Selama beberapa saat, yang kurasakan hanyalah keheranan.
Tubuhku lumpuh. Gravitasi menarikku ke bawah. Aku merasa seperti tergantung. Tapi di waktu yang sama, aku merasa ada semacam permukaan di bawah tubuhku yang menjadi tempat aku bertumpu. Sementara kedua mataku terus menatap nanar ke teras ruang kelas di bawah, di mana Maya dan Mariska sama-sama celingukan dengan keheranan untuk mencariku, suara-suara di sekelilingku perlahan tersamar dan memudar.
Keheranan yang kurasakan semestinya berubah menjadi ketakutan. Tapi ketakutan itu anehnya tak kunjung kurasakan.
Read more (2572 words)
Aku dalam bahaya. Akhirnya diriku juga menjadi incaran. Tapi pikiran-pikiran seperti itu sama sekali tidak muncul.
Baru belakangan sesudah memikirkannya lagi, aku tersadar bahwa yang kualami pada waktu itu sesungguhnya suatu pengalaman yang teramat mengerikan.
Sekali lagi kukatakan, aku tahu apa yang berusaha kujabarkan ini terdengar tak masuk akal. Tapi seperti yang sudah kukatakan sebelumnya pula, fungsi otakku tiba-tiba saja sudah menjadi aneh. Maksudku, aku memang bertanya-tanya mengapa aku merasa lumpuh kayak begini. Tapi anehnya, aku sama sekali tak mempermasalahkannya .
Aku malah berpikir bahwa tak ada artinya untuk bertanya-tanya. Sebab toh, semua ini sebenarnya terlalu aneh untuk menjadi nyata.
Ini pasti hanya mimpi atau semacamnya. Kurang lebih begitu.
Nanti juga aku pasti akan terbangun dan sebuah hari yang baru akan dimulai kembali.
Segalanya baik-baik saja.
Segala sesuatu akan kembali berjalan secara normal.
“Jangan bergerak. Jangan berpikir. Jangan merasa.”
Suara yang menyerupai bisikan itu kembali terdengar di telingaku.
Maka lambat laun pula, semakin dalam pula aku jatuh ke perasaan yang menyerupai mimpi.
Pandanganku terhadap lantai teras ruang kelas mulai meredup. Keinginanku untuk bertanya semakin memudar. Suara-suara obrolan para murid yang samar-samar masih terdengar dari setuap penjuru kini sama sekali tak terdengar lagi.
Khayalan liar anehku yang terakhir adalah bahwa aku telah diculik alien untuk ditidurkan selama berabad-abad, untuk dipersiapkan sebagai pilot robot raksasa misterius yang diciptakan untuk menyelamatkan alam semesta dari ancaman kehancuran.
...Keheningan kemudian berlangsung untuk jangka waktu yang tidak dapat kupastikan.
“Nama kamu... Alan Harsoyo Wiraguna?”
Lalu dari balik kelamnya kegelapan itu, sebuah suara yang terdengar asing tiba-tiba saja bertanya.
“Iya, tapi panggilanku Hawe.”
Entah bagaimana aku menjawab tanpa sadar. Seolah refleks. Seolah aku telah diprogram untuk itu tanpa sepengetahuanku.
Pandangan mataku masih terpejam dan yang bisa kulihat masihlah hanya kegelapan.
“Hawe?”Sebuah suara lain terdengar. Kali ini suara perempuan. “Heh? Nama panggilan macem apaan tuh?”
Aku merasa aku harus mengernyit. Tapi sebelum sempat melakukannya...
“Itu cara gampang buat nyebut nama belakangku.”
...kembali, secara tanpa sadar, mulutku menjawab. Dan pikiranku tanpa sadar pula melayang kembali ke jawaban serupa yang pernah kuberikan pada Maya tempo hari, hanya beberapa hari yang lalu.
Sungguh menakjubkan betapa apa yang kualami dalam hidup bisa tiba-tiba saja berubah.
“Sst. Diamlah.” desis suara asing yang pertama. “Aku enggak mau dia ngekhayal tentang orang-orang afro berotot telanjang yang asyik main smack down ama alien lagi.”
Barulah begitu aku mendengar komentar itu, pikiranku tiba-tiba saja ‘menyala.’
A-apa? Tunggu dulu... E-emangnya kapan aku ngekhayal kayak gitu?
“Khayalan itu bener-bener gay, sis. Ngingetin aku ama game lama dari Ma*aya yang judulnya C** A*iki itu.”
Apa?! Woi! Emangnya kamu siapa bisa seenaknya ngomong tentang apa-apa yang kukhayalin!?
“Tapi game itu dulu terkenal loh.” lanjutnya lagi. “Emang gameplay-nya lumayan rame. Dan meski agak bikin jijik, desain-desain bosnya emang ngasi efek lumayan keren. Nih, kukasih screenshot -nya!”
Heh? ‘Screenshot?’
“Iih. Dia menjijikkan!” sahut perempuan itu lagi dengan suara melengking.
Uh... bisakah kau tolong berhenti bicara agar orang-orang lain punya pikiran-pikiran aneh tentangku?
Dari suaranya saja aku bisa membayangkan perempuan itu mengernyitkan wajah.
Sebenarnya apa sih yang sekarang sedang terjadi?!
Dipandang menjijikkan tanpa alasan yang jelas oleh seorang perempuan yang wajahnya sama sekali belum kukenal seketika membuatku merasa ingin menangis.
Brengseek! Apa mau kalian, hah?
“Oh, hei. Pikirannya udah nyala lagi. Dia bahkan udah bisa nyoba maki-maki. Tumben-tumbenan si Jorougumo bisa ngasi bisa dalem dosis yang tepat.”
Barulah saat itu aku tersentak.
Sebuah bayangan yang cukup menakutkan tahu-tahu telah hadir dalam benakku.
Sebuah bayangan yang anehnya, keberadaannya tak kusadari sebelumnya.
Sebuah bayangan yang sebenarnya cukup untuk membuatku merinding.
Orang ini bisa tahu apa yang terjadi di dalam pikiranku....
“Ya, benar sekali, Alan Harsoyo Wiraguna.” sahut si suara laki-laki. “Sebetulnya, kami juga cukup terkesan karena kamu bisa-bisanya menelusuri jejak kami sampai sejauh ini.”
...!?
“Jangan berpikiran untuk berbuat macam-macam, ya.” ucap si perempuan. “Keselamatanmu saat ini sepenuhnya berada di tangan kami.”
Selama beberapa saat, aku tak tahu harus berpikir apa.
Ketakutan tak berdasar merayapi diriku.
Entah dalam urusan apa aku telah melibatkan diri kali ini.
Aku mencoba bergerak, tapi sama seperti halnya tadi, seluruh tubuhku terasa lumpuh.
Aku berusaha melangkah, meronta, menggerakkan tangan—apapun. Tapi aku tetap tak bisa apa-apa. Atau lebih tepatnya, aku tak merasa seperti telah berbuat apa-apa. Rasanya seperti terperangkap di dasar lautan gel yang tiada akhir. Sementara kegelapan yang teramat pekat masih menyelubungi mataku. Namun kegelapan itu kurasa bukan karena mataku tengah dililiti kain atau apa.
Singkat kata, sebagian besar inderaku lumpuh.
Hanya pikiran dan pendengaranku semata yang mungkin, masih bekerja.
Siapa kalian?
“Classified information .” jawab si perempuan menggunakan bahasa Inggris dengan nada merdu yang menggoda.
Apa mau kalian?
“Classified information. ”
Siapa yang menyuruh kalian?
“Classified information. ”
Apa warna celana dalam yang kau kenakan?
“Ih, dasar jijik!”
Tiba-tiba terbayang di benakku sosok perempuan itu menjulurkan lidah sesudah terdengar sebuah bunyi yang teramat mirip bunyi tamparan.
Apa... aku baru saja ditampar?
“Tapi jawabanku masih tetap sama: That’s... classified information! ” tambahnya lagi, kali ini dengan nada genit.
Aku terdiam selama beberapa saat.
Wow. Itu pasti pertama kalinya ada perempuan yang menampar pipiku. Sayang rasa sakitnya sama sekali tak bisa kurasakan. Ini benar-benar sebuah kejadian yang luar biasa.
...
Aku terdiam lagi selama beberapa saat.
Siaaaal! Memang kau pikir dirimu Asahina Mikur*? Ini bukan waktunya melontarkan lelucon!
“Sudah, sudah Bang Hawe. Tenang saja. Tak ada gunanya kamu mencoba. Toh tak banyak yang bisa kamu perbuat selama berada di pusat alam Mindscape yang kubangun. Asalkan kamu menunjukkan sikap bekerjasama, kami jamin nyawamu, dan nyawa orang-orang yang berada di sekeliling kamu, berada dalam keadaan aman. Yah, aman dari tangan-tangan kami seenggaknya.”
Mindscape?
Begitu istilah itu kudengar, secara spontan aku berpikir. Tapi pemikiranku itu terputus saat aku merasa ada hal lain yang menggangguku, dan baru belakangan kusadari bahwa itu karena tiba-tiba saja si suara laki-laki memanggilku dengan sebutan ‘Bang.’
Tapi sekejap kemudian aku merasa bahwa bukan itu yang semestinya kupikirkan saat itu. Orang ini, siapapun dia, baru saja melontarkan sebuah ancaman. Itu yang semestinya sekarang kupikirkan. Tapi seperti yang sebelumnya sudah kubilang, fungsi otakku entah mengapa menjadi sudah aneh.
“Eh, jadi kamu keberatan dipanggil ‘Bang?’ Lebih suka dipanggil apa nih jadinya?”
“Gimana kalo Sebastian? Biar kedengaran kayak butler?” timpal si perempuan lagi.
Argh, sudahlah.
“Hawe aja udah cukup.” jawabku lagi tanpa sadar.
...!?
“Iya, seperti yang sudah kamu duga. Mulut dan otak kamu secara otomatis telah dibuat bereaksi terhadap setiap pertanyaan yang kami ajukan. Tapi butuh suatu tingkat kesadaran tertentu untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan memori masa lalu.” Si suara laki-laki kembali menjelaskan begitu merasakan pikiranku yang tertegun. “Itulah mengapa sesudah kamu dibius, sampai ke tingkatan tertentu, pikiranmu itu mesti kami ‘nyalakan’ kembali.”
Di-dibius?
“Tapi berbeda dengan bius, ketahanan mental dan keteguhan tekadmu sama sekali tidak ada artinya di dalam Mindscape. Kamu tak punya pilihan lain selain bekerjasama, Hawe.”
“Gitu ya?”
Hening tahu-tahu telah berlangsung kembali selama beberapa lama. Kembali aku bertanya-tanya tentang apa sebenarnya yang tengah terjadi.
Lalu dari balik kegelapan itu, rentetan pertanyaan itupun datang. Jawaban demi jawaban tahu-tahu saja telah tersembur keluar dari mulutku tanpa dapat kutahan.
“Apa kamu tahu kami siapa?” tanya si lelaki.
“Tidak.”
“Apa kau bisa bahasa Inggris?” tanya si perempuan.
“Bisa.”
“Apa yang kau lakukan di Manikarca kemarin malam?” tanya si lelaki.
“Menelusuri jejak.”
“Jejak?” tanya si perempuan.
“Lebih tepatnya, petunjuk.”
“Dari?”
Aku tak menjawab.
“Apa yang kau cari di sana?” tanya si lelaki.
“Orang yang mungkin berada dalam bahaya. Mayat.”
Hening sejenak.
“Mayat?” tanya si perempuan. “Bagaimana bisa kamu berpikiran di Manikarca ada mayat?”
“Karena siang harinya ada mayat.”
“Siang... harinya?” tanya si lelaki.
“Kata para polisi...”
“Di mana?” tanya si lelaki lagi.
“Di rumahku. Mereka mendatangiku untuk meminta keterangan soal mayat itu. Yang lehernya tersobek.”
“Kamu... lihat mayat itu? Secara langsung, maksudku?” tanya si perempuan sesudah terdiam selama beberapa saat.
“Tidak.”
“Di mana kau mendengar mayat itu ditemukan?” tanya perempuan itu lagi.
“Aku...” Hanya selama sekejap saja, aku merasa otakku berpikir. “Aku enggak bisa inget nama jalannya.”
Bahwa mulutku terus bekerja tanpa dapat kukendalikan, membeberkan segala sesuatu yang terpendam di dalam ingatan dan pikiranku, merupakan suatu hal yang sangat menakutkan sekaligus mengganggu.
Tapi anehnya, sekali lagi, membatinku bahkan aku tak sanggup.
Apa mereka kembali melakukan sesuatu padaku selama kesunyian tadi?
Selama proses tanya jawab yang entah berlangsung selama berapa lama itu, aku hanya bisa terus menjawab dan menjawab, tanpa dapat berpikir ataupun mencerna.
Dari sanalah aku sedikit tersadar akan emosi apa yang seharusnya sejak tadi kurasakan.
Ketakutan.
Ketakutan bahwa entah bagaimana aku berurusan dengan orang-orang yang berbahaya.
Orang-orang berbahaya yang abnormal dan sama sekali tidak biasa .
Abnormal dalam artian apa, pada tahap ini, aku belum bisa menjelaskan. Tapi keabnormalan itu sudah mencapai taraf yang cukup untuk membuatku percaya bahwa nyawaku jelas-jelas mungkin terancam...
“Awal mula kamu bisa ada di jalan itu gimana?” tanya si lelaki. “Di jalan kamu menemukan mayat itu?”
“Menelusuri jejak.”
“Jejak?”
“Lebih tepatnya, petunjuk.”
“Dari mana petunjuk itu kau temukan?” tanya si lelaki lagi.
“Dari grafiti aneh di atas mejaku yang ada di kelas. Grafiti itu kayaknya semacam sandi.”
Hening kembali untuk beberapa lama. Hanya saja, pada kali ini, aku samar-samar merasa mendengar pembicaraan pribadi antara mereka berdua.
“Kok pas pertama aku tanyain dia diem, tapi pas kau tanya lagi dia jawab?”
“Pas pertama kamu tanyain, dia ngasumsi kalo kita ngeharepin jawaban berupa orang, sis! Kadang pola-polanya emang jadi aneh kayak gitu...”
“Tapi grafiti ? Maksudnya, coretan-coretan di atas meja?”
“Aku juga masih belum ngerti soal itu.”
“Kau yakin dia belum tahu tentang kita?”
“Yakin. Cuma...”
“Cuma?”
“Kamu lihat sendiri. Kayaknya si Hawe ini agak berbeda dari orang biasa.”
...?
Sesudah itu, suara-suara tersamar mereka kembali tenggelam di balik kegelapan.
Aku tak terlalu bisa memahami apa yang mereka bicarakan.
Pembicaraan pribadi mereka itu berlangsung secara singkat dan teramat cepat sehingga pikiranku tak sempat bertanya-tanya. Tapi sesudah suara-suara mereka tak terdengar lagi, pikiranku sudah dipenuhi sepenuhnya oleh tanda tanya.
Sial. Aku hanya bisa bilang bahwa semua ini sudah terlampau aneh sekalipun dengan faktor Haruhi-isme dipasang kuadrat. Kurasa aku bahkan sudah melampaui garis asimtot yang menjadi batas yang tak mampu dilampaui oleh persamaan garis Kyon dengan faktor apapun. Kurasa sesaat lagi aku akan tiba di daerah histerisis di mana segala sesuatu dalam artian yang paling mendasar benar-benar akan memiliki kemungkinan untuk terjadi.
Sial. Aku malah ngomongin apa sih?
Sudahlah. Susah menggambarkan apa yang kumaksudkan.
Lalu tanpa peringatan, rentetan pertanyaan itupun datang lagi.
“Kamu menggemari kebudayaan visual modern Jepang?”
“Lumayan.”
“Kau koleksi media porno?”
“Enggak.”
“Kamu bisa main musik?”
“Sama sekali enggak.”
“Tapi kau pasti pernah karaoke ‘kan?”
“Pernah.” Spontan, suatu perasaan hangat aneh melanda waktu aku teringat saat Mariska menyeret sejumlah anak di kelas termasuk diriku untuk ikut menyanyi karaoke bersamanya.
“Keluargamu masih lengkap?”
Pertanyaan-pertanyaan itu masih terus datang dan datang.
Aku kurang bisa menjelaskannya, tapi pada titik itu, baru aku sadar kalau aku sudah kehilangan kemampuanku untuk berpikir.
“Apa kau bisa dipercaya?”
“Tergantung siapa yang bertanya.”
“Seandainya ada seseorang yang mempercayakan padamu suatu rahasia, apa kamu akan menjaganya secara baik-baik?”
“Ya, kecuali bila ada keadaan di mana rahasia itu mesti diketahui bila orang bersangkutan mau ditolong.”
“Apa kau subjektif?”
“Lumayan.”
“Apa kamu selama ini pedulian dengan apa-apa yang dikatakan orang lain?”
“Sebenernya enggak terlalu.”
“Sebutkan orang-orang yang paling berarti dalam hidupmu.”
“Adikku dan kedua ortuku.”
“Apa kau punya pacar?”
“Enggak.”
“Gimana dengan Mariska? Atau Maya?”
“Aku...”
“Apa kamu akan menolong orang-orang asing yang kamu temui di jalan.”
Pertanyaan-pertanyaannya mulai aneh.
“Mau. Meski belum tentu aku bisa bantu.”
“Apabila di depanmu ada orang yang nyawanya terancam, apa secara spontan kau akan melindunginya?”
Aku tak lagi bisa membedakan mana yang kenyataan dan mana yang mimpi.
“Besar kemungkinan, iya.”
“Sekalipun dia cewek dengan muka paling jelek yang pernah kamu lihat?”
Ada... jeda beberapa jenak sebelum mulutku menjawab pertanyaan ini.
“Kalo yang jelek cuman mukanya aja, ya.”
“Cuman mukanya aja, ya?” Dari suaranya, si interogator lelaki terdengar seperti terkesan.
Si perempuan untuk beberapa lama terdengar tak bersuara.
“Kamu orang yang menarik juga ya, Hawe? Kalo gitu, aku akan berbagi padamu sebuah rahasia.”
Rahasia?
Ting!
Lalu seperti begitu saja, seisi pikiranku serasa ‘menyala’ kembali. Namun kali ini bukan hanya pikiranku; indera-inderaku yang sebelumnya terkunci pun kini kembali.
Nafasku, udara serasa memenuhi paru-paruku.
Jantungku berdetak. Denyutannya terasa di nadiku.
Aku merasakan suatu sensasi menakjubkan yang aneh: perasaan lega tak terbayangkan yang menjalari seluruh serat saraf yang ada di tubuhku. Darahku mengalir. Seluruh organ tubuhku yang tak pernah kusadari bekerja sebelumnya, entah bagaimana kini kurasakan dengan teramat mendetil. Seakan melayang. Seakan terlahir kembali. Seakan telah dipersiapkan dari dalam dan luar untuk menghadapi suatu hal yang luar biasa.
Dan saat kusadari pelupuk mataku yang terpejam bisa kubuka, suatu pemandangan luar biasa-lah yang pertama kulihat.
“Whoaa!”
Cahaya... bola cahaya raksasa berpendar berwarna biru... Susah sekali mengungkapkannya bila kau belum pernah melihatnya dari sudut pandang yang kulihat...
Yang kulihat saat itu adalah dunia... Bola dunia berkilau perak planet Bumi...
Saat aku membuka mata, aku mendapati diriku melayang-layang di luar angkasa.
“A-apa?! Who-whoaaa!”
Ya. Luar angkasa. Secara harfiah.
Dengan syok kudapati diriku dikejutkan oleh cepatnya rotasi bintang-bintang dan Bumi. Aku merasa melihat sumber cahaya menyilaukan di kejauhan sana yang nampaknya disebut matahari. Aku melihat bulatan-bulatan raksasa lain dengan pola permukaan meriah yang pastilah planet-planet lain. Lalu permukaan putih gelap tandus yang secara perlahan kudekati sekarang, pastilah apa yang disebut sebagai Bulan.
Aku ketakutan saat mendapati perputaran tubuhku tak dapat kukendalikan.
Tapi anehnya, aku masih bernafas.
Tapi anehnya, aku belum mati terkena radiasi matahari langsung yang kudengar sangat berbahaya bagi semua makhluk hidup.
Tapi anehnya pula, semua ini pasti bukan mimpi karena aku tak menemukan kapal ruang angkasa para alien yang menculikku untuk dijadikan pilot robot raksasa.
Lalu dari belakangku, tiba-tiba saja kudengar sebuah suara tawa tertahan.
Aku menoleh.
Seorang pemuda tampan, mungkin di rentang usia mahasiswa, berdiri di belakangku. Ia mengenakan celana panjang abu-abu dari bahan katun serta jumper berpola sederhana yang tampaknya merupakan hasil rajutan sendiri. Wajah dan senyumannya ramah. Rambutnya ditata dengan potongan yang sangat pendek.
Tunggu. Mungkin ‘berdiri’ bukan kata yang tepat. Mengingat tak ada permukaan apapun yang kami pijaki mengingat kami berada di luar angkasa.
“Kamu... ternyata beneran orang yang ga tau apa-apa.” ucapnya, sembari tersenyum geli. “Tapi kamu sedemikian sialnya sampai-sampai bisa terlibat dengan orang-orang seperti kami.”
Aku kenal suaranya. Ini jelas suara laki-laki yang sejak tadi menginterogasiku.
Lalu raut wajahnya berubah menjadi sedikit serius.
“Karena keadaan sudah terlanjur basah begini, aku mewakili teman-temanku ingin mengajukan sebuah penawaran untukmu.”
Penawaran?
“Hei Hawe. Apa kamu... sedikit aja, punya kepedulian terhadap kenyataan sesungguhnya yang tengah terjadi di dunia ini?”
Maka demikianlah, interaksi pertamaku dengan orang-orang berkemampuan ajaib yang kemudian melibatkanku dalam peperangan rahasia yang akan menentukan kelangsungan seluruh makhluk hidup yang ada di dunia ini.
hosh2, udah baca mulai prolog.
ceritanya seru dan unik :)
tapi kok alurnya terasa lambat ya *jangan didengerin, mungkin ini cuma perasaanku aja* :p
.
btw, ini cerita buat nanowrimo ya, keren, saya belum pernah ikutan event itu ^^
kau serius baca dari awal? whuaa, aku ga tanggung akibatnya loh. secara pribadi cerita ini kubikin dengan niat asal jadi aja sih, karena emang dimaksudkan buat nanowrimo yang ngitung jumlah kata aja. cuman gagal. T.T
trims udah baca.
waw ceritanya jadi gini
keren kk!!
Kamu ga perlu kagum. Perkembangan cerita ini kubuat dengan bener-bener seenaknya.
Tapi thanks.
Aku pikir tentang penyihir,, waktu baca judulnya.
Keren...
Pikiranmu ga sepenuhnya salah...
Thanks.
Wakakakak Classified Information! Haruhi banget nih...
Ckckck jadi pengen baca lagi Light Novelnya..
Ah..kk Alfaritsi..komenin DOZING GREEN saya duong!
...
Thanks. Udah kubaca dan kukomenin kok. Aku selalu kagum ama semangatmu Smith!
Semangat pastilah! Sayakan [classified information]
dan termasuk [classified information] yang memiliki peran [classified information] meskipun takdir telah memberitahu kami bahwa [classified information]
...
Paragraf2 awalnya cukup payah, tapi yah cuma itu, berikutnya BAGUS. Aku harus mengucapkan selamat padamu...
-
Tidak... menyebalkan sekali kau jadi yang pertama memakai As*hina Mikur* dalam cerita...
-
Oh ya... apa cuma itu kualitas yang dibutuhkan untuk jadi 'Hero' -___-, ayo-ayo beri sedikit penjelasan yang lebih menarik.
-
Dan aku tak pernah tahu bumi terlihat perak jika dilihat dari luar angkasa...
-
Hmmm juga ada beberapa 'narasi' si Hawe yang agak 'lame' kalau kau tahu maksudku...
-
Kau bener. Di paragraf pertama aku agak kesusahan karena pengen ada sesuatu yang tetep ngubungin ini dengan bab sebelumnya. Jadi aku bikin seadanya aja.
Kau bener lagi. Narasi si Hawe emang agak 'lame,' tapi aku ga sepenuhnya tau maksudmu, dan mungkin ada baiknya aku ga langsung tau.
Kualitas buat jadi Hero? Iya juga ya. Orang bakal mikir ke arah sana. Tapi maksudku bukan ke arah sana kok.
Bumi keliatan perak karena warna awan. Tapi sejujurnya aku juga ga tau.
Thanks.
nice
You think?