The 6th Station

Photobucket

Stasiun ke 6 dari rumah, kau bilang. Tempat kau akan menungguku, dan menyampaikan sesuatu yang tak bisa kau beritahu di sekolah, apalagi di rumah, karena rumah kita tepat bersebelahan. Orangtua kita bisa curiga, begitu menurutmu.

Kenapa harus stasiun? Kenapa tidak di taman? Atau di toko es krim yang baru buka di dekat perpustakaan kota?

Kau memutar bola matamu ketika aku bertanya begitu, dan menyentil dahiku. Kau bicara soal ingatan perempuan yang biasanya lebih detil soal hal-hal kecil, sedangkan aku malah tidak ingat apa-apa. Tentu saja aku tahu kalau stasiun itu adalah tempat pertama kali kita saling menyapa dan benar-benar bicara satu sama lain. Aku hanya ingin berpura-pura bodoh, dan membiarkanmu yang menjelaskan padaku dengan raut wajahmu yang sangat kusuka – satu alis meliuk terangkat, hidung mungil yang mengembang dan mengempis karena kau sedang bersemangat, dan kedua mata berlensa abu-abu yang bersinar cerdas.

Kau selalu marah kalau aku menyebutmu imut, raut wajahmu memerah, dan kau akan mendiamkanku sampai aku meminta maaf dan bersumpah kalau kau segagah pemain NFL. Karena menurutmu laki-laki tak suka dibilang imut, dan tidak ada running back yang imut. Aku hanya menyeringai seperti biasa kalau aku menggodamu.

Stasiun ke 6 dari rumah, ulangmu. Jangan sampai terlambat. Lalu kau berlari pergi, keluar gerbang sekolah, entah kemana. Ujung kemeja seragammu yang tak pernah rapi itu berkibar dan menghilang di balik tembok batu. Kau tak melihat wajahku yang memerah dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan kedua kakimu yang membawamu ke posisi pelari di tim utama sekolah. Kau juga – untungnya – tidak melihat kotak hijau pipih yang kudekap erat di antara buku-buku pelajaran. Hadiah untuk keberhasilanmu.

Kau tahu? Cuaca siang itu begitu menyengat, dan aku bahkan masih mengingat panasnya yang membakar kulit lenganku. Aku menyesal tidak mendengarkan saran ibuku untuk memakai lotionnya, karena tadi aku buru-buru ganti baju dan pergi. Aku tak mau terlambat.

Sesekali kuusap keringat di dahiku dengan tisu dan menegak botol air yang kukantongi. Suara tsukutsuku boshi menemaniku di sepanjang jalan, bergaung dari satu pohon ke pohon lain. Tanpa sadar bibirku tersenyum, mengingat aku akan menemuimu dalam beberapa menit lagi. Kulangkahkan kakiku lebih cepat, dan bibirku menyenandungkan Yuugao, lagu yang sangat kusukai.

Stasiun ke 6 dari rumah, katamu. Dan aku terus berjalan dengan cepat – nyaris berlari – diiringi suara tsukutsuku boshi yang seolah menyemangatiku. Aku bahkan tidak berhenti untuk membeli air minum ketika botolku sudah kosong. Sudah lima stasiun kulewati, sebentar lagi aku sampai.

Akhirnya. Itu dia dirimu di seberang jalan, masih memakai kaus hitam yang kau pakai ke sekolah tadi, bersandar di dinding sambil melihat jam tangan plastikmu yang dekil. Aku kembali tersenyum walau sambil terengah-engah, dan melambaikan tanganku. Kau tak melihat.

Di tengah desakan orang-orang yang berjalan kesana kemari, aku berusaha keluar dari kerumunan dan berlari ke arahmu. Aku memanggil namamu, dan kau mendengarnya. Kau mendongak melihatku. Tersenyum.

Lalu terbelalak.

...

Kututup mataku, lalu kubuka kembali perlahan-lahan.

Suasana di sekelilingku berubah dengan cepat. Sinar matahari berwarna kuning hangat, pohon-pohon hijau yang rimbun, orang-orang yang berpakaian warna warni, kursi-kursi cafe, celoteh riang anak-anak SMA yang baru pulang, semuanya tersedot dengan cepat ke atas, seolah ada penghisap debu tak kasat mata di langit sana.

Dan di sinilah aku, mengulangi setiap langkah yang kulalui hari itu dan dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya. Langit begitu gelap, dan udaranya dingin. Tetes-tetes air hujan turun tanpa ampun, membasahi segala isi bumi yang nampak. Suasana begitu sepi, semua orang sudah tahu akan ada hujan lebat, dan kebanyakan sudah meneduh di tempat lain atau tidak keluar rumah sama sekali. Pohon-pohon terlihat layu dengan daun yang basah dan gelap menggantung di dahan-dahannya.

Tak ada sinar yang menghangatkan. Tak ada tsukutsuku boshi yang berisik. Tak ada dirimu yang bersandar di dinding stasiun.

Yang tersisa dari ingatan masa lalu itu hanya aku yang berdiri di tengah hujan seperti orang bodoh, menatap nanar ke arah stasiun. Aku dan seorang kakek yang duduk di bangku kayu di sebelahku.

Aku berjalan mendekat, dan duduk di sebelah kakek itu. Kami berdua terdiam. Ujung mataku melihat tangannya yang berkeriput memegang tiga tangkai bunga yang berbeda. Aku memberanikan diri untuk melihat kakek itu, yang kini sedang terpaku menatap stasiun. Ia sedang mengingat sesuatu.

Suara cipratan air mengagetkanku. Segera kualihkan pandanganku, dan melihat seorang anak perempuan seumuran anak SMP berlari sambil berusaha agar payung besar yang ia bawa tidak tertiup angin. Anak itu berhenti di depan kami, dan tertunduk sambil terengah-engah.

“Kakekkk! Aku bilang kan tunggu dulu, aku hanya pergi ke rumah temanku sebentar untuk meminjam payung... Kakek jangan menakut-nakutiku dong!”seru anak itu dengan napas terputus-putus.

Kakek itu tersenyum dan mengeluarkan saputangan dari sakunya, lalu mengelap wajah anak itu.

“Maaf Fuyo, kakek juga pasti dimarahi ibumu kalau ia tahu kau basah-basahan begini karena mencari kakek. Padahal kau baru sembuh dari flu seminggu yang lalu”

Amarah anak itu nampak reda begitu melihat wajah kakeknya yang menatapnya lembut sambil menepuk-nepuk saputangan ke pipi tembamnya.

“Ya sudah, asal Mama tidak tahu sih aman. Ayo Kek, kita pulang.” seru Fuyo sambil menarik tangan kakeknya. Namun kakek itu bergeming sehingga Fuyo menatapnya heran.

“Kau masih ingat, Fuyo, cerita soal Umi?” tanya si kakek.

Fuyo mengangguk, tampangnya masih bingung. “Iya, gadis yang selalu kakek ceritakan kan?”

Kakek itu terdiam sebentar sebelum akhirnya melanjutkan, “Tepat hari ini, lima puluh tiga tahun yang lalu, kakek menunggunya di sini. Hari itu adalah ulang tahunnya, dan kakek membawa boneka beruang besar yang selalu ia inginkan. Kakek menitipkannya di ruang penjaga stasiun agar dia tidak curiga. Hari itu salah satu musim panas terpanas yang pernah kakek alami. Kakek menunggu di depan stasiun, lima menit sebelum waktu janjian kami.”

Fuyo berpaling dan melihat gerbang stasiun dengan terpesona. Ia kembali berpaling ke kakeknya, ketika lelaki tua itu kembali bercerita.

“Siang itu begitu ramai, karena hari itu adalah hari terakhir liburan musim panas. Orang-orang bejalan hilir mudik, kesana kemari. Kakek berusaha mencari Umi, sampai akhirnya kakek mendengar suaranya memanggil kakek. Kakek langsung melihatnya menyeruak keluar dari kerumunan, dan berlari menyebrang. Kakek begitu senang dan bersemangat untuk mengejutkannya. Namun itu hanya bertahan selama dua detik. Umi tidak melihat lampu pejalan kaki yang sudah berkedip-kedip ketika ia menyebrang. Ia juga tidak melihat mobil yang mengebut dari kejauhan.”

Raut wajah Fuyo langsung berubah. Ia bolak balik menatap kakeknya dan penyebrangan menuju stasiun yang ada di depannya seolah mencocokkan cerita yang ia dengar dengan apa yang ia lihat. Kemudian matanya mulai berkaca-kaca.

Kakek itu tersenyum sambil menatap bunga-bunga yang ia genggam. “Boneka beruang itu tidak pernah sampai ke pelukannya, begitu pula tiga tangkai bunga yang kakek ikatkan pesan untuknya.”

Aku tersenyum sedih melihat bunga-bunga itu. Jenisnya sama persis dengan apa yang kuingat. Kau pernah kesal padaku yang tak bisa memutuskan apa bunga favoritku karena aku sangat menyukai ketiganya: Forget Me Not berwarna biru indah, Aster merah yang cantik dan Buttercup dengan warna kuning yang manis.

Fuyo menyeka air mata yang mulai menetes keluar lalu memeluk kakeknya erat.

“Kakek, kakek jangan sedih. Kakek kan tau aku cengeng. Aku bisa nangis lebih dari ini kalau kakek sedih.” serunya dengan suara serak sambil terisak.

Kakek itu tertawa, kali ini bukan tawa yang dipaksakan, tapi tawa untuk menenangkan cucunya.

“Kakek sudah lama berhenti bersedih, Fuyo. Kasihan kan nenekmu kalau kakek masih sedih? Kakek juga tak mau cucu kesayangan kakek sedih”

Fuyo melepaskan pelukannya dan menyeka kedua ujung matanya dengan lengan.

“Dulu memang kakek tak bisa berhenti menyalahkan diri kakek. Kalau saja hari itu kakek tak mengajaknya bertemu, kalau saja kakek tidak mengajaknya ke stasiun, kalau saja kakek menjemputnya dan kami pergi bersama, dan sejuta kalau lainnya. Tapi kakek akhirnya sadar, Umi akan marah habis-habisan kalau kakek terus bersedih. Kakek yakin, Umi ingin kakek melanjutkan hidup.”

Fuyo masih menatap kakeknya ragu. Akhirnya kakek itu berdiri sambil bertumpu pada Fuyo dan meletakkan ketiga bunga itu di trotoar, menyandarkannya ke tiang lampu merah. Ia berjongkok dan mengatupkan kedua tangannya, lalu berdoa dengan mata tertutup.

Kemudian Fuyo membantunya berdiri. Kakek itu tersenyum, menatap cucunya dengan mata abu-abu yang bersinar cerdas. Ia merangkul Fuyo, menggiring cucunya itu pulang bersama. Meninggalkanku yang masih duduk di bangku, menatap bunga-bunga itu.

Bahkan setelah lima puluh tiga tahun berlalu, bahkan dengan tubuh seringkih itu, kau masih kemari untuk menyapaku. Ini bukan pertama kalinya kau datang kembali. Setiap tahun, diam-diam, kau selalu kemari di hari ini. Sampai akhirnya rambutmu memutih, kulitmu berkeriput, dan punggungmu mulai membungkuk, kau masih memaksakan tubuhmu berjalan kemari.

Betapa aku ingin memarahimu dan menendang kakimu seperti biasa. Tapi kau pasti akan memberikan alasan yang sama: hanya enam stasiun dari rumah, jaraknya tidak jauh untuk kaki emasmu.

Aku menatap punggungmu yang mulai menjauh dan mengabur tertutup tirai hujan. Kau tak tahu betapa aku ingin mengejar dan memelukmu sekarang. Namun aku harus menelan setiap kata-kata yang ingin kujeritkan, menahan semua yang ingin kulakukan, karena aku tahu persis itu tidaklah mungkin saat ini.

Stasiun ke 6 dari rumah. Aku yakin akan tiba saat aku bisa memelukmu lagi. Aku yakin kau akan kembali suatu saat nanti, karena itu aku akan selalu menunggumu di sini.

Lalu, bersamaan dengan redanya hujan beberapa saat kemudian, tubuhku menghilang ditimpa sinar matahari hangat yang muncul perlahan dari balik awan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nycto28
nycto28 at The 6th Station (4 years 30 weeks ago)
80

Cerita yang bagus sayang saja, akhir cerita sudah terbaca oleh saya sejak ada si kakek. Tapi tak apa. Saya menikmatinya.
Saya suka caramu bercerita dan bagaimana kau memilih kata-kata yang digunakan. Dan setelah membaca komen-komen, hal-hal detil pun kau perhatikan. Cicada dan lainnya. Itu hebat sekali. He he.
Omong-omong, salam kenal :)

Writer Ryan_Ariyanto
Ryan_Ariyanto at The 6th Station (4 years 39 weeks ago)
100

mengalir, memberi pembelajaran. Selain mmng materinya sesuatu banget.

Writer Reborn Initial
Reborn Initial at The 6th Station (5 years 22 weeks ago)
100

Asyik, meskipun di tengah ceritanya udah mulai bisa ketebak, tetep mengalir dan menarik untuk dinikmati. :D

Writer Tikacaraca
Tikacaraca at The 6th Station (6 years 32 weeks ago)
100

ceritanya mengharukan :')

Writer gie27
gie27 at The 6th Station (7 years 2 weeks ago)
100

Karya ini masih jadi favorit saya,,,,salam knal dlu denk ma teh snowdrop....

baru menetas lagi nich di kemudian. :)

Writer irine
irine at The 6th Station (7 years 13 weeks ago)
2550

salam knal ya -
aku suka ceritanya
sederhana dan berkesan

sehabis ketabrak kok tau" waktu udah berlalu gitu aja..
dia jadi hantu gentayangan dong sereem -_-

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at The 6th Station (7 years 31 weeks ago)
100

...anda dewi cerita, beneran. *poin penuh*

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (7 years 31 weeks ago)

....euh...makasih? *salting* :D

Writer keitaro3660
keitaro3660 at The 6th Station (7 years 32 weeks ago)
100

ah gokil, keren abis >.<
berhubung aku cowok, jd ya aku ngerasain langsung dah penuturan "kamu"nya haha...
plotnya gak ketebak eui, ilusi dari cerah ke hujan juga dapet banget >.<
jadi pengen coba bikin pake "kamu" juga :D:D

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (7 years 31 weeks ago)

makasih banyakkkk >w< cobain lah bikin, asik juga kok XDD sekali2 bikin yang beda :P
.
cerita ini keinspirasi dari lagu berjudul sama: The 6th Station - nya Joe Hisaishi dari OST Spirited Away, kalo sempet coba denger deh, pasti lebih berasa (promo) XDD

Writer Lentog
Lentog at The 6th Station (7 years 35 weeks ago)
80

wah, ak demen sudut pandangnya diambil dari si Umi ...:)
tapi, disitu uminya kira2 ikut menua atau masih seumuran SMP juga ya ?? xixxixixi

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (7 years 35 weeks ago)

ah, makasih udah baca >w< sukur deh kalo suka :D. uminya ga ikut tua, tapi tetep dalam wujud kaya gitu :)

Writer Lignify
Lignify at The 6th Station (7 years 35 weeks ago)
100

Kok langsung keinget Hachiko yah? :'(

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (7 years 35 weeks ago)

hachiko TAT film yang bikin gw nangis curambay dan ngebasahin karpet >.<
.
makasih udah baca ya ^^

Writer yellowmoon
yellowmoon at The 6th Station (7 years 36 weeks ago)
90

bagus sekali ^__^

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (7 years 35 weeks ago)

makasih banyak udah baca >w<

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at The 6th Station (7 years 36 weeks ago)
80

Kasihan neneknya Fuyo..

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (7 years 36 weeks ago)

ah, ada yang liat dari sudut pandang itu juga ya.. hehe, iya, si nenek udah tau ko ceritanya, cuma ga tau aja kakeknya masih dateng ke stasiun itu tiap taun :)
.
makasih udah baca ya >w<

Writer iman
iman at The 6th Station (7 years 38 weeks ago)
90

satu kata:
Dramatis

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (7 years 38 weeks ago)

satu kata: Makasih :)

Writer gadiscedal
gadiscedal at The 6th Station (7 years 39 weeks ago)
100

uwooo, kereen, sampe nangis gini :')

Writer cheerfulpessimist
cheerfulpessimist at The 6th Station (7 years 39 weeks ago)
80

Bunda :| *lambe*
Kau keren. As always. Haeehhh... *minder*

Writer just_hammam
just_hammam at The 6th Station (7 years 41 weeks ago)

Cerita ini recomended by Herjuno http://www.kners.com/showpost.php?p=22597&postcount=8
Ga nyesel bacanya... sampai berdesir gitu rasanya pas udah tahu arah ceritanya kemana. Salut.
Selamat... cerita yang indah. :D

Writer NazlaChairina
NazlaChairina at The 6th Station (7 years 46 weeks ago)
100

serius bagus banget, sampe nangis gitu bacanya hehe :")

Writer Phoebeyuu
Phoebeyuu at The 6th Station (7 years 51 weeks ago)

udah lama nggak baca cerita kakak. dan ketinggalan banyak bangeeeeet! =(
kenapa aku nggak pernah dikasi tau kalo bikin cerita baruuuu? =(

Writer dee_86
dee_86 at The 6th Station (8 years 5 days ago)
100

Cooll my Fren..

Writer Balck Angel
Balck Angel at The 6th Station (6 years 33 weeks ago)
100

...

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at The 6th Station (8 years 19 weeks ago)
90

Bagus >w< saya suka cerita sederhana yang menyentuh begini Ka Snowdrop!
.
Oya, salam kenal~~ ^^

Writer Riesling
Riesling at The 6th Station (8 years 20 weeks ago)
100

So sweet~~
.
Salama kenal, kak snowdrop~~

Writer MelZhi
MelZhi at The 6th Station (8 years 26 weeks ago)
100

Salam kenal, kak SnowDrop.
saya Melzhi.
.
Huhuhu...
saya gak tahu mau komen apa. ini kebagusan kak...
epik sekali.
kalo begitu, saya lapor aja deh kalo saya udah baca ini. hehehe...

Writer ajust
ajust at The 6th Station (8 years 27 weeks ago)

aku bukan termasuk orang yang cermat menilai sebuah tulisan tapi aku membaca tulisan ini, hanya sebentar tidak sampai habis, menurutku panjang....dan terlalu melambungkan anganku seolah berada pada situasi cerita yang menurutku bertele-tele meski bahasa yang digunakan sangat indah (maaf) teruslah menulis hingga fajar tak lagi dapat mengusik imajinasimu :-)

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at The 6th Station (8 years 27 weeks ago)
90

and this makes 200+

hahah, ini cerita ini lu banget sist. Lighthearted slice of life romance. Sangat Salad Days. Gw sujud deh kalo membaca cerita ini. Seperti kembali waktu zaman gw seneng nonton dorama ama baca manga romance.

cuman yah, ada satu nih yg mengganjal di cerita ini. Penulisan "Stasiun ke 6" nya itu lho kyknya kurang pas sama keindahan struktur bahasa. Mungkin tepatnya "Stasiun ke-6" atau "Stasiun keenam"

Writer Valen_valz
Valen_valz at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

Selalu suka karyamu.. ~.*

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

selalu suka kalo ada yang ngomen..>w<...makasih ya udah baca ^^

Writer wellight
wellight at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)
80

bagus..
tp cra kakek nyeritain ceweknya trlalu frontal, palagi cucunya udh blng lok kakek n2 srng crta ttg cweknya,

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

sip, tengkyu ^^,,terlalu frontal ya? iya, dia langsung frontal karena si cucu sebenernya udah tau/udah kenal Umi. kakeknya emang sering cerita, tapi cuma nyeritain masa lalu aja, ga cerita soal gimana endingnya ^^
.
eniwei, thx for reading ya ^^

Writer arydhamayanti
arydhamayanti at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)
50

umm.. gini yu, sebenernya cerita ini romantis banget, tapi ada hal yang ganjil banget menurutku. Itu kan ceritanya tepat 53 tahun kemudian, pada tanggal yang sama kan? Nah, tapi musimnya kok beda gitu yah? 53 tahun lalunya lagi musim panas paling panas, tapi 53 tahun berikutnya lagi hujan.. hmm... apa ini kecelakaan atau emang kamu selipin sebagai dampak climate change?? hehehe.. itu aja sih yang aneh menurutku. soalnya klo iklim gak berubah sih, kalau musim panas, gak ada hujan kan? ocheh.. gitu aja yah. :D

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

hohoho,,,saya menunggu2 komen yang nanya soal ini, tadinya mo gw bahas, tapi kalo ga ada yang nyadar ya udah >w<
.
gini rik, normalnya ada 4 musim di jepang: semi, panas, gugur, dingin. Tapi sebenernya ada satu musim lagi yaitu musim hujan, 2 minggu masa peralihan dari musim semi ke panas. Hujan di musim ini, biasanya cuma hujan gerimis, gak lebat tapi bisa berlangsung lama, bahkan pernah 3 hari non stop.
.
tapiii,,yang kejadian di cerita ini bukan musim hujan yang di atas itu. Musim panas yang mulai bulan Juni-Juli, bakal berakhir di bulan September. Kalo lu merhatiin, di cerita ada suara tsukutsuku boshi ato bahasa inggrisnya cicada, ato bahasa indonesianya tonggeret. tsukutsuku boshi ini adalah pertanda musim panas akan berakhir dan akan ganti ke musim gugur. Di masa peralihan ini, cuaca ekstrim suka terjadi. Antara panas banget, ato malah ada hujan badai bahkan sampe ada topan. Biasanya pas masa ini orang2 jepang suka bikin teru-teru bozu, boneka penangkal hujan, dan bedoa supaya musim gugur yang sejuk dan damai itu cepet2 dateng ^^.
.
panjang ya penjelasannya? hehe, makanya gw cuma mo jelasin kalo ada yang nanya aja >w<. kalo soal climate change, engga juga ya, karena cuaca september emang agak esktrim di jepang. tapi dampak climate change udah mulai kerasa di jepang sana, baru juli kemaren ada hujan lebat yang newasin sekitar 80 orang, padahal juli itu baru awal musim panas, peralihan dari musim semi dan 2 minggu musim hujan yang seharusnya ga seberapa..gitu deh :)
.
eniwei, makasih udah baca ya rik! ganbatte di jakarta!!! ^^

Writer arydhamayanti
arydhamayanti at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

hoooohh.. gitu yah.. *manggut2* pengetahuan baru yang sangat menarik nih.. sip...

Writer Ferrynanda M
Ferrynanda M at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)
90

kereeen banget...!!!
mohon bimbingannya snowdrop
salam kenal..
ferrynanda

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

makasih banget...!!!!
sama2, gw juga masih belajar, mohon bantuan juga >w<
salam kenal yo! ^^

Writer giebrox 27
giebrox 27 at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)
100

luar biasa teteh snow...
luapan kgum ku mledak,,

slam gie27

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

waduh, sampe meledak ya? ehhe,,makasih udah baca ya,,salam kenal juga ^^

Writer redscreen
redscreen at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)
80

kalau forget me not ku pasti ingat harvest moon :D
salam kenal kak snowdrop ^v^
ku agak aneh sama kalimat menghapus air mata dgn siku? 0,o

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

woooo,,bener banget!!!!!!! ternyata maen harvest moon juga >w<...gw tau forget me not pertama dari komik Pengantin Demos, komik jadul jaman SD >w<
.
salam kenal juga,,dan makasih koreksinya, itu bagian yang blom keedit, maksudnya pake lengan,,udah gw benerin, thx yo! ^^

Writer Vanilla.Latte
Vanilla.Latte at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)
100

So sad,.. hikzzzzz :'(

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

hehe, makasih udah sedih (salah reaksi)
.
thx udah baca ya ^^

Writer ikan biroe
ikan biroe at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)
100

yang lain-lain tak bisa kukomentari.
bahasanya manis sekali... saya yang terbiasa di air makin hanyut..

Writer SnowDrop
SnowDrop at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)

makasihhh,,manis kaya yang nulis (ditabok ikan)
.
makasih ya,,ati2 hanyut :)

Writer KD
KD at The 6th Station (8 years 28 weeks ago)
100

hmmm