4 Tahun Kemudian - Wish U All The Worst

“Di pestaku ini, makan dan menarilah sepuas kalian.”

Seruan itu disambut meriah oleh orang-orang yang mendengarnya. Ah, ribuan, atau mungkin sampai ratusan ribu orang yang menyambutnya. Itu Pangeran Evan yang berbicara dari balkon istana, putra mahkota Kerajaan Anebora sedang berulang tahun yang ke-18.

Di hari ulang tahunnya, seluruh rakyat Kerajaan Anebora merayakannya. Hari itu merupakan libur nasional, setiap kalender di Anebora memerahkan tanggal 14 Desember dan dibawahnya ditulis kecil-kecil: 'Hari Ulang Tahun Putra Mahkota'.

Pada hari itu, biasanya dari fajar sampai pagi rakyat sudah kumpul berbondong-bondong di halaman istana untuk meletakkan hadiah mereka pada pangeran. Hadiahnya bermacam-macam, mulai dari caping bambu sampai jubah emas. Siangnya, rakyat dan keluarga istana pawai keliling kerajaan mereka yang kecil sekalian mengasihi rakyat-rakyat kecil yang tidak bisa ikut pesta.

Sehubungan ini sudah pukul 8 malam, rakyat dan keluarga istana akan mengadakan acara puncak. Kembang api sudah diledakkan puluhan kali. Banyak anak-anak berlari-lari sambil tertawa. Orang-orang dewasa dan remaja bersenda gurau sambil menikmati makan malam. Semuanya gembira, semuanya mendoakan yang terbaik untuk putra mahkota.

Sampai akhirnya putra mahkota turun dari istana, bergabung dengan rakyatnya untuk berpesta. Setiap ia melangkah, terdengar bunyi-bunyi khas sepatunya yang seakan menggema dan mengheningkan suasana. Pangeran Evan mengenakan jubah merah dan setelan jas perak berhiaskan mawar putih di dadanya. Rambut cokelat gelapnya tertiup angin dan menyingkapkan ketampanan wajahnya yang seakan-akan bersinar diterpa cahaya purnama. Mata biru lautnya berkelana mencari gadis untuk diajaknya berdansa, dan bibirnya terus menebarkan senyum penuh pesona.

Pangeran Evan menikmati para gadis cantik termakan pesonanya. Mereka seakan tersihir dan siap melakukan apa saja untuk sang pangeran. Semakin Pangeran Evan membaur dengan rakyat, semakin banyak gadis cantik dengan gaun yang indah-indah mengekorinya.

“Pangeran yang tampan, ajaklah aku berdansa..”
“Oh, Pangeran Evan yang mulia, mari kita berdansa di bawah sinar rembulan..”
“Pangeran Anebora yang agung, terimalah hamba untuk menari bersamamu sebagai hadiah paling spesial untuk Anda..”
“…”

Pangeran Evan benar-benar menikmati disanjung seperti itu. Sampai akhirnya dia melewati seorang gadis yang membelakanginya saat ia lewat.

“Hei, kamu!” seru sang pangeran pada gadis bergaun hitam panjang itu.

Gadis itu sedikit tersenyum, namun dia tetap membelakangi Pangeran Evan. Sang putra mahkota menjadi tertarik dengannya, ia berjalan mendekat dan mencolek bahu sang gadis.

“Ya?” di luar dugaan suara gadis itu sangat lembut.

“Maukah kau berdansa denganku?” tanya Pangeran Evan sambil tersenyum.

Gadis-gadis cantik yang mengekorinya tadi luar biasa terkejut. Mereka tak percaya sang pangeran memilih gadis yang bahkan gaunnya tidak berkilau dan tidak mengembang. Lihat, bahkan hiasan kepalanya sederhana! Hanya dihiasi tiara murahan dan rambut hitamnya hanya disanggul—itupun berantakan.

Tapi Pangeran Evan memilihnya, dan gadis itu membalas senyumannya. Tangan sang pangeran terjulur dan gadis itu menerimanya. Dengan alunan waltz pelan, mereka pun mulai berdansa. Para peserta pesta yang lain juga mengikuti, berdansa dikelilingi semak mawar, di bawah sinar rembulan.

“Kenapa kau memilihku?” tanya gadis itu sambil menatap laki-laki di depannya. Tatapannya dingin, Pangeran Evan bisa merasakannya.

“Kau cantik,” bisik pangeran, tak lupa dengan senyum mautnya. Tangan kanan pangeran memegang tangan kiri sang gadis, sementara tangan kirinya memegang pinggangnya. Tubuh lemah gadis itu membuat pangeran merasa harus menjaganya.

“Jangan bohong,” jawab sang gadis datar. Langkah mereka beriringan, mereka berputar pelan menuju meja makan utama. Di sana lebih banyak rakyat yang sedang berdansa. “Aku tidak cantik, rambutku saja hitam kusut begini dan tubuhku kurus.”

Pangeran memperhatikan pasangannya itu secara keseluruhan. Dia memang tidak secantik para gadis yang mengikutinya tadi, bahkan kulitnya putih pucat. Tapi pangeran seolah menemukan sesuatu yang lebih cantik dari gadis manapun di Anebora, atau di bumi ini. Pangeran tersenyum padanya.

“Sepertinya aku mencintaimu,” bisiknya. “Di hatiku, kaulah yang paling cantik.”

Gadis itu tersenyum kecil.

Kemudian mereka berdansa lagi. Sampai akhirnya sang gadis melepas pelukan pangeran untuk mengambilkan segelas anggur merah.

“Uups, ma, maaf,” ujar gadis itu terbata ketika menumpahkan sebagian anggur itu ke jas pangeran. Mawar di dadanya yang semula putih, kini berwarna merah keunguan.

“Tidak apa,” jawab pangeran. Ia mengambil sapu tangan putih di sakunya, lalu berusaha menghilangkan noda di jasnya.

“Hihi,” gadis itu malah cekikikan.

“Ada apa?”

“Jasmu lebih bagus dengan sedikit warna merah, lebih pantas untukmu.”

Pangeran Evan tersenyum menanggapinya, kemudian ia berhenti menggunakan sapu tangan. “Ayo berdansa lagi.”

Mereka kembali menautkan tangan satu sama lain, kemudian melangkah dengan anggun dan kadang berputar. Mereka berdansa kembali menuju ruang makan utama.

“Hei..” Pangeran Evan menyadari ada suatu keanehan.

“Ya?”

“Kenapa mawar ini jadi terlihat layu ya?”

Mata Pangeran Evan dan gadis itu tertuju pada mawar yang terpasang di dada kiri pangeran. Mawar itu tampak tidak sebesar awal ia memakainya, dan mahkota-mahkotanya mengecil. Warnanya yang semula putih dan menjadi merah keunguan, kini lebih seperti ungu kehitaman. Benar-benar gelap/

Pangeran ingin mengeceknya dengan melepaskan genggaman tangan sang gadis, tapi gadis itu mencengkramnya. Tangan yang lainnya juga memegang kuat pinggang Pangeran Evan.

“Biar saja, ayo kita teruskan berdansa.”

Gadis itu tersenyum manis, membuat Pangeran Evan menjadi sedikit lega. Alunan musik waltzs seolah-olah semakin menghilang. Perlahan-lahan nyanyian hewan malam di halaman istana mulai menggantikannya. Ini sudah hampir tengah malam.

“Bruk..”

Seorang pria paruh baya terjatuh ketika sedang berdansa bersama pasangannya.
“Hei, kenapa dia?”

Selang beberapa saat kemudian, pasangannya juga ambruk.

Beberapa orang mulai mendekatinya. Tapi, belum sempat mereka mendekat, mereka juga jatuh.

“He, hei, ada apa ini?” tanya Pangeran Evan, batinnya mulai cemas. Ia ingin memeriksanya, tetapi gadis di depannya mencengkeramnya kuat. Pangeran menatap bingung padanya.

“Selamat ulang tahun,” bisik gadis itu dengan sebuah guratan tajam di bibirnya.

“Ya, te, terima kasih,” Pangeran Evan menyadari kalau gadis ini berniat sesuatu. Ia tidak suka senyuman di wajahnya, dan lagi kulitnya semakin lama semakin pucat.

Gadis itu memaksa pangeran terus berdansa. Kini gerakan mereka jadi kaku. Dan selagi mereka berdansa, makin banyak orang-orang yang jatuh satu persatu.

“Aku juga ulang tahun hari ini,” kata gadis itu lagi. Perkataannya sedikit mengejutkan pangeran.

“Be, benarkah? Selamat ulang tahun..” ucap pangeran sekedarnya.

“Tapi tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku, sejak di kalender tertulis ‘Ulang Tahun Putra Mahkota’ dengan huruf merah dan pesta bodoh ini,” lanjut sang gadis.

Pangeran Evan menelan ludah. Ia merasakan sesuatu yang janggal pada gadis itu. Tangannya jadi dingin dan kulitnya luar biasa pucat. Dan ia masih tetap mencengkeramnya.

“Kau baru saja mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari pangeran!” kata Evan sambil memaksakan tersenyum.

Tapi gadis itu malah menggeram. Tangan pangeran diremas kuat-kuat hingga ia menjerit kesakitan.

“Umurku sudah berakhir! Setahun yang lalu aku sakit keras sampai tidak bisa bergerak dari ranjang! Tidak ada yang peduli, semua sibuk dengan ‘Pangeran Evan’ dan pesta bodohnya! Dan aku meninggal tepat pada hari ini! Hari ulang tahunku!!”

Pangeran Evan meneguk ludah sekali lagi, namun mereka tetap berdansa. Satu persatu peserta pesta terjatuh, sampai akhirnya menyisakan mereka berdua.

“Aku yang menaruh racun di anggur yang kau minum!” seru gadis itu sambil tertawa miris. “Biar semua rakyat tau, biar semuanya peduli!!” gadis itu berteriak melengking.

Ditatapnya Pangeran Evan yang mulai melemah, kemudian ia tersenyum.

“Selamat ulang tahun, semoga kau dapat yang terburuk!”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

walaaah, kasihan pangeran na.. belum kawin udah keburu meninggal duluan D:

70

wow serem kak :o

nyeremin..

70

suka sm ceritanya.

80

Hmm. Senang membacanya.

70

kamu punya bakat menulis alami..............
salam kenal.baca punyaku yang laen ya....

100

kak Ann memang keren! xDD
ku sangat suka pertentangan spt ini, saat yg satu berlimpah dalam kesenangan yg lain malah menderita
kerajaan palsu seperti itu memang harus dimusnahkan A_A

ahha, terlalu simpel kalo dibandingin cerita bunuh2an mu red.. ==d

80

waww..
nuansa kingdom nya dapet..
nuansa horor nya dapet..
oke laaahh.. :)
oh ya, tag kamu "cerita 4 tahun kemudian", cerita nya dihilangkan aja, cukup "4 tahun kemudian", karena ga kebaca waktu klik tag 4 tahun kemudian, ceritamu ga masuk ke list nya..

humm.. makasih kak.. masih perlu byk belajar.. ==d
oh.. gk ush pake 'cerita'.. ==a
makasih byk koreksiny y kak laven ! =w=

100

aaaiii.. >.<
syok banget ma endingnya.. kirain penyihir atau apa tu cewek, ternyata hantu,, keren kak! salam

ahha, makasih. sy cm kepikiran hantu. xD
salam balik, hihi. :)

100

Sweet death... Cerita yang manis :]

wah.. makasih kak.. :DD

100

Sweet death... Cerita yang manis :]

90

wow..

hehe..
ini keren..

wah.. makasih yh.. x))

80

sadis ><
aaa... itu bukan make a wish yang manis xD

sadis yah ? =="
*down
yah, yg manis2 kdg gak enak. xD

manis itu enak lo, hihi (tapi dalam batas normal) :D
sadis bukan dalam artian adegan berdarah-darahnya tapi endignya yang menyedihkan, "Wish you all the worst for your b'day!" --> syok bacanya, wow^^

batas normal kalo keseringan juga jadi gk enak kak. hhe. x))
ahm.. d syarat nya cma 'tindakan sadis'.. gak tau ah.. ==
makasih dh mampir y kak. :))