Di Ujung Penantian

Sinar matahari memaksa kedua kelopak mataku terbuka
Perlahan rasa hangat menyelimuti seluruh badanku
Dengan mata terbuka, aku meringkup dalam pelukanku sendiri
Pikiranku menerawang jauh
Melamunkan kenangan di masa lalu

: pelukanmu lebih hangat daripada sinar matahari

Aku menepis semua kemungkinan
Kau tidak mungkin kembali
Kau yang meninggalkanku dahulu
Tanpa pesan, tanpa kata
Kuanggap semuanya sudah berakhir saat itu juga

: meskipun aku terus berharap setiap kali ponselku bordering

Raga ini serasa kehilangan arwah
Bahkan mata pun kehilangan kekuatannya untuk tetap terjaga
Namun, yang paling aku takutkan
Hati ini tidak mampu lagi untuk mencinta

: sedikit demi sedikit rasa cinta itu semakin memudar

Pada akhirnya, aku selalu kalah
Harapan itu kembali menerpaku
Membuatku bertanya pada diri sendiri

“Akankah kau kembali?”

“Kau akan, bukan?”

“Aku yakin kau pasti akan kembali membawaku bersamamu.”

: membohongi diri sendiri lebih baik daripada menghadapi kenyataan kau tidak akan pernah kembali

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dewi linggasari
dewi linggasari at Di Ujung Penantian (4 years 8 weeks ago)
90

Ah aku selalu suka, penantian tak berujung yang tdk diketahui kapan akhirnya. Hingga kesabaran dapat menjawabnya. Yoi....

Writer fairynee
fairynee at Di Ujung Penantian (4 years 8 weeks ago)
80

perlu sedikit eksplorasi agar puisi ini tidak terlalu gamblang.
^^

Writer Celestyn
Celestyn at Di Ujung Penantian (4 years 8 weeks ago)
100

Kata demi kata mengalir begitu saja dengan tiba-tiba dlm benak ini.
Semoga kemudianer menyukainya...^^