Kado Kecil untuk Sahabat

Aku punya sahabat, namanya Wentina, biasa aku memanggilnya dengan sebutan Nina. Aku dan dia adalah sahabat karib di kampus. Nina tergolong anak yang tidak supel dan cenderung memilih-milih teman dalam bergaul. Pertama kali melihat wajahnya yang ada dibenakku adalah "angkuh dan sombong nih anak!." Tapi setelah aku ngobrol dengannya anggapan tentangnya itu tak benar. Dalam masalah percintaan juga dia termasuk orang tak gampang menerima seseorang yang singgah dihatinya. Mungkin karena dulu pernah ada orang yang sangat ia sayangi meninggalkannya hanya demi orang lain.

Akhir-akhir ini aku sering melihatnya merenung. Sebenarnya ingin sekali bertanya ada apa dengan dirinya. Aku sangat mengerti dirinya, dia belum mau cerita jika dia menganggap masalahnya tidak perlu ada yang tahu. Sampai akhirnya dia mau buka mulut. Aku teliti satu persatu kalimat yang dia ucapkan.
"Belakangan ini, gue deket sama cowok. Maaf ga cerita ya, soalnya gue malu, hehehe. Dia hadir di kehidupan gue. Memberikan warna. Kita sering contact. Sampai akhirnya ada masalah yang bikin gue ga bisa terusin pertemanan ini." Cukup tertutup juga, tapi sudah bisa ku pahami.
"Kenapa ga bisa diterusin?" tanyaku berantusias.
"Terakhir dia buat kesalahan. Dia udah minta maaf si, tapi gue tetep keras kepala. Kalau maafin sih udah, tapi kalo untuk temenan kayak dulu engga deh."
"Memang kenapa? jarang kan ada orang yang bisa memberikan warna di dalam hidup lo Nin."
"Ngerti sih. tapi yaudah lah. Dia juga ga pernah ngerti apa yang gue mau. Malah dia bilang gini, kalo suatu saat Ikhsan terjatuh, Nina juga yang akan bantuin Ikhsan bangun. Hufh ga ngerti gue maksudnya apa." Ceritanya cukup singkat, tapi ada sesuatu yang dapat kuambil dari situ.

Enam hari lagi Nina berulang tahun. Tapi dia masih saja tak antusias dengan hari lahirnya itu. Masih saja dia memikirkan sosok pria yang sempat hadir di hatinya. Sebenarnya apa yang diinginkan Nina. Aku dapat kunci dari pertanyaan yang mergentayangan di otakku. Sesekali dia bercerita tentang Ikhsan. Menceritakan tentang kebaikannya, saat dia berkomunikasi lewat telepon, saat bertemu di kampus. Ha, aku tau sekarang. Diam-diam Nina masih menyimpan perasaan dengan Ikhsan.

Aku penasaran, seperti apa rupa Ikhsan hingga Nina seakan kembali ke masa yang dulu. Masa dia merasakan kebebasan untuk mendapatkan pergaulan yang dia inginkan. Selama ini yang aku tahu dia sangat pemilih. Bahkan untuk sekedar berkomunikasi. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mendapatkan nomor handphone Ikhsan dari teman satu kelasku bernama Ayu. Terakhir ku tahu bahwa Ayu memiliki teman yang juga satu kelas dengan Ikhsan. Malam itu aku memberanikan diri menghubungi Ikhsan. Entah dapat ide gila ini, belum pernah seumur hidupku mengajak pria berkenalan. Tetapi akan kulakukan demi sahabatku tercinta.

Ku tekan tombol Dial dari kontak yang bernama Ikhsan. Sejenak terdengar nada sambung, hatiku bergetar. terlintas dibenakku bagaimana kalau Ikhsan tak meresponku. Atau malah tak perduli. Suara pria yang sedang ku telepon membuyarkan lamunanku.
"Halo."
"Halo, bisa dengan Ikhsan." Jawabku.
"Ya, ini Ikhsan. Maaf ini siapa?"
"Hai Ikhsan. Mohon maaf sebelumnya. Mungkin lo ga kenal gue sebelumnya. Salam kenal ya, nama gue Yuanita. Panggil gue Yuan. Gue sahabatnya Wentina. Maaf banget, gue bukannya mau ikut campur permasalahan lo. Tapi gue cuma mau bantu sahabat gue yang lagi risau hatinya." Mencoba untuk beradaptasi.
"Oh, Yuan. Iya Nina pernah cerita. Sebenernya gue juga bingung. Pengen cerita ke siapa lagi. Nina udah bener-bener ngejauh dari gue. Maaf gue juga udah ga ada artinya. Makasih ya udah mau bantuin. Gue hargai usaha lo. Trus gimana?"
"Lo tau kan kalo enam hari lagi Nina ultah. Tadi siang dia bilang gini ke gue. Yuan, kita liat aja deh. Kalau sampe nanti gue ultah dia ga ada tindakan, yaudah gue ga akan pernah inget dia. Gitu katanya." Akhirnya aku dapat mengucapkan, karena sesungguhnya ini beban buatku. tapi alhamdulillah aku bisa menyampaikannya pada orang yang berhak tahu.
"Dia bilang gitu. Duh gimana nih. Gue bener-bener lumpuh kalo dah dihadapan dia. Lo tau sendiri dia keras kepala. Apa dia mau terima gue. Sedangkan dia bilang kita ga usah hubungan lagi. Saran lo gimana,Yuan?"
"Kasih yang terbaik buat dia. Lo jangan mundur dulu sebelum berperang."
"Trus gimana, gue ga tau lagi apa yang harus gue lakuin."
"Siang tadi gue juga denger dia banyak cerita tentang lo. Gue bisa ambil kesimpulan kalo dia masih sayang sama lo. Gini deh, dia ngundang kita untuk makan di Mall pas hari ultahnya. Lo nanti dateng aja. Kita keep contact sampe waktunya pas buat lo omongin ke dia. Gimana?"
"Boleh juga. Tapi gue bawa kado apa? Lo tau kesukaan dia apa?"
"Boneka dolphin biru, nah kayaknya cocok."
"Ok, makasih banget ya Yuan, gue ga tau gue harus gimana lagi."
"Sip."
Hampir tiap hari aku berkomunikasi dengan Ikhsan. Sampai hari ulang tahun Nina pun datang. Hari itu sangat membuat diriku jantungan. Padahal bukan aku yang akan mendapatkan kejutan.

Jam dua siang aku sudah sampai di mall tempat kami bertemu. Sengaja aku mengajak Nina untuk bertemu lebih awal. Karena aku bilang ada yang aku ingin bicarakan dan dia pun setuju. Nina sangat penasaran apa yang ingin aku ceritakan. Akhirnya aku bilang kalau aku hanya ingin mengucapkannya lebih dulu dan tidak ada lagi selain ucapan itu. Nina tertawa terbahak-bahak seakan dia mengharapkan sesuatu atas apa yang ingin aku ucapkan.
"Nin, kalo seandainya si Ikhsan dateng waktu kita lagi makan gimana yah." Ucapku meledek.
"Hahaha, gue bilang aja. Sini ikutan makan." lalu kami tertawa berdua. Seandainya ia tau bahwa ucapan itu benar-benar akan terjadi.

Tepat pukul tiga kami sudah berkumpul. Segera saja kami masuk untuk memesan makanan. Jumlah kami hanya empat orang. Nina, Uti, Ningsih, dan aku. Sejak aku memesan makanan hp ku terus bergetar. Ya, Ikhsan sudah berada di parkiran dan sedang menunggu aba-aba dariku. Aku kirim sms ke Ikhsan yang berisi "Lo tunggu aja, ga lama koq. Selesai makan nanti gue hubungin ok."

Disaat itu aku sangat resah. Aku juga sedikit takut rencana ini akan gagal. Tapi aku tak peduli. Kado kejutan kecil ini harus tetap dilaksanakan. Setelah kami kelar sambil ngobrol Nina ingin mencuci tangan, pada saat itulah kesempatan aku menelepon Ikhsan untuk datang kesini. Sedang ngobrol asyik, tiba-tiba Nina terbelalak melihat Ikhsan datang dengan membawa sebuah kado mungil berwarna biru dan berpita cantik. Lalu Nina melirik kepadaku, dan marah. Dia mengetahui ini rencanaku. Aku hanya bisa tersenyum dan meninggalkannya berdua. Setelah setengah jam mereka aku tinggal pergi melihat baju-baju. Mereka datang ke arahku dan Nina memelukku. Dia mengucapkan terimakasih karena mereka telah dipersatukan. Aku hanya berucap segala yang bisa aku lakukan, akan kulakukan demi sahabatku agar ia bisa kembali tersenyum. Yang ku dengar terakhir mereka masih tetap bersatu. Ku hanya berdoa, semoga cinta kalian akan abadi untuk selamanya.

Love my best friend ^^

~ Vhirelizta ~

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 45 weeks ago)
70

True story? Wow.. benar, cocok deh buat dijadiin teenlit

Writer vhirelizta
vhirelizta at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 45 weeks ago)

hihihi, cerita sekitar 2 tahun yg lalu.... ya gitu dhe :)

thx so much :)

Writer Ciel
Ciel at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 47 weeks ago)
80

cocok dijadiin teenlit nih :D
lam knal yah!! :)

Writer vhirelizta
vhirelizta at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 47 weeks ago)

oia.. baca juga yang Unforgettable Anniversary deh,, lumayan seru lho (haha promosi) ^_^

Writer vhirelizta
vhirelizta at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 47 weeks ago)

waah serius??? hehehe... ok salam kenal juga...

nanti aq mampir ^,^

Writer herjuno
herjuno at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 47 weeks ago)
70

Eh, beneran kisah nyata? saya pikir murni fiksi, karena penyampaianmu berkata seperti itu. Memang, awalnya cukup membosankan, tapi ke depannya lumayan bisa dinikmati sebagai fiksi, kok.
.

Writer vhirelizta
vhirelizta at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 47 weeks ago)

this is my first write ^_^ harap maklum ^^

makasih ya .... :D

Writer jodi
jodi at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 47 weeks ago)
70

memeang yg terpikir tak terjadi adalah sesuatu yg misteri

Writer vhirelizta
vhirelizta at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 47 weeks ago)

Makasih dah mau baca... ni true story koq.. sayangnya... sekarang wentina lebih milih ga kenal aku sekarang :(

Writer lavender
lavender at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 47 weeks ago)
60

mmmm..

Writer vhirelizta
vhirelizta at Kado Kecil untuk Sahabat (3 years 47 weeks ago)

thx for read ^^