API UNGGUN

API UNGGUN

kusulut setumpuk kayu pada
rindu yang menggumpal seakan batu
lidah api berkobar, mengundang kembali
hangat udara masa silam yang menghembus
datang bersama wangi edelweiss dan gemersik
angin malam
: aku kembali di sini
terhenyak dengan sekalian pendaki
meninggalkan riuh kehidupan
yang simpang siur dilahap segala kepentingan
gigir gunung terdiam bersama hening
dililit kabut, embun pun mengkristal
pada hijua rumput dan ujung setiap daun

kusulut setumpuk kayu kala dingin malam
menyeruak, mengguncang kalbu
sekalian pendaki adalah para pencari
pengembara yang senantiasa dahaga
menterjemahkan makna setiap kata
pun bentangan tenda hanyalah
sekedar lantunan bahasa ketika penat tiba
dan bara api masih ada tersisa
: aku akan tetap kembali pada putih halimun
meninggalkan hingar bingar perlombaan
yang menggelegar dan terus berdentum
hidup hanya sekedar menumpang minum
jeda sebelum pengadilan masal
untuk menjalani vonis yang sungguh kekal

Agats – Asmat, 4 Mei 2010

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Oge
Oge at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)

Bagus. Tapi jgn lupa, kita tidak perlu meromantiskan alam. Memahami alam tidak akan mendamaikan apa-apa. Puisi bukan suatu hal yang bebas nilai, ia mesti berpihak--tapi kpd siapa? Bisa kpd batu atau kpd orang yang lapar. Tinggal pilih... Keindividualisan adlh kenyataan di mana kita tdk memahami apa-apa, kehidupan itu, ketika kita diam, akan tetap memberimu vonis yg kekal, sedangkan ketidakpahaman akan menjauhkan kita dari apa yg disebut ada. SAlam kenal.

Writer senasupriatna
senasupriatna at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)
100

betapa susah arti kehidupan ini..
hanya saja yang aku tahu dunia adalah gambaran sebuah bentuk kehidupan kedepan,. apa yang kita lakukan sekarang tidak akan berbeda untuk kehidupan selanjutnya...

Writer cahya
cahya at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)
100

wah, mba dewi emang klo nulis bagus bgt... susah ungkapinnya...
salam
cahya

Writer mily
mily at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)

edelwaiss tidak pernah punya bau, kk :)

Writer dewi linggasari
dewi linggasari at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)

Berarti indera penciumanmu tdk bekerja dgn baik. Sayang sekali....

Writer senasupriatna
senasupriatna at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)

kali edelwisnya uda jd bunga hiasan yang uda kering ^^...

Writer apriantonugraha
apriantonugraha at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)
100

merinding bacanya.....

Writer hideyaki
hideyaki at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)
100

Mba Lingga, puisinya keren. Aku suka bait terakhir. Hidup hanya sementara, singgah sebentar saja.

Writer Fany Ijo
Fany Ijo at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)
100

bagus bangeett....
kalo mampir sini beneran kehabisan kata. ^^

Writer Yugata
Yugata at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)
100

Terima kasih Mbak atas pencerahannya :)
Suka!

Writer lifespirit
lifespirit at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)
100

karya indah nan sarat kontempelatip yang mencerahkan Qalbu.

Aku suka karya ini!

salam lifespirit!

Writer man Atek
man Atek at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)
100

Membaca puisi di atas seperti menelusuri jejak masa lalu yang diterangi oleh api unggun, sebagai pemantik ingatan yang tak pernah terlupakan. Serasa ada dendam untuk kembali pada cita-cita semula setelah sekian lama mengembara dengan berbagai macam kepentingan.
/ : aku akan tetap kembali pada putih halimun /
dan ternyata memang di dunia ini hanyalah sementara, seperti wejangan orang bijak yang dinukil pada bait
/ hidup hanya sekedar menumpang minum /
yang pada akhirnya harus dipertangung jawabkan
di kehidupan kekal selanjutnya,
hm ... sangat sufistik, sip sip !

Writer dewi linggasari
dewi linggasari at API UNGGUN (4 years 12 weeks ago)

Halo paman, lama ndak komen di puisiku, padahal selalu ditunggu. Ok, komentar itu, selalu membuatku terharu....