Zheik, The One With Power - 5th Scroll Chapter 3

Azura mengejap-ngejapkan kedua matanya. Pikirannya terasa aneh.

“Apakah ini mimpi? Apakah aku bermimpi lagi?” Azura memandang sekeliling. Dia berada di dalam sebuah ruangan. Ruangan itu sangat aneh. Aneh tapi Azura merasa mengenalnya, dia merasa tidak asing dengan ruangan itu. Kamar, ya ini adalah kamar tidur. Tapi kamar tidur siapa?

Azura kembali memandang sekeliling. Kali ini dia berusaha melihat dengan lebih seksama. Dia memang berada di sebuah kamar tidur, sekarang dia berada di atas sebuah tempat tidur yang sangat empuk. Berbeda dengan tempat tidur asrama Akademi Sihir. Tidak jauh dari tempat tidur dia melihat sebuah meja yang bentuknya aneh. Di atas meja terdapat sebuah benda seperti kotak tetapi bukan terbuat dari kayu. Di bagian tengah kotak itu terdapat semacam kaca, kaca berwarna hitam.

Azura melihat sebuah tulisan yang bukan ditulis dengan tinta di salah satu bagian kotak berkaca itu. Dia tidak mengerti tulisan apa, tapi sesuatu dari bagian otaknya memberitahukan sesuatu. KIRA, itulah tulisan yang tertera di kotak berkaca atau itulah yang disampaikan pikirannya. KIRA? Kata yang pernah dia dengar, bukan hanya pernah tapi juga sering. Sangat sering karena itu adalah nama dia sendiri. Ya, dia adalah Kira. Bukan Azura.

Aku adalah Kira? Ya, aku adalah Kira. Seorang anak kelas 2 SMP. Benar, ini memang kamarku dan kotak berkaca itu adalah layar monitor komputerku. Aneh, apa yang terjadi pada diriku. Sepertinya aku tadi bermimpi aneh, Azura, Akademi Sihir dan…
Ah rupanya karena ini. Aku mengambil sebuah novel fantasi yang beberapa hari lalu ku beli. Payah, sudah kelas 2 SMP tapi aku masih tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Suatu saat ini pasti akan membuatku berada dalam masalah.

Aku melirik jam dinding di kamarku, jam 6 pagi. Aku bergegas turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Hari ini hari rabu, aku harus bersekolah. Dalam perjalanan menuju kamar mandi aku melihat ayah dan ibu sudah melakukan kegiatannya masing-masing. Ayah sudah tenggelam dalam koran paginya sementara Ibu sedang menata meja makan untuk sarapan.

Aku hampir menabrak pintu kamar mandi. Rupanya ada orang di dalam. Pasti Dea, adik perempuanku.

“Woi, cepetan mandinya. Lagian lu ngapain mandi lama-lama. Biar mandi juga tetap jelek!” aku berteriak sambil menggedor pintu kamar mandi. Agaknya ada yang aneh dikepalaku, mendengar bahasa ini seperti ada gaung yang aneh. Mungkin hanya perasaanku saja.

Sesaat setelah aku menggedor, pintu kamar mandi terbuka. Namun bukan untuk mempersilakan bergantian menggunakan kamar mandi melainkan segayung air tepat menyiram mukaku. Aku langsung gelagapan.

“Nggak usah cerewet! Makanya bangun jangan kesiangan! Pemalas!” Dea tidak hanya menyiram dengan air tetapi juga dengan maki-makian dan langsung menutup kembali pintu kamar mandi. Hal ini sudah biasa kami lakukan. Bahkan kedua orang tua kami akan bingung kalau melihat kami berdua akur.
Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk mandi dan menuju wastafel yang ada di dekat meja makan. Setelah cuci muka sebentar aku langsung menuju meja makan. Kebetulan ibu sudah selesai menyiapkan sarapan, dan kebetulan yang kedua hari ini ibu membuatkan sarapan kesukaanku. Kornet sapi dan telor ceplok. Lagi-lagi terjadi keanehan dalam pikiranku begitu aku menyebutkan kornet dan telor ceplok.

“Kenapa sih buru-buru? Tugas piket?” tanya Ibuku. Padahal aku tidak sedang buru-buru, hanya saja aku merasa ingin secepatnya keluar dari rumah dan menuju sekolah, bukan, bukan menuju sekolah. Tapi kemana saja asal keluar dari rumah. Entah kenapa sepertinya aku merasa sangat lama tidak keluar dari rumah. Padahal kemarin baru saja aku bersekolah.
Dea muncul rapi dengan pakaian seragam khas sekolah putrinya bertepatan dengan masuknya suapan terakhir nasi di piringku. Dia terlihat cantik sekali. Aku melirik Dea, memang aku sedikit iri dengan seragam yang dikenakan Dea, soalnya aku juga sudah bosan dengan pakaian-SMP-biasa ini.

Aku dan adikku Dea hanya berbeda satu tahun, mungkin karena itulah kami jadi sering bertengkar. Selain tentu saja hanya kami berdua anggota keluarga termuda di rumah ini. Ya, kami hanya tingal berempat, berlima mungkin kalau kamu menghitung Nupie, anjing kami, sebagai anggota keluarga.

Aku bergegas menuju kamar mandi. Sambil mandi aku berusaha mengingat-ingat mimpiku. Mimpi itu terasa aneh, terasa nyata, tapi aku tidak bisa mengingat dengan jelas.

Aku kembali duduk di meja makan, kali ini ayah dan ibu juga sedang menikmati sarapan. Dea masih berusaha menghabiskan sarapannya. Aku mengambil minumku yang tadi masih tersisa separuhnya.

Aku mengamati ayah dan ibu. Lagi-lagi perasaan aneh menjalar. Dan tanpa sadar aku mengamati ayah dan ibu. Mulai dari wajah, rambut, kulit, badan, cara mereka makan, bicara dan lainnya seakan-akan aku mengamati bayi kecil yang baru saja bisa berjalan. Aduh, sepertinya ada yang tidak beres dengan pikiranku. Apa tadi pada saat tertidur kepalaku sempat terbentur sesuatu ya?

~~~~

Hari sudah menjelang sore, aku baru saja pulang ke rumah. Memang seharian ini aku banyak menghabiskan waktu bersama teman-temanku. Dan ini aku yakin berkaitan dengan perasaan aneh yang menjalari pikiranku. Apa aku mengalami masa puber?
Ah entahlah, aku segera mengganti pakaianku dan mandi. Ayah juga baru saja pulang dari kantor. Memang ayah saat ini sedang sibuk, biasanya bahkan bisa pulang sampai malam. Maklum ayah baru saja di angkat menjadi Dekan di kampus tempat dia bekerja. Jadi banyak rapat yang harus dia hadiri. Ya, ayahku adalah seorang dosen di salah satu universitas termuka di kotaku. Bangga juga sih kalau melihat dari jabatannya, tapi kalau dari ketegasan beliau mendidik anak, sebaiknya tidak usah di tanya deh.

Kriing..kriiing…kriing..kriiing, suara telpon rumah berbunyi. Kebetulan aku baru selesai mandi dan melewati ruang tamu tempat telpon berada. Sedikit bergegas aku mengangkat telpon tanpa mengeringkan kaki. Aku sudah berpakaian, tetapi kakiku tidak sempat ku keringkan.

Telpon untuk ayahku, dengan satu tangan aku menutup bagian mikropon telpon dan memanggil ayahku. Karena telpon rumahku wireless, aku berjalan sambil mendekat ke kamar ayah.

“Ayah.. ada telpon!” tanpa menyadari kakiku yang masih basah aku terpleset dan terjatuh ke arah belakang tepat pada saat aku berteriak “ayah…” dan akupun pingsan.

Aku membuka mata,

“...yaaaah...’ lirihku. Saat itu antara sadar tidak sadar aku melihat beberapa sosok yang sebaya denganku. Telingaku juga sempat mendengar sedikit pembicaraan,

“APA? Kamu bilang aku payah? Aku baru saja menyelamatkanmu dari serudukan banteng-banteng itu kamu bilang aku payah?” sebuah suara membentakku dengan keras. Sepertinya aku kenal dengan pemilik suara itu.

“Shumani, sabar Shumani. Dia masih pingsan. Mungkin dia sedang mengigau. Sandon, ambilkan kain untuk mengompres kepalanya.” lagi-lagi sebuah suara yang ku kenal. Mataku kembali terpejam, dan semuanya menjadi gelap.

“Ra! Kira! Kamu tidak apa-apa sayang?” sebuah suara lembut membangunkanku. Ah, ini suara ibu. Ya, ibuku tersayang. Aku sedang berbaring di kamar tidur ayah dan ibu.
Aku berusaha mengangkat kepalaku dan memegang bagian belakang kepalaku. Rasanya sakit sekali. Aku merasa ini bukan pertama kalinya aku mengalami benturan di kepala. Tapi kapan ya? Aku lupa.

“Sudah, jangan banyak bergerak dulu. Kepalamu terbentur lantai. Beruntung kata dokter kamu tidak gegar otak.” Ibu menahan pundakku dan kembali membaringkanku di tempat tidur.

“Apa yang terjadi Bu?” tanyaku sambil sesekali meringis kesakitan.

“Kamu terpleset. Kamu sih, sudah tau kakinya masih basah, malah lari-lari. Kamu ini selalu bikin orang-orang panik aja.” Ibuku mendorong kepalaku. Tidak keras, malah aku merasa kasih sayangnya terpancar saat tangannya menyentuh keningku.

“Ya sudah, kamu tiduran di sini dulu aja. Nanti Ayah sama Ibu tidur di kamar tidur tamu. Sekarang kamu makan bubur ini terus minum obat ini. Habis itu tidur!” dengan sabar ibu meladeni aku dan menunggu aku sampai tertidur.

~~~~

Matahari pagi sudah datang. Kepalaku masih terasa sakit, tapi aku sudah bisa beranjak dari tempat tidur. Meskipun begitu ayah dan ibu belum mengijinkan aku pergi ke sekolah. Kata mereka aku harus beristirahat dua tiga hari lagi. Berarti aku baru masuk sekolah lagi Senin depan, aku tidak tahu aku seharusnya senang atau sedih tidak masuk sekolah beberapa hari.

Ah masa bodoh pikirku. Akhirnya aku menghabiskan waktu dengan bermain game dikomputerku. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Berarti sudah lebih dari empat jam aku di depan komputer. Mataku terasa sedikit perih. Aku keluar kamar dan menuju ruang makan. Saat itu Dea dan teman sekolahnya sedang menikmati akan siang di sana. Nama teman sekolah yang juga satu kelas dengan Dea adalah Fiona.

Fiona gadis yang, menurutku, manis. Sangat manis. Dan keren. Boleh dibilang, Fiona adalah gadis yang paling mengerti dengan yang namanya trend dan modis. Dan, ah lagi-lagi pikiran-pikiran aneh menjalar dikepalaku. Apa karena benturan di kepalaku ini ya? Oh iya, singkatnya mengenai Fiona, aku menyukainya, maksudku suka, seperti seorang cowok ke cewek. Cowok? Cewek? Pikiranku itu seakan-akan bertanya-tanya. Apa karena kepalaku terbentur aku menjadi bodoh ya?

Akhirnya aku tidak mempedulikan ‘bisikan-bisikan’ kecil itu. Aku berusaha mencuri perhatian Fiona, tapi dengan cara yang wajar. Aku takut nanti dianggap norak oleh Fiona, apalagi Dea yang saat aku bersikap wajar saja dia pasti mencaciku habis-habisan. Memang biasanya aku balas meledek Dea, tapi di depan Fiona aku sedikit jaim.

“Pale lu gimana Nyet” tanya Dea. Padahal mulutnya masih sambil mengunyah makanan.

“Dah mendingan.” jawabku santai.

Dea merasa ada yang salah, dia memicingkan matanya. Sesaat kemudian dia melirik Fiona. Fiona saat itu sedang menatapku.

“Memang kepala kamu kenapa?” Fiona memang berbeda, dari cara bicaranya saja lebih sopan daripada adik kurang-ajar-semata-wayang-ku.

“Cuman kebentur dikit kok. Nggak pa-pa. Nggak sampai gegar otak.” kataku sambil mengambil piring dan mengambil sendok nasi.

“Ya mana mungkin gegar otak. Orang elo naruh otak di dengkul. Kecuali kalo yang kepentok dengkul lo. Baru tuh gegar otak!” Dea merencanakan sesuatu.

Aku yakin Dea tahu kalau aku sedang jaim di depan Fiona. Makanya dia sengaja memancingku biar balas meledek dia seperti biasanya. Dan dugaanku tepat.

“Tumben nggak balas?” Dea bereaksi dengan cepat.

“Gara-gara palanya kebentur atau …” kata Dea sambil menatap Fiona. Kebetulan Fiona saat itu sedang menikmati makan siangnya hingga tidak sadar kalau dia menjadi obyek dalam pembicaraan Dea, tidak sadar atau pura-pura tidak sadar. Segera saja aku melemparkan serbet ke muka Dea. Dia gelagapan. Fiona tertawa kecil begitu melihat wajah Dea tertutupi dengan serbet.

Dea tidak membalas. Mungkin karena aku sedang sakit, kadang dia perhatiannya juga, tapi kadang caranya beda dengan yang lain.

Fiona sekilas menatap mataku untuk beberapa detik, dia tersenyum dan melanjutkan kembali makan siangnya. Aku yakin Fiona sadar kalau aku menyukai dia, sepertinya diapun punya perasaan terhadapku, bukannya sombong. Tapi ada sesuatu yang membuat Fiona tidak berani menunjukkannya.

Selesai makan aku kembali ke kamarku. Dea dan Fiona sudah dari tadi masuk ke kamar Dea. Entah apa yang mereka lakukan aku tidak tahu.

Aku mengambil buku novel fantasi yang ku baca beberapa hari yang lalu. Ku buka di bagian yang telah ku batasi dengan pembatas buku. Aku memang belum selesai membaca buku novel itu.

~~~~

“Azura! Kamu sudah sadar?” sebuah suara membangunkan Azura dari mimpi anehnya. Mimpi yang sangat aneh, Azura merasa dirinya berada di suatu tempat. Tempat yang sangat jauh dari sini, sangat jauh. Bukan jauh karena jarak, tapi jauh karena waktu. Azura memang tidak mengingat semua mimpi-mimpi itu. Tapi satu kesan yang masih dirasakannya adalah dia sedang bersama keluarga, keluarganya.

Perasaan ini tidak pernah Azura rasakan sebelumnya. Dia memang tidak pernah merasakan kehangatan bersama keluarga. Dulu dia sempat merasa bahagia karena mendapat sahabat di Mirgoth, dia bahagia saat keluarga sahabat-sahabatnya menganggap dia juga sebagai bagian dari keluarga. Tapi baru kali ini Azura merasakan dia amat sangat bahagia. Meskipun hanya mimpi namun perasaan itu membekas. Tanpa sadar air matanya menetes.

“Kamu tidak apa-apa?” Harith, nama Kuraré yang merawat Azura menatap dengan lekat Azura yang sedang menangis. Entah itu tangis bahagia atau bukan, Harith tidak mengetahuinya. Atau mungkin hanya pengaruh dari mimpi, Harith menduga. Harith mengangkat tubuh Azura hingga dalam posisi duduk namun masih berada di atas tempat tidur.

Azura menggeleng-gelengkan kepala. Dia menyeka air mata yang mengalir di pipi.

“Aku hanya habis bermimpi.” jawab Azura pelan.

“Betulkah? Kalau boleh tahu kamu bermimpi apa? Bahagia atau sedih? Mimpi apa yang membuat kamu meneteskan air mata?” Harith mencoba mencari jawaban, atau mungkin hanya sekedar mengajak berbicara. Karena sejak menjaga Azura, dia tidak meninggalkan ruang pengobatan dan berbicara kepada orang lain. Harith hanya menunggu dan menunggu Azura.

Azura kembali menggelengkan kepala,
“Aku juga tidak tahu mimpi tentang apa, sepertinya aku menjadi orang lain. Yang jelas saat aku berada dalam mimpi aku merasa bahagia sekali. Bahagia yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sebuah kehangatan keluarga.” senyum Azura mengembang begitu dia mengingat tentang mimpinya.

“Keluarga? Kamu merindukan keluargamu? Aku juga terkadang merindukan keluargaku. Karena sejak menjadi Kuraré, aku jarang bisa pulang ke rumah. Kadang aku juga merindukan mereka.” Harith menatap langit dari balik jendela. Matanya seakan menerawang kepada keluarganya yang berada di rumah.

“Bukan itu Harith. Perasaan ini berbeda. Aku tidak pernah punya keluarga sebelumnya.” Azura memandang Harith.
Harith mengalihkan pandangannya dan menatap balik Azura,

“Tidak pernah? Apa kamu dilahirkan dari batu. Meskipun kamu dari batu berarti batu itu termasuk keluargamu.” Harith mencoba mengajak bercanda. Dia mengira Azura juga bercanda, mana mungkin seseorang hidup tidak mempunyai keluarga. Walaupun kadang dalam keluarga timbul ketidakharmonisan, paling tidak mereka tetap bernama keluarga.

Azura tersenyum meringis,

“Aku tidak tahu siapa keluargaku Harith. Sejak umur 12 tahun aku mendapatkan penyakit hilang ingatan. Sudah bertahun-tahun berlalu, namun penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Bahkan Naster Eva, salah seorang …..” Azura terdiam sesaat.

“Maksudku mendiang Naster Eva, salah seorang Mata Tertinggi tidak bisa membuka pikiranku ini. Dia berkata seakan-akan kalau ingatanku memang tidak pernah ada, hanya ada hitam dan gelap. Tanpa sedikitpun petunjuk atau kilasan sesuatu.”
Azura memindahkan kakinya. Sekarang dia duduk di bagian pinggir tempat tidur. Berhadapan langsung dengan Harith yang duduk di kursi kayu dekat tempat tidur itu.

“Sejak berumur 12 tahun, aku tinggal bersama sahabat-sahabatku. Bersama keluarga mereka. Maka ingatanku tentang keluarga hanya sebagai keluarga sahabat-sahabatku. Aku bersyukur atas itu, tapi biar bagaimanapun-” Azura kembali terdiam. “Biar bagaimanapun aku tetap merasa aku bukan keluarga mereka. Mungkin hanya sebagai keluarga dari jauh, seorang sepupu, seorang keponakan. Tapi bukan sebagai seorang anak.”

Azura menghela nafas,

“Dan saat dalam tidurku, aku memang tidak begitu mengingat detil mimpi-mimpi itu. Yang jelas aku berada di sebuah rumah, bersama seorang gadis kecil yang ku rasa dia adalah adikku dan kedua orang tuaku. Kehidupan kami biasa saja, tapi yang jelas aku mempunyai keluarga. Aku menjadi bagian dari keluarga itu. Orang tua-KU sendiri. AdikKU sendiri.”

“Jadi itu mimpi yang bahagia?” tanya Harith.
Azura mengangguk,

“Ya, Itu mimpi yang sangat membahagiakanku. Namun saat terbangun aku sadar kalau semua itu hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang mungkin tidak bisa aku dapatkan lagi. Keluarga yang tidak bisa aku lihat lagi. Dan tiba-tiba semuanya menjadi sepi, hampa dan sedih yang mendalam. Serasa ada lubang besar di jantungku ini.” Azura menggenggam bagian dada pakaiannya. Seakan-akan menggenggam jantungnya yang terasa sakit.

Harith terdiam, bersimpati terhadap Azura. Dia merasa dirinya jauh lebih beruntung dari Azura. Meskipun dia jarang bertemu dengan keluarganya, Harith masih mempunyai mereka, dan yang terpenting tahu siapa keluarganya. Sedangkan Azura sama sekali tidak mengenal siapa keluarganya.

“Kamu sudah sadar?” sebuah suara besar menghentikan lamunan Azura dan Harith. Tanpa komando, Azura dan Harith memandang pemilik suara itu.

Jenderal Einar datang bersama beberapa orang yang termasuk berpangkat tinggi. Ada tiga orang berdiri di belakang Jenderal Einar, dan mereka semua menatap ke arah Azura.

“Bersiaplah Azura. Kami akan mengadakan rapat persiapan untuk yang terakhir kali. Aku harap kamu bersedia hadir. Para komandan pasukan Bes Yua sudah berkumpul di kapal Amukhasa ini.”

Azura mengangguk.
#####

Read previous post:  
16
points
(2330 words) posted by makkie 8 years 50 weeks ago
53.3333
Tags: Cerita | fanfic | cerita | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
70

suka sama harry porter ya..?? :)
salam kenal

suka tapi ga ngikutin novelnya :p
salam kenal juga...mks dh mampir...