Bukan Kebetulan - end

Hari itu perkenalan kami berubah menjadi sebuah reuni. Ya, aku heran, dia heran, Oma dan Ompung heran, bahkan penghuni kamar lain di kontrakan itu pun heran. Dua mahluk yang sama sekali asing satu sama lain, yang baru bertemu hanya duapuluh menit sebelumnya, makan siang bersama di ruang tamu sebuah rumah tua yang dinding papannya disaputi pelitur, tertawa-tawa bersama seolah mereka adalah dua sahabat yang telah berkenalan belasan tahun yang silam dan sudah terlalu lama tidak bertemu sehingga begitu banyak kisah untuk diceritakan, begitu banyak suka untuk dibagikan dan begitu banyak duka untuk diungkapkan. Dua mahluk yang sama sekali asing satu sama lain menceritakan orang yang sama, menertawakan orang yang sama, sepakat atas keanehan orang yang sama. Orang yang malang itu adalah teman satu angkatanku di kampus yang kebetulan adalah tetangganya di kampung halamannya.

Seharusnya aku tiba di rumah lebih awal akhir pekan itu, tapi Libe menahanku di rumahnya dengan kisah-kisah lucu yang begitu menarik untuk didengar, terlebih lagi oleh karena gayanya bercerita. Dia mengingatkanku pada sosok ‘Wendy’ dalam film ’Peter Pan’. A living story teller.

Sejujurnya ia memperkenalkan banyak hal baru padaku, hal-hal yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan menjadi topik yang menarik untuk dibahas bersamanya. Berjibun masalah terlupakan sejenak ketika aku menghabiskan waktu bersamanya. Dan aku baru meninggalkan tempat itu setelah hari sudah petang. Setibanya di kamar kontrakanku, aku menceritakan seluruh kisah yang baru saja kualami kepada adikku, Tira. Ia pun terkesan mendengar ceritaku.

Hari-hari setelah itu, kami tidak bertemu sama sekali. Meski aku selalu melewati depan rumah yang ia tinggali, aku masih ragu untuk mengunjunginya. Pikirku, ia mungkin tidak mengingatku lagi, aku mungkin hanyalah pengisi di kala waktu senggangnya, Libe pasti punya banyak teman lain yang bisa diajaknya bercerita di rumah itu. Aku bahkan sudah tidak mengingat namanya lagi hingga pada suatu sore, sekitar tiga minggu setelah itu, saat aku sudah berjalan jauh melewati rumahnya, persisnya setengah perjalanan menuju tempat tinggalku, seorang pria memanggilku dari belakang, “Mbak, Mbak..ada yang manggil nih.”

Aku menoleh ke belakang dan terkejut melihatnya di sana. Libe, mengenakan celana pendek berbahan jeans dan kaus oblong bergaris-garis horizontal berwarna campuran putih dan abu-abu, yang memberi kesan bobot tubuhnya telah bertambah beberapa kilo dari waktu pertama kali aku bertemu dengannya.

“Hey?!”
“Hey?!”
Teriakan itu keluar serempak dari mulut kami. Kami pun tersenyum bersama.
“Sori, aku lupa namamu. Kamu tinggal di mana sih?” tanya Libe dengan hasrat ingin tahu yang kentara sekali. “Aku mau ke rumahmu tapi enggak tau kamu tinggal di mana,” katanya lagi.

Aku sama sekali tidak menduga kalau Libe masih ingin bertemu denganku, apalagi bermain ke rumahku. Kuundang dia ke rumahku saat itu juga, lantas kuperkenalkan dengan adikku yang sebelumnya telah mendengar kisah pertemuanku dengan Libe. Libe sendiri tidak merasa asing dengan adikku karena aku telah menceritakan sedikit banyak tentang keluargaku saat bertemu dengannya pada pertemuan pertama kami. Seperti yang sudah kuduga, mereka langsung bergaul akrab satu dengan yang lainnya. Aku sempat merasakan de ja vu saat melihat Tira tertawa-tawa bersamanya, Libe menceritakan ulang kejadian pertemuan kami kepada adikku. Libe juga menceritakan kisah-kisah yang sama yang telah diceritakannya sebelumnya padaku yang sebenarnya juga telah kuceritakan kepada Tira. Alhasil adikku memotong di tengah cerita, “Iya, udah diceritain ama kakakku, cerita yang lain aja,” katanya.

Seandainya aku bisa melihat, mukaku sendiri pasti sempat pias, khawatir melihat Libe agak terdiam sesaat ketika pembicaraannya dipotong seperti itu. Aku menunggu beberapa detik sebelum memutuskan untuk mengatakan sesuatu, dalam hati aku penasaran bagaimana Libe dan Tira akan mengatasi hal itu. Ya, aku kembali melakukan sebuah observasi, mengamati apakah Libe dan adikku Tira bisa beradaptasi satu sama lain dengan baik. Ternyata aku tidak salah, mereka dapat mengatasi kebisuan sesaat itu dengan sangat baik, Libe kembali bercerita dengan hebohnya. Aku dan Tira sampai harus mengingatkannya untuk mengurangi volume suaranya berulang kali yang membuatnya protes, katanya, “Apa sudah tidak ada lagi kebebasan di dunia ini?!!”

Aku dan Tira hanya bisa menanggapi dengan tawa.

Suatu kali aku meninggalkan mereka berdua saja bercerita di dalam kamar kontrakanku. Pada saat aku kembali, mereka sedang bercerita tentang orang yang sama, menertawakan orang yang sama, dan bersepakat tentang keanehan orang yang sama, teman sekampus adikku yang tak lain tak bukan adalah tetangganya. Lagi-lagi sebuah kebetulan. Semakin banyak orang-orang yang kukenal dikenal olehnya, semakin banyak orang yang dikenal oleh adikku dikenal olehnya juga. Dalam benakku, aku seperti melihat dua laba-laba merajut jaring. Oh tidak, bukan dua, tapi tiga laba-laba. Dan aku melihat jarring-jaring itu semakin rapat.

Beberapa kali Libe hendak mengulangi cerita yang sama, Tira tak pernah ragu untuk mengingatkannya, “Udah pernah kau ceritakan tuh....”

Untuk setiap peringatan itu, Libe akan selalu menjawab, “Oh, udah ya? Sorry, kalau gitu cerita yang ini aja,” ia selalu menemukan kisah menarik lain untuk diceritakan. Aku takjub dengan kebolehannya dalam hal itu. Tetapi yang membuatku lebih takjub lagi betapa banyak kemiripan sifat di antara mereka berdua. Aku tak tahu pasti apakah mereka sadar atau tidak, mereka berdua sama uniknya, sama nyentriknya. Libe bahkan meyakinkanku berulang kali bahwa Tira merupakan ‘alter ego’ bagi dirinya.

Sejak saat itu Libe menjadi pengunjung tetap kamar kontrakanku. Tiada hari tanpa kehadirannya. Celotehnya yang tidak pernah berhenti membuat suasana kamarku yang semula sunyi dan sendu menjadi sangat seru, sesekali malah gaduh. Tak butuh waktu yang lama untuk membuktikan betapa keputusanku mengikuti kata hatiku dulu ternyata tepat adanya, Tanpa kami sadari, ikatan di antara kami bertiga menjadi begitu kuat. Libe menjadi lebih dari sekedar sahabat bagi diriku sendiri dan juga adikku Tira. Kami memutuskan bahwa Libe adalah saudari kami. Meski tanpa dikomando, kami bertiga bertekad membuat setiap orang yang berarti bagi kami untuk mengerti tentang hal itu. Ibuku mengerti, sebagaimana ibunya pun mengerti. Kakakku mengerti, demikian juga kakaknya. Teman-teman dekatku mengerti, begitupun teman-teman dekatnya. Mereka dibuat mengerti. Kami memastikan mereka semua mengerti.

+++

Suara supir menyebutkan terminal yang dituju menggugah kenanganku akan waktu-waktu yang telah kulalui bersama orang-orang yang berarti dalam hidupku. Bus yang kutumpangi baru saja tiba di terminal keberangkatan ke luar negeri, terminal satu. Aku bergegas melangkah ke depan, menarik gumpalan uang kertas yang telah kusediakan dari semula dari kantong belakang celana jeansku, meletakkannya di atas telapak tangan supir bus itu, bergegas ke luar dari situ. Dering telepon genggam terdengar dari dalam tasku begitu aku menjejakkan kaki di lobby terminal 1D. Libe sudah menantiku di sebuah kursi panjang di depan pintu masuk bersama dua orang lain teman sekontrakannya yang kini juga menjadi temanku, Beby dan Rena.

“Hi, honey, what took you so long?” Libe merengut saat aku menghampirinya, tapi tetap menyambut waktu aku menyodorkan pipiku padanya.

“Aduh, sori, lu ngerti ‘kan si Sinting itu gimana, cari masalah mulu,” jawabku dengan wajah memelas. “Gimana, udah check-in? Udah beresin semuanya? Your ticket? Passport?” tanyaku.

“Udah, udah beres semuanya, tinggal berangkat aja. Ntar, masih ada waktu satu setengah jam-an. Kita crita-crita aja dulu di sini. Geser dulu, By! Geser sana, biar dia bisa duduk di sini,” Libe memaksa Beby bergeser agar aku bisa duduk di dekatnya. Beby hanya bisa menurut, ia tahu tak ada gunanya membantah Libe.

Kami mengenang kembali masa-masa awal perkenalan kami. Beby dan Rena sesekali ikut menimpali, mereka memang sudah mengetahui hal ikhwal pertemanan kami. Di sela-sela pembicaraan heboh itu, Libe kembali menanyakan padaku, “Menurutmu, pertemuan kita di warung nasi itu kebetulan, nggak sih?”

Aku tak pernah tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Buatku sendiri hal itu masihlah sebuah misteri.

Malam itu aku kembali merasakan de ja vu. Kami berempat tertawa terbahak-bahak tanpa perduli pada orang-orang di sekeliling kami. Tapi aku tertawa-tawa sembari berpikir entah kapan kami bisa tertawa seperti itu lagi. Libe sudah menaiki kereta kudanya, yang belum ia lakukan hanyalah menghela kudanya. Seketika suasana di sekelilingku terasa sepi, padahal kereta kuda itu belum lagi pergi.

Sebuah perasaan yang tidak biasa kembali menerpaku, sebuah reaksi kimia kembali terjadi. Gejolaknya begitu terasa, adrenalin mengalir deras di pembuluh darahku, dadaku sampai terasa sesak, rasa haru meruap hingga ke mataku. Mimpi pun tidak kalau Libe akhirnya menyusul adikku Tira yang sudah melanglang buana lebih dahulu ke negeri Paman Sam. Aku begitu bahagia menyaksikan sahabatku akhirnya dapat mewujudkan sebuah keinganan yang sudah diimpi-impikannya sedari kecil, jauh sebelum ia bertemu denganku dan adikku Tira. Tapi aku tak dapat memungkiri betapa hidupku akan terasa sangat berbeda tanpa seorang sahabat yang sudah kuanggap seperti saudariku sendiri, apalagi adikku juga sudah tidak di sini. Begitupun, aku malu untuk memperlihatkan perasaaanku pada dirinya. Ya, dalam sejarah pertemanan kami, air mata tidak pernah diumbar meski salah satu di antara kami bersedih, kami sudah sangat mengenal satu sama lain, sehingga terkadang kata-kata bahkan tak diperlukan lagi, karena kehadiran saja sudah mencukupi. Saat ini pun Libe menyadari kegamanganku, ia merengkuh bahuku, namun tak malu-malu menangis di situ. Aku sendiri tak kuasa menahan kesedihanku lagi, air mataku jatuh jua.

“Am gonna miss you, Sista…” Libe menangis terisak-isak di bahuku. Aku melihat ke arahnya, hanya mengangguk-angguk sembari terus berusaha mempertahankan seulas senyum di wajahku. Aku tak ingin dia berduka, karena itu seharusnya menjadi sebuah perayaan, bukan ibadah penghiburan.

“Tadi gua udah telpon si Tira, ntar dia jemput lu di bandara. Di bandara itu kan ada fasilitas untuk nelpon ke luar, Be. Ntar lu pake aja buat telpon Tira. Gua sih udah bilangin kalo dia harus udah ada di sana sebelum lu nyampe. Jadi jangan lupa nomornya, jangan sampe ninggalin entah di mana. Atau kalo memang lu benar-benar kehilangan, lu telpon gua ya, kalo nomor gua lu ga lupa kan? Awas kalo lupa, gua cabutin juga tuh rambut, biar botak sekalian,” aku mengancamnya sembari bercanda, dan menangis setengah tertawa ketika ia menyodorkan sebungkus kecil tisu ke hadapanku tatkala ia sendiri sibuk mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Tangisannya tak mau berhenti, aku jatuh iba melihatnya. Terlebih karena aku sendiri mengerti apa yang dirasakannya.

“Libe…am gonna miss you too, but it’s gonna be fine. Toh kita masih bisa chat, masih bisa telpon-telponan, kita masih bisa kirim-kirim email, masih bisa liat muka pake webcam. Sama aja kayak berhubungan dengan Tira sekarang. Ini bukan jaman batu lagi kok. So, we shall keep in touch ya. Lagian lu kan bareng ama Tira, ga usah sedih gitu deh,” aku berusaha membuatnya ceria kembali, tapi sepertinya aku belum cukup berhasil, padahal ia harus segera masuk ke ruang tunggu. Aku nyaris kehabisan akal, tak enak hati kalau sahabatku harus menaiki pesawat dengan muka sembab dan bengkak karena menangis.

“Libe… am gonna miss you since you are not gonna be around anymore, but you know what? Kayaknya aku memang sedang butuh waktu ekstra deh untuk bisa menyelesaikan urusanku dengan si Tukang Ngupil yang duduk di depanku itu,” aku sengaja memasang tampang serius di depannya. Dan Libe pun tertawa tergelak-gelak. Topik tentang atasanku sepertinya selalu berhasil memancing tawanya.

Malam itu, sebelum beranjak dari bangku panjang di lobby terminal 1D, aku memeluknya untuk yang terakhir kali. Aku, Beby dan Rena menghantarkannya sampai ke depan pintu, mengucapkan selamat jalan padanya di situ. Kami menunggu sampai bayangannya hilang dari depan kami, lalu berbalik menuju tempat pemberhentian taksi yang lokasinya tak jauh dari situ. Baru saja aku melangkah sekali, terdengar suara langkah kaki seseorang tengah berlari dan berteriak dari dalam, “Sist, ingat janjimu ya! Awas kalo ga nyusul kami!”

Aku hanya tertawa dan mengangguk padanya.

“Bye, Sista! Doain gua ya!” Libe melambaikan tangannya kepada kami bertiga dan menghilang kembali. Aku sempat menunggu beberapa saat, kupikir, mahluk nyentrik itu bisa saja kembali lagi. Tapi syukurlah, dia tidak kembali lagi. Sambil berjalan ke arah perhentian taksi, diam-diam aku berdoa di dalam hati agar ia selamat sampai di tempat yang dituju nanti, agar cita-citanya tercapai di negeri yang baru itu, agar ia menemukan apapun itu yang masih belum ditemukannya selama tinggal di negeri ini, aku mendoakan agar ia menjadi pribadi yang lebih tangguh, lebih bijaksana, lebih menghargai hidup, lebih mengasihi dirinya dan lebih berbahagia. Segala harapan dan doa yang baru saja kupanjatkan untuknya mengingatkankanku pada satu masa yang silam ketika ia melakukan hal yang sama untukku, persisnya ketika aku membeberkan sebuah rahasia yang teramat penting dalam hidupku kepadanya. Semuanya membawaku kepada suatu kesimpulan, bahwa kami saling membutuhkan.

Jadi….“Bukan kebetulan, Libe. It was God’s work.”

Read previous post:  
69
points
(2020 words) posted by brown 10 years 23 weeks ago
69
Tags: Cerita | drama | kebetulan | persahabatan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Chatarou
Chatarou at Bukan Kebetulan - end (10 years 20 weeks ago)
90

kebetulan yang nulis cerita ini pinter..
imanjinasinya bagus, dan mengalir deras.
jadi emang kebetulan..
hi..hi...

Writer fortherose
fortherose at Bukan Kebetulan - end (10 years 20 weeks ago)
90

...saya ketinggalan lanjutan cerita ini, ternyata^^
Manis, brown>o<

^_^

Writer estehpanas
estehpanas at Bukan Kebetulan - end (10 years 21 weeks ago)
100

hikzzz...hikzz...ceritanya nyentuh neh,,,iya setuju littleayas...ndak ada yang kebetulan..

jadi inget ma crita ku dulu. sohib ku pergi ke belanda bwt sekulah, aku ga bisa nganterin dia...coz da ospek..whuaaaa...hikzz...hikzz..
jadi inget ma dia..

crita yang bagus...

Writer windymarcello
windymarcello at Bukan Kebetulan - end (10 years 22 weeks ago)
80

mulai baca cerita ini, aku sudah bertanya-tanya sama endingnya. dari beberapa ending yang aku perkirakan, ga ada satupun yang bener atau mendekati bener ;) nica ending. btw, mungkin juga bukan kebetulan kalo kamu pernah tinggal di daerah salemba ;)sorry, kmrn waktu submit lupa kasih poin ;p

Writer brown
brown at Bukan Kebetulan - end (10 years 22 weeks ago)
90

makasih buat teman2 yg sudah sudi membaca dan memberi komentar.

to bluer: salam kenal dan thanks buat koreksinya. masih saja ada yg tertinggal mesti sudah dicek beberapa kali. seharusnya 'tira'. ini sudah kuganti.

to windy: sesuatu yang tampaknya spt kebetulan, kalau ditelaah kembali, mungkin akan membentuk sebuah garis yang tidak terputus, meski berkelok-kelok, kadang kala bahkan membentuk gumpalan2 benang kusut.

to littleayas & estehpanas: aku setuju, a true friendship would never end. ada kalanya sahabat justru lebih dekat dr seorang saudara/i. dalam kasusku, aku sangat sering menjumpainya. couldn't imagine what I would have been without all of my precious friends.

kali ini aku mau kasih nilai buat postingan sendiri, karena cerpen yg ini juga hadiah buat diriku sendiri.

Writer azura7
azura7 at Bukan Kebetulan - end (10 years 22 weeks ago)
90

unik

Writer bluer
bluer at Bukan Kebetulan - end (10 years 22 weeks ago)
80

Tira atau Tari?

Writer ArSeLa
ArSeLa at Bukan Kebetulan - end (10 years 22 weeks ago)
90

nice

Writer miss worm
miss worm at Bukan Kebetulan - end (10 years 22 weeks ago)
90

^_____^ wide smileee

Writer Littleayas
Littleayas at Bukan Kebetulan - end (10 years 22 weeks ago)
90

ga ada kebetulan di dunia ini.
setiap pertemuan adalah menuju kesempurnaan.
..luv this story..friendship never end huh??