Quête Pour Le Château de Phantasm - épisode 5

Putih. Biasanya warna ini melambangkan atau berkaitan dengan kedamaian atau hal-hal indah lainnya. Tapi kali ini berbeda, jauh berbeda. Sebenarnya putihnya tidak penting, tapi rasa yang diberikannyalah yang jauh lebih menusuk. Rasa yang tetap hadir dan mengepung meskipun warna putih itu sempat berganti gelap.

Kemudian ada kekuningan di sana, sepertinya. Tapi tak hanya itu, ada yang lain, yang mendekat. Bersama sesuatu itu, kehangatan mulai terasa dan menyebar. Putih itu semakin lenyap, tapi semakin nyaman. Kebekuan yang melanda perlahan pergi, bersama dengan bertambahnya noda biru yang tampak. Dan pada akhirnya, desiran lembut angin mulai terasa, membangunkan kembali indera peraba yang sempat mati. Eik bebas.

Tapi kesadaran baru didapatnya ketika tubuh bebasnya terhempas ke tanah bersalju. Dingin yang tiba-tiba menyeruak setelah nikmatnya kehangatan barusan memaksa otaknya segera aktif. Dan meskipun masih dengan sedikit sekali ingatan akan apa yang baru saja terjadi, ia berusaha bangun.

”Wah!” Masih terkejut dengan perubahan suhu yang tiba-tiba, Eik terengah-engah. Ia melihat-lihat sekitar, ’menikmati’ pemandangan putih dengan puluhan patung putih di sana sini. Tapi ia segera sadar, seseorang berdiri di depannya.

”Hai, anak muda!” Pria ini tinggi, berkulit cerah dan memiliki rambut hitam di bawah topi coklatnya. Adalah bukan dusta jika menyebutnya tampan. Di belakangnya, berdiri seekor kuda putih, dengan kereta beratapkan setengah tabung terpasang pada kuda itu.

”Oh, eh, hai, apa yang terjadi?” Tanya Eik dengan tampang seperti orang bingung, dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya.

”Bukankah, seharusnya itu pertanyaanku?”

”Begitukah?” Raut wajahnya masih sama, dan kali ini ia berulang kali menoleh ke arah berbeda-beda. Ia masih belum ingat.

”Eh, baiklah, tadi pagi aku menemukan kota beku ini. Tapi karena semua penduduknya beku, kupikir aku harus menyelamatkan setidaknya salah satu. Dan aku ...”

”Oh, kau!” akhirnya separuh kesadaran yang lain berhasil Eik dapatkan kembali. ”Kau pasti orang yang menyelamatkanku, kan?”

”Ya, dan aku ...”

”Oh, kau sungguh orang yang baik!”

”APA KATAMU!” menyertai teriakan kerasnya, mimik pria itu langsung berubah menyeramkan. Dan di langit pagi yang tengah cerah, mendadak muncul awan hitam yang berputar-putar di atas sang pria. Sekumpulan petir dengan seabrek cabangnya juga menari di sana sini. ”Oh, uhm, maksudku....” Tapi untunglah sebelum pikiran Eik mencernanya sebagai hal yang aneh, benda-benda itu menghilang, dan wajah pria itu juga kembali normal. ”Eh, ya, terkadang aku memang agak b... b... b... ba.... ba...”

”B... b... b? Maksudmu beringas?” Tanya Eik polos.

”Bukan, eh maksudku aku memang terkadang beringas, tapi untuk konteks yang ini bukan itu yang kumaksud.”

”Hmm, brengsek?”

”Tidak tidak. Ya, sebenarnya aku memang agak brengsek, tapi bukan itu kata yang kucari.”

”Ah, aku tahu, pasti ba...”

”Ah lupakan!” potong pria itu karena frustasi. ”Nah, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan, atau sebaiknya aku memperkenalkan diri dulu?”

”Ehm, boleh juga. Namaku Eik Moonfang, dari ...”

”Dan aku Ovia oops, eh maksudku... Waldo Von... Vladodhalon.” Pria itu lalu memajukan tangannya hendak bersalaman.

”Oh, salam ken...” lagi-lagi, perkataan Eik terpotong.

”Bin Haris Bin Atang Binti Lan.” tambah pria itu.

”Oh, itu nama yang, panjang.” kata Eik sambil bersalaman.

”Ya, panggil saja aku Haris. Jadi, tuan Moonfang, pertanyaan pertama: Apakah tempat ini bernama Porte Nord?”

”Ya.” sambil menjawab, Eik menoleh dan memperhatikan kehancuran di sekitarnya. ”Tadinya.” Sekarang Eik mulai ingat akan apa terjadi padanya, dan pada semua orang di sini. Kebekuan itu dan orang hebat itu, eh maksudnya penjahat hebat itu, Alcyon.

”Berarti ini bukan lagi Porte Nord? Sial, nenek tua itu membohongiku. Eh, lalu, berarti kau juga, tadinya penduduk Porte Nord?”

”Tidak juga, aku pendatang. Aku ke tempat ini dengan kap...pal...” entah bagaimana, tapi tampaknya Eik mulai alergi terhadap kata itu. Perutnya bereaksi cukup keras ketika ia mengatakannya. ”Aduh, maaf!”

”Hmm, pertanyaan kedua: apa kau tahu tentang Kota Elioch? Kota yang menurut kabar burung memiliki perpustakaan terhebat?”

Bola mata Eik melirik kesana sini, setidaknya untuk menunjukkan bahwa ia sedang mencoba berpikir, bukannya melamun. ”Entahlah.” katanya kemudian. ”Aku tidak pernah membaca surat kabar.”

”Hmm, mungkin nenek itu benar kali ini, kau bukan penduduk Porte Nord, jadinya kau tidak tahu.” Haris lalu memegangi dagunya, sepertinya berpikir.

”Oh, aku punya seorang teman yang sepertinya penduduk asli sini.” Eik lalu menoleh berulang kali sambil memfokuskan pandangannya. Dalam keadaan tertutup es dan salju, orang-orangnya lebih sulit diidentifikasi. Eik tidak beranjak terlalu jauh, ia yakin Edgar membeku di dekatnya. Kecuali jika badai barusan menghempaskannya menjauh.

”Kurasa yang ini.” kata Eik sambil menunjuk.

”Oh, itu buku yang bagus.”

”Aku menunjuk orangnya!” teriak Eik sembari membenahi sedikit arah tunjukannya.

Haris lalu mendekat. ”Ini ya? Baiklah.” ia menempelkan tangannya pada suatu bagian es, dan mengambil nafas. Salju yang menutupi tubuh itu lalu mencair, diikuti pula dengan esnya. Dan tak lama kemudian, orang itu bebas.

”Edgar!” Entah apa yang merasukinya, tapi Eik terlihat gembira dan menolong orang yang bernama Edgar itu. Sama seperti Eik, saat ini Edgar juga hampir tak bisa mengingat apa pun. Bukunya juga dibiarkan tergeletak begitu saja di depannya. Ia bahkan tidak berkeberatan Eik membantunya bangun dan duduk.

Tanpa basa-basi, Haris melanjutkan aksinya meskipun Edgar masih dalam kondisi sangat bingung dengan tatapannya yang kosong. ”Jadi, kau ...”

”Edgar, namanya Edgar L. Maxwell.”

”Terima kasih, Moonfang. Jadi, nona Maxwell ...”

”Tunggu!” Potong Eik sambil memegang lengan Haris. ”Kurasa kau sebaiknya jangan memanggilnya ’Nona’!”

”Lalu apa? Oh, ya.” Setelah merasa tahu, Haris kembali menoleh pada Edgar. ”Jadi, nyonya Maxwell ...”

”Bukan itu!”

”Lalu apa? Nenek?”

”Bukan bukan bukan!”

”Ah, aku tahu, cewek?”

”Ya, ampun!” Eik menepuk dahi.

”Apa dong? Gadis kecil? Imut? Baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong?”

”Dia itu laki-laki!” Entah apa lagi yang merasukinya, tapi Eik terlihat agak frustasi meskipun ini hanya masalah panggilan Edgar.

”Benarkah? Kau pernah lihat, ya?”

Eik terperanjat, dan matanya terbuka lebar. Ia jadi ingat dengan kejadian di sebuah pagi mungkin beberapa hari yang lalu. ”Ya, pokoknya ngakunya begitu.”

”Ya sudahlah, anggap saja tidak penting.” karena masalahnya dengan Eik sudah selesai, ia berpaling lagi ke Edgar. ”Jadi, anda yang bernama Maxwell, adalah penduduk Porte Nord?”

Edgar yang masih menampakkan raut bingung, hanya mengangguk.

”Nah, anda ikut denganku!” Haris lalu memegang salah satu tangan Edgar, dan membantunya berdiri. Dan Eik juga tak mau ketinggalan. Saat ini, Edgar sudah cukup sadar untuk tahu bahwa Eik dan Haris memegangi tangannya, tapi untunglah dengan kesadaran yang masih belum penuh, ia melihat Eik hanya sebagai Eik, bukan bulukan atau semacamnya. Dan Eik pun bisa membantu Edgar dengan tenang.

Haris baru akan beranjak, ”Tapi setelah kupikir-pikir, di sini juga tidak apa-apa.”

”Hey, bukumu.” Eik melihat buku Edgar masih tergeletak di bawah dan mengambilkannya. Begitu melihat bukunya, Edgar seperti baru diaktifkan. Ketika ia melihat bahwa Eik yang memegang bukunya, ia langsung mengambil dengan cepat dan memasang raut sebal pada Eik. Kesadaran Edgar telah pulih sepenuhnya.

”Jadi, kau pasti tahu tentang Kota Ellioch, bukan?”

Edgar agak terkejut, seperti baru teringat bahwa ada orang di depannya. ”Ya, aku tahu. Tentu saja aku tahu.”

Nada bicara Edgar yang sombong membuat Eik agak tersinggung.

”Ellioch yang ada perpustakaannya kan? Kota itu tepat di selatan Porte Nord, ikuti saja jalan ke selatan, berkelak-kelok sedikit, dan sampai. Tidak jauh kok, mungkin setengah hari.” Tambah Edgar.

”Bagus, itu dia informasi yang kubutuhkan. Jadi urusanku dengan kalian sudah selesai. Semoga harimu menyenangkan dan, sampai jumpa.” Sambil tersenyum puas, Haris melangkah ke keretanya.

”Ngomong-ngomong, apa urusanmu ke Ellioch?” tanya Edgar sambil memperhatikan kehancuran di sekelilingnya.

”Oh, aku ingin mencari tahu sesuatu, untuk memecahkan masalahku. Dan kupikir aku bisa mencarinya di perpustakaan.”

”Aku boleh ikut, ya. Kumohon!” Baru kali ini Edgar terlihat dengan muka memelas.

”Hmm, baiklah.”

”Yeah, tumpangan gratis!” Tanpa basa-basi lagi, Edgar melaju kencang dan melompat masuk kereta Haris.

Edgar kini sudah di dalam kereta, dan tak lama lagi Haris juga demikian. Eik hanya berdiri terpaku, menatap kedua orang yang segera akan pergi itu, juga puluhan orang beku yang mungkin saja diantaranya sudah ada yang pergi ke alam lain. Kira-kira mana yang akan dia pilih?

”Eh, bagaimana denganku?”

Haris menoleh, ”Kalau kau mau ikut, kupikir masih tidak apa-apa.”

”Ya, tapi kan itu...” Eik menunjuk-nunjuk kereta Haris.

”Ada apa dengan keretaku? Memang sih kecil, tapi kupikir masih cukup untuk dua orang.”

”Maksudku, kereta itu kendaraan, bukan?” kata Eik dengan raut aneh.

”Tentu saja iya, memang ... Oh itu.” tampaknya Haris mulai paham. ”Kalau tidak salah, aku punya beberapa kantong.”

”Ya sudahlah, tidak apa-apa.” Dengan agak cemberut, Eik melangkah menuju kereta. Tapi di tengah kehawatirannya akan mabuknya, Eik teringat akan sesuatu yang seharusnya lebih ia khawatirkan. ”Sion!”

”Hey hey hey, kau bilang ... hah!” Haris bingung dengan tingkah Eik yang katanya ingin ikut, tapi sekarang malah lari menjauhinya. ”Akan kutunggu sebentar, bukan lama lho.”

Eik kembali ke tempatnya tadi dibebaskan. Dan dari situ, ia mulai mencari temannya yang bernama Sion itu. Tiap ia mengecek seorang beku, ia menyingkirkan salju yang menutupi lalu memperhatikan wajahnya, sembari berharap wajah yang ia cari bisa ketemu. ”Bukan!” Eik lalu pindah. ”Bukan lagi!” Eik bergerak lagi, dengan agak terburu-buru. ”Bukan... terlalu jelek... terlalu tampan... terlalu hitam... oh, ini sih perempuan.”

”Hey, Moonfang! Cepat!”

Teriakan Haris mengingatkannya sesuatu. Eik lalu bergegas mendekatinya.

”Nah, ayo berangkat!” Haris lalu naik dan duduk di bagian depan keretanya sambil memegang tali kekang kudanya.

”Eh, kupikir masih ada temanku yang tertinggal, bisakah kau cairkan mereka semua sekaligus agar aku mudah mencarinya!” mohon Eik.

”Eh, aku mungkin saja punya, ... oh, tidak kawan, seperti yang kau lihat, aku hanya seorang, apa itu namanya, pelajar, ya pelajar. Dan pelajar tidak punya kekuatan sebesar itu.”

Eik jadi terlihat putus asa.

”Lagipula, Moonfang, jika kutolong mereka semua, berikutnya apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan tinggal dimana?” Haris berusaha meyakinkan. ”Ikut denganku? Hah, keretaku hanya muat untuk tiga orang termasuk diriku.”

”Atau mungkin Edgar bisa memanggil dewa untuk membantu mereka. Bagaimana?”

”Jika aku adalah dewanya dan nona ini memanggilku hanya untuk beres-beres, justru dia yang akan kubereskan menjadi setumpuk tanah dan batu nisan!” Haris agak berteriak, sepertinya dia agak sensitif.

”Hey! Aku ini laki-laki!” Karena sekarang sudah sepenuhnya sadar, Edgar bereaksi keras.

”Terserah! Apa peduliku?!”

Belum selesai satu masalahnya, Eik teringat hal yang lain, yang juga menambah masalah baginya. ”Ratu?! Oh, tidak lagi.” Eik terjatuh pada lututnya, dan menunduk. Ia terlihat begitu depresi.

”Sudahlah, Moonfang, jangan cengeng. Aku juga punya masalah, dan sekarang aku ingin mencoba mencarinya di perpustakaan itu. Mungkin penyelesain masalahmu juga ada di sana. Mungkin sih.”

Eik hanya menghela nafasnya, lalu naik tanpa sepatah kata pun.

Dan mereka bertiga pun melaju bersama melewati jalanan bersalju, yang kemudian berubah menjadi jalanan biasa yang berdebu. Saat itu masih musim panas, jadi hanya wilayah bekas Porte Nord dan sekitarnya yang diobrak-abrik badai kiriman Alcyon saja yang bersalju. Lainnya masih hijau, hangat, dan indah.

****

Eik duduk di alas kayu kereta Haris bersama kotak serta peti lainnya. Belum lama perjalanan ini dimulai, Eik yang sedang banyak pikiran mulai pusing. Tak butuh waktu lama, perutnya bergejolak.

”Eh, Har? Kantong yang tadi kau bicarakan?” kata Eik dengan wajah pucat.

”Kantong? Hmm, dimana ya?” Haris sendiri malah bingung.

”APA?!” Eik sangat terkejut, matanya terbelalak, dan mulutnya menganga. Ia merasa Haris telah mempermainkannya. ”Oh, dimana aku akan mun ...” Tiba-tiba Eik merasa ada yang memegang rahangnya dengan kuat. Ternyata itu Edgar, yang lalu menggelindingkan beberapa butir tablet bulat setelah berhasil membuka paksa mulut Eik. Sebelum mengakhiri aksinya, Edgar mengisi penuh mulut Eik dengan air. Karena ternyata Edgar juga menutup hidungnya, Eik terpaksa menelan air beserta tablet-tablet itu, entah obat apa itu. Barulah kemudian, Edgar membebaskan Eik dan duduk kembali.

Eik mengelap mulutnya, lalu memasang sorot tajam ke Edgar. ”Kurang ajar, apa yang kau... hey, mualku hilang.” Eik lalu mengelus-elus perutnya yang mulai jinak. ”Jadi itu tadi obat mabuk, ya? Bilang dong!”

”Kau sendiri yang payah, sudah mau muntah malah pasrah. Kalau kau muntah di sini aku repot juga tahu!” Edgar kesal. ”Dan obat itu, yang aku tahu obat jenis itu hanya untuk perut.”

”Hanya untuk perut? Pantas saja masih sedikit pusing.” Eik agak kecewa.

”Bagaimana Moonfang, sudah baikan? Aku baru ingat, kantongnya ada di peti di sebelah peti obat.” Tanya Haris

”Hah, aku tak butuh itu lagi sekarang. Tapi pusingku masih berkeliaran di kepalaku.” Eik memegangi dahinya.

”Mungkin kau perlu tidur sebentar, Moonfang.” Saran Haris.

”Hmm.” kemudian, Eik melihat Edgar yang matanya terpejam, tidur. Mungkin tidur sebentar memang ide yang bagus, pikir Eik. Ia pun juga mengatur kotak-kotak di kereta agar nyaman. Ia lalu meletakkan kepalanya di salah satu kotak itu dan mulai memejamkan mata. Ia tidak berbaring, tidak ada cukup ruang apalagi ada Edgar juga di sana. Tapi setidaknya, itu sudah cukup nyaman untuk membuatnya tertidur. Ditemani suara derap kaki kuda, dan suasana siang yang hangat, ia terlelap.

Ia bermimpi, di sebuah padang rumput yang berbatasan dengan pantai. Suasananya cerah, dan sepertinya ini akan menjadi mimpi indah. Tapi sayangnya tidak. Pantainya tiba-tiba membeku, dan langitnya menjadi mendung. Dan tak lama kemudian Alcyon muncul.

Eik ingat persis siapa itu Alcyon. Pria jahat menyebalkan yang suka menyerang dengan jurus pembeku. Menyadari kehebatan pria itu, dan ingat bahwa ia dengan mudah dikalahkan, Eik mencoba kabur.

Di tengah usaha Eik melarikan diri, ia merasakan adanya sesuatu yang melesat kencang melewati tepat di dekat telinganya. Eik berpikir itu pasti serangan tembakan Alcyon, dan ia pun berusaha mempercepat larinya.

Tapi kemudian, Eik merasa aneh. Bagian tanah yang terhantam serangan meleset itu tidak membeku, malahan ada benda berbentuk kotak di sana. Ketika diamati dalam jarak yang lebih dekat, sambil berlari tentunya, ternyata itu adalah sebuah ... BUKU?!

Eik menjadi sangat heran, dan penasaran. Ia jadi meragukan bahwa itu Alcyon. Bukankah Alcyon seorang yang memakai jurus kebekuan? Mengapa ia melemparkan buku? Tak kuasa lagi, Eik menoleh. Tapi bukan Alcyon atau orang lain yang dilihatnya, melainkan sebuah bentuk kotak yang semakin lama semakin besar. Tanpa sempat ia sadari, ternyata itu adalah tembakan buku kedua yang kali ini tampaknya tak akan meleset.

Hantaman keras diterima Eik tepat di wajah. Tak ayal lagi, Eik terjatuh dan berguling-guling di tanah. Tembakan keras itu telah melemahkannya, hingga ia tak bisa bangun, atau bahkan melihat sekali pun. Langit abu-abu di atas sana terlihat menghitam, hingga akhirnya tak ada warna lain yang dilihatnya selain hanya hitam. Sepertinya mimpi Eik berakhir di sini.

Eik merasa pusingnya lebih hebat dari sebelumnya. Pada detik-detik ini ia sudah sadar bahwa tadi hanya mimpi, tapi ia juga masih ingat betul kejadian-kejadian di mimpinya itu. Yang ia heran, hantaman buku yang ia lihat tadi adalah di alam mimpi, tapi anehnya dampaknya terasa sampai alam nyata. Kepalanya begitu pening saat ini.

”Hai, Moonfang!”

Itu suara Haris, yang terdengar dari samping atas. Tunggu! Eik tidur di dalam kereta, sementara Haris ada di depan mengendalikan kudanya. Jika Haris memanggil seharusnya suaranya dari depan, bukan dari samping. Memastikan, Eik segera membuka matanya dan menoleh. Dan benar, itu Haris.

”Hai, kau merindukanku lagi?”

Ternyata, kepala Eik sudah berpindah posisi. Yang tadinya berada di dalam kini berada di depan di samping Haris. Hanya sebentar ia bingung, ia lalu menggeram. Sepertinya ia sudah menduga siapa pelakunya.

”Edgar!!” Teriak Eik.

”Kau ini, entah bangun kek, tidur kek, sama-sama mengganggu!” Edgar kembali melanjutkan tidurnya, tak peduli seberapa marahnya Eik saat ini. Baginya, Eik bukanlah apa-apa selain seperti serangga yang sebenarnya lemah tapi sangat pandai mengganggu.

”Dasar pria toga gila! Kau benar-benar telah membuatku ... hey.” Geraman, sorot mata tajam, dan bibir manyun Eik tidak bertahan lama. Semua itu lalu berubah menjadi seringai, dan tawa. Eik punya ide untuk membalas Edgar.

Ia lalu mendekat ke arah Haris. ”Har, kau punya tinta kan?”

***

”Sepertinya tadi aku mendengar suara tawa.” Sesuatu membangunkan Edgar dari buaian mimpinya, sesuatu yang sepertinya sangat mengganggu. Sebelum kembali pada tidur nyenyaknya, ia sempat melirik Eik, menaruh curiga padanya. Tapi karena belum ada bukti, ia memutuskan untuk tidak menghiraukannya.

Tak berselang lama.

”Eik! Apa yang kau tertawakan?” Sepertinya Edgar baru menangkap basah Eik ketika sedang tertawa terbahak-bahak. Dan ia juga melihat Eik tiba-tiba menghentikan tawanya ketika ia bangun, dan saat itulah kecurigaannya memuncak. Pasti ada yang tidak beres, pikirnya.

”Aku? Tertawa? Ada yang lucu ya?” Eik berusaha untuk tetap mempertahankan wajah tak bersalahnya. Ia juga terbantu oleh pusingnya yang kembali terasa ketika ia mengalihkan pandangannya dari hal-hal yang lucu tadi.

”Aku tahu, Eik. Jangan kau kira aku ini bodoh ya.”

”Wow, darimana kau tahu kalau aku memang mengira dirimu bodoh?”

”Eik! Cukup! Kau mau kuhajar lagi, ya?!” Kali ini Edgar dengan penuh emosi mengangkat tinggi bukunya, dan bersiap.

”Hey, tunggu ... tahan ...”

”Ada apa ribut-ribut di dal ...” Saat itu Haris melongokkan kepalanya menembus tirai depan dan menengok ke dalam keretanya. Dan yang ia lihat sungguh tak terduga, dan mengejutkan. ”Wow, Tuan Maxwell, anda terlihat tampan hari ini!”

”Apa?!” Edgar menoleh, masih dengan mimik yang sama.

”Ya, kupikir kumis dan jenggot itu cocok untuk wajah anda. Sungguh tampan!” Haris terkesima dengan perubahan Edgar. Tadi Edgar terlihat begitu perempuan, sekarang ia terlihat gagah. Haris juga mengacungkan tangannya pada bagian bawah wajah Edgar, dimana terlihat garis hitam tipis diantara mulut dan hidungnya. Garis itu lalu membelok mengelilingi mulut, di mana di bagian lingkar bawah itu garis tersebut menebal seperti jenggot tipis.

”Aaaaarrgghhh! Tiiiddaaakkk! Aku tampaaaaannn!” Begitu kerasnya teriakan frustasi Edgar, Haris dan Eik jadi harus menutup telinga. Setelah itu Edgar mencoba mencari-cari sesuatu di dalam kereta. Ia membongkar semua peti dan kotak sebelum menjerit lagi ketika ia tidak menemukan barang yang ia cari, yang sepertinya adalah cermin.

Karena sudah ketahuan dan sulitnya menahan tawa di depan wajah lucu Edgar, juga untuk sedikit meredam pusing, Eik membiarkan tawanya meledak. Saking dahsyatnya dirinya terbahak-bahak, wajah Eik terlihat kemerahan. Mulutnya bahkan tak sempat menutup sekali pun untuk menelan ludah dan mebasahi tenggorokannya yang kelelahan.

”EIK!!” Dengan mimik yang jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya, Edgar menatap dan mengacungkan jarinya pada Eik.

Eik, meskipun dalam bahaya besar yang ia tahu itu, tetap terbahak-bahak. Ia masih ingat betul betapa menyakitkannya jurus pukulan buku Edgar, tapi untuk saat ini, semenyeramkan apa pun wajah Edgar, wajahnya masih jauh terlihat lebih lucu dengan kumis dan jenggot buatan Eik itu. Bahkan ketika Edgar sudah siap dengan bukunya yang terangkat tinggi, Eik tetap saja tertawa.

”Eh, Tuan Maxwell, kalau anda memang ingin berkelahi kusarankan untuk melakukannya di oh... ow.... iuh... ih, pasti sakit.... uh.... ya ampun, pukulan yang sempurna!”

***

Perjalanan mereka cukup lancar. Sore harinya, mereka sudah bisa melihat dinding cukup tinggi Kota Ellioch. Dan menjelang matahari terbenam, kereta mereka sudah sampai di depan bangunan perpustakaan yang tinggi. Tata letak kotanya cukup rapi, dengan banyak air mancur terlihat di hampir setiap sudut kota dan jalanan yang lebar dengan saluran air di pinggirnya.

”Kita sudah sampai, akhirnya. Bagaimana kepalamu, Moonfang?” Tanya Haris.

”Yeah!” Edgar berteriak kegirangan, melompat keluar dari kereta yang masih berjalan, dan setelahnya tak terlihat lagi kemana larinya.

”Sudah lebih baikan.” Berlawanan dengan si pria cantik, Eik turun dengan agak pelan.

Setelah Haris memarkir kereta beserta kudanya di tempat yang tepat, mereka bertiga berjalan menuju pintu masuk perpustakaan.

”Jangan khawatir, Moonfang, warna biru di matamu juga sudah hampir menghilang.”

Meskipun jalanan masih agak ramai, tapi tampaknya perpustakaan ini sudah sepi. Tidak terlihat seorang pun di dalamnya kecuali seorang yang cantik, yang ternyata adalah Edgar. Haris dan Eik pun masuk lebih dalam ke dalam ruangan perpustakaan yang terdiri dari banyak tiang-tiang tinggi dan super lebar yang bagian bawahnya menjadi rak buku-buku. Meskipun matahari sudah hampir terbenam, tapi jumlah lilin yang begitu banyak membuat tempat luas ini cukup terang untuk membaca.

”Wow!”

”Ada yang bisa kubantu, tuan dan nona?” Seorang pria tua bertongkat yang datang entah dari mana, menghampiri mereka. Tampaknya dia adalah salah satu pengurus perpustakaan ini.

”Oh, selamat sore. Perkenalkan, namaku Waldo Von Vladoladhon.” Haris lalu menyalami pria tua tersebut.

”Lho, bukankah tadi namanya ...” Eik merasa ada yang aneh.

”Aku datang dari jauh, dan ingin mencari buku tentang cara mendapatkan kekuatan terhebat.” Pesan Haris.

”Hmm, sepertinya aku tahu dimana letak buku-buku itu. Anda ingin aku mengambilkan salah satunya?” Ada yang aneh juga dengan pria tua itu. Sejak tadi bola matanya tidak bergerak, mungkinkah dia sebenarnya buta?

”Eh, ya, tolong.”

”Baiklah. Sementara itu, kalau kalian ingin menunggu, di sebelah sana ada kursi. Tapi kalau ingin membaca-baca dulu, silahkan. Tulisan kategori bukunya ada di atas rak.” Pria tua itu lalu beranjak pergi.

”Eh, tunggu! Tolong carikan juga, eh buku yang ada ’Le Chateau de Phantasm’nya! Dan juga yang ada Alcyonnya. Dan juga yang ada kisah Sion Von... siapa itu, pokoknya dia dari Kerajaan Set. Dan juga yang ada tentang Ratu Wendy, seorang peri. Dan juga yang ada tentang... eh, sudah.” Pesan Eik.

Perlu sedetik bagi pria tua itu untuk merespon. ”Uh, baiklah.”

Selepas kepergian pria tua tadi, Haris memutuskan untuk membaca daripada hanya menunggu. Meskipun sebenarnya tidak begitu suka, tapi Eik tidak mau sendirian. Ia pun ikut berjalan bersama Haris, tapi niatnya hanya ingin melihat-lihat.

Kebetulan mereka berdua datang ke tempat dimana Edgar membaca. Dan tampaknya, Edgar tak bisa tak mencemooh Eik lagi. ”Aku takjub kau bertahan di tempat seperti ini lebih dari lima menit.”

”Kau meledekku, ya? Asal kau tahu ya, aku bisa membaca dengan kecepatan seratus kata per menit, hebat kan? Nilai sempurna itu!” Eik mencoba berlagak sombong, sambil salah satu tangannya mengambil sebuah buku.

Edgar hanya tertawa kecil sendiri melihat Eik memamerkan kemampuan yang tiga kali lebih jelek daripada yang ia miliki.

”Hey, simbol apa ini? Wow, aku bisa merabanya?” Kata Eik saat melihat halaman muka sebuah buku besar.

”Mungkin semacam tanda milik.” Jawab Edgar, yang kali ini sok tahu.

Karena merasa jawaban Edgar cukup meyakinkan, Eik percaya begitu saja. Dan ia pun lalu membuka buku itu, mencoba mencari bagian yang menarik. Tapi Eik malah lebih sering melihat-lihat ilustrasinya daripada tulisannya.

”Oh lihat! Piring terbang! Ini pasti benda teraneh yang pernah kulihat.” Eik takjub akan ilustrasi itu, seumur-umur ia memang belum pernah melihatnya. Tapi seperti sudah kebiasaan, selesai mengagumi gambar itu Eik langsung membalik halaman, membaca atau lebih tepatnya melihat-lihat halaman yang lain. Dan tak lama kemudian, Eik sudah berganti buku.

”Tak bisakah kau diam sedikit?” Edgar merasa terganggu.

”Kenapa? Membaca itu lebih baik keras, agar orang lain tertular ilmu!”

”Terserah deh, aku malas melayani orang sepertimu.” tak ingin berlarut-larut, Edgar memutuskan untuk menjauh.

”Oh lihat lagi! Seorang Kaisar kegelapan Oviaz Nadroz dikabarkan pernah membakar seorang gadis cantik lantaran gadis itu memanggilnya orang baik. Lucu, ya? Baru dengar aku. Masa cuma karena ...”

”Karena apa?!” Haris yang berdiri tak jauh dari Eik, berteriak dengan sorot mata tajam dan tangan mengepal. Raut wajahnya sama sekali tidak sebersahabat sebelumnya. Dari seluruh tubuhnya keluar kabut gelap, dan udaranya menjadi dingin. Tapi itu hanya untuk beberapa detik. ”Uh, ehm, maaf. Silahkan lanjutkan, maaf mengganggu.” Sekarang Haris sudah terlihat normal. Aneh sekali, mungkin ada sesuatu yang ia sembunyikan.

”Oh lihat lagi! Masih tentang si Kaisar, dia dikabarkan pernah punya cita-cita menjadi preman. Lucu juga, ya? Masa cita-cita menjadi preman, padahal kan ...”

”Padahal apa?!” Sekali lagi, Haris berubah menjadi menyeramkan. Tapi seperti sebelumnya, itu tidak bertahan lama. ”Maafkan aku, aku memang sedang agak, aneh, ya aneh. Tidak perlu khawatir.”

Edgar yang tadi terganggu dan menengok sudah mulai curiga, tapi Eik tidak. Ia tetap meneruskan membacanya, dan lagi-lagi, ia berkometar yang aneh-aneh.

”Oh lihat lagi! Kali ini tentang seorang perempuan bernama Anri Airyuqi. Perempuan cantik ini dikabarkan bertanggung jawab atas matinya belasan laki-laki muda yang kabarnya sempat menjadi pacarnya. Wow, dia benar-benar ...”

”Hentikan!!” Ya, terulang lagi. Tapi kali ini, Haris terlihat seperti benar-benar akan meledak. Ia berjalan mendekati Eik. Edgar dengan wajah waspadanya, melangkah mundur perlahan-lahan, tapi tidak dengan Eik yang masih bertampang biasa saja. ”Jangan pernah, bicarakan, istriku!!” Tapi suasana menyeramkan ini juga sempat terhenti.

”Apa aku melakukannya lagi? Oh, aku hanya eh, aku, ... bah, persetan dengan penyamaran ini!” Kali ini sungguhan. Kabut-kabut gelap muncul lagi dan mengelilingi lalu menutupi Haris. Setelahnya, kabut itu terlempar dan terhempas ke segala arah, memperlihatkan seseorang yang baru. Haris telah tiada, sebagai gantinya, seorang berjubah biru dan berambut putih agak panjang berdiri di sana. Ia lalu menatap Eik dengan tatapan tajam dan dingin bola matanya yang berwarna biru muda.

Eik hanya terpaku, dengan mulut terbuka dan liur yang hampir menetes. Buku yang tadi dipegangnya jatuh begitu saja. ”Dimana Haris?” Tanyanya polos.

”Aku Haris, bodoh! Aku menyamar!” Teriak pria berjubah biru bergambarkan elang emas itu.

”Kok bisa? Lalu, lalu siapa kau?” Tanya Eik masih penasaran.

Menanggapi pertanyaan Eik, mantan Haris itu hanya tertawa. Ia lalu mengangkat dan mengepalkan tangannya. Kabut-kabut gelap yang bermunculan lalu berputar cepat mengelilingi pria itu. Dan setelah sebuah senyum meremehkan, pria itu menjawab. ”Aku, Oviaz Nadroz sang penyihir terkuat dan Master Kejahatan. Dan bukan orang baik, atau lucu!”

Mulut Eik kini lebih menganga lagi. Orang yang barusan ia bicarakan dan katakan lucu, ternyata tepat di hadapannya. Menyadari hal ini, Eik hanya meringis berulang kali. ”Eheh... ternyata, itu kau... eh ya... um maaf... sedikit gosip tidak apa-apa kan?”

Oviaz hanya membalas dengan geraman, lalu teriakan. Bersamaan dengan itu, butir-butir es muncul di kabut yang mengelilinginya dan ikut berputar bersamanya. Es yang lain juga terlihat di jari-jari tangannya yang membentuk kuku yang panjang. Selain itu, kabut-kabut gelap yang lain juga muncul dan membentuk wajah iblis di atas Oviaz. Dan setelahnya, Oviaz melepaskan tawa jahatnya.

”Oh tidak, penjahat kuat lain.” Keluh Edgar. Was-was dan khawatir jika ternyata penjahat ini juga sangat kuat, selain juga ia sedang malas berurusan dengan dia dan Eik, Edgar mengendap-endap, mencoba kabur.

”Kau tidak sedang terburu-buru kan, Tuan Maxwell?” Kata Oviaz tiba-tiba.

”Eh, ehm aku...” Edgar mencari alasan. ”Hey, kau hanya butuh Eik kan? Aku bisa menangkapnya untukmu.” teriaknya.

”Apa? Kau mengkhianatiku!” rupanya Eik tidak terima.

”Terserah, aku memang menyalahkanmu untuk ini!”

”Tapi kau tidak bisa begitu, setidaknya tidak sampai begitu!”

”Memang kenapa kalau aku begitu?”

”Berarti kau melanggar perjanjian pertemanan, melanggar tahu! Melanggar!”

”Memang apa itu perjanjian pertemanan, itu hanya omong kosong!”

”Tentu saja itu ada!”

”Omong kosong!”

”Ada!”

”Omong kosong!”

”Ada!”

......
Bahkan seorang penyihir dan petarung kuat seperti Oviaz dibuat melongo oleh cekcok antara Eik dengan Edgar. Tapi sepertinya, dia memang agak maklum. ”Hah, dasar anak TK!”

Seandainya Oviaz punya jam tangan, ia pasti sudah menengoknya berkali-kali. Ia bahkan sudah menguap saking bosannya. Dan akhirnya, ia putuskan untuk menghentikan mereka, karena tampaknya hanya dia yang bisa menghentikan cekcok tanpa akhir ini. ”Diam!”

Adu mulut Eik dengan Edgar terhenti, sekarang mereka menoleh pada Oviaz.

”Kalian berdua akan menjadi korban yang bagus untuk hari ini. Mwahahaha!”

”Apa?! Berdua?! Tapi apa salahku padamu? Aku kan tidak bersalah!” Protes Edgar.

”Terserah, aku kan jahat. Mwahahaha!” Oviaz tak mau tahu, yang penting menyenangkan.

Merasa bahwa bagaiamanapun nyawanya tetap terancam, kini Edgar mencoba bekerjasama dengan Eik. ”Apa yang harus kita lakukan?”

”Kita harus kabur!” Jawab Eik.

”Tapi dia akan mengejar kita. Kita harus menyerang!”

”Tapi dia akan menyerang balik!”

”Sebelum dia menyerang balik, kita kabur!”

”Oh baiklah.” Eik segera menyiapkan apinya. Dengan tenaga penuh, ia tembakkan api itu ke arah Oviaz. Mulai dari tembakan terlemah yang keluar dari jari-jarinya hingga ke tembakan kuat yang harus ia lakukan dengan dua tangan.

Pada awal serangan Eik, Oviaz hanya terlihat diam menunggu. Tapi sekarang, ia tak terlihat lagi karena tertutup kobaran api dan asap. Ia bisa saja kewalahan, atau masih menunggu, atau malah saat ini ia sudah berada di tempat lain. Tapi selama Eik belum melihatnya, ia tetap menyerang titik yang sama. Eik terus berusaha, sementara Edgar hanya membolak-balik bukunya, bingung hendak memanggil dewa atau monster yang mana.

Kini mungkin jumlah tembakan Eik sudah mencapai ratusan, dan Eik sudah lelah. Tapi belajar dari pengalamannya dengan Alcyon, ia tak boleh meremehkan lawannya. Ia tak boleh berhenti menyerang dan memberikan kesempatan pada musuh. Jadi kali ini, ia hendak melancarkan jurus yang lain. Ia menyalakan api pada kedua tangannya. Ia lalu mencakar secara horizontal dan meninggalkan jejak api di udara. Sebelum api itu menghilang, ia menambahkan dua jejak lagi secara diagonal yang ketiga jejak api itu saling berpotongan di titik yang sama. Lalu sentuhan terakhir, berupa cakaran vertikal dilakukan juga dengan cepat. Jejak api terakhir ini mendorong ketiga jejak lain ke depan, sementara ketiga jejak api ini menyusut dan membentuk bola kecil pada perpotongannya. Ketika jejak api sudah hilang dan hanya tersisa bola kecil itu, bola itu meledak dengan dahsyat.

Laksana sebuah meriam, ledakan itu hanya mengarah ke Oviaz, dan menimbulkan gelombang kejut kecil pada daerah lainnya. Tapi dorongan kecil itu cukup kuat untuk menghempaskan Eik. Edgar yang baru membaca setengah dari jurus pemanggilnya, terpaksa berhenti karena tertabrak Eik. Mereka berdua pun tersungkur ke lantai. Ketika bangun, tanpa sadar Eik duduk di atas Edgar, dengan salah satu tangannya berada di tempat yang tidak tepat.

”Aaaaa, jangan sentuh dadaku, tolol!!”

Perhatian Eik saat ini adalah Oviaz. Tapi yang dilihatnya hanya kobaran api kuning dan jingga yang belum menghilang, juga banyak asap. Jika ia masih punya tenaga, ia pasti sudah melanjutkan serangannya. Eik yang kini terengah-engah berusaha istirahat sejenak, atau ia takkan punya cukup tenaga untuk kabur.

”Jika bukan karena kau, aku pasti sudah menyelesaikan mantraku!” Bentak Edgar.

”Mungkin sebaiknya kita kabur sekarang, aku lelah.” Ajak Eik.

”C plus.”

”Apa?” Eik dan Edgar tak percaya.

”Teknikmu sudah lumayan, tapi apimu masih payah, kurang panas. Kau jauh lebih lemah dari yang kukira Moonfang. Saat pertama bertemu denganmu, aku merasakan kekuatan yang besar. Tapi ternyata, hanya segini.”

Eik benar-benar hanya bisa melongo, itu adalah salah satu jurus terbaiknya. Sekarang ia hanya bisa memandang ke Oviaz yang masih ditutupi asap dengan tatapan putus asa.

”Api Bombard, bukan? Aku ingat melakukannya pertama kali saat masih SD, dan hampir dikeluarkan karenanya, mwahahaha. Nah, sekarang giliranku!” Sebelum memulai serangan, Oviaz menghempaskan asap-asap yang masih berkeliaran sehingga Eik dan Edgar bisa melihatnya lagi.

Oviaz mengangkat tangannya, dan memperbesar ukuran butir es yang memutarinya.

”Oh tidak, kita akan membeku lagi!” Keluh Eik.

”Oh, kalian tidak suka es. Baiklah, akan kuganti.” Butir-butir es itu mengecil, lalu menghilang. Sebagai gantinya, percikan-percikan listrik muncul dan semakin lama semakin besar, juga menyilaukan. ”Sekarang kalian suka? Mwahahaha!”

Eik dan Edgar hanya bisa menelan ludah.

”Ada kata-kata terakhir?”

Dalam keadaan seperti ini, orang-orang seperti Eik dan Edgar tak akan mampu berbuat apa-apa, bahkan bicara sekalipun.

”Tidak ada?.” Percikan listrik di sekeliling Oviaz semakin besar. Bahkan sekarang, di ketua tangannya juga ada.. ”Berdoalah! Mwahahaha...”

”Sssst, maafkan aku Tuan, aku tahu ini sudah mulai malam dan tidak ada pengunjung lain, tapi bagaimanapun juga adalah tidak etis membuat keributan di perpustakaan.” Pria tua itu datang lagi, kali ini ia membawa dua buah buku.

”Perpustakaan? Oh, ya.” Sebelum sempat menyambar pria tua itu, Oviaz mematikan lingkaran petirnya. Kabut gelapnya juga menghilang. ”Maaf, aku lupa.”

”Ini dia bukunya.” Sebelum menyerahkan buku itu, pria tua itu meraba bagian sampul yang ada simbol timbulnya. Ternyata dia memang buta. ”Mungkin ini buku yang anda cari, Tuan.”

”Hmm, judulnya ’Menguasai Kekuatan Tingkat Tertinggi For Dummies’. Sepertinya bagus.” Oviaz lalu membuka buku tersebut, melihat-lihat dulu. ”Oh, ada ’Rahasa Kekuatan Cahaya’, dan ada juga ’Mengembangkan Api Biru’ dan, dan, ... Ya, kupikir ini buku yang kucari.”

”Dan ini buku pesanan Tuan yang satunya, ada bahasan tentang Le Chate de Pantasem di dalamnya.”

”Coba kulihat!” Oviaz melihat-lihat lagi. ”Nah ini dia halamannya, Le Chitaua Dei Pahantas sem. Susah sekali.” Nama yang sangat asing sempat menurunkan minat Oviaz, tapi ia lalu melihat hal menarik pada penjelasanannya. ”Hey, kastil tersembunyi, kekuatan besar, surga di atas badai, dan... dan... kupikir aku juga ingin membaca buku ini. Terima kasih, Pak Tua!”

”Lalu satu lagi, buku tentang Kerajaan Set.”

”Tapi aku sudah membawa dua, Pak Tua. Berikan saja langsung pada kedua bocah nakal di sebelah sana, yang gara-gara mereka penyamaranku gagal. Sainganku mungkin saja sudah merasakan kehadiranku di sini. Jadi aku harus segera pergi.”

”Oh, tidak apa-apa.”

Oviaz lalu mengarahkan salah satu tangannya ke atas, dan membuat lubang di atap. ”Selamat tinggal anak-anak, mwahahaha...”

”Ssssst!”

”Maaf.” Oviaz lalu terbang, dan keluar melalui lubang itu.

Pria tua itu kini berjalan mendekati Eik dan Edgar yang mulai bisa berdiri dan bernafas lega. Mereka sama sekali tak menyangka akan berhadapan dengan penjahat kuat lain secepat ini. Tapi setidaknya, kali ini mereka selamat. Diselamatkan oleh seorang pria tua buta pengurus perpustakaan. Sungguh tak terduga.

”Nah tuan, ini dia buku yang anda minta?”

”Syukurlah, orang itu sudah pergi.” Edgar begitu bersyukur sampai melupakan kehadiran penyelamat mereka.

"Benar, syukurlah." Eik lalu menerima buku yang dipesannya. ”’Seluk-beluk Kerajaan Set’? Buku lainnya Pak Tua?”

”Sebentar Tuan, aku memang tidak bisa membawa buku besar terlalu banyak.” Pria tua itu lalu berpaling.

”Oh, ya. Dan, ada tidak, buku tentang Le Chateau de Phantasm yang lain? Yang kira-kira sama dengan yang diambil pria menyebalkan tadi.”

”Ya ampun, aku baru ingat, peminjaman tadi belum dicatat, oh ya ampun.” Pria tua itu jadi terlihat malang. Untunglah pria itu professional, dan tidak berlama-lama frustasi di depan pengunjung. ”Oh, apa tadi, Tuan? Buka yang lain? Hmm, seingatku, tidak ada.”

”Kecuali...”

Read previous post:  
Read next post:  
80

oke, ceritanya bener2 gila!
Ah,ini kolaborasi ya? Pantesan aja POVny beda2..
Overall,good job ;)

80

”Oh, eh, hai, apa yang terjadi?” Tanya Oviaz dengan tampang seperti orang bingung, dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya.

Belum kenalan dah tau nama aja si Eik

Settingnya berpindah tidak terasa. Atw settingnya kurang kebaca

Selain itu tambahan karakter tiap chapter ini sungguh berbahaya khi2

80

aztazim +_+
kayak baca komik
err.. pak tua nya lemot.. nyadar ada keributan setelah ratusan tembakan apinya Eik selesai diluncurkan ke oviaz.. kenapa gak saat pertama kali Oviaz ber-Mwahahaha..
tapi, mungkin pak tuanya nyari bukunya di ruangan lain ya? :P
.
ah tapi itu hal kecil.. gomen ne >.<

Hm, cerita di bagian ini agak aneh buatku.
Terlalu komikal.
Terlalu lucu.
Terlalu banyak adegan yang bisa di-skip.
Dan karakternya melenceng lagi.
Tapi yah memang inilah kolab.
LANJUT!

70

menurutku kebanyakan komedi, maaf ya kak...
trus komen2 ku idem sama komentar lain,,

90

OVIAZ-LOVER XD

100

dddddd

100

5000... buset deh. mataku.. oh mataku.. +______+

om mus, aku kurang ngerti inti ceritanya nih. >.<
yah.. moga2 bs kumengerti setelah baca episode2 selanjutnya :D
top ;)

100

Edun 5000++ lagi...

Baru inget yang terakhir juga belum baca.
Lagi sibuk...main King's Bounty.
Jadi ditunda lagi.

ya ampuuun, sibuknya sibuk ngegame, sama dong v^^

SUDAH DIREVISI LHO!!!

100

i see. terlalu banyak adegan ga penting di sini. well, aku akan berusaha.

Toel!!!
prediksi pertamaku, panjang cerita ini ga nyampe 3000 kata, ternyata...

100

Kak Mus, kau membuat saya kangen sama Oviaz~~~ di sini dy dah gede ya? Saya pernah baca yang waktu dy masih kecil!!! Saya sukaaaaaa Oviaz!!! Dan cita-citana jadi jahat, tercapai ya! (lho? Jadi ngbahas Oviaz-na?)
.
Asikna chapter ini karena lucu!!! Saya sih ga begitu mempermasalahkan harusna depresi ato apa, kan yang penting mereka berusaha mencari kawan-kawan yang ilang. Klo misalna jadi ceria, itu kan karena ada tokoh konyol si Oviaz (yang nyamar jadi Haris itu)
.
Ayo, lanjutanna, Ratu!!! ^^

80

Antagonisnya kocak bang !
setelah menghadapi antagonis yang beneran SEREM, malah disuruh ngadepi yang bikin ngakak

ckckckckck

100

ayo! AYO!!!

100

Tantangan kolab ini...

Keren Om karakternya...

Berjuang yang berikutnya...

^_^

70

dicopy dulu :) ntar akan dikomen hehe, maaf kalau jarang hadir akan diusahakan semaksimal mungkin selama nunggu giliran xixi

100

Wah.. Keren kak... :)

100

NYAHAAAHAHAHAH~

XD XD XD XD XD

Terhibur...

Oh iya, mumpung inget...

RADEN MAS ALCYON, KAJENG MINTA IZIN 5 HARI CUTI KARENA TRY OUT! JADI KALO NANTI (MULAI TANGGAL 10) KAJENG NGGA HADIR DAN BAHKAN MELEWATI DEADLINE EPS 8, KAJENG MOHON AMPON, SEKIAN.

*ngacir*

Selamat berjuang, Kak Ea!!! Saya aja baru lewat xDD

KAU BENAR2 CUTI ATAU CARI2 ALASAN?

ada yang mau gantiin kika ga..??soalnya yafeth ga ada kabar...

@kak al: SUERRRR!! ADA TRY OUT!! PERLU SAYA FOTO TERUS MASUKIN FB?

@kak makkie: wah, kika pokonya gak boleh keluar

@kak ea: kasih alasan kenapa kika harus ikut :P

yasud,,berarti dirimu harus berjuang menyempatkan waktu 3:)

70

+ :
1.KOMEDInya bikin saya lumayan terhibur
2. Awesome cute, good, villain.

- :

1. inkonsistensi POV, contoh :

”Edgar!” Entah apa yang merasukinya, tapi Eik terlihat gembira dan menolong orang yang bernama Edgar. Sama seperti Eik, saat ini Edgar juga hampir tak bisa mengingat apa pun.

-penjabaran di atas tiba-tiba POV berubah jadi POVnya Haris-

”Kau ini, entah bangun kek, tidur kek, sama-sama mengganggu!” Edgar kembali melanjutkan tidurnya, tak peduli seberapa marahnya Eik saat ini. Baginya, Eik bukanlah apa-apa selain seperti serangga yang sebenarnya lemah tapi sangat pandai mengganggu.

-kalo yang di atas ini jadi POVnya, jadi si Edgar-

ehm, saya paham banyak yang nulis pindah2 pov melulu begini akibat keseringan nonton anime hehehe. mus, ehm kalau begini pendalaman karakternya akan berantakan jadinya..

2. Perkembangan plotnya nggak masuk ke suasana yang menurut saya seharusnya DESPERATE, soalnya dua companion hilang, tapi cerita malah berkembang penuh komedi begini.

3. OOC, sudah dibahas Irene.

betul siy, gonta-ganti POV emang karena aku sering nonton pilm (tapi jarang anime)
Desperate yg kau maksudkan tu maksudnya gimana? (Aku juga kaget pas tahu bakal nerusin tanpa dua orang itu T_T)

Desperate maksudnya, para jagoannya lagi tertekan, nyaris putus asa, dan berusaha sekuat tenaga untuk ngatasin tekanan2 konflik yg ada..hehe

2550

Ada yang salah ...
EIK TERLIHAT TERLALU ANTUSIAS UNTUK MENAIKI KERETA!!! DIA KAN BENCI KENDARAAN JADI KAYAKNYA GAK MUNGKIN DEH!!!
.
Eik itu gak cuma mabuk laut, tapi mabuk semua kendaraan, Kapal, kereta, mobil, dll ... dia hanya gak mabuk naik hewan (ada di deskripsi OC dan Episode 1).
.
Dan Edgar pastinya bakal ngehantem Eik pake buku lagi sebelum abis itu nyummon Aphrodite untuk ngebenerin mukanya :P
.
Edgar kalau ketemu perpustakaan bisa jadi kayak orang kesurupan lho. Dia kan maniak ilmu pengetahuan. Kalau dia ketemu perpustakaan, tanpa basa-basi lagi ngobrol dia bisa nyelinep duluan nyerbu tu buku-buku. Bukannya santai-santai aja nunggu ampe ditinggal orang-orang. Dia bakal ngebaca gak cuma buat ngabisin waktu, tapi baca itu kayak kebutuhan.
Dan kayaknya lebih mungkin Edgar yang ngebaca buku daripada Eik--bukan tipe orang yang bakal ngebaca buku kayaknya.
Edgar gak mungkin sebego itu malah ikut-ikutan Eik. Mungkin justru malah dia yang bakal ngebentak Eik bilang, "ITU HARIS BEGO!"
Edgar dan Eik gak pernah jadi teman ahahaha (hanya Wendy yang bikin kayak gitu--dan waktu kebersamaan mereka membuat status mereka hanya orang yang saling kenal dan langsung saling benci bukan teman).
.
SECARA GARIS BESAR EDGAR JADI OOC BANGET!!! (kemaren ngamuk soal Eik dan Sion sekarang ngamuk soal Edgar).
.
Eik emang menonjol tapi jadi OOC, karena rasanya Eik itu karakternya bukan orang yang tukang baca, dan lebih milih tidur-tiduran di perpus. Ditambah lagi Eik sama sekali gak mabok kereta.
.
SAYA MINTA DIPERBAIKI!!!
.
Komentar lainnya idem ama temen2 dibawah

irene-san trit oc yang lengkap yang mana ya?
(bingung baca saking banyaknya trit)

hanya satu kok yang di forum itu. judulnya
Quête Pour Le Château de Phantasm OC

oh, oke, makasih ;)

-Eik jadinya mabok kereta ga? kok di bawah katanya gak mabok sama sekali, tapi yang atas katanya mabok????
-Bukannya abis pesen buku Eik ama Haris ngikutin Edgar baca ya?
-Edgar emg baca, cuman ga sampe komen aneh-aneh kaya gitu (ga ku sebutin kah?)menurutku malah aneh klo Edgar komen aneh-aneh kaya gitu, jadinya Eik yg komen
-Di akhir Edgar kerjasama soalnya dia bakal tetep dihajar Oviaz, awalnya dia dah mo nyoba mengkhianati Eik kan?

perbaikan entar ya

-Eik hanya gak mabok klo dapet obat dari Sion, nah Sionnya ilang yah dia pasti mabok kereta (dan jelas sekali gak mungkin antusias banget naik kereta).
Maksudnya Eik gak mabok kereta di ending itu aku ngkritik bahwa kamu bikin Eik gak mabok kereta di cerita kamu, bukan ngasi penjelasan.
-Bukan itu, awalnya kan udah kamu tulis kalau itu perpustakaan. Karakter Edgar ini kalau ketemu perpustakaan gak pake basa-basi lagi langsung nyerbu masuk ke dalem.
Mungkin bisa bikin adegan: Begitu melihat perpustakaan itu Edgar langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke dalam perpustakaan.
,
Selanjutnya bisa diisi dengan scene obrolan Eik dan Haris. Mereka bedua ketemu lagi dengan Edgar di dalem perpus, lagi sibuk baca, dan gak peduli ama mereka (Ini bisa dijadikan akal untuk meredam ketenaran Edgar, karena kerjaannya pasti cuma baca).
-Edgar emang baca, tapi yang membaca dengan lantang dan membalikkan halamannya adalah Eik. Yang cukup aneh, kalau melihat karakter Eik yang di disain untuk jadi orang bodoh ahahaha (baca di deskripsi OC), rasanya lebih mungkin Edgar yang baca dengan kuat, dan Eik yang ngomen dari samping--ngebikin Edgar pengen ngehajar Eik lagi.
-Edgar walopun gak pedulian ama Eik, tapi dia bukan tipe pengecut yang takut untuk dibekukan. Bagaimanapun dia itu mantan bangsawan, arogansinya membuatnya gak takut-takut untuk mengayunkan bukunya, bukannya malah nyari alasan untuk gak bertarung. Kalaupun mo bikin adegan ini, lebih mungkin adegannya jadi adegan Edgar nyuekin clash Eik-Haris dan terus ngebaca sendiri di pojokan ruangan sampai Eik manggil dia untuk menuntut kesetiaan kawannya (walopun mereka sebenernya bukan temen).
-Dan Edgar gak akan ikut-ikutan Eik jadi orang bego.

bagus,,bagus,,terimakasi atas pembelaan terhadap tokoh eik..
*pembuat tokoh yang tidak bertanggungjawab,,XD

100

hanya perasaanku atau terlalu banyak fan service ya? Haha :D
.
.
om mustaf saya kasih poin banyak buat komedi(?)nya.
cabe dikit deh (atau merica aja yak? cabe mahal :p)
chapter ini agak nggak nyambung sama chapternya om penasehat cyon. bener kata om penasehat, harusnya eik dan edgar panik ngeliat dua companionnya nggak ada. agak nggak masuk akal kalo mereka nggak meduliin sang ratu (kan ratu yang paling penting, penunjuk jalan pula)
kalo edgar sih, agak nggak acuh emang wajar. tapi kalo eik ... ?
chapter ini kesannya agak buru-buru gitu bikinnya :p

soalnya kan Eik sama sekali ga tahu, paling nggak di perpus dia bisa nyari tahu dikit
aku mikirnya gitu ;)

100

ehm... ehm...
sebenernya kika makin gak pede buat ikut kolab ini, apalagi waktunya nambah deket.

kika belum siap, tulisan kika masih berantakan, terus kika belum bisa buat adegan actionnya, apalagi yang buat terusannya selalu panjang" . jadi kika kayanya memohon diri untuk mengundurkan diri kika dari kolab ini :)

tapi kalo nanti tulisan kika udah jauh lebih bagus (amin), terus diadain kolab kaya gini, kika insyaallah bakal ikut ^^

ayo lanjut!!!
berjuang kak chie ^^

ga boleh,,,harus tetap ikut..!!

please...
kalo ancur gara-gara kika gimana??
serius kika ga mau kolabnya ancur gara" kika

sejak campur tangan ka cyon kolab ini dah ancur,,eh salah ding...maksudnya mau ancur,,mau ancol,,mau apapun..kita tidak masalah...ini bukan ujian atau tes kika,,ni cuman buat happy2 aja,,biar rame,,ayo..kamu pasti bisa...banyak yang dukung,,cuman 500 kata,,ga banyak...makanya,,kika bikin fb,,biar irene ma riesling yang punya ide berlebih bisa bagi2 saran ke kamu..hayuk...mojang bandung masa malu2..

iya, iya kika usahain deh buat FB (soalnya ada satu alesan kenapa kik gak buat FB,, gak kaya anak kecil lainnya yang udah punya FB, tapi bukan karna kika malu,)

kika juga tau ini cuma untuk happy2.
seperti yang udah kika kasih tau di grup,, kika masih amat ammatir di dunia tulis menulis ini kak. bahkan kika tuh ga terlalu ngerti apa itu POV, plot, gimana cara buat adegan action,dll

ok. kalo pada mau kika ikut (ke geer-an ^^) kika bakalan berusaha buat ikut dan berusaha buat FB

BOLEH masuk, tapi JANGAN keluar. :D

KAU HARUS IKUTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

80

ternyata Oviaz keturunan arab ya,,banyak bin nya..
kayaknya ni oviaz penjahat lunatic ya,,,

btw suka dg ini:

Quote:
”Dimana Haris?” Tanyanya polos.

ada beberapa typo(s)...

aku suka Oviaz!! XD
karakter penjahat yg aneh. unik!

100

Mwahahahahahah!!! Oviaz keren!!!
.
Saya jadi pengen minjem buku Menguasai Kekuatan Tingkat Tertinggi For Dummies... Kasihan Eik... Tapi paling nggak pamornya naik (sedikit) di sini, feels more like a main character.
.
Ngomong2 siapa saingannya Oviaz?

to be honest, blon kepikiran xD
lagian di kolab orangnya kaga muncul, jadinya ga perlu sebut ah :D