Limelight (7)

(Fraternite B/28, Naiad, Thalassa, Tethys)

“Iya, Mom, baru saja selesai jam makan malam.” dengan ponsel di telinganya, tangan kanan Allan masih menggerak-gerakkan pulpen dengan cepat di atas kertas untuk mengerjakan tugas sekolah malam itu. Sementara itu Kevin sudah mengenakan jas Naiad dan berkaca di kaca almari.

“Kamu kenapa lama sekali tidak pernah menelepon? Tiap kali Mom telepon nggak pernah kamu angkat.”

”Yah kan di area Naiad, nggak boleh bawa ponsel selain di asrama, Mom... lagipula Allan akhir-akhir ini banyak yang harus dikerjakan... Latihan basket di sekolah, banyak tugas juga...”

”Ternyata Naiad memang benar-benar berat ya? Allan, kamu nggak boleh terlalu capek. Kamu tahu kan...”

”Mom nggak usah khawatir. Allan senang melakukan ini semua, jadi Allan tahu bagaimana harus menjaga diri. Oh ya, Dad mana, Mom?” Allan menutup bukunya dan menyusunnya dengan kertas-kertas lain di atas meja.

“Umm… ayahmu sedang di luar negeri.”

Allan terdiam. Kevin melihat bayangan perubahan ekspresi Allan yang masih duduk di depan mejanya dari kaca.

”All?”

”Seingat Allan baru sekali Allan bicara dengan Dad sejak Allan ada disini...” Allan mengusap rambutnya yang terjuntai di dahinya dan tak sadar Kevin masih memperhatikannya.

”All...”

”Ya sudah, Mom, Allan ada acara asrama. Allan tutup ya, Mom.”

“Baiklah, kamu jaga diri baik-baik disana ya,”

“Iya, Mom.” Allan meletakkan ponselnya di meja. Kevin melihat Allan yang sesaat terlihat melamun.

”All,”

Allan tidak menyahut panggilan Kevin.

”Allan!”

Allan tersadar dan menoleh,”Apa, Kev?”

”Kau kenapa?”

”Tidak, tidak apa-apa.” Allan beranjak dari kursinya, mengambil jas Naiadnya dan memakainya.

”Kau ada masalah?”

”Tidak...” Allan mengambil lencana Naiad dan memasangkannya di kerah jasnya.”… hanya saja ayahku selalu sibuk kerja dan bepergian. Ibuku pasti kesepian di rumah.”

Kevin memandang Allan yang tengah menyisir rambutnya. Kevin merasakan tatapan mata Allan yang kecewa.

”Yang kaupikirkan sebenarnya adalah kau merindukannya kan?”
Allan langsung berhenti menyisir. Dia menatap Kevin yang berdiri di belakangnya dari cermin.

”Kev, you don’t know anything! Sudahlah, ayo kita berangkat! Kita sudah hampir terlambat.” Ucap Allan lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Allan keluar dari kamar diikuti Kevin yang masih keheranan dengan sikap Allan.
*-*-*-*

(Fraternite Hall, Naiad, Thalassa, Tethys)

“Oke, selamat malam teman-temanku! Selamat datang ke pertemuan persaudaraan rutin Fraternite malam ini! Semua datang kan?” Orrick Rackensville, sang ketua koridor Fraternite berdiri di tengah-tengah anggota asramanya yang duduk membentuk lingkaran.

”Chuck, siapa saudara kita yang nggak datang?”

”Lengkap, bos!” jawab Chuck Morriston yang selalu bertugas mengabsen para anggota, berdiri di luar lingkaran itu.

”Bagus! My Fraternite??” Orrick membuka yel-yel khas Fraternite.

“F for Fraternite! Fraternite for the Friendship, Fraternite for the Fellowship, Fraternite for the Family, Fraternite for the Fairness! Fraternite for the Future! Long Live Fraternite!” teriak semua orang di ruangan itu sambil mengangkat kepalan tangan.

”Oke, kita mulai saja ya acaranya! Agenda pertama hari ini adalah komplain! Yang punya keluhan tentang apa saja cepat katakan, waktu untuk agenda pertama kita ini hanya setengah jam! Kita masih punya agenda-agenda lain yang lebih penting!”

Beberapa anak mulai tunjuk tangan dan satu persatu berdiri di tengah lingkaran menyampaikan semua unek-uneknya. Dengan cermat Orrick memperhatikan sementara Chuck sibuk mencatat semuanya.

“Kita sebaiknya segera komplain tentang jatah makan,” bisik Kevin pada Allan yang duduk tepat disampingnya, membuka pembicaraan sekaligus mencoba mencairkan suasana yang beku sejak pembicaraan mereka terakhir di kamar.

Allan hanya diam dengan tatapan mata ke arah anak yang sedang berdiri di tengah lingkaran mengeluhkan tentang beberapa mesin cuci di laundry room koridor Fraternite yang rusak dan tidak segera diperbaiki.

”All?”

Allan sebenarnya tidak bermaksud mengacuhkan Kevin, hanya saja pikirannya saat itu masih tentang ayahnya.

”Allan!...” Kevin memanggilnya lebih keras membuat Allan langsung menoleh.”… kau marah ya padaku?”

“Apa?”

“Kau masih marah dengan apa yang kukatakan padamu di kamar tadi? Maaf deh, seharusnya aku tidak mencampuri urusanmu.”

Allan menggeleng-geleng,”Lupakan saja. Aku tadi… hanya tidak ingin membicarakan tentang itu.”

”Oke.”

”Maaf aku tadi emosi.”

It’s ok.” ucap Kevin mulai semakin mengenal Allan, dia mulai tahu lebih banyak tentang Allan meski teman sekamarnya itu tidak mau berbicara banyak.

”Hey, guys, kalian ini bicara sendiri… dengar tuh si Marc mau cerita tentang anak Liberte yang mengancam mau menjebak dia supaya tertangkap melakukan kesalahan kalau dia nggak mau mengerjakan tugas-tugasnya anak Liberte itu...” ucap Joe yang duduk berselang dua anak disamping Kevin. Dia berdiri dan menyela dua anak disamping Kevin itu ketika seorang anak yang bernama Marc maju ke tengah lingkaran,”... permisi ya, maaf ya, aku ingin bicara dengan Kevin nih.”

”Kalau mau ngobrol sama Kevin kenapa nggak dari tadi duduk disini?” ucap salah seorang anak.

”Maaf, maaf...” Joe kini duduk disamping Kevin.

”Siapa, Joe? Luke?” Kevin penasaran.

”Tadi sebelum kesini Marc cerita padaku. Bukan Luke. Tapi anggota gengnya Luke. Aku sih nggak tahu namanya siapa. Seharusnya kau juga bilang ke Orrick tentang ancaman Luke padamu, All.”

”Tidak, untuk apa? Aku tidak mau membesar-besarkan masalah. Itu... antara aku dan Luke.”

”Tapi Joe ada benarnya, All. Aku masih ingat dia bilang akan bawa-bawa nama koridor. Bagamana kalau dia merencanakan sesuatu yang akan menjelekkan nama Fraternite?”

Allan mulai sedikit membenarkan kata-kata kedua temannya itu.

”Aku tadi juga sempat berpikir, jangan-jangan kasus Marc itu salah satu langkah awal... akal bulusnya Luke!” tambah Joe.

”Kita dengar dulu ceritanya.” ucap Allan kemudian mereka mendengar Marc yang sedang bercerita.

”Oke, ada yang punya usulan untuk pemecahan masalah ini, nggak?” Orrick berbicara setelah Marc selesai bercerita.

”Kita laporkan saja sama polisi Naiad!” teriak salah seorang anak.

”Sepertinya nggak bisa begitu, anak Liberte itu banyak akal, mereka bisa saja melakukan banyak hal yang semakin membuat kita terpojok atau terjebak permainan mereka kalau kita laporkan ini ke polisi Naiad.” ucap Orrick.

Allan tampak berpikir kemudian mengangkat tangannya.

”Ya, kenapa Svanlaevich?” tanya Orrick yang sudah hafal semua nama anak Fraternite.

”Kalau mereka main jebak, kita main jebak juga.”

Semua anak mulai memperhatikan Allan. Orrick langsung ingin tahu,”Maksudmu?”

”Coba temui anak Liberte itu di dalam asrama ini. Sementara Marc bawa ponsel di saku, pasang recordernya. Kalau masih di asrama kan kita masih boleh membawa ponsel. Pancing anak itu mengatakan apa yang akan dia lakukan kalau Marc tidak mau menurutinya. Jadi kita punya bukti, kalau suatu saat nanti Marc dijebak dia. Kita bisa tunjukkan pada polisi Naiad, bahwa Marc nggak bersalah.” usul Allan.

”Bagaimana kalau dia membalas kita?” ucap Marc.

”Nggak ada salahnya dicoba dulu, Marc. Kalau dia masih macam-macam, kita cari jalan lain lagi. Hey, jangan biarkan anak Liberte menguasai anak Fraternite... benar kan teman?” kata Orrick membangkitkan semangat.

”Yeahhh!!!” balas semua orang dalam ruangan itu serempak.

”Kenapa kau tidak mengatakan padanya soal Luke?” tanya Kevin.

Allan menggeleng,”Tidak. Masalah Luke biar kuselesaikan sendiri. Aku tidak ingin menambah berat masalah Fraternite.”
*-*-*-*

(Fraternite B/28, Naiad, Thalassa, Tethys)

Suara ponsel Allan meraung-raung saat Allan dan Kevin baru saja memasuki kamarnya seusai pertemuan rutin asrama itu. Tidak ada nama yang muncul di layar ponsel, hanya nomor. Allan langsung mengangkatnya.

”Hallo,”

”Hallo? Allan? Ini Katherine.”

“Oh, Katherine.. Ada apa, Kat?” Kevin yang sedang melihat hasil pekerjaan Allan di meja belajarnya langsung tertarik begitu Allan menyebutkan nama Katherine.

“Umm, nggak ada apa-apa. Aku cuma… cuma ingin ngobrol sama kamu. Aku mengganggu ya?”

“Ah nggak kok… oh iya bagaimana kabar kamu disana? Sekolahmu?”

“Kabarku baik tapi aku tetap merasa ada yang kurang di sekolah, All.”

”Kenapa?” Allan duduk di ranjangnya. Kevin mengarahkan jari telunjuk ke dadanya. Allan hanya menggeleng pada Kevin. Kevin langsung kecewa.

”Nggak ada kamu lagi. Sejak kecil kita kan selalu bersekolah di sekolah yang sama, tapi sekarang... kamu jauh...Kita nggak berangkat ke sekolah bareng lagi, pulang bareng, ke danau...”

”Umm.. yah kita kan sudah besar, Kat. Wajar kalau kita sudah ambil jalan sendiri-sendiri...”

”Jalan sendiri-sendiri?”

”Maksudku... kita kan pasti punya cita-cita yang beda jadi nggak bisa terus satu sekolah kan? Yang penting kita kan masih tetap berteman.”

”Iya sih... tapi…” cukup lama Katherine tidak melanjutkan kalimatnya.

”Tapi apa? Kamu masih disitu?”

“Aku… aku kangen kamu, All.”

”Umm... iya.. aku.. juga.” Kini Allan yang terdiam cukup lama.

”All?”

”Iya Kat?”

”Maaf ya aku sudah mengganggu. Ini sudah malam, kamu pasti capek seharian banyak kegiatan dan sudah mau tidur. Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja disana.”

”Iya, aku baik. Kamu nggak mengganggu kok, lagipula aku belum mau tidur, masih harus mengerjakan tugas.”

”Tuh kan kamu masih ada tugas. Ya sudah deh, sudah dulu ya, All. Bye, All.”

Bye, Kat.”

Allan langsung mengecek inbox SMS nya dan beberapa SMS dari Claire ada disana.

”All, aku kan ingin kenalan dengan Katherine.”

”Gawat! Claire pasti marah padaku!”

“Claire? Kok Claire? Aku tuh nanya Katherine.”

“Tadi sebelum kesini aku mengerjakan tugas sambil SMS Claire, lalu aku telepon ibuku, lalu kita ke pertemuan… aku belum sempat membalas SMS Claire…” Allan memencet-mencet ponselnya,”… aduh pulsaku habis!”

Kevin menggeleng-geleng,”Kasihan Katherine.”

”Apa?”

”Aku bilang Katherine kasihan.”

”Kev, jangan mulai seakan tahu semua lagi ya?”

Kevin langsung mengangkat kedua tangannya,”Oh, oke, maaf. Habisnya setelah kamu menutup telepon, kamu ingatnya langsung Claire. Kan aku jadi kasihan sama Katherine. All, kapan-kapan aku kenalin dong sama dia. Atau, aku minta nomer telponnya saja deh.”

”Kamu benar mau kenalan sama dia?”

Kevin mengangguk-angguk yakin.

”Tapi kamu jangan iseng ya, dan jangan sekalipun terpikirkan untuk mempermainkannya.”

”Iya, iya. Aku ini cowok baik-baik, All. Aku nggak akan mempermainkannya kok. Kalau dia memberiku kesempatan, suatu saat aku akan ikut denganmu ke Ananke, untuk bertemu dengannya.”

”Ke Ananke?”

”Iya. Hey, All, kau tidak ingin pulang ke rumah kapan-kapan waktu akhir pekan? Jadi aku bisa ikut.”

”Ananke itu jauh dari sini, Kev. Kalau aku bolak-balik dalam dua hari libur kita itu, aku hanya akan capek di jalan. Lagipula kamu sudah lihat jadwal latihan basket kita kan? Hampir nggak ada waktu yang benar-benar luang untuk berakhir pekan.”

”Bagaimana dengan liburan akhir tahun?”

”Kita akan menghadapi banyak pertandingan saat itu.”

”Uh, iya ya? Oh iya, mana nomer Katherine? Kalaupun aku tidak bisa bertemu dengannya, aku ingin berteman dengannya. Boleh kan?”

Allan mengangguk.

”Oh iya, All, aku lihat pekerjaanmu tadi ya. Aku belum dapat inspirasi nih.”

”Untuk tugas yang harus dikumpul besok itu?”

”Iya. Boleh ya? Aku tidak akan mencontek kok, hanya mencari inspirasi. Aku benar-benar nggak tahu harus menulis apa.”

”Iya, iya terserah.”

Kevin membolak-balik kertas di atas meja belajar Allan,”Kamu ini kok bisa mengerjakan semuanya sih? Tiap kali aku tidur duluan, kamu masih belajar ya?”

”Tidak…” Allan menyerahkan ponselnya pada Kevin,”... nih, cari saja nomer Katherine. Ingat, jangan main-main.”

“Iya, iya.”

Kevin menerima ponsel Allan kemudian duduk di ranjangnya sambil memindah nomor Katherine ke ponselnya.

“Oke, aku akan menghubungi dia besok. Sekarang, mengerjakan tugas menyebalkan itu.” Kevin beranjak menuju meja belajarnya setelah meletakkan ponsel Allan di meja belajar Allan. Begitu juga Allan, dia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.

”Hey, All, aku dengar kau akan dicalonkan jadi perwakilan siswa Fraternite untuk Student Representative Council.

Allan yang sedang menulis langsung menoleh ke arah Kevin yang duduk di meja belajar disamping meja belajarnya,”Apa?! Siapa bilang?”

”Joe. Dia dengar dari Chuck, itu akan jadi tema di pertemuan asrama selanjutnya.

”Maksudnya?”

”Sebentar lagi pelantikan anggota SRC yang baru. Anggota dari siswa tingkat I. Tiap koridor kan punya enam perwakilan. Masing-masing dua anak dari tiap tingkatan.” jawab Kevin sambil mengerjakan tugasnya.

”Tapi bagaimana bisa aku yang akan dicalonkan?”

”Katanya, Chuck diberitahu salah seorang teman sekelas kita di kelas Manajemen Sumber Daya Manusia, itu tuh tentang saat kau menjawab pertanyaan Sir Green dan menyelamatkan kita dari hukuman.”

”Tapi itu bukan suatu alasan untuk aku dijadikan calon.”

”Memangnya kenapa? Kau tidak mau?”

Well, Kev, it’s SRC! Kumpulan orang-orang yang notabene penting untuk bisa mewakili siswa Naiad! Sepertinya berat untuk jadi anggota SRC. Bukankah masih ada orang lain yang lebih mampu melakukannya daripada aku?”

“Tapi menurutku kau cocok jadi anggota SRC. Apa lagi yang kurang darimu? Kau ini pintar, just exactly what they need. Katanya Jamie Freeze dari kamar 35 juga akan mengisi keanggotaan baru itu. Lagipula, apa kau tahu kalau Marvin anggota SRC perwakilan Egalite?”

”Marvin anggota SRC?”

”Tuh kan, aku tahu kau pasti akan tertarik begitu mendengar nama Marvin.”

”Maksudmu?”

”Yah aku tahu kau sangat mengidolakannya.”

Allan menggeleng-geleng,”Kalau Marvin anggota SRC, kenapa dia tidak ada waktu perkenalan anggota SRC saat kita baru masuk di acara forum penyambutan?”

”Aku saja baru tahu. Mungkin saat perkenalan anggota SRC itu, dia sedang mengikuti lomba lari antar sekolah. Kau tahu kan dia anak atletik?”

Allan mengangguk-angguk,”Jadi begitu.”

”Aku tidak mengerti kenapa kau begitu mengidolakannya.”

”Hey, aku tidak mengidolakannya, aku hanya segan padanya.”

”Katanya sih tinggal menunggu persetujuan Eddie Green dan Dustin Carlos anggota SRC perwakilan Fraternite tingkat III. Kalau mereka setuju, maka kau dan Jamie Freeze akan jadi anggota SRC perwakilan Fraternite tingkat I.”

Allan hanya menggeleng-geleng tidak percaya.
*-*-*-*

(Garden Hill, Thalassa, Tethys)

”Kau benar-benar mau membalasku ya? Allan, kenapa kamu mengajakku ke lapangan basket?”

Sabtu itu Allan membawa Claire ke sebuah taman tak jauh dari areal gedung Naiad. Mereka berdua duduk di bangku dari semen pinggir lapangan basket dalam taman itu. Taman itu sepi, hanya beberapa keluarga yang tampaknya dari kota menghabiskan waktu untuk menggelar kain pikniknya di beberapa sudut di taman itu.

”Soalnya kamu selalu nggak mau kalau kuajak turun ke kota. Memang kenapa sih?”

”All, kamu tahu kan rumahku disana, aku sudah sering berkeliling di kota itu, aku bosan.”

”Kalau begitu, seperti yang aku bilang dulu, sekarang kita bersenang-senang dengan caraku.”

”Apa? Main basket? Dari tadi aku sudah curiga kenapa kamu bawa bola basket. Aku kira kamu ada latihan basket di luar nanti.”

Allan mengangguk dan tersenyum,”Iya main basket. Aku tidak ada jadwal latihan nanti, tapi besok. Aku dengar dari kakak kelasku kalau di taman yang entah kenapa bagus pemandangannya tapi kok sepi ini, ada lapangan basket yang sudah nggak pernah dipakai. Ini dia... ” Allan membuka jas Naiad nya, meletakkannya di bangku kemudian mulai masuk ke lapangan kecil itu dan mendribble bola basketnya.

”Allan, aku nggak bisa main basket.” Claire masih duduk di bangku semen itu.

”I’ll teach you then. Come on!”

“Aku nggak mau. Aku nonton kamu saja.”

Allan melempar bola basket itu ke ring yang sudah sobek-sobek dan bola itu masuk.”Claire, yang namanya nonton itu kalau aku main ada lawannya. Sekarang kalau aku main sendiri, nggak bagus untuk ditonton. Ayo dong, kita main bareng.”

Allan menghampiri Claire.

“Allan…”

“Hey, aku janji deh, kamu pasti bakal merasa senang.” Allan mengulurkan tangannya.

“Jangan tertawakan aku ya.”

“I won’t.”

Claire menyambut tangan Allan dan berdiri. Allan memberikan bola basket padanya. Mula-mula Claire merasa kikuk dengan bola basket itu, namun dengan Allan memandunya bagaimana cara memegang bola basket yang benar, cara untuk fokus ketika melempar ke ring, mendribble yang baik, lama kelamaan Claire mulai merasa nyaman dan sangat menikmati kebersamaannya dengan Allan pagi itu. Mereka berdua bermain-main dengan bola basket itu sambil ngobrol, bercanda, dan tertawa lepas.

”Kamu curang... mentang-mentang... kamu pemain basket... tembakanmu jarang meleset... dan selalu masuk ke ring... sedangkan aku... dari tadi baru dua kali bisa masuk ring.” Claire yang terengah-engah dan sudah kelelahan duduk kembali di bangku.

”Aku belikan minum dulu ya. Tunggu sebentar, aku akan lari, jadi kamu nggak akan lama nunggu.”

”Oke. Awas ya kalau lama.”

Allan tersenyum kemudian berlari dan membeli dua gelas lemonade untuknya dan Claire.

“Kamu capek ya?” tanya Allan ketika melihat Claire langsung meneguk lemonade itu cepat-cepat. Claire hanya mengangguk.

“Aku nggak suka olahraga, All.”

”Maaf ya, aku nggak berniat membalasmu setelah mengajakku naik rollercoaster.” Allan mengeluarkan handuk kecil dari saku celananya dan menyeka keringat di wajah Claire pelan-pelan. Claire hanya diam dan menatap Allan.

”... aku hanya ingin...”

”Aku senang kok. I have a great time.” Claire tersenyum memotong kalimat Allan.

“Nice to hear it.”

Terdengar nada dering ponsel milik Claire. Claire mengambil ponsel di tasnya lalu menon-aktifkannya.

“Kok nggak diangkat?” tanya Allan.

”Nggak terlalu penting kok. Oh iya, apa sih arti basket buat kamu, All?”

”Basket itu bagian dari jiwaku. Dimana aku bisa belajar untuk selalu bekerja keras, karena semua hal yang sebelumnya tidak bisa kuraih, dengan kerja keras pasti bisa terwujud. Dimana aku bisa belajar fokus dan konsentrasi pada suatu pencapaian hal yang penting, sama seperti aku mencoba memasukkan bola ke dalam ring...” Claire menatap Allan dari samping. Dia menemukan keseriusan di wajah Allan.

”...kadang saat aku kesepian atau ingin lari dari sesuatu, aku bisa melampiaskannya dengan bola basket. Karena... tiap kali aku di lapangan, aku merasa bebas, aku merasa mendapatkan tempat untuk melarikan diri, untuk bersembunyi...”

”Kenapa kamu harus melarikan diri? Kamu bersembunyi dari apa?” potong Claire.

”Yah... banyak hal. Selama ini aku sering kesepian, Claire. Aku... termasuk tipe anak tunggal yang ayahnya jarang di rumah karena bepergian untuk masalah bisnis.” Allan menunduk.

Claire masih menatapnya, ada sisi lain yang baru saja ditemukannya dalam diri Allan.

”Tapi selama kamu disini, kamu nggak kesepian kan? Setiap hari kamu hidup dengan banyak orang yang selalu melakukan aktivitas yang sama bersama...”

Allan menatap Claire,”Iya... karena ada kamu...” pelan-pelan Allan mencoba mendekatkan wajahnya pada wajah Claire. Sesaat Claire terlena namun dia langsung memalingkan mukanya. Allan terkejut dengan sikap Claire.

”Maafkan aku, All.”

”Claire? Ada apa?”

Claire beranjak dari bangku dan mengambil tasnya,”Aku… harus kembali… ke asrama… aku pergi dulu,” Claire berjalan menjauhi Allan keluar dari taman itu.

Read previous post:  
55
points
(2849 words) posted by lavender 8 years 38 weeks ago
78.5714
Tags: Cerita | Novel | drama | clique-lit | domestic drama | mainstream romance
Read next post:  
Writer khrisna pabichara
khrisna pabichara at Limelight (7) (8 years 34 weeks ago)
80

Ikut baca, ya.

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 34 weeks ago)

Silakan..

Writer Syair_putih_ahbian
Syair_putih_ahbian at Limelight (7) (8 years 35 weeks ago)

Slm kenal y, share

Writer Syair_putih_ahbian
Syair_putih_ahbian at Limelight (7) (8 years 35 weeks ago)

Slm kenal y, share

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 35 weeks ago)

slm knl jg..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (7) (8 years 37 weeks ago)
100

Ummm

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 37 weeks ago)

ummm juga ah..

Writer Riesling
Riesling at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)
90

Nih cerita jadi cinta segi 5... Kev-Kath-All-Claire-Luke xDD

Writer neko-man
neko-man at Limelight (7) (8 years 37 weeks ago)

Love Dodecahedron...

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 37 weeks ago)

apaan tuh? segi berapa? keren sekali istilahnyahhh.. hehe..

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

segi banyak.. hehe.. thanks for reading :-)

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)
80

huah.. nanti cinta segi 3 sama sisi allan-claire-katherine, hehe ^^
oia mbak vender, jika sempat mampir ya di cerita SSUS 9maap promosi)
http://www.kemudian.com/node/249760
mari mampir :)

Writer elbintang
elbintang at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

memilih segitiga Allan-Kath-Kevin :))

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

heheheh,, ya dipilih dipilih.. seribu tiga.. hehe..

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

Heeheheh.. Iya kumiiko nanti saya mampir..

Writer majnun
majnun at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)
100

I knew it..
there's something about Claire..

kapan ini saia dapet peran?
daftar sana sini gak pernah dapet..
hyahahahahahahahahaha..

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

Lha mau jadi siapanya? I will need your help later..

Writer majnun
majnun at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

siapa kek..
jadi tukang odong2 langganan Claire, boleh..
hyahahahahahahaha..
~
ato jadi penjual gorengan yang suka nongkrong di Naiad boleh jua..
hyahahahahahaha..
~
no help..
hyahahahahahahahaha..
help tapi pajek ya..
biasa..
hyahahahahahaha..

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

senengane kok ODONG-ODONG! dulu Denise juga mau ditabrak odong-odong.. sekarang bawa-bawa odong-odong lagi..
mau mendaftarkan hak cipta odong-odong sebagai mainan asli Indonesia y biar ga dicolong?
*
kayaknya BAGUS tu idenya penjual gorangan? what kind of gorengan yang mau dijual??
*
PAJEK opo? mesti PAJEK itu???

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)
2550

masih banyak rahasia, makin penasaran

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

hehe.. thanks for reading ya.. :-)

Writer suararaa
suararaa at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)
80

hmmmm,, kayaknya claire ada apa-apa sama luke deh.. :D

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

ahahahahah.. hmm.. begitukah? hehe..
suararaa, tante carrie nya manaaaaaaaa?????

Writer suararaa
suararaa at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

cm nebak saja sih. hehehehee...
benarkah? kita tunggu limelight 8,, xixixixixi..
:D
,
ahaha.. tante carrie nya masih di kepala,,, belom ditransfer ke komputer..
lagi sibuk saia.. maafkann..
semoga bisa cepat saya post lagi lanjutannya..

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

hohohoho.. kita lihat saja..
*
ditungguuu yaa.. banyak yg nunggu lho tante carrie nya..

Writer lavender
lavender at Limelight (7) (8 years 38 weeks ago)

visit my "4 tahun kemudian" story at : Make A Wish