Limelight (6)

(Fraternite B/28, Naiad, Thalassa, Tethys)

”Duh... apa sih ini?!” Kevin tampak putus asa di depan meja.

”Kenapa, Kev?” tanya Allan dari meja belajarnya. Tangannya masih terus bergerak mengisi kertas di hadapannya.

”Kenapa sih weekend begini harus mengerjakan tugas?”

”Karena deadlinenya Senin.” ucap Allan singkat.

Kevin beranjak dari kursinya dan menghampiri Allan. Dia berdiri mengamati pekerjaan Allan,”Kau lancar sekali sih membuatnya. Bantu aku dong...”

Allan menghentikan tangannya.”Ada apa?”

“Ajari aku, All… aku nggak mengerti sama sekali.”

Allan berdiri dan bersama Kevin menuju ke meja Kevin. Allan mulai memberikan penjelasan pada Kevin tentang tugas mereka.

”Bagaimana?” tanya Allan.

”Lumayanlah.”

Allan kembali ke kursi belajarnya.”Ya sudah, mulai dikerjakan sana…”
Kevin tak segera mengerjakan, dia malah merebahkan tubuhnya di kasurnya,”Lapar nih, All.”

”Baru sejam dari makan malam, Kev.”

”Tapi kau tahu kan jatah makan kita nggak memenuhi kebutuhan perut!”

Terdengar bunyi SMS masuk dari ponsel Allan yang tergeletak di ranjangnya.

”SMS tuh, All. Claire mungkin!” Kevin bersemangat. Dia mengambilkan ponsel itu dan memberikannya pada Allan. Allan menerima dan langsung membacanya.

Terimakasih untuk tehnya td

Allan tersenyum membacanya.“Kau benar, Kev.” Jawab Allan.

“Berarti kau berhasil menaklukkannya, All! Buktinya dia SMS kamu duluan.”

Allan tak menyahut kalimat Kevin, dia tengah menyusun kalimat balasan untuk SMS Claire.

You’re welcome
Jd... bgmn ajakanku td sore?
Btw, km msh ingat jg no ku

I like this girl..” gumam Allan.

“Apa?” Kevin mencoba meyakinkan apa yang baru saja didengarnya.

”Apa?” Allan balik bertanya.

”Aku tanya apa yang kamu katakan barusan?”

”Memang aku bilang apa?” Allan mencoba menghindar.

”Hey, jangan menghindar. Ayo, ulangi kata-katamu tadi.”

Allan meletakkan ponselnya di mejanya,”I like this girl...

”Claire?” Kevin masih menyindirnya.

“Iya… dia. Kau puas?”

Kevin tertawa,”Sangat puas! Hahaha!... akhirnya kau akui juga.”

Tak lama berselang, Allan kembali mendengar bunyi SMS masuk di ponselnya.

Aku hanya kebetulan ingat no-mu

”Kau sudah mengajaknya kencan?” tanya Kevin.

”Sedang kuusahakan, Kev.”

”Cewek seperti dia jangan disia-siain, mumpung ada kesempatan.”

I know.

Hmm,aku tau persis wkt itu
km pasti lngsung mnghfal no-ku kan?
So,Claire,bgmn ajakanku td sore?

“Hey, Kev, kau sudah pernah punya pacar?” tanya Allan ketika menunggu SMS balasan dari Claire.

Kevin berpindah dari ranjangnya lalu duduk di ranjang Allan.

”Cewek pertamaku itu waktu aku duduk di tingkat dua Junior High. Tapi cuma setahun kurang aku jalan sama dia. Dia selingkuh sama pemain baseball yang sudah sering memenangkan sekolahnya. Sejak itu, aku bertekad keras main basket agar bisa membuktikan padanya aku juga mampu.”

”Sekarang kau sedang berusaha membuktikannya dong.”

”Iya, tapi saat ini aku bahkan tidak tahu dia ada dimana. Jadi ya, masa bodoh lah. Aku bisa cari cewek lain lagi.”

”Kau harus bisa jadi terkenal, Kev. Nanti kalau cewek itu tahu kamu terkenal, lebih terkenal dari cowok itu, dia pasti menyesal.”

“Tentu saja!”

Sebuah SMS masuk menyela obrolan mereka.

Meet me at la plagne cafe dekat Lysithea
3 pm on time

”Bagaimana?”tanya Kevin melihat pancaran kegembiraan di mata Allan.

I’ll have a date tomorrow.
*-*-*-*

Keesokan harinya seusai latihan basket dan makan siang, Allan sudah bersiap-siap di kamarnya. Ketika Allan sibuk menata rambutnya menjadi tampak spikey dengan gel rambut yang baru dibelinya kemarin, Kevin membuka pintu dan masuk ke dalam.

”Wah, wah... benar apa yang kupikirkan.” Kevin memperhatikan Allan.

”Apa? Kau darimana? Habis makan menghilang.”

“Dari Egalite. Tadi diajak sama Joe.”

Allan sudah selesai menata rambutnya.

“Benar… apa yang kupikirkan memang sangat benar.”

”Apa, Kev?” Allan menatap temannya yang sedang duduk di ranjang.

”Kau ingin menjadi seorang Marvin Freeland.”

”Apa maksudmu?” Allan mengenakan jas Naiadnya.

”Ah, sudahlah tidak perlu mengelak. Lihat kau apakan rambutmu itu... sama persis seperti Freeland. Wah, sebegitunya kau mengidolakan senior itu?”

”Terserah apa katamu, Kev. Aku berangkat dulu.” Allan mendekati pintu kamar.

Kevin tertawa,”First date, huh? Hahaha… Good luck!”
*-*-*-*

(La Plagne Café, Thalassa, Tethys)

“Maaf aku terlambat.” Claire baru saja menghampiri meja dimana Allan sudah duduk sepuluh menit yang lalu.

It’s ok.” Allan tersenyum padanya. Dia memandangi Claire yang juga mengenakan seragam sekolahnya.

”Kamu on time juga ya,” ucap Claire.

“Bukankah kamu yang memintaku untuk tepat waktu. Kamu mau pesan apa?” Allan melambaikan tangannya ke arah seorang waiter. Claire melihat ke arah segelas minuman di depan Allan.

”Sama saja dengan kamu.”

Lime Mix satu lagi,” ucap Allan pada pelayan laki-laki itu yang langsung mengangguk dan melesat pergi.

”Jadi apa membuatmu betah di Naiad?” Claire membuka pembicaraan.

”Basket. Aku... berhasil masuk tim basket Naiad.”

”Hebat dong, selamat ya,”

Thanks. Aku sangat menyukai basket, Claire. Semua bermula sejak umurku empat tahun. Aku menemukan bola basket penuh debu di gudang. Ternyata itu milik ayahku dulu semasa dia masih suka main basket. Sejak itu, dia mengajariku segalanya tentang basket. Dan aku ternyata sangat tertarik dengan permainan itu.”

”Memangnya ayahmu dulu pemain basket?”

”Pemain basket waktu sekolah. Dia nggak pernah masuk klub. Katanya basket bukan jiwanya, basket hanya caranya untuk bersenang-senang waktu sekolah. Itu yang dia ceritakan padaku.”

“Oh begitu rupanya.”

Pembicaraan mereka disela seorang pelayan yang kembali membawa segelas minuman untuk Claire.

”Terima kasih,” ucap Claire.

”Jam bebas di Lysithea sampai jam berapa?” tanya Allan kemudian.

“Jam sembilan malam gerbang asrama ditutup.”

Allan melirik jam tangannya,”Jadi aku masih punya lima jam tiga puluh tiga menit untuk mengajakmu bersenang-senang.”

Claire tersenyum meremehkan,”Kau mau mengajakku bersenang-senang kemana? Memangnya kau tahu tempat-tempat bagus disini?”
Allan menatap Claire, balas tersenyum,”Kau yang memberitahuku.”
*-*-*-*

(Knock Out Park, Thalassa, Tethys)

Claire membawa Allan ke Knock Out Park, sebuah taman hiburan yang penuh dengan permainan yang memacu adrenalin.

“Kenapa kita tidak turun ke kota?” tanya Allan.

”Nggak ah, aku bosan. Lebih asyik disini.”

“Kita masuk 3D Cinema ya?” ajak Allan.

“3D Cinema? Nggak seru banget sih! Kita naik rollercoasternya dulu dong!” Claire bersemangat dan menarik tangan Allan mendekati wahana rollercoaster.

”Aku pikir kau tidak suka...”

Rollercoaster? Aku kecanduan! Kenapa, kau tidak berani?”
Claire memberikan tatapan nakal pada Allan.

“Aku tidak berani? Yang benar saja!”

“Kau tahu, All, ini rollercoaster paling tinggi di Tethys!”

Allan melihat ke arah telunjuk Claire, menunjukkan kereta rollercoaster tengah merayap naik ke puncak tertinggi sebelum akhirnya meluncur ke bawah. Allan mulai merasa khawatir melihatnya. Sebenarnya dia lumayan takut dengan ketinggian.

“Kok bengong sih? Ayo kita mengantri!”

Sekitar tiga jam mereka berputar-putar di taman itu mencoba segala permainan yang paling ekstrim. Mereka sudah banyak bercerita tentang diri masing-masing selama menghabiskan waktu di taman itu. Kelelahan, mereka menuju tepi sebuah danau buatan yang ada di dalam taman itu.

“Seharusnya mereka memasang tanda tidak mengijinkan pemain basket main permainan di stand bola basket itu. Terutama kau. Mereka bisa rugi besar.” ucap Claire sambil kesulitan membawa dua buah boneka beruang kecil dan sebuah boneka panda besar hadiah dari permainan memasukkan bola basket ke dalam ring, yang beberapa menit lalu dimainkan Allan.

Allan tersenyum dan mengambil dua boneka panda besar itu dari tangan Claire, membantu membawakannya. Mereka kemudian duduk di hamparan rumput tepi danau itu.

“Aku suka melihat raut mukamu waktu naik rollercoaster.” ucap Claire.

“Kau senang sekali melihatku menderita ya?”

“Hehehe…”

That was fun.

Yeah, that was fun.

“Jadi… kupikir kita harus melakukan ini lagi dan lagi.” Ucap Allan.

“Apa? Naik rollercoaster? Hehehe…”

I mean… we should have a date again, like now.

Claire terdiam sejenak sebelum menatap Allan dari samping,”Do you think so?

Allan menoleh,”Yes… Definitely…” Allan mendekatkan wajahnya ke wajah Claire kemudian mencium bibir Claire pelan-pelan. Claire terkejut, namun mulai membalas ciuman Allan. Mereka bertatapan setelahnya.

Next time, kita bersenang-senang dengan caraku ya?” ucap Allan kemudian.

“Apa kau akan balas dendam denganku?”

Allan tersenyum,”We’ll see…
*-*-*-*

(Naiad Dining Room, Naiad, Thalassa, Tethys)

Bel makan pagi itu langsung menggiring para siswa Naiad dari semua penjuru koridor berkumpul di ruang makan.

“Teman kita yang satu ini sepertinya lagi bahagia.” Sindir Kevin begitu duduk setelah mengambil nampan berisi jatah makanan pagi itu. Joe yang selalu duduk berdekatan dengan Allan dan Kevin langsung penasaran.

”Ada apa?”

”Ceritakan pada kita, All! Aku tidak percaya semalam kau tidak membangunkanku!”

“Tadi malam kau sudah tidur pulas! Sudahlah…”

“Nggak seru ah!” Kevin kecewa.

“Memangnya ada apa sih?” tanya Joe lagi sambil memotong-motong sosis dan telur rebus di piringnya.

“Kemarin teman kita ini kencan dengan cewek Lysithea.” Kevin menyisihkan bawang bombay dan dituangkannya ke piring Joe.

”Hey, apa-apaan ini?” protes Joe.

”Buatmu. Aku tidak suka bawang bombay dengan irisan sebesar itu!”
Joe kemudian mencampur bawang bombay itu diantara kumpulan potongan sosisnya.”Oh ya?? Wow, itu hebat! Baru sebentar disini sudah dapat cewek!”

“Sst… para polisi mengawasi kita.” Allan coba mengelak.

”Sudahlah, All, ceritakan saja. Kau tahu, Joe? Ceweknya nilainya sembilan!” ucap Kevin.

Seorang polisi Naiad melewati mereka dan mendehem memperingatkan. Mereka bertiga terdiam beberapa saat hingga polisi itu berlalu dari dekat mereka.

“Cepat ceritakan.” Desak Kevin.

“Sudahlah. Oh ya, Joe, bagaimana dengan cewek Lysithea yang dulu pernah kau bilang anaknya pianis Louis… Louis siapa itu?” tanya Allan.

“Ahh, tidak usah kau jawab, Joe. Dia hanya mengalihkan pembicaraan!”
Joe tertawa,”Louis Varren. Tidak berjalan dengan baik. Dia tipe pencari hubungan jangka panjang. Aku kan masih ingin bersenang-senang. Sudah, aku sudah jawab pertanyaanmu. Sekarang giliranmu bercerita.”

“Apanya yang perlu diceritakan? Sudahlah.”

“Uh, nggak seru ah!” keluh Kevin.

“Iya nih Allan nggak mau bagi-bagi cerita.”

”Kalau begitu, kau harus jawab pertanyaanku yang satu ini. Have you already kissed her?” Kevin memelankan suaranya. Joe langsung menghentikan aktivitas menyendok makanannya lalu menatap Allan seperti Kevin.

Allan hanya mengerutkan dahi,”Aku tidak akan menjawabnya.”

”Uuuhhh!” desah Kevin dan Joe bersamaan.

Begitu bel akhir makan selesai, mereka harus sesegera mungkin meninggalkan ruang makan dan menuju ke gedung sekolah. Ketika keluar dari ruang makan, Allan dan kedua temannya itu sudah dicegat oleh sekelompok laki-laki yang sudah dikenal mereka.

Luke Lloyd dan gengnya menunjukkan sikap tenang supaya tidak dicurigai para polisi Naiad, namun sorot mata mereka begitu tajam menatap Allan. Mereka menghalangi jalan Allan, Kevin, dan Joe.

”Kamu nggak memperhatikan peringatanku ya?” ucap Luke pelan.
Joe menoleh ke arah Kevin dengan pandangan bertanya. Kevin hanya menggeleng-geleng.

”Apa maumu?” balas Allan.

“Heh, kemarin kita lihat kamu berduaan dengan Claire di Knock Out Park!” kata salah seorang teman Luke.

”Lalu kenapa?” ucap Allan.

”Dengar ya Svanlaevich, aku bilang jangan dekati Claire, ya jangan dekati! Apa itu kurang jelas? Anak Fraternite memang tolol-tolol!” ucap Luke.

”Hey, apa kau bilang?!” Kevin mulai geram.

“Eh nggak usah bawa-bawa nama koridor dong!” tambah Joe.

Teman-teman se-geng Luke langsung mulai terpancing emosi mendengar ucapan Joe.

“Memang kenyataannya Fraternite tolol-tolol!” ulang Luke.

”Liberte tuh yang nggak tahu aturan!” balas Kevin.

”Apa kau bilang?!”

Kevin dan Joe siap kalau-kalau Luke dan teman-temannya itu mengajak berkelahi.

”Hey sudahlah...” Allan mencoba meredam emosi kedua temannya.

“Ini urusanku denganmu, kalau kau mau kita tidak perlu bawa-bawa nama koridor. Kita bisa selesaikan sekarang. Kalau tidak, aku bisa saja menghajarmu lalu menghancurkan Fraternite. Jadi… kau jangan main-main denganku. Sekarang, kau mau kan tidak mendekati Claire lagi?” tanya Luke.

Allan terdiam sebentar sebelum berkata,”Tidak. Aku tidak mau menurutimu.”

”Heh!” teman-teman Luke mulai tidak sabar.

”Apa kau bilang?!...” Luke semakin marah.

“Hey, sedang apa kalian? Kenapa kalian masih disini?! Cepat pergi ke gedung sekolah! Kalian mau dihukum?!” seorang polisi Naiad berteriak dari kejauhan.

“Kau beruntung sekarang. Lain kali aku akan buat perhitungan denganmu!” ucap Luke pelan lalu mengomando teman-temannya untuk pergi dari tempat itu. Allan hanya menggeleng-geleng dan bersama Kevin juga Joe mulai berjalan di belakang rombongan Luke sementara beberapa teman Luke masih sempat menoleh-noleh ke belakang dengan tatapan sinis mereka.
*-*-*-*

(Naiad Classroom, Naiad, Thalassa, Tethys)

Kevin yang sekelas dengan Allan di jam pertama sekolah hari itu tak henti-hentinya mengomel tentang Luke dan gengnya hingga mereka sudah sampai di kelas.

“Mereka sinting ya! Seenaknya sendiri, mengancam koridor pula! Mereka pikir mereka siapa?!”

“Sudahlah, Kev.”

“Kamu ini santai sekali sih? Hey All, aku baru saja dengar dari anak Liberte, kalau mereka tuh geng paling ditakuti sekarang di kalangan anak-anak tingkat pertama.”

”Lalu kenapa? Ini kan Naiad, mereka nggak akan berani macam-macam.”
Allan mengeluarkan buku-bukunya ke atas meja.

”Ah terserah kau lah. Tapi sebaiknya kau mulai hati-hati. Aku nggak ngerti, apa yang membuatmu begitu mempertahankan Claire?”

Allan menghela nafas,”Oke… you know what…” Allan berhenti sebentar,”… I’ve already kissed her last night.” Ucap Allan menjawab pertanyaan Kevin.

Kevin langsung mengangguk-angguk dan tersenyum,”Oke, aku mengerti sekarang.”

“… tanpa orang-orang yang efektif, tampaknya mustahil bagi organisasi untuk meraih tujuannya. Sumber daya manusia membuat sumber-sumber daya organisasi lainnya berjalan…”

Suara pengajar terdengar samar-samar di telinga Kevin. Tak henti-hentinya dia menguap. Allan yang duduk disampingnya pun menoleh padanya.

”Ngantuk, All.”

”Kau ini tidur awal semalam, jam segini sudah ngantuk?”

”... permasalahan dalam pengelolaan organisasi sering bersumber dari masalah yang berhubungan dengan orang-orang, dan muncul dari dalam diri mereka. Sekarang, saya ingin bertanya pada kalian, bagaimana dengan permasalahan yang berkaitan dengan orang-orang? Apa sumber masalah tersebut? Ada yang bisa menjawab?”

Kevin mengucek-ngucek matanya,”Dia tanya apa, All?” Kevin masih tidak nyambung dengan semua yang terlontar dari pengajar kelas pagi itu, Sir Green. Kelas masih sunyi, tidak ada yang angkat bicara. Belum sempat Allan menjawab pertanyaan Kevin, suara Sir Green menggelegar di kelas.

”Tidak ada yang bisa menjawab? Saya kan sudah pernah berkata pada kalian, ini Naiad! Bukan sekolah biasa! Di Naiad sebelum kelas dimulai, kalian harus sudah mempelajari dua bab! Satu bab yang akan dibahas dan satu bab sesudahnya! Apa diantara kalian tidak ada yang melakukan itu?!...” Sir Green memandang seisi kelas dengan tatapan galaknya,”… keterlaluan!” suara Sir Green makin lantang membuat kantuk Kevin langsung hilang.

”… oke, dengar, kalau tidak ada yang bisa menjawab, saya akan menghukum seisi kelas ini dengan tugas yang berat!”
Para penghuni di kelas itu langsung kebingungan, kelabakan membuka-buka bukunya mencari jawaban.

”Satu... dua...” Sir Green menghitung dan sebelum hitungan ketiga Allan mengangkat telapak tangannya. Seisi kelas langsung melihat padanya. Berharap kenekatan Allan membuahkan hasil dan bukannya semakin memberatkan hukuman yang akan mereka terima.

”Ya, kamu?” nada Sir Green lebih lunak.

Allan mencoba mulai bicara setenang mungkin,”Permasalahan yang berkaitan dengan orang-orang… bersumber dari keyakinan manajemen… yang menganggap bahwa semua orang… pada hakikatnya sama dan mereka dapat diperlakukan secara identik… padahal tidak ada dua orang yang betul-betul identik… dan setiap orang… berbeda secara fisik maupun psikologis mereka… Sir.”

Allan mengakhiri kalimatnya sambil berharap sekali semua yang dikatakannya barusan dapat menjawab pertanyaan Sir Green. Kelas masih senyap. Kevin menatap Allan dari samping sambil menggeleng-geleng dan berkata dalam hati,”Bagaimana dia bisa mengeluarkan kalimat-kalimat itu?

”Siapa namamu? Saya tidak bisa membaca emblem namamu dari sini.” tanya Sir Green setelah sempat terdiam sejenak begitu mendengar jawaban Allan.

“Allan Svanlaevich, Sir.” jawab Allan yang saat itu duduk di belakang, bangku keempat dari barisan depan.

”Kerja bagus, Svanlaevich. Sangat bagus...”

Seisi kelas langsung bernafas lega.

”... jadi kesimpulan yang bisa diambil disini adalah perlunya perhatian untuk memperhatikan tiap individu yang berbeda tersebut dengan jabatan apapun yang mereka miliki dalam suatu organisasi...”

Suara bel melengking terdengar ke seluruh penjuru Naiad.

”... oke, kelas Manajemen Sumber Daya Manusia hari ini selesai. Ingat, baca dua bab!” ucap Sir Green lalu keluar dari kelas. Kelas pun langsung riuh.

”Hebat, All!” teriak Kevin, sama dengan yang dilontarkan beberapa anak lainnya.
*-*-*-*

(Lysithea Dorm #65, Lysithea, Thalassa, Tethys)

”Claire, kamu berhubungan sama anak Naiad itu lagi?” Janet, teman sekamar Claire menghampiri Claire di ranjangnya.

“Iya.” Claire tersenyum membaca pesan dari Allan di ponselnya.

“Claire, dulu kita hanya pakai dia untuk taruhan. Kok kamu keterusan sih?”

”Yah terimakasih untuk kalian sudah menantangku untuk berkenalan dengannya. Kalau tidak, aku tidak akan bisa mengenalnya.”

Nada SMS masuk terdengar di ponsel Claire. Tanpa menunggu, Claire langsung membukanya dan sudah kesekian kali bibirnya tersenyum setelah membaca SMS dari Allan. Dengan cepat, dia mengetikkan pesan balasan.

”Siapa namanya? Aku lupa.”

”Allan Svanlaevich. Dia itu pemain basket, Jan. Dia masuk di tim basket sekolahnya.”

”Oh ya? Hebat dong.”

”Dia itu cowok yang baik, Jan, cerdas lagi.”

”Kau ini dari tadi memujinya terus. Yah memang sih dia tampan, tapi kan kamu nggak bisa...”

“Sudahlah, Jan.”

“Memangnya kamu mau jalan lagi dengannya?”

Claire mengangguk.

“Kau gila!”

“Aku tidak gila. Aku...”

”Apa? Kamu suka kan sama dia? Kamu jatuh cinta dengannya, Claire! Sadarlah! Itu gila namanya!”

Claire meletakkan ponselnya dan menghela nafas,”Aku harus bagaimana, Jan?”

Read previous post:  
55
points
(2944 words) posted by lavender 8 years 38 weeks ago
78.5714
Tags: Cerita | Novel | cinta | clique-lit | domestic drama | mainstream romance
Read next post:  
Writer neko-man
neko-man at Limelight (6) (8 years 37 weeks ago)
100

Why you make Allan Girlfriend cheat. Hehehe. Aku tahu itu sulit ditulis, tapi itu layak ditulis. Great konflik, bayangkan. Bagaimana kacaunya konflik yang ada di benak Allan. How everybody react. Tapi nulisnya bikin gemeter sih ya..Tapi nice way out.

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 37 weeks ago)

how do u know she's cheating? hehehe..
neko-man hebat, udah bisa nebak..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (6) (8 years 37 weeks ago)

ah.. maaf. salahku tidak konsen (Sambil sujud). aku bacanya malam-malam sih. kadang kejadian macam ini membuatku ingin berhenti komen, mataku tidak bagus di depan layar komputer. semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. -sigh-

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 37 weeks ago)

kejadian apaan, neko-man?

Writer neko-man
neko-man at Limelight (6) (8 years 37 weeks ago)

...

Writer auliaputrin
auliaputrin at Limelight (6) (8 years 37 weeks ago)

hihi, ketawa sendiri bacanya

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 37 weeks ago)

Knp kok ketawa? Hehe

Writer auliaputrin
auliaputrin at Limelight (6) (8 years 37 weeks ago)

kayak cerita nyata, sih.
tuh temen gue ada yg ngalamin sama persis kek yg km tulis, hehe

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 37 weeks ago)

oh ya? bagian mananyakah?

Writer suararaa
suararaa at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)
80

anu.. pelajarannya kok udah manajemen sumber daya manusia aja.. manajemen sumber daya manusia biasanya di tingkat 2 ato tiga. setelah pengantar bisnis, nanti berlanjut ke manajemen. baru nanti manajemen sumber daya manusia..
yaahh.. IMO, itu si kurikulum kuliahku,, ..
dan tipe sir green adalah tipe dosen yg banyak di kampusku...

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)

heheheheheh.. OK deh suararaa.. bagaimana kalau aku dibikinin kurikulumnya saja sama suararaa, buat kurikulum nya Naiad.. hehe.. ok ok? :-)

Writer suararaa
suararaa at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)

hiahahhhaa...
boleh2 ja..
bentar saya liat buku panduan kuliah dulu....
wkwkkkk

Writer majnun
majnun at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)
100

hyahahahahaha..
ada apa ka dengan Claire..?
sepertinya ada sesuatu..

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)

Ada anu dibalik anu ini... Xixixixixix..

Writer majnun
majnun at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)

hyahahahahahaha..
"anu" nya keluar lagi..

Writer Riesling
Riesling at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)
90

Makin lama saya making ngefans sama Allan...

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)

Hehehehehe.. Thanks for reading ya.. :-)

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)
80

uhuy, Allan maju truss, hhee^^
ada typo dikit mbak, tanda kutipnya ”Kevin beranjak dari kursinya dan menghampiri Allan. Dia berdiri mengamati pekerjaan Allan,”Kau lancar sekali sih membuatnya. Bantu aku dong...”

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)

Hahahahahaha saya error.. Thank u, kumiiko.. Nanti saya benerin klo ol d kompi..

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)
100

waa, maaf poinnya yg td ga muncul

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)

kelihatannya ada yg aneh dlm percakapan antara Allan n Claire, mungkinkah krn mrk cerdas? hehe
ending bikin pnasaran

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)

Oh ya? Memang di ceritanya mereka cerdas, tp bisa saja mungkin penulisnya yg ngantuk jadi ad dialog2 yg aneh atau kurang pas.. Maaf yaa penulisnya suka error.. Thanks for reading :-)

Writer lavender
lavender at Limelight (6) (8 years 38 weeks ago)

visit my "4 tahun kemudian" story at :Make A Wish