Limelight (4)

”Siswa F40-155, Kevin Frankzetta, Siswa F40-156, Allan Svanalevich, katakan! Apa kalian baru saja merokok dan minum bir di kamar?!” seorang polisi Naiad bernama Bill Freed yang tadi menangkap mereka langsung menginterogasi mereka di dalam kantor gedung pusat.
Allan dan Kevin tak menjawab. Mereka hanya berpandangan.

”Hey, jawab aku! Pandangan kalian tetap lurus ke depan!...” Bill mulai mengencangkan suaranya.

”...Aku tadi mencium bau rokok di kamar kalian dan aku menemukan keranjang sampah kalian penuh dengan kaleng bir! Kalian tahu kan ada aturan yang melarang itu semua?!”

”Maaf, Sir, kami...” Allan mencoba menjelaskan namun Bill langsung memotong.

”Jawab aku dengan jawaban ya atau tidak!”

”Iya, Sir.” jawab Allan dan Kevin bersamaan.

”Hah! Sudah kuduga! Kalian akan mendapat hukuman yang sangat berat! Siapa yang punya ide melakukan semua itu, hah?”
Kevin panik, memandang Allan yang masih menatap lurus ke depan.

”Maaf, Sir, kami... kami melakukan semua itu karena... karena kami hanya ingin merayakan diterimanya kami di tim basket Naiad, Sir.” jawab Allan mengambil alih keadaan panik itu.

”Memang apa peduliku, hah?! Aku tidak peduli kalian mau diterima di tim apa itu... aku tidak menerima alasan apapun! Tetap saja kalian tidak boleh melakukan semua itu di asrama!”

”Sir, Svanlaevich tidak bersalah... saya yang punya ide untuk mengambil makanan di dapur, Sir. Dia hanya...” Kevin mencoba mengakui kesalahannya.

”Diam! Siswa F40-155, kau berani bicara tanpa diminta untuk bicara! Kau akan mendapat hukuman!”

”Maaf, Sir... saya yang salah.” ucap Allan. Kevin memandang Allan dari samping lagi.

”Eh, kau ikut menyela lagi! Kau akan dapat hukuman lebih!”

”Tapi, Sir...” Kevin mencoba berbicara.

”Diam kau! Aku sudah menyuruhmu untuk diam!” bentak Bill. Kini Bill memandang Allan,”Temanmu itu sudah mengaku dia yang punya ide. Tetap saja dia biang keroknya kan? Kau tidak usah sok membelanya!”

”Maaf, Sir, Itu keputusan bersama kami.”

”Allan, sudahlah. Sir, Allan sebenarnya sudah mengingatkan saya tapi saya...”

”Diam, diam! Kalian semua diam! Kalian mendidihkan pikiranku saja! Intinya, kalian berdua salah!!...” Bill mengambil sebuah buku aturan dan membacanya sebentar,”... kalian masih anak baru tapi sudah berani-berani menyalahi aturan!...”

”...sebagai hukuman, kalian harus membuat paper sebanyak lima puluh lembar tulisan tangan tentang kedisiplinan dan harus dikumpul lusa pagi padaku!”

Allan dan Kevin terkejut namun mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka merasa itu konsekuensi akibat perbuatan mereka.

Ketika Bill mengambil sebuah buku besar bersampul logo Naiad dan bertuliskan Blackbook, Allan dan Kevin langsung lebih terkejut. Mereka merasa sanggup dihukum apa saja asal Bill tidak mengeluarkan buku itu.

”Kalian akan masuk Blackbook. Ini kesalahan pertama kalian.”

”Tapi, Sir... tolong jangan masukkan kami ke dalam buku itu.” ucap Kevin memohon.

”Enak saja! Kalian sudah membuat kesalahan dan kalian memintaku untuk tidak mendaftarkan kesalahan ini? Jangan mimpi! Selamat datang di Naiad!..” Bill menuliskan sesuatu di dalam buku itu. Allan hanya bisa menggeleng-geleng. Kevin kini mengusap-usap rambut coklatnya.

”..kesalahan kalian dihitung sebagai kesalahan pertama. Kalian sudah masuk Blackbook. Itu untuk mencegah kalian melakukan kesalahan yang berikutnya. Kalian tahu kan apa jadinya kalau kalian melakukan kesalahan yang kedua atau malah ketiga kalinya?”

”Kami tahu, Sir. Kami akan dikeluarkan.” ucap Allan.

”Bagus, kalian mengerti itu. Jadi ingat baik-baik. Kalian sudah mengantongi satu poin kesalahan. Hati-hatilah dalam bertindak di Naiad.”

”Iya, Sir.”

”Sekarang kalian harus lari keliling lapangan asrama sepuluh kali.”
Allan dan Kevin berpandangan.

”Tunggu apa lagi?! Sudah bagus aku tidak memenjarakan kalian di Blackroom! Cepat! Aku akan mengawasi kalian. Baru setelah itu kalian boleh kembali ke kamar.”

”Baik, Sir.”

Mereka berdua keluar dari ruangan itu, menuju lapangan dan mulai berlari.

”Maaf, All. Gara-gara ide gilaku, kau jadi ikut terlibat.” ucap Kevin sambil berlari.

”Sudahlah, tidak apa-apa. Aku juga senang dengan pesta ilegal itu. Kau tahu kan aku belum pernah melakukan hal gila seperti itu?”

By the way, thanks tadi... kau membelaku.”

That’s what friends are for.

So… we’re friends?

Of course, Kev.
*-*-*-*

Sibuk ya, All? How’s Naiad?
Do u enjoy it?

Allan membaca sebuah pesan singkat yang diterima di ponselnya malam itu di dalam kamar.

Maaf, td ad ptmuan asrama.
Kmi tdk blh bw HP kluar kmr.
Ya, aku suka dsni. Bgmn kbr Ananke?

Pesan demi pesan pun mulai teruntai dari ponsel Allan.

”SMS sama siapa sih? Sibuk banget.” ucap Kevin yang baru saja keluar dari kamar mandi.

”Katherine.” jawab Allan singkat.

”Oh... jadi dia ya? Pantas..”
Allan meletakkan ponselnya. Dia menoleh ke arah Kevin,”Maksudmu apa?”

”Ya itu... pantas kamu nggak antusias waktu dengar pengumuman dari Orrick kalau anak-anak tingkat satu akan dibawa ke Lysithea besok. Kau sudah punya cewek sih.”

”Hey, Kev, berapa kali aku harus bilang kalau Katherine itu sahabatku. Dari kecil. Rumah kami dekat. Kau tahu kan kalau aku nggak punya saudara? Nah, dia itu seperti adikku sendiri.”

”Lebih dari adik juga nggak ada yang melarang kok. Kau hanya belum mau mengakui perasaanmu saja.”

”Sudah, tidur sana.”
*-*-*-*

Lysithea High School, Thalassa, Tethys

Pagi itu sepuluh bus besar milik Naiad menurunkan 300 siswa barunya di pelataran sekolah Lysithea. Para laki-laki berhamburan di lapangan dan tak sabar memasuki area sekolah bisnis berasrama khusus perempuan itu.

”Hmmm... do you smell that?... aroma cewek!” Kevin tampak senang.

“Hey, Kev, betulkan lencanamu itu, miring.” ucap Allan.

Kevin langsung membetulkan posisi lencana di kerah kemejanya.”Kau ini ribut saja.”

”Kalau kau tidak rapi, kau tidak akan diijinkan para polisi Naiad yang mengawal kita untuk masuk ke Lysithea. Kau mau ditinggal di dalam bis?!”

”Iya, iya.”

Setelah mengikuti acara utama peringatan ulang tahun Lysithea yang sangat resmi di dalam aula besar Lysithea, para siswa kini bebas menikmati sajian dan beramah tamah dengan anak-anak Lysithea.
Suasana menjadi sangat riuh di aula yang cukup besar itu. Mereka mulai berbaur satu sama lain. Baik anak Naiad maupun anak Lysithea tampak sangat senang berkumpul dengan lawan jenis mereka.

”Lihat gadis-gadis itu... mereka cantik-cantik!” ujar Kevin sambil mencari mangsanya.

”Hey, kalian kenapa diam saja disini? Fruit punch mereka segar sekali. Coba sana...” ucap Joe mendatangi mereka,”... eh, aku sudah dapat incaran. Lihat cewek yang lagi mengambil minuman itu? Aku tadi berkenalan dengannya...”

Allan dan Kevin melihat ke arah tunjukan Joe. Seorang gadis berambut pendek tampak menuangkan minuman ke dalam gelasnya.

”... dia anak Louis Varren, sang pianis terkenal itu.”

”Oh ya?” ucap Allan dan Kevin bersamaan.

”Aku beruntung kan? Hehe... aku akan mendekati dia lagi. Ikan yang mulai memakan umpan, jangan ditinggal, nanti dia lepas lagi. Iya nggak? Kalian kenapa diam saja? Mulai berburu sana! Duluan ya,” Joe beranjak meninggalkan mereka berdua.

”Dia gerak cepat sekali. Baru sebentar sudah dapat kenalan cewek. Kau tahu, All, sejak upacara resmi tadi, aku melihat ada satu cewek cantik yang aku suka. Sekarang dia dimana ya? Aku mau cari ah,”

”Eh, Kev, mau kemana kau?”

”Mencari gadis impianku itu. Kau mau ikut?”

”Ya sudahlah.”

Mereka berdua berjalan menyeberangi ruangan sambil mencicipi makanan-makanan. Mata Kevin tak henti menjelajah lautan manusia itu. Kemudian mereka keluar dari ruangan menuju ke taman di belakang aula. Disana juga sudah banyak anak-anak menghabiskan waktu untuk saling berkenalan dan mengobrol.

”Ah, itu dia! All, lihat cewek yang lagi jalan ke arah air mancur itu! Itu dia gadis impianku! Akhirnya ketemu juga. Kau mau ikut juga?”

”Nggak ah. Malas.”

”Ya terserah kaulah. Tapi apa kau tidak mau berbaur dengan mereka? Ayolah... kesempatan ini jangan disia-siakan. Aku pergi dulu.” Kevin langsung meninggalkan Allan berdiri sendiri di sudut taman itu.

”Aah, mau ngapain lagi nih?” Allan melihat-lihat sekitar. Dia tidak mengingkari kalau gadis Lysithea memang cantik-cantik. Tapi entah kenapa dia belum merasa tertarik untuk menghampiri mereka. Kebanyakan dari mereka sudah bersama cowok-cowok Naiad yang lain.
Allan memutuskan untuk menghampiri sebuah bangku kosong di dekat air mancur. Setelah diajak keliling-keliling oleh Kevin, dia mulai ingin duduk. Allan duduk di bangku itu sambil melihat-lihat sekitar.

Beberapa saat kemudian seorang gadis duduk disampingnya di bangku itu. Dia tersenyum pada Allan dan Allan membalasnya.

”Aku boleh duduk disini kan?” tanya gadis itu. Gadis itu berambut coklat lurus sebahu lebih sedikit, rambut bagian bawahnya melengkung ke dalam, kulitnya putih, alisnya terbentuk rapi hasil cukuran, matanya indah dengan bulu mata lentik lengkap dengan maskara, hidungnya mancung, pipinya kemerahan lembut hasil sapuan blush on, dan bibirnya tipis lembut berwarna peach muda. Dia menambahkan sebuah syal panjang terikat diatas kerah seragam Lysitheanya.

”Tentu saja.” jawab Allan.

Gadis itu tersenyum lagi. Dia terdiam sebentar sebelum berucap,”Eh... begini... kau lihat sekumpulan cewek yang duduk di bawah pohon di kirimu?...”

Allan hendak menoleh tapi gadis itu mencegahnya,”...eh, jangan terlalu kelihatan kalau kau mau melihat mereka.” ucap gadis itu pelan.

”Oke...” Allan berpura-pura melihat-lihat sekitar sampai ke arah kirinya seperti yang ditunjukkan gadis itu. Allan melihat ada tiga gadis berdiri dan tampak sedang mengamati mereka.

”Kenapa?” tanya Allan kemudian.

”Begini... tapi... tapi kau jangan marah ya?”

Allan memandang gadis itu. Kali itu dia merasa bahwa gadis yang duduk di sebelahnya itu sangat cantik.

”Ada apa?”

”Janji jangan marah?”

Allan merasa geli dan penasaran dengan sikap gadis itu, dia tersenyum,”Oke.”

”Begini... mereka itu... teman-temanku... mereka menantangku... untuk... untuk...”

”Apa? Untuk apa?”

”... untuk berkenalan denganmu.” jawab gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.

”Oh, I see...” Allan mengangguk-angguk. Dia ingin sekali tertawa tapi dia menahannya. ”This girl is cute...” batin Allan.

“Lalu?” tanya Allan.

“Kamu jangan marah ya, tapi… tapi sejak upacara tadi... kami sudah melihatmu... dan... dan kami membuntutimu gitu... terus... waktu kamu sudah pisah sama temenmu itu dan... dan duduk disini... mereka langsung menantangku untuk menghampirimu dan... berkenalan denganmu.” gadis itu mencoba menjelaskan dengan pandangan ke depan, dia tak berani memandang Allan yang duduk disampingnya.

Allan menatapnya dari samping. Pipi dengan blush on itu tampak lembut dan cerah diterpa sinar matahari. Ketika gadis itu menoleh Allan masih menatapnya.

”Kamu marah ya?” tanya gadis itu agak khawatir. Allan hanya tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

”Allan Svanlaevich.” ucapnya.

Gadis itu terkejut dan hanya bisa menatap Allan.

”... lho, katanya kamu ditantang untuk kenalan denganku... sekarang aku sudah memberimu jalan untuk membuktikan pada mereka.”

Gadis itu memandang Allan, Allan mengangguk padanya, berusaha meyakinkan. Tak lama kemudian dia membalas uluran tangan Allan, mereka berjabatan.

”Claire,”

”Claire who?” Allan belum melepas jabatan tangannya. Masih menatap Claire dengan pandangan mengunci. Claire melihat ke arah teman-temannya yang masih memperhatikan mereka.

“Claire Parker.” ucap Claire langsung melepas tangannya dari tangan Allan.

”Oh, hai, Claire,”

”Hai... em… sudah ya, aku kan udah berkenalan denganmu”

”Kok buru-buru? Berkenalan kan bukan hanya sekedar tahu nama saja.

Kalau teman-temanmu tanya-tanya hal lain bagaimana coba?” Allan mencoba mencairkan suasana.

”Ya sudah deh.”

”Kamu darimana, Claire?” tanya Allan kemudian.

”Aku dari Thalassa saja kok. Rumahku di tengah kota. Kau?”

”Ananke.”

”Wah... jauh ya?”

”Nggak jauh kok. Cuma sepuluh centimeter dari Thalassa.” Allan tersenyum pada Claire.

”Iya, kalau dilihat dari peta kan? Aku juga tahu.”

Smart..” batin Allan.

“Kamu pintar juga ya.” ucap Allan.

”Terima kasih.” Claire mulai merasa santai.

”Jadi... aku bahan taruhan ya?” pancing Allan.

”Nggak.. nggak kok! Beneran! Kami nggak taruhan... cuma... ya itu... mereka menantangku untuk berkenalan denganmu. Mereka menghinaku terus kalau aku nggak berani...” Claire mulai khawatir lagi kalau Allan marah. Dan Allan senang sekali melihat pancaran ekspresi gadis yang baru dikenalnya itu kalau panik.
Allan hanya diam dan tersenyum.

”Kamu nggak marah kan?” tanya Claire.

”Memang kamu melihat ada ekspresi marah di wajahku?”

Pipi Claire tampak memerah, jelas sekali dia tersipu memandang senyum Allan.

”Kita cari tempat lain yuk. Teman-temanmu itu terus mengintai kita.”
Claire tampak terkejut,”Mau kemana?”

You tell me. Kamu kan tuan rumah disini. Kamu yang tahu tempat-tempat bagus disini.”

Claire tampak ragu.”Tapi jangan jauh-jauh ya?”

”Oke.”

Mereka berdua berdiri dari bangku itu. Claire tampak memberi isyarat pada teman-temannya untuk tidak mengikuti mereka. Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan setapak di taman itu. Beberapa bagian taman itu dibuat seperti maze yang berliku-liku.

”Tempat ini apa?” tanya Allan sambil berjalan mengikuti Claire.

Faith Park. Dinamai seperti itu karena kami dilatih untuk bisa yakin pada keinginan kami. Ketika baru masuk kesini, malam-malam kami disuruh masuk ke maze dan berjuang mencari jalan keluar.”

”Lalu, kau berhasil?”

”Iya sih. Setelah empat kali masuk. Tapi memang butuh waktu cukup lama untuk tidak tersesat. Kau mau mencobanya?”

”Boleh. Tapi kau tahu jalan keluarnya kan?”

”Iya, tenang saja.”

Ketika berbelok ke dalam maze, Allan dan Claire terkejut. Ada seorang cowok Naiad dan seorang cewek Lysithea sedang berciuman menyandar pada tembok rumput. Pasangan itu langsung kelabakan.

”Oh, maaf.” ucap Allan.

”Ayo kita pergi dari sini.”ajak Claire.

Mereka berdua menjauhi maze.

”Gila.. nggak jadi masuk maze nih.”ucap Claire.

”Anak Liberte.”

”Apa?”

”Liberte, salah satu koridor asrama.”

”Oh, aku tahu. Ada tiga koridor disana kan? Kau kenal dia?”

Saat itu juga terdengar teriakan keras, ”Hey, sedang apa kalian disana?! Apa yang kalian lakukan?! Kalian tidak boleh melakukan itu! Ayo kalian berdua ikut aku! Mana para polisi Naiad itu? Tidak bisa mengawasi anak didiknya!”

Claire dan Allan membalikkan tubuh mereka. Mereka melihat seorang wanita paruh baya memergoki pasangan tadi.
Claire tertawa,”Mrs Smith. Dia galak. Mereka bakal dihukum berat.”

”Begitu ya?”

”Iya.”

Mereka berjalan kembali.

”Kamu tahu tentang asrama Naiad?”

”Aku punya saudara disana... eh, kita balik ke bangku yang tadi saja ya... teman-temanku nanti curiga. Aku mau mereka melihat sendiri saja kalau... kita bisa ngobrol disana...”

”Oke.”

Mereka berjalan kembali ke bangku dekat air mancur itu. Mereka beruntung, bangku itu kosong.

”Kenapa mereka menantangmu untuk berkenalan denganku? Kenapa kamu yang ditantang?” tanya Allan kemudian.

”Apa kau akan menyinggungku soal itu terus?”

”Kalau kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa kok.” ucap Allan santai.

”Waktu upacara tadi... aku melihatmu...” Claire berhenti.

”Terus?”tanya Allan.

”Aku... aku bilang ke teman-temanku kalau...”

”Kalau?”

Claire menatap Allan,”... tapi jangan besar kepala ya? Aku bilang ke mereka kalau kamu tampan... jadi...”

”Jadi begitu.. Lalu kalian membuntutiku dan mencari kesempatan saat aku sendiri. Begitu?” ucap Allan membuat Claire malu.

”Eh, kamu jangan besar kepala ya... bukan berarti aku tertarik padamu.” kata Claire dengan harga diri yang selalu ditinggikan cewek di depan cowok.

”Oke.”ucap Allan lalu tertawa geli.

”Kok tertawa sih?”

”Hehe... sorry... nggak apa-apa kok.”

Claire tersipu lagi.

”Kamu tingkat berapa, Claire?” tanya Allan.

”Tingkat pertama. Kamu?”

So do I. Anak Naiad yang ada disini semua tingkat pertama.”

“Oh, begitu.”

”Eh, Allan,” panggil Claire beberapa saat kemudian.

”Iya, Claire?”

”Kamu anak koridor mana?”

”Aku Fraternite. Bagaimana di Lysithea?”

”Disini nggak dibagi koridor begitu. Semua sama. Cuma kamar-kamar dengan nomor yang berbeda.”

”Kalau begitu... kamu tinggal di kamar berapa?”

”Untuk apa kau bertanya itu?”

”Lho, kan kamu tanya aku dari koridor mana. Nah disini kan nggak ada
koridor, jadi aku tanyanya kamu tinggal di kamar nomor berapa. Impas kan?”

”Memang apa gunanya kamu tahu nomor kamarku?”

”Supaya aku bisa menyelinap dan mengetuk kamarmu kapan-kapan...”

”Apa?!” Claire melotot.

”Hehe... becanda...” Allan tertawa,”… ya nggak lah. Cuma ingin tahu aja. Lagipula untuk apa tadi kamu tanya aku dari koridor mana?”

”Cuma ingin tahu aja juga.” jawab Claire asal.

“Ya sudah…” Allan merasa menang.

”Sudah ah. Aku mau balik ke mereka. Aku sudah menerima dan berhasil menjalankan tantangan mereka.” Claire berdiri.

”Nggak mau jawab pertanyaanku?”

”Nggak!”

”Sudah cukup kenalannya?”

”Sudah, terima kasih.” ucap Claire singkat lalu berjalan. Baru beberapa langkah, Claire berhenti dan berbalik. Allan menatapnya dengan tatapan bertanya.

”Sudahlah.” Claire berbalik lagi.

”Claire!”panggil Allan. Claire menoleh.

“Kalau teman-temanmu merasa informasi namaku, asalku, dan di koridor mana aku tinggal belum cukup... katakan pada mereka kalau nomor handphoneku 0141-8799-6461...”

Claire melebarkan matanya seakan memberi kalimat hey, aku nggak tanya nomor HP kamu, percaya diri banget langsung kasih?

Allan tak peduli melihat tatapan aneh Claire, dia tetap melanjutkan kalimatnya,”... aku ulang sekali lagi ya... 01-41-87-99-64-61...” ucap Allan lebih pelan memenggal nomor-nomornya,”... dan katakan pada teman-temanmu kalau kamu boleh menelepon atau SMS ke nomor itu. Kapan saja. Atau kamu mau menukar nomorku dengan nomormu?” Allan tersenyum.

Claire tak mungkin mengingkari kenyataan Allan yang memang semakin tampan kalau tersenyum. Claire merekam apa yang dilihatnya. Rambut hitam Allan terlihat menari-nari ditiup angin. Claire juga merekam mata biru sayu yang terlihat seksi berlindung dibawah alis tebal yang terlihat sangat tegas. Alis kirinya agak tergores di bagian dekat ujungnya, menambah keindahan mata Allan. Hidungnya mancung menaungi bibirnya yang juga tipis seperti bibirnya. Sebuah rekaman yang tidak mengira akan didapatkannya mengingat sejam yang lalu dia hanya melihat sosok tampan itu dari kejauhan, diantara barisan siswa-siswa Naiad.

”Kamu yakin banget sih.” ucap Claire mengesampingkan rekaman yang baru saja dibuatnya.

Allan hanya tersenyum,”Well, nothing to lose.

Claire hanya menggeleng-geleng dan berlalu menjauhi Allan, mendekati teman-temannya. Allan bisa melihat teman-teman Claire mulai menginterogasi Claire. Kumpulan cewek itu kemudian berlalu dari pandangan Allan, memasuki gedung. Allan masih memergoki Claire yang mencuri pandang ke arahnya sebelum mengikuti teman-temannya. Dan Allan masih geli mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.

Read previous post:  
65
points
(2541 words) posted by lavender 8 years 39 weeks ago
81.25
Tags: Cerita | Novel | cinta | clique-lit | domestic drama | mainstream romance
Read next post:  
dadun at Limelight (4) (8 years 35 weeks ago)
90

ga nyangka allan genit juga ya :p
ayo nak, kembangkan sayapmu. sikat claire! wkwkwkwk

btw, jaman itu zaman. di mana, ke mana, di antara, di sini, di sana. hehehe.

seperti yg mbah kd bilang, "kerennnn!"

Writer lavender
lavender at Limelight (4) (8 years 35 weeks ago)

Ok akan diingat2.. daku msh suka nyambung tuh kata2 dmna2 T_T
Thank u dah mampir lg :)

Writer neko-man
neko-man at Limelight (4) (8 years 37 weeks ago)
100

oke, bagus. Komen apa lagi ya.. ntar aja deh..

Writer lavender
lavender at Limelight (4) (8 years 37 weeks ago)

oke, thank u, neko-man..

Writer herjuno
herjuno at Limelight (4) (8 years 38 weeks ago)
70

So, this is the romance part? At least awal mulanya.
Btw, idemu untuk mempertemukan cowo kcewek dengan cara menghadiri undangan ulang tahun itu bagus juga.

Writer lavender
lavender at Limelight (4) (8 years 38 weeks ago)

Ho oh.. Tengkyuk..

Writer suararaa
suararaa at Limelight (4) (8 years 38 weeks ago)
90

ketinggalan poinnya
(maap, soalnya tdi ol pke hape, eror mulu wktu ngasi poin..)

Writer lavender
lavender at Limelight (4) (8 years 38 weeks ago)

Ahahaha.. Thx..

Writer suararaa
suararaa at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)

Aku suka part ini.
Aku jg suka claire&alan.ayo dong mereka jadian hehehe (request pembaca)

Writer lavender
lavender at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)

thanks for reading.. :-)

Writer Riesling
Riesling at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)
90

What a cute chapter~~ Nomornya Allan beneran bisa dihubungin ga *kedap-kedip centil ga jelas*? xP

Writer lavender
lavender at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)

Heheheheh, coba ditalipun.. Thanks for reading :-)

Writer KD
KD at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)
100

kerennn

Writer lavender
lavender at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)

Waaaaaa KD ngomong.. Asiiikk.. Hehe.. Thanks master..

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)
90

saya jatuh hari pada Allan!
hahaha~~^^

Writer lavender
lavender at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)

hehehehe..
thanks for reading.. :-)

Writer majnun
majnun at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)
100

uhuy..

itu nope nya Allan kalo diacak lagi, bakal jadi nopemu ya mbak?
hyahahahahaha..

Writer lavender
lavender at Limelight (4) (8 years 39 weeks ago)

iihhhh kagaaaakk..
*tiwas ngecek lagi tulisan di atas, emang bener klo diacak nomerku??*
*ternyata saya ditipu*
hahahahaha..
ps : pake mbak2an segala siiihh.. iihhh.. ralat!