Limelight

(Naiad High School, Thalassa, Tethys)

”Hey, sedang apa kau? Cepat cari kamarmu dan rapikan! Kami akan memeriksanya nanti.”

”Bengong lagi! Tunggu apa lagi? Kau menunggu bellboy? Ini bukan hotel!”

Dua orang laki-laki berseragam sekolah lengkap berteriak pada Allan. Belum sempat Allan berucap, salah satu dari mereka kembali angkat bicara. ”Oh iya, selamat datang di Naiad! Sekolah penjara! Hahaha!...” kedua laki-laki itu berlalu dari hadapan Allan.

Allan hanya bisa menghela nafas, dibacanya kembali sebuah kertas berisi denah bangunan asrama. Di pojok kiri atasnya tertulis Fraternite B/28. Allan melanjutkan langkahnya sambil memperhatikan sekeliling. Banyak anak-anak lain yang juga tampak kebingungan seperti dirinya. Mereka semua membawa kopor-kopor besar berisi pakaian dan barang-barang mereka. Dan mereka masih mengenakan baju bebas.

Setelah mencocokkan dengan denah, Allan melanjutkan langkahnya, menaiki sebuah tangga dan mengikuti lorong. Lorong itu tampak sangat panjang dan ramai dengan kedatangan anak-anak baru yang sibuk membereskan kamar mereka di kanan kiri lorong.

Setelah menemukan kamar tertutup bertuliskan angka 26, Allan melangkah ke samping kamar itu. Pintu kamarnya sudah terbuka, dia melihat angka 28 di pintu itu. Allan melangkahkan kaki ke dalam kamar itu. Seorang laki-laki berkaus putih tampak memasang poster seorang pemain basket terkenal di tembok samping ranjang yang ia duduki. Mendengar langkah Allan, laki-laki itu menoleh.

”Hai...” sapanya,”...kau pasti... Allan Svanlaevich. Iya kan?”

”Iya.”

Laki-laki itu turun dari ranjang dan menghampiri Allan. Allan bisa melihat rambut coklat laki-laki itu tampak berantakan seperti tak pernah disisir. Postur tubuhnya tinggi dan matanya berwarna coklat.

”Aku Kevin... Kevin Frankzetta. Kita akan sekamar tiga tahun ini.”

Allan melihat kembali ke catatan denahnya, memang ada nama Kevin Frankzetta tertera sebagai teman sekamarnya, ”Hai, Kev... kau darimana?”

”Dekat, Talon. Kau?”

Allan meletakkan kopor pakaiannya sambil melihat ke sekeliling ruangan. Kamar itu sempit, hanya ada dua ranjang yang dipisahkan sebuah meja lampu kecil, sebuah meja kursi belajar di depan masing-masing ranjang dan sebuah almari kecil disamping tiap meja kursi belajar itu. Di ujung kiri ruangan, dekat almari ada sebuah kamar mandi kecil.

”Ananke.” jawab Allan.

”Wah, jauh sekali. Kau harus naik pesawat dong.” Kevin kembali melanjutkan menempel ujung bawah posternya di tembok.

”Iya.”

”Sebaiknya kau cepat-cepat membereskan pakaianmu ke dalam almari. Kita harus segera merapikan kamar ini sebelum malam.”

”Ya... tadi aku bertemu dengan senior-senior. Dengan tampang-tampang galak mereka.” Allan membuka kopor pakaiannya.

”Namanya juga senior. Merasa paling benar, merasa udah punya kuasa disini... aku ambil ranjang ini ya... siapa cepat dia dapat, hehe...”

”Oke...”Allan mengerti kenapa Kevin memilih ranjang dekat pintu itu, karena ranjang satunya menghadap kamar mandi. Allan menghampiri almari dekat kamar mandi itu dan mulai menata pakaiannya. Di dalam almari itu hanya ada dua papan tersusun di bagian bawah, dan diatasnya sebuah gantungan.

”Kau tahu, kita kebagian koridor paling asyik di asrama.”

”Memang kenapa?”

”Anak Fraternite tuh cenderung suka hura-hura. Kalau anak atas, anak Liberte, terkenal suka nyalahin aturan... ”

”Masa begitu terus dari dulu? Kan yang menghuni juga berubah. Masa sifatnya nggak berubah?”

”Hmm... mereka menyebutnya private teaching... pembinaan orang-orang dalam satu koridor untuk generasi-generasi pegikutnya... disini juga ada aturan-aturan tak tertulis yang jadi ciri khas.”

”Kok kamu bisa tahu banyak?” tanya Allan. Kevin duduk di ranjang yang nanti akan jadi tempat tidur Allan.

”Kakakku dulu punya teman disini. Sahabatnya itu sering main ke rumah dan aku sering diajak ngobrol. Dia banyak cerita soal Naiad. Dari situ kakakku ngotot ingin aku masuk kesini.. Padahal aku nggak suka sekolah ini. Seperti penjara!”

”Tapi sekolah ini katanya kan bagus, Kev.”

”Hey, kau lihat kan tempat ini nggak lebih dari sebuah institusi berbentuk kotak yang dikelilingi tembok-tembok tinggi dimana hanya ada satu pintu utama di depan? Kita aja hanya boleh keluar dari penjara ini tiap akhir pekan. Itupun harus tetap memakai seragam Naiad. Malas kan? Dan satu lagi, nggak ada cewek! Seperti sekolah militer saja.”

”Iya sih... aturan juga ketat sekali. Kau sudah baca Rules Book? Tiga kali melanggar aturan, taruhannya dikeluarin.”

“Aku nggak baca buku itu. Males. Tebel banget sih. Itu buku aturan atau buku pelajaran? Macam-macam saja.”

”Lalu... apa lagi yang kau tahu tentang Naiad?” dia duduk disamping Kevin sambil membungkuk mengambil barang-barangnya yang lain di dalam koper.

”Kalau Egalite, anak bawah, diantara mereka, pasti ada anak-anak yang punya pengaruh di Naiad. Kebanyakan mereka anak-anak petinggi Naiad, atau anak-anak kolega para petinggi itu. Anak-anak kaya. Pokoknya yang sudah jadi sponsorship buat Naiad. You know what I mean, right?

“O ya? Kupikir sekolah ini bersih dari hal-hal seperti itu.”

”Wah, All, dunia ini nggak akan bersih. Seperti sampah yang akan selalu ada tiap hari. Nggak mungkin dalam satu hari nggak ada sampah kan?”

”Benar juga sih.”

”Selain itu, anak-anak Egalite terkenalnya pintar berdebat.”

Allan mendengarkan Kevin sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil berselimut kertas kado. Dia menimang-nimang kotak itu kemudian membukanya.

”Wah, apaan tuh?...”Kevin tampak ingin tahu.

Allan menemukan sebuah pena mahal di dalam kotak itu dan selembar kertas kecil. Dia langsung membacanya tanpa sadar Kevin juga ikut membaca.

Dear Allan,
Udah nyampe Naiad, All?... u know, it’s hard for me bein’ apart from u…
Tapi kuharapkan yang terbaik buatmu... aku cuma bisa mengantar kesuksesanmu nanti dengan kado kecil ini… hope u like it…
Hope everythin’ goes well there…
I’m gonna miss u…
Katherine

“Katherine cewekmu ya?”tanya Kevin tiba-tiba mengejutkan Allan. Buru-buru Allan melipat kertas itu.

”Kau ikut baca ya?”

Sorry... kamu nggak sadar...”

”Bukan... teman. Teman dari kecil.”

”Oh... yakin cuma temen?”

Allan menatap Kevin,”Yeah, Kev.”

”Oke... kalau begitu... cantik nggak? Kenalin donk...”

”Cantik. Bolehlah,”
*-*-*-*

Bel terdengar berbunyi lima kali di koridor Fraternite malam itu sekitar pukul delapan malam.

”Dengar tuh, Kev... lima kali... Kita mesti kumpul di lapangan asrama dalam sepuluh menit!” Allan langsung berdiri dari ranjang, buru-buru membuka almari dan mencari seragam Naiad nya.

”Serius? Beneran?”

”Makanya baca Rules Book. Udah cepetan ganti baju.”
Kevin melakukan kegiatan yang sama dengan Allan.

”Kita mau dibantai sama senior.”ucap Kevin sambil melepas kausnya.

It’s gonna be very long night…” Allan mengenakan jas Naiad berwarna hitam meluari kemeja putihnya. Ada simbol Naiad di dada kirinya. Sebuah simbol bergambar lencana dengan logo Discipline for success.

Dengan persiapan secepat kilat, mereka berdua keluar dari kamar dan berjalan menyusuri koridor yang sangat panjang. Anak-anak baru lain tampak keluar dengan langkah tergesa-gesa dari kamar mereka masing-masing.

”Aku dengar mereka akan menyiksa kita sampai pagi.” seorang laki-laki dengan rambut yang sangat cepak, tampak menjajari langkah Allan dan Kevin.

”O ya? Wah... padahal aku sudah ngantuk banget nih...”ucap Kevin.

”Kok kau tidak tahu soal ini, Kev? Bukannya kau tahu banyak soal Naiad?”tanya Allan. Mereka kini menuruni tangga bersama arus anak-anak lain dari lantai tiga, koridor Liberte.

”Mungkin aku kelewatan soal itu.”

”Kalian sekamar?” tanya laki-laki itu lagi.

”Iya.” jawab Allan dan Kevin bersamaan.

”Namaku Joe. Kamar 11. Kalian?”

”Kevin. Dan ini Allan. Kami di kamar 28.”jawab Kevin.

”Halo, Joe,”sapa Allan.

Mereka bertiga terus berjalan keluar dari bangunan asrama menuju lapangan asrama yang sangat luas di dalam lingkup letter U gedung. Sudah ada banyak sekali siswa senior Naiad berseragam lengkap berjajar mengelilingi lapangan. Anak-anak baru juga sudah cukup banyak berdatangan.

Look at them. Ready to eat us!” ujar Joe.

Sebentar kemudian terdengar teriakan yang menyuruh semua anak baru untuk berbaris sesuai dengan koridor mereka masing-masing. Dengan suasana hiruk pikuk penuh keributan dan kekacauan, mereka semua menempatkan diri sesuai tanda dari sebuah papan yang menunjukkan masing-masing koridor. Teriakan komando utama itu diikuti teriakan-teriakan para senior dari masing-masing koridor menyuruh anak-anak baru untuk bergegas disertai bentakan-bentakan yang khas dimiliki oleh komunitas yang namanya seniors.

Setelah upacara pembukaan malam pembantaian oleh para petinggi Naiad, termasuk para pengajarnya, anak-anak baru itu diserahkan sepenuhnya pada siswa tingkat ketiga alias tingkat terakhir di sekolah bisnis khusus laki-laki itu. Para petinggi masing-masing koridor juga memperkenalkan diri sambil membacakan aturan-aturan untuk melalui malam panjang itu.

”Joe benar, kita akan dibantai sampai pagi.” bisik Kevin pada Allan. Mereka berbaris bersebelahan dalam barisan Fraternite.

”Hey, sedang apa kau?! Diam dan dengarkan mereka!” seorang senior dari koridor Fraternite tampak memperingatkan Kevin sambil terus berjalan melewati banjar-banjar anak-anak baru itu.

”Selamat datang di Naiad Central Business and Management High School. Malam ini, malam lencana. Kalau kalian bisa melewati malam ini dengan baik, kalian akan mendapatkan lencana Naiad yang akan dipasang di kerah seragam Naiad. Jangan macam-macam, lebih baik ikuti semua tanpa bantahan, karena tanpa lencana, kalian tidak akan bisa masuk kelas. Para polisi Naiad tidak akan mengijinkan kalian menginjakkan kaki di area gedung sekolah!...” sebuah suara berat menggema di lapangan asrama itu.

”... malam ini kalian adalah satu. Tidak ada batasan koridor. Kalian bisa saja berhadapan dengan senior-senior dari koridor lain. Baru setelah jam sebelas, kalian akan dikumpulkan lagi menurut koridor. Baiklah... panggil kami dengan sebutan senior dan dengan ini kubuka Welcome night!!” teriakan keras itu diikuti oleh sambutan riuh para senior yang siap menyantap kudapan malam mereka.

Saat itu pikiran Allan, pikiran Kevin, juga anak-anak lain hampir sama, mereka berpikir akan diapakan malam itu. Mereka semakin bingung ketika serentak para senior berlari menyerbu barisan, berjalan diantara banjar-banjar dan memilih anak-anak baru untuk ikut dengan mereka.

”Hey, kau ikut aku!”

”Rambut merah, ikut aku! Cepat!”

”Kau lihat apa?! Kau ikut aku saja!”

Kevin menoleh ke arah Allan. Mereka pun bertatapan penuh tanda tanya. Suasana makin mencekam ketika mereka melihat pemandangan penculikan-penculikan pribadi itu. Obrolan lewat pikiran itu terhenti ketika seorang senior berhenti di hadapan Kevin. Dengan mengangkat mata, dia memberi isyarat pada Kevin untuk ikut dengannya. Sebelum mengikuti senior itu, Kevin sempat menatap Allan dan memberi pandangan yang berarti sampai jumpa, kawan, semoga kita bisa melewati malam ini.

Allan hanya bisa menatap berlalunya Kevin yang menjauh menuju ke arah selatan. Penantian Allan pun tidak berlangsung lama, penculiknya telah tiba, berdiri di hadapannya. Seorang laki-laki dengan tinggi hampir sama dengan Allan, rambutnya hitam juga, sama dengan rambut Allan. Bedanya rambut laki-laki itu terlihat jabrik hasil tatanan gel rambut. Laki-laki itu mengusap-usap dagunya sambil menatap Allan.

”Svanlaevich, kau denganku.”ucapnya setelah membaca emblem nama di dada kanan jas seragam Allan.

Laki-laki itu berbalik dengan Allan mengikuti di belakangnya. Mereka berdua berjalan diantara keributan yang sudah mulai membahana di lapangan itu. Suara teriakan-teriakan dan nada-nada marah terdengar di setiap sudut lapangan. Serta merta lapangan itu berubah menjadi arena pembantaian diantara lautan laki-laki.

Pikiran macam-macam mulai hinggap dalam benak Allan. Dia masih mengikuti laki-laki itu, berjalan ke arah kanan bangunan letter U.

”Namaku Marvin Freeland. Malam ini kau tanggung jawabku.” ucap laki-laki itu tanpa berbalik. Mereka menghampiri sebuah lahan kosong di teras asrama lantai satu. Allan masih bisa melihat ada tanda Egalite A di tembok bangunan. Suasana sangat sunyi, tidak ada penculik dan sandera lain yang ada di dekat mereka. Pintu-pintu kamar asrama Egalite A tampak bisu memandang Allan dan penculiknya itu.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer benhoer
benhoer at Limelight (8 years 33 weeks ago)
90

ceritanya asik, aku penasaran ma seson beriktnya. Tapi besok aja bangun bobo teruzinnya. He,e,e

*asik dan penasaran, walau harus bulak-balik ke Mbah google translt buat ngerti tulisan planet namecnya. He,e,e*

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 32 weeks ago)

thank u..

dadun at Limelight (8 years 36 weeks ago)
90

mau lanjut tapi ngantuk ,,(__)"

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 36 weeks ago)

berarti jelek dunk.. klo bagus mah ngantuk juga dibaca..
wkwkwkwkwk..
thank u yak bang dadun..

dadun at Limelight (8 years 36 weeks ago)

ngga. ya kebayang aja smalem udah hampir jam1 dan harus bangun pagi gitulohhh :p

Writer neko-man
neko-man at Limelight (8 years 36 weeks ago)
90

Wow, wow. Kayaknya keren, bikin penasaran. Liberte-Egalite-Fraternite kereeen. Sayangnya aku tidak tahu ini bakal jadi genre apa.

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 36 weeks ago)

heheheeh.. saya suka dengan simbol ntu neko-man, jadi saya pakai, tanpa maksud apa2 kok.. kayaknya pas aja klo dipakai hehehe..
saya juga ga tau ni genre apaan, yang jelas antara clique-lit, domestic drama, sama mainstream romance ntar.. mau membantu saya? hehe..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (8 years 36 weeks ago)

Oke, ngomong-ngomong soal romance bukannya ini boys school?

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 36 weeks ago)

yes, boys school, boys dorm.. but it won't be a gay romance.. u'll find the romance in part 4 or 5, I forgot.. hehehe..
*
bgmna? mau membantu saya? saya sedang stuck di tengah jalan.. hehe.. add ym saya if u willing to help..

dadun at Limelight (8 years 36 weeks ago)

yahhh padahal ini bagus dibikin boyslove
*digebok* :D

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 36 weeks ago)

boyslove apaan sih, dadun? gay yak??
ah saya ga bisa nulis gituan.. xixixi..

dadun at Limelight (8 years 36 weeks ago)

ya kurang lebih. aku juga gatau sih knapa harus beda istilah. mungkin boyslove trdngar lebih soft dan "unyu" .lol.
ah emangnya saya bisa? :p
lagi belajar nih

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 36 weeks ago)

loh itu ceritanya yang Bias itu kan tag nya boyslove ya?
mana niiih lanjutannyaa..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (8 years 36 weeks ago)

ok. tapi aq gak punya ym. mungkin aku baca dulu

Writer Riesling
Riesling at Limelight (8 years 38 weeks ago)
90

Kayaknya asyik nih~~ *lanjut baca chapter berikutnya*

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 38 weeks ago)

Thanks 4 reading.. :-)

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Limelight (8 years 39 weeks ago)
80

liberte, egalite & fraternite
tricolore, bendera Perancis :)

Writer Riesling
Riesling at Limelight (8 years 38 weeks ago)

Pantesan rasanya pernah denger zD.

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 39 weeks ago)

yup.. inspired from lambang itu..

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Limelight (8 years 39 weeks ago)
80

liberte, egalite & fraternite
tricolore, bendera Perancis :)

Writer majnun
majnun at Limelight (8 years 39 weeks ago)
100

keren ni kayaknya..

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 39 weeks ago)

waaaaaaaaaaaa... uleeeeeennnnn..

Writer suararaa
suararaa at Limelight (8 years 39 weeks ago)
80

hmm,, apakh ini nanti bersambung (harus kayaknya hehehe),
cerita tenng kehidupan d sskolah, kah? (menebak2)
ditunggu ya lanjutannya

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 39 weeks ago)

Ho oh ttg anak skul..

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Limelight (8 years 39 weeks ago)
70

Ada lanjutannya kah?
*menunggu*

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 39 weeks ago)

Ada.. Hehe

Writer KD
KD at Limelight (8 years 39 weeks ago)
100

hmmm

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 39 weeks ago)

Ka de.. Hmm hmm hmm..

Writer Whieldy_mirza
Whieldy_mirza at Limelight (8 years 39 weeks ago)
80

oke, penuturan cerpen ini asyik di bacanya. cuman, mirza belum bisa ngeraba-raba inti/masalah cerita. jadi, sebagai pembaca tentunya, mirza mungkin agak-agak kurang penasaran membaca lanjutannya..

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 39 weeks ago)

Oke, thank u..

Writer herjuno
herjuno at Limelight (8 years 39 weeks ago)
70

Hem, masih mencoba menebak-nebak...kuharap ini ada lanjutannya.
.
Btw, saya sedikit terganggu dengan nama yang dimiringkan, karena setahu saya, nama tempat, institusi, kelompok, dan semacamnya nggak miring....
.
Oke, thanks! XD

Writer lavender
lavender at Limelight (8 years 39 weeks ago)

Benarkah?? Dgn senang hati akan saya tegakkan lagi tulisannya, krn saya sangat capek memberi kode miring.. Hmm anda menyelamatkan saya.. Hehe.. Thnx..