Limelight (2)

”Kau darimana?” tanyanya.

”Ananke.”

”Panggil aku dengan Senior! Tiap akhir kalimatmu, ucapkan Senior. Karena itu aturan wajib di Naiad. Kalau kau bicara dengan para pengajar, lakukan hal yang sama. Akhiri kalimatmu dengan Sir. Kau mengerti?” nada bicara Marvin mulai meninggi.

”Iya... Senior.”

”Kau tahu kau akan menghadapi apa?”

”Tidak, Senior.”

Marvin menghela nafas,”Kau tahu aku dari koridor mana? Kau tahu kenapa aku memilihmu?”

”Tidak, Senior.”

”Haah! lalu apa yang kau tahu?!”

”Yang saya tahu, saya disini untuk mendapatkan lencana Naiad.”

Marvin tertawa,”Tanpa lencana kau tidak bisa masuk kelas, sekolah saja nggak bisa, bagaimana mau berhasil?”

”Bisa berada disini sangat berarti untuk saya, Senior. Saya...”

”Sudah diam! Dasar Fraternite...”

Mendengarnya Allan langsung menyimpulkan bahwa dia tidak sedang berhadapan dengan senior sekoridornya. ”Marvin pasti anak koridor lain.” pikir Allan.

”Dengar ya, kau harus jawab pertanyaanku tadi sekarang juga! Kau harus tahu aku dari koridor mana!”

Ketika sedang memilih antara Egalite dan Liberte, Marvin berucap lagi, ”Kuhitung nih...satu... dua tiga! Kau tidak bisa menjawab.”

Kelihatan sekali Allan sama sekali tidak diberi kesempatan. Dia hanya pasrah mengikuti skenario yang dibuat seniornya itu.

”Sebagai hukuman, kau harus lari keliling lapangan tiga kali, setelah itu kau bertanya, terserah pada siapa saja, kau harus tahu aku dari koridor mana. Aku akan mengawasimu, jadi jangan macam-macam.”

”Cepat! Tunggu apa lagi?!” Marvin memaksa Allan.

Mau tak mau Allan mengikuti kemauan seniornya. Dia mulai berlari mengelilingi lapangan itu. Sepanjang perjalanan larinya, dia tak pernah berhenti mendengar bentakan-bentakan dari para senior pada junior-junior mereka. Allan melihat pemandangan-pemandangan menyedihkan. Ada yang sedang dihukum push-up, dan juga ada yang sedang berlari seperti dirinya mengelilingi lapangan.

Dia melihat Joe yang baru dikenalnya tadi berteriak-teriak di depan seniornya mengucapkan kalimat-kalimat yang ada di dalam ’Fondasi Naiad’, prinsip-prinsip dasar yang harus dimiliki dan ditaati oleh para siswa Naiad. Joe terlihat tidak terlalu hafal hingga terus-terusan dimarahi oleh seniornya.

Sudah hampir tiga kali Allan mengelilingi lapangan. Bukan tugas yang berat bagi seorang pemain basket seperti dia, tetapi dia tidak melihat Kevin dimanapun. Yang dia tahu hanyalah Marvin terus mengawasinya tanpa lengah. Ketika sudah menyelesaikan putaran terakhirnya, Allan berpikir kepada siapa dia harus menanyakan soal Marvin.

Semua senior sibuk dengan juniornya, dia tidak ingin mengganggu mereka. Allan yakin dia pasti hanya akan mendapatkan kemarahan kalau nekat mengganggu mereka. Ketika menemukan seorang senior yang duduk di lapangan melihat sekeliling tanpa juniornya, Allan menghampirinya.

”Maaf, Senior,”

Laki-laki itu menatap Allan,”Apa?”

”Boleh saya bertanya, Senior?”

”Apa?” laki-laki itu mengucap kata yang sama kedua kalinya.

”Saya ingin tahu senior Marvin Freeland itu dari koridor mana, Senior?”

Laki-laki itu tersenyum,”Egalite.”

Merasa lega, Allan langsung berterimakasih pada laki-laki itu kemudian berbalik.

”Hey!” Allan mendengar laki-laki tadi memanggilnya. Allan pun berbalik kembali.

”Jawaban yang kuberikan tadi, bisa benar bisa salah. Jadi kau pikir-pikir saja dulu.” ucap laki-laki itu lalu tertawa.

Allan merasa habis dikerjai oleh senior itu. Dia hanya bisa diam.

”Hey, mending kau cari junior untukku. Aku kehabisan junior nih. Atau kau saja? Siapa seniormu? Aku mau pinjam kau sebentar ah.” ucap laki-laki itu seenaknya.

”Marvin Freeland.”

Mendengar jawaban Allan, laki-laki itu langsung kehilangan pancaran usil di matanya.”Oh...sial! Balik sana.”

Sesaat Allan merasa aneh. Entah kenapa setelah mendengar nama seniornya itu, laki-laki itu langsung menyerah. Tapi dia tidak ambil pusing, dia harus mencari orang lain untuk ditanyai.

Ketika menemukan seorang senior lagi yang sedang menganggur lagi, Allan memutuskan dia adalah target berikutnya. Allan pun langsung bertanya kepadanya.

”Marvin? Dia anak Liberte.”

Allan jadi bingung, dia mendapatkan dua jawaban berbeda yang entah mana yang benar. Merasa putus asa, Allan berjalan hendak kembali ke tempat Marvin menunggu sambil memilih-milih antara Liberte dan Egalite. Allan menebak-nebak bagaimana sifat Marvin dan mencocokkannya dengan semua yang diceritakan Kevin tentang ciri khas tiap koridor.

Ketika dia melewati lapangan basket, seorang senior yang memegang bola basket memanggilnya.

”Hei, kau!”

Allan melihat ke belakangnya dan ke sekelilingnya, memastikan apakah dia yang benar-benar dipanggil senior itu.

”Iya, kau! Kesini!”

Allan mendekati laki-laki berpostur tinggi dengan rambut pirang itu.

”Mana seniormu? Kenapa kau berkeliaran sendirian?” tanya laki-laki itu sambil mendribble bola basket di tangannya. Melihat bola itu, Allan ingin sekali memainkannya. Sebenarnya Allan ingin balik bertanya pada laki-laki itu, kenapa juga dia sendirian tanpa junior? Tapi dia mengurungkannya.

”Saya sedang dieberi tugas oleh senior saya, Senior.”

”Ya, aku bisa lihat dari mukamu yang putus asa itu. Siapa seniormu?”

”Marvin Freeland, Senior.”

”Oh...”

Kembali Allan melihat reaksi yang sama seperti senior sebelumnya dari laki-laki itu.

”... kau diberi tugas apa?”

”Mencari tahu dia dari koridor mana, Senior.”

Laki-laki pirang itu tersenyum,”Aku tahu jawabannya. Aku bisa memberitahumu kalau... ”dia melihat ke arah ring basket, ”... kalau kau bisa memasukkan bola ke ring, dari lima kali lemparan, tanpa gagal sekalipun.” tantang laki-laki itu.

Allan merasa tugas yang diberikan senior itu adalah tugas paling menyenangkan yang diterimanya. Dia punya kesempatan memainkan bola yang sedari tadi ingin dipegangnya.

”Baik, Senior.” Allan tidak peduli apakah nanti dia akan dipermainkan lagi, atau dibuat lebih bingung dengan jawaban yang akan diberikan senior itu. Yang dia pikirkan hanyalah, dia senang untuk pertama kali bisa memainkan bola basket di lapangan Naiad. Sekolah yang selalu menjadi langganan juara berbagai kompetisi bola basket.

Laki-laki itu melempar bola ke arah Allan, dan Allan langsung menerimanya. Tanpa basa-basi, Allan langsung menyelesaikan lima lemparannya itu dan berhasil dengan mudah. Tanpa kegagalan.

”Wow... kau hebat...” ucap laki-laki itu ketika menerima bola dari Allan. ”... kau tertarik masuk tim basket Naiad?”
Allan langsung mengangguk.

”Kalau begitu sebaiknya kau segera mendaftar dan ikut seleksi!...” laki-laki itu mengangguk-angguk.”... kau dari koridor mana... Svanlaevich?” tanyanya setelah membaca emblem nama Allan.

”Fraternite, senior.”

”Oke... karena kau sudah berhasil melewati tantanganku, akan kuberitahu... seniormu itu dari Egalite.”

”Em... bukannya saya meragukan, tapi tadi saya sudah bertanya pada beberapa senior dan jawabannya berbeda, senior. Apa...”

”Hey, aku sekelas dengannya di kelas Manajemen Keuangan. Kuberitahu, orangnya pintar dan sangat ambisius, dia juga jago berkelahi. Banyak siswa segan padanya.”

Allan merasa baru mendapat jawaban dari sikap-sikap senior ketika mendengar nama Marvin. Allan mengangguk-angguk,

”Terima kasih, Senior...” Allan hendak berbalik ketika senior itu memanggilnya lagi.

”Hey Svanlaevich!”

”... aku tidak akan bohong pada anggota koridorku.” ucapnya lalu tersenyum. Allan balas tersenyum sebelum berlalu dari lapangan basket itu. Kini dia yakin dengan jawaban yang didapatkannya.
*-*-*-*

”Kau sudah dapat jawabannya?” tanya Marvin langsung ketika Allan menghampirinya.

”Iya, Senior.”

”Apa?”

”Senior dari koridor Egalite.”

Marvin terdiam sebentar,”Dengar ya, aku tidak suka kau berinteraksi dengan senior lain! Main basket segala! Kau pikir kau mau menyombongkan diri di depan senior?!”

”Tidak, Senior. Tapi tadi Senior bilang saya boleh tanya pada siapa saja. Tadi saya...”

”Cukup!”

Marvin menatap Allan, tampak mencari-cari alasan untuk memarahinya.

”Sok pintar!” ucap Marvin lagi. Allan hanya diam, siap menerima segala perlakuan seniornya itu.

”Ada berapa kamar di Egalite?” tanya Marvin kemudian.

Allan berpikir, mencoba menyamakan jumlah kamar di koridornya dengan koridor Egalite.

”150 kamar, senior.”

”Kenapa kau jawab 150?”

”Karena di Fraternite jumlah kamarnya 150, senior. Untuk semua section.”

“Kau pikir di Egalite sama dengan di Fraternite?!”

”Iya. Saya pikir begitu, Senior.”

”Sok pintar!...” Marvin berjalan mengitari Allan yang masih berdiri sambil menatapnya lekat-lekat. ”... ya sudah, memang 150!” Marvin tampak puas mengerjai juniornya itu.

”Pada dasarnya semua koridor sama. Nggak ada yang beda karena Naiad adalah satu. Tapi masing-masing koridor punya ciri tersendiri yang tidak akan berubah...” lanjut Marvin,”... Fondasi Naiad!”

Allan berpikir keras sambil mengingat-ingat semua poin yang pernah dibacanya di Rules Book. Allan juga masih teringat kalimat-kalimat yang tadi tak sengaja didengarnya dari Joe. Pelan tapi pasti, Allan mampu menjawabnya.

Marvin tak pernah mau berhenti, dia terus saja memberi Allan pertanyaan-pertanyaan. Dia tidak akan pernah puas sebelum Allan tidak bisa menjawabnya.

Allan mempu menjawab pertanyaan-pertanyaan Marvin, namun Marvin terus mendebatnya, memojokkannya, mencoba mencari celah untuk menyalahkan Allan. Hasilnya sudut asrama Egalite yang dipilih Marvin sebagai tempat pembantaian itu penuh dengan perdebatan dan bentakan-bentakan Marvin yang tidak mau kalah. Allan mengakui bahwa senior yang dihadapinya sangat cerdas melihat dari caranya memperlakukannya.

Setelah kehabisan bahan perdebatan, Marvin berkata,”Tugas berikutnya, kau harus cari tanda tangan 30 siswa dari koridor Egalite sekarang juga! Kuberi kau waktu setengah jam.” Marvin mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya. Selembar kertas yang tadi terlipat-lipat dan sebuah pulpen.”... karena aku berbaik hati, kuberi kau modal.”

Allan menerima kertas dan pulpen itu.

”Cepat!”

Allan langsung bergerak mencari-cari senior dari koridor Egalite. Dengan susah payah Allan menanyai semua orang apakah dia dari koridor Egalite, baru meminta tanda tangan mereka. Allan tak selalu mendapatkan tanda tangan dengan mudah, seringkali Allan dibentak-bentak dahulu sebelum mendapatkan tanda tangan bahkan ada juga yang walaupun sudah membentak-bentak, tetap tak mau memberi tanda tangan.

Allan sudah tidak bisa berpikir apakah senior-senior itu benar-benar dari koridor Egalite atau mereka hanya asal untuk menjebaknya. Setelah setengah jam, Allan buru-buru kembali ke Marvin.

”Sudah?”

Dengan terengah-engah, Allan menyerahkan kertas dan pulpen itu pada Marvin. Marvin langsung membacanya.

”Kenapa cuma 22?! Aku kan memintamu untuk mencari 30 tanda tangan?!”

Allan sudah menduga Marvin akan marah-marah seperti itu.

”Maaf, Senior. Tapi waktu untuk...”

”Aku tidak menerima alasan apapun! Apa kau juga akan seperti ini kalau diberi tugas oleh pengajar? Pengajar memberi tugas 30 halaman paper, dan kau hanya akan memberi 22?! Tugasmu tidak akan diterima tahu?! Naiad tidak pernah kompromi soal tugas!” Marvin masih melihat kertas itu.

”Maaf, Senior... nanti saya akan menyelesaikan tugas seperti yang diminta...” belum sempat Allan meneruskan kalimatnya, Marvin sudah memotong lagi,

”Lihat ini! Jack Foryard bukan anak Egalite, ini siapa lagi Andrew Hart?... Donald Reiver itu anak Liberte! Kau pikir aku tidak tahu?... ini lagi... Chuck Morriston, dia kan anak Fraternite!... ini juga anak Fraternite!...” Marvin menunjuk-nunjuk nama-nama yang tercantum dalam kertas itu.”...mentang-mentang dari koridor yang sama... kau mau menipuku?!...”

Allan merasakan kekhawatirannya kalau ternyata dia dikerjai benar-benar terwujud. Beberapa senior tampaknya bukan anak Egalite.

”...Kaupikir aku tidak hafal rekan-rekan sekoridorku?! Nggak mungkin! Tiap siswa Naiad itu hafal teman-teman sekoridornya! Jawab aku, kau mau menipuku?!”

”Tidak, senior. Maaf saya keliru... saya tidak tahu kalau ternyata mereka bukan anak Egalite, senior.” Allan malas memberi alasan lagi, karena ia tahu persis alasan apapun yang akan diucapkannya tidak akan ditolerir oleh Marvin, dan Marvin pasti akan tetap memojokkannya.

Push-up lima puluh kali!”

Allan langsung melakukan apa yang diperintahkan Marvin. Dengan fisik yang sudah cukup lelah sedari tadi berkeliling-keliling lapangan, Allan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan push-up. Ketika sudah lima kali, Allan mendengar Marvin berteriak.

”Lakukan sambil menghitung! Yang keras!”

Allan pun melanjutkan push-upnya sambil menghitung dari angka enam.

”Siapa bilang kau boleh lanjut dari enam? Ulangi dari satu dan hitung dengan keras! Lebih keras!”

Allan merasa sangat kesal, namun yang dipikirkannya hanyalah ingin mendapatkan lencana Naiad, ingin semua cepat selesai, karena itu ia menuruti Freeland. Ia meluapkan kekesalannya itu dengan meneriakkan angka-angka hitungan dengan sangat keras.

Karena sangat lelah, gerakan Allan mulai melambat dan suaranya mulai tidak sekeras tadi pada hitungan ke dua puluh satu. Allan sudah biasa push-up tiap kali ia latihan basket di klub. Tapi karena malam itu dia sudah banyak menguras tenaganya, dia benar-benar kewalahan.

”Masih kuat, Svanlaevich?” tanya Marvin kemudian.

”Masih, Senior.” jawab Allan dengan keringat bercucuran di wajahnya.

”Ya sudah, empat kali lagi.”

Orang ini masih punya jiwa juga.” pikir Allan sambil menyelesaikan hukumannya.

”Sudah berdiri.” perintah Marvin.

Allan berdiri dan menghadap Marvin kembali.

”Dengar ya, dalam menyelesaikan tugas yang diberikan pengajar Naiad, kau tidak boleh melakukan kesalahan fatal seperti tadi! Yang diminta anak Egalite, tapi kau salah banyak! Meskipun kau dikerjar deadline, kau harus tetap menyelesaikan tugas semaksimal mungkin! Kalau perlu kau tidak perlu tidur! Kau mengerti?!”

”Mengerti, Senior.”

”Belajar di Naiad memang keras. Ingat-ingat itu. Kau akan merasakannya sendiri nanti.”

Setelah hampir dua jam Allan bersama Marvin, Marvin masih tidak mau melepaskan Allan.

”Senior, switch Senior!... perhatian buat para senior... waktunya switch! Ayo tukar junior kalian!... “ sebuah suara terdengar dari komando para senior.

Serta merta para senior bertukar junior dengan senior lain. Suasana berubah menjadi perebutan dan ketidakjelasan alur tukar menukar.

Marvin hanya diam. Seorang laki-laki senior yang tadi menantang Allan main basket menghampiri Marvin dengan seorang anak baru disampingnya.

”Marv, switch dong!” ucap laki-laki itu. Allan menatapnya, sangat berharap dia bisa menjadi juniornya setelah interaksinya beberapa waktu lalu.

Marvin menatap Allan sebentar sebelum menatap laki-laki itu.

”Malas switch. Aku nggak akan menukar dia. Dia jatahku sampai dia kembali ke barisan koridornya.” jawab Marvin tegas.

”Wah, nggak bisa gitu dong, Marv. Aturannya kan jam segini mesti switch. Aku mau juniormu itu. Dari tadi aku belum dapat junior nih.”

”Tapi – aku – nggak – mau –switch – titik!”

Laki-laki itu menghela nafas,”Kamu nggak bisa terus menang sendiri dong.”

”Eh, Fred, kau pikir aku akan memberikan dia padamu? Dia kan anggota koridormu. Enak saja. Keenakan dia dong nanti kamu baik – baikin. Udah sana, switch sama senior lain.”

Whatever deh! Hey Svanlaevich, sampai jumpa di barisan koridor. ”Laki-laki yang tadi dipanggil Fred itu kemudian mengalah dan berlalu dari hadapan mereka. Allan memandang mereka.

”Apa?!...” bentak Marvin merasa tidak terima dengan perebutan tadi. ”... kau pikir aku akan memberikanmu ke dia? Nggak akan! Let’s say... I’m very enjoying you!” ucap Marvin lalu tertawa.

Read previous post:  
94
points
(1876 words) posted by lavender 8 years 40 weeks ago
78.3333
Tags: Cerita | Novel | cinta | clique-lit | domestic drama | mainstream romance
Read next post:  
Writer fuka_chan
fuka_chan at Limelight (2) (8 years 35 weeks ago)
90

Waduh.
kagak maw ah skolah di Naian-mu, Lav.
Hoho. Ok, sampai jumpa di chapter 3.

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 35 weeks ago)

Lah fuka-chan co ap ce? Klo ce y mmg ga blh msuk naiad hehe..

dadun at Limelight (2) (8 years 36 weeks ago)
90

apaapaan ini? jaritengah buat si marvin! cih!
hah keren! aku bacanya ikut ngosngosan kayak sialan eh si allan :D

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 36 weeks ago)

cuh.. hehe..
thanks dah baca bang dadun..

dadun at Limelight (2) (8 years 36 weeks ago)

jangan panggil abang. hiks. mbak ajah.
hahah dadun ajalah biar berasa akrab. alah

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 36 weeks ago)

Loh sapa bilang bang itu maksudnya abang? Bisa aj bangku, bangkrut, bang.. Heheheh..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (2) (8 years 37 weeks ago)

keren. cuma bisa komen ini

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 37 weeks ago)

neko-man.. bantu saya dunk.. hehehehe..

Writer Riesling
Riesling at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)
90

One thing, kalo ga salah bukannya 'enjoy' itu salah satu kata yang ga bisa dijadiin present continuous tense ('I'm enjoying you')? Sama ada typo sedikit. Selain itu... Parfait!

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

Owww.. Ok, thankss.. :-)

Writer KD
KD at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)
100

hmmm

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

Hmmmmmmmmmmmmmm

Writer majnun
majnun at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)
100

pajek poin..
-_-'

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

Ya iyalaaaahhh upeti.. Thank u master.. Xixixi

Writer suararaa
suararaa at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)
80

hmmm,, teringat MOS.. hahha..
tapi naiad menurutku msh kurang kejam *hahahhaha*
peace, lavender :D

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

Iya apalagi waktu aku ospek dulu sangat2 jauh lbh kejam.. *teringat merangkak di atas kotoran sapi* :-(

Writer suararaa
suararaa at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

naiad dibikin lebih kejam lagi, dong....
pake cerita lavender wktu ospek dibikin versi lebih horor .. :D
**request**

Writer kenjii_minami
kenjii_minami at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)
80

menarik

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

Thanks for reading :-)

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)
90

'cool'..
sekalian ketemu dengan guru Voltaire, hehehehe :D

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

Hehe thanks for reading :-)

Writer majnun
majnun at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

mbak lavender hebat..

saia akan tunggu kejutan2nya..

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

Heeeeeee mana poinnyaaaa guruuu

Writer majnun
majnun at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

eh, poinnya gak masuk ya?
walah..
padahal tadi udah lho..

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

"Saia", kata-katanya mengingatkanku kepada Kak Kudo, hehehe

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

Klarifikasi : majnun ini sudah sedari dulu kala klo nulis saya tu saia, bahkan sblm dia masuk kemari.. Hehe

Writer majnun
majnun at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

eh?
kamzud fukuro-san itu saia ya?
sori, saia agak korslet..
hyahahahahaha..

asiiiikk, saia dibela..
^_^

Writer dede
dede at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)
90

Lavender selalu kereeenn...
2 thumbs up dah...
b(^.^)d

Writer lavender
lavender at Limelight (2) (8 years 39 weeks ago)

Waduh pujiannya terlalu tinggi utk karya2 saya yg masih banyaaaakkkkkk kurang.. Hehe.. Thanks for reading :-)