Limelight (3)

“Sudah dapat teman senior rupanya… sok pintar!... ” ucap Marvin kemudian, ”... dengar, aku mau tahu alasanmu kesini.”

Belum sempat Allan menjawab, terdengar suara keributan di sisi kiri lapangan, seorang senior tampak berlari-lari ke arah Marvin.

”Marv! Ada yang berkelahi! Gerald sama juniornya!”

Marvin langsung mengikuti laki-laki itu sambil berucap pada Allan,”Kau tunggu disini. Jangan kemana-mana!”

Marvin cepat-cepat berlari bersama laki-laki tadi mendekati kerumunan anak-anak. Allan hanya bisa melihat keributan itu dari kejauhan. Dia mengerti bagaimana bisa terjadi keributan, hal seperti itu wajar untuk tempat yang hanya berisi laki-laki itu.

Sekitar lima belas menit kemudian, kerumunan itu berangsur-angsur bubar. Kegiatan pembantaian malam itu mulai berjalan kembali seiring komando yang meminta semua orang kembali melanjutkan kegiatan mereka dan tidak lagi mempermasalahkan keributan tadi.

Allan bisa melihat dua orang siswa dibawa oleh beberapa polisi Naiad, orang-orang dewasa berpakaian seragam biru tua dan mengenakan topi diikuti beberapa senior. Allan sempat mendengar beberapa senior yang melewatinya membicarakan keributan tadi.

”Untung mereka sekoridor. Kalau sampai beda koridor, wah... bisa terjadi perang koridor!”

Marvin muncul di belakang mereka, kembali mendekati Allan.

”Apa yang terjadi, Senior?” tanya Allan.

”Kau tidak perlu tahu! Sekarang jawab pertanyaanku tadi.”

”Untuk memahami secara menyeluruh tentang bisnis, Senior.”

“Itu saja?”

Allan terdiam, yang ada di pikirannya hanyalah jawaban yang tadi sudah dijawabnya.

“Kau dangkal! Nggak sepantasnya siswa Naiad dangkal!... ” Allan masih berdiri menghadap Marvin sementara kini Marvin duduk diatas sitting ground yang berjajar di depan kamar-kamar asrama.

”... apa yang akan kaudapat disini lebih dari bisnis! Kau akan tahu yang namanya kesatuan dan kekompakan, membuatmu mengerti bagaimana menjalin hubungan dengan klien-klien bisnismu nanti. Kau akan tahu yang namanya persaingan, berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Seperti persaingan di dunia bisnis nanti. Kau akan tahu yang namanya disiplin! Itu yang utama!...”

Marvin menyentuh-nyentuh rambut jabriknya,”...kau akan tahu bagaimana hidup dalam aturan! Benar-benar dalam aturan! Aturan yang sangat tegas hingga... kau tidak akan berani melanggarnya. Kau akan mengalami kehidupan yang sangat-sangat berbeda! Kau dengarkan aku baik-baik dan ingat-ingat ya... kehidupan – yang – berbeda !”

Allan mendengarkan kalimat Marvin dengan seksama, kali ini seniornya itu benar-benar memberinya petunjuk tak tertulis mengenai Naiad. Dan hal itu membuat Allan mulai simpatik pada Marvin.

Setelah mengutarakan kalimat-kalimat itu, Marvin terdiam, masih duduk di sitting ground. Dia membiarkan Allan berdiri di hadapannya. Sejak saat itu hanya ada kesunyian diantara mereka hingga terdengar komando baru.

”Waktunya kembali ke barisan koridor! Senior yang sudah meluluskan juniornya dari tahap pembekalan ini, tolong kembalikan juniornya ke koridor mereka masing-masing! Dan senior dari tiap koridor, tolong mulai atur barisan! Sebentar lagi ’Malam Lencana’!”

Marvin beranjak dari posisi duduknya, dia berjalan menjauhi Allan sambil berucap singkat,”Kau lulus. Kembali ke barisan.”
*-*-*-*

Seusai sarapan pagi bersama seluruh siswa Naiad yang sangat formal di gedung pusat asrama, Allan dan Kevin berjalan bersama mengikuti arus siswa yang berangkat menuju ke gedung sekolah. Mereka keluar sambil tak henti membicarakan Welcome Night termasuk keributan yang terjadi.

”Kau tidak melihat sih bagaimana cara Freeland melerai mereka! Hebat! Entah kenapa mereka jadi langsung berhenti berkelahi.”

”Marvin tidak memberitahuku apa-apa tentang keributan itu.”

”Katanya juniornya tuh anak sekretaris dewan sekolah. Dia nggak terima diperlakukan seperti tadi malam sama seniornya. Nah, seniornya itu merasa terhina gara-gara dia anak biasa saja. Kau tahu maksudku kan, ternyata nggak semua anak Egalite anak dari orang yang punya pengaruh di Naiad.”

”Hmm... terjadi kesenjangan.”

”Ya, begitulah.”

Mereka terus berjalan. Kevin tak henti-hentinya membenahi lencana Naiad di kerah seragamnya yang baru saja didapatkannya dari acara semalam.

”Wah, kau tidak ditukar. Aku ditukar tiga kali, All! Bayangkan, melebihi aturan! Dua kali kena anak Liberte, cuma sekali kena anak Fraternite!”ucap Kevin pada Allan.

”Wah, kasihan sekali kau...”

Sesampainya di lantai dua, mereka mencari kelas A4, ruang dimana mereka akan mendapat pelajaran pertama mereka di Naiad. Mereka memasuki ruangan yang sudah cukup ramai dipenuhi para siswa lain.

”Ini dia kelas Pengantar Bisnis.” ucap Kevin sambil mencari satu tempat duduk di deretan belakang kelas. Allan mengikutinya dan duduk di kursi sebelahnya sambil masih membaca daftar jadwal kelas di tangannya.

”Jam kedua kita beda kelas, Kev.”

Kevin tak menyahut ucapan Allan. Allan menoleh ke arahnya, dia melihat Kevin sedang terbengong-bengong menatap seorang siswa.

”Heh, Kev?”

”Ha? Apa?” Kevin baru menoleh.

”Lihat apa?”

”Tuh, All... lihat anak itu. Datang-datang sudah bawa serombongan pasukan gitu? Kapan dia merekrutnya?” Kevin menunjuk ke arah seorang siswa yang berambut coklat dengan gaya angkuhnya berjalan melewati kursi-kursi diikuti tiga orang siswa lain di belakangnya sambil bertingkah layaknya para bodyguard.

”Ah, nggak peduli.”

”Kau ini pedulinya pada prinsip, prinsip dan prinsip! Oh iya, tadi kau bilang apa padaku?” Kevin masih mengamati rombongan laki-laki itu berjalan memilih deretan kursi paling belakang.

”Aku bilang nanti jam kedua kita beda kelas. Kau nanti ada kelas Ilmu Ekonomi kan di ruang A6?”

”Wah, nggak tahu tuh kelas apa namanya dan aku belum lihat jadwal, hehehe... memangnya kau dimana?”

”Kau ini baca jadwal nggak sih sebelum kesini?”

”Nggak.” jawab Kevin santai.

”Ah sudahlah. Intinya kita beda kelas. Jadwalku kelas Manajemen Pemasaran, di B2.”

”Terus kenapa, All?” tanya Kevin dengan tampang bodohnya.

Allan menghela nafas,”Nothing. Just for an information!

”Eh, All, menurutmu dia anak koridor mana? Aku berani taruhan dia anak Liberte !”

”Nggak tahulah, Kev. Aku punya pengalaman yang nggak bagus di bidang tebak-tebakan koridor.”
*-*-*-*

Allan dan Kevin berjalan cepat menuju gedung olahraga. Mereka kemudian ikut menyusup diantara kerumunan siswa yang berkumpul di depan sebuah papan pengumuman di dalam lapangan basket indoor. Sudah bulan kedua mereka berada di Naiad, dan hari itu merupakan salah satu hari yang paling mereka tunggu. Suara-suara luapan kegembiraan memenuhi arena itu, tetapi juga banyak kekecewaan menghiasi raut wajah beberapa siswa.

Allan dan Kevin akhirnya berhasil berdiri di depan papan pengumuman, mata mereka mulai mencari-cari di selembar kertas daftar siswa yang lolos seleksi tim basket Naiad. Tak lama kemudian mereka saling berpandangan, kemudian berteriak hampir bersamaan, ”We’re in!

”Kita akan jadi rekan satu tim di tim basket Naiad!” Allan tak bisa lagi memendam rasa bahagianya yang meluap-luap.

”Benar-benar kejutan besar!” Kevin hanya menggeleng-geleng, masih tak percaya. Tampak di matanya kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan Allan saat itu.

Tak lama kemudian, mereka sudah terhanyut dalam obrolan-obrolan tentang masa depan mereka dalam salah satu tim basket sekolah paling kuat di Tethys diantara tim-tim basket sekolah lain, apa yang akan mereka alami, apakah akan ada pencari bakat yang merekrut mereka untuk bergabung di suatu klub basket, dan mimpi-mimpi mereka untuk menjadi pemenang. Apa saja yang berhubungan dengan berita bagus itu mereka bicarakan semua. Mereka berdua sedang tenggelam dalam euforia.

”Hey, All, I think we should throw a small party!” ucap Kevin kemudian.

“Pesta?”

”Dengarkan aku..”
*-*-*-*

Seusai makan malam, sesuai rencana, Allan dan Kevin ikut berjalan diantara anak-anak yang kembali ke asrama. Ketika merasa aman, mereka berangsur-angsur keluar dari kumpulan anak-anak itu dan berjalan cepat-cepat menuju samping gedung pusat. Mereka bersandar di tembok sambil mendengar derap langkah dan suara anak-anak yang semakin sepi. Tembok samping gedung itu dikelilingi oleh pagar rendah yang hanya berjarak satu meter dari tembok gedung. Pagar besi itu terlihat sangat tua dengan karat dimana-mana. Ada beberapa sulur tumbuhan liar melilit pagar itu.

Mereka menunggu hingga waktu yang tepat. Allan dan Kevin jongkok bersandar pada tembok itu menghadap ke pagar tua. Angin malam bertiup pelan-pelan diantara suasana lingkungan asrama Naiad yang gelap.

”Baru setengah jam. Kita tunggu sampai para koki pergi saja.” Kevin melirik jam tangannya.

”Kau yakin kita akan melakukan ini?”

”Kau mau mundur, All?”

Allan memandang Kevin,”Just asking.

”Tentu saja aku yakin. Tenanglah... Hey, kau ini tidak pernah berbuat yang melenceng sedikit ya dari aturan?”
Allan diam tak menjawab.

”Kau pasti dari keluarga terhormat.”

”Apa hubungannya dengan keluargaku, Kev?”

”Ya... dimana kau tumbuh kan memberikan pengaruh pada sifatmu. Dulu kakakku sering mengajakku menyelinap di proyek-proyek bangunan kalau malam hari. Kami menganggapnya petualangan. Kadang kami mengambil kayu-kayu dari proyek itu untuk kami bawa pulang. Dia membuatkan mainan untukku dari kayu-kayu itu.” Kevin tertawa.

Allan terdiam sebentar.

”Aku tidak punya saudara, Kev. Aku anak tunggal.” ucap Allan kemudian.

”Berarti kau mendapatkan segalanya dong dari orangtuamu.”

”Apa maksudmu segalanya?... aku tetap ingin punya saudara. Pasti menyenangkan bisa... bisa berpetualang seperti kau dan kakakmu.”

”Sudahlah. Pandang dari sisi baiknya saja. Kau tidak perlu berbagi, hehe...”

Mereka mendengar suara langkah kaki dan orang-orang yang berbicara keluar dari gedung pusat.

”Itu para koki. Mereka sudah keluar. Saatnya kita masuk.” Kevin berdiri diikuti Allan. Mereka masih merapat pada tembok sambil berjalan menuju ke tembok depan. Kevin mengintip suasana di depan gedung pusat. Sepi. Tidak ada lagi para koki dan polisi Naiad.

”Aman, All.”

Mereka berdua berjalan pelan-pelan supaya tidak menimbulkan suara menuju ke pintu depan gedung pusat. Kevin membuka pintunya kemudian masuk diikuti Allan. Mereka berjalan melewati lorong kecil di bagian depan dalam gedung melewati ruangan-ruangan yang sudah sepi.

”Ada polisi Naiad...” ucap Allan pelan ketika mereka sampai di pertigaan, hendak berbelok koridor dari aula utama. Allan langsung menarik Kevin untuk bersembunyi dibalik pilar-pilar besar yang menempel di tembok gedung utama. Mereka merapat ke arah tembok.
Suasana sangat sepi, yang terdengar hanya hembusan nafas pelan dari hidung Allan dan Kevin.

Lama kelamaan terdengar suara langkah kaki polisi Naiad berjalan semakin dekat. Allan dan Kevin berharap polisi itu tidak berbelok ke arah mereka bersembunyi. Dan untung buat mereka, polisi itu terus berjalan lurus, tidak berbelok.

Bersamaan mereka menghembuskan nafas lega. Setelah merasa aman, mereka melanjutkan perjalanan mereka, berbelok menuju ke koridor ruang makan. Mereka melewati ruang makan menuju ke ruangan disamping ruang makan. Kevin melihat ke dalam ruangan itu melalui kaca yang terpasang di pintu. Tidak ada orang di dalam sana. Setelah itu Kevin mencoba membuka engsel pintu. Dengan mudah engsel pintu itu terbuka.

”Ayo kita masuk.” ajak Kevin. Mereka berdua memasuki dapur itu. Kevin mulai melakukan aksinya mengambil beberapa kaleng bir dari dalam peti penyimpanan, dan Allan mengambil beberapa buah-buahan dari dalam lemari pendingin.

”Kev, sudah cukup.”ucap Allan.

Kevin berjalan menghampiri kulkas.

”Kau mau ambil apa dari kulkas itu? Sudahlah!”

Kevin tak menghiraukan Allan dan mengambil sesuatu dari atas kulkas itu dan memasukkannya dalam kantong celananya.

”Apa itu?”tanya Allan.

”Bukan apa-apa. Ayo kita kembali ke kamar.”
*-*-*-*

We’re back!” ucap Kevin puas ketika memasuki kamar 28 pada Joe yang tengah tidur-tiduran di ranjang Kevin.

”Kalian lama sekali. Kupikir kalian tertangkap polisi Naiad!” Joe bangun dan menerima plastik-plastik berisi barang jarahan dari tangan Allan dan Kevin.

”Nggak dong, kami kan ahli dalam menyelinap!” ucap Kevin bangga.

”Wah, lain kali ajak aku dong.” kata Joe sambil membuka-buka plastik itu.

”Tidak ada lain kali.” kata Allan tegas.

”Ya sudahlah, kita nikmati saja sekarang.”

”Kalian memang hebat. Kebetulan aku masih lapar. Porsi makan kita kan nggak pernah cukup mengenyangkan.” ucap Joe.

”Mungkin kita perlu demo menuntut kenaikan porsi makan.” ucap Allan.

”Haha... ajukan saja permintaan demomu itu pada Orrick Rackensville sang ketua koridor. Mungkin saja diterima. Itu adalah keluhan keduaku sekolah disini, porsi makan kita yang seperti porsi makan cewek!” kata Joe.

”Lucu juga kalau di koran sekolah ada headline berjudul ’Fraternite Meminta Kenaikan Makan’! hahaha!” sambut Kevin.

”Memang keluhan pertamamu apa?” tanya Allan pada Joe.

”Disini nggak ada cewek!”

”Wah... aku setuju juga tuh!” Kevin mendukung.

”Oh iya, aku belum sempat mengucapkan selamat pada kalian. Hebat, koridor kita punya dua tambahan pemain untuk tim basket Naiad. Rackensville pasti senang kalau mendengarnya.”

Thanks, Joe.” balas Allan dan Kevin.

”Nah, aku punya satu kejutan lagi.” Kevin merogoh sesuatu dari kantong celananya.

”Waah... darimana kau dapatkan itu?” Mata Joe berkilat-kilat. Allan terkejut melihat barang yang dikeluarkan Kevin dari saku celananya.

”Di dapur. Sepertinya punya koki.” Kevin mengambil korek api dari laci almarinya.

”Kevin! Kita tidak boleh merokok di asrama.” tegur Allan.

”Tidak akan ketahuan. Sudahlah, kalau kau tidak mau aku tidak memaksamu. Kau mau Joe?”

”Tentu saja aku mau. Sudah lama sekali aku tidak merasakan rokok.”

”Kau tidak mau, All?” tanya Joe.

”Tidak. Aku tidak suka merokok.”

”Sudah, biarkan saja. Dia memang tidak mau. Dia kan anak baik-baik.” ucap Kevin santai. Allan sedikit tersinggung mendengarnya namun ia mencoba untuk tak menghiraukannya. Cukup lama mereka menghabiskan waktu hingga Joe sudah mengantuk.

”Hey, terimakasih ya untuk pestanya. Aku mau balik ke kamar. Sampai jumpa besok. All, aku sekelas denganmu besok.” kata Joe sambil membuka pintu.

Allan mengangguk, memandang pintu yang kemudian tertutup.

Kevin masih terus mengebulkan asap rokoknya sementara Allan membereskan sampah-sampah itu ke dalam keranjang sampah.

”Kapan kau berhenti, Kev?”

”Baru dua batang. Santai sajalah... Atau kau keberatan dengan asap rokok ini?”

”Terserah kaulah.”

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi bel melengking sebanyak tiga kali.

”Bel apa sih malam-malam begini?” ucap Kevin.

Allan terkejut,”Tiga kali, Kev...”

Kevin menatap Allan yang menampakkan muka kecemasan,”Ada apa? Kau jangan membuatku takut...”

”Inspeksi darurat!”

”Kau gila!... serius inspeksi darurat?” Kevin langsung mematikan asap rokoknya.

”Kau dengar keributan diluar? Dalam lima menit kita harus sudah berbaris di depan kamar kita. Mereka akan menggeledah kamar kita!” Allan melihat ke arah jam dinding. Jam 10 tepat.

”Ini gila! Kenapa sekarang?!”

”Mana aku tahu, Kev! Apa mereka tahu ada yang baru saja menyelinap ke dapur?!”

”Aku juga mana tahu, All?”

”Ah, sudahlah...cepat kita harus segera keluar dari kamar!”

”Kukemanakan ini abu-abu rokok?...” Kevin mulai panik, mencari-cari tempat untuk membuang kertas berisi abu-abu rokok.

”Sudah, masukkan saja ke tempat sampah.”
Kevin buru-buru membuangnya ke dalam tempat sampah kecil di dalam kamar itu. Dia langsung menyembunyikan tempat sampah itu ke bawah ranjangnya.

”Bagaimana kalau mereka bertanya-tanya kenapa tempat sampahnya nggak ada?” tanya Allan sambil membenahi jas seragamnya.

”Bagaimana kalau mereka menemukan tempat sampah penuh dengan sisa kaleng bir, hah? Sudahlah, ayo keluar.” ucap Kevin sambil mencoba mengipas-ngipas ruangan dengan sebuah buku.”Semoga mereka tidak mencium bau rokok ini...”

Mereka berdua keluar dari kamar dan menutup pintunya. Kamar di seberang kamar mereka, dua orang penghuninya sudah berdiri tegap di depan kamar. Begitu juga di kanan kiri kamar Allan, para penghuninya sudah bersiap-siap.

Tak lama kemudian beberapa polisi Naiad mulai menjalankan tugasnya. Ada sekitar sepuluh orang di koridor Fraternite B mulai menyebar memeriksa kamar-kamar. Allan dan Kevin menunggu giliran kamar mereka dengan perasaan berdebar-debar.

Mereka semakin panik ketika seorang polisi memasuki kamar mereka. Namun mereka berusaha menyembunyikan kepanikan mereka itu. Beberapa saat kemudian polisi itu keluar, menutup pintu kamar dan memandang Allan dan Kevin satu persatu dengan tajam. Pada saat itu juga Allan dan Kevin merasakan kecemasan mereka pada puncaknya.

Polisi itu membaca kertas yang dibawanya dengan papan penjepit kertas itu.”Siswa F40-155, Siswa F40-156... kalian ikut saya ke kantor! Sekarang juga!”

Allan dan Kevin langsung pasrah.

Read previous post:  
81
points
(2319 words) posted by lavender 8 years 39 weeks ago
81
Tags: Cerita | Novel | cinta | clique-lit | domestic drama | mainstream romance
Read next post:  
dadun at Limelight (3) (8 years 36 weeks ago)
90

perhatikan perihal:
di (spasi) antara
di (spasi) balik
dsb.

hmmm pemenggalan transisinya, menurutku terlalu lepas2. udah bagus sih, tapi kurang makjleb gemanaaa gichuh.

terus, ada kata yg keulang2 dalam satu kalimat, kayak: "...melewati ruang makan menuju ruangan di sebelah ruang makan..." inefisiensi, menurutku.

hmmm kayaknya allan dan kevin bakal dihukum dg cara disuruh ciuman
lol
#boysloveminded :p

Writer lavender
lavender at Limelight (3) (8 years 36 weeks ago)

Baik baik *dicatat*
Waduh dibikin gay lagi.. Tak bisa sayaa.. :(
Thank u, dadun..

dadun at Limelight (3) (8 years 36 weeks ago)

hahaha, aku juga baru kena semprot abc soal "di antara" wkwkwk. emang suka kelupa

waduh iya emang sulit nulis yg gay beneran. hihi. tapi kok ada beberapa yg curiga cerita ini larinya ke sana ya? mungkin karena di asrama cowok, dan karakter allan yg menurutku kayak ada unsur kecewek2annya. entah bagian mananya. dan ketika dia berinteraksi dg tokoh2 yg lain.... well, kayaknya cuma efek belakangan banyak cerita2 BL kali yak? heu *sotoy*

Writer lavender
lavender at Limelight (3) (8 years 36 weeks ago)

Wewww.. Semprotan dahsyat pasti klo dari abc.. Hehe..
*
Aku jg merasa gt krn paling susah nulis yg tokoh utamanya co, ga biasa T_T.. Aku kembali pada tokoh utama ce sajalah hehehe..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (3) (8 years 37 weeks ago)
100

Bagus...

Writer lavender
lavender at Limelight (3) (8 years 37 weeks ago)

come on, neko-man, help me with this story.. hehehehehe..

Writer Riesling
Riesling at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)
90

"Just for an information" kayaknya kurang pas deh... Lebih umum "Just for your information" atau "Just informing" (itu yang lebih sering ditemui sih... Ga tau memang mesti kayak gitu atau nggak. *ga mau diomelin pake catchphrase-nya Marv* xD). Terus "Mau kukemanakan ini abu-abu rokok?", pengulangan kata 'abu' di sini ga baku, kan? Kedengarannya rada aneh, hhe.

Disamping itu, tetap keren~~

Writer lavender
lavender at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)

Bnr jg.. Ok bsk aku edit klo onlen pke komp.. Hehe.. Thank u..

Writer KD
KD at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)
100

hmmm

Writer lavender
lavender at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)

Mmmmmmmmhhhhhh

Writer herjuno
herjuno at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)

Pelajaran SMA dibuat berat? Tidak umum, tapi kamu pasti punya alasan kenapa memilih itu.
.
Btw, entahlah, kayaknya ada yang jegleg. I mean, dari awal kayaknya sekolahnya keras banget, tapi kok mereka bisa bisa dengan mudah nyuri makanan. Mungkin suspense-nya bisa ditambah lagi di sini.
.
oh ya,mungkin kamu udah tahu, tapi aku mau bagi referensi tentang genremu:
http://dhikandang.blogspot.com/2010/04/cliquelit.html

Writer lavender
lavender at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)

that's why aku tulis di log info, banyak yg ga akan sesuai dengan di kenyataan.. karena dari dulu penyakitku memang gitu klo nulis, ga sesuai dgn kenyataan n sesukanya sendiri.. xixixi.. oke.. thank u yakk..

Writer majnun
majnun at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)
100

mana ini kejutannya??

Writer lavender
lavender at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)

lahhhh.. sapa yang bilang mo kasih kejutan?? :p
orang ini ga ada kejutan-kejutan.. flat-flat saja.. :p

Writer dede
dede at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)
90

huaahh... tegang...!! mau diapain nanti si allan sama kevin?
oh ya, di tag cerita ini ada "cinta", tapi kok sampe yang ketiga ini gag ada bau-bau cinta-cintaan?? ato mau dibuat cinta sesama jenis? (secara ini asrama laki-laki semua isinya)

Writer lavender
lavender at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)

ga diapa-apain kok.. xixi..
oh iya.. cinta-cintaanya belum nongol, sebentar lagi.. lagi nonjolin clique-lit nya dulu..
thanks for reading.. :-)

Writer suararaa
suararaa at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)
80

aku baru nyadar kalo ini sekolah bisnis, soalnya dri penggambaran2 sebelum2nya , kesannya malah ky sekolah militer
,
ngomong2 Naiad ini setingkat SMA kan? mata pelajaran2nya sama ama mata kuliahku

Writer lavender
lavender at Limelight (3) (8 years 39 weeks ago)

iya.. kan di sebelumnya si Kevin pernah bilang, apa ya aku lupa pokoknya intinya kenapa sekolahnya kok dibuat seperti sekolah militer, aturan ketat, nggak ada cewek dll..
iya SMA, memang aku buat pelajaran2nya udah yang tinggi-tinggi.. sengaja.. hehe.. thanks for reading yak.. :-)