Melukis Wajah Ibu

MELUKIS WAJAH IBU

Aku dilahirkan di sebuah desa yang lumayan terpencil, sejak dilahirkan aku tinggal bersama nenek, hanya berdua. Sejak lahir, aku hanya mengenal nenek. Satu-satunya perempuan yang bisa kugambarkan dengan jelas, dialah nenek. Rambut yang penuh uban, wajah keriput, tubuh ringkih, menyayangi aku sepenuh hati, meski suka ngomel, itulah nenek yang bisa aku gambarkan. Satu-satunya perempuan yang tidak pernah mengenal lelah demi merawatku sejak kecil.
Perempuan yang sejak kusadari kehadirannya dalam hidupku, selalu memberi ketenangan dan kesejukan lewat tatapan matanya. Aku tak mengenal wajah ayah, apalagi mengenal wajah ibu. Nenek hanya selalu bilang bahwa ibu telah meninggal sejak melahirkanku (Meski aku tak pernah percaya), dan ayah yang telah menikah lagi. Aku tidak pernah menanyakan perihal ayah dan ibu lagi pada nenek, sebab setiap kali aku bertanya nenek akan marah bahkan bisa murung hingga berhari-hari. Aku sendiri tak mengerti, aku tidak tega bila harus melihat wajah nenek menjadi murung. Oleh karena itu, sampai nenek menutup usianya di umur 70 tahun aku tak pernah tahu akan semua teka-teki tentang ayah dan ibu.
Adilkah hidup? Ketika aku harus melewatinya sendiri tanpa kerabat dekat? Aku hanya punya nenek, dan ia pun telah tiada. Apa yang harus kulakukan? Usiaku baru menginjak remaja, sedang aku harus bisa menjawab setiap tantangan hidup yang datang. Hampir setiap hari, ketika malam kian renta, aku selalu terjaga oleh mimpi. Mimpi bertemu seorang perempuan setengah baya yang mengaku ibu. Tapi sekali lagi itu hanya dalam mimpi.
Aku sendiri tak begitu tahu siapa perempuan dalam mimpiku itu, sebab ketika aku akan menyibak kerudung yang menutup sebagian wajahnya, mimpi itu pun kabur dan aku terjaga lagi. aku tak mengerti apa arti dari semua mimpi-mimpi yang kerap muncul bila aku tertidur. Anehnya mimpi itu hampir sama dan dengan perempuan yang sama. Mimpi-mimpi itu membuat hari-hariku dihantui rasa penasaran.
Biasanya ketika terjaga di tengah malam, aku lalu mengambil buku gambar dan pensil. Aku juga tidak tahu dari mana kebiasaan menggambar ini bermula. Hanya saja akhir-akhir ini aku senang sekali menggambar sketsa wajah. Mungkin semua itu berawal dari mimpi-mimpi yang sering mengganggu tidurku.
Aku menarik nafas panjang, di depanku tergeletak sebuah buku gambar dengan halaman yang masih kosong. Pensil di tanganku tak kuasa untuk menggoreskan apapun. Tiba-tiba aku diliputi kegamangan dan tak bisa menggambarkan wajah perempuan itu secara utuh dan nyata. Hingga semuanya hanya menjadi sia-sia karena aku tidak pernah berhasil menggambarkannya.
Suatu hari yang lain, aku merasakan kepenatan yang luar biasa. Sekarang aku hanya tinggal sendiri di rumah peninggalan nenek. Sudah lama aku ingin meninggalkan rumah ini, agar setiap peristiwa-peristiwa yang telah terjadi tidak lagi mengusikku. Terlalu banyak kenangan, namun aku harus melepas semua itu dan menjemput impianku yang baru.
Jika harus menoleh ke masa lalu, pahatan-pahatan luka yang tertanam dengan sendirinya, telah membentuk pribadiku yang sekarang. Merasakan bagaimana pahitnya melewati hari-hari tanpa kasih sayang orang tua (Ayah dan Ibu). Meski aku tak pernah kekurangan kasih sayang dari nenek, tetapi tetap saja rasanya berbeda. Aku tumbuh dan besar dalam buaian sang nenek, meski aku harus menerima kenyataan yang lebih pahit tuk kesekian kalinya. Yaitu, melepas kepergian nenek menuju ke haribaan Tuhan.
Sungguh, saat itu aku benar-benar tak mengerti apa sebenarnya rencana Tuhan. Aku terus tumbuh dan berkembang, menjalar dalam sebuah dunia yang kerap membuatku meringkuk dalam kegamangan, kesepian dan kehampaan. Hidup sendiri, jelas bukanlah pilihanku. Namun lebih kepada sebuah kejadian alam atau lebih tepatnya takdir Tuhan.
Akhirnya, aku berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Membawa sebuah mimpi besarku yang juga berawal dari mimpi-mimpi malam lalu. Tetapi selalu saja, kenyataan hidup membawaku pada keterasingan dan sulit memotret gambaran dunia yang lebih ceria dan indah. Aku menjadi sangat pendiam dan tertutup akan hal-hal apapun, apalagi bila menyangkut kehidupan pribadi. Aku hanya bisa terus menatap pasrah pada hidup dan menyerahkan semuanya pada kehendak Tuhan.
Hari terus berlalu, bulan dan tahun pun berganti, berlomba meninggalkan goresan dalam hari-hariku. Aku terus tumbuh tanpa pengawasan siapa pun. Dunia remaja yang sejatinya adalah dunia bunga mimpi dan harapan. Namun, tak berlaku bagiku, karena memang beginilah aku. Aku hanya mampu memintal keriangan itu dalam anganku. Aku tak bisa menggapai impian besarku, mewujudkan harapan-harapan yang indah.
Sejak menyadari bahwa hidupku hanyalah nyanyi sunyi dalam dunia yang retak dan gamang, aku pun berpikir untuk jadi kupu-kupu, burung atau apa saja yang bisa terbang dan keluar dari lingkaran hidupku yang telah terkoyak. Aku ingin terbang melintasi segala yang ada, termasuk melintasi negeri yang sunyi ini. Negeri yang hampir membuatku hidup tanpa kasih sayang.
Rasanya aku ingin pergi ke taman panjang dan luas, lalu meneriakkan segala kepenatan yang membelenggu jiwaku. Menjeritkan kesepianku yang panjang, yang kerap kali membentuk genangan air yang panjang di mataku. Lelaki yang ingin kupanggil ayah, entah kemana? Dan perempuan yang ingin kudekap lalu menyenandungkan namanya bila malam, juga entah siapa? Yang nyata aku tak bisa terbang, aku tak bisa kemana-mana, aku tetap disini bersama kegamangan, kesepian dan kerinduan akan sosok ibu.
Tahun-tahun yang kulalui hanyalah luka parah, menetes di hari-hari yang membawaku menjalari kehidupan. Kehidupan normal, indah dan ceria rupanya hanyalah bunga mimpi dalam tidur. Yang ada aku semakin terpuruk oleh kenyataan yang tak bisa aku elak.
Dari awal meninggalkan desa kecilku aku menaruh harap bahwa di kota yang nanti akan kutuju, aku bisa menemukan sosok ayah atau ibu. Meski aku tak berniat untuk mencari mereka, aku ingin pertemuan kami adalah suatu kebetulan dan akhirnya mereka bisa menerimaku sebagai anaknya. Aku tak ingin banyak hal dari pertemuan itu, aku hanya ingin memastikan jawaban apa yang mereka akan berikan jika kutanya perihal mereka meninggalkanku bersama nenek.
Aku tak ingin punya bayangan atau khayalan bahwa aku hanyalah anak dari hasil hubungan gelap mereka. Aku tak ingin disebut anak haram, sebab aku tahu persis seperti apa rasanya. Ditinggal oleh mereka, rasanya sudah melampaui tikaman belati. Apalagi bila akhirnya aku harus tahu bahwa aku hanyalah anak yang kehadirannya tak diharapkan. Ah...tidak! Berpikir apa aku ini.
Sekarang umur aku telah menginjak 20 tahun, sudah lama aku meninggalkan desa kecilku dan tak berharap bisa kembali kesana lagi. Sebab, kembali adalah torehan luka yang kian menyayat. Kenanganku banyak tertanam di sana, dan aku tak ingin kenangan itu tumbuh bersama kegamangan yang kurasakan.
Tiga tahun aku habiskan waktu dari satu tempat ke tempat yang lain. Sampai suatu ketika aku bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya yang mengaku kenal ayah dan ibu. Orang tersebut rupanya satu desa denganku, namun telah meninggalkan desa sejak aku pertama kali menghirup nafas di dunia ini. Ia tahu aku karena aku pun menceritakan perihal nenek. Ia lalu menceritakan tentang ayah, kata orang itu ayahku namanya Suparno. Ayah dulunya memang menikahi ibu, namun pernikahan itu berlangsung diam-diam. Sampai akhirnya aku lahir dan karena orang tua ibu tidak setuju atas pernikahannya dengan ayah, mereka pun dipisahkan.
Orang itu pun bilang, ayah dulunya sering mabuk makanya dia tidak diterima di keluarga ibu. Setelah dilahirkan aku pun di ambil paksa oleh ayah dan dititipkan pada nenek sebelum akhirnya ayah pergi untuk merantau. Orang itu juga bilang, bahwa ia tidak tahu persis dimana keberadaan ibu, karena setelah proses kelahiran itu, dia tak pernah lagi mendengar kabarnya. Bahkan orang itu tak tahu siapa nama ibu, yang ia ceritakan hanyalah paras ibu yang katanya cantik dan ayu. Orang itu hanya banyak bercerita tentang ayah, yang menurut informasinya ayah telah menikah lagi dan menetap di kota M.
Aku senang mendengar bahwa ayah masih hidup, meski kini ayah telah beristeri lagi dan mempunyai keluarga yang baru. Aku pun di kasih alamat ayah di kota M oleh orang itu. Setelah berpikir lumayan lama, aku pun memutuskan untuk mencari ayah di kota tersebut. Meski aku tahu, mungkin aku tidak akan diterima oleh ayah dan juga keluarga barunya.
Sampai di kota tujuan, aku pun berjalan sendiri dan bertanya kesana kemari tentang alamat tersebut. Hingga akhirnya aku sampai di sebuah rumah batu yang lumayan besar. Aku sudah menantikan pertemuan ini sejak lama, mungkin dengan bertemu ayah aku bisa bertemu pula dengan ibu.
Apa yang terjadi sungguh di luar dugaanku, yah aku memang sempat bertemu ayah. Namun hanya sekejap dan aku diusir dari rumah itu dengan penjelasan bahwa aku mengada-ada. Meski telah aku jelaskan perihal nenek, ayah tetap tak mau tahu. Beliau mengaku tak punya anak seperti aku. Memangnya aku seperti apa? Aku mengikis air mata dengan punggung tanganku. Langkah gontai menuruti tiap jejak yang kutinggalkan saat pergi dari rumah besar itu. Adilkah ini Tuhan?
Semakin hari aku semakin terpuruk karena kejadian pertemuan itu. Belakangan aku mendapat surat dari teman ayah, katanya itu adalah surat dari ayah untuk aku. Harapan demi harapan mulai membentuk lagi, aku berharap ayah mau menerimaku. Ada rasa takut yang menyeruak begitu saja ketika aku harus membuka amplop panjang berwarna putih itu. Takut kalau-kalau kenyataan justru berbicara tidak sesuai dengan harapanku lagi.
Sejuta keberanian telah kukumpulkan, lalu aku mulai membuka surat itu dan membaca isinya:
”Yah, kamu memang anak ayah. Tapi sekarang kamu sudah besar, sudah bisa menjalani hidupmu sendiri. Jadi ayah harap kamu tidak lagi datang menemui ayah karena itu akan membawa petaka bagi keluarga ayah yang baru. Ayah harap kamu bisa mengerti. Perihal ibumu, ayah pun tak tahu lagi. Jagalah dirimu baik-baik...!”
Membaca isi surat itu, tak lebih hanyalah pukulan keras yang menghantamku. Ayah mengakuiku tapi secara langsung mematahkan semuanya dengan menginginkan agar aku tak menemuinya lagi. Petaka? Petaka seperti apa yang akan terjadi? Sebegitu tidak diinginkannyakah aku oleh ayah, darah dagingnya sendiri? Kalau kenyataannya seperti ini, mungkin lebih baik aku tidak pernah bertemu dengan ayah. Ini terlalu menyakitkan bagiku. Seketika itu juga, harapan-harapanku terbang, lenyap tak berbekas.
Seperti asap yang ditiup angin, ayahku melayang dan hilang dalam sekejap mata. Bayangan tentang hidup bahagia bersama ayah, rupanya hanyalah kekosongan belaka. Dan mungkin memang sejak awal aku tak perlu mencarinya. Inikah kenyataan hidup itu Tuhan? Lalu kenyataan seperti apa lagi yang harus aku lalui? Aku kosong...!
Harapanku satu-satunya yang tersisa saat ini adalah hanya ibu. Impian terbesarku adalah, berumah di mata ibu. Aku ingin bertemu ibu, walau wajahnya sendiri aku tak tahu seperti apa. Tiba-tiba aku teringat pada mimpi-mimpiku beberapa tahun lalu. Tentang aku bertemu dengan seorang perempuan yang mengaku adalah ibu. Mungkinkah benar ibu? Haruskah aku mencarinya? Seperti aku mencari ayah dan harus menerima kenyataan yang sama? Semua pertanyaa-pertanyaan itu seperti tak ada habisnya.
Akhirnya aku hanya bisa menatap pasrah pada hidup, menyerahkan semuanya pada garis yang telah ditentukan. Bila nanti Tuhan inginkan aku berjumpa dengan ibu, toh Tuhan pasti akan mengatur dengan sendirinya. Aku hanya ingin hidup lebih tenang dengan sisa-sisa umur yang kupunya. Bernafas dalam sehari adalah nikmat terindah yang harus kusyukuri. Meski aku harus bermukim dengan kesepian yang tak bertepi.
Hidupku selama ini telah mendapat banyak cobaan, dan pelajaran akan hidup telah banyak pula aku terima. Mungkin sebaiknya aku memang harus pasrah dengan semua keadaan ini. Aku mulai larut dengan duniaku sendiri, tenggelam bersama dan saling mengaduk dalam lingkaran kesepian. Aku mulai mencintai kebiasaan baruku, yaitu menggambar. Dan saat ini, aku tak hanya menggambar di sebuah buku gambar, melainkan aku telah bisa melukis dalam sebuah kanvas putih dengan kuas di tangan.
Aku telah melukis banyak hal, pemandangan, langit, awan, hutan-hutan yang menjadi suram, laut, pelangi dan semua yang ada di sini. Namun satu hal yang selalu tak bisa aku lakukan adalah melukis wajah ibu. Berkali-kali aku mencoba melukisnya, mula-mula melukis bentuk bulat sebuah wajah. Namun, lagi-lagi tak jelas wajah siapa yang kulukiskan dalam kanvas putih itu. Sketsa wajah itu semberawut, aneh, kabur dan tak jelas. Aku tak mengerti, mengapa aku sama sekali tak bisa melukis sebuah sketsa wajah perempuan? Perempuan cantik seperti dalam khayalanku yang kurasa akan menyerupai wajah ibu. Mengapa begitu sulit melukis wajah ibu???

Jeneponto, 17 April 2010

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer arydhamayanti
arydhamayanti at Melukis Wajah Ibu (4 years 23 weeks ago)
100

Maaf, saya sedang mengecek poin.. tolong jangan pedulikan komentar ini yaa.. terima kasih..