Mungkin kalian sudah bisa menebak arah perkembangan situasi yang kuhadapi. Aku, si orang biasa, terjebak dalam sebuah keadaan di luar ‘lingkup kenormalan’ dan dipaksa bertindak melebihi apa yang biasa kulakukan agar bisa menyelamatkan diri. Keadaan ini selanjutnya akan membawaku ke dalam ‘suatu perjalanan panjang’ untuk menggapai ‘tujuan akhir’. yang nantinya, dengan terpenuhinya tujuan itu, akan membawaku kembali ke ‘lingkup kenormalan’ sebagai ‘seseorang yang melebihi sosok normal kebanyakan’.
(“Yang... benar... saja...” Tak tak tak tak tak! )
Read more (3127 words)
Tipikal sebuah cerita RPG fantasi ‘kan? Di mana aku mengalami proses level up dan sebagainya?
(“Huwaaaaaa!” Tak-tak! Tak-tak! Tak-tak! )
Pada dasarnya, memang itulah kerangka baku mitologi manusia yang dicanangkan oleh profesor/sejarawan filsafat yang belakangan namanya kulupakan itu. Suatu pola mendasar yang untuk suatu alasan tertentu, dipahami secara bawah sadar oleh setiap insan yang terlahir ke muka bumi ini, namun sayangnya hanya diikuti oleh segelintir orang tertentu. Yea, aku pernah mendengar tentangnya dalam salah satu ulasan sebuah game terkenal yang pernah kubaca di Internet. Aku akan bercerita lebih banyak lagi sesudah artikel itu kubaca lagi.
(“Breng... brengsek!” Tak-tak-tak! Tak-tak! )
Terlepas dari itu, dengan demikian, mungkin kalian sudah bisa menebak sendiri hasil akhir pergulatanku dengan monster aneh yang tiba-tiba saja mesti kuhadapi ini. Meski tetap harus kutekankan bahwa perkembangan situasi ke depannya sama sekali tak sesederhana dan seringkas seperti yang profesor itu bilang, intinya sebenarnya sama saja.
(“...!” Duaakkk! )
Jorougumo berhasil kukalahkan dengan satu pukulan.
Tanpa disangka, semenjak petualanganku dimulai pada saat aku menemukan grafiti itu, diriku rupanya telah berkembang menjadi sekuat itu.
...Oh oke. Aku tahu itu kedengarannya meragukan. Tapi sungguh, memang itu yang terjadi. Aku sama sekal i tak bercanda atau membuat-buat. Lalu jangan tanya aku! Aku sendiri heran!
Jorougumo, monster menakutkan yang tiba-tiba saja muncul dan menyerangku tu, memiliki wujud yang terus terang saja membuatku takut. Belum lagi bila mempertimbangkan kemunculannya yang begitu tiba-iba. Sosok laba-laba raksasa pada separuh tubuh bawah, dan sosok wanita dewasa pada separuh tubuh atas. Kurasa makhluk ini berasal dari mitologi atau dongeng negara Asia manaa gitu, yang detil lebih jauh tentangnya tak bisa kuingat.
Sosok wanita dewasa di bagian atas tubuhnya itu sama sekali tidak seksi. Mungkin karena rupanya yang menyerupai mayat hidup. Sekalipun tubuhnya telanjang dan bentuk dadanya dengan jelas bisa kulihat, warna kulitnya yang putih pucat dan rupa wajahnya yang bagaikan kuntilanak ditambah deretan capit berwarna hitam kusam di sepanjang ruas pinggangnya dengan jelas menyadarkanku bahwa ini bukan saatnya aku merasa terangsang!
Sngkat kata, aku tetap sadar bahwa yang kuhadapi ini merupakan sebuah boss fight . Ada semacam sensasi aneh yang membuatku tahu bahwa aku mempertaruhkan sesuatu yang lebih dari sekedar nyawa dalam pertarungan ini. Mungkin sukmaku atau harga diriku. Aku tak tahu.
Aku hanya terpana beberapa detik sebelum menyadari sepenuhnya apa yang mesti kuhadapi.
Tentu saja aku ketakutan. Aku ketakutan setengah mati.
Tinggi totalnya kurasa mencapai tiga meter. Bagian tubuhnya yang berbentuk manusia tak sampai mencakup sepertiga dan keseluruhan ukuran tubuhnya. Saat cahaya dari lantai melingkar berpendar di mana kami berpijak dengan jelas menerangi sosoknya, wajahnya yang mengerikan membuatku terpukau.
Sejuta pertanyaan kembali melintas di benakku. Apa dia wanita? Apa dia siluman? Apa dia cuma efek khusus seperti yang ada di seri-seri superhero Jepang? Sebab aku sama sekali tak sempat menghitung berapa banyak kakinya yang berbuku-buku. Aku sama sekali tak sempat menganalisa kelemahannya kira-kira di mana. Aku hanya bisa memikirkan betapa miripnya bentuk kaki serangganya dengan kuku-kuku jari manusia yang diasah dan dibiarkan tak terpotong. Serta tak, tak, tak yang membentuk bunyi gerakannya yang cepat pada lantai yang keras.
Seandainya Jorougumo melangkah maju ke arahku saja, dengan maksud seperti hendak melindas, tubuhku pasti akan tercabik-cabik oleh ketajaman ujung kaki-kakinya itu.
“Iiiiiiii!” Dirinya meluarkan suara pekikan yang melengking.
“Wua.. a... woaaaa!” Aku berteriak.
Sedemikian mengerikan sosoknya hingga kata berikutnya yang spontan terlintas di dalam benakku adalah lari .
Aku mesti lari.
Sial! Aku mesti lariii!
Dengan terpontang-panting aku melompat menjauh. Tapi dengan kecepatan luar biasa, Jorougumo sudah mengejarku kembali.
Aku panik.
Tapi bukannya aku merasa ketakutan atau bagaimana. Kalau kupikirkan sekarang, saat itu aku entah bagaimana tahu bahwa aku semestinya bisa lebih berani lagi, dan mencoba berbuat sesuatu alih-alih menunjukkan punggung. Maksudku, bila kau mendadak dihadapkan pada situasi yang sama sekali tak kau antisipasi, pertanyaan sebenarnya mungkin bukan soal apa kau berani apa tidak. Pertanyaannya adalah soal apa kau bisa mengendalikan diri atau tidak.
Itu pengalaman pertamaku. Aku tak bisa mengendalikan diri.
Jorougumo mendekat dan terus mendekat. Aku mencoba menghindar dan terus mencoba menghindar. Hingga akhirnya aku terdesak ke tepi lantai lingkaran cahaya itu, dan bahkan sempat mengira aku akan terpeleset dan terjatuh ke kegelapan tak berdasar yang ada di tepinya.
Kaki-kakinya yang panjang tahu-tahu telah berada di sisi-sisiku. Membatasi pergerakanku. Mengancam nyawaku. Menjebakku ke sudut. Suara pekikannya yang melengking mengisi rongga-rongga telingaku. Senyumannya yang lebar tampak seperti ia baru saja mendapatkan santapan baru. Helai-helai rambut lebatnya tampak melayang-layang bagai jerat. Ia tampak seperti pemburu yang menikmati setiap saat yang ia punyai sebelum mematikan mangsa.
Lalu pada saat itu, aku tak bisa menyangkal kecantikan aneh yang sebenarnya ia miliki di balik rupanya yang tak manusiawi. Aku tak bisa tak memperhatikan matanya yang berkilau abnormal bagai intan permata, atau sepasang taring di mulutnya yang sepertinya cukup tajam dan panjang untuk mengoyak bongkah daging mentah-mentah.
Kemudian entah bagaimana, saat tenguknya bergerak ke belakang seperti saat hendak membenamkan taring-taringnya itu ke ubun-ubun kepalaku, saat aku tak kuasa untuk secara bawah sadar tak memperhatikan betapa indah bentuk lehernya, di tengah teriakanku yang semakin tak terkendali, kurasa aku terbawa adrenalin atau apa, aku meninjunya.
Bam! atau Duaakkk!
Seperti itu.
Dengan tangan kananku. Persis saat aku mencoba membalikkan tubuh.
...Sudahlah. Aku tahu ini perkembangan yang aneh. Tapi ikuti saja.
Jorougumo seketika itu mendesis. Pekikannya terputus.
Saat keheningan tiba-tiba merebak, kuperhatikan tinjuku telah mendarat persis di perutnya, atau abdomennya, atau apalah namanya. Kepalanku terasa sakit, tapi aku tak menyadarinya. Saat itu aku bahkan tak memperhatikan ada semacam capit gading di kedua sisi abdomen itu, di mana ia bisa menjepit mangsa dalam satu pelukan penuh hasrat yang sepertinya teramat mematikan.
Lalu kudengar ia menjerit. Melengking. Nadanya jauh lebih tinggi daripada sebelumnya. Gerakannya selama sesaat tiba-tiba terhenti. Dan panik karena menyaksikan rupanya dari jarak begitu dekat, dengan separuh terjengkang aku menendangnya menjauh dari hadapanku.
Tendanganku sama sekali tak kuat. Tapi Jorougumo terguling seperti laba-laba yang sarangnya ditiup. Kaki-kakinya sangat besar dan tebal melipat membentuk bola sangkar bercangkang keras.
Aku melongo.
Apa... aku baru saja menyerang titik lemahnya?
Jantungku berdegup dengan luar biasa kencang dan tak beraturan. Nafasku terengah-engah. Meski aku tahu diriku tak terluka, untuk suatu alasan tubuhku tiba-tiba kini terasa luar biasa lemas.
Aku merasa seperti akan kembali jatuh ke dalam ketiadaan gravitasi angkasa luar itu tak lama lagi.
Saat itu aku belum menyadari bahwa ini jelas-jelas merupakan efek dari sesuatu yang dilakukan Red Mist. Lalu tentu saja, suara terkesan orang brengsek yang baru kusebut itu—entah mengapa kini terdengar begitu menyebalkan—menggema dari balik semua kegelapan di sekelilingku.
“Wah, kerja bagus. Lebih cepat dari yang kubayangkan. Lihat ‘kan? Kamu sebenarnya enggak perlu kekuatan super apa-apa kok buat ngadepin yang kayak ginian.”
Brengsek... kalian pasti sengaja, kan?
Tak mungkin aku bisa menang melawan monster seperti itu semudah ini! Mereka pasti mengalah! Aku merasa seperti sedang dipermainkan.
“Enggak juga kok. Kamu lulus ujian dengan hasil menakjubkan kok, Hawe.”
Ujian?
Ujian... apaan?
Tapi pikiranku tak bisa bekerja secara baik karena kudapati cahaya di sekelilingku semakin meredup. Atau mungkinkah itu efek kedua pelupuk mataku yang pada saat itu terasa semakin berat?
Lho? Tubuhku...? Aku enggak bisa... gerak...
“Pemimpin kami, Volkswang of the Violent Wind, menginginkanmu tetap hidup.”
Si.. sial... Lagi-lagi... Apa... kalian enggak bisa milih nama lain yang lebih KEREN, brengsek?!
Aku terus berjuang dengan sepenuh hati agar tetap tersadar.
“Abaikanlah pesan sandi apapun yang kau dapatkan selanjutnya. Lupakanlah semua yang kamu lihat. Kami sendiri yang akan mengusut siapa yang telah mengirimnya padamu serta apa yang diinginkannya sesungguhnya. Keberadaanmu terlalu tak penting untuk dilibatkan dalam segala urusan berbahaya ini kok. Jadi... lupakan saja semuanya.”
Di tengah kesadaranku yang semakin menipis, aku tersentak saat menyadari implikasi kata-kata itu.
“Kalau kamu membeberkan pada siapapun tentang keberadaan kami atau tentang apa yang telah kamu lalui pada hari ini, maka kamu akan kami bunuh.”
Aku tercengang. Apa sekarang mereka dengan berani-beraninya sedang mengancamku sesudah menyeretku ke dalam semua keanehan . ini?!
“Kami mengerti bahwa kamu sendiri mungkin tak menyadarinya, tapi tindakan-tindakan yang kamu lakukan belakangan ini sangat membahayakan. Baik bagi dirimu sendiri, maupun bagi orang-orang yang ada di sekelilingmu.”
Kembali aku tersentak.
Nada suara Red Mist selanjutnya kali ini sepenuhnya prihatin.
Apa nyawaku... sedang diincar?
Hanya karena perkembangan konyol semacam ini?
“Jaga diri kamu baik baik ya, Hawe. Orang baik seperti dirimu di masa sekarang semakin jarang.”
Aku tak sanggup memperhatikan kelanjutan kata-katanya lagi. Segala sesuatunya kini sepenuhnya menjadi gelap. Namun entah bagaimana, kata-katanya yang terakhir tetap menemukan jalannya untuk menempel di benakku.
...!
Detik berikutnya aku tersadar, aku merasakan sensasi berdebam mengenai punggungku. Aku bisa merasakan desiran udara dan sensasi lantai lembab yang dingin. Dengan sedikit ketakutan, aku mencoba membuka mata; hanya saja untuk suatu alasan, aku sedikit kesulitan melakukannya. Seolah aku baru tersadar dari tidur panjang dan otot-otot pelupuk mataku kaku karena telah terpejam terlalu lama. Tapi saat aku berhasil membuka mata, aku menyadari beberapa hal lain yang membuatku heran: aroma menyengat tak asing yang menerpa hidung, serta langit-langit putih bobrok yang pastilah sudah puluhan kali kulihat sebelumnya.
Saat pandangan mataku akhirnya mulai fokus kembali, aku mendapati diriku terbaring di lantai WC cowok di sekolah. Ya. Persis di deretan kloset berdiri yang dibangun ke bentuk u dari susunan ubin sederhana, seperti halnya yang sering terlihat di bangunan-bangunan yang tersisa sejak zaman kolonial.
Gimana aku... bisa sampai ke sini?
Bau menyengat yang sebenarnya bau pesing itu diakibatkan karena saluran air yang bermasalah akhir-akhir ini.
“Uuh.”
Untuk suatu alasan, aku merasa sekujur tubuhku kaku. Aku juga mendapati kepalaku entah mengapa pening saat mencoba bangkit.
“Ya ampun! Hawe?”
Lagi-lagi sesuatu yang tak asing terdengar. Saat aku mencoba separuh menengadah, wajah yang selalu bebas curiga milik teman akrabku, Exel, yang sepertinya baru saja tiba di WC dengan maksud untuk kencing, muncul di pandanganku yang sedang agak merabun.
Perlu diperhatikan bahwa WC cowok di sekolahku tak dilengkapi dengan daun pintu. WC ini sepenuhnya mengandalkan sekat-sekat beton untuk menghalangi pandangan. Yah, dengan pengecualian untuk ruangan di mana kloset jongkok berada tentunya, yang kebetulan sekali hanya berjumlah dua. Oh, dan pintu keluar WC yang letaknya di pinggiran sekolah ini ada dua.
Satu yang lebih dekat ke arah kantin, dan satu yang lebih dekat ke arah ruang-ruang kelas. Dan di tengah tempat serupa selasar itu aku mendapati diriku terbaring.
“Ha-Hawe? Kamu enggak apa-apa?” tanya Exel lagi.
Jadi, ya, WC cowok ini memang teramat sederhana, dan ini satu-satunya WC cowok yang ada di sekolah ini. Bangunan SMA PRB di mana aku bersekolah memang memiliki akar sejarah yang lumayan dalam, yang menjadikan sejumlah pandangannya soal renovasi bangunan sedikit kolot.
Kurasa sekarang sebaiknya aku berhenti berkomentar soal WC.
“Kepalaku sakit.” Serta-merta aku mengakui.
Seolah telah melupakan hajatnya, Exel dengan segera membantuku bangkit. Ia melingkarkan salah satu tanganku ke belakang lehernya.
“Whoa!” Tiba-tiba saja dia berkata. “Benjolmu gede banget!”
“Eh? Benjol?”
Aku mengernyit dan tanpa sadar menggerakkan tangan untuk memegang kepala.
Ternyata benar. Bagian belakang kepalaku benjol. Besar. Mungkin karena membentur lantai saat jatuh(?) tadi? Pantas saja aku merasa nyeri.
Disangka telah pingsan di lantai WC, Exel (sesudah aku mengingatkannya untuk kencing) kemudian memapahku ke ruang UKS di mana benjol di kepalaku bisa dirawat. Aku sedikit terkejut saat mendapati bahwa untuk berjalan pun badanku terasa limbung.
Sesudah berjalan menyusuri beberapa lorong, melewati sejumlah ruang kelas di mana para murid sibuk belajar, kami tiba di ruang UKS yang terletak di dekat gerbang depan.
Aku tak mengerti detilnya, tapi saat melihat keadaanku, guru yang saat itu sedang bertugas di pos piket—yang kebetulan di sekolahku terletak persis di depan UKS, sesudah terpana selama beberapa saat, berkata agar aku duduk saja dulu di salah satu bangku yang tersedia, sebelum bergegas ke suatu tempat untuk mengambil apa yang kukira adalah kunci UKS. Agak di luar bayanganku dan Exel, beliau kembali bersama seorang siswi berkulit kuning langsat dan berambut ikal dikuncir dua, yang belakangan kami ketahui dari panggilan sang guru bernama Arni. Intinya, guru yang sedang memegang kunci utama UKS kebetulan belum tiba di sekolah. Jadinya beliau mesti meminta bantuan anak PMR bernama Arni ini yang kebetulan memiliki kunci cadangan.
Arni (aku tak tahu persis dia kelas berapa, jadi aku tak tahu apa aku mesti manggil dia ‘Kak’) dengan sigap menangani situasinya. Ia mengambil alih keadaan dari si bapak guru yang tampak gugup, yang sesudah melepas sedikit tawa renyah, dipersilakan kembali ke pos piket.
Arni menghela nafas kecil sebelum memeriksa keadaanku (mungkin karena penjelasan Exel soal terbenturnya bagian belakang kepalaku akibat terpeleset di lantai WC). Sementara Exel memandangi keterampilan Arni, mungkin sambil membayangkan dirinya mengenakan baju perawat.
Aku sendiri berusaha untuk tak terlalu memperhatikan sensasi jari-jari lentik Arni, yang dengan hati-hati menyibakkan helai-helai rambut di belakang kepalaku. Ada aroma bunga menyegarkan yang menyerbak dari badannya. Mungkin dari jenis mist cologne yang ia gunakan.
Sial. Aku selalu gugup bila harus berada sedekat ini dengan cewek. Aku harus menahan pikiranku agar tak sampai berkhayal ke mana-mana.
“Ah.” Tiba-tiba saja Arni berucap, membuyarkan apa yang kulamunkan. “Berdarah.”
Arni secara sekelebat memperlihatkan salah satu jarinya yang sedikit bernoda merah.
Mata Exel seketika membelalak.
Melihat warna merah tua itu dengan begitu tiba-tiba, aku merasa seperti nyaris pingsan.
“Diperban aja ya?” katanya lagi.
Lalu ia dengan sigap membuka laci dan mengeluarkan gunting dan segulung perban. Aku dan Exel hanya mengangguk dalam diam, seraya memperhatikan—tanpa bisa sepenuhnya memahami—apa-apa persisnya yang Arni lakukan.
“Makasih.” ujarku.
Yang pasti, sedikit pendarahan di kepalaku itu dihentikan. Lalu perban di kepalaku itu dikencangkan. Lalu tak lama kemudian, kepalaku mulai terasa nyaman. Kepalaku masih terasa sedikit ringan. Tapi setidaknya aku tak merasa limbung lagi.
“Sama-sama.” ucap Arni datar. Ia bukannya bersikap dingin. Ia hanya bersikap seolah ini suatu hal yang sudah terbiasa dilakukannya setiap hari. Seperti mencuci piring atau menyapu rumah.
“Ah, tenang aja. Dia bakal baik-baik aja kok. Kamu balik lagi aja ke kelas.” ucapnya lagi pada Exel.
“Eh? Beneran?” tanya Exel dengan muka khawatir.. atau bukan. Maksudku, aku tak yakin mengapa, tapi aku seperti melihat ekspresi kecewa karena ia diusir. Atau mungkin juga itu hanya perasaanku saja.
“Bener kok.” Anri berujar sembari tersenyum sambil kembali menghela nafas. “Eh, tapi sebelumnya, bisa tolong tulisin nama dan kelas kamu?”
Hah? pikirku. Buat apa?
“Nomor telepon ga usah?” tanya Exel. Nadanya sedikit berharap.
“Ga usah.” jawabku dan Arni pada saat bersamaan dengan nada tegas, secara tak terduga.
Aku dan perempuan itu saling pandang selama sejenak. Sebelum Arni dengan sedikit menyeringai melanjutkan kembali.
“Karena bukan guru yang nanganin, mesti ada catatan buat tiap-tiap kejadian yang masuk.” Arni menjelaskan. “Cuma buat itu aja kok.” tambahnya dengan senyum.
...Kayaknya bukan soal itu yang Exel khawatirin deh.
Tolong dong. Meski tadi aku sempat berpikir soal mist cologne , ini bukan adegan di iklan pewangi badan! Aku kadang benar-benar tak tahu harus bagaimana dengan sahabatku yang satu ini.
Exel kemudian memberikan anggukan terima kasih pada Anri dan anggukan ‘sampai nanti’ padaku.
“Hei, Hawe. Lain kali hati-hati ya!” ujarnya.
“Yea. Makasi banget.” ucapku lemah.
Akhirnya dia melambai dan dengan ekspresi malu-malu, menghilang di balik pintu geser.
Aku tak tahu kebetulan macam apa yang membuat Exel bisa muncul tepat pada waktunya seperti itu. Tapi aku sedikit bersyuku karena kebetulan itu terjadi. Seandainya yang mesti menolongku itu orang lain, aku punya perasaan aneh bahwa sejumlah ‘kabar’ tentangku akan merebak.
...Soal aku terpeleset dan membenturkan kepalaku sampai pingsan di WC cowok hanya salah satunya.
Arni dengan lembut mengencangkan ikatan perbannya, kemudian melangkah ke depanku untuk melihat hasil kerjanya.
Aku cepat-cepat mengalihkan mataku dari alur pergerakan badannya.
“Oke. Kayaknya udah ga masalah. Istirahatin aja. Kayaknya kamu cuma ngalamin gegar otak ringan. Tapi kalo kenapa-kenapa langsung dibawa ke dokter rumah sakit aja, ya?”
“Oke.” Aku mengangguk dengan sedikit malu-malu. “Trims banget ya.”
“Lho?” Tiba-tiba Arni berkata. “Pipi kamu kenapa? Kok... kayak ada bekas tamparan ya?”
“Tamparan?!” seru sebuah suara lain.
Aku dan Arni sama-sama menoleh. Pintu geser UKS tiba-tiba saja membuka, dan sosok Exel tahu-tahu telah muncul lagi.
Tentu saja entah untuk keberapa kalinya hari ini, aku dihadapkan pada situasi di mana hanya kesenyapan yang merebak.
Sial, aku tak bisa menjabarkan betapa aku kadang malu memiliki teman seaneh Exel! Kalian mestinya lihat sendiri betapa drastisnya perubahan mimik yang melanda wajah Arni, dari ekspresi kaget ke ekspresi melotot.
“Kok kamu masih di sini?” tanyaku, agar gadis baik yang sudah susah-susah merawat lukaku tak perlu repot-repot menjawab.
“Hoo, bekas tamparannya betulan ada. Kayaknya ditamparnya lumayan keras. Kok bisa ada di stu ya? Emang Hawe segitu hebatnya? Apa mungkin ada anak cewek yang pertama kali nemuin dia, terus coba nepuk-nepuk pipinya biar siuman, tapi akhirnya nyerah dan pergi gitu aja karena keinget dia lagi ada di WC cowok ya?” Exel dengan cueknya melanjutkan perkataannya.
Meski aku harus terkesan oleh tingginya tingkat imajinasi yang Exel miliki, aku tak bisa membuat diriku berkata apa-apa.
Maka kesenyapan di antara kami kembali merebak.
“O-oke. Aku pergi deh. Aku balik lagi ke kelas. Dadaah!”
Lalu sesudah dengan seenaknya melambai, pintu UKS pun tertutup kembali.
Selama beberapa jenak, kudapati Arni hanya bisa mengejap-ngejapkan mata.
“Ah, um, dia emang agak kayak gitu.” ujarku terbata-bata. “Tapi dia orangnya baik kok.”
Sesaat pandangan Arni kepadaku terkesan curiga. Tapi seolah ia akhirnya mencapai kesimpulan apaa gitu, pada akhirnya ia tak berkata apa-apa. Bahkan secara sekilas wajahnya tampak tersipu.
“Yak. Sudah. Bisa balik sendiri ke kelas ‘kan?” ucapnya, setelah menghela nafas lagi dan mencuci tangan di wastafel ruangan.
“Bisa. Makasih banyak udah nolong.” Aku bangkit berdiri.
Sekalipun dengan semua hal yang bekalangan ini kualami, lima belas menit terakhir itu benar-benar merupakan salah satu lima belas menit teraneh dalam hidupku.
“Biasa aja kok. Aku anak PMR, jadi udah kebiasa dimintain tolong buat yang ginian.” ujarnya sambil tersenyum canggung.
“Nanti lain kali biar kubales.” ucapku spontan, seraya membungkukkan badan.
“Eng, enggak usah kok!” jawabnya cepat-cepat.
Sedikit terheran oleh reaksinya, baru kemudian aku sadar bahwa perkataan terakhirku pun ak perlu.
“Ah. S-sori.”
“Ehehe. Nyante aja!”
“K-kalo gitu permisi.” Aku beranjak menuju pintu.
“Eh, tunggu!” sahutnya.
Aku menoleh.
Arni tampak berpikir selama sejenak, sebelum kemudian berkata, “Ada satu hal ding, yang pengen kumintai sebagai balasan.”
Merasa agak heran dengan perkembangan ini, aku mengejapkan mata.
“Apa?”
“Lain kali kalo kita ketemu, misalnya di sekolah ato di jalan gitu, tolong jangan bayangin aku pake baju perawat!”
Aku tercenung selama beberapa saat. Mematung, tak tahu persis harus berkata apa.
Tapi pada akhirnya secara singkat aku mengangguk, lalu dengan wajah bersemu merah cepat-cepat pergi meninggalkan ruangan itu.
aku belum baca awal awal ceritanya, tapi I like it
kurasa kau ga akan ngomong gitu pas baca awal ceritanya. tapi trims.
*
diam namun mengerti adalah seni terhebat
wah, ada tokoh2 baru. saya suka gayanya arni yg cool :D
bagian ini bagus kak walopun saya agak bingung kenapa hawe bisa ngalahin jorougumo dengan gampang.
oh ya, ada beberapa typo tuh ^^
ditunggu lanjutannya~
Apa? masih ada typo? Oh tidaak. Tapi trims dah nunjukin.
.
Um, soal Jorougumo, kurasa hawe sendiri juga heran.
.
Kalo ada komentar soal perkembangan cerita. Tolong kasi tau juga. Thanks again.
Yah, ad semacam penurunan tensi kalau dibandingkan episode sebelumnya.
-
Dan paragraf pertamamu, meski tertulis pembaca mungkin bisa menebak arah cerita, tetap saja aku gak ngerti. Kau mesti mendefinisikan apa yang disebut "normal" itu?
-
"Tanpa disangka, semenjak petualanganku dimulai pada saat aku menemukan grafiti itu, diriku rupanya telah berkembang menjadi sekuat itu." --> humm jadi si tokoh menganggap penemuan grafiti itu sebagai semacam turning point ya... yah dia emang agak aneh sih. Di episode2 selanjutnya aku berharap ada penjelasan yg (kalau bisa) memuaskan tentang grafiti itu.
-
Dan mengapa si tokoh dianggap gak penting sementara di saat yang sama si Red Mist tahu kalau grafiti itu dikirim untuk si tokoh...
-
(Humm sejujurnya akan lebih seru kalau si Hawe tersadar di WC Cewek... tapi yah kurasa agak sulit melanjutkannya nanti. )
-
Bagian berikutnya membuatku jadi ingat ceritamu yang kuroiko (sigh... kpn akan kau lanjutkan?), maksudku duet Hawe dan Exel nuansanya sama kayak tokoh yg muncul di kuroiko.
-
Ya sudahlah, tetap semangat.
Cerita ini emang agak ga terstruktur. tapi aku udah mikir dalem2 buat masing-masing alasannya kok. kau pikir kenapa lagi aku butuh waktu lama buat ngerjain ini (selain malas)?
.
Segala keanehan dalam narasi Hawe sih, kalo mo sedikit spoiler, adalah karena dia kerap kali mengalami dilema saat memandang kembali apa-apa yang udah dia alamu. Tapi segala detil yang diceritainnya pasti berarti kok. Mungkin.
.
Soal kuroiko, akan kutamatkan begitu LCHI beres.
.
Thanks man.
hahaha keren kaya biasa bos XD
thanks. tapi aku ga tau yang kau maksud keren itu di belah mana ^^
semuanyaa..... XD XD
saya gak ngerti...
kok tadi sampai ketemu monster segala =_=
kau mesti baca bab sebelumnya lah.
Suka part yang ini.
Walaupun merindukan Irma Irina muncul atau paling tidak si Maya tapi Arni ini juga lumayan ok.
Tetap menulis. Smangat! Selalu!
TT.TT aku selalu ngerasa cerita ini semakin ga jelas.
hiks hiks.
terima kasih...
Ini sih masih masuk batas toleransi.