K untuk Kehidupan

“Tidak bang......Saya menolak memakainya...” Tukas Tegar bergegar jiwa raganya tak menentu.

“Ambilah Gar.....Jangan keras kepala kau, ini untuk hidup bapak!” Paksa Gagah saudara tua satu-satunya.

“Tapi bang..dari mana abang bisa dapat banyak uang sebanyak ini?” Tegar beretori, ia tahu jawabannya.

“Abang ambil dari tabungan abang tentu saja” Tentu saja Tegar tidak terkejut mendengar jawaban tersebut, Abangnya sudah terbiasa berlidah dua.

Sudah lama jadi perbincangan khalayak , abangnya yang pegawai negeri golongan IIIA hidupnya terlalu mewah jika asal uangnya dari gajinya saja. Tegar pun tidak tutup mata dan telinga atas semua itu, tapi apa hendak dikata, setiap mengingatkan dianggap lancang, setiap nasehat dianggap menggurui, juga tuduhan cemburu, karena Tegar meski pegawai, tak bisa kaya juga.

Bukan Tegar tak bisa kaya, meski jabatannya memang tidak setinggi abangnya, ia kalau berkehendak, bisa juga menyalahgunakan jabatannya untuk kepentingannya sendiri. Akan tetapi didikan orang tua, terutama bapak mereka melekat sungguh dalam sanubarinya sedari kecil, bapak yang sedang terbaring lemah sakit, yang tidak cukup asuransi kesehatan dan uang pensiunannya untuk menopang seluruh biaya perawatannya selama ini. Padahal jabatan Bapak terakhir adalah kepala dinas sebuah instansi di kotanya, tapi sikap hidupnya yang keras terhadap diri sendiri, juga kepada keluarganya, agar hidup lurus serta tidak mengambil yang bukan haknya membuat ia begitu kesulitan sekarang ketika sangat membutuhkan uang. Kekerasan hati itulah yang menular kepada Tegar, akan tetapi tidak kepada Gagah abangnya entah bagaimana. Sulung telah lama menentang pola pikir orang tuanya itu, ia tidak suka melihat bapak menyia-nyiakan kesempatan besar di dalam jabatan yang dipegangnya.

Oleh karena itu setelah ia lulus dari kuliah ekonominya, ia merengek –rengek memohon kepada bapaknya agar mendapatkan jatah pensiun untuk bapaknya di instansi yang pernah dipegang Beliau. Tidak mudah bagi Gagah untuk meyakinkan bapaknya yang keras kepala, tapi setelah rajukan anak muda hampir berkepala tiga dengan tidak makan ditambah puasa berbicara berminggu lamanya, akhirnya bapaknya tidak tahan juga. Gagah tidak lama kemudian bekerja sebagai honorer di instansi tersebut, untuk kemudian tahun depannya diangkat sebagai pegawai tetap. Gagah bukan main bangganya, cita-citanya menjadi pegawai negeri tersampaikan sudah, peduli setan macam apa pun cara mendapatkannya.

Tegar beberapa tahun kemudian juga diterima sebagai pegawai negeri, di instansi yang berbeda, tidak memakai pengaruh bapaknya, dengan jalur yang patut. Meskipun begitu pergunjingan tak mampu dihindari, bahwa seperti abangnya, Tegar memperoleh status pegawai karena bapaknya. Ia pun dipandang munafik oleh koleganya karena bekerja terlalu lurus dan jujur seperti bapaknya. Seperti anaknya juga, marka kemunafikan itu juga menghampiri bapaknya, terlebih karena kelakuan anak tertuanya yang terang benar tingkah polah korupnya. Habis sudah nama baik yang selama ini dijaganya, runtuh sudah kehormatan. Satu-satunya kesalahan yang Bapak lakukan, menghapus seluruh kebaikan yang ditanamnya. Orang banyak hanya melihat setitik nila yang dibuatnya itu, tidak upaya kerasnya menjaga amanah selama ia menjabat.

Terlebih orang-orang yang selama ini menganggap Beliau sebagai sosok centang perentang di lingkungan ia mengabdi dulu, begitu senang mereka mengangkat cela beliau begitu memasukan anaknya ke dalam instansi, ditambah kelakuan Gagah yang berseberangan dengan Bapaknya selama ini, Mereka pun merasa menemukan mata rantai yang hilang dari orang yang selama hayat mereka yakini memiliki kebusukan yang sama busuknya dengan mereka. Sehingga, Beliau pun tak sanggup bertahan menerima segala cemoohan, hatinya terlalu lemah untuk dipermalukan, Pikirannya penuh, Jantungnya terganggu karena semua itu. Kesehatannya terus mundur, sampai sekarang ini, terbaring lemah tak berdaya hampir setengah tahun lamanya di Rumah Sakit.

Selama ini Tegar telah berupaya keras, menghabiskan tabungan ia dan bapaknya, menghabiskan hampir seluruh penghasilannya, hingga pada malam ini, ketika kondisi Bapak sudah semakin kritis dan Dokter merujuk untuk melakukan pembedahan segera untuk jantungnya, dengan biaya yang sudah tidak mampu lagi ditanggungnya.

Lalu datanglah Gagah, yang selama ini secara lantang lewat emosi dan sorotan mata, ditentang oleh Bapaknya untuk menjenguknya ketika sakit. Beliau marah dalam air mata, ia tidak sanggup melihat seseorang yang telah menjadi beban derita yang menyebabkan ia kehilangan semangat hidup. Ia bahkan berpesan dengan jelas sebelum kehilangan kemampuan berbicaranya, agar hanya Tegar, anak bungsunya yang boleh menyetujui segala hal yang berkaitan dengan administrasi dan biaya dari Rumah Sakit, ia sungguh takut Gagah akan diam-diam berupaya membiayai perawatan dirinya.

“Jangan kau keras kepala macam bapak lah, lagipula bapak tidak perlu tahu uangnya dari aku” Cerca Gagah mencoba meyakinkan saudaranya.

Tegar berdiam diri, menanti jawaban dari dirinya sendiri, tapi tidak kunjung tiba, hati dan pikirannya terlalu penuh pertentangan, antara menyelamatkan nyawa orang tuanya, dengan memegang teguh keyakinan yang selama ini dipegang oleh orang yang akan diselamatkan nyawanya itu.

Apakah Bapak akan setuju kalau tahu? Beliau tidak perlu tahu....Tegar terus tertunduk membisu.

“Sudahlah, aku tinggalkan uangnya disini, aku tidak bisa berlama-lama menunggu jawaban muncul dari kepala batu mu itu, sekarang hidup mati bapak berada di tangan mu. Malam ini aku harus berangkat, ada tugas dinas ke negeri S”

Dengan melengos marah yang tertahan, Gagah tidak menunggu saudaranya untuk mempersilahkannya pergi dari ruang tunggu Rumah Sakit, ia beranjak dan berlalu dengan wajah tertekuk tidak mengerti apa lagi yang harus dipikirkan saudaranya.

“Agama pun tak akan melarang memakan babi jika dalam keterpaksaan” Batinnya mengemukakan alasan.

Ribuan kali kalimat itu juga membatin dalam hati Tegar, tapi apakah Bapaknya akan sudi?

Pertanyaan itu terus mengulang dengan sendirinya dalam hati tegar, tak berhenti. Ia pandangi amplop berisi uang yang akan bisa menyelamatkan nyawa ayahnya itu.

Kemudian tayangan televisi di ruang tunggu yang tak pernah ia simak selama ini menarik perhatiannya. Sebuah berita upaya aparat berwajib di kotanya mencari seorang oknum berinisial G yang diduga menyelewengkan dana di instansinya dan di duga telah melarikan diri keluar negeri.

Tegar hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat, ia tahu oknum yang dimaksud adalah abangnya. Tentu saja tidak ada perjalanan dinas ke luar negeri.

Ia sandarkan di dinding kepalanya, ia benturkan sedikit sembari menutup mata, terlalu berat dan terlalu lelah, setelah melihat berita itu, ia memutuskan untuk tidak memakai uang itu, ia akan berusaha menemukan jalan lainnya.
Ia mencoba tersenyum.

Suara langkah petugas Rumah Sakit ramai bergegas melewatinya, juga suara alarm kecil dari kamar yang dikenalnya. Ia pun beranjak dan mendekat lebih dekat untuk melihat apa yang terjadi tapi terlambat, di depan pintu kamar ia melihat, seorang petugas menutup mata bapaknya dan menyelimutinya hingga ke kepala.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Maximus
Maximus at K untuk Kehidupan (8 years 48 weeks ago)
90

Kasian bapaknya >_<
.
Negeri "S" kayaknya aku tahu = Singapura ya?

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at K untuk Kehidupan (8 years 48 weeks ago)

Betul, Singapura :)

Terima kasih untuk menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini.

Writer neko-man
neko-man at K untuk Kehidupan (8 years 48 weeks ago)
90

temanya gak biasa ya? unik.

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at K untuk Kehidupan (8 years 48 weeks ago)

temanya ada dalam kehidupan sehari2 kita.

terima kasih karena menyempat kandiri untuk membaca.

Writer aphrodite
aphrodite at K untuk Kehidupan (8 years 49 weeks ago)
90

sedih banget ceritanya T___T
tapi saya setuju ama keputusannya tegar. apapun yg terjadi jangan sampai makan uang haram ^^
oh ya, salam kenal, redo. ceritamu inspiratif :)

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at K untuk Kehidupan (8 years 49 weeks ago)

Salam kenal juga, terima kasih karena telah menyempatkan diri untuk membaca cerita saya.

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at K untuk Kehidupan (8 years 49 weeks ago)

salam kenal juga

senang mendengar ada yang bisa belajar dari tulisan tidak berharga milik saya ini.

Writer deechant
deechant at K untuk Kehidupan (8 years 49 weeks ago)
50

Apakah K untuk Kehidupan yang dimaksud adl Kejujuran?
Cerita ttg Hidup memang terlihat bosan untuk dituliskan,
tapi merana jika dirasakan.
Dari tulisan mas, ada hal baru lagi yg kupelajari.
Salam kenal...