Limelight (5)

Seusai latihan basket sore itu di lapangan basket dalam arena Naiad indoor sport, Allan dan Kevin berjalan menuju ke ruangan loker. Mereka melewati arena latihan klub olahraga lain, dan terdengar suara-suara dari pelatih klub atletik yang tengah mengarahkan anak didiknya. Beberapa kali Allan dan Kevin berpapasan dengan teman-teman sekoridornya.

”Hey, All, itu kan seniormu di Welcome Night,” ucap Kevin ketika melihat Marvin Freeland berada diantara siswa-siswa klub atletik.

”Iya. Ternyata dia ikut atletik. Hebat juga.”

”Kau ini sepertinya mengidolakan dia.”

”Dia patut dicontoh, Kev.”

Mereka berdua terus berjalan memasuki ruangan loker. Ruangan itu berisi loker-loker milik siswa Naiad yang aktif ikut kegiatan olah raga. Di dalam ruangan itu ada beberapa siswa Naiad berseragam klub atletik yang sedang beristirahat di bangku-bangku panjang sekeliling ruangan.

”Hei, Frank! Kau ikut atletik?” Kevin berteriak pada salah seorang laki-laki yang duduk di bangku itu.

”Eh, Kev... iya... berat nih. Aku nggak nyangka bakal seberat ini latihannya.”

”Aku ke dia dulu, aku sekelas dengannya di kelas Akuntansi.” ucap Kevin pada Allan.

”Oke. Aku duluan ke loker.”

Allan berjalan diantara barisan loker-loker siswa. Sesampainya di loker yang dicarinya, Allan terkejut.

”Apa nih...” Allan menemukan secarik kertas ditempel di pintu lokernya. Allan langsung membacanya.

STAY AWAY FROM CLAIRE!!

“Siapa nih yang… ah… ada-ada saja…” Allan melepas kertas itu dari pintunya dan meremas kertas itu sebelum melemparkannya ke dalam keranjang sampah. Allan mencari kunci loker dari saku celananya dan membuka pintu lokernya.

”Kalau aku jadi kau, aku akan perhatikan peringatan itu!” sebuah suara tiba-tiba terdengar di barisan loker itu. Allan menghela nafas sebelum menoleh ke asal suara. Allan pernah melihat laki-laki itu. Laki-laki yang pernah dibilang Kevin sok kuasa di kelas Pengantar Bisnis, bersama tiga orang temannya berdiri beberapa meter dari tempat Allan berdiri menghadap lokernya. Mereka menatap Allan seakan mereka adalah penguasa.

”Kau kenal siapa aku?”

Allan menutup pintu lokernya,”Aku tidak tahu namamu. Tapi... aku tahu kita sekelas di kelas Pengantar Bisnis.”

Laki-laki itu berjalan mendekat diikuti teman-temannya.

”Kau dengar kataku tadi kan? Kau sebaiknya memperhatikan peringatan itu. Dan camkan baik-baik!”

”Maksudmu apa?”

”Nggak usah basa-basi! Claire itu bagianku... aku sudah mengincarnya sejak dia belum menginjakkan kaki di Lysithea! Aku dulu temannya di Junior High. Kau harus tahu itu!”

”Oh... jadi yang kau maksud Claire anak Lysithea. Lalu?” Allan mencoba bersikap tenang. Dia melihat gerombolan itu, salah satunya adalah laki-laki yang pernah dilihatnya bersama Claire tengah bermesraan di maze taman Lysithea.

”Bodoh sekali sih dia!” ujar temannya.

”Sudah, hajar saja dia sekarang, Luke!”

”Iya, Luke, peringatan sungguhan! Biar dia tahu rasa!”

Allan kini mulai mengerti posisinya saat itu. Laki-laki itu tampak menenangkan teman-temannya sebelum berkata,”Kau nggak tahu apa-apa soal Claire! Aku yang tahu banyak soal dia! Dan kau... kau mencuri kesempatan yang aku punya saat di Lysithea!”

”Bagaimana aku tahu aku mencuri kesempatanmu? Aku bahkan belum mengenalmu. Dan dia yang menghampiriku. Kenapa kau tak menggunakan kesempatanmu sebelum dia menghampiriku?... maaf, tapi aku nggak tahu apa keinginanmu.”

”Heh, Svanlaevich... kau nggak usah memberitahuku, aku tahu kau tertarik dengannya! Dan kau mau tahu keinginanku, ha?! Aku ingin kau tidak usah mendekati Claire lagi! Atau kau akan tahu rasa!”

Allan menggeleng-geleng tak percaya dengan apa yang dihadapinya saat itu, ”Kau mengancamku?... Dengar ya... Luke?... Luke, aku hanya bertemu Claire saat di Lysithea dan aku nggak pernah berhubungan dengannya sejak itu. Masalah aku tertarik dengannya atau tidak... itu urusanku! Kalaupun nanti aku bertemu dengannya lagi dan bagaimana selanjutnya... itu urusanku dan kurasa kau nggak perlu tahu masalah pribadiku. Jadi... kau buang-buang waktu saja mengancamku seperti ini.”

”Heh, berani kau? Jangan macam-macam sama Luke!” ucap anggota geng itu.

”Anak Fraternite nggak usah cari masalah sama anak Liberte!”

”Ada apa nih?” Kevin datang menghampiri Allan. Dia terkejut melihat temannya dikelilingi empat anak Liberte. ”Kenapa, All?” tanya Kevin.

”Nggak usah sok berani! Ingat ya, aku nggak main-main! Aku akan terus mengawasimu!...” ancam Luke lagi.

”Ada apa sih ini?!” Kevin mulai bereaksi.

”Kau nggak usah ikut-ikutan! Ini antara aku dan teman sekamarmu ini!...” ucap Luke, ”...kita balik!”

Rombongan pengancam itu kemudian berlalu dari tempat itu.

”Ada apa sih, All?” Kevin masih bingung.

Allan membuka pintu lokernya lagi, ”Sudahlah, nggak usah diperhatikan.”

”Eh, nggak bisa begitu. Mereka tuh satu geng, All! Dia anak Liberte kan? Mereka mengancam kamu apa?”

Allan memasukkan beberapa barang dari tas yang tadi dibawanya latihan ke dalam loker.”Namanya Luke. Dia nggak mau aku mendekati Claire.”

”Hah? Claire? Claire anak Lysithea? Yang ketemu denganmu kemarin?”

”Sepertinya sih Luke suka sama Claire dan dia nggak mau aku ada hubungan sama Claire. Nggak penting, toh aku nggak bakal ketemu Claire lagi. Bagaimana aku bisa berhubungan sama dia?”

”Kacau tuh anak!” Kevin membuka lokernya kemudian memasukkan barang-barangnya.

”Salah satu temannya melihatku bersama Claire saat itu. Mungkin dia mengadukannya pada Luke.”

”Memang Luke tuh pacar Claire?”

“Entahlah. Aku nggak peduli sama dia. Ayo,”

Mereka berdua keluar dari ruang loker dan berjalan menuju pintu keluar gedung pusat.

”Kelihatannya Luke nggak main-main, All.”

”Terus kenapa?”

”Anak Liberte seperti dia bisa melakukan apa saja.”

”Kev, ini kan Naiad. Segalanya diawasi. Sudahlah, nggak usah pikirkan dia.”
*-*-*-*

Akhir pekan itu, Allan dan Kevin harus latihan basket dari pagi hingga sore sementara anak-anak Naiad lainnya menghabiskan hari bebas mereka untuk bersenang-senang di setiap sudut kota.

”All, ayo kita keluar. Barang-barang kebutuhanku sudah habis nih. Aku mau cari supermarket di kota.” ucap Kevin.

“Bolehlah,”

Mereka berdua keluar dari area Naiad, menuju ke halte bus paling dekat.

”Wah mana sudah sore lagi. Kalau caranya begini, bagaimana kita bisa menikmati one day off kita?” keluh Kevin. Mereka berdua berdiri di halte pemberhentian bus.

”Kita ini sebentar lagi akan ada pertandingan.”

”Iya, tapi paling kita cuma jadi cadangan dulu. Masih baru tapi Coach Flick terus saja meminta kita lebih keras latihan.”

Sebuah bus berhenti di depan mereka. Mereka berdua langsung menaiki bus itu.

”Thalassa memang kota yang sangat ramai.” ucap Kevin yang duduk di dekat jendela, melihat ke luar kaca bus ketika bus sudah menuruni perbukitan menuju ke tengah kota.

”Namanya juga ibu kota.”

”Di Talon, bangunan tinggi-tinggi masih jarang sekali. Bagaimana di Ananke? Aku belum pernah kesana. Katanya ada danau yang bagus.”

”Ya... danau itu dekat lingkungan rumahku.”

”Oh ya?”

”Iya. Aku sering kesana dengan...”

”Dengan Katherine?” potong Kevin.

Allan menatap Kevin, ”Kev, jangan mulai lagi.”

”Oke...” Kevin tertawa.

”Kita belum pernah masuk ke cafe-cafe disini nih, All.” ucap Kevin ketika mereka melewati jajaran cafe-cafe yang nama-namanya terpampang besar.

”Kapan-kapan kita kesana.”

”Susah ada kesempatan. Kita banyak latihan basket. Kalaupun ada kesempatan, kita harus sudah balik ke asrama penjara itu jam sembilan malam. Apa asyiknya coba ke cafe cuma sampai jam sembilan malam?”

Allan tertawa, ”Kau ini... mengeluh terus.”

”Aku mulai bosan disini, All.”

“Hey, kita baru dua bulan disini. Jangan putus asa begitu.”

Bus mereka berhenti di salah satu pemberhentian.

”Eh, ayo kita turun.” Allan berdiri diikuti Kevin. Mereka berdua kemudian berjalan di trotoar yang dipenuhi tenda-tenda dengan meja dan kursi dibawahnya, sebuah restoran outdoor. Para penduduk ibukota tampak menikmati akhir pekannya dengan santai di restoran terbuka itu.

”All, cewek-cewek di arah jam tiga.” ucap Kevin. Allan menengok ke arah yang dimaksud. Sekumpulan gadis duduk mengelilingi salah satu meja di bawah tenda itu. Mereka tampaknya juga melihat ke arah Allan dan Kevin. Samar-samar terdengar pembicaraan mereka.

”Cowok-cowok Naiad tuh,”

”Selalu kelihatan seksi dengan seragam mereka...” cewek-cewek itu tertawa.

Allan dan Kevin hanya pura-pura tak mendengar sambil terus berjalan menatap ke depan.

”Kau dengar itu? Mereka bilang kita seksi dengan seragam ini hahaha!” Kevin tertawa.

”Ya ya... aku dengar.” Allan ikut tertawa.

Hampir sampai di supermarket yang mereka tuju, Allan melihat seorang laki-laki yang dikenalnya keluar dari swalayan.

”Trent?...” Allan mempercepat langkahnya menuju ke swalayan diikuti Kevin,”... Trent! Trent!” panggil Allan. Namun yang dipanggilnya sudah menghilang di belokan dan tidak mendengar teriakan Allan.

”Trent?” tanya Kevin.

”Dia temanku dari kecil. Orang tuanya dan orang tuaku bersahabat. Dia sering main ke Ananke. Aku juga dulu kadang-kadang suka kemari. Karena itu aku masih agak mengerti jalanan di kota Thalassa. Wah, sayang sekali dia tidak mendengarku. Ya sudahlah... ayo kita masuk.”

Mereka berdua memasuki supermarket yang cukup besar berdiri di sudut jalan itu.

”Aku pernah kesini sekali dengan Trent. Waktu itu kami masih kecil dan membeli bola basket untuk dimainkan di rumahnya.”

”Tempat ini ramai sekali.” kata Kevin sambil memandangi hiruk pikuk orang dan transaksi yang terjadi di kasir-kasir yang tertata memanjang hampir selebar ruangan swalayan.

”Ini termasuk supermarket paling lama disini.”

Mereka kemudian langsung mencari barang-barang yang mereka inginkan.

”All, aku mau kesana ya.” Kevin menunjuk bagian peralatan mandi.

”Kalau kau menemukan gel rambut disana, ambilkan aku satu.” ucap Allan.

”Apa? Gel rambut? Nggak salah?... mau kau apakan rambutmu?”

”Sudahlah, sana...”

”Oke...” Kevin berjalan meninggalkan Allan.

Allan masih melewati rak-rak di dalam swalayan itu. Ketika berbelok pada salah satu koridor makanan kecil, Allan melihat seorang gadis sedang memilih-milih keripik kentang. Allan memicingkan matanya, mencoba memastikan siapa yang dilihatnya kemudian tersenyum dan langsung berjalan menghampiri gadis itu.

”Hai, ketemu lagi...” sapa Allan langsung. Gadis itu terkejut hingga menjatuhkan sekantong keripik kentang yang tadi ditimangnya.

”Umm... Allan?”

”Kamu ingat juga namaku, Claire.” Allan memungut keripik kentang itu dan memberikannya pada gadis itu.

”Ya, aku ingat...” Claire menerima keripik kentang itu,”... terima kasih.” Claire meletakkan keripik itu kembali di rak sementara dia melanjutkan kegiatan memilihnya.

”Kupikir kau akan beli yang itu.” ucap Allan.

”Nggak ah... aku berubah pikiran... kau sedang apa disini?”

Allan mulai merasa gadis itu salah tingkah dilihat dari pertanyaannya barusan.

”Mau merampok swalayan ini... hehe... ya sama dengan apa yang kaulakukan disini lah.”

”All, aku dapat gel rambutmu nih!” Kevin tiba-tiba muncul dengan teriakan. Claire melihat ke arah Kevin. Allan langsung menatap Kevin dengan pandangan yang mengatakan ”Singkirkan benda itu sekarang juga!”

Kevin tampak tak mengerti dan mendekati Allan. Claire tersenyum, ”Stylish juga...” ucap Claire sambil memasukkan salah satu kantong keripik kentang pilihan terakhirnya ke dalam keranjang belanja yang ditentengnya.

”Kevin, ini Claire...” Allan mengalihkan pembicaraan dengan mengenalkan Kevin dengan Claire. ”Claire, ini Kevin, teman sekamarku di Naiad.”

”Oh...” Kevin mulai mengerti maksud Allan dan buru-buru memasukkan gel rambut itu ke dalam keranjang belanjanya.

”Hallo, Claire.” sapa Kevin.

”Hai… umm.. aku… duluan ya,” Claire berlalu begitu saja dari hadapan mereka. Kevin langsung mengangkat telapak tangannya, menunjukkan sembilan jari-jarinya dengan maksud memberi penilaian atas gadis yang baru saja dikenalkan padanya itu.

Go for her!” Kevin berucap pelan. Allan langsung mengejar Claire yang sudah berbelok ke rak minuman.

”Claire!”

Claire menghentikan langkahnya,”Kau mau mengikutiku ya? Disini nggak ada barang-barang cowok. Tuh lihat tulisannya... beverages.”

”Umm... I was wondering if I could ask u to enjoy a cup of coffee with me at the restaurant nearby.” Ucap Allan langsung pada intinya.

Claire menatap Allan lekat-lekat.

Too bad... Aku baru saja minum kopi disana sebelum aku kesini.” Claire kemudian memilih-milih minuman bersoda di rak itu.
Allan tak menyerah, dia langsung kembali berkata, ”Well... tapi kau belum merasakan tehnya kan?”

Claire kembali menatap Allan. Claire pikir Allan tidak bisa membuat alasan yang lebih baik untuk mengajaknya tapi dia tahu benar apa sebenarnya maksud Allan.

Just for a few minutes?” bujuk Allan.

Setelah berpikir kira-kira lima detik, Claire akhirnya berucap pada Allan,”Aku selesaikan belanjaku dulu.”

Allan tersenyum,”Take your time.
*-*-*-*

Mereka berdua memilih duduk di bawah salah satu naungan tenda restoran dekat jajaran pohon tepi jalan. Claire sedang meminum teh hijaunya sementara Allan mencari bahan pembicaraan untuk membuat gadis yang duduk di depannya bisa bicara dengan bebas dengannya.

I was waiting for your call.” ucap Allan.

Really? I didn’t even remember your number.

Allan merasa semakin penasaran dengan gadis yang diajaknya bicara sore itu.“So.. di Lysithea kamu ambil kegiatan tambahan apa?”

“Drama.” jawab Claire singkat. Matanya yang cantik melihat-lihat ke jalan raya.

“Drama? Kau ingin jadi aktris ya?”

”Ya... aku ingin jadi pemain drama panggung. Aku suka sekali dunia drama.”

”Oh ya? Apa kau juga ingin jadi orang dibalik layar? Atau kau hanya ingin jadi pusat perhatian?”

”Aku juga ingin jadi orang di belakang layar. Aku ingin menciptakan cerita-cerita mengagumkan. Cerita-cerita yang happy ending. Karena aku benci sekali sad ending.

”Sebagai pemain drama, kau tidak adil pada jenis cerita.”

Claire kembali meminum minumannya.”Iya... aku tahu. Aku memang benci dengan sad ending. Tapi tentu saja aku akan selalu konsekuen dengan peran-peranku di cerita jenis apapun.”

”Berprinsip.” ucap Allan.

”Prinsip itu penting.”

”Tentu saja.”

”Kau tahu, Claire?” ucap Allan kemudian.

”Apa?”

Allan menatap Claire lekat-lekat, dia melihat kecantikan terpancar dari wajah Claire. Sebuah kecantikan yang baru saja ditemukannya di kota sebesar Thalassa.”Di belakang layar pun aku yakin… kau tetap akan jadi pusat perhatian.”

Claire tertawa kecil, ”Apa kau baru saja berusaha merayuku?”

”Anggap saja… kau menang taruhan dengan teman-temanmu.”

Claire terdiam. Dia berusaha mengalihkan pandangannya kemana saja di sekitar mereka berdua duduk. Melihatnya Allan langsung membuka pembicaraan.

”Jadi… apa kata teman-temanmu dulu?”

”Apa?”

”Setelah kita berkenalan…”

”Oh… mereka bilang… ah… tidak, aku tidak akan mengatakannya padamu. Pembicaraan antar perempuan.”

”Baiklah kalau begitu.”

Mereka berdua terdiam.

”All,”

”Ya?”

Claire tampak ingin mengatakan sesuatu tapi cepat-cepat dia mengurungkannya, ”Temanmu tadi mana?... Kevin ya?” hanya pertanyaan itu yang akhirnya terlintas di pikiran Claire untuk menutupi kalimat yang ingin diucapkannya sebelumnya.

”Kevin sudah kembali ke Naiad. Katanya sudah mengantuk, kecapekan.”

”Capek? Memang seharian libur ini kalian kemana saja? Keliling kota ya?”

”Tidak. Kalau kami mau keliling kota kami butuh guide. Kau mau jadi guide kami kapan-kapan?”

Claire tersenyum,”Sewa saja guide sungguhan.”

Allan hanya bisa tertawa mendengar penolakan tegas itu.

”Claire,”

Claire menatap Allan.

May I have your number?

For what?

For calling you of course… to talk with you everytime I want to…

“Memangnya kau yakin aku mau bicara denganmu tiap kali kau telepon?”

“Iya, aku yakin.” Allan menatap lekat Claire dengan pandangan mengunci.

“All, di Naiad tuh disiplin sekali ya? Memangnya kenapa sih sekolah bisnis harus sedisiplin militer?” Claire mengalihkan pembicaraan mereka dengan tidak menjawab pertanyaan Allan.

Allan tersenyum, dia tahu Claire tidak akan begitu mudahnya memberikan nomor ponselnya. Maka dia pun mengikuti alur pembicaraan yang diciptakan Claire.

”Iya... sangat disiplin. Aku mulai merasakannya sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Naiad, apalagi malam pertamanya ketika kami harus berhadapan dengan senior-senior.”

”Senioritas.” ucap Claire.

”Ya... hal itu masih berlaku di Naiad. Kami dididik untuk disiplin dan bertanggung jawab dalam mengerjakan segala pekerjaan dan tugas-tugas. Jadi nanti kami bisa mendapatkan kesuksesan di dunia bisnis...”

Ketika Allan berbicara panjang lebar, Claire memanfaatkan kesempatan itu dengan mencuri-curi pandang ke mata Allan. Allan tidak sadar kalau Claire sedang memandang tiap sudut wajahnya, mulai dari helai-helai rambutnya, dan Claire menghabiskan waktu yang sangat lama ketika sampai di bagian alis dan mata Allan, bagian yang sangat disukainya dari wajah Allan.

”... sistem seperti itu mungkin juga untuk mencegah adanya tipikal orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang sekarang banyak sekali menjadi parasit di perusahaan-perusahaan besar yang... kapan saja bisa merugikan perusahaannya. Begitulah. Jadi mau tidak mau di Naiad...”

”0143–6071–2884.” ucap Claire memotong kalimat Allan. Setelah mengucapkannya Claire kembali meminum tehnya yang tinggal seteguk.

Allan menghentikan kalimatnya, dia tersenyum,”Thanks.

”Memang kau dengar dengan tepat apa kataku tadi?” tanya Claire.

” 0143–6071–2884. I’ll call you.” jawab Allan membuat Claire terkejut. Dia tidak menyangka Allan akan dengan cepat bisa menangkap dan langsung menghafal nomor yang tadi diucapkannya.

Already in my head.” ucap Allan sambil menunjuk kepalanya sambil tersenyum.

“Apa semua anak Naiad seperti ini?... bisa dengan cepat menghafal...”

”Mendapatkan nomor telepon dari seorang gadis seperti kamu... tentu saja langsung ingat.”

Claire merasa jawaban yang diberikan Allan hanyalah jawaban merendah, dia yakin dia sedang berinteraksi dengan laki-laki yang pintar. Tapi Claire juga merasa dia tengah dirayu.

“Mungkin nggak kalau kita ketemu lagi hari Minggu besok?” tanya Allan.

Claire tersenyum, kali ini Allan yang mengambil kesempatan menikmati pancaran indah yang muncul dari wajah Claire.

”Allan… Did you just asked me to have a date with you?

Short of.

“Kau baru saja mendapatkan nomorku dan sekarang kau… mau mengajakku kencan?”

”Kau boleh menyebutnya apa saja. Aku menunggu jawabanmu, Claire. Besok aku ada latihan basket, sepulangnya kalau kau bersedia... kita bisa bertemu disini.”

”Entahlah, All.”

Ok... you’ll need time to think.

“Kau boleh menyebutnya apa saja...” Claire membalas ucapan Allan, melirik jam tangannya,”... sudah sore, All. Aku harus cepat kembali ke asrama.”

”Baiklah.” Allan mengiyakan.

”Terimakasih untuk tehnya...” Claire beranjak dari kursinya. Allan hanya mengangguk dan menunggu tanda-tanda positif dari Claire sebagai modal untuk Allan apakah akan melanjutkan langkahnya atau tidak. Claire berlalu dari meja itu. Allan masih menunggu.
Tiga langkah, Claire membalikkan tubuhnya.

It’s nice to meet you... see you,

Dan akhirnya Allan mendapatkan tanda positif itu.

Read previous post:  
73
points
(2949 words) posted by lavender 8 years 39 weeks ago
81.1111
Tags: Cerita | Novel | cinta | clique-lit | domestic drama | mainstream romance
Read next post:  
Writer neko-man
neko-man at Limelight (5) (8 years 37 weeks ago)
100

Wah, sekolah bisnis.. Ini baru menarik. Kreatif.

Writer lavender
lavender at Limelight (5) (8 years 37 weeks ago)

thank u, neko-man.. saya lagi stuck nih.. hehe..

Writer man Atek
man Atek at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)
100

wuich, makin ramai aja, sipsip!

Writer lavender
lavender at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)

man Atek, mampir ke cerita lomba saya juga, disini : Make A Wish

Writer majnun
majnun at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)
100

Allan nya ko' ternyata genit?
*jadi kayak ngaca*
hyahahahahaha..

Writer lavender
lavender at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)

Brarti majnun genit... Xoxoxoxo..

Writer suararaa
suararaa at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)
80

terus gimana nih nasib katherine...? apakah akan disinggung??hhehehe :D

Writer lavender
lavender at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)

hmm.. *dipikirkan*.. xixixi..
thanks for reading.. :-)

Writer Riesling
Riesling at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)
80

Ada beberapa kata-kata yang kurang pas dan grammar yang keselip dikit...

...Allan pinter ngomong juga. Kutunggu nasibnya di chapter selanjutnya~~

Writer lavender
lavender at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)

hehehehe licin jalannya bikin keselip..
thanks for reading.. :-)

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)
90

wah, Allan pedekate^^

Writer lavender
lavender at Limelight (5) (8 years 38 weeks ago)

hehe ho oh.. thanks for reading.. :-)