Matahari Terbenam

Aku dan kamu, atap rumahmu, satu waktu yang sepertinya selalu berulang. Kebersamaan kecil yang ingin aku abadikan dalam botol agar bisa kubawa ke manapun aku pergi.

“Coba bilang dulu, lo sayang gue nggak?” tanyaku petang itu, akhirnya tak tahan ingin memastikan seperti apa arti kebersamaan ini buatmu.

“Ngomong apa sih lo?”

“Enggak, enggak, bilang dulu. Tell me you love me.

Bar, shut up! Just pass me the spliff!

Nay, nay,” aku masih berkeras, menjauhkan lintingan kecil yang baru saja kugulung dari jangkauanmu,”bilang dulu lo sayang gue.”

Kamu menggelengkan kepala sambil tertawa. “Kenapa mesti kayak gini sih?”

Aku tersenyum kecil, sedikit menantang. Mengawasimu meraih kaleng Heineken yang sepertinya sudah habis setengah dan meneguknya sedikit. Mengawasi setiap detil tingkah lakumu yang selalu membuatku seakan tersedot semacam magnet raksasa.

Kamu memang berbeda. Jauh dari gadis mana saja yang pernah duduk di sampingku seperti ini.

Kamu tidak pernah mempedulikan baju apa yang kaupakai, model rambutmu, juga kata-katamu yang sering melubangi hati orang lain. Kamu lebih tertarik naik Vespa tua daripada mobil baru, tergila-gila pada Doc Martens, dan orang pertama yang bisa kuajak bernyanyi Oh!Darling-nya The Beatles sampai kita benar-benar muak.

Aku sudah mengenalmu saat kamu sepenuhnya terjaga bahkan hingga kamu tenggelam dalam alam bawah sadar. Yang ingin kupastikan hanyalah bahwa kita masih menjejak di dunia yang sama—dan bahwa di sana juga ada aku.

“Udahlah… As long as we’re happy, right? Nikmatin waktu aja, deh. Lo juga tau kita kayak apa,” ujarmu kemudian seraya menyalakan sebatang Dunhill.

You know I love you,” kataku, masih berusaha mendesak.

Yeaaa…I know. Me too, pothead! Mau lo apa sih?”

“Gue cuma mau lo bilang lo sayang gue. Itu aja. Bukan cuma sekedar ‘me too’, babe.”

Aku mengernyit saat kamu menghembuskan asap rokok tepat ke wajahku. “Here it is… I looove you, Barito Arnan. Puas?” Kamu tertawa-tawa setelah mengucapkannya.

“Emang bisaaa aja ya lo!” aku jadi ikut tertawa. Akhirnya kuoperkan linting kecil yang sejak tadi kujauhkan darimu.

“Bukannya itu yang lo pengen hah? I’ve said it!

You lucky, dumbass. I love you too much…

Memang aku sepertinya jauh lebih mencintaimu daripada sebaliknya. Sehingga pada akhirnya kubiarkan juga kamu tenggelam dalam duniamu sendiri. Di sampingku, dengan mata menerawang jauh ke horizon yang dihiasi semburat jingga keunguan.

Kamu selalu bilang, kamu suka ‘high’ ketika matahari terbenam. Semuanya jadi tambah kelihatan sempurna. Maka tidak heran jika atap ini jadi tempat favorit kita berdua. Getting high, getting lost. Kamu dengan mataharimu yang hampir tenggelam, aku dengan kamu. Berbicara seakan semuanya lucu.

What’s so perfect?

The sun?” Kamu terkekeh.

Not me?

Not you.

Pernah kamu bertanya kenapa aku sering tidak ikut high di sini bersamamu. Kubilang aku tidak suka matahari. Tetapi aku tahu, aku hanya ingin menikmati kamu dengan kesadaran penuh.

Aku punya banyak waktu denganmu. Denganmu dengan lagu-lagu tua, Vespa skuter yang selalu kita pinjam, berbatang-batang Dunhill, berbotol-botol Baileys, bercangkir-cangkir kopi hitam tanpa gula, sandwich hancur, dini hari penuh hangover, semua adiksi kita berdua. Semuanya kunikmati. Tetapi hanya momen seperti ini yang paling ingin kunikmati hingga berharap dapat selalu menekan tombol replay.

I don’t love you, Barry. But I want you. You’re my addiction…” ucapmu tiba-tiba dengan senyuman khasmu yang tak pernah berubah. Senyum penuh jebakan yang menunggu orang untuk tergelincir ke dalamnya.

Sayangnya aku tidak pernah takut terjebak.

Kukecup sisi kepalamu perlahan.

Yes, you are too,” bisikku.

Lalu kamu pun kembali pada mataharimu yang sebentar lagi akan menghilang ditelan langit gelap. Buatmu semuanya cukup. Tetapi aku tahu, mungkin aku akan menunggu puluhan atau bahkan ratusan lagi matahari terbenam untuk kamu mengatakan yang ingin kudengar.

Sampai nanti, kita nikmati saja dulu saat ini.

-end-

Read previous post:  
Read next post:  
Writer H.Lind
H.Lind at Matahari Terbenam (3 years 7 weeks ago)
90

Nice story :)
Iri rasanya bisa buat dialog selancar itu. ^^

Writer cheesecurls
cheesecurls at Matahari Terbenam (3 years 18 weeks ago)
60

suka :)

Writer vierayeaaah
vierayeaaah at Matahari Terbenam (3 years 20 weeks ago)

i love your story a lot :)

Writer panah hujan
panah hujan at Matahari Terbenam (3 years 31 weeks ago)
80

Bener kata snowdrop. Kayaknya sejak tadi kubaca dialog sm pendeskripsiannya hidup. Ugh, jadi pengen bisa menulis begitu :|

Writer lydiaoktariani
lydiaoktariani at Matahari Terbenam (3 years 46 weeks ago)
100

cinta memang aneh ya mbak, suka sekali cerpennya, salam kenal ^^

Writer arydhamayanti
arydhamayanti at Matahari Terbenam (3 years 48 weeks ago)
100

suka banget cerita2mu sist.. kemaren belom kasi poin.. ehehe.. belom bisa :P

Writer Ive
Ive at Matahari Terbenam (3 years 50 weeks ago)
80

Wew, memang kebetulan yang aneh ya...

Cerita yang manis. Dialognya pun sangat hidup. Aku selalu merasa kesulitan kalau harus menulis dialog. Selalu jadi aneh..

Btw, apakah ini juga akan menjadi semacam serial?

Writer me_everywhere
me_everywhere at Matahari Terbenam (3 years 50 weeks ago)

Dialog memang gampang-gampang susah sih. Harus dicari yang mana yang enak buat kita nulisnya.
Ya, sepertinya akan ada lanjutannya. :)

Writer me_everywhere
me_everywhere at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)

Thanks @ D757439, aydhamayanti, sutawijaya & miss.jade
Salam kenal semua. :)

Writer miss.jade
miss.jade at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)

kisah yang lucu, hehehehe...
(salam kenal!)

Writer Sutawijaya
Sutawijaya at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)
90

Keren & endingnya aku suka...oya salam kenal ya

Writer arydhamayanti
arydhamayanti at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)

keren

Writer d757439
d757439 at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)
100

Singkat n romantis ku rasakan

Writer SnowDrop
SnowDrop at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)
80

sialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsial.....ceritanya menohok banget,,gw dalam kondisi yang sama, tapi ga seindah ini, dan ga dikelilingin heineken :)

eniwei, gw suka dialog dan pendeskripsiannya, hidup ^^

Writer me_everywhere
me_everywhere at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)

sabar mbak... hahaha. ini juga based on true story kok.
thanks udah mampir. :)

Writer kavellania
kavellania at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)
80

sweet honey... dan ehmm aku suka endingnya manis bangeeetttt

Writer me_everywhere
me_everywhere at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)

Thanks. :)

Writer Chie_chan
Chie_chan at Matahari Terbenam (3 years 51 weeks ago)
80

:)