MyDDKBSTD (1 of 2)

Pagi itu, Sai bangun dengan wajah muram. Meski tidur semalaman pada akahirnya ia tetap saja merasa lelah. Sambil menghela napas panjang, ia pun bangkit dari ranjangnya, mengambil handuk yang tergantung di beranda lalu tanpa semangat beranjak menuju kamar mandi.

Tak banyak hal yang lebih menyebalkan daripada mimpi yang konklusinya menggantung.

Setelah sarapan, masih tanpa semangat, Sai mengambil ranselnya lalu berangkat ke sekolah. Sekolah barunya.

Mengikuti sang ayah, liburan panjang kemarin, Sai pindah ke sebuah kota kecil di luar pulau. Kota kecil yang nyaman sebenarnya, tapi berhubung ia sudah kelas tiga SMA dan memiliki cukup banyak teman di sekolahnya yang lama, ia tak pernah benar-benar bersemangat dengan kepindahannya tersebut.

Yah tak ada yang bisa ia lakukan.

Ia sudah meminta, memohon, merengek, pada sang ayah untuk tetap diizinkan tinggal, tapi pada akhirnya sang ayah cuma berkata:

"Saiful, Saat ini cuma tinggal kau dan Ayah... dan di antara kita berdua, engkaulah yang diberkahi dengan kemampuan memasak. Kalau kau di sini, Ayah bakal mati kelaparan di sana."

Dan Sai pun cuma bisa melengos. Gara-gara terlalu mencintai ibunya, ayahnya selalu menolak segala saran, ide, anjuran, dari siapapun, termasuk dirinya, untuk menikah lagi.

Untuk kesekian kalinya di pagi ini, Sai menghela napas panjang. Memandangi awan yang berarak di angkasa, samar-samar Sai mengingat kejadian semalam.

***

Mengikuti penggolongan Archetype Jung, orang tua berjubah, yang mengendarai kuda putih, yang menemukan Sai semalam, termasuk ke dalam tipe karakter "Orang Tua Bijak" atau Senex. Itu artinya si orang tua, yang sampai akhir tak memperkenalkan dirinya itu, seharusnya menjadi karakter dengan kebijaksanaan dan pemahaman yang luas, yang membimbing dan menasehati Sai ketika ada masalah.

Dan pelajaran pertama yang didapat Sai adalah seseorang harus berhati-hati dengan tokoh "Orang Tua Bijak" tersebut.

Bukan karena si orang tua jahat. Tapi seringkali, berurusan dengan orang tua semacam itu bakal melibatkanmu dalam masalah-masalah yang sebelumnya tak terbayangkan olehmu.

Dan lagi, entah mengapa, kebanyakan orang tua semacam itu memiliki hobi menggunakan kalimat-kalimat yang penuh teka-teki dan melakukan hal-hal yang merepotkan.

Tak percaya? Lihat saja Gandalf, atau Dumbledore, atau Merlin...

Yah yang jelas semuanya bermula saat lelaki tua itu menemukan Sai di tempat yang mungkin perbatasan antara realitas dan khayalan... atau mungkin perbatasan antara dua realitas... entahlah.

"Ho ho ho," sapa si orang tua dari atas kuda putihnya pada Sai yang saat itu sedang duduk dibawah sebatang pohon, entah melakukan apa, mungkin melamun.

Sai memandang ke arah sang orang tua dengan tatapan menyelidik. Meski suara tawanya seperti itu, orang tua itu jelas bukan Santa Klaus.

Yang pertama karena orang tua itu mengenakan jubah kelabu, atau mungkin seharusnya putih yang jadi kumal akibat kebanyakan dicuci, sementara si Santa, meski bukan warga indonesia, suka warna merah dan putih.

Yang kedua orang tua itu kurus, berkulit gelap, dengan bentuk wajah lonjong dan senyum yang menunjukkan kecerdasan atau kelicikan, sementara Santa Klaus yah agak sedikit gemuk untuk ukuran orang tua seusianya, berwajah bulat, kulit putih pucat, pipi merah, dan senyum yang menunjukkan keramahan.

Yang ketiga orang tua itu mengendarai seekor kuda putih dan tampaknya tak membawa apapun kecuali sebuah pedang kecil di pinggang. Di sisi lain, Santa Klaus lebih suka naik kereta berwarna mencolok yang ditarik beberapa ekor rusa kutub terbang. Hal yang paling aneh dari rusa kutub si Santa adalah entah bagaimana mereka bisa memiliki hidung berwarna merah menyala.

Tidak. Dilihat dari sisi manapun orang tua yang menemukan Sai itu jelas bukan santa klaus, kecuali yah kalau si Santa memutuskan untuk diet dan ganti profesi.

"Uhhh ada yang bisa kubantu?" tanya Sai.

Kesalahan besar. Jangan pernah sekali-sekali menanyakan hal itu pada orang tua berjubah manapun, terutama jika orang tua berjubah itu terlihat masih segar bugar dan memancarkan aura seperti seorang wizard.

"Tentu saja Anakku," jawab si lelaki tua riang, "Naiklah kemari, kita tak punya waktu semalaman di sini."

Maka seperti kerbau dungu yang dicocok hidungnya, Sai pun naik ke atas kuda putih, duduk di belakang sang lelaki tua yang sesaat kemudian bergegas memacu kudanya.

Lagi-lagi kesalahan fatal. Padahal dulu ibu Sai sering mengingatkan Sai untuk tidak menerima ajakan orang asing meskipun ditawari manisan atau permen.

"Kemana kita akan pergi?" tanya Sai lagi. Kali ini pertanyaan yang cukup masuk akal, karena tampaknya kuda yang mereka tumpangi dengan santainya melaju melewati berbagai dunia yang seperti berasal dari dongeng atau cerita fiksi.

"Ke tempat dimana bantuanmu dibutuhkan tentu saja," jawab si orang tua masih dengan nada riang.

Sai mengerutkan keningnya, walau terlambat, untuk pertama kalinya, ia merasa ada yang tak beres dengan semua kejadian ini.

***

Entah berapa lama ia dan lelaki tua itu berkuda. Rasanya cuma sebentar sih, tapi Sai tidak benar-benar yakin. Waktu seolah tak berarti. Sementara beberapa dunia terang benderang disinari mentari, dunia yang lain tenggelam dalam gelapnya malam.

Dan semua itu berganti dalam sekejap saja, sesaat siang, sesaat malam, sesaat fajar, sesaat senja, seiring dengan bergantinya dunia yang mereka lewati.

Mungkin ini ada kaitannya dengan Teori Relativitas Einstein.

Lalu tiba-tiba saja kuda yang ia tumpangi berhenti.

"Kita sudah sampai," sang lelaki tua bersiul puas.

Sambil memgangi kepalanya yang terasa pening akibat pemandangan yang terus berganti selama perjalanan berkudanya, Sai melihat ke sekelilingnya.

Ada berbgai jenis pepohonan: semak-semak, lumut, tumbuhan paku, dan pohon-pohon raksasa berdaun lebar dan rimbun. Pepohonan itu tumbuh sangat rapat sehingga hanya sedikit berkas-berkas mentari yang dapat menerobos masuk.

Ada berbagai jenis serangga: kupu-kupu ungu, jangkrik yang sesekali berbunyi, dan barisan semut yang merayapi batang pepohonan.

Ada juga hal-hal lain yang bukan serangga maupun pepohonan: beberapa ekor ular yang bergelung diantara akar gantung, katak-katak dengan kulit berwarna cerah, bunglon, tokek, juga beburungan kecil yang berterbangan diantara dahan-dahan pohon.

Sungguh pemandangan yang mengesankan.

Singkatnya saat ini ia dan lelaki tua itu berada di tengah hutan. Bukan hutan-hutan di eropa dan di daerah subtropik lainnya, tapi HUTAN BELANTARA. Kalau dunia ini sama dengan dunianya, seharusnya ia berada di suatu tempat di Borneo, atau di Afrika, atau di Amerika Selatan.

Udaranya lembab. Suhunya sedikit membuat gerah. Dan berbeda dengan dugaannya, suasana rimba di tengah hari ternyata lumayan sepi. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara aliran air.

Tapi itu sama sekali tak berarti apa-apa bagi Sai.

"Dimana kita?" tanyanya pada sang lelaki tua.

"Tempat dimana bantuanmu dibutuhkan, tentu saja," sahut si orang tua, "Nah sekarang berhentilah merengek dan turun dari kudaku."

"Tapi aku tak merengek," gumam Sai. Meski demikian dengan patuh ia turun dari punggung sang kuda. Sambil meringis ia memegangi bokongnya yang seolah mati rasa.

"Bagus, sekarang pergilah ke sana," lanjut sang lelaki tua. Dengan jari-jarinya yang keriput ia menunjuk ke suatu arah.

Sai memandang ke arah yang ditunjuk sang lelaki tua. Tak ada apa-apa di sana. Tak ada jalan setapak. Hanya semak-semak yang tumbuh rapat. Bagaimana kalau ada ular? Atau lipan? Atau harimau? Atau hal-hal berbahaya lainnya?

"Kurasa sebaiknya aku pulang saja," saran Sai.

"Nah nah jangan cengeng, kau lelaki kan?" tegur sang lelaki tua. "Bergegaslah! Kita tak punya banyak waktu."

"Tapi..."

"Yah tentu saja aku tak bisa menemanimu sekarang," gumam sang lelaki tua, "masih ada hal yang mesti kukerjakan... mungkin nanti."

"Tapi..."

"Ah ya, tentu saja kau akan membutuhkan ini," Sang lelaki tua menghunus pedangnya lalu mengulurkannya pada Sai.

Dengan ragu Sai menerima pedang tersebut. Pedang itu terbuat logam hitam dan sangat ringan. Dan sepertinya sangat tajam. Sang lelaki tua tersenyum puas.

"TAPI..."

"Baiklah anakku! Selamat tinggal untuk sementara!" seru sang lelaki lelaki tua sambil kembali memacu kudanya dan menghilang begitu saja.

Sai menatap murung pedang di tangannya lalu bergumam, "aku 'kan tak bisa berpedang."

Sai menarik napas dalam-dalam lalu sekali lagi menatap ke arah yang tadi ditunjukkan sang lelaki tua.

Tak ada gunanya mengeluh.

Dengan enggan Sai berjalan ke arah yang dimaksud. Dengan pedang di tangannya, ia membuka jalan, menebas semak-semak, tumbuhan rambat, akar gantung, apapun yang berada di hadapannya, sambil berharap keadaan tak menjadi lebih buruk.

Tentu saja dalam lubuk hatinya yang terdalam Sai sudah menduga bahwa keadaan akan berubah nantinya.

Dari buruk menjadi sangat buruk.

***

Sekali lagi Sai kehilangan waktu. Ia tak ingat berapa lama ia membuka jalan, yang jelas sudah lepas tengah hari saat ia tiba di tepi perairan. Tangannya sudah pegal, dan sekujur tubuhnya basah oleh keringat.

Dengan tatapan hampa ia memandang danau di hadapannya. Danau itu teramat sangat luasnya sehingga seseorang bisa saja mengira dirinya berada di tepi lautan.

Sekarang bagaimana? Tentunya sang lelaki tua tak berharap ia berenang menyebrangi danau itu kan?

Bukan karena luasnya danau itu atau berapa lama waktu yang bakal dibutuhkan untuk berenang menyebranginya, yang menjadi masalah utama adalah kemampuan berenangnya tak lebih baik dari sebongkah batu obsidian.

Untuk kesekian kalinya Sai mengeluh.

Sekarang bagaimana? Ia bisa duduk menunggu sang lelaki tua untuk mendapatkan instruksi lebih lanjut atau kembali ke tempat semula.

Keduanya tak menjanjikan.

Sai memandang ke sekitarnya. Siapa tahu ada perahu yang bisa ia gunakan, mungkin, milik penjelajah yang tertinggal... atau ditinggal mati pemiliknya.

Yah tentu saja tak semudah itu. Bagaimanapun ia berada di tempat yang jauh dari peradaban.

Ia memandang ke kiri.

Tak ada apa-apa selain ilalang.

Ia memandang ke kanan.

Tak ada apa-apa selain sebuah bangunan yang menyerupai piramida yang terpotong secara vertikal menjadi dua bagian yang terletak sekitar dua puluhan menit perjalanan dari tempatnya berdiri saat ini.

Ia memandang ke depan.

Tunggu sebentar...

Sai kembali memandang ke sebelah kanannya. Kurasa ia salah tentang bagian 'jauh dari peradaban'.

Dengan gembira, melupakan rasa lelahnya, juga fakta bahwa suku terpencil biasanya xenophobia dan pada beberapa kasus lain kanibal, Sai bergegas melangkahkan kakinya menuju ke arah setengah piramida tersebut.

Tak perlu khawatir. Meski sedikit Xenophobia orang-orang yang akan ditemui Sai di sana hampir bukan kanibal. Walau tentu saja, banyak makhluk non-manusia yang menganggap daging manusia sebagai menu yang sehat, lezat, dan bergizi.

Tetap saja, saat itu Sai sama sekali tak berpikir sampai sejauh itu.

TO NEXT>>>

ALERT:

Jika sampai di sini pembaca berpikir bahwa cerita ini aneh dan kacau balau maka DISARANKAN untuk TIDAK MELANJUTKAN ke bagian berikutnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Alfare
Alfare at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)
80

Judulnya: Mimpi yang di Dalamnya Kemampuan Berpedang Sang Tokoh Diuji.

Buat yang mau tau, cerita ini didasarkan atas mimpi si 145 sesudah membaca cerpen MYDDKBD buatanku.

Ini menarik seperti biasa. Dengan masalah-masalah tata tulismu yang biasa juga.

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)
80

oke banget, saya bener-bener suka deskripsi 'orangtua bijak'nya!
saya ngerasa kocak baca ini, kok si orangtua tiba-tiba dateng, ngebawa Sai ke tempat asing, terus tau-tau ninggalin gitu aja kaya karakter numpang lewat, hahaha
izin lanjut baca ya..

Writer 145
145 at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)

Si Sai sendiri juga bingung sebenarnya kenapa kok tiba-tiba saja dia diangkut begitu saja oleh si orang tua :D
-

Writer samudera
samudera at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)
90

hai...salam kenal.
Menurut kamu...cerpenku(horor) yang berjudul hantu pisang laut bagaimana?

Writer 145
145 at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)

sejujurnya saja, saya belum melihat sisi horrornya.

Writer elbintang
elbintang at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)
90

Apa kepanjangan dari judulnya, Ias?

Ck. 2-0 buat Ias. He.he

gw suka cerewetnya si Sai. Wek...buat nama panggilannya deh.
...
Lanjut

Writer 145
145 at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)

sudah tahu kan kepanjangan judulnya ? :D
-
Eww si Sai cerwet kah?

Writer elbintang
elbintang at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)

lha, iya bukan?
hanya orang cerewet yang bisa mengomentari satu sosok dengan panjang lebar seperti si Sai. Pun dalam hati heuheu...

dari pada menggerutu (-) gw anggapnya cerewet (+)

Writer herjuno
herjuno at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)
90

haha, saya suka bagianyang menyelipkan archetype , relativitas, dan obisidan ^^. Selain itu, saya juga suka bagaimana kamu menggambarkan sang orang tua dan memperbandingkannya dengan sinterklas.
.
Lanjut dulu, haha XD

Writer 145
145 at MyDDKBSTD (1 of 2) (8 years 51 weeks ago)

saya juga suka bagian tersebut... setidaknya di bagian awal-awal saya masih dalam keadaan 100% sadar nulisnya :P