Quête Pour Le Château de Phantasm - Episode 6

“Hei kau.”

Sebelah pasang bakiak terbang melintas di udara diakhiri bunyi ‘buk’ pelan. Alcyon menengadahkan kepalanya yang tengah disandarkan pada dinding kereta Malis, menatap tajam peri perempuan mungil yang sedang duduk anggun di atas salah satu sisi pegangan kereta dengan ekspresi angkuh di wajahnya. Kedua sayapnya berpendar mengepak terkena angin dingin yang bertiup.

“Jangan berani berpikir kau sudah menang!” katanya dengan suara nyaring. “Kacung-kacungku akan segera datang menyusul untuk menyelamatkanku.”

Sebelah tangan Alcyon mengusap bagian ubun-ubun kepalanya yang terkena lemparan bakiak, sebelahnya lagi kini menggenggam benda itu. Ia mendengus. Tak lama kemudian dengusannya berubah menjadi sebuah tawa gelak. Suaranya membahana di sepanjang lintasan sungai Flumine yang putih membeku.

“Para manusia rendahan itu...?! Mau menyusulku? Hahahaha—lucu sekali!” semburnya seraya meremukkan bakiak yang sedang dipegangnya. “Saat ini mereka seharusnya sudah belajar bahwa tidak ada gunanya mencoba menandingiku, Alcyon yang telah mengalahkan Khion sang Dewa Salju dan Kebekuan! Bisa apa para manusia lemah itu melawan aku, yang kini memiliki kendali penuh atas Freyja, isterinya...? Aku, yang telah membekukan seantero Porte Nord dalam sekali serangan...? Hmph!” dengusnya lagi, menyeringai keji.

“Sebaiknya kau berhenti mengharapkan yang bukan-bukan, Anastasia—dan persiapkan saja dirimu sendiri untuk mendampingiku sebagai penguasa Le Chateau de Phantasm! Bersama, kita akan menjadi pengendali atas seluruh kekuatan jagat raya!”

Tetapi sang peri yang lebih dikenal dengan nama Wendy membuang muka. “Mendampingimu, kau bilang...?” tanyanya seraya melompat bangun, menatap lurus pria itu dengan hidung terangkat tinggi-tinggi. “Kau yang jangan bercanda! Aku satu-satunya Ratu Penguasa Le Chateau de Phantasm! Tidak akan pernah aku sudi menyerahkan kekuatan apapun yang disimpannya kepada orang sepertimu! Kau seharusnya sadar, Alcyon—kau hanyalah salah satu dari kacungku yang tidak tahu diri! Di bawah kakiku, menghiba-hiba maafku, dan memohon keringanan hukuman atas kekurangajaranmu adalah dimana kau seharusnya berada! Syahahahahahahahahahaha!”

“Begitu?” tanya Alcyon mengejek. “Tetapi apa yang bisa kau, Yang Mulia Penguasa Tunggal Le Chateau de Phantasm, lakukan dengan tubuh peri kecilmu itu? Menyelamatkan dirimu sendiri saja kau tidak bisa, dan sayang sekali kau juga tidak dapat mengandalkan kacung-kacung rendahanmu itu untuk melakukannya. Suka atau tidak, situasi saat ini ada di bawah kendaliku, Yang Mulia.” Alcyon ikut bangkit, dengan langkah-langkah berat yang membuat seisi Malis berderak tidak seimbang mendekati Wendy. Hingga tak seberapa jauh jarak di antara mereka, Wendy melangkah mundur—mau tidak mau menyadari ketidakberuntungannya berupa perbedaan ukuran badan yang kontras di antara mereka, meskipun raut wajahnya tetap kukuh tidak bersedia menunjukkan rasa takut.

“Makanya menurutku,” kata Alcyon lagi, membungkukkan badannya untuk memberi tekanan pada peri kecil yang kini memucat itu, “satu-satunya yang akan berlutut memohon-mohon keringanan justru adalah kau! Hahahahahahahah— ”

Buk! Tanpa diduga-duga sebelah pasang bakiak yang lain kembali melayang di atas udara. Kali ini mendarat telak di wajah sang pria yang tawanya langsung terhenti.

“Kauuuu!” sengal Wendy yang telah terbang menjauh beberapa meter lagi hingga mendekati pintu kabin kereta. Wajahnya merah padam menahan emosi. “Lihat saja kau, dasar kacung! Aku bersumpah akan membuatmu menyesal atas penghinaan yang kaulakukan atas diriku, Sang Yang Mulia Ratu ini! Khukhukhukhukhu... Syahahahahaha! Syahahahahahahahahahahaha...!”

Bahkan sambil meneruskan tawanya Wendy diam-diam meningkatkan kewaspadaan melihat untuk yang kedua kalinya pria itu meremukkan sandal bakiak dengan satu tangan. Bekas tapak sandal yang tercetak di wajahnya sama sekali tidak menghalangi aura keseraman yang memancar saat pria itu balik berseru, “Baiklah kalau itu maumu! Kita lihat siapa yang tertawa paling akhir! Hahahahahaha! Hahahahahahahahaha...!”

“Syahahahahahahahahahahahahahahahaha!”

“Hahahahahahahahahahahahahahahahaha!”

***

Burung gagak terbang berkoak-koak di atas sungai Flumine yang berkelok-kelok, mengiringi tawa gila bersahutan yang datang entah dari titik mana di sepanjang lintasan sungai. Jauh di atas salah satu tebing tinggi pegunungan Saxea, dua sosok berkerudung tampak berdiri mengawasi sebuah kereta kuda yang tengah meluncur pelan di sepanjang aliran sungai.

“Aku tidak mengerti apa perlunya kita melakukan ini,” kata yang berdiri paling depan. Kelihatannya seperti perempuan akhir belasan tahun, dapat diketahui dari suaranya. “Perempuan itu... Apa untungnya bagi kita melibatkan diri dalam masalah ini dengan menolongnya?”

Di belakangnya, sosok yang lebih kecil memakai jubah kerudung nampak tersenyum kecut mendengar pertanyaan tersebut. “Kupikir kau sudah mengerti,” katanya, “Bagi mereka, dia hanya seorang penguasa tidak sah dari sebuah kerajaan legendaris di sebuah negeri antah berantah. Tetapi bagi kita, tanpa keberadaannya tidak akan ada kelanjutan dari masa percobaan umat manusia,” sambungnya dengan nada berpikir-pikir. Sepasang matanya yang kehijauan menyipit terkena angin.

Sosok berkerudung terdahulu buru-buru menoleh hingga kerudungnya sedikit tersingkap, memperlihatkan wajahnya yang mungil berbentuk hati. “Ya ya ya, kalau soal itu sih aku juga sudah bisa memperkirakan sendiri,” selanya tak sabar. “Tapi kenapa kita harus melibatkan diri kita ke dalam masalahnya? Apa untungnya?”

“Lho? Kita tidak bisa membiarkannya mati di sini, kan?” si sosok berkerudung yang lebih kecil balik bertanya.

“Memangnya dia akan mati?”

“Soal itu, mana kutahu. Aku kan hanya menjalankan apa yang diminta,” dia mengangkat bahu.

“Baiklah. Siapa yang meminta?”

“Perempuan itu sendiri,” jawabnya kalem.

Hening agak lama selagi si gadis memandangnya dengan tatapan tak suka. “Bisakah penjelasanmu dibuat lebih tidak jelas lagi?” sindirnya.

“Yah, aku kan memang tidak bisa menjelaskannya secara gamblang,” si sosok berkerudung tertawa menyesal.

“Kalau begitu kau lakukan saja sendiri.” Si gadis melipat tangan, membuang muka.

“Ah, jangan merajuk begitu. Kupikir kau orang yang tepat untuk melakukan misi penyelamatan ini. Ditambah lagi, perempuan itu juga pasti lebih senang kalau kau yang melakukannya,” tukas lawan bicaranya ceria.

“Demi Versailith! Kau jelas lebih mampu melakukan ini daripada aku!” seru si gadis jengkel.

“Ya ampun. Aku kan bukan tipe karakter yang diperbolehkan turun tangan secara langsung dalam adegan-adegan semacam ini.”

“Memangnya siapa yang melarangmu?!”

“Perempuan itu.”

Si gadis meraung jengkel di depan wajah sosok berkerudung itu. “Ya sudahlah!” geramnya seraya berbalik pergi dengan jubah berkelebat.“Akan kuselesaikan secepatnya! Puas?!”

“Ah, berhati-hatilah pada pria bernama Alcyon itu!” teriak si sosok berkerudung kecil pada sosok di gadis yang sudah melompat ke bawah tebing menuju setapak pepohonan di bawahnya. “Dia kuat!”

“Jangan khawatir,” si gadis mendongak seraya balas berteriak. “Aku juga kuat.”

Si sosok berkerudung kecil mendesah seraya memandangi kepergian si gadis, lalu tatapannya beralih pada kereta kuda yang sedang bergerak menjauh mengikuti aliran sungai beku. Dia menurunkan kerudungnya, memperlihatkan lekuk wajahnya yang indah, serta roman mukanya yang jauh dewasa untuk manusia kanak-kanak seperti ukuran badannya. Rambutnya kehijauan—sama seperti warna bola matanya, sebatas leher. Di dahinya terukir sebuah tanda. Dia tersenyum.

“Kau tidak boleh melarikan diri dari kewajibanmu, Anastasia,” katanya.

***

Malam mulai bergerak mendekat. Terbentang berhadapan dengan padang salju yang bertambah luas seiring pergerakan kereta kuda Malis mengikuti aliran sungai Fulmine, adalah sebuah karpet hitam legam bertabur bintang. Di kejauhan sana, Wendy sudah dapat melihat barisan pepohonan yang merapat. Pertanda sebentar lagi mereka akan tiba di hutan seribu pinus. Dia membuang napas. Wajahnya cemberut. Sesungguhnya, dia pun ingin segera kembali ke wujud asalnya serta pulang ke Le Chateau de Phantasm, tetapi—dia melirik Alcyon yang tengah mendengkur lelap di bagian depan kereta yang berjalan sendiri secara otomatis—dia tidak mau ke sana bersama pria itu. Dipikirnya, dia harus berusaha mengulur waktu bagi Eik dan kawan-kawan supaya mereka bisa menyusul dan menyelamatkannya.

Tapi siapa yang tahu apa yang sedang kacung-kacung itu kerjakan, dan apa yang mereka pikirkan saat ini? Wendy tidak bisa percaya sepenuhnya bahwa mereka tidak, seperti yang dikatakan pria menyebalkan itu, kabur ketakutan untuk selamanya meninggalkan Wendy. Terlebih lagi si Edgar itu, yang pada dasarnya memang hanya ingin membebaskan diri darinya, kalau dia sih mungkin saja sudah merantau ke tempat lain untuk merayakan kebebasan ini.

Wendy mendesah dramatis. Bagaimanapun juga dia harus berusaha kabur dengan kekuatannya sendiri. Bukan berarti selama ini dia tidak menyimpan satu dua senjata rahasia. Hanya saja dia tidak begitu yakin, sebab saat ini dia sama sekali bukan dirinya yang dulu... Yah, dia cuma bisa menunggu. Dia sang Ratu penguasa Le Chateau de Phantasm. Kalau benar dia dalam bahaya, pertolongan akan selalu saja ada.

Tak lama, instingnya mulai beraksi mendengar gerakan-gerakan kecil tersembunyi di luar jendela kabin kereta tempat dia sedang terduduk. Diintipnya Alcyon yang masih sibuk mendengkur di depan. Wendy tertawa licik diam-diam. Sesosok manusia berkerudung baru saja menampakkan dirinya dari balik jendela. Tanpa suara pintu menjeblak terbuka. Kelebatan sosoknya masuk dan berdiri diam memandangi Wendy, yang tersenyum culas balik memandanginya.

“Ah, sudah kuduga pasti ada yang datang,” kata Wendy sambil menguap. “Terlebih lagi kalian, wahai manusia-manusia yang eksistensinya berasal dari kekuatan kristal Ahura Mazda, sang Dewa Fantasi dan Penciptaan yang kupanggil sendiri. Bagaimana? Cemas sesuatu yang buruk akan terjadi pada pencipta kalian? Syahahahahaha!”

“Tutup mulut, Anastasia—atau kau mau membuat raksasa itu bangun?” tepis si gadis berkerudung. “Percayalah, aku tidak akan sudi datang kalau Dia tidak menyuruhku!” desisnya.

“Duh. Biar saja dia bangun, aku cukup percaya diri dengan kemampuan ciptaanku sendiri, tentu saja. Syahahaha...”

“Diam!” desis si gadis lagi tak sabar, membekap mulut Wendy dengan kedua tangannya, kemudian membopongnya di dada selagi berusaha mengintip ke luar jendela kabin. “Kalau kau merepotkanku, aku takkan segan-segan membatalkan misiku untuk menyelamatkanmu!”

“Hau hahan hega helakukannya,” tukas Wendy dengan mulut dikunci rapat. “Hanpa haku hau han heman-hemanmu hi Hloa han Hron ihu hakkan—”

Blar!

Seberkas sinar kebiruan melesat memenuhi seisi kabin dengan cahaya terang. Merasakan firasat buruk, Wendy menutup matanya ngeri.Sesaat kemudian dirasakannya dirinya terpental dari pelukan si gadis berkerudung, lalu pusaran angin dingin menyapanya. Separo kabin telah hancur berkeping-keping. Serpih-sepih kayu dan sisa-sisa ornamen bertaburan di sepanjang permukaan sungai yang membeku. Wendy menjerit membuka mata, kedinginan sebab mendarat di permukaan es. Bahunya lecet akibat gesekan saat dia terjatuh.

“Siapa kau?” geram Alcyon yang entah sejak kapan sudah terbangun, menatap tajam pada si sosok berkerudung yang langsung mengambil posisi siaga di depan Wendy.

“Cuma seseorang yang hanya akan muncul di hadapanmu sekali ini,” kata si gadis tenang. “Maaf, aku berniat mengambil alih pekerjaanmu mengurus Ratu yang banyak tingkah ini.”

“FREYJA!” raung Alcyon tak mau ikut berbasa-basi, menebaskan pedang besarnya ke arah mereka berdua. Wendy menjerit keras. Tapi si gadis berkerudung lebih cepat menyambar tubuh mungilnya, dengan satu tangan memeganginya dia melompat tinggi menghindari tebasan pedang, kemudian Wendy merasa lagi-lagi dirinya terlempar ke atas. Untung saja kali ini Wendy dapat mengendalikan sayapnya hingga dia dapat terbang bertahan di udara.

“Urus dirimu sendiri!” teriak si gadis berkerudung, mengerlingnya susah payah sementara sekali lagi dia melompat menghindari tebasan Freyja, kemudian mengamankan dirinya sendiri di atas cabang pepohonan pinus di pinggiran sungai es. Sekali lagi Alcyon mengarahkan mata pedangnya ke arah pohon yang dimaksud. Salju serta dedaunan berguguran bersama melesaknya batang pohon ke dalam permukaan tanah putih. Si gadis berkerudung kembali mendarat di permukaan sungai es. Tudungnya tersingkap.

Melihatnya, Alcyon berhenti sejenak dari aktivitasnya mengayunkan pedang. “Aku mengenalmu,” katanya dingin. “Kau salah satu ciptaan original Anastasia sebagai Titania, menggunakan kekuatan kristal.”

“Benar,” sahut si gadis pirang dengan kuncir dua panjang membenarkan, napasnya tersengal-sengal. “Jadi kau mau terus mengayun-ayunkan pedang berbentuk mesum itu, atau kau akan membiarkanku dapat giliran?”

Tanpa menunggu jawaban, si gadis memacu larinya menyerbu Alcyon. Dengan sigap pria itu mengangkat pedangnya, namun ternyata dia menebas udara kosong. Si gadis melentingkan tubuhnya tinggi di udara hingga sejenak matanya bersitatap dengan Wendy, yang mengawasi pertarungan sambil menahan napas. Kemudian dia mendarat persis di balik punggung Alcyon. Gadis itu mengarahkan tinjunya yang bersarung knuckles ke arah leher si pemuda persis ketika dia berjarak beberapa meter dari permukaan es, tetapi persis sepersekian detik sebelum dia berhasil mengenai sasaran, tangan besar di pria menangkap tinjunya dan melemparkan tubuhnya ke depan hingga menabrak bebatuan di pinggir sungai.

“Kyaaa—Rosa!” teriak Wendy, kemudian dia berpaling marah memandang Alcyon. “Kau—! Dasar kacung bau tengik! Beraninya kau berbuat begitu pada ciptaanku yang berharga!”

“Diam, Ratu cerewet!” Tanpa diduga-duga Rosa dan Alcyon membentak bersamaan. Gadis itu menatap Alcyon penuh kebencian sambil menyeka darah dari mulutnya. Yang ditatap menyeringai keji.

“Sayang sekali eh, Yang Mulia?” kekehnya. “Hal terbaik yang mampu dilakukan oleh ciptaanmu yang berharga hanyalah melompat-lompat seperti tupai. Hahahahaha! Selesaikan mereka, Metel!”

Dan dengan perintah itu, awan-awan gelap mendadak berarak di langit menutupi bintang-bintang serta rembulan, membentuk seraut wajah tersenyum yang menyeramkan. Dari hidungnya bertiup angin serta salju yang menghempas mereka beserta pepohonan. Wendy menjerit, sayapnya tertiup angin hingga tubuhnya hampir terbawa jika saja Rosa tak buru-buru bangun menangkapnya. Berdua, mereka terpelanting ke permukaan tanah.

“Berakhir sudah perlawanan kalian!” tawa Alcyon membahana. Mantelnya melambai-lambai, namun tubuh raksasanya tetap kukuh menahan badai. “Berjalanlah kembali dengan kakimu sendiri kepadaku, Anastasia! Atau akan kubekukan ciptaanmu ini sampai mati dan kukacaubalaukan seluruh dimensi yang kauciptakan itu! Hahahahahaha!”

“S-sial!” umpat Rosa. “Aku tidak boleh mati di sini! Aku harus pulang! Hei kau!” Diguncangnya tubuh Wendy yang melemah oleh sebab kedinginan. “Kau! Bantu aku berpikir, dasar tidak berguna!” Rosa mengerling Alcyon yang masih terbahak-bahak, serta summon Metelnya yang masih menyemburkan badai dari angkasa. Napasnya berubah menjadi asap putih selagi dia berbicara kembali dengan rahang bergetar.

“Dengarkan aku!” katanya keras pada Wendy yang terkulai lemas. “Aku diciptakan dengan kekuatan penciptaan kristal milik Titania, betul...? Kalau begitu, kau akan kembali menjadi Titania sebentar jika aku mengembalikannya untuk saat ini, bukan begitu? Anastasia! Bangun!” serunya. Menyadari bahwa peri itu tidak bisa menjawabnya, Rosa mendesah pasrah. Dia tidak punya pilihan selain mencobanya. Selagi tak sadar, Wendy merasakan tangannya digenggam, kemudian tubuh Rosa merosot di sebelahnya.

Sebuah cahaya memancar samar dari tubuh kecil peri Wendy, kemudian memancar lebih terang lagi. Alcyon terperangah. Sejenak tubuh peri itu terangkat beberapa meter dari permukaan, berputar seolah ada kekuatan yang menggerakkannya, kemudian rambutnya mulai memanjang. Demikian juga kedua tangan dan kakiknya, berikut juga torso tubuhnya.

“Titania,” gumam Alcyon tak percaya.

Sang Ratu Titania membuka matanya, menatap sang mantan Penasihatnya dengan amarah menyala-nyala dalam kedua bola matanya. “Tidak akan kubiarkan...” katanya dengan suara dalam berwibawa yang jauh berbeda dibanding suara nyaring milik Wendy. “Tidak akan kubiarkan kau melaksanakan semua ambisi kegilaanmu! Aku, Titania, akan sekali lagi menghukummu jika perlu!”

Sejenak hening di antara mereka. Lalu Alcyon memecahkan sunyi dengan tawanya yang membahana bahkan lebih keras dari sebelum-sebelumnya.

“Wahai Yang Mulia Ratu! Kecantikanmu tidak pudar semenjak terakhir kalinya aku melihatmu!” kata dia nyaring. “Tapi sayang sekali hal yang sama tidak berlaku terhadapku. Aku, Alcyon sang mantan penasihatmu ini, telah mengalahkan Dewa Es dan Kebekuan! Kekuatanku sudah melampaui dewa! Aku khawatir kau tidak akan bisa ‘menghukumku’ seperti dulu, Yang Mulia. Sementara kita tidak tahu seberapa lama kau dapat bertahan dengan tubuh lamamu itu! Hahahaha!”

Titania menyipitkan mata mendengarnya. “Tidak masalah,” katanya dingin. “Kita lihat saja sejauh mana aku dapat menghukummu sebelum itu terjadi.”

Sang Ratu merentangkan kedua tangannya menghadap angkasa, merapalkan sepotong mantera dengan suara lantang. Summon Metel yang tengah wara-wiri menyemburkan badai di atas mendadak hidungnya tersumbat. Dengan suara bersin-bersin yang keras sosoknya yang terdiri atas gumpalan awan buyar menjadi asap tipis.

“Baiklah, kurasa tidak ada gunanya mencoba melawanmu menggunakan summon,” tepis Alcyon dengan gigi terkatup sambil mengayun-ayunkan kembali pedang Freyja-nya. “Sepertinya cara manual lebih efektif!”

“Stavanger!” raung sang Ratu, menarik keluar sebilah pedang tipis panjang dari segumpal cahaya yang muncul akibat panggilannya. Tak ayal pertarungan yang imbang pun dimulai antara sang Penguasa Le Chateau de Phantasm yang telah tumbang dengan mantan penasihatnya. Yang satu menyerang, yang satu menangkis, kemudian kedua pedang itu beradu ditengah sebelum salah satu mundur untuk memberi serangan balik. Begitu terus berulang-ulang. Namun tanpa mereka sadari, seseorang mengawasi pertarungan ini, tersembunyi di balik bayangan pepohonan pinus.

“Titania,” katanya dalam gumaman. “Akhirnya kutemukan kau.”

Hadirnya energi kegelapan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan lawan, baik Titania maupun Alcyon sama-sama menghentikan pertarungan mereka. Beberapa meter di hadapan mereka, berdiri seorang pria asing. Pria ini jangkung. Rambutnya lurus berwarna perak, panjangnya mencapai pinggang. Memakai jubah hitam dengan zirah kulit di dalamnya. Berkacamata, bermata hijau, dan berkulit putih pucat. Pandangannya lurus tertumbuk pada sang Ratu yang memegangi pedangnya erat-erat dalam kewaspadaan.

“Titania,” katanya mengulangi. “Akhirnya kutemukan kau.”

Titania mengernyit. “Siapa kau...?” tanyanya.

“Ikutlah denganku,” kata laki-laki itu dengan suara mantap. “Tunjukkan padaku bagaimana caranya aku bisa mengalahkan kematian.”

“Sang Ratu tidak akan beranjak dari tempat ini selain bersamaku,” seringai Alcyon menyela sebelum Titania sempat berkata apa-apa. “Kau sungguh tidak punya sopan santun menyela pertempuran pribadi orang lain! Aku akan mengajarimu, bocah! Membekulah!”

Tetapi sebelum Alcyon bisa membekukan apapun, sosok si laki-laki sudah menghilang dari tempat semula. Alcyon meraung jengkel. Ditolehkannya kepalanya kesana dan kemari, namun tidak tampak jejak keberadaan pria itu seolah-olah dia menghilang ditelan bumi. Beberapa meter jauhnya, Titania juga melangkah mundur seraya memandang berkeliling. Perasaannya tidak enak.

Sejurus kemudian permukaan sungai di sekitar mereka mulai berderak seolah-olah ombak besar melanda aliran air di bawahnya. Alcyon membuang ludah dengan kesal, tampaknya tidak menyukai bagaimana dia tidak lagi menjadi pengendali atas rentetan pertempuran ini. Tetapi yang benar-benar mengerikan barulah terjadi beberapa saat setelahnya. Satu persatu retakan mulai menjalar di sekeliling mereka. Lalu tangan-tangan bermunculan dari celahnya. Tangan-tangan mati.

Titania menjerit terkejut, bukan hanya karena mendapati sosok-sosok mengerikan berupa manusia mati mulai merambat naik melewati kepingan-kepingan es menuju permukaan. Tetapi juga karena di saat yang paling tidak menguntungkan, tubuhnya menyusut kembali menjadi peri kecil Wendy. Tidak menyadari hal ini, Alcyon menyerbu menghadapi pasukan kematian yang bergerak lamban menghampiri mereka itu dengan pedangnya, namun lebih banyak lagi yang datang daripada yang ditebasnya.

Mengumpulkan kembali akal sehat serta keberaniannya, Wendy memandang berkeliling dengan panik, berniat membantunya menghabisi pasukan mayat hidup ini sebelum kembali melanjutkan pertempuran mereka. Namun sebelum dia sempat melangkah untuk meraih cabang patah yang terdekat guna membantunya melindungi diri, seseorang mencengkeram lengan kanannya dan berbisik kepadanya dari belakang, “Kau ikut denganku, Titania.”

Lalu dengan perlawanan sia-sia Wendy merasakan tubuhnya digendong dan ditarik paksa oleh pria itu menuju ke hutan, sementara didengarnya jeritan frustasi Alcyon menggema hingga penjuru hutan pinus tempatnya dibawa—entah menuju kemana.

***

“Yang barusan itu sungguh tak tahu terima kasih!” omel Rosa seraya mengawasi pertempuran Alcyon dengan para pasukan kematian yang masih berlangsung jauh di bawah tebing. “Seenaknya saja meninggalkan orang yang sudah susah payah datang untuk menyelamatkannya! Dan sebagai tambahan, aku juga terluka!” sambungnya, memijit-mijit lengan atasnya yang dibebat perban.

“Bukan begitu,” kata si sosok anak kecil dengan tanda di dahinya meralat sambil tersenyum. “Dia berubah kembali menjadi Wendy sebelum pria itu menculiknya. Kurasa dia juga tak dapat berbuat apa-apa sekalipun dia mengingatmu.” Dia terkekeh. Rosa masih mendengung tak puas.

“Lihat ke bawah,” katanya lagi setelah beberapa lama.

Rosa melangkah mendekat hingga dapat dilihatnya dengan lebih jelas apa yang terjadi. Alcyon baru saja melepaskan sebuah jeritan memekakkan telinga. Abu beserta es berkerumun membentuk sebuah pusaran badai dingin yang menyelimuti seluruh area pertarungan. Kemudian ketika badai kecil itu mereda, dapat dilihatnya seluruh pasukan kematian itu telah membeku. Sekali lagi Alcyon mengayunkan pedangnya membuat sebuah gerakan berputar. Satu demi satu mayat hidup yang telah membeku menjadi es itu hancur berkeping-keping. Alcyon membungkuk sejenak, mengambil napas setelah pertarungan yang cukup lama, kemudian kembali memperdengarkan tawanya yang membahana.

“Sudah kuduga tidak ada gunanya bagiku untuk ikut campur,” gerutu Rosa. “Raksasa itu tetap saja tidak bisa dikalahkan, dan Anastasia dibawa kabur oleh pria asing itu.”

“Yah, kita sudah berbuat sebisanya,” kata lawan bicaranya menghibur. “Toh tujuan utama kita adalah membebaskan Wendy dari tangan Alcyon, untuk sementara. Percayalah, dia akan selamat. Perepuan itu punya janji dengan kita yang tak dapat diingkarinya. Dia akan hidup untuk takdir itu.”

“Maksudmu, aku yang berbuat sebisaku,” koreksi Rosa sebal sementara mereka mengawasi Alcyon bergegas memasuki hutan dengan kereta Malisnya. “Kau sama sekali tak melakukan apa-apa selain memberi perintah.”

“Perlukah aku menekankan bahwa jika aku tidak menyelamatkanmu dari sana, kau mungkin sudah menjadi salah satu santapan para zombie itu?” tanya si sosok anak kecil sambil tersenyum kecut menatapnya.

“Ya, tapi kalau bukan gara-gara kau juga, aku tidak akan berada di sana sama sekali,” balas Rosa sinis, berbalik menjauh. “Sudahlah Euelle, antarkan aku pulang.”

***

Read previous post:  
192
points
(5633 words) posted by musthaf9 8 years 33 weeks ago
83.4783
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | fantasy | Le Château de Phantasm
Read next post:  
100

Kanjeng menggambarkan dirinya dengan baik, terus di akhir, aku masih gk bisa membedakan mana yg eulle mana yg rosa, apa aku bacanya kecepatan yah?

100

mamaknya T^T ngiri deh sama kak chie
rapi banget alurnya, nggak njemblong-njemblong, asli, ini keren gila

80

ckckckck..
Itu Ratu sama Alcyon emg gila ya?
Ketawa bareng2...

80

weks sapa pula eulle dan rosa yg tadi namanya anastasia ckckc
karakternya banyak bener
but eniwei saya juga suka part yang ini cm saya binun battle nya diangkasa ya kapan mrka nyampe ke daratannya

100

AZTAZIM!!! Narasinya kereeen XDDDDD
penggalian karakter wendy dapet banget XD

LINkK EPISODE 7: http://id.kemudian.com/node/252012
kutaruh di sini aja ya, chie. aku gak bisa taruh sebagai lanjutan cerita ini T_T

eh? kau ga tahu caranya kak?
kan kau tinggal blok aja judul ceritaku ini dari 'quete' sampai '6', kopi, terus kau paste di bagian lanjutan karya. ntar dia ngeloading sendiri :D

udah dicoba, chie. tapi gak bisa. kkom kayanya lagi eror kayanya. ya sudahlah. >.<

100

Nah, udah dibaca =)

100

gaya penulisannya saya suka sekali mastah o.O

100

Kereennnn XD
Wah..pasti eulle thu pnybar ya...??

100

as expected :D

90

umahigod *Oh My God*
Rapi banget kak, asli bikin iri

100

Sundul dulu!

Hutang yang keempat nih.
Riesling, Musthaf, Cyon dan Chie.
Halah.

100

hmmm

ehehehe :)

100

Ada kontes ketawa di tengah XD

syahahahahaha selingan aja kok SUPAYA PEMBACA SENANG. *lol* XD

100

idem sama yang lain, bagian ketawa sahut-sahutan
lucu kak XD
lanjuut...

makasih kikaaa :)

100

nitip poin dulu, baru baca separo
==============
hmmm, (mbayangin chie kecil yg membesar trus mengecil lagi xD)
mantap deh!

90

heuheuhue..jempol..jempol..porsi lucu ma serunya pas kaya kopi..

uhuii XD

100

Ceritanya bales-balesan ketawa tuh xD?

TOP MARKOTOP!!

Siapa yang bikin eps. 7? Yafeth?

yak yak yak :D

100

Wah, Rosa dari GLGkah!?
Ciptaan sang ratu!

Titania punya janji tuk menulis GLG XP jadi ga boleh mati, hahaha

Keren, ratu emang manteb~

euelle siapa tuh btw, ocnya udah dibuat?

syahahaha komentar+reaksimu bikin aku paling senang mit. :p Euelle itu nama lain dari Sang Kehendak Roh :)

Zwowowowo moga nanti juga muncul Sketrrer, Fay, dll

sebenarnya al bisa memanggil pasukan es glacia miliknya untuk menghadapi zombi, tapi ya sudahlah, mungkin karena al terlalu sombong ingin menyelesaikan pertempuran itu sendiri. ya sudahlah chie! kau sukses!

habisnya kupikir melawan summon pasukan dengan pasukan lainnya itu belibet dan ga keren -__- bukannya ga kepikiran soal pasukan glacia kok.

Iya tuh lagi hemat mana si alcyon mungkin

100

*menamparmukasendiritandatidakpercaya

*kasihtambahansepuluhkalitamparan*

2550

Bagus, kk
Alcyon yang awalnya keliatan serem jadi dibikin mainan XD

adegan waktu Wendy dan Alcyon ketawa saut2-an kayak orang gila.... wkwkwkwk

sengaja kok mau bikin karakter seram itu jadi mainan. syahaha~ tengss kure :)

100

MANTEP!!!
SUDAH KUDUGA RATU PASTI BISA MENANGGKAP DENGAN SEMPURNA KEPRIBADIAN WENDY WAHAHAHAHAHA!!!
.
beneran keren Ratu. Mantep banget deh. Emang karakter si Wendy ini latar belakangnya awalnya dibikin misterius biar bisa diacak-acak ama Ratu, tapi gak nyangka jadi keren gini!!!
TOP
.
Btw, ada typo dikit tapi secara keseluruhan keren!!!
.
**udahan ah muji ratunya, saya mo balik nonton Glee lagi ah**

jadi karakternya emang sengaja biar diacak-acak? zzzz -__- eniwei, syukurlah aku ga jadi perlu kabur ngungsi ke negeri [] [] syahaha~

70

Hehe, lucu. Situasi pas hidung Matel kesumbat itu, tuh. Cara kocak buat ngalahin summons monster.
.
Ceritanya udah cukup menghibur. Siip... ^^d

hahahaha emang sengaja banget mau dibikin jayus *lol* XD

100

Wah... Battlenya seru, Necro nongol bentaran tapi keren bisa bikin kesel Alcyon...

Berjuang yang berikutnya...

^^

itu bikinanmu kan? bukannya namanya Vincent? aku disuruh munculin dia sama si cyon -_-

100

Seru nih xDD. Apakah yang akan terjadi selanjutnya???
.
Bagus! Tapi entah kenapa Alcyon jadi kayak Edgar **ngakak**

tuh kan nyaris OOC *fiuh* -__-

100

pertamax XD
.
ah, aku belum baca punyanya mus. >.<

kau harus baca. ada R*** di sini lol XD

akhirnya kubaca juga.. komentarku, keren! as expected from chie... ;)
.
no critics. :D