Zheik, The One With Power - 4th Scroll Chapter 6

Laut Virandir (laut antara Avalon dan Bés Yua)

Di lautan lepas, terlihat beberapa ekor lunacs, - hewan air seperti lumba-lumba namun mempunyai sepasang sayap yang terletak sedikit di atas sepasang siripnya. Meskipun tidak mudah dijinakkan, namun hewan ini sangat ramah terhadap inland. Para lunacs sedang meloncat-loncat di depan kapal perang Atros, kapal perang yang pimpin Pangeran Mikaél, seakan-akan sedang berlomba dengan kapal perang itu.

Reiđ sedang menatap lautan luas. Di mana-mana hanya terlihat biru dan biru. Termenung sendiri di menara pengawas kapal itu. Kadang-kadang dia melirik ke arah lunacs-lunacs yang asyik bermain di dunianya sendiri. Namun kebanyakan matanya menerawang jauh ke depan. Baru kali ini dia berpergian keluar dari tempat tinggalnya. Entah seperti apa dunia diluar sana Reiđ tidak pernah mengetahuinya. Berbeda dengan ketiga temannya yang sudah pernah melakukan perjalanan ke negara lain.

Reiđ merasakan ketegangan di pikirannya. Banyak tugas yang harus dilaksanakannya. Ada tanggung jawab besar yang dia pikul sekarang. Entah sanggup atau tidak tapi dia tetap akan berusaha sekuat tenaga. Karena ini adalah masalah keberadaan semua makhluk yang ada di dunia. Jika dia menginginkan hidup damai bersama keluarganya, dia harus menerima tugas ini. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin dia dan keluarganya akan menjadi korban oleh orang-orang yang berusaha mengacau di Hyrnandher ini.

Berharap kebahagiaan seperti yang dirasakannya sampai sekarang tidak akan hilang mengingat peristiwa yang akan terjadi nanti. Reiđ sempat berpikir apakah dia akan bisa kembali bertemu dengan keluarganya lagi.

“Hei!” teriakan Mina mengagetkan lamunan Reiđ.

”Kenapa menyendiri di sini?”

Reiđ menggeleng, saat itu dia tidak membawa Hypérion.

”Aku hanya menikmati pemandangan ini. Sejak kecil aku tidak pernah pergi ke luar dari Bés Yua. Ini yang pertama kali. Tapi yang pertama justru dengan keadaan seperti ini. Sedikit aneh bagiku masih bisa merasakan sedikit keindahan meskipun aku tahu apa yang akan terjadi nanti pasti sangat besar.” Dan lagi Reiđ berbicara dengan lancar pada Mina.

Reiđ menatap wajah Mina, ada yang aneh dengan wajahnya. Terlihat lebih pucat dari biasanya.

”Paling tidak kamu tidak sendiri.” Mina mencoba menenangkan hati Reiđ.

”Ayo, Pangeran Mikaél menunggumu dari tadi. Katanya ada sesuatu yang penting dengan dirimu.”

Reiđ teringat, tadi malam sebelum tidur dia sempat meminta untuk diajarkan cara menggunakan pedang pada Pangeran Mikaél.
Reiđ bergegas turun. Giliran Mina yang sekarang menikmati lautan dari tiang menara.

”Pagi Reiđ. Tidurmu nyenyak?” Pangeran Mikaél menyapa Reiđ yang sedang memilih pedang milik prajurit. Sengaja dia tidak menggunakan Hypérion untuk berlatih.

”Pagi Pangeran. Tidurku cukup untuk melakukan latihan hari ini.” jawab Reiđ. Dia telah menemukan pedang yang cocok.

”Bagus. Tapi sebelum itu, dasar apa yang pernah kamu pelajari tentang cara menggunakan pedang?” Pangeran Mikaél hendak memastikan agar Reiđ mendapatkan pelajaran pada tingkatan yang benar. Pangeran Mikaél sudah siap dengan baju pelindung perak ringan yang khusus digunakan saat dia berlatih.

”Sejujurnya, Hypérion adalah pedang pertama yang pernah ku pegang.”

”Itu yang pertama? Sebelumnya sama sekali belum pernah?”
Reiđ menggeleng.

”Senjata apa yang pernah kamu gunakan untuk bertarung?”
”Aku sering menggunakan bom. Bom yang dilempar. Dan bola, kalau bola boleh dikatakan sebagai senjata, aku pernah bertarung dengang menggunakan bola. Di hutan Collat aku sempat menggunakan golok. Tapi aku cuman sekedar asal tebas saja. Aku lebih suka melempar. Aku paling jago melempar.”
Mata Pangeran Mikaél terbelalak. Orang yang aneh, Reiđ suka dengan melempar tapi meminta diajarkan pedang pada dirinya. Pangeran Mikaél mendesah, ini pasti akan sangat melelahlkan pikirnya.

”Pada prinsipnya cara menggunakan pedang hanya ada dua, paling tidak itu menurut ajaran Guruku.” kata Pangeran Mikaél. Dia mencoba memudahkan ajaran pedang untuk Reiđ.

”Cara yang pertama adalah tebas dan yang kedua adalah tusuk.” Pangeran Mikaél memperagakan gerakan-gerakan dari masing-masing cara.

”Itu adalah dasar. Dengan mengkombinasikan kedua cara ini kamu bisa mendapatkan beberapa variasi gerakan pedang seperti tebasan samping, tebasan ganda, tusukan dengan mendorong, atau iris dan potong.” Pangeran Mikaél menunjukkan gerakan-gerakan variasi pedang secara berurutan.

”Sekarang kamu coba!” perintah Pangeran Mikaél pada Reiđ.
Reiđ mencoba. Tebas dan tusuk pertama berhasil, tapi saat akan melakukan tebasan berganda, secara tidak sengaja pedang yang dipegang Reiđ melayang dan hampir mengenai salah seorang prajurit yang berada tidak jauh dari tempat mereka berlatih. Pedang itu akhirnya melayang menuju lautan yang luas. Mina yang menyaksikan dari atas tertawa dengan keras.

”Tampaknya kita harus mulai dari hal yang sangat mendasar dulu. Cara memegang pedang.” kata Pangeran Mikaél sementara Reiđ tersenyum menyeringai.

”Ini akan memakan waktu yang lama sekali.” gumam Pangeran Mikaél
*****

Menjelang sore hari, Reiđ kembali duduk di menara pengawas kapal. Kali ini dia bersama Mina. Reiđ terduduk kelelahan setelah berlatih menggunakan pedang bersama Pangeran Mikaél. Telapak tangannya panas dan lecet. Ini baru pertama kali dia menggenggam pedang sangat lama. Belum lagi karena sepansang pelindung tangan yang sedikit memberati pergerakan tangan. Pangeran Mikaél sengaja menyuruh Reiđ menggunakan pelindung tangan agar tidak terkena sayatan pedang. Memang tidak bisa melindungi dari tebasan, tapi paling tidak pegelangan tangan akan terlindung dari sayatan-sayatan pedang.

Mina menemani disampingnya sambil membawa sekantung air dan roti untuk Reiđ. Dia kagum dengan semangat Reiđ yang mau berusaha. Sementara Hypérion yang sekarang berada di samping Reiđ hanya tertawa,

beruntung hanya Reiđ yang bisa mendengar perkataan Hypérion. Rasa lelah dan letih membuatnya tidak menghiraukan perkataan Hypérion.

“Coba lihat itu!” Mina menunjuk ke arah barat. Terlihat sekumpulan Sparkle, - hewan air seperti paus pembunuh yang tubuhnya memancarkan cahaya berwarna emas. Sama seperti lunacs, hewan ini juga ramah terhadap inland. Namun sangat susah untuk dijinakkan- sedang melakukan ‘pertunjukkan’. Sementara pemandangan matahari yang sedang tenggelam menjadi latar dari pertunjukkan itu. Seakan-akan menghibur hati para pelaut yang melintas.

Pemandangan indah itu membuat semuanya terpana. Tidak terkecuali Pangeran Mikaél dan Aelita yang mungkin sudah melihatnya puluhan kali. Pemandangan itu juga membuat Reiđ sedikit melupakan bebannya.

Tiba-tiba, tidak berapa lama setelah pemandangan indah itu menenangkan hati. Lunacs – lunacs yang berada di depan terlihat gelisah. Tidak ada yang memperhatikan hal itu sampai saat lunacs-lunacs itu berteriak seperti suara Elang. Reiđ memperhatikan ke arah lunacs-lunacs itu. Terlihat sesuatu yang janggal. Mina melompat turun mendekat ke arah depan kapal. Berlompatan di antara tali-tali dan tiang kapal. Tubuhnya tetap saja lincah tidak terpengaruh meskipun berada di atas kapal, seakan-akan kelincahan Mina bisa dilakukan dimanapun.

Hypérion yang terjaga karena keributan itu memperingatkan Reiđ.

Riak-riak air muncul tidak jauh dari depan lunacs-lunacs. Dan terus mengarah maju menuju kapal. Reiđ berlari mengambil Hypérion dan berteriak memberitahukan kepada semuanya. Tapi terlambat, sesaat setelah lunacs-lunacs itu menghilang, dari dalam riak-riak air muncul sesuatu yang besar. Besar, gelap, berlendir dan hidup!

Makhluk itu berdiri tepat di depan kapal, seakan-akan sedang menatap mangsanya. Tanpa sempat memperhatikan dengan jelas bentuk makhluk itu, kapal mereka sudah ditabrak makhluk itu. Makhluk itu menghantam bagian depan kapal dengan kepalanya. Kapal oleng, bagian depan kapal hancur seketika. Reiđ yang berada di menara pengawas langsung terjatuh. Beruntung dia bisa berpegangan pada tali layar kapal. Sementara di dek kapal prajurit-prajurit menjadi panik. Beberapa prajurit sibuk menyelamatkan diri, beberapa lagi bersiap untuk melakukan serangan balasan. Dengan menggunakan tombak-tombak panjang dan panah, prajurit-prajurit itu menunggu kemunculan makhluk itu.

Makhluk itu menampakkan diri lagi. Kali ni mereka bisa melihat dengan jelas makhluk apa itu. Ternyata seekor Serpentinel. Seekor ular raksasa yang biasanya berada di daerah perairan dingin. Kenapa tiba-tiba ada di laut panas. Dijuluki sebagai Naga Laut karena ular raksasa itu memang mempunyai ukuran yang sangat besar seperti legenda Naga Laut. Namun Reiđ tidak sempat memikirkan lebih lanjut. Ular raksasa itu kembali muncul dan memperkenalkan gigitannya kepada apa saja yang ada di dekatnya.

Mina mencoba memberikan perlawanan dengan senapan busur, beberapa panah peledak sudah ditembakkannya tapi sia-sia. Bagi Serpentinel, anak panah-anak panah Mina hanya dirasakan sebagai duri kecil yang menggelitik tubuhnya. Pangeran Mikaél mencoba mencari Aelita. Sejak tadi dia tidak melihat gadis itu.

Ah, itu dia, sedang berpegangan pada salah satu tali layar kapal tepat berada di bawah Reiđ. Matanya terpejam, namun mulutnya sedang merapal mantra-mantra.

“Razi Maré Yén !” begitu mantra yang dibaca Aelita berulang-ulang.

Pangeran Mikaél berlari ke arahnya. Bersamaan dengan Reiđ yang melompat ke sampingnya. Padahal posisi kapal sudah miring ke depan. Bagian depan kapal sudah menyentuh permukaan laut.

Reiđ memanggil Mina yang dari tadi menyerang Serpentinel. Mina menoleh dan berlari ke arah mereka. Mungkin mereka punya rencana pikir Mina. Tanpa kesulitan Mina bisa menghampiri mereka.

Kapal diselimuti sebuah tabir tak terlihat. Reiđ merasakan hawa udara menjadi dingin. Sangat dingin. Suara berderak terdengar dari bawah kapal, posisi kapal kembali seperti semula. Pangeran Mikaél melirik air laut di sekeliling kapal, sedikit tidak percaya, dia melihat air itu berubah menjadi es. Pangeran Mikaél menatap Aelita. Itu adalah sihir yang digunakan Aelita.

Aelita membuka matanya dan memperhatikan ketiga temannya yang sedang merencanakan sesuatu.

”Apapun yang ingin kalian lakukan, lakukanlah dengan cepat, aku tidak bisa menahannya terlalu lama!” teriak Aelita. Dia melepaskan pegangan tangan pada tali dan berdiri di atas lantai kapal.

Pangeran Mikaél mendekati wajah Reiđ agar bisa menjelaskan rencananya kepada Reiđ, suara-suara yang berisik di sekitar membuat mereka kesusahan berkomunikasi.

Pangeran Mikaél memasang kuda-kuda untuk mengeluarkan jurus pedang api andalannya. Mina dan Aelita hanya bisa berlindung di belakang pangeran Mikaél. Sementara Pangeran Mikaél mengumpulkan tenaga, Ular raksasa itu masih asyik mengisi perut dengan beberapa prajurit yang terjatuh ke laut.

Di depan kapal, prajurit-prajurit sedang bertempur dengan melawan ular raksasa itu menggunakan tombak dan panah. Kapal ini memang tidak dipersenjatai dengan meriam karena kapal ini adalah ’kapal penyembur api’, dan penyembur api yang ada di depan sudah tenggelam ke dasar laut karena serangan pertama Serpentinel. Satu-satunya senjata yang yang dimiliki kapal Atros.

Seberkas api muncul dari pedang Pangeran Mikaél menuju langit, suara mendesis api panas terdengar. Hal itu malah menarik perhatian Serpentinel. Perhatian sang ular berpindah ke arah Pangeran Mikaél dan menghentikan kegiatan ‘bermain’ dengan para prajurit untuk mendekat ke arah Pangeran Mikaél yang sedang mengisi tenaga pada pedang. Tiang api itu masih belum sempurna, Pangeran Mikaél masih membutuhkan waktu lagi untuk menyempurnakan jurus itu. Apakah mereka akan gagal pikir Mina.

Tiba-tiba, Reiđ yang entah tadi berada di mana melompat ke depan Serpentinel. Tepat berada di depan kedua mata Serpentinel. Dengan tersenyum dia melemparkan beberapa bom cahaya tepat di depan kedua mata Serpentinel, dan beberapa berkas sinar menyilaukan membuat Serpentinel menjadi buta untuk beberapa saat.

Sesaat setelah Reiđ mendarat, sambil berteriak Pangeran Mikaél mengarahkan tiang api-nya ke ular raksasa yang entah kenapa bisa berada di sini.

Suara menggelegar terdengar, tepat mengenai kepala Serpentinel. Jurus itu membelah lautan walau hanya sementara. Jurus yang dahsyat. Membuat Serpentinel langsung mengerang kesakitan, meraung dengan kerasnya sebelum akhirnya jatuh tenggelam ke dalam laut.

Berhasil pikir mereka. Keadaan laut menjadi tenang, meski begitu kapal masih dalam keadaan genting, soalnya Aelita sudah mulai keletihan menyeimbangkan posisi kapal dan sekaligus membuat tabir pelindung. Untuk beberapa saat mereka bisa mengatur nafas, menghilangkan ketegangan tadi.
Pangeran Mikaél terduduk lemas. Dia mengamati keadaan sekitar. Hampir separuh dari pasukannya tewas. Kapal sudah tidak bisa digunakan. Walaupun masih bisa mengapung untuk beberapa saat berkat sihir es Aelita, entah sampai kapan sihir itu bisa bertahan.

Belum sempat Pangeran Mikaél memikirkan cara untuk melanjutkan perjalanan, dari bawah kapal sesuatu menerjang lapisan es di bawah kapal dengan keras sekali, tepat beberapa kaki dari tempat mereka duduk. Ah! Lagi-lagi ular itu. Ternyata makhluk itu masih belum mati.

Seketika itu juga kapal beserta semua yang ada di atasnya terpental ke laut dan terbelah menjadi dua. Patahan-patahan kayu dan es dari kapal bercampuran dengan penumpang kapal Atros berhamburan di udara untuk beberapa saat setelah kemudian terombang-ambing

Sementara jauh di atas awan, seorang Mata Tertinggi yang berkhianat sedang tertawa lepas. Dialah yang memerintahkan ular raksasa tadi untuk menyerang kapal yang berusaha mencari kunci-kunci pembuka segel pemanggil. Setelah puas dengan perbuatannya, Mata Tertinggi itu melesat menghilang entah ke mana.

Akhir dari Gulungan IV

Read previous post:  
19
points
(2129 words) posted by makkie 9 years 5 weeks ago
63.3333
Tags: Cerita | fanfic | dunia fantasi | ksatria | pedang | petualangan | zheik
Read next post: