 weeks ago)

eh..iya, geje. karena waktu iku gw dan akina lagi webe berat, dan tiba2 gw pengen nulis sesuatu tentang balon. pokonya harus balon :D dan harus jadi dalam waktu sejam. jadi deh cerita...aneh ini. :D
.
makasih penuhhhhhhhhhhhhhhhhhh >w<

Writer just_hammam
just_hammam at The Girl and a Balloon (7 years 26 weeks ago)
80

Cerpen Recomended by Kika
http://www.kners.com/showthread.php?t=1270&page=4
.
Keren....

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (7 years 25 weeks ago)

makasih banyak udah nyempetin baca cerita jadul ini >w<

Writer Miyuka
Miyuka at The Girl and a Balloon (7 years 32 weeks ago)
100

mau nangis deh bacanya.. T.T
Tp yg akhirnya bikin ngakak lg..!! XD

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (7 years 31 weeks ago)

hehe,,iya, ga mau bikin yang terlalu serius...makaih ya udah baca >w<

Writer NazlaChairina
NazlaChairina at The Girl and a Balloon (7 years 46 weeks ago)
100

duuuh one of my favorite, deh. banyakin lagi dong bikin yang kayak begini, haha :))

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (7 years 31 weeks ago)

tengkyuuu..iya, lagi gw usahain lagi XDD makasih udah baca ya ^^

Writer Kika
Kika at The Girl and a Balloon (8 years 28 weeks ago)
100

wkwkwkw.... awalnya mengharukan tapi endingnya bagus banget kak snowdrop^^

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (8 years 28 weeks ago)

hehe,,thx say,,nampak rajin aja baca cerita2 lama gw ^^...makasih ya udah baca ^^

Writer giebrox 27
giebrox 27 at The Girl and a Balloon (8 years 28 weeks ago)
100

bner2 salut ma krya2 te2h snow dah,,,
sdih d awal, tpi tak kusangka kau mnylipkan klmat sdrhna tpi sngat lcu di akhir crta na, ada hentkan rsa stlah hnyut dlm duka dan dismbut sprti ldakan blon saat ku bca klimat trakhir...
pool buat te2h snow.
ingin brjumpa lngsung ama te2h snow,,,mmpung d bndung.

slam gie27

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (8 years 28 weeks ago)

makasih, makasih ^^, jadi enak dipuji gtu >w<
.
hoh dirimu di bandung? tapi gw anaknya autis, pergi cuma buat ke kantor, trus ke rumah, trus maen deh sama temen2 ^^,,add fb gw aja, tapi jangan lupa masukin pesen kalo dirimu anak k.com ya, biar gw approve ^^
.
thx for reading ^^

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at The Girl and a Balloon (8 years 24 weeks ago)

aku juga mau...>>>

Writer giebrox 27
giebrox 27 at The Girl and a Balloon (8 years 28 weeks ago)

hahaha,,bisa aja teh
ok,,ok teh....
:)

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at The Girl and a Balloon (8 years 28 weeks ago)
100

Mau nangis awalnta tp senyum sendiri lihat endingnya, bagussnyaa :)

Writer erjees
erjees at The Girl and a Balloon (8 years 35 weeks ago)
50

bagus

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at The Girl and a Balloon (8 years 42 weeks ago)
80

kerennn

Writer Orangenium
Orangenium at The Girl and a Balloon (8 years 49 weeks ago)
80

keren nih cerita... pesan terakhir ke ibunya tu bener2 ga terduga.... hahaha

Writer hendera
hendera at The Girl and a Balloon (8 years 51 weeks ago)
100

bego

Writer Whieldy_mirza
Whieldy_mirza at The Girl and a Balloon (9 years 1 day ago)
100

Aduh, mbak... saya sangat sangat sangat super duper ultra membenci balon..
(bisa dibilang, saya phobia terhadap balon)
makanya... betapa senangnya saya melihat cerita tentang kebencian terhadap balon, kebencian terhadap decitannya dan lain2, ini membuat saya merasa kalau saya tidak sendirian (dalam membenci balon)

Bdw, komen dan kritik sepedas2nya karyaku ya :D

Writer Lignify
Lignify at The Girl and a Balloon (9 years 1 week ago)
100

Keren twist endingnya. Chekov's gun atau red herring nih?

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 1 week ago)

tengkyu ya...hummm,,mungkin lebih ke red herring ya ^^,,

Writer antonsuryadi
antonsuryadi at The Girl and a Balloon (9 years 2 weeks ago)
90

Ge pengen baca yang dapet point 100 keatas, eh malah ketemu nih story... Cerita situ benar2 menyentuh... Dikirain mah awalnya kok bisa ada orang yang takut sama balon?? Gak nyambung dehhh... Hehehe... Tapi mendengar penjelasannya, mungkin juga sih... ^^

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 1 week ago)

makasih mas'e...ada kok, temen gw benci banget sama yang namanya balon, sama kaya gw takut banget sama badut :))

Writer noir
noir at The Girl and a Balloon (9 years 3 weeks ago)
80

Bagus. Penceritaannya begitu mengalir dan halus, dengan ending yang manis ^^

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 1 week ago)

makasih mba >w<

Writer Aussey
Aussey at The Girl and a Balloon (9 years 4 weeks ago)
90

unik n.n

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 1 week ago)

tengkyu sey-san...seunik yang nulis kaga? haha (ngarep dipuji)

Writer thasayua
thasayua at The Girl and a Balloon (9 years 4 weeks ago)
80

ahhh.
ga percaya kalo ini cerita geje.

keren gini.
>,<

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 1 week ago)

percayalah....sangkyu ya ^^

Writer thasayua
thasayua at The Girl and a Balloon (9 years 4 weeks ago)
80

lucu-lucu

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 1 week ago)

makasih, makasih ^^

Writer f_as_luki
f_as_luki at The Girl and a Balloon (9 years 4 weeks ago)
80

Lama tak berkunjung ke kemudian.com..

Wow, cerita yang keren.. Like this so much..

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 1 week ago)

makasih banyak,,tengkyu so much ^^

dadun at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)
90

setelah lama tak berkunjung, langsung ke tkp dan menemukan korban2 kematianmu
hahaha
cerita geje aja bisa bagus gini yu
wah, nunggu lanjutan versi kinah ah
hahay
selalu keren
(kapan atuh bikin novel, atleast kumcer lah)

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 1 week ago)

hoo,,,ada akang dadun!!! ^0^,,,sangkyu, sangkyu..iya nih, kinahnya masih keserang webe, nunggu dia nampaknya ^^

(novel dan kumcer ya..?humm..just wait ^^)

Writer chulichul
chulichul at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)
80

endingnya mengharukan.. T_T

love it

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)

thx for reading ya ^^

Writer arydhamayanti
arydhamayanti at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)

keren keren keren.. keren banget... ^^b

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)

tengkyu tengkyu tengkyu...tengkyu banget udah baca d^^b

Writer Penguin
Penguin at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)
100

gyahahaha saya udah mau terharu tapi kalimat akhirnya bikin saya ngakak lagi :D

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)

wakaka,,sengaja, biar ga suram2 amat ceritanya,,tengkyu for reading pingu ^^

Writer Chie_chan
Chie_chan at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)
100

suka sekaliiii.... :')
mengharukan, dengan gaya terjemahan yg sangat chie suka. isinya juga unik. te-o-pe deh.
salut chie untukmu, snowdrop. *angkat topi* :D :D :D

Writer SnowDrop
SnowDrop at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)

tenkyu sekaliiiiiiiiiiii,,,hehe,,iya nih, gaya bahasa gw gaya terjemahan,,kebanyakan baca novel fiksi luar ^^,,tengkyu ya chie-chan...>w<

Writer d757439
d757439 at The Girl and a Balloon (9 years 5 weeks ago)
100

kak showdrop!
Nulis lg neih,
malaikat lg kan?
Seru..aku kira tuh gadis yg bnci balon masih hidup..ternyata!