The 2nd One

Leia mengajakku tinggal di kontrakan yang ia huni bersama kakak laki-lakinya. Ada satu kamar kosong tersisa yang katanya lebih baik kutempati daripada hampir tiap malam dipakai sebagai tempat nongkrong teman-teman kakaknya.

Arlo, kakak Leia yang kini duduk di semester delapan Teknik Elektro, sering membawa teman-temannya ke kontrakan dengan dalih lembur tugas sementara yang didengar Leia dari kamarnya adalah obrolan-obrolan tentang segalam macam urusan cowok paling umum, yang tak lain adalah pertandingan sepak bola. Leia paling sebal mendengar teriakan-teriakan gol dari tengah malam hingga pagi-pagi buta. Tak ketinggalan pembicaraan cowok dengan dirty things yang suka terlintas di otak kaum penjunjung logika dibanding perasaan itu.

”Seolah lupa bahwa ada aku, ada satu wanita yang tinggal di kamar sebelahnya… seorang wanita yang… hey, ada di rumah itu! Bayangin,Ya’, aku mesti dengar hal-hal jorok itu! Gimana aku bisa tidur atau belajar kalau mau ujian? Dan satu lagi… aku mesti beresin kamar itu paginya. Yang ada apa coba,Ya’? puntung rokok dimana-mana!...” Begitu keluhan Leia saat pertama kali memintaku menempati kamar itu ketika kami duduk di akhir semester tiga. Aku mulai pindah ke kontrakan itu awal semester empat.

Sebenarnya ada banyak pro dan kontra di pikiranku ketika mempertimbangkan masalah itu hingga akhirnya aku menyetujuinya. Kira-kira seperti ini alasan-alasannya:

PRO:

1.Leia dengan kisah malangnya
2.Aku bosan di kos lama, anak-anak kos itu nggak ada yang nyambung sama aku. Kebanyakan mereka adalah tipe cewek dimana first priority dalam list kesehariannya adalah tampil ’pretty, sexy, and flirty’. Jangan tanya soal cara berpakaian mereka. Minimalis.
3.Aku ingin melupakan obsesi cinta pertama semasa kuliahku
4.Yang paling penting, Leia pernah bilang,”Ayolah, Thea, kalau kamu ikut aku, kamu nggak perlu bayar uang kos. Soal sewa kontrakan kan udah tanggung jawabku sama Kak Arlo. Lagian orang tuaku di Bogor nggak akan keberatan.”

Yup, tentu saja aku setuju. Asal ada hubungannya dengan menjaga ketebalan dompet, why not?

KONTRA:
1.Kontrakan Leia agak lebih jauh dari kampus, which is… aku mesti bangun pagi biar nggak telat ke kampus. Memang sih kadang Leia bawa mobil Arlo, tapi meski aku dan dia satu jurusan, mata kuliah yang kami ambil nggak selalu sama. So… hasilnya aku lebih sering naik bus.
KONTRA 2&3: Apa Arlo akan menerima kehadiranku? Dengan catatan bahwa aku mengambil singgasana perkumpulan teman-temannya. Dan apa yang akan dipikirkannya tentangku mengingat aku adalah seorang cewek stranger yang tiba-tiba akan ada dan melakukan aktivitas hidup di rumah itu. Well, beda kan dibanding Leia? Leia adik kandungnya sedang aku cewek luar. Maksudku, aku akan mengantri kamar mandi juga dan… jemuranku? Pakaian-pakaian rahasiaku yang mestinya nggak boleh dia lihat?

Tapi ternyata aku nggak perlu mengkhawatirkan kedua kontra terakhirku itu. Arlo, yang dulu kupanggil Mas Arlo ketika pertama kali bertemu, ternyata dengan senang hati menerimaku di rumah kecil bercat hijau itu. Katanya, dia senang adiknya punya teman dan nggak akan menahan dia untuk pulang malam lagi karena tahu ada aku yang akan menemaninya. Dengan begitu, dia bisa lebih sering ngelayap keluar bareng teman-temannya. Arlo orangnya santai dan cukup asyik diajak ngobrol. Postur tubuhnya tinggi, kulitnya putih, rambutnya potongan army look. Arlo dan Leia sejenis. Kedua kakak beradik itu sama-sama berkacamata.

Kecemasanku soal privasi pun tak terbukti. Aku dan Leia punya kamar mandi yang berbeda dari yang dipakai Arlo. Yang penting, aku bisa menjemur barang-barang berhargaku di loteng, jauh dari pandangan Arlo yang menjemur pakaiannya di halaman belakang. Thank God!
*-*-*-*

Jam 12.00 tepat cewek berkacamata dengan rambut yang selalu terikat muncul di layar CampusTV. Kali ini dia memakai rok pendek pink yang baru saja dibelinya bersamaku minggu lalu dengan atasan blouse putih berenda. Tampak cantik. Aku tersenyum menontonnya. Suara renyahnya langsung kudengar,

“Halo komunitas CampusTV! Leia nih, kita ketemu lagi di Campustainment ‘up to’ date’! Tayangan spesial mengenai berita-berita segar… aku ulangin nih, fresh news dalam tanda kutip. That kind of news, pasti semua udah ngerti kan?... semua yang bakal dimunculin disini tentu saja hal-hal menarik apalagi buat anak-anak Teknik Industri. ’Cause of what?... of course because they’re your friends, guys!... or maybe yourself. So be careful of our camera. We’ll be everywhere! Kalau hari ini bukan kamu yang jadi aktor or aktrisnya Campustainment, mungkin next week muka kamu yang bakal muncul. So now, let’s start with our first news. Aldi. Siapa sih yang nggak kenal Aldi? Kayaknya bukan anak TI aja yang kenal…”

Meski berusaha kelihatan fun, aku kembali melihat sorot bete di mata Leia. Pantas aja hari ini dia ngelewatin acaranya dan lebih memilih jalan bareng Bima. Ternyata ada sejarah diantara dia dan Aldi. Beberapa saat kemudian muncul adegan yang pernah kusorot minggu lalu. Not bad. Arlo sebagai editor CampusTV, sudah memolesnya disana sini.

Menit ke lima, terdengar nada dering reff nya ‘How Do I Live Without You’ milik Trisha Yearwood. Sesaat aku tertegun. Ponsel yang tergeletak di samping stoples keripik tempe di depanku bergerak-gerak atas getaran yang muncul. Pelan-pelan kuambil ponsel itu. Ada satu nama disana. Satu nama yang memang hanya dia pemilik nada dering yang sudah kusetting itu. How Do I Live Without You. Fabian.

Dua kali Trisha Yearwood melantunkan reffnya hingga akhirnya kuputuskan untuk menjawab telepon itu. Aku terdiam sesaat sebelum berucap,”Hallo…”

“Kok lama ngangkatnya?”

Aku tak segera menjawab, kupelankan volume televisi dengan remote control. Mataku masih tertuju pada layar TV yang memperlihatkan sebuah iklan sabun mandi. Anganku mulai melayang, aku masih terkejut. Aku tidak menyangka akan mendengar suara ngebass itu lagi.

Sorry… aku silent.” jawabku singkat berbohong.

“Lu lagi lihat Campustainment?”

“Iya.”

“Sama dong. Eh, gue lagi disini sekarang.”

“Oh…” ucapku pelan menyembunyikan keterkejutanku.

“Kok kayaknya lu nggak surprise sih? Gue udah berhenti magang, Ya’… gue putusin buat nerusin kuliah dulu sampe selesai.”

Tentu saja aku surprise, Fab! Kamu nggak tahu aja gimana ekspresi mukaku disini sekarang. Surprise banget! Rasanya sampai nggak bisa gerak. Apalagi tahu kamu udah ada disini, terima telepon dari kamu aja udah bikin aku shock!

Aku terdiam, mencoba menahan semua yang ingin kuucapkan padanya.

“Ya’, lu masih disitu nggak sih? O iya, Ya’, lu pindah kos ya? Gue tadi ke kos lu, katanya lu udah lama banget pindah. Lu pindah kemana sih?”

Semakin lama mendengar suaranya, perasaanku semakin tak terbendung lagi. Mataku mulai berkaca-kaca. Kukuatkan hatiku untuk berbicara padanya,”Kenapa sih, Fab?...”

“Kenapa apanya?”

“…kenapa kamu telpon aku? Bilang, Fab… kenapa? Untuk apa lagi?”

“Gue pengen tahu gimana kabar lu sekarang.”

That’s it? Cuma itukah alasan kamu telepon aku? Pengen banget aku teriak KAYAK NGGAK PUNYA SALAH AJA!! Pengen banget ngomong ke dia, Selama ini kamu kemana aja? Tiba-tiba pergi magang di perusahaan entah dimana… tanpa pamit, tanpa ucapan apapun, tanpa kejelasan apapun... aku tahu aku nggak punya hak! Aku tahu dia yang lebih berhak kamu perhatikan… TAPI AKU JUGA PUNYA PERASAAN!

“Baik… aku baik-baik aja.”akhirnya kalimat itu yang bisa keluar dari bibirku.

“Good… that’s good… lu beneran pindah kos? Lu dimana sekarang?”

“Aku di kontrakan teman…”aku tak mendengar tanggapan dari seberang. Cukup lama kami terdiam sebelum aku berucap,”…So?

“So what?”

“So what now?... What exactly are you trying to say to me? I’m listening, Fab… I’m ready to listen.”

“Gue cuma mau kasih tahu lu soal kepulangan gue ini. Gue nggak mau lu terkejut kalau tiba-tiba lihat gue di kampus.”

Harapanku untuk mendengar kalimat yang lebih dari itu untuk kudengar, atau sekedar kata maaf langsung musnah. Aku langsung menghela nafas, never mind… toh aku sudah bisa menerima kenyataan ini sejak dia pergi.

“Oke…”

“Ya udah deh, iklannya udah abis tuh? Lu pasti mau nonton lagi kan?... ternyata banyak hal baru ya di kampus. Gue pergi kelamaan kayaknya. Oke, gitu dulu ya, Ya’… see you next time… bye,”

Setetes air mataku langsung jatuh. Buru-buru aku menghapusnya dari wajahku, mencegah lebih banyak lagi air mata yang ingin keluar. Kuletakkan kembali ponselku di tempat semula. Kembali kukeraskan volume TV. Mencoba mengalihkan pikiranku dari seseorang yang baru saja meneleponku. Salah seorang cewek teman seangkatanku tampak berbicara dengan ekspresi bahagia di layar TV. Entah kenapa aku sama sekali tak bisa mencerna apa yang kudengar. Pikiranku masih melayang ke dia. Pada Fabian. Cowok yang pernah menjadikanku kekasih gelapnya.
*-*-*-*

Read previous post:  
Read next post:  
Writer sunil
sunil at The 2nd One (8 years 29 weeks ago)
80

good to read. keep spirit. i like it.

Writer lavender
lavender at The 2nd One (8 years 29 weeks ago)

Thanks

Writer lfour
lfour at The 2nd One (8 years 39 weeks ago)
80

mmmm....
kok rasa na gantung yah...?
but nice post

Writer lavender
lavender at The 2nd One (8 years 39 weeks ago)

gantung krn blm ditaro postingan lanjutannya hehe..
thank u..

Writer KD
KD at The 2nd One (8 years 39 weeks ago)
100

hmmm

Writer lavender
lavender at The 2nd One (8 years 39 weeks ago)

KD hmm muluk..

Writer suararaa
suararaa at The 2nd One (8 years 39 weeks ago)
80

hmm.. mungkin ada baiknya dibikin lebih dramatis dg adanya konflik dg arlo dan leia dan jg fabian sndr.
aku tadi awalnya mengharap akan ada konflik yg rumit antara arlo, leia, fabian. hehehe. :P
diterusin dong....

Writer lavender
lavender at The 2nd One (8 years 39 weeks ago)

hehehehe.. thx..

Writer majnun
majnun at The 2nd One (8 years 39 weeks ago)

hmm..
ini pastilah masih sangat bersambung..
^_^v
hehe..

Writer lavender
lavender at The 2nd One (8 years 39 weeks ago)

nggak mood, guru.. sedang ingin "pergi" lagi..

Writer cat
cat at The 2nd One (8 years 40 weeks ago)
70

Rasanya msh kurang mulus.
Ntah kamu blm dpt ramuan yg pas ato gimana *ditimpuk krn sok tau wkwkwk.

Writer lavender
lavender at The 2nd One (8 years 40 weeks ago)

Ini cerita lama kak.. Yg telah sukses kalah di lomba novel makanya aku tulis di informaion nya : failed product, dibuang sayang.. Hehe..

Writer cat
cat at The 2nd One (8 years 40 weeks ago)
70

Rasanya msh kurang mulus.
Ntah kamu blm dpt ramuan yg pas ato gimana *ditimpuk krn sok tau wkwkwk.

Writer redscreen
redscreen at The 2nd One (8 years 40 weeks ago)
70

bersambung?
lumayan kak :)

Writer lavender
lavender at The 2nd One (8 years 40 weeks ago)

Hehe trgntung mood..

Writer vhirelizta
vhirelizta at The 2nd One (8 years 40 weeks ago)

ada lanjutannya sist?

Keep writing ya :)

Writer lavender
lavender at The 2nd One (8 years 40 weeks ago)

Trgntung mood hehe..