Catatan-catatan Part II

Bau amis dimana-mana, ciri khas kampung nelayan. Kumuh dan padat kelebihan lain kampung ini.
Dini hari ini, puluhan perahu merapat ke pantai, lampu-lampu petromak menjadi petunjuk kedatangan mereka, silih berganti menurunkan hasil tangkapan, yang di sambut suka cita pengepul ikan, serta para pemikul-pemikul yang berharap ada ikan yang tercecer di keranjangnya, selain upah yang didapatnya. Sedang perahu lain sibuk menelusuri sungai, mencari tempat berlabuh. Ada juga perahu yang tak membawa hasil tangkapan, awak perahu hanya memandang nanar nasib mereka, tak ada uang hari ini, yang ada tekor. Biaya solar dan bekal hilang ditelan bumi. Para nelayan sekarang kalah dengan teknologi, saudagar perahu bermodal besar melengkapi perahu mereka dengan berbagai macam alat canggih, sementara nelayan yang tak punya modal hanya berharap pada insting dan ilmu turun-temurun yang di wariskan para nelayan madura. Berharap cuaca akan baik, hingga camar dapat menunjukkan keberadaan kawanan ikan, tapi sayang cuaca tak jelas akhir-akhir ini, membuat mereka putus asa. Apa karena global warming?, mana tau mereka. Nelayan-nelayan itu hanya pria-pria tangguh yang berpendidikan rendah, kenal huruf saja luar biasa, bukannya tidak ada sekolah disana, tapi mereka harus rela tidak berpendidikan tinggi, demi keluarga mereka, sejak remaja mereka harus menantang ganasnya laut, dan dinginnya angin malam di tengah laiutan. Tak jarang mereka harus ber minggu-minggu bahkan berbulan bulan melaut, meninggalkan keluarga di rumah, tradisi ini ku kenal dengan nama "arombeng" suatu cara melaut yang unik dan butuh kesabaran. Biasanya, mereka akan pergi melaut ke daerah yang jauh, pernah ku dengar sampai ke bali, mataram, bahkan makasar. Ini membuatku takjub, dan ini membuatku yakin cerita tentang para pelaut madura yang pernah tercatat melaut ke madagaskar.
Kenapa aku jadi ingat "Deklarasi Juanda", konon deklarasi ini memastikan negara kita sebagai negara maritim, tapi entah kenapa kini jadi negara agraris, padahal dengan deklarsi juanda, Indonesia mempengaruhi negara-negara di dunia untuk merubah kembali daerah teritorial lautnya. Apa mungkin salah memahami pemikiran todaro ya? Padahal yang di maksud pertanian itu juga melingkupi hasil-hasil laut, entahlah. Yang pasti kekayaan laut Indonesia nomor satu di dunia, walaupun saat ini kita harus bersedih, hampir 90% terumbu karang kita sakit, dan dapat di tebak, ikan akan semakin susah di dapat.
=====///===============
dan yang paling lucu, harga ikan di pasar, tau kenapa?

Ikan mahal kalau tidak ada stok, tapi bakalan murah kalau ikan banyak, padahal biaya nelayan sama saja, dan mereka tetap merugi.

Salam hormatku pada para penyuplai omega9, cerdaskan bangsa ini.

(catatan renyah menunggu sholat subuh)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer irenenatasha
irenenatasha at Catatan-catatan Part II (8 years 40 weeks ago)
50

bagus..

Writer ketoles
ketoles at Catatan-catatan Part II (8 years 40 weeks ago)

terimakasih, mohon petunjuknya suhu,
hehehe

Writer tatsuya
tatsuya at Catatan-catatan Part II (8 years 41 weeks ago)
70

Tatsu juga ikut sama lavender. kelihatan terlalu padat ...

Writer ketoles
ketoles at Catatan-catatan Part II (8 years 41 weeks ago)

padat seperti apa?

Writer lavender
lavender at Catatan-catatan Part II (8 years 41 weeks ago)
70

kalau dipisah paragraf-paragrafnya akan lebih enak dibaca karena deskripsinya bagus..

Writer ketoles
ketoles at Catatan-catatan Part II (8 years 41 weeks ago)

terimaksih sarannya, apa boleh ku edit ya?? maklum user baru di kemudian.com