Undangan Makan Malam

Kabut malam tak hentinya mendobrak jendela-jendela bersinar di kawasan Mentanias. Sebagian yang menyerah kini melayang-layang di jalanan bagai hantu penggoda. Pohon mati di seberang jalan tampak seperti tangan-tangan makhluk neraka yang tengah mencabik langit malam. Mata-mata setan bersinar, mendelik, menyeringai di depan setiap rumah. Beberapa saat yang lalu telah terjadi teror di kawasan ini. Para budak neraka merampas harta paling manis dari setiap rumah. Salah satu di antaranya adalah tiga sosok yang kini beriringan di jalan setapak. Seorang dengan jubah hitam berkerah tinggi berjalan angkuh. Wajahnya sepucat pualam, taringnya mencuat siap memangsa dan angin malam membuat jubahnya berkibar bagai layar kapal hantu. Di sebelahnya berjalan seorang wanita dengan rambut yang membuatmu tidak pernah bermimpi untuk membelainya. Ratusan ular berbisa melekat di kepalanya. Matanya tajam menyorot jalanan dingin sembari menggendong kuali-pengorbanan dengan bau yang semerbak. Sementara yang satu lagi tampak waspada dengan kepala serigalanya. Memantau keadaan sekeliling, menjaga kuali-pengorbanan.
“Malam yang panjang…” ujar Near, sembari mengeliat di bawah kostum drakulanya.
“Ya, sangat menyenangkan tahun ini,” imbuh Sarah, gadis cantik itu mengenakan kostum Medusa, “hei lihat! Ada sekantung mevilla vella!” serunya, mengeluarkan sekantung plastik berisi bulatan-bulatan emas dari kuali-permen.
“Mevilla vella?!” bocah lainnya tampak tak percaya lalu menyergap bungkusan itu.
“Troy!” Sarah kurang senang dengan prilaku bocah penyergap berkostum manusia serigalanya itu.
“Ini benar-benar asli!” seru Troy, menatap bungkusan permen terbaik di Mentanias itu. “Siapa yang memberi ini?”
“Seingatku Nenek Proda,” Near mengingat-ingat.
“Tak kusangka nenek itu memiliki selera tinggi, selain rajutannya,” Sarah memuji, “jangan kau lumat semua Troy!”
“Apa ini?” Troy mengernyit disela makannya, menatap secarik kertas yang dia dapat dari dalam bungkus mevilla vella. Sontak kedua sahabatnya merapat. Dengan seksama membaca wacana yang terdapat pada kertas emas itu.

‘Selamat anak-anak, kalian terpilih untuk acara jamuan makan malam Halloween.
Nenek tahu kalian sangat lapar setelah berkeliling komplek. Maka dari itu nenek mengadakan acara ini. Datanglah ke rumah nenek dan kalian akan mendapatkan makanan yang jauh lebih nikmat dari mevilla vella yang sedang kalian nikmati sekarang.
Tidak cuma itu, kalian juga akan mendapatkan mainan-jail yang sangat menarik.
Dan semua itu akan nenek berikan cuma-cuma dimalam spesial ini untuk kalian pecinta Halloween.

Happy Halloween

Nenek Proda.’

Untuk sesaat mereka terdiam setelah membaca suat itu. Tak lama Troy kembali melahap mevilla vella.
“Cukup menarik untuk seukuran nenek tua,” ucap Near, “bagaimana?”
“Entahlah Near, ini sudah larut,” balas Sarah, sembari menyibakkan rambut-ular-tipuan-nya. Butuh lima jam umtuk membuat itu, sampai tangan Maria―ibu Sarah― berkerut.
“Ayolah, ini malam Halloween,” Troy mulai menanggapi. Kepala boneka serigala yang menempel di atas kepalanya bergoyang-goyang tertiup angin malam.
“Troy benar,” imbuh Near, “pikirkan mainan-jail-nya!”
Troy mengangguk penuh semangat mendengar itu. Semua anak di Mentanias sangat mengidam-idamkan mainan-jail. Dengan benda-benda itu, anak-anak bisa mencundangi orang dewasa yang menyebalkan, seperti Jonathan Darmen. Pria tinggi tegap yang akan mencincangmu jika kau berani menginjak rumput di halamannya. Entah mengapa tapi perilaku buruk Jhonatan bermula setelah ia kehilangan putrinya Nina Darmen, yang hilang secara misterius tiga tahun yang lalu saat malam Halloween.
“Ini sudah larut Near, dan ku rasa Nenek Proda sudah tidur, kau ingat nenekku, rematik―,” papar Sarah.
“Baiklah, nenek penderita rematik yang mampu mendapatkan mevilla vella yang jauhnya satu setengah mil dari rumahnya?” Near bersikeras, “kau tahu kan, Nenek Proda hidup sendiri,”
“Tapi…” Sarah masih ragu, “kalian ingat kan, Nina Darmen?”
“Saus tar-tar!” kata Near terkejut, “itu tidak ada hubungannya Sarah.”
“Aku menduga Nina hanya kabur dari rumah, alih-alih diculik Jack-o’-lantern,” imbuh Troy. “Bayangkan, siapa yang tahan mempunyai ayah seperti Jhonatan-evil-Darmen?”
“Tapi…”
“Kau Medusa paling penakut yang pernah ku temui Sarah,” ejek Near lalu meraih kuali-permen dari tangan Sarah dan mulai mencari permen nanas.
“Baiklah Tuan Drakula pemberani―” Sarah menyilangkan lengannya sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Near. Wajahnya kini seperti Medusa yang kehilangan anak, “―kita pergi.”
“Bagus, ayo,” riang Near, setelah menemukan permen nanas di antara ratusan permen di dalam kuali–permen.
“Kue-pria-jahe di malam Halloween…” Troy membayangkan dengan mulut penuh mevilla vella.
“Tidak ada acara makan malam,” ujar Sarah kesal, “kita akan segera pulang setelah mendapatkan mainan-jail atau aku akan mengubah kalian menjadi patung marmer,”
Keduanya mendesah mendengar itu. Apa boleh buat, Sarah bisa lebih mengerikan dari pada Medusa asli jika dia marah. Hal itu pernah ia buktikan pada Jonathan Darmen. Sarah berani berteriak di depan muka lelaki tua yang pernah membuat hampir seluruh anak di Mentanias menangis itu. Hal itu terjadi lantaran Sarah hendak mengambil kucingnya yang entah mengapa bisa berada di halaman Darmen.
Jadilah ketiganya berbalik arah. Melintasi pertigaan dan berkelok ke kiri saat kucing liar hitam melompat dari atas kotak surat Nenek Proda.
“Hampir saja,” Sarah menghela setelah berhasil menghindar dari terkaman kucing itu.
“Tadi itu apa?!” Troy tampak was-was.
“Makhluk berbulu yang kurang ajar,” singkat Sarah.
“Aku berbulu,” sahut Troy sembari menunjuk bulu palsu yang menempel di lengannya, ”setidaknya untuk malam ini,” imbuhnya sembari terkekeh bersama Near.
“Oh tolong… Aku lupa cara tertawa,” dendang Sarah, tanpa menaksir lelucon Troy.
Mereka bergegas melintasi halaman super-rapi milik Nenek Proda. Terdapat air mancur di sisi sebelah kanan. Belasan patung malaikat kerdil juga memenuhi halaman itu. Dari kejauhan, sepasang Jack-o’lantern tampak menyeringai di depan pintu. Perjalanan ketiganya diakhiri dengan ketukan pintu.
“Nenek Proda, kami datang,” kata Near sembari mengetuk pintu antik di depannya. Namun tak ada jawaban. Near mencoba lagi, “Nek…,”
“Lihat, aku sudah bilang kan,” celoteh Sarah, “rematik―semua nenek mengalami itu,”
“Dan semua nenek juga berjalan lamban untuk membuka pintu,” balas Near, Troy terkekeh, nampaknya kini ia mulai mencium aroma kue-pria-jahe.
“Nenek Proda…!” Near setengah berteriak. Tak ada reaksi dari penghuni rumah dan Sarah mulai kesal.
“Entah kalian sadar atau tidak, kita sedang mengganggu tidur seorang nenek tua yang telah memberi kita permen terenak di malam Halloween,” kata Sarah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat rambut-ular-palsu-nya tampak seperti cacing yang di jantur.
“Tapi kau sudah membaca undangannya kan,” balas Troy, kali ini sudah tak sabar sampai ingin mendobrak pintu di depannya lantaran aroma kue-pria-jehe semakin semerbak. “Dan kau bisa mencium kan, aroma pria-jahe untuk kita ini…” imbuhnya sembari mengendus-endus.
“Nenek Proda…!” suara Near terdengar lebih nyaring dan Sarah berubah dari Medusa-Palsu-Kesal menjadi Medusa-Palsu-Marah.
“Troy, undangan itu hanya halusinasi seorang nenek, secara harafiah itu berarti Nenek Proda tidak sadar telah menulisnya,” Sarah mengeluarkan teorinya lagi dengan muka berapi-api mirip gurita panggang, “tidak ada nenek yang tidak pikun,”
“Selamat datang, kalian bertiga rupanya,” terdengar suara lembut yang entah mengapa membuat Sarah merinding, lalu dia menoleh. Tampak seorang wanita tua sangat rapi berdiri di ambang pintu yang kini terbuka. Dia tersenyum ramah kepada ketiganya.
“Kami kira nenek sudah tidur,” tukas Near.
“Menyiapakan makan malam tidak bisa dengan membuka pintu nak,” balas Proda, “ayo masuk,”
Troy menyenggol Sarah, mengangguk-angguk dan bergumam pelan “kue-pria-jahe,” membuat Sarah melotot, memperingatkan tentang maha karya patung marmer yang nanti akan ia buat jika itu terjadi.
Mereka berjalan beriringan memasuki rumah. Di depan, Nenek Proda berjalan setengah bungkuk sembari menebarkan aroma parfum tua yang menyengat. Tidak seperti Near dan Troy yang riang, Sarah nampak khawatir sembari terus memeluk kuali-permen. Rumah itu begitu antik, lukisan-lukisan binatang yang eksotik terpampang di sepanjang lorong menuju ruang tengah. Alih-alih lucu, lukisan-lukisan itu sangat seram―setidaknya untuk Sarah. Salah satunya lukisan seekor kucing yang menyeringai dengan cakar terbuka. Seolah akan menerkam siapa saja yang lewat di depannya.
“Lewat sini…” kata Proda, menggiring ketiganya ke ruangan di samping kiri. Setelah mereka menyeruak di antara juntaian tingkap biru tua, tampaklah ruangan yang tak kalah antic, dengan aroma terapi menenangkan. Jendelanya tinggi berbingkai kayu ek kualitas tinggi. Perapian mewah berkobar-kobar, membuat pengoreknya mengkilat-kilat. Lantainya dilapisi permadani dengan motiv sangat rumit namun indah. Di tengah ruangan terdapat meja makan bundar penuh ukiran, tepat di bawah lampu gantung emas yang menawan. Sangat mengherankan ruangan ini berada di dalam rumah sederhana.
“Silahkan duduk dan nikmatilah semua makanan yang ada,” ujar Proda ramah, menunjuk makanan mengepul yang memenuhi meja makan.
“Tapi nek…” Sarah bersuara, “kami tidak bisa lama-lama, kami hanya ingin…mainan,” imbuhnya memberanikan diri.
“Kau gadis ular yang cantik,” balas Proda, “alangkah lebih cantik jika tidak menyia-nyiakan makanan yang telah dengan susah payah di buatkan wanita tua ini,”
“Sarah sering melantur saat lapar nek―,” kataTroy dengan senyum lebarnya. Dia sudah tak peduli dengan ancaman Sarah, setelah melihat setumpuk kue-pria-jahe di atas meja. Sedangkan tanpa sepengetahuan Nenek Proda, Sarah sudah sangat ingin melempar Troy dengat kuali-permen.
“Kami akan menikmatinya,” timpal Near.
“Sudah seharusya nak,” Proda tersenyum. “Nah, silahkan, aku akan mengambil mainan-jailnya,”
Ketiganya lantas mendekati meja makan. Air liur Troy tak terbendung saat melihat makanan lezat di hadapannya. Waffle keju yang hangat, kue mangkuk mengepul, puding coklat-mangga, se-toples mevilla vella dan tumpukan kue-pria-jahe yang semerbak.
Dengan terpaksa Sarah ikut duduk setelah meletakkan kuali-permen di sampingnya. Troy sudah melahap dua pria-jahe saat itu, dan Near mengambil waffle keju.
“Apa kalian tidak merasa aneh?” tanya sarah sembari mengernyit.
“Jika memang ada yang aneh, itu adalah kau Sarah,” tukas Troy dengan mulut penuh puding coklat-mangga dan pria-jahe sekaligus.
“Jujur saja, entah mengapa perasaanku sangat tidak nyaman berada di tempat ini,” Sarah memelankan suaranya. Baru kali ini dia tidak membalas interupsi yang Troy berikan.
“Baiklah Sarah, simpan itu untuk cerpen horror di Kemudian.com, karena sekarang aku sangat ingin pipis,” papar Near, “ada yang tahu di mana kamar kecilnya?” imbuhnya sembari meletakkan kembali waffle keju di atas meja.
“Orang-orang bilang kamar kecil ada di belakang, coba saja,” sahut Troy tanpa mendongak dari sepiring kue-pria-jahe.
Near beranjak, meninggalkan meja dan keluar ruangan. Sementara Sarah diam membisu, entah sedang kesal atau hal lainnya, yang jelas Troy tak memperdulikan itu.
Kamar kecil…kamar kecil… Near berdendang di dalam hatinya sembari menyusuri lorong. Kepalanya tak berhenti celingak-celinguk mengamati setiap ruangan yang ia lewati. Dalam kesunyian, jubah drakula-nya bergemeresak menyapu lantai. Hingga akhirnya setelah melewati pintu dapur dan (dibantu instingnya) berkelok ke kanan, Near menemukan ruangan yang ia yakini sebagai kamar kecil. Pintunya yang berwarna silver terbuka setengah, dan Near seketika itu berhenti saat mendengar suara seseorang dari dalam. Tak lama kemudian di sela penantiannya penantiannya yang semula baik-baik saja tiba-tiba menjadi aneh ketika Near mendengar suara rintihan dari dalam. Near tertegun mendengar suara itu. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari suara merintih kesakitan itu adalah milik Proda. Maka sepelan mungkin Near mendekat dan dengan sangat hati-hati dia mengintip melalui celah pintu yang terbuka.
Betapa terkejutnya Near saat melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Proda tengah bersandar pada dinding sembari memegangi perutnya yang bersimbah darah. Mukanya tampak pucat dan ketakutan saat menatap sosok yang ada di depannya. Seorang pria tinggi tegap dengan rambut acak-acakan. Dari belakang Near bisa melihat pria itu memegang pisau besar yang berlumuran darah di tangan kanannya. Dan saat Near melirik cermin di samping ruangan dia dapat melihat dengan jelas wajah pria itu. Jhonatan Darmen…

bersambug...
******

maaf sbnernya ne mau q post tgl 31 kmaren yp krna sibuk jd br bs skrng... hehe

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer anthirfan bachdim
anthirfan bachdim at Undangan Makan Malam (3 years 48 weeks ago)
70

hem critanya seru abiezt................
tpi kok bersambung,,,,,,,,,,,,,
jdi penasaran...........
lanjutannya apa yach..................

Writer wellight
wellight at Undangan Makan Malam (3 years 47 weeks ago)

sebelimnya maaf,
ne cerita ternyata punya pitensi besar menurut q, hehe
jd mau q seriusin wat novel, hehe
thx dah bca...^^

Writer redscreen
redscreen at Undangan Makan Malam (4 years 1 week ago)
90

sebenarnya ini keren kak! :D
tapi kok bersambung? >v<

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Undangan Makan Malam (4 years 2 weeks ago)
60

Kurang... mungkin karena baru bagian awal?
karakterna kurang berkesan. Tapi secara teknik penulisan dan diksina udah ok ^^ pasti sering baca novel terjemahan *soktwmode* hehehe

Writer lfour
lfour at Undangan Makan Malam (4 years 3 weeks ago)
70

mmmmmm...
kirain horor beneran ternyata bukan toh...
aih lanjut dong cerita na

Writer wellight
wellight at Undangan Makan Malam (4 years 2 weeks ago)

haha txh ya udh mampir
sabar ya lanjtannya cz lg konsen nvel q hehe

Writer wellight
wellight at Undangan Makan Malam (4 years 3 weeks ago)

haha sukses mode on, awalnya emang dark bgt..
thx udh mampir