Limelight (9)

(The Ring Resto, Thalassa Basketball Arena, Thalassa, Tethys)

“Cepat sekali. Temanmu mana? Tidak ikut?” Kevin memberondong Allan dengan pertanyaan begitu melihat Allan menghampirinya duduk di dalam sebuah restoran di dekat gedung basket.

Allan hanya diam, pikirannya masih kacau.

“All? Kau kenapa?” tanya Kevin.

“Dia bersama Trent.” Ucap Allan membuka-buka buku menu.

“Dia? Dia siapa?”

“Claire.”

“Maksudnya?” Kevin tampak tak mengerti sementara Allan masih membaca menu dengan pikiran yang melayang. Sebentar kemudian terdengar suara perempuan menghampiri mereka.

“Bisakah kita bicara, All?”

“Hai, Claire.” Sapa Kevin sementara Allan hanya diam.

“Hai…” balas Claire,”.. All, aku mohon, sebentar saja. Aku ingin menjelaskannya padamu.”

Allan tetap diam. Kevin memandang mereka kebingungan.

“Kamu kenapa kesini, Claire? Kenapa meninggalkan Trent? Kembalilah kesana. Nggak perlu mencariku.” Ucap Allan.

“Allan, aku perlu bicara padamu tentang apa yang kau lihat tadi.”

“Umm.. mungkin sebaiknya aku pergi. All, aku.. tunggu kau di depan pintu gerbang arena.” Ucap Kevin beranjak begitu saja dari tempat duduknya, meninggalkan Allan dan Claire. Claire langsung duduk di kursi tempat Kevin duduk tadi. Dia memandang Allan yang masih menujukan matanya pada buku menu.

“Apa yang kaukatakan padanya? Dia pasti menunggumu kan?”

“Aku bilang aku harus ke toilet cukup lama.. ya, dia menungguku.. Allan, please, look at me.” Ucap Claire kemudian.

Allan meletakkan buku menunya.”Siapa yang kaupermainkan, Claire? Aku atau Trent?” Allan menatap Claire.

“Maafkan aku.”

“Untuk apa? Oh.. jadi aku yang dipermainkan disini?”

“Dia kekasihku, All. Sudah setahun aku menjalin hubungan dengannya.”

Allan menggeleng-geleng,”I can’t believe it! Jadi itulah mengapa kau tidak pernah mau aku ajak turun ke kota? Karena kau takut bertemu dengannya? Lalu apa yang terjadi antara kita akhir-akhir ini? Kau bisa mengatakan padaku, Claire, apa itu semua bagimu?!” Allan tak bisa menyembunyikan hatinya yang terasa sakit.

“Cinta. Itu yang terjadi antara aku dan kamu. Aku tidak mencintai Trent. Aku mencintai kamu.” Claire menatap mata Allan. Hampir tak berkedip.

Allan terkejut. Pernyataan Claire hanya membuatnya makin bingung.

“Sejak aku bertemu denganmu, aku.. sudah jatuh cinta padamu, All. Aku tahu ini salah. Aku sudah punya kekasih. Dan dia sangat baik dan sayang padaku. Tapi dari awal aku bersamanya, aku tidak pernah mencintainya.”

“Lalu kenapa kau bersamanya kalau kau tidak mencintainya? Apakah aku harus percaya padamu?”

“Dia selalu baik padaku, All. Aku satu sekolah dengannya di Junior High. Dia.. selalu ada untukku. Hingga dia menyatakan cintanya padaku, aku tak bisa menolaknya. Aku ingin berlindung padanya dari temanku dulu yang selalu mengejarku. Namanya Luke, dia masuk Naiad juga, seangkatan denganmu. Kau pasti tahu..”

Allan hanya diam, batinnya menarik kesimpulan atas sikap-sikap Luke selama ini.

"..Luke terus saja menggangguku, All. Aku pikir aku akan bisa mencintai Trent, tapi aku tidak pernah bisa. Lalu aku bertemu denganmu. Bersama denganmu, aku merasakan hal yang berbeda. Aku merasa sesuatu yang tak pernah kurasakan ketika bersama Trent. Aku mohon, All, percayalah padaku. Aku mencintaimu.”

“Lalu kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kenapa selama ini kau membohongiku?”

“Maaf. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku bingung. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Aku tidak mau kehilanganmu dan aku takut melukai Trent.”

Allan hanya diam.

Do you love me, All?” tanya Claire kemudian.

Allan diam tak menjawab. Mereka masih saling bertatapan lekat.

“Allan..”

“Aku melihatmu tadi dengannya, dan aku merasa hatiku sakit. Jadi kamu mengerti kan? Kamu tahu apa jawabanku atas pertanyaanmu.” Kata Allan.

“Aku ingin bersamamu.” Ucap Claire.

Allan mengusap rambutnya, kembali dia menggeleng-geleng, ”He’s my bestfriend for God’s sake!” Allan berdiri dari kursinya dan berlalu meninggalkan Claire yang hanya bisa terdiam, memandang kepergian Allan.
*-*-*-*

(Naiad, Thalassa, Tethys)

Seluruh siswa dalam ruangan kelas pagi itu tampak serius menghadapi beberapa lembar kertas di meja mereka masing-masing. Seorang pengajar tampak duduk di depan kelas, sementara seorang polisi Naiad tampak berkeliling diantara kursi-kursi. Ujian akhir semester tengah berlangsung secara serempak di seluruh kelas-kelas Naiad.

Beberapa saat yang lalu Allan sudah selesai mengerjakan soal ujiannya. Dia hanya membutuhkan empat puluh menit dari satu setengah jam waktu yang disediakan untuk menyelesaikan ujian. Allan enggan untuk menyerahkan lembar jawabannya dan keluar kelas terlebih dahulu. Dengan pulpen yang dia putar-putar di tangannya, pikiran Allan melayang pada Claire.

Semenjak kejadian di Thalassa Basketball Arena, Claire terus mengirimi Allan dengan SMS, namun Allan tak pernah membalasnya. Allan juga tak pernah mengangkat telepon dari Claire, meski dia tak dapat memungkiri bahwa dia sangat merindukan Claire. Kenyataan bahwa Claire adalah kekasih sahabatnya, membuat dia kacau.

“Svanlaevich,” suara polisi Naiad mengejutkannya. Polisi itu berdiri di dekat kursinya.

“Iya, Sir?”

“Kau sudah selesai?”

“Sudah, Sir.”

“Lalu kenapa kau masih disini? Kumpulkan jawabanmu.” Perintah polisi Naiad, membuat Allan mau tak mau beranjak dari kursinya. Allan berjalan diikuti pandangan beberapa anak di kelas itu, termasuk Kevin. Mereka heran Allan telah menyelesaikan ujian pagi itu.

Keluar dari kelas, pikiran Allan kembali pada Claire. Dengan langkah lunglai, Allan kembali ke kamar asramanya. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja belajarnya. Dia menemukan sebuah pesan dari Claire lagi. Kali itu, Allan terkejut membacanya.

aku putus dgn Trent
if u luv me, then meet me
La Plagne, sabtu ini, jam 9
I love you

Allan meletakkan ponselnya tanpa membalas SMS dari Claire, kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang. Jas seragam lengkap Naiad masih melekat di tubuhnya.

“Oh, Claire.. Why did you do this to me? Why did u put me in this situation?!” gumam Allan.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka, Kevin berjalan masuk ke dalam kamar.

“Cepat sekali kau mengerjakannya tadi.” Ucap Kevin sambil membuka jas Naiadnya.

Allan hanya diam.

Come on, bro! Jangan murung terus.”

She broke up with Trent.”

Kevin duduk di kursi belajar, menghadap ke ranjang Allan,“Lalu? Dia ingin menjalin hubungan denganmu?”

Allan mengangguk.”What should I do, Kev?”

“Ya sudah, ini kesempatanmu bukan? Dia sudah sendiri. Kau bebas menjalin hubungan dengannya.”

“Nggak bisa begitu, Kev. Aku penyebab dia putus dengan Trent. Trent itu sahabatku. Kalau aku bersama Claire, berarti aku yang sudah merebut Claire dari Trent. Kalau Trent tahu, dia bisa sangat kecewa padaku.”

But you love her! Satu-satunya cara mengubah wajah murungmu itu adalah dengan bertemu dengannya dan mengatakan padanya kalau kau juga ingin bersamanya. Bukan salahmu kalau Claire jatuh cinta padamu. Awalnya kau tidak tahu kan kalau dia itu sudah punya pacar? Kau juga tidak berusaha merebutnya setelah mengetahui kenyataan bahwa dia ternyata pacar sahabatmu. Jadi, kau tidak bersalah atas apa yang terjadi sekarang. Kau tidak bersalah kalau kau sekarang ingin menjalin hubungan dengan Claire.”

Allan terdiam, mencoba mencerna pendapat dari teman sekamarnya itu.
*-*-*-*

(La Plagne, Thalassa, Tethys)

“Kau mencintaiku.” Sambut Claire, tersenyum begitu melihat Allan menghampiri tempat duduknya. Allan hanya diam. Claire membiarkannya.

“Aku tidak pernah bisa berhenti memikirkanmu.” Ucap Allan pertama kali.

“Aku juga.”

“Bagaimana reaksi Trent?”

Claire terdiam sejenak sebelum menjawab singkat,”Kecewa. Aku sudah melukainya.”

Allan menggeleng-geleng,”Bagaimana bisa aku sekarang bersama perempuan yang sudah menyakiti sahabatku? Dan akulah penyebab wanita itu menyakitinya.”

“Allan..”

“Aku sudah gila!”

Claire menyentuh tangan Allan di atas meja,”Kau menyesal sudah datang kesini?”

Allan terdiam.

“Ini bukan salahmu. Aku tersiksa, All. Aku tersiksa bersama orang yang tidak kucintai, sementara aku tahu persis orang yang sebenarnya kucintai juga mencintaiku. Aku tersiksa mendapati kenyataan mereka saling kenal. Aku mohon, aku hanya ingin bersamamu.”

“Aku tidak tahu bagaimana jika Trent..”

“Kita bisa merahasiakannya dulu, All.”

“Pada akhirnya dia akan tahu, Claire.”

“Nanti saja. Tolong, jangan ceritakan padanya. Dia akan bisa menerimanya nanti. Butuh waktu, All.”

“Cepat atau lambat dia akan tahu.” Ucap Allan membuat Claire tampak bingung.

Allan menatap Claire,”I love you, Claire.. We’ll figure it out, OK?

Claire mengangguk.”I love you too,
*-*-*-*

Allan melamun memandang pepohonan yang berderet di tepi jalan seiring bus yang dinaikinya melaju menuruni perbukitan. Dia sudah mengambil keputusan. Sambil terus menduga bagaimana akibatnya, Allan berusaha untuk siap atas apapun yang mungkin terjadi. Rona langit senja yang memerah berganti pelan-pelan menghitam. Seharian Allan sudah menghabiskan waktunya bersama Claire di area dekat Lysithea.

Di pemberhentian pertama, Allan turun dari bus. Dia harus berganti bus untuk menuju ke Naiad. Masih dengan Claire di pikirannya, dia tidak menyadari sekelompok laki-laki mengikutinya turun dari bus.

“Svanlaevich!”

Allan mendengar suara yang tampaknya ia kenal. Dia berbalik dan mendapati Luke beserta dua temannya. Halte bus tampak sepi, letaknya yang berada di ujung pemukiman pedesaan membuat halte itu jarang didatangi penumpang bus. Bus yang melewati halte itu pun dapat dihitung dengan jari, hanya lewat pada jam-jam tertentu.

“Ada apa?” tanya Allan mencoba santai meski dia tahu sekelompok laki-laki di hadapannya pasti mempunyai maksud buruk.

Luke dan dua temannya menghampiri Allan hingga hanya berjarak satu meter diantara mereka.

“Kau benar-benar tidak tahu diri! Aku sudah menunggu Claire putus dengan pacarnya, dan tiba-tiba kau.. kau yang mengacaukan segalanya!”

“Sudahlah, Luke. Berhentilah mengganggunya.” Ucap Allan.

“Apa katamu?! Kau siapa berani berkata seperti itu padaku?! Aku akan terus mengejarnya sampai kapanpun! Aku akan buat dia menyukaiku.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu mengganggunya, Luke. Dia sekarang bersamaku, dan aku tidak akan membiarkan kau menggangunya.” kata Allan tegas.

“Luke, hajar saja dia sekarang. Bus terakhir sebentar lagi datang.” Ucap seorang teman Luke yang paling jangkung namun kurus.

“Brengsek! Seharusnya kau tidak ada dan mengganggu rencanaku!” Luke melayangkan pukulan ke wajah Allan yang sama sekali tidak siap dengan datangnya serangan itu.

Luke dan teman-temannya langsung mengeroyok Allan. Mereka membawa Allan ke balik pepohonan di belakang halte. Allan berusaha kuat melawan mereka, dia sempat menjatuhkan Luke dengan pukulannya, namun kekuatan berandal yang sudah sering berkelahi seperti Luke dan teman-temannya membuat Allan tak mampu menghadapinya. Semuanya begitu cepat hingga Allan menyadari tubuhnya sudah tersungkur di atas rerumputan di bawah pohon. Dia merasakan seluruh tubuhnya nyeri dan sakit.

Belum cukup lama puas menumpahkan kekesalannya, Luke dan kedua temannya harus meninggalkan Allan begitu terdengar suara deru mesin bus berhenti di halte.

“Kalau kau lapor pada Naiad, berarti kau pengecut! Dan aku akan menghancurkan koridormu, sebelum kau sempat bercerita pada mereka!” teriak Luke sebelum menaiki bus.

Allan tak sanggup mengajak tubuhnya bangkit. Dan suara bus terakhir itu menghilang pelan-pelan, melaju pergi meninggalkan halte, dan meninggalkan Allan yang tidak mampu berpikir bagaimana caranya kembali ke Naiad sementara langit sudah gelap.

Read previous post:  
61
points
(2705 words) posted by lavender 8 years 38 weeks ago
67.7778
Tags: Cerita | Novel | drama | clique-lit | domestic drama | mainstream romance
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Limelight (9) (7 years 37 weeks ago)
100

tanteeeeeeeeeeeeee ih jahat... ;(

lanjutan cerita ini dong aaaaaaaaaaahhhh...

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (7 years 37 weeks ago)

Apa? Siapa? Ada apa? Siapa yg jahat? Ehehehehe..
Crita ini mentok, klo dilanjutin bakal berklise-klise.. Ixixixixix.. Pengen sih nglanjutiinnn..

Writer tyo adit
tyo adit at Limelight (9) (8 years 22 weeks ago)
100

ga suka ga suka ga suka... lnjutannya dooongg mb huhu...., bagus bangeeettt critana...., kecepetan deh kyknya klo harus d stop smpe disini..., d buat novel aja mba..., pasti ak akan beliiii n jd org yg pertama..., tp di selesain smp bnr2 selesai ya mb.., msh byk jg kan urusan2 sm Luke, sm marvin, maen basket sm tim naiad, sm claire, katherine, sm kevin jg... ayoo d buat happy or sad ending deh apa aja d trima.... hehe... asal jgn gantung or tanggung... hehe... bnr2 d tgu lanjutannya atau mungkin jg novelnya... ^^

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (8 years 22 weeks ago)

Hehehehe makasih yakk..
Daku cerita ini buntuuuu jd setop sampe sini, malah nongol ide cerita yg 20-something ntuh jd malah nulis itu, yg ini blm dilanjut2in.. Ixixixix..

Writer neko-man
neko-man at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)
90

:) nilai

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)

Thank u neko-man..

Writer Riesling
Riesling at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)
80

Kecepetan tuh jalan ceritanya, hhe... Kenapa ga ditambah narasi lagi, biar lebih nunjukin 'galau'-nya Allan? That's the thing haunting me right now~~

one question, Luke kan orangnya rada kasar tuh, pernah ga dia nyoba ngelabrak Trent?

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)

right, right..
I lost it all..
benar-benar sangat lost..
xixixixix..
sorryyyy..

Writer majnun
majnun at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)
100

ah, bener ni konflik nya terlalu cepat..
~
hmm..
mbak lavender agaknya sedang "lost" ini..
insting "buai" nya kurang..
*sori..*
hehe..
~
"shall shepherd draw the lines?"

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)

yeah.. you make me lost.. *ahahahahahahahahhaa*
make u feel guilty ahhh..
(padahal apa hubungannya cubaa???)
xixixixixix..

Writer suararaa
suararaa at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)
70

hemmm,,
konfliknya cepet banget yah.. tiba2 aja si claire ngaku, terus udah mutusin trent, terus langsung jadian sama allan...
saran saya sih dibikin pelan2 aja konfliknya.. biar rada seru.. klo gini, kesannya jdi datar....hee.. saran aj sih....

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)

ok deh.. thank u yakk :)

Writer suararaa
suararaa at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)

oya. da percakapan yg aneh di sini:
,
“Luke Lloyd??”

Claire mengangguk,”Iya, benar dia. Bagaimana kamu tahu?

“It doesn’t matter.” jawab Allan.
,
jawaban Allah di sini juga aneh. keanehan ini diperjelas di percakapan selanjutnya:
,
“Luke masuk Naiad kan?
,
jika claire tau bhwa luke masuk naiad, maka memang sudah sewajarnya allan mengenal luke, kan? kenapa claire malah nanya spt itu....? menurut saya kok sebaiknya percakapan ini dihilangkan saja..
**maap pembaca cerewet**

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)

Sebenernya itu menjelaskan kok bisa Allan tahu Luke yang dimaksud Luke yang itu (Luke Lloyd), sebelumnya Allan ga pernah cerita ke Claire tentang Luke. Jadi Claire kaget kok bisa Allan tahu Luke yang dimaksud yang itu, yang satu sekolah sama Allam.
Tapi saya juga awalnya merasa aneh sih..
Baiklah.. akan segera saya hilangkan..
hehe..
tenkgyukk..

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)
90

aih... request gadis baru untuk Allan dong mbak, ga usah Claire (pembaca yg cerewet xp)

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)

hehehe.. ga suka yak ma Claire nya?
thanks for visiting, kumiiko.. :)

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)
100

lanjooot(nya kapan). . . .

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)

besok-besok.. hehe..
thank u dah visit.. ;)

Writer cat
cat at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)
90

Ingin bc cerita ini, tp aku blm ada waktu.
Titip poin dulu d.
Tar aku bc dr 1 ampe yg terakhir he5.

Writer lavender
lavender at Limelight (9) (8 years 36 weeks ago)

ok deh mba Cat.. :)