Kisah Singkat Tentang Kikita dan Mengapa Kursinya Selalu Berdecit

“Ehm. Langsung saja kita mulai. Kikita sudah hadir di sini, selamat datang. Saya memegang arsip berisi keterangan-keterangan yang telah saya pelajari tentang Anda. Semuanya. Beberapa. Sekarang adalah saatnya tanya-jawab. Anda masih cukup muda, masih bersekolah, ya kan?”

“Ye. Terus?”

“Anda punya masalah dengan unit pemadam kebakaran?”

“Hah? Kayanya enggak deh.”

Kikita duduk di atas kursi, merebahkan punggungnya ke sandaran dan setelahnya merasakan kenyamanan sedang merayapi tubuhnya; dari gelambir di badannya, bantalan empuk di bokongnya, sampai lemak di pipi tembamnya, tubuhnya berada di dalam pelukan sebuah kursi lengan yang berdecit malu-malu. Ruangan itu diisi oleh orang-orang yang ia rasakan tengah menatap padanya, termasuk sosok hakim yang tepat berada di depan, tidak jauh dari kursinya, dengan kedua mata yang terpatri di atas kerut-kerut permukaan kulit wajah. Sudah menjadi tabiatnya untuk merasa senang menjadi pusat perhatian dan kini, ia mendengar jantungnya menggebu-gebu.

“Ini di mana ya?” Kikita bertanya lewat mikrofon yang terjulur di hadapannya.

“Tentu saja, pengadilan. Gedungnya memang baru direnovasi jadi sedikit berbeda dengan yang ditampilkan di brosur. Anda beruntung karena Anda yang pertama diadili di sini setelah pemugaran. Baiklah, apakah Anda kenal dengan Ali Said?”

Kikita masih berada dalam lingkaran kebingungan dari pertanyaannya dan jawaban hakim yang berputar-putar di saluran pencernaan otaknya. Pelan-pelan ia menyadari bahwa dirinya kini sedang menjadi bagian dari alam khayali. Hakim, gedung pengadilan, mikrofon, dan kursi yang berdecit ini adalah fantasi, mimpi, karena ia tahu persis bahwa sekarang adalah malam hari dan ia ingat ia sedang tertidur di kamarnya yang sejuk. “Enggak sama sekali.”

“Dia adalah seorang anggota pemadam kebakaran, umurnya 28 tahun, lajang, berharap bisa menjadi yang terbaik namun tidak untuk tahun ini. Dia gagal menangani tiga kasus kebakaran di kota, mungkin Anda pernah mendengar beberapa di antaranya. Yang pertama, gedung olahraga di balai kota.” Sang hakim menghentikan kalimatnya sejenak, mencoba untuk menangkap kesan dari wajah Kikita. Yang terpancar dari sana hanyalah ekspresi datar dan ini mendorongnya untuk kembali melanjutkan cerita.

Gedung olahraga tua, sudah berdiri dari sejak zaman kemerdekaan. Tanggal 2 Januari di siang hari tempat itu diisi oleh kumpulan remaja yang sebagian berlatih basket dan sebagian lagi latihan memandu sorak di sisi lapangan. Perkenalkan, Bon, remaja berkeringat yang pikirannya sedari tadi terpecah oleh teriakan nyaring anggota pemandu sorak sehingga beberapa kali ia gagal memasukkan bola dan nyaris terpeleset saat berlari. Jelas sekali, ia tertarik pada salah satunya, yang memakai pita merah di rambutnya, yang jari-jari tangannya mungil, yang suaranya seperti gelas pecah, yang saat pinggulnya bergoyang kaki kanan Bon hampir terkilir.

“Anda ingat sesuatu tentang tanggal 2 Januari?” hakim bertanya.

“Mmm.”

Bon tidak mengganti pakaiannya di ruang ganti tapi di kamar mandi. Ia menginginkan sebuah privasi. Tempat di mana ia mampu menuangkan buah pikirannya yang tidak mampu dijangkau realita ke dalam tindak pelampiasan yang melegakan. Ruang kamar mandi yang lama tidak terpakai adalah tempat persembunyian yang sempurna. Ia menyalakan lampu, mengaliri listirk lewat kabel usang untuk melihat foto perempuan pujaannya dengan lebih jelas yang sempat ia ambil lewat telepon genggam secara sembunyi-sembunyi. Dia berdiri tegak, handuk kecil tersampir di kedua bahunya, menghadap ke tembok dengan coretan ‘Cheerleaders’ di atasnya.

“Diskon awal tahun di CT Mall, Anda ingat?”

“Oh ye! Ye! Aku beli sepatu baru, sneakers biru muda,” seru Kikita.

Alarm di markas pemadam kebakaran berbunyi beberapa menit setelahnya. Ali Said dan rekan-rekan berangkat menuju gedung olahraga itu dengan mobil bersirene khas, membelah jalan raya yang disesaki kendaraan. Menuju sumber api yang berasal dari kamar mandi, tempat Bon melampiaskan nafsu pribadi dengan tangan kanannya lewat teknik yang ia pelajari secara otodidak dari film dan situs internet, di mana ia meninggalkan ruangan itu dengan lampu masih menyala. Bahkan sebelum sampai di tempat kejadian, jam terbang Ali Said sudah dapat menerka arus pendeklah penyebabnya dan seketika ia membayangkan tengah mengarahkan selang untuk menaklukkan musuh besarnya.

“Anda pergi ke CT Mall, mengendarai mobil Anda, untuk membeli sepatu warna biru muda.”

“Aku udah lama pengen banget, buat lengkapin koleksi sneakers di rumah, Om,” Kikita bersemangat dengan sedikit sapaan bernada sarkasme, tipikal dirinya.

“Ya, dan semua orang pergi ke sana. Anda ingat berapa lama mobil Anda mengantri untuk masuk ke tempat ini?”

“Lama deh. Aku juga stres. Males, berisik, suara klakson, mesin bus, motor, ama suara... suara sirene mobil, pemadam kebakaran.”

“Mobil yang Anda kendarai persis berada di depan mobil pemadam kebakaran, berhenti menunggu giliran masuk ke mall, sementara para petugas pemadam menunggu dengan berkeringat, was-was, berdebar-debar karena mereka harus melewati rintangan pertama yang tidak kalah mematikan: waktu. Dan Anda, dengan mobil Anda, tidak menghiraukan itu semua hanya demi sebuah sepatu biru muda. Anda tidak kekurangan sepatu kan?”

“Om, jangan salah, Aku juga harus berpacu dengan waktu, Om nggak ngerti sih.”

“Ali Said berhasil memadamkan api, hanya saja ia terlambat, gedung olahraga itu sudah menghitam. Api telah sukses melalap semuanya, memanaskan langit serta melelehkan air mata di pipi Ali Said, karena ia telah gagal. Beruntung tidak ada nyawa yang melayang.”

“Aku yang salah? Mobil lain kan banyak yang ngantri di sana waktu itu, kebetulan aja mobilku yang berhenti pas di depan mobil pemadam kebakaran. Tapi nggak adil kalau hanya Aku yang salah, mobilku kan nggak bisa gerak gara-gara kehalangan mobil yang lain Om,” Kikita memprotes tuduhan bias yang ditujukan padanya. Ia menatap tajam ke mata sang hakim lalu menundukkan kepalanya dan melihat sepatu biru muda itu di kakinya, ia telah memakainya selama ini. “Keren juga,” batinnya.

“Ehm. Sudah kuduga tanggapannya akan seperti ini,” jelas sang hakim.

“Aku juga ngerasa bersalah kok, tapi ya gimana lagi? Namanya juga macet.”

Sang hakim mengatupkan bibirnya, tidak ada lagi yang ingin diperdebatkan. Ia mengambil arsip lain, menelitinya sekilas seperti sedang melakukan permainan mencari kata, lalu menaruhnya sementara bola matanya menerawang, mencoba mencari kata untuk diucapkan. Kembali ia mengarahkan pandangan pada Kikita. “Kebakaran yang kedua adalah di sebuah warung internet, pernah dengar?”

“Nggak tau.”

Warung internet Cyberpunk adalah sebuah bisnis baru yang didirikan oleh dorongan spontanitas sebagai usaha rumah tangga yang diharapkan mampu mendatangkan keuntungan. Masalah familiar dari bisnis ini adalah selain kurangnya pengalaman, juga kurangnya pengetahuan mengenai prosedur atau etika dalam berwirausaha, karena pemilik Cyberpunk ini mengabaikan instalasi kelistrikan yang tidak memenuhi syarat, hasil dari alihfungsi bangunan dari tempat tinggal. Dengan kabel-kabel lama yang dibebani oleh puluhan komputer, maka korsleting tinggal menunggu waktu.

Bon, sekali lagi mengambil peran yang sama. Tanggal 20 Januari, siang hari, ia datang ke tempat itu yang sudah mulai ramai dikunjungi pelanggan. Ia telah berhasil mendekati perempuan pemandu soraknya, mengenal namanya, bertukar nomor telepon, beberapa kali pergi berdua, melucu di depannya, menonton film horor, berfoto bersama, chatting, berpegangan tangan, saling merangkul, membelai rambutnya, dan terakhir, berniat untuk melewati malam minggu di tempat Bon. Namun sebelumnya, ia merasa perlu untuk mempersiapkan sesuatu.

“Anda sering pergi ke klub malam?” tanya hakim.

“Ye, mmm, nggak sering-sering amat lah,” kursi Kikita berdecit lagi.

Bon menuju satu-satunya bilik komputer yang kosong. Ia mendekam dalam sebuah ruang privasi. Dunia internet adalah tempat di mana ketabuan dapat diterobos dengan begitu lengang; tempat di mana kesendirian menemukan daya tariknya yaitu kebebasan untuk berada di mana saja, tanpa batas politik serta teritori hukum, dan bagi Bon, tempat itu adalah situs porno. Misi utamanya adalah untuk megajak si pemandu sorak ke tempatnya, makan malam, menonton film, berbincang-bincang, lalu rayuan maut menuju ke kasur untuk melepaskan baju, pakaian dalam, dan hasrat bersama-sama. Di dalam bilik itu ia berusaha untuk memperoleh dan menyerap referensi baru dari video sebanyak-banyaknya; setiap gerakan, gaya, posisi, serta trik dan tips untuk membuat malam minggunya itu sempurna dan tak terlupakan. Salahkan ini pada hormon testosteron.

Di balik bilik itu tak ada yang mengusik ketenangan Bon. Ia mengunduh dan terus mengunduh. Tanpa disadari air liurnya telah meleleh dan membanjiri seisi mulutnya. Tanpa disadari juga tangannya sesekali membetulkan celana panjangnya yang mengetat. Dan tanpa ia sadari bahwa kabel-kabel di tempat itu berteriak nyaring, memohon pertolongan atas besarnya beban yang menggencet mereka setengah mati, yang membuat mereka tersiksa, tak tahan untuk melepaskan diri dan sampai pada takdirnya, meledak; bertransformasi menjadi percikan. Api melalap dengan cepat, Bon beranjak keluar secepat kilat.

“Bagaimana dengan alkohol, Anda terbiasa menenggaknya?”

“Kalo pas dugem aja. Nggak sering-sering amat. Kayanya Aku tau Om mau ngomong apa,” Kikita menaikkan sebelah alisnya.

“Saya tidak yakin bila Anda sudah cukup umur untuk minum alkohol.”

Ali Said menggenggam sebuah pengeras suara, ia berteriak kepada setiap kendaraan yang menghalangi jalan mobil pemadam kebakaran. Tanpa ampun ia meneriaki bahkan sedikit mencaci pada tiap mobil yang menyalakan lampu rem di depannya. Ia tahu, tidak ada lagi waktu yang bisa ditoleransi dan tidak ada lagi waktu buat kegagalan berikutnya. Dan ketika ia bisa sampai di lokasi kejadian hanya dalam tempo 12 menit, senyum di bibirnya merekah.

Api nampak cukup ganas merayapi setiap jengkal dinding dengan cepat. Bangunan di sebelah Cyberpunk sedang mengantri menunggu giliran untuk dipanaskan. Ali Said berlari membawa selang panjang sambil memegangi helmnya agar tidak lepas. Ia bertanya pada pemilik tempat itu yang sedang meratap dengan pucat pasi apakah ada orang yang tertinggal di dalam atau tidak. Pemilik tempat itu menggeleng, Ali Said berlari menuju hidran untuk menancapkan selangnya, tapi kemudian, ia berhenti, langkahnya tertahan, air mukanya berubah. Ia menatap selangnya dan berharap dengan sangat, hujan akan turun saat itu juga.

“Tidak ada hidran di sana, hanya sebuah lubang di atas trotoar. Beberapa orang berlalu-lalang menyiramkan air dari ember, usaha sia-sia. Air di dalam mobil pemadam kebakaran tidak cukup karena api menjalar cepat. Menunggu mobil pemadam kebakaran lain datang berarti merelakan si jago merah ini untuk menang. Total lima bangunan hangus; tidak terlalu buruk, tapi Ali Said, dia begitu ingin memasangkan selangnya pada hidran saat itu.”

“Sangat berlebihan,” kilah Kikita.

“Anda tahu Anda berperan di sini kan?”

“Bukan Aku yang nyetir Om, tapi temen Aku. Lagian Aku juga nggak terlalu inget.”

“Biar saya bantu Anda mengingat. Saat itu dini hari. Anda pulang dari sebuah klub malam dengan tiga teman Anda. Kalian berempat mengendarai mobil Anda dalam keadaan mabuk; bernyanyi, berteriak, tertawa ngakak, berjoget, dan menjadi begitu histeris. Kalian terus tertawa sampai akhirnya mobil Anda berhenti, terantuk, menabrak sesuatu. Tak satupun dari kalian yang turun untuk melihat apa yang baru saja ditabrak karena kalian semua terpesona dengan air mancur di depan kaca mobil. Pikiran kalian berhalusinasi dengan pemandangan itu yang tak lain adalah air yang tersembur dari hidran yang mobil Anda tabrak hingga rusak. Lalu kalian semua pulang. Begitu saja.”

“Temen Aku itu, dia nggak terlalu banyak minum, mangkanya dia yang nyetir waktu itu, berarti bukan salah Aku juga Om. Cuma karena itu mobil Aku, nggak berarti Aku yang harus tanggung jawab kan.”

Sang hakim mendehem, “bukan itu intinya. Tidak seperti demikian. Ada hal lain─ hal lain yang perlu diperhatikan oleh Anda, atau mungkin juga teman-teman Anda, gadis-gadis seusia Anda. Ehm, saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan ini dengan mudah, jadi... Ah, mungkin saya harus melanjutkan ini sampai selesai.”

“Jelasin apa Om? Yang Aku tau dari tadi Om berusaha buat nyalahin Aku.”

“Ehm tidak juga. Sepertinya Anda sudah mulai kesal. Terpikir untuk segera bangun?”

“Ye. Ini mimpi buruk namanya. Cuma khayalan doang, padahal yang sebenarnya belum tentu seperti yang Om ceritain tadi kan?”

“Perdebatannya mungkin akan jadi sedikit melenceng bila Anda memutuskan untuk berargumen tentang masalah mimpi dan kenyataan, khayalan dan realita, sebagainya dan sebagainya, Anda di sini bukan untuk itu. Oleh karenanya, mari kita selesaikan.”

“Terserah. Aku udah bosen. Kalo nggak salah Aku harus pergi ke pesta ultah temen nanti malam. Lagian, Om, semua ini kan gara-gara si Bon juga, bukan Aku aja.”

“Saya tidak percaya Anda masih sempat memikirkan tentang acara ulang tahun setelah semua yang saya ceritakan tadi. Tidakkah Anda berpikir bahwa ada yang salah dengan diri Anda sehingga mengakibatkan, secara tidak langsung, kebakaran seperti itu? Bisa jadi gaya hidup Anda mungkin. Sepertinya akan lebih baik kalau saat ini Anda bisa sedikit menunjukkan rasa bersalah dan penyesalan yang tulus walaupun Anda tetap saja bisa menyangkal bahwa Anda tidak sepenuhnya bersalah. Jujur saja, itu akan sedikit melegakan. Tapi sepertinya Anda tidak peduli dan menganggap semuanya tidak lebih dari hanya omong kosong. Dan satu lagi, Bon tidak ada di sini sekarang.”

“Soalnya Aku nggak percaya sama ini, sama Om, sama Bon, sama kebakaran, semuanya. Udah deh, cepet bangunin Aku aja, jangan sampe Aku telat buat pergi ke pesta,” Kikita bergerak di atas kursinya yang berdecit, “mimpi buruk, Om. Males banget.”

“Tapi ini bisa saja terjadi kan.”

“Tapi Aku masih nggak nerima kenapa Aku yang disalahin, nggak adil Om.”

“Menurut Anda siapa yang salah?”

“Ya Bon lah!”

“Ya tentu saja, dia juga, tapi dia tidak di sini sekarang.”

“Kenapa? Dia belum tidur jam segini?” Kikita mengangkat kedua bahu dan menengadahkan telapak tangan kanannya.

“Mungkin, siapa tahu. Kami akan dengan senang hati menyambut kedatangannya. Dialah yang memicu apinya, memang, tapi siapa yang membuat api terus menyala? Bukankah itu Anda karena sangat menginginkan sepasang sepatu warna biru dan karena bersenang-senang di dalam mobil di bawah pengaruh alkohol. Kalau tidak, mungkin akhirnya tidak akan terlalu buruk.”

“Aku ngerasa Aku nggak ngelakuin apa-apa yang harus dibesar-besarin. Semuanya cuma kebetulan.”

“Kebetulan? Anda ingin mendengar tentang kebetulan?”

Kabel-kabel yang rusak, terkelupas, dan uzur telah menjadi bagian dari negeri ini, terutama sejak tenaga listrik menjadi primadona dalam peradaban bangsa. Sejalan dengan itu, manusia juga telah lama berteman dengan api, setidaknya di tiap rumah, saat wajan dan sendok masak saling bersentuhan dengan hangat dan asbak memerankan fungsinya tanpa mengeluh. Sebagian besar alat-alat, barang-barang, dan furnitur rumah tangga adalah benda-benda konduktor yang mampu menghantarkan listrik dan benda-benda yang mudah dilalap oleh api. Dan di negeri ini, kelalaian manusia mendapat perhatian lebih yang mampu membuat tempat teraman seperti rumah sekalipun memiliki resiko terjadi kebakaran selama 24 jam.

“Bon tinggal di rumah kost di sebelah tempat Anda tinggal,” kata hakim.

“Oh ya? Aku nggak pernah merhatiin.”

Jam setengah satu malam bukanlah waktu yang biasanya digunakan untuk aktivitas memasak. Bon pulang dengan pacar barunya, si pemandu sorak, sehabis dari menonton film di bioskop; dari kursi empuk di mana suara keras dari layar meredam kekhidmatan permainan cinta mereka untuk saling merangsang dalam gelap. Bon mengajak perempuan itu untuk datang ke tempatnya untuk yang kedua kali, namun kali ini hanya untuk menyuguhkannya secangkir teh manis dan mengembalikan sepasang kaos kaki sang pacar yang sebelumnya tertinggal. Ketika mereka berdua duduk di kursi, Bon terpikir tentang sesuatu untuk menghabiskan malam, ia bertanya pada perempuan itu apakah ia bisa memasak dan si perempuan balik bertanya, kamu mau nasi goreng? Bon mengangguk.

Maka si pemandu sorak memasak. Bon berdiri di sampingnya, menyaksikan prosesi rutinitas dapur itu, mengendus aroma dari wajan, dan melihat betapa lihainya jari-jari pom-pom itu bergerak. Tidak ada yang bisa Bon lakukan selain berdiri dan melihat, kemudian saat itulah kedua matanya menjelajah ke dalam buaian dinginnya malam yang melepas keliaran ragawi setelah terus bersembunyi sepanjang matahari bersinar. Pinggul pemandu sorak itu, pinggul khas pemandu sorak yang menjorokkan bagian bokongnya ke belakang, memanggil jemari Bon dalam senyap. Dia datang, menyambutnya dengan sepenuh hati, menggerayangi kain yang menyampul bagian tubuh yang sedang ranum itu.

“Mau dengar kejutan juga?” tanya hakim.

“Apaan?”

Kompor terus menyala, api biru bergoyang tertiup semilir angin, asap membumbung menebarkan aroma bumbu ke langit-langit. Dua anak manusia berdiri tak jauh di sana, mencicipi bibir masing-masing di bawah remang cahaya lampu, sesi kedua setelah bioskop. Nasi goreng terabaikan di atas wajan, gosong, menghitam, dan sebentar lagi akan terasa pahit. Aroma yang sangat kuat. Menutup aroma lain yang tumbuh perlahan yang tidak mereka sadari. Mereka sedang sangat menikmati tubuh yang mereka diami saat suara mendesis muncul dari bawah kompor. Mereka mabuk dalam asmara saat bau gas mulai menusuk. Dan saat mereka tahu bahwa akan terjadi ledakan, mereka terlambat.

Suara dentuman menghempaskan badan Bon dan si pemandu sorak ke lantai keramik. Api muncul, menyambar dengan cepat benda-benda di sekitarnya, menelan sendok dan piring plastik, lalu menjalar ke pintu kayu, melumat karpet bulu, melahap kursi dan meja, lalu memercik di antara kabel-kabel yang berlilitan. Jeritan dan teriakan terdengar tak lama setelahnya. Kedua pasangan tersebut tidak sadarkan diri, terkepung oleh zat panas, namun mereka berhasil diselamatkan dengan luka bakar dan sedikit memar. Jam 1 di tengah malam adalah waktu yang biasanya digunakan untuk tertidur pulas.

“Kapan acara ulang tahun teman Anda itu?”

“Kalo sekarang masih di bawah jam 12, berarti besok malam, kalo enggak, ya nanti malam. Rencananya abis pulang les,” jawab Kikita.

Ali Said dan pasukannya datang, ia terperangah melihat kondisi Bon dan pemandu sorak yang terbaring tanpa daya. Terperdaya, pikirannya kalut. Anak itu masih hidup, berputar di batinnya seperti piringan hitam sementara ia berlari mengikuti arah rambatan api. Dia tidak lagi membawa selang air, melainkan kapak untuk menerobos masuk ke rumah penduduk dan menyelamatkan siapapun yang ditemuinya di dalam. Ia menghancurkan pintu, lalu menerobos mencari tanda-tanda kehidupan. Di kamar, seseorang di belakangnya berteriak. Di lantai atas sebelah kiri.

“Makanan apa yang akan disuguhkan di pesta itu?”

“Nggak tau lah,” jawab Kikita.

“Coba tebak.”

“Mmm, udang bakar?”

Tercium bau karet dan kulit sepatu yang terbakar, jumlahnya puluhan, berjejer di atas karpet gosong. Sebuah ruangan menganga di depan, Ali Said melangkah masuk dan ia menemukan badan manusia terbaring di atas kasur empuk dengan denyut nadi yang melemah karena pingsan sehabis menghirup asap saat tidur. Ali Said meraih kedua tangan orang itu untuk menggendongnya keluar, tapi tidak bisa. Ia mendekap badan orang itu untuk menggendongnya, tapi tetap gagal. Ia menampar-nampar kedua pipi orang itu dengan panik karena api mulai membesar, tapi percuma. Ia mencoba untuk menyeretnya dari kasur dengan menarik kedua kakinya, sambil berdoa dan menyumpah di dalam hatinya, mengharapkan kasur itu memiliki roda, mencoba sekuat tenaga, tapi ia tidak berhasil. Seisi ruangan dipanasi.

Hei Ali, kita harus keluar, kata seorang petugas pemadam kebakaran.

Tapi─ tunggu dulu.

Sekarang Ali, lihat apinya!

Tapi─ aku tidak bisa membawanya keluar.

Apinya!

Ali Said meloncat dari jendela lantai dua menuju tanah berumput.

“Udang bakar, kerang rebus, kepiting saus tiram, cumi goreng tepung, gurame asam manis, serba seafood. Eh─” Kikita berhenti. Raut wajahnya berubah keheranan. Lidahnya mengecap bibir dan deretan giginya sementara kursi yang ia duduki kembali berdecit.

“Kenapa?”

“Aku─ kayanya─ aneh.”

“Berapa berat badan Anda sekarang?”

“Hah, nggak kerasa.”

“Kamu remaja yang suka banyak makan ya. Perut Anda adalah pusat dari segala kepuasan duniawi dan Anda selalu memanjakannya dengan baik. Anda sangat suka sekali bersenang-senang, menghabiskan uang, membeli barang yang tidak dibutuhkan, dan yang terakhir, mengisi perut. Saya heran tidak adakah hal lain yang bisa Anda kerjakan selain itu, maksudnya, hal yang benar-benar substansial karena Anda masih muda, otak Anda masih segar, otot Anda masih kuat, dan Anda memiliki energi yang luar biasa.”

“Substa─”

“Ehm, Anda dan Bon adalah sebuah contoh konkrit, yang satu adalah konsumen sejati dan yang lainnyaadalah ksatria pornografi . Remaja. Kenapa? Merasakan sesuatu di bibir Anda? Anda merasakan makanan yang tadi Anda sebutkan tadi? Ya, tentu saja. Tentu saja karena Anda telah memakannya. Anda telah pergi ke pesta ulang tahun teman Anda itu, makan dengan lahap, lalu pulang dengan perut kenyang dan tertidur. Selanjutnya yang Anda tahu adalah Anda sudah di sini.”

Kikita bungkam. Wajahnya masih mencari sesuatu sementara kursinya bergoyang dan berdecit.

“Kikita sayang, Anda telah meninggal dunia. Terbakar di atas ranjang. Ali Said mencoba menyelamatkan Anda tapi lucunya, dia tidak bisa mengeluarkan Anda karena berat badan Anda, atau lebih tepat saya bilang, gaya hidup Anda yang akhirnya membunuh Anda. Yang lebih lucu lagi, Ali Said merasa bersalah dan berpikir untuk bunuh diri. Ah dasar manusia.”

“Nggak, nggak...” Kikita tidak percaya. Ia gelisah di atas kursinya. Suara decit itu lalu membesar perlahan-lahan. Terus membesar. Berdecit dan akhirnyakursi itupun rubuh, berantakan, berserakan, menjatuhkan tubuh Kikita ke lantai. Seisi ruangan tertawa. Sang hakim tertawa. Kikita meratap, memasang raut muka yang tidak biasa, seolah-olah ia tidak mengerti dengan setiap ucapan hakim dan mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan di bokong empuknya.

“Saya memang selalu suka mengadili remaja.”

“Pak, Bon akan segeradatang dua menit lagi,” kata seseorang yang duduk di sebelah hakim.

“Oke. Kikita, Bon akan segera bergabung dengan kita. Bisakah Anda menjaga rahasia?”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

O_O KEREEENNNNN bisa nyelipin kisah-kisah dan masih mempertahankan alur yang mengalir. Salute Kak!
*sekalian nyudul biar diliat di tab activities :)

Terima kasih

100

Gila.
Really luph this!

thank you, i love you too if you're a girl, but if you're a boy, i just say thank you very much

80

Cerita ini recomended by neko-man http://www.kners.com/showpost.php?p=22613&postcount=14
Sumpah absurd, tidak mengira seperti itu. Keren ceritanya.
Selamat arki atsema... cerita yang bagus :D

terima kasih mas

100

I guess, you know what you want to tell, and I think, you've done it right.

thanks a lot!

ikut nimbrung baca!

monggo mas

100

Salut kakak, kalau mau kuberi nilai 20 deh...

wah terimakasih, berlebihan, tapi terimakasih

lanjout haha

100

Ini benar-benar bagus.
Entah kenapa saya jadi teringat cerpen-cerpan lama...
Sederhana tapi mantap
Apalagi endingnya
Hebat!!!

terimakasih bos, i appreciate it so much