The 2nd One (2)

Kedekatanku dengan Fabian dikarenakan kos kami yang bersebelahan, membuatku sering bertemu dengannya dan meminta tolong padanya mengenai segala hal perkuliahan mengingat dia adalah seniorku saat itu, dan juga sering bareng ke kampus.

“Fabian,” panggilku, sementara kulihat petugas fotokopi sedang sibuk menjilid proposal Fabian.

“Hmm?” Fabian tengah melihat-lihat ke dalam etalase.

“Kalau… kalau aku… suka sama kamu gimana?” ucapku pelan.

Fabian mengangkat wajahnya yang tadi menunduk melihat ke dalam etalase. Dia menatapku tanpa menjawab apapun. Kemudian dia menatap jalan raya.

“Kayaknya… kayaknya aku suka sama kamu, Fab. Bukan… bukan kayaknya lagi… aku memang jatuh cinta sama kamu. Rasanya… pengen terus bareng sama kamu.”

“Thea… Althea Zahira… “ Fabian berucap kemudian mengalihkan pandangan dari jalan raya untuk menatapku. Aku menunggu kelanjutan kalimatnya. Aku mencoba mengontrol detak jantungku yang semakin hebat kencangnya. ”…gue… udah punya cewek. Fabian, cowok yang berdiri di depan lu sekarang, udah punya pacar, Thea… you knew that…”

Aku langsung merasa lemas. Aku sudah tahu persis kenyataan itu tapi entah kenapa ketika mendengar ia mengatakan kalimat itu, aku merasa lebih hancur.

I knew… I knew that…” aku merasakan ada air mengambang di pelupuk mataku,”…I’m sorry… I shouln’t have that feeling… it was forbidden to me…but… but you… you treat me that way… you’ve made me…

Fabian pasti mengerti betul bagaimana perasaanku saat itu, aku tak sanggup membendung air mataku lagi. Dia memotong kalimatku yang kacau, ”Lu yakin dengan perasaan lu?... “

“Apa aku harus jawab?”ucapku pelan.

Fabian menyibak rambut yang menutupi sebagian mukaku, dia menyelipkannya di daun telingaku. Aku merasakan getaran di kulit mukaku yang tersentuh oleh tangannya.

“Gue nggak bisa putusin dia….”

Aku hanya mengangguk-angguk sambil mengontrol emosiku. Aku tahu nggak mungkin untukku bersamanya. Dia sudah punya kekasih. Aku tahu betul dia nggak mungkin meninggalkan pacarnya yang sudah bersamanya satu tahun lamanya. Fabian pasti sangat mencintainya karena tidak mau melepasnya.

“… tapi gue bisa bersama lu… lu pengen bisa terus bareng sama gue kan?... itu… kalau lu mau…”

Aku menatap Fabian. Bisakah dia mencintaiku?
*-*-*-*

Sejak saat itu, aku jadi pacar kedua Fabian. Atau mungkin dengan bahasa lain, kekasih gelap Fabian. Aku menjalani hubungan penuh kerahasiaan. Kami melanjutkan aksi sok nggak kenal di kampus dan bersikap seolah tak pernah terjadi apapun supaya nggak tercium oleh Campustainment. Karena itu aku langsung menghubungi Leia.

“Lei, tawaran kamu mengajakku gabung di Campustainment masih terbuka nggak? Aku ikut dong…”

“Beneran? Bagus kalau begitu.” Leia dengan senang hati menerimaku sebagai reporter.

Aku pun bergabung dengan Campustainment. Aku pikir, cara terbaik menghindari kemungkinan buruk akan digossipkan adalah menjadi anggota dari para penggosip itu. Yang aku dan Fabian fokuskan adalah bagaimana menjaga kerahasiaan hubungan ini serapat mungkin. Dan kelihatannya Fabian ahli untuk hal itu.

Jarang sekali aku keluar di malam minggu layaknya pasangan lainnya bareng Fabian. Tentu saja, malam minggu adalah milik Pritha. Bagiku sudah cukup melihat Fabian tiap hari di kampus meski tak berdekatan bahkan tak bisa menyapanya secara langsung. Aku hanya bisa menikmati kedekatanku lewat SMS demi SMS.

Ternyata kami tak selalu bisa sembunyi. Pritha pernah melihat aku dan Fabian berangkat bareng ke kampus. Kemudian Fabian menceritakannya padaku.

“Pritha tanya sama gue, kemarin lu boncengin siapa pagi-pagi?

“Terus kamu bilang apa?”

“Ya gue bilang aja ‘Dia adik kelas gue. Kebetulan kos dia deket sama kos gue dan waktu itu gue melihat dia buru-buru takut telat praktikum. Makanya gue ajak bareng dia.’ Gue bilang begitu.”

“Oh… lalu… dia nggak nanya macam-macam lagi?”

“Nggak.”

“Syukurlah.”

Sejak saat itu Fabian jarang mengajakku berangkat bareng ke kampus lagi. Pernah sekali aku jalan bareng Fabian di malam minggu, sebuah kelangkaan yang sangat berharga untukku. Saat itu Pritha sedang pulang ke rumahnya di Jakarta. Kota yang sama dengan tempat tinggal Fabian. Kami jalan jauh banget dari area kampus, makan malam berdua. Dan aku menanyakan hal yang sangat crucial padanya, ”Fabian… apa sih yang sebenarnya kamu rasa padaku? Apa ada cinta untukku?... setidaknya sedikit saja…”

Belum sempat Fabian menjawab, ponsel yang diletakkannya di atas meja tempat makanan kami berdering. Aku sempat melihat nama yang tertera di layarnya. Ternyata dia. Pemilik sah malam minggu bersama Fabian. Fabian langsung menjawabnya dengan ucapan mesra.

Cukup lama aku harus mendengar obrolan menyakitkan itu. Meski aku tak mendengar apa saja yang dikatakan penelepon, aku sudah merasa sangat tersisih. Aku merasa nggak punya arti apa-apa disamping Fabian saat itu. Dan sampai sekarang aku belum mendapat jawaban atas pertanyaanku itu. Aku tahu hubungan itu nggak sehat. Aku tahu aku hanyalah orang kedua yang masih meragukan apa yang sebenarnya dirasa Fabian untukku. Yang pasti sepertinya cintanya untuk pacar resminya lebih dalam.

Hubungan gelap ini bertahan cukup lama. Entah karena kepandaian Fabian beralasan di depan Pritha ataukah keberuntungan kami dalam menjaga perselingkuhan ini. Ketika suatu kali aku bercerita pada Leia, dia langsung terkejut.

“Kamu sama Fabian?! Gimana bisa, Ya’? Fabian tuh udah punya cewek. Memangnya dia udah putusin tuh cewek?”

Aku hanya menggeleng.

“Gila kamu ya? Jadi… jadi ceritanya Fabian selingkuh?”

“Lei, I hate that word.

“Which one? ‘Selingkuh’? bukannya itu yang Fabian lakukan? Dan kamu mau-mauya jadi selingkuhannya.”

I love him, Lei.”

And him? How bout him? Does he loves you too?
Aku terdiam, tak mampu menjawab. Aku belum mempunyai jawaban untuk pertanyaan itu.

“Terserah kamu deh, Ya’. Aku cuma nggak mau kamu dilukai cowok itu. Aku bagaimanapun juga akan jaga rahasia kamu ini, tapi aku nggak bisa dukung kamu. Aku nggak habis pikir kenapa kamu mau jadi orang kedua…”

“Aku… aku jahat ya, Lei?”

“Sejujurnya… iya. Pada ceweknya. Tapi ini juga bukan kesalahanmu sepenuhnya. Fabian kan kasih harapan ke kamu, jadi… sebenarnya dia punya andil terbesar dalam kesalahan yang kalian lakukan. Dia milik Pritha, Ya’. Dan kamu tahu persis itu. Akan lain ceritanya kalau kamu nggak tahu. Bukannya aku belain ceweknya, tapi… kalau kamu di posisi Pritha, apa kamu mau cowok kamu punya kekasih gelap?”

Aku tahu betul apa yang kulakukan seharusnya tak kulakukan, tapi perasaan yang kurasakan saat itu benar-benar mengabaikan segalanya. Mengabaikan suatu hukum tersirat dimana perasaan manusia yang dipertaruhkan. Meski bagi Fabian, aku bukanlah prioritas pertamanya dan seringkali dia membatalkan janjinya denganku karena harus mendahulukan Pritha, aku nggak peduli. Kupikir, selama aku masih kuat dan tentu saja selama masih ada timbal balik dari Fabian, aku akan tetap menjalaninya. Aku hanya ingin terus bareng dia meski aku nggak akan pernah bisa mendeklarasikan nama Fabian sebagai pacarku. Bagiku aku sedang menikmati keindahan di lembah yang terlarang. Yang bisa kapanpun terjatuh dari lembah itu.

Kenyataan pada akhirnya memang tak berpihak padaku. Yang selalu kutakutkan ternyata terjadi. Hubungan itu hanya terjadi selama satu semester. Akhir semester 2, Fabian tiba-tiba pergi dariku. Mula-mula sikapnya berbeda, dia lebih cenderung menjauh dariku. Entah kenapa. Mungkin Pritha sudah mulai curiga. Tapi kali itu dia tidak menceritakan apapun padaku. Hingga ketika dia ikut magang di sebuah perusahaan entah dimana, dia nggak kembali.

Aku nggak pernah mendengar kabar dia selama itu. Dia nggak pernah menghubungiku ataupun membalas SMS-SMSku. Fabian pun pergi tanpa pamit ataupun menjelaskan sesuatu padaku. Dia seakan memutus begitu saja hubungan rahasia kami. Aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya. Hingga telepon Minggu itu.
*-*-*-*

“Fabian telpon kamu?! Masih punya muka ya dia!” Leia ngomel-ngomel malam itu ketika mendengar ceritaku mengenai telpon Fabian kemarin.

“Nggak tahu deh, Lei.” Ucapku sambil mengaduk-aduk sendok di dalam gelas es tehku.

“Dia bilang apa aja selain kepulangannya?”

Nothing. Nggak penting.”

“Bagus kalau kamu udah menganggap dia nggak penting. Dia memang nggak penting! Nggak berharga tahu nggak?”

“Yeah…”

Leia yang sedari tadi menghadap penggorengan dan menggoreng telur dadar langsung mendekatiku yang duduk di meja makan.

“Jangan bilang kamu masih menyimpan rasa buat cowok nggak tahu diri itu….”

Aku hanya menggeleng tanpa menatap Leia.

“…nggak kan, Ya’? lihat aku, nggak kan?” Leia tampak tak yakin. Aku menoleh dan menatapnya.

No…

Good, good girl.”

… I think.”

God, Thea! It’s been one year and half!

I know…

“Dia nggak layak kamu cintai. Udah, get over it. Bukannya sejauh ini kamu bisa lupain dia kan? Jadi, bertahanlah. Jangan goyah lagi hanya karena dia nelpon kamu. Jangan pasang lagu Trisha Yearwood lagi buat ringtone dia. There’s no more ‘How do I live without you’… you can live without him.”

“Aku nggak tahu mesti bagaimana kalau ketemu dia di kampus.”

“Cuek aja. Kamu harus tunjukkan ke dia kamu kuat. Kalau kamu baik-baik saja meski dia udah menyakiti kamu seperti itu.”
Aku hanya terdiam.

”Aku tidur duluan, Lei.” ucapku kemudian.

”Ya sudah sana,”

Aku berlalu dari dapur dan memasuki kamarku. Kukunci pintunya dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Aku meraih ponsel di bawah bantalku. Ada tulisan 1 message received disana. Aku langsung membukanya. Dari dia.

Bsk gw kul,ikut kls lu.C u…

Aku menimang-nimang ponselku, mempertimbangkan apakah harus membalasnya. Setelah sepuluh menit kelimpungan di atas kasur, aku memutuskan untuk mematikan ponselku. I just can’t, Fabian.
*-*-*-*

Aku kembali menyorotkan kameraku, mencari sudut-sudut kampus yang bisa dijadikan berita. Aku terkejut ketika menangkap sepasang cowok cewek berjalan keluar dari perpustakaan yang ada di arah jam dua dari tempatku berdiri.

Aku terpaku melihatnya, segera kumatikan kameraku dan kuturunkan dengan kondisi tangan yang lemas, pelan-pelan aku bersembunyi di balik pilar yang menyembul diantara dinding-dinding lantai satu.
Kurapatkan diriku di tembok, mengontrol perasaan hatiku sementara mereka berdua lewat di depanku. Aku tahu siapa cewek itu, dia salah satu juniorku, satu angkatan di bawahku.

Dan aku tahu persis siapa cowok itu. Cowok yang sempat kurindukan. Cowok yang tak pernah kulihat selama satu setengah tahun lebih. Cowok yang semalam mengirimiku SMS.

Aku benar-benar tidak menyangka akan melihat pemandangan itu. Dia sempat menoleh sebentar ke arahku berdiri, tapi itu saja. Dia langsung berlalu disamping cewek itu. Seakan melihatku setelah sekian lama tidaklah berarti baginya. Mungkin ini cara dia membalas kelakuanku semalam yang tak membalas SMS-nya, dan aku tidak masuk ke kelasku tadi pagi karena harus praktikum. Tapi please, aku yang seharusnya sakit hati padanya. Kenapa dia yang membalasku seperti ini? Aku tak sanggup melihat lebih dari itu, aku hanya berdiri di tempatku, termangu. Cukup lama aku terdiam hingga bunyi SMS menyadarkanku.

Kumasukkan handycam yang masih ada di tanganku ke dalam tas. Kuambil ponsel dalam kantong celanaku dan membaca pesan di dalamnya. Ternyata Leia.

Km dmn?Ud slse prktkm?Aku msh d kamp, d kantin.
Aku tunggu.

Aku langsung berjalan menuju kantin. Sesampainya disana, kulihat Leia bersama beberapa cowok di sebuah meja. Ada lima kursi mengelilinginya. Sudah ada Leia, Arlo dan dua temannya mengisinya, masih ada satu kursi tersisa.

“Sini, Lei!” panggil Leia.

”Hallo, Ya’… kok mukamu ditekuk sepuluh gitu sih? Kenapa?” tanya Arlo padaku.

“Nggak apa-apa.” jawabku singkat.

“O iya, nih kenalin teman-temanku. Yang ini Anton….” ucap Arlo memperkenalkan. Aku nggak pernah kenalan sama teman-teman Arlo, meski aku sering melihat mereka main ke rumah, tapi aku tidak terlalu mempedulikannya.

”Hallo… siapa nih?”

“Namanya Althea. Panggil aja Thea.” jawab Leia yang duduk disamping
cowok bernama Anton tadi.

“Gue Anton, Thea…” ucapnya lagi mengenalkan dirinya. Cowok itu tingginya sama dengan Arlo, kulitnya coklat dan rambutnya gondrong diikat di belakang. Dari tampangnya sih aku menebak dia anak band. Mungkin satu band dengan Arlo yang notabene pintar main gitar.
Aku hanya tersenyum dan balas menyapanya,”Hai,”

“Nah yang ini, Rastya.” Arlo mengenalkan temannya yang satu lagi.

Cowok itu sedang merokok ketika dikenalkan padaku. Dia menatapku dan tersenyum,”Hai…”

Beda dengan Anton, Rastya menjulurkan tangannya padaku, mengajak berjabat tangan,”… Rastya.”ucapnya.

Kutatap cowok itu. Di tangannya yang satunya masih terjepit puntung rokok yang menyala. Rambutnya hitam lurus dan berjambul di bagian tengah. Style nya mirip dengan Pierre Bouvier, vokalis Simple Plan tapi kalau dia cenderung acak-acakan dan tak beraturan. Kulitnya putih dan matanya sayu. Satu lagi, bibirnya tipis.

Aku menjabat tangannya dan mengenalkan diriku,”Thea.”

Cowok itu kembali menghisap rokoknya sementara aku duduk di kursi yang tersisa di meja itu. Disamping Rastya.

Selama kebersamaan itu aku merasakan sesuatu yang aneh. Memang aku hanya lebih banyak diam, memakan sedikit makananku karena nggak begitu nafsu, dan hanya mendengar Leia yang ngobrol juga bercanda bebas dengan mereka... tapi aku merasakannya. Aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku yang berjarak kira-kira hanya lima belas centimeter dari kiri Rastya yang dengan bebasnya mengebulkan asap rokok. Suatu perasaan yang mungkin akan menimbulkan pernyataan ‘SO WHAT THE HELL WITH FABIAN! I’VE FOUND ANOTHER ONE… I THINK IT’S TIME TO SAY GOODBYE TO YOU, FABIAN…’ dari dalam hatiku.

Read previous post:  
48
points
(1368 words) posted by lavender 8 years 40 weeks ago
68.5714
Tags: Cerita | Drama | cinta | drama | sinetron | telenovela
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sunil
sunil at The 2nd One (2) (8 years 29 weeks ago)
70

a second lover? if i was her, i wont allow, even someone to broken my heart. :)

Writer lavender
lavender at The 2nd One (2) (8 years 29 weeks ago)

Me too

Writer dahan
dahan at The 2nd One (2) (8 years 38 weeks ago)

hello...

Writer lavender
lavender at The 2nd One (2) (8 years 38 weeks ago)

Hello juga..

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at The 2nd One (2) (8 years 38 weeks ago)
80

kekasih yang tak dianggap ~~ mengalun bersama pinkan mambo~~
(melow mode on)^^
masih berlanjut ya mbak ya, jadikan pasangan dengan rastya, hehe ^^

Writer lavender
lavender at The 2nd One (2) (8 years 38 weeks ago)

thanks for reading.. :-)

Writer majnun
majnun at The 2nd One (2) (8 years 38 weeks ago)
100

lhoh, ko'..?
part 2 ini udah khatam??
benarkah?

rastya..
hmm..
sepertinya pernah denger nama itu..
di mana ya..?
hyahahahahahahaha..

Writer lavender
lavender at The 2nd One (2) (8 years 38 weeks ago)

Blm khatam lahh..
Apik y namanya :p

Writer suararaa
suararaa at The 2nd One (2) (8 years 38 weeks ago)
70

oww.. cepet banget yah..
di awal cerita mulai pacaran terus di akhir udah nemuin yg lain...

Writer lavender
lavender at The 2nd One (2) (8 years 38 weeks ago)

hehe..
itu statement di ending sebenarnya semacam pelampiasan, untuk mengalihkan perhatian saja awalnya, karena habis ngeliat sesuatu yang menyakitkan, apalagi setelah mem-flashback memori masa lalu yang makin menyakitkan buat dia ingin segera kabur dari masa lalu..
thank u yak..