Zheik, The One With Power - 5th Scroll Chapter 1

Gulungan V
Samudera Airot, Hari ke-19, Bulan Siwali, Tahun 514.

Kapal perang Amukhasa, kapal perang kerajaan Bés Yua yang dipimpin Jenderal Einar yang memimpin enam kapal perang lainnya berlayar dengan tenang di Samudera Airot, samudera yang berada di antara Virotia dan Avalon. Tidak ada kejadian yang aneh sejak keberangkatan tujuh kapal perang kerajaan Bés Yua ini dari pelabuhan Sahna. Sampai siang ini semua terlihat seperti biasa, semua terlihat normal.

Beberapa prajurit mengerjakan tugas masing-masing, sebagian mengurus layar utama, ada yang membersihkan kapal, beberapa lagi memeriksa meriam-meriam kapal. Amukhasa merupakan kapal perang terbesar yang dimiliki kerajaan Bés Yua. Kapal ini memiliki peralatan perang yang paling lengkap dibanding kapal perang kerajaan Bés Yua lainnya.

Di bagian samping kanan dan kiri badan kapal Amukhasa terdapat masing-masing lebih dari sepuluh meriam besar. Sementara di bagian belakang kapal tiga meriam yang sedikit lebih besar menampakkan diri seakan-akan berkata ”aku juga bisa menyerang dari arah belakang”. Sedangkan di bagian depan terdapat meriam kapal terbesar yang pernah ada di Hyrnandher, meriam itu bisa menembakkan tiga peluru sekaligus. Banyak armada kapal lain yang takut dengan meriam yang diberi nama ”Cerberus”, anjing berkepala tiga yang ada dalam legenda.

Selain meriam Cerberus, di bagian samping kanan dan kiri terdapat sepasang penyembur api dengan bentuk ukiran kepala naga, seakan-akan mendampingi meriam Cerberus. Memang meriam Cerberus punya kekuatan penghancur yang sangat hebat, namun kekurangannya adalah dia mempunyai kecepatan yang setengah kali lebih lambat dari pada meriam biasa. Tentu hal ini akan menjadi kendala saat berperang dengan kapal yang memiliki meriam yang cepat. Untuk itulah sepasang penyembur api mendampingi, meriam manapun tentu tidak akan ada yang bisa mengalahkan kecepatan penyembur api meskipun daya hancurnya seperti meriam.

Layar utama yang berwarna putih telah dipasang. Lambang kerajaan Bés Yua terpampang di layar utama masing-masing kapal. Pagi ini angin berkencang dengan kekuatan dan arah yang tepat sehingga memudahkan perjalanan menuju kerajaan Fletchia.

Dua siang telah terlewati sejak kapal perang-kapal perang kerajaan Bés Yua yang dipimpin Jenderal Einar berangkat menuju Fletchia. Seekor Elang pembawa pesan singgah di Kapal Perang Amukhasa, Elang pembawa pesan yang dikenali sebagai milik Pangeran Mikaél.

Seorang prajurit memanggil Elang itu dengan memberikan isyarat berupa siulan, sang Elang rupanya sudah mengerti dengan tanda yang diberikan, Elang itu sudah dilatih dengan baik. Segera saja sang Elang hinggap di tangan kiri prajurit yang bersiul. Dengan tangan kanan, prajurit mengambil gulungan kertas kecil yang berisi pesan. Dengan segera dia membaca pesan itu, pesan yang meminta agar Amukhasa untuk menunggu di Fletchia pada saat menjemput Yang Mulia Raja. Pangeran Mikaél meminta agar menunggu kedatangan mereka di Fletchia karena ada hal penting yang harus dia lakukan di Fletchia.

Jenderal Einar memberikan balasan dengan mengirimkan kembali Elang pembawa pesan. Sementara Jenderal Einar dan seluruh pasukan serta si Elang pembawa pesan tidak mengetahui apa yang terjadi pada kapal perang Atros.

Seorang prajurit yang sedang berjaga-jaga di menara pengawas kapal Amukhasa melihat ada benda yang terombang-ambing beberapa kaki dari kapal. Dengan menggunakan teropong panjang, prajurit itu mengamati dengan dengan benda yang terombang-ambing tersebut.

”Jenderal, ada seseorang yang terapung sekitar 400 kaki ke arah utara. Saya tidak tahu apakah dia seorang inland atau iexian, saya juga tidak tahu adalah dia masih dalam keadaan hidup atau tidak.” prajurit itu memberikan laporan kepada Jenderal Einar yang berada di anjungan kapal.
Jenderal Einar mengambil teropong miliknya, sebuah teropong berwarna emas. Teropong itu memang tidak panjang seperti milik prajurit, namun punya daya penglihatan yang sama. Jenderal Einar mempertajam matanya saat bayangan yang terlihat di lensa teropong masih dalam keadaan buram. Jenderal Einar melihat seorang pemuda sedang terapung di lautan luas itu. Hanya dengan berpegangan pada sebatang kayu.

Jenderal Einar memerintahkan pengemudi kapal untuk mendekat ke arah pemuda. Beberapa prajurit berteriak memanggil pemuda itu. Namun berkali-kali dipanggil tetapi pemuda itu tidak menyahut. Prajurit-prajurit yang memanggil menduga pemuda itu sedang dalam keadaan pingsan.

Jenderal Einar memperhatikan pemuda tersebut, segera dia memerintahkan beberapa prajurit untuk menolong. Dua orang prajurit dengan sigap menurunkan sebuah perahu kecil untuk menyelamatkan pemuda itu. Perahu kecil milik kapal perang Amukhasa meluncur ke arah pemuda sang pemuda.

Pemuda itu terombang ambing di atas laut tanpa menyadari keadaan di sekitarnya. Dia tidak pingsan sepenuhnya. Mata masih bisa melihat walau dengan jarak dan pandangan yang sangat minimal. Entah berada dimana dia tidak mengetahuinya, semua tenaganya sudah habis, tidak ada kekuatan sama sekali, yang bisa dicerna otaknya hanyalah dia sedang berada di daerah yang berair, sangat banyak dengan air, penuh dengan air. Pemuda itu bisa merasakan badannya mengambang terseret mengikuti arah ombak. Sebelum benar-benar pingsan, si pemuda bisa melihat dengan pandangan buramnya, sebuah bayangan mendekat. Setelah itu semuanya menjadi biru bercampur terang dan akhirnya berubah menjadi gelap.

Dua orang prajurit yang diperintahkan Jenderal Einar mendayung dengan cepat perahunya. Dan tepat sesaat sebelum pemuda tenggelam sepenuhnya, salah seorang dari prajurit itu berhasil menangkap pergelangan tangan kanan si pemuda yang masih berada di atas permukaan laut saat pemuda itu perlahan tenggelam. Prajurit itu mengangkat si pemuda ke atas perahu tanpa kesulitan. Tidak berapa lama perahu kecil itu kembali menuju kapal perang Amukhasa.

”Bagaimana keadaannya?” tanya Jenderal Einar pada seorang yang sedang memeriksa pemuda yang baru saja dinaikkan ke atas kapal. Pemuda itu dibiarkan berbaring di atas lantai kapal untuk diperiksa secepatnya.

”Dia pingsan. Tapi keadaannya tubuhnya tidak terlalu baik. Sepertinya dia habis terkena ledakan atau apa, seperti terkena ledakan meriam.” orang yang memeriksa pemuda itu melaporkan. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas kesehatan dan penyembuhan prajurit-prajurit Bés Yua, orang ini disebut Kuraré.

Peraturan di kerajaan Bés Yua, dalam lima puluh prajurit harus ditemani dengan minimal satu orang Kuraré meskipun tidak dalam tugas bertempur. Selain mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan, seorang Kuraré juga harus mempunyai kemampuan untuk bertempur meskipun tingkatannya tidak sehebat prajurit, paling tidak bisa digunakan untuk melindungi diri sendiri. Kuraré mempunyai kemampuan untuk menganalisa sakit atau luka yang di derita dan obat apa yang harus diberikan. Kuraré tidak menggunakan sihir atau mantra, namun menggunakan bahan-bahan alam yang sudah dijadikan pil, salep atau bentuk siap-pakai lainnya.

”Meskipun begitu, pemuda ini masih bisa diselamatkan. Mungkin butuh waktu dua atau tiga hari.” Kuraré selesai menganalisa luka dan waktu penyembuhan si pemuda.

”Jenderal, sepertinya pemuda ini adalah warga sipil. Saya kurang mengetahui asalnya darimana. Kalau saya cermati dari pakaian yang dikenakannya, pemuda ini kemungkinan berasal dari daerah Baja (baca:Ba-ha). Tapi ada yang aneh, saya tidak mengetahuinya dengan pasti, tapi ada yang aneh dengan pakaian. Campuran antara pakaian penduduk biasa dengan pakaian para bangsawan.” Kuraré itu menambahkan.

”Kenapa penduduk Baja bisa sampai ke samudera ini, bukankah aliran samudera tidak mungkin membawa dia ke arah sini kalau dia berasal dari Baja.” Jenderal Einar mengernyitkan dahi.

”Mungkin dia sedang berlayar dengan menggunakan kapal dan kemudian di serang oleh bajak laut. Tapi ini hanya dugaan saya saja.” salah satu pimpinan kelompok prajurit menjawab.

”Sebaiknya kita tunggu sampai pemuda itu sadar.”
Jenderal Einar memerintahkan untuk membawa pemuda itu ke ruang pengobatan yang ada di kapal perang Amukhasa.

Satu setengah hari berlalu. Pemuda itu terbangun dari mimpi panjangnya, keringat membasahi wajah, leher dan di badannya. Entah karena pengaruh obat yang diberikan Kuraré atau karena pemuda itu sedang bermimpi buruk. Dengan pandangan yang masih buram, perlahan si pemuda menatap sekelilingnya, sebuah ruang kecil dari kayu. Ruangan itu tidak diberi warna sehingga warna coklat dari kayu menghiasi seluruh ruangan. Pemuda itu melihat benda-benda lain, namun karena matanya yang tidak jelas dia tidak bisa mengenali benda-benda itu.

~~~~

“Azura Brighthide!” teriak seorang pemuda yang sedang berdiri membelakangi sebuah pintu besar. Pemuda itu berbadan tegap, wajahnya tegas dengan sorotan mata berwarna biru tua yang tegas pula. Seorang pemuda dari beberapa barisan pemuda dan pemudi mengangkat tangan kanannya.

Di ruangan masuk gedung utama Akademi Azura berbaris dengan rapi bersama beberapa pemuda dan pemudi yang menunggu untuk dipanggil, semuanya adalah pelajar-pelajar baru Akademi Sihir. Azura melangkah ke depan mendekati pemuda yang tadi memanggil, membawa dua buah kantung yang masing-masing berisi beberapa pakaian dan buku. Dengan sedikit kesusahan dia mengangkat kedua kantung yang besar itu.

”Kamu masuk keluarga Vasanta. Pengawas Tertinggimu adalah Naster Tatiana, Mata Tertinggi unsur Air. Silakan kamu menuju ruang utara!” pemuda itu berbicara dengan menggunakan Bahasa Perjanjian.

Azura mengangguk,

”Terima kasih Zégai !” Azura membalas dengan menggunakan bahasa yang sama sambil bergegas membawa barang-barangnya.
Zégai, merupakan panggilan bagi senior laki-laki mereka di Akademi Sihir. Dan untuk senior perempuan, dipanggil Zégaia. Sedang untuk junior laki-laki d panggil Qido dan Qidéa bagi junior perempuan.

Sekarang sedang pembagian keluarga oleh senior-senior Akademi Sihir. Di sini, tiap-tiap pelajar yang baru masuk akan dibagi menjadi empat keluarga besar. Keluarga atau bisa diartikan kelompok, yaitu Estio, Vasanta, Hiemo, dan Chyou, yang masing-masing diawasi oleh satu orang Pengawas Tertinggi atau Highest Eye.

Hari ini merupakan hari penerimaan pelajar-pelajar baru yang lulus tes atau memang dipilih oleh Mata Tertinggi. Berpuluh-puluh inland dan iexian dari seluruh Hyrnandher yang berhasil lulus tes sedang menunggu giliran pembagian keluarga mereka. Barisan panjang terlihat sampai keluar dari ruang masuk utama gedung Akademi Sihir. Beberapa Zégai dan Zégaia berjaga-jaga di sekitar mereka, untuk memberikan bantuan jika ada pelajar baru yang membutuhkan.

Pembagian keluarga berdasarkan dari inti energi yang berada di dalam diri masing-masing. Para ahli sihir di Akademi percaya kalau tiap makhluk mempunyai paling satu unsur dasar kekuatan sihir dalam diri semua makhluk hidup. Satu unsur yang biasanya sangat dominan meskipun kadang tidak diketahui penyihir itu sendiri. Unsur ini disebut sebagai Aura, Estio untuk unsur Api, Vasanta adalah unsur Air, Hiemo untuk Angin, dan Chyou untuk unsur Tanah.

Azura melangkah perlahan memasuki ruangan bagian dalam Magic Academy melalui pintu di belakang Zégai yang memanggilnya tadi. Ruangan itu berbentuk seperti lingkaran. Setidaknya itulah yang diperkirakan Azura. Karena dia masih belum mengitari seluruh bangunan ini.

Azura melangkah lebih jauh lagi ke depan. Sinar terang dari cahaya mentari terlihat, dia berada di bagian pinggir ruangan yang berbentuk lingkaran itu. Ruangan itu seakan-akan berlubang dibagian tengah. Azura melangkah mendekat ke arah cahaya matahari. Tapi alangkah kagetnya Azura melihat apa yang terhampar di depan matanya. Berbeda dengan yang terlihat dari luar, bagian dalam dari bangunan ini sungguh luar biasa. Bangunan itu ternyata sangat besar dan luas. Dan ajaibnya, di dalam bangunan itu masih terdapat beberapa bangunan yang berukuran tidak kalah besar. Bangunan di dalam bangunan. Sungguh menakjubkan bagi Azura yang baru pertama kali menyaksikan kota penuh dengan sihir ini. Azura sekarang hanya berada di bagian lingkaran luar dari bagian sebenarnya dari bangunan ini. Sementara di dalam, bangunan-bangunan yang ada berdiri seakan-akan bukan berada dalam sebuah lingkaran.

Azura merasa dirinya seperti sedang berada di dalam tambang yang penuh dengan emas dan permata. Perlahan dia melangkah maju mendekati pagar pembatas. Di depan Azura sebuah taman dengan rumput segar dan hijau menanti. Entah buat apa taman itu berada di dalam, padahal di luar juga terdapat taman yang sangat luas juga menghiasi sekeliling Akademi. Beberapa bagian di dalam bangunan ini, seperti taman ini, tidak ditutupi dengan atap, sehingga cahaya matahari bisa masuk ke dalam bangunan ini melalui atas.

Azura memperhatikan pagar pembatas itu. Tidak jauh dari tempat Azura berdiri, terdapat sebuah pintu masuk. Menyambung pintu masuk jalan setapak yang terbuat dari terhampar batuan-batuan pipih yang disusun rapi. Mengikuti jalan setapak di taman itu terdapat beberapa bangku taman berwarna kristal biru, di sampingnya berdiri dengan indah lampu-lampu taman. Tiang-tiang lampu itu bagaikan diukir oleh Dewa Seni sendiri, keindahan bentuk ukiran tiang-tiang lampu itu seakan tiada duanya. Lampu-lampu yang ada pun terlihat asing bagi Azura. Sayang saat itu masih siang, Azura tidak bisa menyaksikan cahaya lampu-lampu itu. Azura menoleh ke arah langit-langit, ternyata dugaan dia salah.

Di atas taman tetap di pasang atap, Azura bisa melihat terdapat semacam ukiran-ukiran berwarna gelap yang berada di tempat dimana seharusnya sebuah atap berada. Azura baru tersadar, dia ingat cerita dari seorang teman yang pernah belajar di Akademi Sihir, Gedung Utama Akademi Sihir memang bisa ditutup dan dibuka. Mungkin sekarang atap itu sedang dibiarkan terbuka. Begitulah dugaan Azura dalam kekagumannya, dia merasa seperti orang gunung yang baru pertama kali masuk ke Istana megah.

Beberapa pelajar Akademi duduk di bangku-bangku taman, sementara beberapa lagi sedang berjalan hampir di semua sudut tempat itu. Azura melangkah mengikuti jalan setapak, dia melihat ada beberapa bangunan-bangunan yang cukup besar berbaris setelah taman itu. Lama Azura merasa takjub dengan semua yang ada di tempat ini.

Perlahan dia mundur beberapa langkah untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju gedung bagian utara dari bangunan ini. Namun matanya masih tidak beranjak dari gedung-gedung yang dikelilingi taman indah itu. Azura berpikir suatu saat dia harus mencoba berada di sana, menghabiskan waktu dengan seorang yang dicintai mungkin. Mata, pikiran dan badan yang tidak bersatu mebuat Azura dengan sukses menabrak seseorang di belakangnya. Dan mereka pun jatuh. Begitu juga beberapa barang-barang bawaan mereka.

”Hei, kalau jalan yang benar!” jerit orang yang jatuh karena Azura. Suara seorang perempuan.

Azura menoleh. Ternyata memang seorang perempuan yang sebaya dengan Azura. Buru-buru Azura berdiri dan membantu perempuan itu berdiri.

”Maaf..maaf..aku benar-benar tdiak sengaja!” Azura mengucapkan maaf berkali-kali sambil membantu membereskan barang-barang perempuan itu. Selesai membereskan barang-barang perempuan itu, barulah dia membereskan barang-barang miliknya sendiri.

”Kamu baru juga ya?” tanya perempuan itu.

Sebelumnya Azura tidak memperhatikan perempuan itu. Baru setelah membereskan barang-barang miliknya, Azura memperhatikan wajah perempuan tadi. Wajah yang berbentuk berbentuk tirus. Kulit bersih terawat membuktikan dia paling tidak berasal dari keluarga bangsawan atau keluarga terhormat lainnya. Rambut pirang panjang lurus dan diikat dengan pita berwarna merah yang dihiasi dengan hiasan-hiasan kecil. Azura menahan nafas melihat perempuan itu. Terkesima dengan kecantikan perempuan muda itu, belum lagi matanya yang berwarna hijau bagaikan pucuk daun yang bermandikan embun pagi. Azura tidak akan pernah melupakan tatapan mata itu. Dan Azura merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Azura tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, dia terheran dengan dirinya sendiri. Sekarang Azura merasakan heran, bingung, kagum, bungkam, terpesona menjadi satu di dalam dirinya.

”Hei, kamu baik-baik saja? Kamu bisa mendengarku kan?” gadis itu menatap Azura dengan ekspresi kebingungan.

Azura tersadar dari keterkesimaannya. Dengan segera Azura menggeleng-gelengkan kepala seakan-akan membangunkan dirinya dari mimpi indah. Beruntung ini sebuah kenyataan.

Perempuan itu mengernyitkan dahi.

”Mmm, aku baik-baik saja.” jawab Azura singkat sambil menganggukkan kepalanya. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Azura baru sadar kalau dirinya pasti terlihat kikuk setelah menggeleng-gelengkan kepala sedetik kemudian mengangguk-anggukkan kepala.

”Aelita Arianrhod dari Bés Yua. Aku juga baru di sini!” gadis itu memperkenalkan dirinya.

Azura menjadi sedikit malu. Seharusnya laki-lakilah yang mengenalkan diri terlebih dahulu di depan perempuan.

”Azura..Azura Brighthide dari Baja, atau setidaknya lama tinggal di Baja!” Azura menjawab secepatnya. Dia tidak ingin kelihatan canggung di depan perempuan cantik ini. Azura berusaha menguasai diri.

”Aku masuk keluarga Vasanta. Kamu?”

”Kebetulan. Aku juga masuk Vasanta. Sudah tahu dimana tempatnya?” tanya Aelita sambil melihat sekelilingnya.
Azura menggeleng,

”Aku belum sempat bertanya. Aku sedang keasyikan melihat isi Akademi Sihir. Aku tidak melihat sesuatu yang seindah ini di Baja, atau di kota-kota yang pernah aku singgahi.” kata Azura sambil kembali menatap bagian tengah dari bangunan Akademi Sihir. Aelita ikut menatap sejenak.

”Banyak sekali yang berubah.” Aelita berkata namun dengan suara yang sangat pelan, lebih pelan daripada jika ada orang yang berbisik. Azura tidak mendengar perkataan Aelita, pada saat itu belum.

”Cukup, menikmati pemandangannya nanti saja! Sebaiknya kita bertemu dengan Pengawas Tertinggi kita dulu!” ajak Aelita sambil menyenggol lengan Azura yang penuh dengan barang bawaan.

Azura mengangguk. Mereka berjalan menuju arah utara ruangan itu.

Butuh waktu lama bagi mereka berdua yang baru pertama kali di sini untuk mencari ruang pertemuan keluarga Vasanta. Itupun mereka harus bertanya pada Zégai dan Zégaia yang mereka temui selama perjalanan mencari ruang pertemuan itu.

Sebuah ruangan dengan sepasang pintu kayu yang besar dengan ukiran seekor naga. Gambar naga yang tidak mempunyai sayap, terukir menjadi satu di kedua pintu itu yang berwarna biru pucat. Sementara ukiran naga itu terbuat dari benda berkilau hingga terlihat memantulkan cahaya seperti lautan tenang yang memantulkan cahaya matahari. Itulah pintu ruang pertemuan keluarga Vasanta, ukiran naga itu adalah makhluk penguasa tertinggi unsur air yang bernama Maig. Selain itu ada juga burung api Sinniey, Grasswhisper, si harimau putih dan Lurc kura-kura raksasa berkepala naga yang memiliki kekuatan tanah.

Azura dan Aelita mempercepat langkah mereka. Tanpa mengetuk pintu Azura mendorong pintu yang hingga sedikit terbuka. Dia mengintip siapa saja yang berada di dalam. Azur melihat beberapa pelajar baru sudah menanti di dalam. Mereka sedang asyik bercakap-cakap. Tidak ada Zégai atau Zégaia di sana. Pengawas Tertinggi pun belum terlihat, beruntung mereka tidak terlambat. Azura membuka pintu.

Begitu Aelita dan Azura masuk, beberapa dari pelajar-pelajar baru menoleh dan kembali melanjutkan kegiatan mereka sebelumnya setelah tahu bahwa yang datang adalah sesama pelajar baru. Aelita yang berada di belakang menutup pintu dengan pelan. Azura menunggu Aelita selesai menutup pintu dan kemudian berbaur dengan pelajar baru yang lain.

Tidak berapa lama ada yang mendorong pintu dari luar.

#####

Read previous post:  
0
points
(1955 words) posted by makkie 9 years 6 weeks ago
Tags: Cerita | fanfic | dunia fantasi | ksatria | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
20

cukup menarik..

jangan sungkan buat kasih kritikan y...
thx dah mampir... :)

60

Wah, ada cerita fantasi baru rupanya. Salam kenal. :)
Aku coba kasih sedikit komentar ya. Emm... Awal masuk cerita di atas kapal menarik, meski detil persenjataan kapal agak mubazir karena sama sekali gak ada aksi kecuali misi penyelamatan sang pemuda.

Terus, perpidahan waktu dan tempat dari laut ke darat kayaknya kurang mulus tuh, terutama pada bagian saat si pemuda terbangun--matanya buram dan tidak dapat mengenali benda-benda disekitarnya, walau ia sempat mengenali ruangan terbuat dari kayu secara visual, dan setelahnya. Tapi, mungkin karena aku saja yang kurang menyimak kali yak. Hehehe... :P

Soal penamaan karakter dan tempat... rasa-rasanya koq agak gimana gitu. Gado-gado. Hihihi... :D Apa lagi daerah bernama Baja, tuh. Di dunia nyata beneran ada daerah dengan nama sama kan? Tapi, ini cuma pendapat subyektif aja koq. ^^a

Ini aja dulu. Siip!

makasi bwt komennya...btw, ni dah lama kog..dah bab ke 5...
tp mang yang bab 5 baru aja semapt ta posting...mumpung rutinitas berkurang...
cari aja postingan sebelumnya..
iya, mang bab ini agak terburu2 bikinnya, takut ide yang selanjutnya menguap...maklum,,memori jangka pendek...heuheuhue..

Wah, jadi udah banyak ternyata. Abisnya penggunaan kata "Chapter 1" membuatku mengira ini awal-awal cerita. Maap, maap. =,=a

ga pu2... :)
biznya, mw posting 1 bab 1 postingan banyak yang komplain...
kepanjangan katanya...
akhirnya ya satu bab dipecah2 jadi bbrpa chapter...
heuheuheu....

80

waow, keren bgt. berasa baca harry potter. kl bs difilemin bagus bngt nih. azura yg keren.
tpi bkal btuh animation effect yg bnyk bgt.
keep movin ya. gw jg suka cerita ginian

...thx...iya, ni mang berencana mw di bawa ke Bollywood hahahaha....ikutin terus ya..