Resonansi

Malam rabu itu, sesuai janji ku kepada adik perempuan teman ku, ku bawakan salinan hasil unduhan film yang ku dapat dari dunia maya yang ku dapatkan tentu saja dengan gratis, tentu saja melanggar hak cipta atau Hak Atas Kekayaan Intelektual, tapi mau bagaimana lagi, film yang ku unduh ini termasuk jenis film festival yang termasuk sulit untuk dicari, jangan kan produk aslinya, DVD Bajakannya pun belum tentu ada, terlebih di kota kecil di bagian barat Kalimantan ini.

Semua itu hanya alasan tentu saja, maling tetap lah maling. Meski mencuri sepotong roti, apalagi mencuri hasil karya yang dibuat dengan biaya tidak kecil, tidak pernah dibenarkan oleh hukum positif manapun.

Tapi meski ini bukan darurat, seperti sedikit banyak pemuda di Indonesia, aku tetap mengunduhnya juga.

Film ini sebenarnya sudah pernah aku tonton pada jaman masih mahasiswa dulu. Hanya karena tergerak mendengar Heni-nama adik perempuan teman ku itu-begitu bersemangat untuk kelak, setelah ia lulus kuliah nanti, mengabdi, sebagai guru bagi anak-anak bangsa ini.

Jadilah aku janjikan, membawa sebuah film yang sesuai dengan semangatnya, jenis film yang jarang ia tonton sebenarnya, terbukti, meski film ini keluaran tahun 1999, ia tepat seperti dugaan ku, belum pernah mendengar apalagi menontonnya.
Dari dulu dari yang ku ketahui, adik perempuannya teman ku ini hanya mengenal film untuk menghibur, tidak lebih. Bisa dilihat dari koleksi DVD bajakan film Indianya yang memajang wajah-wajah yang (menurutnya) cakep nan rupawan.

Dari dulu sebenarnya, ini juga merupakan seperti ambisi kecil pribadi ku kepada orang lain, untuk mengenalkan jenis-jenis film seperti ini, jenis yang bukan untuk hiburan, tapi yang memiliki nilai lebih, paling tidak untuk direnungkan.

Film yang ku bawa ini seperti semangatnya Heni, bertemakan pendidikan, tentang seorang gadis berumur tiga belas tahun bernama Wei Minzhi. yang menjadi guru pengganti di salah satu sekolah di daerah pedesaan miskin di China. Demi alasan tidak mau kehilangan uang sebesar 10 Yuan, guru Wei bersikeras agar tidak kehilangan murid satu pun, hingga ia nekad menjemput salah satu anak muridnya yang keluar dari sekolah untuk bekerja di kota demi membayar hutang keluarganya.

Setelah perjuangan yang keras dan melelahkan di tengah kota yang sama sekali tidak dikenalnya, akhirnya guru Wei tidak hanya berhasil menemukan Zhang Huike, anak muridnya tersebut, setelah usaha pencariannya disiarkan ditelevisi berkat kebaikan si pemilik stasiun televisi, ia juga bahkan membawa simpati orang-orang kota untuk membantu sekolah di desanya.
Ceritanya selalu luar biasa setiap kali aku menontonnya, menyentuh dan memiliki makna. Heni juga menganguk setuju begitu aku menanyakannya setelah selesai menonton film ini, dengan tanpa air deraian air mata tetapi, tidak seperti ketika aku pertama kali menontonnya.

“Bagaimana? Lebih bagus dari film Laskar P khan?” Tanya ku.

“Iya sih, tapi Heni tidak akan menjadi guru 10 Yuan seperti dia, Heni akan mengabdi tulus, kuantum ikhlas” Sahut dia dengan mantap.

Pernyataannya menggelitik hati ini yang kritis, tersengat oleh idealisme yang mengingatkan masa muda, tidak pernah tahu beberapa besar nilai 10 Yuan dalam rupiah, otak ini juga tidak tahu persis apa yang dimaksud olehnya dengan istilah kuantum ikhlas tersebut, akan tetapi......

“Kamu belum pernah merasakan susahnya mendapatkan 10 Yuan sih, makanya bisa bicara kuantum ikhlas” Itu dia, ku sampaikan juga, sindiran tidak perlu.

Yang disindir hanya tersenyum tawar, tidak menjawab, lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya begitu saja.

Dalam situasi janggal untuk diri sendiri setelah itu, memori ini mendadak teringat sebuah cuplikan dari film lain yang sarat akan nilai juga. Film yang menceritakan pembantaian di salah satu negara di benua Afrika, dimana di salah satu adegannya, salah seorang yang menjadi karakter peliput berita di negara itu mengatakan hal yang mengena di hati ini waktu itu kepada si karakter utama yang berterima kasih atas upayanya meliput kejadian genosida yang terjadi di negara itu, yang kurang lebih berbunyi seperti ini:

“Aku pikir begitu khalayak melihat liputan ini, mereka akan berkata sunguh mengerikan semua ini, lalu kemudian mereka akan menyantap makan malamnya dengan nyaman”

Aku pun menyantap telur mata sapi yang terakhir dapat ku goreng dengan gundah, bukan karena memikirkan nilai pendidikan di film-nya Zang Yimou itu, dengan carut marutnya pendidikan bangsa ini, bukan juga dengan ironi yang aku alami seperti setelah menonton film genosida itu, akan tetapi hanya memikirkan, besok apa makan?

Pertanyaan batin yang aneh dari seseorang yang sebelumnya mampu mengunduh di dunia maya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer lavender
lavender at Resonansi (8 years 36 weeks ago)
70

pesannya bagus.. itu filmnya beneran ada?
*
visit my story : Make A Wish

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at Resonansi (8 years 36 weeks ago)

Pesan apa? ha ha

tentu saja filmnya ada, judulnya Not One Less, coba aja cari :)

makasi buat mampir :)