Family Diary

Di sederet kursi, aku bisa melihat berbagai macam ekspresi. Tanteku yang berparas gemuk dan biasa tampil menor, kini dengan kepayahan menyeka air matanya. Sepupu laki-lakiku yang bertampang serius dan punya sorotan mata dingin, tampak terpatung menundukkan wajahnya. Kakekku yang berwatak keras dan gampang marah, sekarang terus menerus menghela nafas panjang.

Setelah bosan mengamati, juga didorong rasa kantuk, aku meminta ijin ke toilet. Bukan untuk buang air seni atau kotoran, melainkan hanya untuk bercermin. Aku penasaran ekspresi apa yang sedang ditunjukkan diriku sekarang. Ternyata masih sama. Bibir segaris, mata sorotan tajam, hidung yang menghembuskan nafas dengan santai. Ekspresi ketenangan.

Puas memandang wajahku di cermin, aku kembali ke ruangan besar tadi. Kusalami beberapa orang berpakaian hitam. Lalu kakiku melanggeng ke dekat dinding ruangan, tempat tercium bau dupa dan kembang yang bercampur. Perlahan kusentuh kusen peti kayu berplitur yang tergeletak di sana dan kupandangi wajah ibu dan ayahku yang terbaring di dalamnya.

***

Dua hari yang lalu, mobil kijang orang tuaku hancur tergempur truk besar. Kaca depannya berhambur pecah menjadi beribu-ribu bagian. Kap mobilnya penyok setengah bagian. Ban kirinya terlepas ke jalan. Tak ada yang meninggal, sampai ambulans datang.

Aku yang sedang berbaring santai di tempat tidur, buru-buru pulang ke Semarang. Yang menyambutku bukan senyum rindu dan teh hangat seperti biasa, melainkan jabatan di tangan dan tepukan di pundah dari orang-orang yang dekat dengan keluargaku.

Usaha mereka untuk menyemangati dan menghiburku sia-sia. Sebab bagiku tidak ada sesuatu yang perlu disemangati dan dihibur. Buktinya kemarin malam aku masih bisa tertawa-tawa mendengar guyonan pelawak di TV. Sarapan tadi, jumlah makanan yang tersedia kalah oleh nafsu makanku. Tadi malam aku masih bisa tertidur pulas di bawah kelambu tempat tidurku.

Ini bukan semerta-merta akibat sifat tak tahu terima kasihku, melainkan juga karena latar belakangku yang keras.

Sejak umur sepuluh tahun, hari-hariku tak pernah diisi dengan kehadiran orang tua. Dari rumah paman, sepetak kamar kecil teman ayah, kosan dengan bau apek, sampai apartemen murah pernah aku tempati. Mengunjungi orang tuaku tiga bulan sekali menjadi sebuah kunjungan resmi dengan latar keterpaksaan.

Juga tak pernah kuminta uang banyak pada mereka. Transferan uang yang kuterima malah selalu kurang dari kebutuhan hidupku. Terpaksa aku bekerja separuh waktu. Walau kadang tubuh mengeluh kecapaian dan mata terasa begitu nyaman untuk menutup, aku tetap tidak menagih uang lebih pada mereka. Ikatan finansial antara kami menjadi goncang, dan sekarang terputus total.

Maka komunikasi antar kami bagaikan sidang. Kaku dan tak bersahabat. Obrolan santai, makan bersama, dan kegiatan kekeluargaan lain telah berubah derajatnya dari rutinitas menjadi formalitas. Dan kami lebih sering terhanyut pada kegiatan masing-masing.

***

Seminggu setelah pemakaman, aku masih berada di Semarang. Selain urusan administrasi yang perlu dikerjakan, barang turun temurun keluargaku juga perlu dibereskan. Sudah ada beberapa orang yang seminggu lalu menjabat tanganku dengan hangat dan mengikuti pemakaman dengan khusuk, kemarin dengan senyum malu-malu meminta barang peninggalakan orang tuaku. Tingkah mereka serupa benar dengan malaikat berhati ular. Sebenarnya ingin kuabaikan saja permintaan mereka. Tapi toh tak ada artinya. Bagi orang sepertiku, kenangan tak lebih dari sekadar embun pagi yang indah tapi cepat dilupakan.

Jadi hari ini kukeluarkan semua barang di perabot tua. Buku-buku, lipstik, album foto, kalung, kertas koran, dan lain-lain kubuang ke dalam kardus dan kurekatkan dengan lakban.

Aku sampai pada meja rias. Jangankan membukanya, mendekatinya pun aku enggan. Ibu selalu melarangku mengintip ke dalam laci meja itu, mencegahku menelanjangi privasinya. Tapi hari ini amarahnya tak mungkin sampai ke telingaku. Maka kubuka satu per satu laci meja itu.

Hasilnya biasa-biasa saja. Aku mengharapkan akan ada benda-benda unik, seperti kondom, perhiasan, ataupun jimat. Tapi yang ada hanya lipstik, bedak, dan cermin kecil. Selebihnya nihil.

Aku baru akan beralih saat tanganku menyentuh dasar laci itu. Jariku merasakan tekstur bukan kayu di situ. Permukaannya licin dan saat kuketuk bunyinya teredam.

Penasaran kuperiksa dasar laci unik tersebut. Barulah aku sadar bahwa sebelum dasar laci diletakkan sebuah buku besar berwarna sama dengan warna laci.

Buku itu berukuran besar. Bagian depannya terbuat dari hardcover bagus. Kertas-kertasnya tebal dan berkualitas tinggi. Pada halaman pertama terpampang tulisan bersambung bertinta emas. “Family Diary”, begitulah yang tertulis.

Mulutku tertawa remeh, membayangkan betapa konyolnya tulisan itu. Aku membalik halaman-halaman pada buku itu. Dari tulisan tangannya dapat kubayangkan ibu menggoreskan pena dengan tulisan tegak bersambung. Sekilas tampaknya itu diari biasa dengan tanggal dan keterangan. Aku melirik tulisan pertama.

3 Juni 1983
Aku masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit, tapi aku merasa gembira luar biasa. Anakku yang telah kubesarkan di perut lahir sempurna. Bisa kulihat rupa tampan yang diwariskan ayahnya. Sayang, aku hanya bisa meminangnya sebentar. Thomas tadi menyuruhku tidur, tapi aku sudah terlanjur bersemangat. Aku sudah bertekad menulis sebuah jurnal untuk anakku. Sebuah dokumentasi nyata tanda cintaku padanya. Thomas mengiyakan enggan. Walau sikapnya begitu dingin, aku melihatnya menangis terharu saat menggendong anaknya. Berbeda benar pembawaannya, saat ia tersenyum lebar sambil mengucapkan nama anaknya. Reka Ananda Putra.

Aku terhenyak. Kubalik halaman dan melanjutkan membaca.

5 September1984
Reka sudah bisa berbicara sepotong-potong. Hatiku melonjak saat pagi ini ia memanggilku “Bun”. Ia belum bisa memanggil “Bunda” secara utuh. Sedangkan ayahnya dipanggil “Thom”, mungkin karena keseringan mendengar aku memanggil suamiku.

Hatiku mencelos. Kenapa ibuku yang biasa tidak peduli dengan gosip para selebriti, sangat memperhatikan hal sepele seperti ini? Kubaca cepat halaman-halaman selanjutnya yang berisi perkembanganku. Kubalik halaman dengan cepat, melihat ke satu bagian yang kuinginkan. Bagian aku pergi dari rumah.

13 April 1993
Aku benar-benar tak rela anak laki-lakiku satu-satunya harus pergi dari rumah pada usianya yang begitu dini. Thomas terus menerus menyemangatiku, berkata semua demi kebaikan Reka. Biarlah ia mendapat pendidikan yang tinggi, meskipun tak bisa mengecap kasih sayang orang tuanya, meskipun uang setoran pada pamannya hampir separuh gaji Thomas, meskipun aku harus mengemis-ngemis pekerjaan untuk mencukupi uang sekolahnya. Aku tak bisa mengantarkannya sampai bus. Aku tak ingin air mataku mematahkan semangat pendidikannya.

Pipiku terasa tertampar keras. Selama ini kukira ibu sudah tak peduli padaku sampai tak mau mengantarkanku ke bus. Dengan gelisah kubalik halaman. Kutemukan tulisan ayah di salah satu bagian.

24 Mei 2000
Reka semakin jarang menelpon. Seminggu tidak ada sekali. Mungkin uang kirimannya kurang. Renata selalu memaksaku mengirimkan uang lebih banyak pada dia dan mengurangi uang kebutuhan kami di sini. Aku tak menyanggupinya. Aku juga tak berani bercerita pada Reka bahwa aku telah diPHK dan bekerja serabutan selama tiga tahun ini. Aku dan Renata takut jika ia mengetahui kenyataan ini, ia nekat berhenti sekolah.

Kali ini aku merasa jiwaku dilumat-lumat, dihancurkan tanpa ampun, dan berakhir menjadi serpihan kesedihan dan penyesalan. Menguap sudah semua persepsi buruk pada ayahku. Aku terlalu memperhatikan diriku sendiri sampai tak bisa melihat kerja keras beliau.

Dengan takut-takut, kubuka halaman terakhir. Kembali tulisan ibu yang ada di sana.

17 Juli 2010
Hari yang biasa kualami. Meja makan terasa kosong tanpa kehadiran Reka. Walaupun pembicaraan kami biasa kaku dan tersendat-sendat, aku tetap menikmati berbicara padanya. Biar ia pendiam dan kadang tak perhatian, kehadirannya selalu membuatku merasa tentram, senang, dan damai. Ya Tuhan, kapan ia akan kembali ke sini? Berkumpul kembali bersama kami? Tak apa jika ia jauh dari kami, tapi lindungilah ia dimana pun ia berada.

Tubuhku terkulai lemas, buku diari itu terjatuh lepas. Rasanya tak sanggup membaca lagi. Tiap kata pada buku itu seolah menyadarkanku pada dosaku selama ini. Durhaka, egois, curigaan, dan sederet lainnya. Rasa bersalah membeludak keluar, menyentuh setiap sisi kemanusiaanku. Aku meraih pulpen dengan tangan masih gemetar. Kubuka halaman kosong pada diari itu. Kutuliskan apa yang kurasakan, sebuah pengakuan jujur yang telah terkubur lama dan baru kupahami hari ini. Biarlah para malaikat menyampaikan pesan yang kutulis dalam jurnal kasih sayang orang tuaku.

23 Juli 2010
Maaf, Ayah, Ibu. Baru sekarang ini kusadari bahwa aku mencintai kalian.

***

Do you want to know the meaning of 'FAMILY'?
Father And Mother, I Love You.
(From I'm Not Stupid Too)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Kika
Kika at Family Diary (6 years 12 weeks ago)
100

Paling suka sama kalimat terakhir. Family -> father and mother i love you <3
Aah.. Ceritanya menyentuh sekali. Manis. Bagus! Kika jadi pengen meluk mamah papah kika T.T
Keren kak!!
Btw, Salam kenal kak h.lind :)

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Family Diary (6 years 21 weeks ago)
100

Idul Adha, lagi di kostan, baca ini, dan jadi homesick.
Anda berhasil membuat saya ingin tobat dan pulang ke rumah. :')

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (6 years 21 weeks ago)

Wah, saya tersenyum membaca responmu. Syukurlah kalau begitu :)

Writer vannadis
vannadis at Family Diary (7 years 31 weeks ago)
100

cerita kakak bagus! mengharukan sekali.
saya sampai nangis waktu baca bagian buku hariannya. >_<
suka sama cara kakak menyampaikan emosi Reka, kalimatnya gak ribet tapi langsung mengena.
Ijin belajar ya m(_ _)m
btw, saya orang baru di sini, jadi salam kenal ya ^^

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (7 years 31 weeks ago)

Makasih udah mau baca ya vannadis. Kita sama2 belajar koq.
Thanks udah jadi fans. :)

Writer just_hammam
just_hammam at Family Diary (7 years 31 weeks ago)
80

Cerita recomended by Anggra_t http://www.kners.com/showpost.php?p=22604&postcount=10
Mengharukan... sedih sekali.
Selamat H.Lind... cerita bagus.

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (7 years 31 weeks ago)

Wow, makasih kakak. Saya jadi ikut baca lagi cerpen lama saya ini. :)

Writer fachrunnisa eva
fachrunnisa eva at Family Diary (8 years 10 weeks ago)
100

cuma mau bilang suka sekali,,,,ga bisa komen apa-apa

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 10 weeks ago)

cuma mau ngasih tau makasih sekali...ga tau harus ngomong apa ^^

Writer anggra_t
anggra_t at Family Diary (8 years 10 weeks ago)
100

cerpen ini sebenarnya sudah lama aku lihat, cuma aku lewatkan karena beberapa bulan lalu sakit mata karena kebanyakan baca cerpen di depan laptop, baru ingat lagi karena melihat komentar Juno di trit top 10 cerpen favorit ^^(lah kok malah curcol XD)
.
aa.. gimana ya.. kayanya udah lama juga aku gak give up nilai SEPULUH XD
tulisanmu ini benar2 membuat aku terharu. manthap! XD

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 10 weeks ago)

Wahh terima kasih ya, saya merasa tersanjung. ^^
Ada trit seperti itu ya? Cek ah ke TKP. ^^
Thanks sekali lagi.

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Family Diary (8 years 15 weeks ago)
100

saya mau mempelajari penggambaran narasi seperti ini dan karyamu yang lain...

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 14 weeks ago)

Wah saya juga masih belajar kok kak, teknik saya belum sempurna. Haha.
Thanks.

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Family Diary (8 years 21 weeks ago)
100

mengharukan :)
tp kadang anak yg tak dapat ksih sayang akan berpikir begitu ya T.T
sad ending, but nice :)

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 21 weeks ago)

Mungkin anaknya bukan tidak mendapat kasih sayang yang cukup, mungkin ia hanya tidak menyadari apa yang selama ini telah ia rasakan.
Thanks udah mau baca dan komen. ^^

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Family Diary (8 years 26 weeks ago)
70

Sukaaaaaa sekali... cerita ttg orang tua memang gag akan pernah habis buat diceritain dgn cara yg paling menyentuh...
mampir2 ktmptku jg ya kak :p

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 26 weeks ago)

Thanks, cerita orang tua emang cerita universal ya.
Aku juga selalu mampir ke tempatmu koq.

Writer vaniamathilda
vaniamathilda at Family Diary (8 years 26 weeks ago)
80

simple but nice!

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 26 weeks ago)

Thanks. ^^

Writer herjuno
herjuno at Family Diary (8 years 32 weeks ago)
100

Wah, absoulutely amazing! Memang tidak banyak kata-kata puitis, konfliknya pun sedikit, tetapi ceritanya benar-benar menyentuh! Saya sampai merinding waktu baca ini saking harunya. Sungguh!

Nilai sangat-sangat sempurna untuk ceritamu :D

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 31 weeks ago)

Makasih kk. Saya juga sempat merinding waktu membaca ulang cerita ini.

Writer anakmami
anakmami at Family Diary (8 years 32 weeks ago)
100

bacanya jadi terharu
jadi ingat ayahku nih...

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 31 weeks ago)

Makasih udah mau baca.
Wah ternyata saya berhasil membuat pembaca mengingat keluarganya. Hehe.

Writer redscreen
redscreen at Family Diary (8 years 32 weeks ago)
100

baguus T.T

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 31 weeks ago)

Thanks ^^

Writer neko-man
neko-man at Family Diary (8 years 33 weeks ago)
90

mengharukan, sungguh. Apalagi soal orangtuanya yang menyembunyikan masalah dari anaknya.
.
Cuma rasanya agak aneh kenapa ayahnya ikut nulis di buku harian.

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 31 weeks ago)

Sebelumnya terima kasih sudah mau membaca.
Pertama kali saya juga merasa aneh kalau ayahnya juga ikut menulis, tapi saya ingin mengangkat nilai kebapakan juga.

Writer Chie_chan
Chie_chan at Family Diary (8 years 33 weeks ago)
100

hmmm. dikau banyak kemajuan ya? aku sampai terperangah. ngalir dan menghanyutkan. :p

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 31 weeks ago)

Hoho, terima kasih kk. Senangnya ada yang memperhatikan kemajuanku. Hehe.

Writer exiled
exiled at Family Diary (8 years 33 weeks ago)
90

saya terharu membacanya

penyesalan memang sering datang terlambat, apalagi kalau komunikasi kedua belah pihak tidak lancar.

nice. saya suka.

ditunggu kelanjutannya. Tetap berkarya.

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 31 weeks ago)

Saya setuju dengan penyesalan datang terlambat. haha.
Terima kasih sudah mau membaca.

Writer Maximus
Maximus at Family Diary (8 years 33 weeks ago)
90

Waw waw semakin keren aja kak Lind XD XD
.
Saya sangat terhanyut,dan hampir nangis, apa lagi dengan tiga kalimat terakhir itu

Quote:
Do you want to know the meaning of 'FAMILY'?
Father And Mother, I Love You.
(From I'm Not Stupid Too)

It's absolutely amazing >.<
.
Cuma ada beberapa satu salah ketik :

Quote:
peninggalakan orang tuaku

mungkin maksudnya peninggalan :)
.
Terus satu lagi, saya merasa ada kontradiksi,di family diary nya dikesankan keluarga Reka adalah keluarga pas-pasan, tapi di bagian awal cerita dikatakan bahwa mobil kijang mereka penyok. Kalau mereka pas-pasan kenapa masih sanggup membeli mobil kijang? Lebih baik untuk sekolah anaknya bukan?
.
Itu aja dari saya *keep writing*

Writer H.Lind
H.Lind at Family Diary (8 years 31 weeks ago)

Makasi udah mau baca dan komen.
Memang hal itu agak kontradiktif, tapi saya rasa kalau sekedar kijang tua nilai jualnya tidak terlalu besar. Dan mereka belum hidup pas-pasan saat membeli mobil itu.
Tapi hal itu memang agak aneh, akan menjadi masukan bagi saya. Terima kasih.