Marriage Time

Lagi-lagi aku harus mendengarkan ocehan Papa dan Mama yang sudah mereka ulangi tiga kali sepanjang minggu ini. Apa mereka tidak lelah terus-terusan mengulangnya? Aku saja yang mendengarnya sudah muak.

Ini sudah saatnya kamu menikah. Kapan kamu mau menikah? Sudah bertemu pasangan yang tepat belum? Apa tidak bosan jadi bujangan terus? Papa dan Mama sudah nggak sabar mau nimang cucu nih. Variasi kalimat semacam itulah yang terus mereka lontarkan padaku. Semuanya selalu kujawab dengan nada malas.

Bukannya aku tidak mau terikat dalam sebuah pernikahan. Hanya saja aku tidak mau terburu-buru, tidak mau menikah jika alasannya hanya karena terus didesak orang tua. Tidak mau menikah karena alasan waktu. Tidak mau menikah hanya karena usiaku sudah dua puluh sembilan tahun, usia yang menurut orang-orang sudah kurang pantas menjadi bujangan lagi.

Aku juga tidak mau menikah jika belum menemukan sesosok wanita yang bisa membuatku yakin bahwa ia memang tercipta untukku, juga sebaliknya. Aku untuknya. Ia untukku. Kami untuk kami.

Ya, aku Flott Rodiart memang terdengar idealis mengenai pernikahan. Tapi aku tak peduli. Ini pernikahanku. Bukan pernikahan orang tuaku. Bukan pernikahan kalian semua yang mentang-mentang sudah menikah jadi memaksa-maksaku menikah.

Lagipula rasanya aku sebal jika harus bersikap seperti orang-orang lain yang sejak kuliah begitu bernafsunya mencari jodoh. Hingga setiap hari yang dibicarakan mengenai pacar saja. Kurasa mereka semua takut menjadi bujangan lapuk atau perawan tua.

Cinta bukanlah untuk diekspos. Cinta adalah milik pribadi yang intim. Sesuatu yang menjadi rahasia manis pasangan yang berbahagia.

Sesungguhnya juga alasanku belum menikah adalah karena menunggu sinyal-sinyal yang kuharap segera muncul dari wanita di hadapanku ini. Wanita yang sibuk mempresentasikan desain produk terbaru perusahaan.

Dlyanne Smuras. Lian. Wanita yang berhasil mengalihkan seluruh duniaku hanya padanya. Seluruh khayalanku. Seluruh pekerjaanku. Seluruh makananku. Seluruh waktuku.

Aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku terlalu pengecut untuk bisa menerima kenyataan jika nantinya dia menolakku. Aku terlalu takut untuk mencaritahu secara langsung bagaimana sebenarnya perasaannya padaku.

Tiba-tiba matanya terarah padaku. Aku mulai merasa salah tingkah. Kulirik kanan dan kiri. Ternyata berpasang-pasang mata lainnya juga memandangiku. Ada apa memangnya?

“Pak Flott, bagaimana menurut anda? Apakah kemasan produk ini sudah cukup menarik? Kami hanya tinggal menunggu persetujuan Bapak.”

Kelihatannya aku terlalu lama melamun.

* * *

Malam ini hujan turun dengan derasnya. Jalanan begitu macet pula. Aku begitu bersyukur tidak sedang mengendarai mobil bertipe manual karena pasti rasa penat kakiku akan berlipat ganda.

Aku mencoba mencari jalan pintas yang agak sepi, berharap bisa lebih cepat sampai ke apartemen. Namun kelihatannya usahaku itu mengarah pada sebuah kesialan besar.

Mobilku mendadak berhenti. Mesinnya tidak mau menyala.

Aku turun dari mobil setelah membuka kap mobil dengan menekan tombol yang ada di dalam mobil. Kuangkat kap mobil, mencoba mengecek satu-persatu keadaan mesin. Berusaha mengutak-ngatik mesin dengan sok tahunya.

Biasanya supir keluarga kami yang melakukan pengecekan rutin sebulan sekali.Tapi kelihatannya mobil ini belum dicek. Sial. Sial. Sial. Di jalanan yang bukan jalan raya ini sepertinya sulit mencari bantuan.

Sebuah mobil Toyota Yaris berhenti tepat di depan mobilku. Sesosok wanita keluar dari dalamnya tanpa memayungi dirinya. Kupandangi wanita yang berpakaian ala kantor itu.

Lian. Ternyata Lian. Mengapa di saat genting seperti ini yang muncul malah Lian? Konyol sekali jika Lian melihat kerepotanku saat ini.

“Flott. Kenapa mobil kamu? Mogok ya?” tanyanya lembut

“Oh, iya nih. Tiba-tiba aja berhenti. Aku udah ngecek-ngecek barusan. Kayaknya semua oke-oke aja deh,” jawabku kikuk

Dia langsung menyibukkan diri di balik kap mobilku. Mencoba mencaritahu apa penyebab mobilku mogok.

“Sedia air aki?” dia mengangkat wajahnya, menatapku ketika bertanya

“Ada di bagasi mobil,” aku segera melesat ke bagasi untuk segera mengambil botol air aki yang dia minta. Kuberikan botol akinya cepat-cepat padanya. Dia mengisi tangki aki lalu menutupnya. Dia juga menyerahkan kembali botol akinya padaku.

“Beres! Cuma kurang air akinya aja kok!” ujarnya senang, bersemangat. Ternyata hanya karena kurang aki? Malu sekali aku. Betapa bodohnya tidak tahu kalau aki mobilku kurang sehingga mobilnya mogok.

“Terima kasih, Lian,” ucapku malu-malu namun tulus.

“Sama-sama” balasnya singkat sambil tersenyum manis.

Kami berdua diam. Terhanyut dalam tatapan kami. Aku menatapnya. Dia menatapku. Keheningan menyelimuti kami karena hujan tidak lagi turun. Tidak ada lagi yang bersuara. Selain suara degup jantungku yang semakin cepat.

“Lian, aku mau ngomong sesuatu. Sudah lama aku mencoba mengartikan perasaanku padamu. Semakin lama aku semakin yakin bahwa perasaanku ke kamu adalah cinta. Mungkin ini terlalu mendadak buat kamu, tapi aku ingin tahu perasaan kamu ke aku gimana. Apa kamu mau menjadi kekasihku?” kuberanikan diri menyatakan semuanya, bahkan memintanya menjadi kekasihku.

“Flott, tunggu sebentar.” Lian mengeluarkan cermin lipat dari tas tangannya. Kemudian membukanya lalu mengarahkannya padaku.

Sial. Wajahku penuh dengan noda hitam. Sepertinya ini akibat aku terlalu dekat mengecek mesin-mesin itu dan tanpa sadar memegang-megang muka dengan tangan yang kotor.

Mana mau Dlyanne Smuras yang begitu dewasa menerimaku yang berwajah cemongan ketika menyatakan cinta sebagai kekasihnya?

* * *

Satu tahun kemudian,

Malam ini adalah malamku. Malam milikku dan pengantinku. Malam penuh kebahagiaan semua pihak yang sudah menunggu-nunggu saat ini. Saat pernikahanku. Saat aku sudah tidak lagi lajang. Saat aku sudah resmi menjadi suami dari seorang wanita.

“Flott, Papa dan Mama senang sekali akhirnya kamu bisa menikah juga. Apalagi kamu menikah dengan wanita yang sesuai kriteria Mama,” bisik Mama di telingaku saat kami semua sedang sibuk menyalami tamu-tamu di atas panggung.

“Ini karena aku juga sudah bosan mendengar desakkan Mama untuk segera menikah,” sahutku dengan suara pelan sebelum dicubit perutnya oleh Mama

Aku kembali tersenyum. Bahagia dengan semua ini. Bahagia dengan saat pernikahanku. Momen-momen pernikahanku yang tak akan pernah kulupakan sampai akhir hidupku nanti.

Kutatap wanita yang kini sudah resmi menjadi istriku. Wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku.Wanita yang akan mendampingiku seumur hidup. Wanita yang akan menemaniku hingga kami sama-sama tua nanti.

Untungnya wanita itu bukan wanita lain. Bukan wanita yang tak kukenal. Bukan wanita yang tak kuinginkan. Bukan wanita pilihan orang lain di luar pilihanku.

Wanita itu adalah Dlyanne Smuras. Wanita yang setahun lalu resmi menjadi kekasihku. Wanita yang sanggup membuatku jatuh cinta setiap hari. Wanita yang selalu membuat kejutan-kejutan manis. Wanita yang tak akan pernah berhenti kupuja.

Satu lagi, ia wanita yang menerima cintaku setelah memperlihatkan wajahku yang penuh noda hitam.

Biarkan orang mau berkata apa. Aku tak peduli aku menikah dalam usia tiga puluh tahun. Aku bahkan tidak peduli jika harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan saat pernikahan seperti ini.

Saat pernikahan dimana pada karangan-karangan bunga tertulis besar-besar nama Flott Rodiart dan Dlyanne Smuras. Saat pernikahan ketika aku bisa tersenyum bahagia sambil menggenggam erat tangan istriku. Juga saat pernikahan ketika MC menginstruksikanku untuk melakukan wedding kiss dengan Lian.

Kulirik kembali wajah istriku yang tampak begitu memikat dalam gaun pernikahannya. Wajahnya tampak berseri-seri dan begitu bahagia. Kugenggam tangannya. Kutatap dalam-dalam wajahnya.

"Kamu capek, Lian?"

"Nggak, aku terlalu bahagia untuk sekedar ngerasa capek,"

Kata-katanya itu membuatku tersentuh. Dia bahagia. Aku bahagia. Inilah yang selama ini kami cari. Kebahagiaan. Kali ini diwujudkan dengan pernikahan kami. Kusapukan pelan bibirnya yang lembut dengan bibirku ini. Tak cukup puas dengan momen wedding kiss tadi.

Ciuman kami berlangsung panjang. Lupa dengan semua tamu yang hadir, mereka semua kini sedang bertepuk tangan dengan riuh menikmati pemandangan di hadapan mereka. Aku tak peduli. Kami tak peduli.

Inilah kebahagiaan kami.

Well, marriage time is not when other people think it’s the time for you to get married. Marriage time is when you finally can get married with someone suits you. Someone who will stand by your side wherever you are.

21.19
Minggu, 25 Oktober 2009
Calvin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer aphrodite
aphrodite at Marriage Time (8 years 46 weeks ago)
90

temanya simpel tapi inspiratif :D
ah, sepertinya saya suka ama cerita2mu kak ^^
ditunggu cerita berikutnya~

Writer Calvin
Calvin at Marriage Time (8 years 46 weeks ago)

Makasih lagi, aphrodite. :))
Aku senang kamu mampir ke lapakku.
Semoga cerita2ku yang lain tidak mengecewakanmu.

Writer Chie_chan
Chie_chan at Marriage Time (8 years 46 weeks ago)
80

halo kak calvin. sebelumnya, tengss atas komen-komenmu di lapakku. :)
.
aku setuju sama kakak panah. kalau sepengelihatanku sih memang temponya agak kurang rata. ada juga beberapa typos seperti hilangnya tanda baca dari akhir kalimat, dst. beberapa istilah juga kudapati tidak sesuai eyd, kayak misalnya 'cemongan.' kusarankan dirimu cari istilah yang lebih formal lagi.
.
aku suka temanya. sederhana. coba kalau kata-katanya dibikin lebih puitis lagi, kupikir akan ngena sekali. :)
.
kip writing~

Writer Calvin
Calvin at Marriage Time (8 years 46 weeks ago)

halo juga chie-chan. :)
mungkin seharusnya aku yang harus memanggilmu kakak.

iya, akan kuperhatikan masalah2 teknis seperti penggunaan EYD.
Karena sesungguhnya aku juga tidak suka kesalahan2 teknis seperti itu dalam suatu tulisan.

Terima kasih juga sudah berkunjung ke ceritaku.

=)

Writer panah hujan
panah hujan at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)
80

Temponya terlalu cepat.

Writer Calvin
Calvin at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)

iya, mungkin karena idenya yang memang simpel.
Makasih loh, sarannnya, panah hujan.
=)

Writer Alfare
Alfare at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)
100

Sangat simpel. Tapi cukup keren.

Writer Calvin
Calvin at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)

Terima kasih, Alfare.
=)

Writer musthaf9
musthaf9 at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)
90

"Bukan pernikahan kalian semua yang mentang-mentang sudah menikah jadi memaksa-maksaku menikah." wekekeke, bukan aku lho :D

Writer Calvin
Calvin at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)

hahaha.
=P

Writer Whieldy_mirza
Whieldy_mirza at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)
100

Mirza suka ini, nggak ada komentar ataupun saran. Menurut Mirza, ini sudah bagus :)

Writer Calvin
Calvin at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)

Makasih Mirza udah suka sama cerita ini.
Semoga pesannya sampai di Mirza ya..
=)

Writer H.Lind
H.Lind at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)
90

Aku suka sama ceritamu. Terutama saat kau tulis "Aku untuknya. Ia untukku. Kami untuk kami."

Writer Calvin
Calvin at Marriage Time (8 years 47 weeks ago)

Makasih H. Lind.
Tunggu cerita berikutnya ya.
=)