Limelight (8)

(Fraternite Hall & Fraternite B/28, Naiad, Thalassa, Tethys)

“Selamat ya, All!”

“Hey, All, selamat ya kau sudah terpilih!”

Beberapa anak Fraternite mengucapkan selamat pada Allan seusai pertemuan Fraternite malam itu. Allan dan Kevin tengah berjalan menuju kamar mereka.

”Iya, terimakasih.” Allan masih terkejut dia dipilih oleh Ketua dan Wakil koridor asramanya untuk bergabung dalam keanggotaan Student Representative Council. Anak – anak Fraternite pun menyetujuinya.

”Aku masih tidak percaya mereka memilihku!” ucap Allan begitu sampai di kamar dan menutup pintu kamar mereka.

”Aku bilang juga apa? Kau sih tidak percaya! Bagus kan kau jadi anggota SRC? Kau akan jadi salah satu orang terkenal di Naiad!”

”Tugasnya berat, Kev.” Allan membuka jas Naiad nya.

”Sudahlah, santai saja. Orrick dan Chuck itu suka sekali denganmu. Apalagi kau sudah membantu menyelesaikan masalah Marc. Mereka nggak asal milih, kau pasti memang qualified. Lagipula kau kan jadi anggota baru SRC tidak sendiri, sama Jamie Freeze. Aku dengar dia terpilih karena para petinggi kita terkesan dengan kemampuannya menyelesaikan masalah mesin cuci itu. Dia benar-benar mau melewati birokrasi sekolah yang sangat rumit untuk mengadukan masalah mesin cuci kita.”

Allan mengambil ponselnya dan duduk di ranjangnya, dia tidak begitu memperhatikan kata-kata Kevin. Allan melihat ke layar ponsel kemudian meletakkan kembali di meja sambil menghela nafas.

”Kenapa?”

Allan hanya menggeleng.

”Hey, kau tahu, All, respon Katherine padaku bagus sekali. Dia welcome sekali kalau aku ingin jadi temannya. Itu suatu tanda yang bagus kan?”

Allan mengangguk-angguk,”Ya, baguslah...”

”Kau ini kenapa? Oh iya, Claire bagaimana?”

Allan menggeleng,”Sepertinya dia... tidak menyukaiku. Yah... sepertinya hubunganku dengannya sudah gagal.”

Kevin mengernyitkan dahi,”Tapi kenapa? Bukankah semua baik-baik saja?”

”Aku tidak tahu. Entahlah. Tiba-tiba saja dia menjauh dariku. Aku nggak mengerti sama cewek.”

“Yah, cewek memang membingungkan. Aku setuju itu. Sudahlah, kau bisa cari cewek lain.”

Allan hanya diam.”Sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya, Kev. Aku tidak bisa begitu saja mencari cewek lain.” Batin Allan.

*-*-*-*
(Naiad School Building, Naiad, Thalassa, Tethys)

Sejak malam terpilihnya Allan sebagai perwakilan Fraternite, Allan mulai melakukan tugasnya sebelum dia dilantik secara resmi menjadi anggota Student Representative Council. Dia harus menemui semua anggota SRC dari semua koridor sebelum tenggat waktu pelantikan, untuk mendapatkan tanda tangan sebagai bukti para anggota SRC menyetujuinya untuk masuk dan bergabung bersama mereka di dewan siswa paling tinggi di Naiad itu.

Allan sudah mendapatkan tanda tangan dari Brendan Jackson, senior dari koridor Liberte yang juga sebagai Ketua SRC, alias Presiden Siswa Naiad, berikut tiga anggota SRC lain tingkat II & III, dari koridor yang sama. Dia tentu saja sudah mendapat tanda tangan semua anggota SRC dari Fraternite. Yang belum dia dapatkan adalah tanda tangan dari anggota SRC asal Egalite.

Berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari Orrick, akhir-akhir ini Marvin Freeland sering menggantikan teman sekamarnya yang bertugas menjaga perpustakaan sekolah karena temannya disibukkan oleh latihan untuk lomba renang antar sekolah. Siang itu seusai kelasnya, Allan pun langsung menuju ke perpustakaan. Kali itu, dia tidak bersama Jamie yang biasanya berburu tanda tangan bersamanya. Jamie sedang ada kelas.

Allan melihat Marvin sedang asyik dengan bubblegumnya, duduk di kursi petugas perpustakaan sambil membaca sebuah majalah otomotif.

”Siang, Senior.” sapa Allan begitu menghampiri Marvin. Marvin meniup permen karetnya membentuk balon dan melihat pada Allan.

”Kamu. Ada apa? Mau pinjam buku?” Marvin masih mengunyah permen karetnya.

“Tidak, Senior. Saya ingin minta tanda tangan dari senior…”

Marvin menatap Allan dengan pandangan penuh tanya.

”... itu Senior, tugas wajib calon anggota SRC sebelum pelantikan.”

Marvin mengernyitkan dahi dan meletakkan majalahnya. Ketika seorang polisi Naiad memasuki ruangan perpustakaan itu, Marvin buru-buru membuang permen karet yang dikunyahnya ke dalam keranjang sampah. Dia kini mengamati Allan dari ujung kepalanya hingga ujung kakinya,”Kamu?! Kamu calon anggota SRC?!”

”Iya, Senior.”

Marvin masih mengernyitkan dahi,”Kamu calon anggota SRC perwakilan... Fraternite?”

Allan mengangguk.

”Orrick sama Chuck yakin sudah memilih kamu?”

Allan kini yang keheranan, merasa diremehkan oleh Marvin.

”Iya, Senior. Mereka sudah memilih saya.”

“Kehebatan apa yang kau miliki sampai-sampai Ketua dan Wakil koridormu itu memilihmu?”

“Saya mampu mewakili suara siswa dari koridor saya, Senior.”

Marvin masih saja memandangi Allan dengan tatapan meremehkan,”Apa kau tahu tugas-tugas anggota SRC?”

“Saya sudah tahu garis besarnya, Senior. Saya harus mampu menjadi perantara dan menyalurkan aspirasi dari siswa.”

“Jadi anggota SRC itu tidak mudah, Svanalevich… Kau akan sangat sibuk. Lebih sibuk dari siapapun di Naiad ini. Apa kau sanggup? Apalagi kau kan masuk tim basket sekolah.”

Allan berpikir sebentar kemudian mengangguk,”Saya pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan kepercayaan yang sudah diberikan anggota koridor saya. Mengenai sibuk, bukankah Senior juga anggota tim atletik sekolah? Kalau senior saja mampu melakukan semua itu, saya yakin saya juga bisa melakukannya.”

Marvin menghela nafas kemudian berkata,”Mana berkas SRC mu?”

Dengan lega Allan menyerahkan selembar kertas pada Marvin. Marvin menerimanya kemudian menandatanganinya.”Siapa rekanmu?”

“Jamie Freeze, senior.”

“Suruh dia minta tanda tanganku hari ini juga. Besok aku ada kejuaraan atletik selama seminggu, jadi aku tidak akan ada di tempat ini.” Marvin menyerahkan berkas itu kembali pada Allan.

“Baik, terimakasih, Senior.”

Allan langsung keluar dari ruangan perpustakaan itu dengan perasaan sangat lega sekaligus makin mengagumi Marvin Freeland. Entah mengapa, dia berpikir ingin sekali bisa belajar banyak dengan senior dari koridor Egalite itu.
*-*-*-*

(Fraternite, Naiad, Thalassa, Tethys)

Sejak resmi dilantik menjadi anggota SRC, Allan semakin sibuk. Jarang sekali dia ada di kamar asrama dalam sehari kecuali untuk tidur di malam hari. Usai jam sekolah dia harus menghadiri berbagai rapat SRC, kemudian sorenya dia harus latihan basket tim Naiad. Menjalankan tugasnya sebagai anggota SRC membuatnya sering berkeliling Naiad dan berhubungan dengan banyak orang. Belum lagi sekembalinya ke kamar asrama sudah ada tumpukan tugas dari sekolah.

”Kau sebar kuesioner survey itu ke anak-anak tingkat I, biar aku yang menyebarkannya pada anak-anak tingkat III.” ucap Allan sambil menyerahkan setumpuk kertas pada Jamie Freeze seusai makan malam.

”Aku masih heran kenapa Eddie dan Dustin tidak mau melakukannya.”

”Yah, mereka kan senior. Dan mereka harus konsentrasi lebih pada pelajaran di tahun terakhir mereka. Masih untung Orrick mau menyebarkan kuesioner di tingkat II.”

”Aku tahu. Tapi bukankah inti dari SRC itu kerjasama antar anggotanya?” Keluh Jamie.

“Yah mau bagaimana lagi, mereka lebih senior.”

“Kau tidak capek, All? Sekolah, latihan basket, SRC ini…”

”Sejujurnya sih... capek juga.”

Jamie memperhatikan Allan. Terlihat sekali rekannya itu tampak kelelahan.

”Hey, I tell you what... Biar aku saja yang menyebar kuesioner ini pada anak tingkat III, kau yang urus teman-teman kita.”

Allan menatap Jamie.

“Kau kelihatannya sudah capek, kasihan kalau harus menghadapi anak-anak tingkat III yang merasa lebih senior dan paling susah untuk mau menerima kuesioner ’Aspirasi Siswa Mengenai Peningkatan Fasilitas’ ini. Oke?”

”Kau serius?”

”All, aku ini nggak punya kegiatan lain. Kegiatan yang aku ikuti hanya Klub Catur. Itupun hanya dua minggu sekali. Kau jauh lebih sibuk. Sudahlah, biar aku urus.” Jamie berlari menuju area asrama anak-anak Fraternite tingkat III.

”Thanks, Jamie!”
*-*-*-*

(Fraternite B/28, Naiad, Thalassa, Tethys)

”Hey, All kemana saja kau? Menghilang setelah makan malam.” tanya Kevin dari atas ranjangnya. Di atas ranjangnya sudah tersebar buku-buku dan kertas-kertas.

Allan melepas jas Naiad nya. ”Uuhh... aku capek sekali...”

”Kau melakukan tugas SRC lagi?”

Allan menyerahkan selembar kertas pada Kevin,”Kuesioner peningkatan fasilitas. Isi ya,”

Kevin melihat kertas itu,”Sepertinya lebih menyenangkan mengisinya daripada mengerjakan tugas-tugas sialan ini.”

”Kau pasti sudah hampir selesai mengerjakan tugas ya?” Allan menuju ke dalam kamar mandi.

Kevin tertawa,”Aku mana mungkin sudah selesai mengerjakan semuanya sendiri. Dari tadi aku hanya melihat soal-soal dan karena aku nggak mengerti, kuputuskan untuk menunggumu saja. Tapi kamu nggak balik-balik. Lalu aku SMS Katherine. Kau tidak keberatan kan?”

“Keberatan apa?” teriak Allan dari dalam kamar mandi.

”Aku SMS Katherine.”

Terdengar suara air mengalir dari shower,”Kenapa aku harus keberatan? Asal kau tidak mempermainkannya. Itu saja.”

”Tapi dia menanyakanmu terus.” Ucap Kevin ketika Allan sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah sepuluh menit kemudian.

”Tanya apa?”

”Ya kamu lagi sibuk apa lah, kenapa nggak pernah angkat telponnya lah. Aku bilang saja kau lagi sibuk jadi anggota SRC dan jarang ada di kamar.”

Allan mulai duduk di kursi belajarnya dan mengambil tumpukan buku dan mejanya.

”Kenapa kau tidak menelepon Katherine saja, dan balas cintanya.” ucap Kevin. Allan langsung menoleh,”Apa maksudmu dengan membalas cintanya?”

”Sudahlah, All. Masa kamu nggak ngerti juga sih kalau Katherine itu sangat mencintaimu. Dia bukan lagi teman kecilmu, dia sudah besar dan dia jatuh cinta padamu. Well, mungkin dia sudah jatuh cinta padamu sejak kalian kecil.”

Allan tertawa,”Aku dari kecil dekat sekali dengan dia. Jadi sudah biasa kalau sikap dia seperti… ya seperti yang kau kira itu.”

“Kau alasannya selalu begitu… Mana, beritahu aku bagaimana mengerjakan tugas ini.” Kevin mendekati Allan.

“Hmm… sepertinya jawabannya dicari dari buku yang karangan Albert Wiley deh. Ada semua tuh disitu, digabung dengan catatan presentasi Sir Felix.”

“Kamu ini sekali baca soal langsung tahu. Kamu sudah baca semua buku ya?”

”Aku kan bilang sepertinya, Kev. Belum tentu benar.”

Kevin mulai kembali ke ranjangnya dan membuka buku yang dimaksud Allan. Begitu juga Allan mulai mengerjakan tugas itu. Beberapa saat kemudian terdengar dering telepon dari ponsel Allan. Allan tak mempedulikannya.

”All, telepon tuh.” Ucap Kevin.

“Biar sajalah.”

“Eh nih anak, bunyi terus tuh.”

Allan kemudian melihat ke layar ponselnya. Tidak ada nama disana, hanya nomor asing.

”Hallo,”

”Hey, Allan? ini aku Trent.”

”Hai Trent! Apa kabar?”

”Kau ini ada di Thalassa tapi nggak pernah main ke rumah. Sekolahmu benar-benar sekolah penjara ya?”

”Maaf, Trent... terlalu banyak kegiatan jadi belum sempat ke rumahmu. Oh ya darimana kau tahu aku disini dan aku ada di... sekolah penjara?”

”Kira-kira empat bulan lalu waktu akhir pekan, aku dan orangtuaku ke Ananke. Yah kata ibumu kau sekolah di Naiad.”

”Ya... Ayahku ingin aku masuk sini. Sekolahmu dimana, Trent?”

”Thalassa High. Hanya sekolah umum bukan sekolah swasta se-prestige sekolahmu, tapi setidaknya disini ada perempuan dan bukan sekolah penjara hahaha!”

“Dan kau pasti masuk tim basketnya?”

”Tentu saja, All! Kau lupa dengan cita-cita kita?”

“Tentu tidak… masuk Klub Basket ternama! Hahaha!”

”Bagaimana denganmu? Tim basket Naiad kan dari dulu termasuk yang banyak berprestasi. Jangan katakan kau tidak berhasil masuk ke dalam timnya?”

”Aku masuk, Trent. Jangan khawatir, suatu saat nanti kita pasti bertemu di lapangan!”

”Pasti kutunggu saat itu! Oh ya, waktu di Ananke aku bertemu pacarmu itu. Dia makin cantik saja ya dengan rambut merahnya itu hahaha...”

”Pacarku? Aku tidak punya pacar, Trent.”

”Aahh sudahlah, Katherine itu kan pacarmu. Aku masih ingat dulu waktu kita kecil, saat kita lagi asyik main basket di dekat danau kompleks rumahmu itu. Katherine datang dan tiba-tiba menarik tanganmu, membawamu ke sehelai kain piknik kotak-kotak yang digelarnya dan dia langsung menyodorkan sekotak sandwich ke hadapanmu, lalu dia ingin kau makan saat itu juga. Saat aku menghampiri kalian karena aku juga lapar, aku coba minta pada pacarmu itu, tapi dia bilang, nggak boleh! Ini cuma buat Allan! Hahahaha!”

Allan tertawa,”Kau masih ingat itu juga.”

“Oh ya, kapan kita bisa bertemu dan bertanding basket satu lawan satu seperti dulu lah…”

”Aku juga ingin, Trent, tapi aku tidak tahu kapan aku bisa.”

”Begini saja, sekolahku akan ada pertandingan basket dengan Anston High di Thalassa Basketball Arena. Kau datang saja menonton. Nanti kita ketemu.”

Allan menoleh ke arah Kevin,”Kev, weekend ada latihan basket nggak?”

“Nggak ada. Kan libur sebelum pertandingan minggu depan.” jawab Kevin.

”Oke, sepertinya aku bisa tapi... aku belum bisa janji dulu kalau ada pertemuan SRC...”

”Kau anggota Naiad SRC?”

”Iya, nanti aku…”

“Gila kau, All! Pantas saja kau tidak punya waktu. Ya sudahlah, aku tidak akan memaksamu...”

”Kau dengarkan aku dulu, dari tadi main potong saja.”

”Hehehehe iya iya maaf. Kenapa?”

“Nanti aku selesaikan semua tugasku secepatnya jadi aku bisa nonton pertandinganmu.”

“Great then! Kau tidak keberatan kan turun ke bawah kota? Jangan semedi di atas bukit terus hehehe…”

“Iya, aku akan turun.”

“Oke, sudah dulu All. Bye, All. See you.”

“Bye, Trent.”

Allan meletakkan ponselnya dan kembali membalik-balik halaman buku di depannya.

“Temanku Trent, yang pernah kuceritakan itu..”

”Ada apa?”

”Dia memintaku nonton pertandingan basketnya. Dia anak Thalassa High. Kau ikut kan?”

Kevin langsung menghentikan pekerjaannya,”Tentu saja aku mau!”

Belum sempat Allan menanggapi, terdengar bunyi SMS masuk ke ponselnya. Allan langsung membukanya.

I miss you.
Can I meet u this Saturday?

”Oh...” Allan terkejut mendapatkan SMS itu.

”Ada apa?” Kevin langsung bertanya.

Allan hanya menggeleng-geleng,”Claire. Dia ingin bertemu denganku Sabtu ini.”

”Oh ya? Cewek benar-benar nggak bisa dimengerti. Kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu denganmu? Bukankah kau bilang dia menjauhimu?”

”Entahlah.”

”Kau akan menemuinya?”

”Aku tidak bisa. Aku ada pertemuan SRC hari Sabtu, seharian penuh. Dia minta ketemu hari Sabtu.”

”Jangan mau dipermainkan cewek, All. Seharusnya kita yang mempermainkan mereka. Well, kita lebih berkuasa. Jumlah cewek di dunia ini kan lebih banyak dari jumlah kita.”

Allan tak mempedulikan ucapan Kevin. Dia tengah mengetik jawaban untuk SMS Claire.

I can’t meet u this weekend. Sorry.
And I miss u too. Really miss u.

Allan tidak bisa melanjutkan pekerjaannya sebelum mendapat balasan SMS dari Claire.

”Jangan biarkan mereka mengatur kita, All.” Kevin masih saja berceloteh.

Ok, I’ll text u again..
I miss u more than u miss me

Allan kecewa, namun dia tak bisa memungkiri bahwa dia sudah senang menerima SMS dari Claire.
*-*-*-*

(Thalassa Basketball Arena, Thalassa, Tethys)

Pertandingan basket antara Thalassa High vs Anston High sudah setengah jalan. Allan dan Kevin tak henti-hentinya mengomentari jalannya pertandingan dari bangku penonton.

“Temanmu itu hebat juga.” Ucap Kevin.

“Iya. Ambil rebound terus dia. Dari kecil dia memang pintar main basket.”

“Waw! Lihat blockshotnya! Hebat!” ucap Kevin kagum melihat Trent, sahabat Allan berhasil melakukan blok terhadap tembakan lawan.

“Anak-anak Thalassa hebat kalau mencuri bola.” Kata Allan kemudian.

Three point.. Masuk lagi!” teriak Kevin. Terdengar suara riuh dari para penonton setelah seorang pemain Thalassa High berhasil memasukkan bola.

“Sudah jelas Thalassa High pemenangnya.”

“Aku tak sabar berada di lapangan pertandingan, All. Sayang kita nanti masih duduk di bangku cadangan dulu.”

“Yeah.. kita harus bersabar.”

“Setelah selesai nanti, kita harus mencoba salah satu makanan yang dijual di luar arena.”

“Aku akan mencari Trent di area ruang ganti pemain dulu. Nanti aku menyusulmu.”

“Oke.”

Seusai pertandingan yang dimenangkan telak oleh Thalassa High, Allan berjalan mencari area ruang ganti pemain. Di dalam area itu sudah banyak orang yang kebanyakan teman-teman sekolah dari para pemain yang telah bertanding, menunggu di koridor depan ruang ganti. Beberapa pemain tampak disana, masih mengenakan seragam tim.

Mata Allan mulai menelusuri orang-orang itu, mencoba mencari Trent, sambil terus berjalan pelan-pelan. Di tangannya sudah siap ponsel untuk menghubungi Trent jika tidak bisa menemukan sahabatnya itu.

Ketika hampir mendekati pintu kamar ganti pemain Thalassa High, Allan langsung menghentikan langkahnya. Matanya tak mau lepas dari apa yang baru saja dilihatnya, memandang tak percaya. Pikirannya tak sanggup lagi menerjemahkan apa yang hatinya coba katakan padanya atas laporan dari indera visualnya itu.

Allan melihat Trent sedang berciuman dengan seorang perempuan. Kakinya ingin segera pergi dari tempat itu namun terlambat, Trent memanggilnya.

“Allan! Hey.. sahabatku!”

Mau tak mau Allan mendekatinya. Perempuan yang tadi berciuman dengan Trent tampak sangat terkejut melihat Allan.

Nice game, Trent,” ucap Allan mencoba antusias memberikan selamat. Mereka bersalaman.

Thanks, bro! Kau datang juga. Oh iya, kenalkan, ini wanita istimewaku.” Trent memperkenalkan perempuan disampingnya.

Allan menghela nafas kemudian mengulurkan tangannya pada perempuan itu,”Allan,” ucap Allan meski merasa tak perlu memperkenalkan diri lagi.

“Ini Allan, sahabatku, Sayang. Dulu waktu kecil kami sering main basket bersama..” Trent tampak terus berbicara tanpa mengetahui kecanggungan yang terjadi diantara mereka.

Cukup lama sebelum perempuan itu membalas uluran tangan Allan,

“Claire.” Ucap perempuan itu menyebut namanya.

Read previous post:  
63
points
(3013 words) posted by lavender 8 years 38 weeks ago
78.75
Tags: Cerita | Novel | drama | clique-lit | domestic drama | mainstream romance
Read next post:  
Writer auliaputrin
auliaputrin at Limelight (8) (8 years 36 weeks ago)
30

kok kesannya seperti dipanjang-panjangin yah?

Writer lavender
lavender at Limelight (8) (8 years 36 weeks ago)

Maaf, tp ini mmg ceritanya bakal panjang :-)

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)
100

hei kau!!
sudah 6 hari. . .
mana limelight-nya. . .
huhuhu T.T
jangan2 kau bingung lanjutannya? hihihi akupun bingung..

Writer lavender
lavender at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)

wkwkwkwkwkwk.. masa si 6 hari??
tau aja daku bingung.. masih separo ini, hehe.. sebentar yakk.. maap..
wah.. akhirnya dikau dah punya profile picture.. gambar daon.. hehe..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)
100

hmm. sudah mengerti masalahnya. Sebenarnya pemecahannya mudah.

Writer lavender
lavender at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)

really, what's that?
but I'm not looking for the solving yet, neko-man..
cerita ini masih panjang.. I need some scene to show the conflicts that I build in my head.. so.. wanna help me? *tetep ngarep* xixixi..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)

Memangnya apa yang akan di lakukan Allan setelah ini. Melabrak? Kabur dari masalah, depresi? Pura-pura tidak tahu? Dia punya masalah dia harus menyelesaikannya. Bagaimana karakternya menanggapi kejadian ini. lalu bagaimana perubahan tanggapan teman Allan? Pandangan Allan sendiri terhadap dunia?
.
Bisa juga gerak yang dilakukan pemain lain. Misal Claire minta maaf?
.
Kau bisa menyalakan sumbu dan menghidupkan "bom drama" di sana. Atau kau bisa terus membangun konflik sedikit demi sedikit. Perlahan menebar drama di mana mana.
.
Mungkin kau agak kehilangan arah karena kau tidak memiliki pegangan tali plot. Bukankah ini drama sekolah? Seharusnya para karakternya naik kelas hingga lulus. Mudah sekali menghubungkan tiap alur jika kau memberi hubungan waktu. Misal kapan Scene x terjadi, sebelum ujian, akhir liburan.

Writer lavender
lavender at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)

jadi seluruh cerita dari awal sampai akhir sudah terancang, hanya saja membutuhkan beberapa detail konflik..
*
dan konfliknya nanti memang akan ada beberapa, dan memang nanti akan lama, seiring bertambah tahun..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (8) (8 years 36 weeks ago)

tidak segampang itu. juga tidak serumit itu. paling utama adalah kesabaran dan keteguhan hati.

Writer neko-man
neko-man at Limelight (8) (8 years 36 weeks ago)
Writer tlockhart96
tlockhart96 at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)
20

hem... binggung??!!
salam kenal:-)

Writer lavender
lavender at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)

kenapa bingung? salam kenal juga..

Writer tlockhart96
tlockhart96 at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)

saia gag tau crita sebelumnya jadi saia binggung T.T

Writer Riesling
Riesling at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)
90

Wah wah... Claire laku yah...

Writer lavender
lavender at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)

laris manis.. hoho.. thanks for reading yak.. :-)

Writer suararaa
suararaa at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)
80

o oww claire ketahuaaannnn... hihihiii...
udahlah, allan... tinggalin claire,,, kmbli kpd katherine...hehehehe

Writer Riesling
Riesling at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)

Allan mesti cepat tuh~~ Ntar keduluan Kev xDD

Writer lavender
lavender at Limelight (8) (8 years 37 weeks ago)

keduluan sama Majnun.. hehehehe..

Writer majnun
majnun at Limelight (8) (8 years 38 weeks ago)
100

nhaaaa..

Claire, ketahuaaaan..

Writer lavender
lavender at Limelight (8) (8 years 38 weeks ago)

dikau tampani saja Claire nya yaa.. mau ga? hehe..

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Limelight (8) (8 years 38 weeks ago)
90

wahaha... hebat mbak ^^
Allan buat aku aja *twink twink twink* XD

Writer lavender
lavender at Limelight (8) (8 years 38 weeks ago)

hohohoho.. boleh2..
thanks for reading, kumiiko.. :-)

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Limelight (8) (8 years 38 weeks ago)
90

wahaha... hebat mbak ^^
Allan buat aku aja *twink twink twink* XD