Lebih Mudah Untuk Menyantapmu

Seorang nenek tiduran di atas kasur yang empuk, namun ia gelisah bukan main. Tubuhnya gemetar, tulangnya remuk, dan lidahnya terasa dingin. Ia telah menulis surat pada cucunya bahwa ia sakit, meskipun ia sadar bahwa itu keputusan yang sulit. Berkat surat itu, cucunya akan menjenguknya malam ini. Padahal bulan purnama akan berada di puncak yang paling tinggi.

Dan datanglah sang cucu, membawa sekeranjang kue dan mengenakan kerudung berwarna merah. Sang Nenek berusaha menyambutnya dengan wajar dan ramah. Namun ternyata, apa yang terjadi tak bisa ditutupi lagi. Sang Cucu sedikit demi sedikit mulai bisa menyadari.

“Nek, kenapa matamu menjadi begitu besar?”

Sang Nenek berkeringat dingin, namun mencoba untuk berkelakar.

“Tak apa, cucuku yang cantik. Mata besar ini bisa menatapmu dengan lebih baik.”

Namun tak juga merasa lega, Sang Cucu kembali bertanya.

“Nek, kenapa hidungmu menjadi begitu besar?”

Sang Nenek bingung, tapi berusaha tetap sabar.

“Tak apa, cucuku yang murah senyum. Hidung besar ini untuk membaui kuemu yang sangat harum.”

Sang Cucu tampak tak puas, ia tak ingin berhenti membahas.

“Nek, kenapa mulutmu menjadi besar, dan gigi-gigimu menjadi tajam?”

Jantung Sang Nenek semakin berdebar, dan ia pun mulai menggeram.

“Tak apa, aku jadi dapat… aku jadi dapat …,” ia tak menemukan alasan yang tepat.

Ia melolong panjang, lalu melompat dan menerjang. Matanya yang awas tak memberikan kesempatan bagi Sang Cucu untuk melarikan diri. Hidungnya yang peka dapat mencium aroma lezat tubuh cucunya sendiri. Lalu giginya yang tajam mengoyak-ngoyak tubuh Sang Cucu, dari kepala hingga kaki.

Sang Cucu menggapai-gapai, sementara air mata berderai, dan sisa darah menggenang di lantai. Sobekan kerudung merah menjadi basah, basah oleh darah.

Malam pun berakhir, bulan telah tersingkir. Sang Nenek kembali ke wujudnya semula, ia menangisi perbuatannya. Sudah tiga kali hal ini terjadi. Ia tiduran, berharap dan berjanji. Bulan depan, di saat bulan purnama muncul kembali, ia akan berusaha agar tak memangsa cucu-cucunya lagi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Whoaa, jadi horor, hehe.
Parodi itu harus komedi ga sih kak? *o*
Maap malah nanya, habis saya lagi menulis sesuatu yg seperti ini dan saya malah bingung sendiri, wkwk #penulisgalau
Well, nanti saya tanya padamu di YM boleh? eheheh.
Keren yang ini kak, hehehe.
Suka kata2 si nenek yg terakhir-nya, hehe,xD

Writer samudera
samudera at Lebih Mudah Untuk Menyantapmu (8 years 51 weeks ago)
90

boleh gak...aku aktif di stories...
trims

Writer Super x
Super x at Lebih Mudah Untuk Menyantapmu (8 years 51 weeks ago)
90

sadis iy. takuik ambo.

Writer Super x
Super x at Lebih Mudah Untuk Menyantapmu (8 years 51 weeks ago)
90

sadis iy. takuik ambo.

Writer Super x
Super x at Lebih Mudah Untuk Menyantapmu (8 years 51 weeks ago)
90

sadis iy. takuik ambo.

Writer d757439
d757439 at Lebih Mudah Untuk Menyantapmu (8 years 51 weeks ago)
100

hihihihi,,,,,,

Writer Shinichi
Shinichi at Lebih Mudah Untuk Menyantapmu (8 years 51 weeks ago)
90

mantab, horor ringkas. jadinya, pembacanya bukan penggemar cerita anak-anak lagi, tetapi anak-anak yg demen nonton discovery channel : kehidupan serigala jadi-jadian, berubah ketika purnama. keren dah!

ahak hak hak

mantabs, vai :D

Writer musthaf9
musthaf9 at Lebih Mudah Untuk Menyantapmu (8 years 52 weeks ago)
90

wuih, lebih sadis
aku kirain masalahnya bakalan lebih rumit, ternyata cukup simple

80

bagus kk, adaptasi dari cerita dongeng "anak kerudung merah dan srigala". keep write and salam kenal

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Lebih Mudah Untuk Menyantapmu (8 years 52 weeks ago)
80

ahha, kupikir ini humor.. XDD