Zheik, The One With Power - 4th Scroll Chapter 4

Seorang pemuda yang kira-kira lebih muda 3-4 tahun dari Pangeran Mikaél berdiri di samping Kakek Penasihat. Entah sudah berapa lama pemuda itu berada di tempat itu. Aneh, Pangeran Mikaél tidak menyadari keadaan sekitar, dan lebih aneh lagi dia tidak mengingat dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Terakhir dia ingat adalah saat menatap tulisan di sampul depan buku, tapi saat dia melihat untuk yang kedua kali tulisan itu menghilang seakan-akan tidak pernah ada di sana.

”Ada apa Gregoriv?” Pangeran Mikaél mengenal pemuda itu. Dia adalah cucu Kakek Penasihat, sekarang dia sedang dalam masa pelatihan menjadi seorang kurir. Sementara ini dia dipercaya untuk mengantarkan pesan atau apapun yang berhubungan dengan Istana, tetapi masih hanya sebagai di dalam Ibukota.

Gregoriv menunduk memberi hormat. Setelah Pangeran Mikaél membalas hormatnya, Gregoriv memberikan dua buah surat.

”Perdana Menteri meminta saya untuk mengantarkan surat ini kepada anda. Beliau juga berpesan agar Pangeran segera menuju ruang pertemuan untuk membicarakan masalah isi surat itu. Pertemuan akan dimulai satu putaran pasir lagi.” Gregoriv menjelaskan maksud kedatangannya.

Pangeran Mikaél dengan cepat membaca pertama yang berisi permintaan bantuan dari Kerajaan Avalon. Tidak langsung dari Kerajaan Avalon, melainkan dari Kerajaan tetangga mereka, Virotia. Surat dari Kerajaan Serikat yang meminta untuk mengirimkan bantuan ke Kerajaan Avalon karena ada serangan ke pulau Zahaifé dan ditemukan tanda-tanda akan ada serangan dari Kerajaan Helas.

”Bunga Bening? Ritual Kebangkitan? Zahaifé? Apakah ini semua hanya kebetulan?” Pangeran Mikaél bergumam. Pangeran Mikaél memutar keras otaknya, dia merasakan akan ada sesuatu yang sangat besar terjadi, tidak hanya sekedar serangan di Avalon, ada sesuatu yang akan terjadi tapi seberapa keras dia memikirkannya dia tetap tidak menemukan jawaban.

Kemudian berjalan perlahan sambil membaca surat kedua, dari kerajaan Fletchia, kerajaan yang masih terbilang ada hubungan saudara dengan Bés Yua. Tiba-tiba Pangeran Mikaél teringat kepada Symon.

Segera setelah Pangeran Mikaél membaca surat dari Fletchia, dia berlari, bergegas menuju ruang pertemuan.

“Kakek, siapkan pasukan kita. Ada kemungkinan akan terjadi pemusnahan inland di Érde. Dan kita harus mencegahnya. Tapi rahasiakan dulu dari para penduduk biar tidak terjadi kekacauan. Satu lagi Kek, aku juga ingin membawa Nenek Peramal besertaku!” Pangeran Mikaél menyimpulkan sesuatu, dan kembali berlari meninggalkan Kakek Penasihat yang kebingungan.

“Pemusnahan? Nenek Peramal?” gumam Kakek Penasihat tidak mengerti dengan pikiran Pangeran Mikaél. Kakek Penasihat hanya bisa termangu melihat kelakuan Pangeran Mikaél yang tidak pernah bisa ditebak itu.

Ayah dan anak tidak jauh berbeda pikir Kakek Penasihat. Dengan menghela nafas dia berlalu meninggalkan ruangan itu. Dan berpikir keras untuk membuat seribu satu macam alasan untuk merayu Menteri Pertahanan pada saat pertemuan nanti agar mengerahkan hampir separuh prajurit istana.

*****

Halaman Istana Kerajaan Bés Yua.

Pangeran Mikaél sedang mengontrol pasukan. Sudah seminggu sejak dia menerima surat dari Fletchia yang mengabarkan bahwa Rein telah menghilang tanpa jejak selama lebih dari 3 bulan. Keluarga kerajaan Fletchia kembali kebakaran jenggot, setelah beberapa waktu yang lalu kehilangan satu-satunya Putra Mahkota, kini sang Puteri juga menghilang entah kemana.
Pangeran Mikaél berhenti, dan menghela nafas. Kemudian memerintahkan seorang komandan untuk meneruskan memeriksa pasukan. Menjauh dari barisan prajurit, Pangeran Mikaél membaca buku yang dia dapat di perpustakaan. Setelah tidak tidur semalaman membaca buku itu, Pangeran Mikaél jadi mengetahui sebagian besar tentang perang Afras. Perang yang mengatas-namakan kepentingan masing-masing kelompok dimana Hemiél yang ingin menghancurkan semua inland yang dianggap telah merusak Érde untuk membuat suatu tatanan kehidupan yang baru sedang Ardiél berusaha menjaga keberadaan inland. Moonfang yang dipercayakan sebagai panglima perang Ardiél di Érde berhasil menghentikan keinginan Hemiél untuk memusnahkan inland.

Untuk mengalahkan Dark, pimpinan Hemiél, Moonfang seorang Leander, iexian dari ras singa putih dan Énziéle miliknya, Seraphiel menyegel Dark pemilik kekuatan kegelapan, dengan dirinya sendiri sehingga tidak ada lagi yang bisa menggunakan kekuatan Dark. Hemiél yang berhasil dikalahkan disegel kembali untuk disucikan.

Berbagai macam pemikiran masuk ke kepala Pangeran Mikaél saat menatap sampul buku. Yang jelas, cerita tentang perang Afras bukan hal yang asing bagi Pangeran Mikaél, dia pernah mendengar cerita tentang perang Afras saat dia masih kecil. Ayahnya pernah menceritakan tentang perang Afars saat mereka masih sering di ruang keluarga setelah selesai makan malam bersama dan menjelang tidur, tradisi para keluarga Kerajaan. Sekarang dia menjadi lebih mengerti tentang perang Afras.

Kakek Penasihat mendekati Pangeran Mikaél dan menghentikan lamunan sang Pangeran. Dia datang bersama seorang gadis muda yang cantik. Pangeran Mikaél mengira kalau yang disamping Kakek Penasihat adalah seorang pelayan istana yang baru karena dia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya.

“Kek, mana Nenek Peramal? Kami mau berangkat secepatnya.” tanya Pangeran Mikaél pada Kakek Penasihat.

“Maaf Pangeran. Tapi Nenek Peramal sedang sakit. Tapi jangan khawatir. Aku membawa penggantinya.” kata Kakek Penasihat sambil memandang ke arah gadis itu.

“Pangeran. Aku perkenalkan cucu dari Nenek Peramal, Aelita Arianrhod!”

Gadis itu menunduk, memberi hormat pada Pangeran Mikaél. Pangeran Mikaél memandang dengan tatapan tidak percaya.

“Kakek, apakah dia bisa ku andalkan?” bisik Pangeran Mikaél pada Kakek Penasihat.

“Aku memang tidak sehebat nenekku, tapi aku adalah lulusan termuda dan terbaik dari Akademi Sihir. Aku adalah calon pengganti nenek peramal. Semua teman-temanku di sana dan aku tidak tahu apakah mereka masih hidup. Aku tidak bisa hanya tinggal diam di sini. Kalau kamu bisa menemukan alasan yang tidak tepat dariku, maka sebaiknya cari saja orang lain, Pangeran!” jawab Aelita yang ternyata bisa mendengar bisikan Pangeran Mikaél pada Kakek Penasihat. Aelita sedikit menekankan kata ”Pangeran” pada saat berbicara tadi. Dia sengaja menyindir karena umur mereka sebenarnya juga tidak berbeda jauh.

Pangeran Mikaél agak tersipu berusaha tersenyum dalam kepanikannya, salah tingkah. Meski mau tidak mau dia mengakui pendengaran Aelita yang tajam.

“Kalau begitu, kita berangkat secepatnya!” perintah Pangeran Mikaél pada para prajurit.

“Kakek, beritahukan pada Yang Mulia dan Ibunda Ratu semua hal yang berkaitan dengan ini dan apa yang akan kulakukan jika kalian sudah bertemu di Fletchia.” pesan Pangeran Mikaél pada Kakek Penasihat. Kakek Penasihat hanya mengangguk.

“Silakan Nona Aelita!” Pangeran Mikaél mempersilakan Aelita memasuki kereta Kerajaan.

Setelah Aelita berjalan agak jauh, Pangeran Mikaél berbisik kembali pada Kakek Penasihat.

“Eh Kakek, dia sudah punya bersuami belum?” tanya Pangeran Mikaél.

Belum sempat Kakek Penasihat menjawab, Aelita yang sedang berjalan membalikkan badan.

“Sekarang masalah statusku sangatlah tidak penting Pangeran.” Aelita masih bisa mendengar meski jaraknya sudah cukup jauh. Pangeran Mikaél hanya bisa kembali menyeringai. Dan bergegas memasuki kereta Kerajaan yang sama dengan Aelita.
Pimpinan prajurit memberikan komando untuk bersiap-siap berangkat. Di dalam kereta Pangeran Mikaél dan Aelita duduk saling berhadapan. Pangeran Mikaél masih agak canggung akibat kejadian tadi. Mereka hanya saling membisu.

“Pangeran !” Aelita memecahkan kebisuan itu.

“Eh ya, ada apa Nona Aelita?” Pangeran Mikaél terbata-bata menjawab sapaan Aelita. Tingkah yang gugup terlihat dengan jelas. Memang sejak dari dulu Pangeran Mikaél tidak pernah bisa bertingkah normal saat bertemu dengan lawan jenis. Kecuali dengan Mina tentunya. Mina? Pikir Pangeran Mikaél, dulu dia memang tidak pernah menganggap Mina adalah seorang perempuan. Teman bermainnya itu memang punya tingkah laku seperti laki-laki. Aku pasti dibunuh Mina jika tahu kalau dulu aku menganggap dia teman laki-laki.

”Ada keperluan apa hingga Pangeran memerlukan bantuan Nenekku?” Aelita membuyarkan pikiran Pangeran Mikaél.

”Nona, tapi seberapa jauh anda mengenal akademi sihir? Bisakah aku andalkan? Aku sangat memerlukan Nenen Peramal karena beliau adalah mantan Mata Tertinggi di Akademi Sihir. Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku, dan aku merasa ada hal lain yang sebenarnya terjadi di Avalon. Aku yakin ada sesuatu dibalik semua ini.” Pangeran Mikaél menatap Aelita. Tatapan itu membuat Pangeran Mikaél yang tadi terlihat seperti seorang yang biasa menjadi seorang yang lebih berwibawa layaknya seorang pangeran.

“Pangeran, aku memang tidak mempunyai jabatan yang tinggi di Akademi seperti nenekku. Tapi aku mengenal lebih jauh tentang Akademi daripada teman-temanku yang lain.” Aelita memandang Pangeran Mikaél dan kemudian menatap ke arah buku yang berada di samping Pangeran Mikaél.

“Oh boleh. Silakan. Mungkin kamu akan menemukan sesuatu yang lebih penting.” Pangeran Mikaél menyerahkan buku itu, mengerti maksud tatapan Aelita. Aelita menerimanya. Namun dia tidak membuka buku itu. Dia hanya menempelkan telapak tangan pada buku itu dan memejamkan mata.

”Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak akan membacanya?” Pangeran Mikaél heran.

”Ini adalah caraku aku membaca.”jawab Aelita tanpa membuka matanya.

Aelita mulai menggunakan kekuatan sihir sambil membaca mantra. Aelita memang mempunyai kekuatan yang bisa ’membaca’ dengan cepat. Dengan hanya menempelkan tangan dan membaca mantra pada buku atau benda bertulisan lain, dia bisa dengan cepat ’membaca’ atau mengetahui isi tulisan yang ada pada buku atau benda bertulisan. Kemampuan ini juga yang membuat dia lulus dengan cepat dari Akademi. Tidak hanya pada buku, terkadang Aelita bisa melihat masa lalu dari suatu benda, tapi tidak semua berhasil dia lakukan.

Pangeran Mikaél hanya diam mengamati. Makin lama dipandangi, Pangeran Mikaél merasa Aelita menjadi lebih cantik. Dia tidak bisa melepaskan pandangannya. Sementara dalam diri Aelita, dia seperti melihat dengan jelas kejadian yang tertulis di buku juranl itu. Bentuk-bentuk utlisan berubah menjadi gambar yang melintas di kepalanya. Kejadian demi kejadian melintasi pikiran. Sekarang buku itu menjadi matanya yang bisa melintasi waktu. Inilah kemampuan Aelita. Dengan kemampuan ini Aelita bisa dengan jelas melihat apa tertulis di buku dengan jelas. Aelita mencoba mencari segala sesuatu informasi yang mungkin berguna.

Beberapa saat berlalu, Aelita perlahan-lahan membuka mata. Pangeran Mikaél segera mengalihkan pandangannya.

“Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?” tanya Pangeran Mikaél.
Aelita memandang ke sekitar, berusaha memulihkan pandangannya.

“Pangeran, sebaiknya kita tidak terburu-buru !” jawab Aelita tenang.

“Ada sesuatu yang masih janggal bagiku.”

“Benarkah itu?” Pangeran Mikaél merasa senang dengan adanya dukungan dari Aelita. Paling tidak mereka berdua mempunyai firasat yang sama.

”Nona, apakah anda tahu sesuatu yang tersembunyi di Akademi? Tentang sesuatu yang disegel?” tanya Pangeran Mikaél. Mengungkapkan apa kesimpulan yang bisa dia ambil dari semua keterangan yang dia dapatkan.
Aelita menatap Pangeran Mikaél, mengisyaratkan bahwa apa yang mereka pikirkan hampir sama.

“Sebaiknya kita bertemu dan membicarakan ini dengan kerajaan-kerajaan yang lain. Aku takut apa yang kita hadapi lebih besar dari apa yang terlihat.” jelas Aelita.

”Tabir pelindung Zahaifé bukanlah sesuatu yang dengan mudah bisa dihancurkan, ada dua kemungkinan yang terjadi, kekuatan yang sangat besar atau ada orang dalam yang berkhianat.” Aelita mengajukan teorinya.

”Kita harus berhati-hati dan merundingkan hal ini dengan yang lain.” Aelita menatap ke luar kereta.

Pangeran Mikaél hanya mengangguk mengikuti keinginan Aelita. Pangeran Mikaél percaya Aelita lebih mengetahui tentang peristiwa ini daripada dirinya.

Tak berapa lama mereka telah tiba di pelabuhan perang Bés Yua, pelabuhan Sahna. Para prajurit sedang berbaris berjalan masuk ke dalam kapal. Delapan kapal perang besar berjejer di pelabuhan, mengangkut ratusan prajurit. Pangeran Mikaél dan Aelita turun dari kereta perlahan. Aelita turun terlebih dahulu begitu seorang prajurit membuka pintu kereta.
Aelita menatap hiruk pikuk di pelabuhan perang, pemandangan yang sangat jarang di pelabuhan perang pada masa damai. Pangeran Mikaél berdiri di belakang Aelita, ini juga pemandangan yang jarang dia lihat.

Dari samping mereka datang seorang yang berbadan besar berjanggut tebal lengkap dengan pakaian perang dengan seekor kuda perang kerajaan.

Jenderal Einar, meskipun sudah berumur, tapi Jenderal itu masih terlihat gagah seperti seorang pemuda. Badan yang tegap membuktikan bahwa dia masih mempunyai kekuatan dan semangat tempur yang tinggi.

Dengan pakaian perang yang berwarna merah, membuat Jenderal Einar terlihat sangat mencolok. Jenderal yang pernah mengalahkan seratus orang prajurit sendirian dalam perang terlihat lebih garang dari biasanya.

Prajurit yang lain agak segan dan takut dengan Jenderal Besar itu.

Pangeran Mikaél mendekat sambil tersenyum. Jenderal Einar turun dari kuda perang. Tubuhnya yang besar hampir dua kali lipat dari tubuh. Pangeran Mikaél membuat perbedaan perawakan mereka terlihat mencolok.

“Apa kabar, Guru?” Pangeran Mikaél memberi hormat pada Jenderal Einar yang juga adalah guru seni tarung dan seni perang.

“Seperti yang kau lihat, aku masih segar bugar dan siap untuk menjalankan perintahmu wahai Putra Mahkota Bés Yua.” suara Jenderal Einar yang serak dan berat itu seperti menambah kewibawaannya.

“Jadi apakah yang hendak perintahkan pada abdi setia kerajaan Bés Yua ini?” tanya Jenderal Einar.

“Mungkin Guru tidak akan percaya.” jelas Pangeran Mikaél sambil mengajak Jenderal Perang untuk berdiskusi di dalam Kapal Perang.

“Apapun yang kamu katakan wahai ksatria pemberani, aku akan mempercayainya. Aku akan selalu mempercayaimu anakku.”
Pernyataan Jenderal Einar melegakan hati Pangeran Mikaél. Pikir Pangeran Mikaél akan susah untuk meyakinkan orang yang terkenal keras dan disiplin itu. Padahal dia sendiripun masih belum yakin sepenuhnya akan cerita Reiđ, dia hanya yakin akan kebenaran tentang perang Afras dan semua yang terlibat di dalamnya. Dia masih tidak yakin apakah benar Zahaifé yang tidak terkalahkan bisa di ambil alih oleh orang-orang jahat. Namun segera saja ia menceritakan kenyataan itu pada orang yang dihormati ayahnya, sebelum pikirannya berubah.

“Kita berangkat sekarang?” tanya Jenderal Einar begitu perbincangan mereka selesai.

“Belum. Kita harus menunggu seorang temanku lagi.” kata Pangeran Mikaél sambil memperhatikan keadaan sekitar.
#####

Read previous post:  
Read next post: